Oleh: Aliansyah Jumbawuya
Lupakan segala yang telah kita katakan.
Omongan hanya debu di udara.
(Sajak Dua Suara, Khalil Gibran)
***
Tiap-tiap kepala pasti tidak sama isi pikirannya. Anak kembar saja sering berbeda pendapat, apalagi yang samasekali tak punya hubungan darah. Latarbelakang keluarga, pola asuh, pendidikan, pengalaman, lingkungan, turut andil mempengaruh cara berpikir seseorang. Jadi, wajar bila terjadi perbedaan pendapat. Tinggal bagaimana kita mengelolanya sehingga menjadi rahmat.
Sayang, dalam kenyataan sehari-hari perbedaan sering berujung pada pertentangan bahkan permusuhan. Lihatlah, perdebatan di forum-forum resmi maupun di warung-warung pojok kerap diwarnai dengan sikap emosional. Merasa diri paling benar, dan klaim kesalahan disematkan pada lawan bicara. Mereka bersitegang urat leher. Masing-masing berusaha mempertahankan argumentasinya. Kalau perlu, belum lagi orang selesai ngomong langsung dipotong. Akibatnya, dalam perdebatan itu bukan lagi untuk mencari kebenaran, tetapi siapa yang akan menang.
Jika sudah begitu, jangan harap akan tercapai kesepahaman. Sebab, boleh jadi seseorang jauh di lubuk hatinya mengakui pendapat yang dibentangkan sang rival, tapi karena disaksikan oleh khalayak ia pun berusaha melindungi harga dirinya. Pokoknya, logis atau tidak, yang penting ada sanggahan! Kalau perlu banyaringan pander, tak peduli isi bantahan kurang bermutu.
Umat Islam sendiri sampai hari ini masih sering terjebak pada perdebatan hal-hal khilafiyah, sesuatu yang mungkin tidak akan pernah tuntas untuk dibicarakan.
Pernah kejadian di sebuah kampung warga berdebat mengenai boleh-tidaknya membaca syair maulid disertai tabuhan tarbang di dalam masjid. Kedua kubu bersikeras dengan pendapatnya. Bahkan, hampir saja terjadi bentrokan fisik. Masing-masing sudah ada yang membawa parang, tombak, dan kayu. Siap berduel. Untunglah, aparat segera datang, dan ulama bijak sigap menenangkan. Jika tidak, mungkin akan terjadi pertumpahan darah.
Kasus di atas hanyalah satu contoh dampak dari perdebatan. Jangankan masyarakat awam, mereka yang katanya intelek pun saat berdebat kadang lepas kontrol, mengabaikan etika, dan tak mencerminkan sikap sebagai orang yang berpendidikan. Akibatnya, perdebatan menjadi sesuatu yang kontra-produktif. Bukan cuma memubazirkan energi, juga bisa menggiring pada pertikaian. Entah nanti jika masyarakat kita sudah ‘dewasa’. Tetapi, kapankah itu?
Keunggulan Tulisan
Daripada berdebat lebih baik apa yang jadi bahan polemik diulas dalam sebuah tulisan. Dengan begitu, kita bisa berpikir tenang dan mengumpulkan referensi pendukung sebanyak-banyaknya agar lebih meyakinkan. Kita dapat leluasa mengungkapkan dalil-dalil, hujjah-hujjah, data-data, fakta-fakta, secara sistematis dan komprehensif. Tak perlu khawatir bakal ada yang memotong apa yang hendak kita kemukakan.
Beda dengan ketika berdebat, barangkali belum lagi kita tuntas membeberkan argumentasi sudah keburu dipangkas. Perhatikanlah, kalau Anda nonton debat publik yang hampir tiap malam disiarkan TV swasta, betapa sering paparan narasumber terpotong, baik oleh lawan bicara, moderator, maupun tuntutan iklan yang harus tampil. Belum lagi jika si pemandu acara cenderung memihak, boleh jadi porsi bicara kita sengaja dibatasi. Sebentar-sebentar omongan kita di-cut, sehingga pesan yang mau disampaikan tak pernah utuh. Maka, daripada kecewa mendingan kita menulis.
Tulisan jauh lebih efektif mencapai sasaran ketimbang lewat perdebatan. Khalayak pembaca bisa menyimak isi tulisan dalam suasana yang lebih kondusif. Mau sambil rebahan di tempat tidur atau duduk di bangku taman sembari mendengarkan musik, silakan! Pokoknya terserah selera si empunya diri. Dengan begitu, yang bersangkutan punya kesempatan untuk mencerna dan merenungkannya secara intensif.
Beberapa waktu lalu ketika pelantikan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Kalsel di Mahligai Pancasila, Ketua PBNU Pusat KH Hasyim Muzadi dalam sambutannya sempat menyinggung tentang buku yang mengugat seputar amaliah kaum nahdliyin. Ia berpesan, orang-orang NU tak perlu marah-marah atau merasa kebakaran jenggot. Hadapi dengan gentlman. Kalau diserang lewat buku, balas pula dengan buku.
Sekian bulan berselang muncul buku berisi bantahan dari NU. Istilahnya, terjadi ‘perang’ tulisan. Masing-masing mengeluarkan dasar atau landasan hukum untuk memperkuat pendapat dan keyakinan mereka. Itu jauh lebih konstruktif daripada perang mulut. Adu fisik pun terhindarkan. Justru wawasan umat jadi kian terbuka. Tidak melihat permasalahan hanya dari sudut pandang satu aliran.
Soal pendapat mana yang dipilih itu terserah sepenuhnya pada khalayak pembaca. Tidak bisa diintervensi. Karena tingkat penerimaan seseorang sesuai dengan kadar pemahamannya.
Dalam Alquran diajarkan, jika hendak menyampaikan kebenaran lakukanlah dengan cara hikmah. Sementara dalam debat, hal itu malah sering terabaikan. Justru yang mencuat adalah sikap emosional.
Contoh sederhana, sekarang ini banyak remaja putri bahkan wanita paroh baya mengikis alis mata. Apalagi ketika mau bersanding di pelaminan. Padahal, dalam sebuah hadis jelas-jelas perbuatan tersebut dilarang. Kalau kita menemukan fakta demikian, lalu menegur secara lisan, boleh jadi si bersangkutan akan tersinggung. Terlebih jika dilakukan di depan orang banyak, kemungkinan kita bakal didebat. Masih untung kalau tidak disemprot atau dicaci-maki. Tak peduli, bahwa sebenarnya maksud kita baik semata untuk mengingatkan dan meluruskan dia.
Sebaliknya, jika prilaku keliru atau salah itu kita koreksi lewat tulisan, siapapun bisa merenungkannya. Tidak hanya ditujukan pada satu individu. Dan pihak manapun tak perlu ada yang merasa tersinggung, karena maksud kita bukan untuk menghantam person, tapi mengkritisi perbuatannya.
Jadi, kalau kita hendak menyampaikan misi, pemikiran, pandangan tertentu, jauh lebih efektif menggunakan tulisan ketimbang dengan cara berdebat. Karena itulah, tokoh-tokoh pendiri ormas Islam seperti Ihwanul Muslimin, Jamaah Tabligh, Hizbut Tahrir, dan sebagainya, untuk merekrut pengikut sebanyak mungkin, disamping melakukan langkah-langkah praktis juga gencar menerbitkan tulisan. Dengan begitu, paham mereka bisa tersebar luas, melintasi sekat ruang dan waktu.
Maka, daripada sibuk berdebat lebih baik tuangkan isi pikiran kita ke dalam bentuk tulisan. Tak perlu banyak omong, teruslah menulis dan menulis.
Kayak apa pendapat dangsanak, akur juakah?
Banjarmasin, 17 Jan 2009
***
Oleh: Aliansyah Jumbawuya
Beberapa waktu lalu mencuat kontroversi seputar Muslim yang ikut yoga. Malaysia bahkan secara tegas memfatwakan haram karena konon dalam praktiknya ada prosesi ritual khas agama Budha. Di Indonesia pun sempat ‘memanas’ adu argumen mengenai boleh tidaknya Muslim menekuni yoga. Institusi, lembaga, ormas, maupun perorangan yang berkompenten dalam masalah ini memang perlu bersuara agar umat tidak terjebak pada kegamangan. Namun kita juga perlu introspeksi, kenapa orang Islam sampai memilih yoga sebagai sarana untuk menemukan ketenangan hidup? Padahal, dalam ajaran Islam cukup banyak metode yang bisa diterapkan. Dengan berzikir dan beristighfar kita bisa mendapatkan ketentraman batin. Dengan salat yang khusyu jiwa menjadi adem. Dengan puasa niscaya tubuh sehat. Tapi, kenapa pemahaman ini tidak merasuk dalam diri sebagian Muslim, malah kemudian mereka kepincut pada cara yang ditawarkan agama lain?
Boleh jadi sosialisasi tentang itu, baik lewat dakwah bil lisan (ceramah), bil qalam (tulisan), bil hal (training) masih minim. Sekarang ini memang telah beredar buku-buku seputar terapi air wudhu, keajaiban salat subuh, dahsyatnya tahajud, dampak puasa bagi kesehatan, dan sejenisnya. Tapi, kita tak boleh cepat berpuas diri. Kita perlu lebih banyak lagi penulis Muslim yang getol mengupas keutamaan ibadah sehingga umat termovitasi untuk melakoni karena mengetahui manfaatnya, baik untuk kepentingan duniawi maupun ukhrawi. Dengan begitu, diharapkan umat Islam tak lagi tergoda untuk ke lain hati.
Betapa ironis, Islam yang rahmatan lil alamin dan punya konsep universal untuk mengatasi berbagai permasalahan manusia, kok ada pemeluknya yang lebih tertarik ikut cara agama lain. Karena itu, sekarang kita perlu kader-kader penulis yang mau mengikuti jejak Ary Ginanjar Agustian, Abu Sangkan, Mohammad Saleh, yang berdakwah lewat pena sesuai dengan kepakaran masing-masing.
Dulu ketika mahasiswa untuk memperkuat mental saya sangat memerlukan buku-buku seputar pengembangan diri. Sayangnya, di era 1990-an itu buku psikologi terapan yang dikarang oleh penulis Muslim terbilang langka. Akibatnya, saya pun sempat menggandrungi penulis-penulis Barat seperti Dale Carnagie, DJ Swartz, Napoleon Hill, Norman V Peale, yang dalam paparannya sering mengutip Injil. Bahkan, tokoh yang disebutkan terakhir adalah seorang pendeta. Untung, tidak pernah terlintas dalam benak saya untuk pindah agama. Tetapi, bisa lain ceritanya andai tidak punya basic keislaman dari kecil.
Saya menyukai karya-karya mereka, karena memang tidak ada alternatif yang bisa disuguhkan oleh penulis Muslim. Baru belakangan saja KH Toto Tasmara muncul dengan buku-bukunya yang gencar memotivasi umat Islam agar memiliki mental tangguh.
Begitu pula, berapa banyak dulu remaja kita yang kecantol pada novel-novel ngepop dan picisan karya Predy S, Maria Fransisca, Abdullah Harahap, yang dalam cerita-cerita mereka terkesan mengagungkan cinta. Bahkan, tidak sedikit yang kecanduan pada serial Nick Carter yang sarat dengan kekerasan dan adegan ranjang. Dampaknya, disadari atau tidak, bacaan semacam itu mempengaruhi pola pikir dan prilaku remaja kita. Di antaranya, pacaran dianggap sebagai kebanggaan. Malah, tak sedikit yang berani nyerempet ke arah perzinahan akibat ‘terinspirasi’ bacaan yang merusak tadi.
Orangtua jangan cuma bisa menyalahkan kenapa remaja kita mengonsumsi novel-novel yang tidak mendidik tersebut, karena waktu itu memang tidak ada pilihan lain. Baru sekitar tahun 1992 muncul gelombang fiksi Islami yang dipelopori oleh Helvy Tiana Rosa bersama komunitas Forum Lingkar Pena (FLP). Ratusan bahkan ribuan penulis muda yang istiqomah menyisipkan nilai-nilai islami dalam karya-karya mereka bermunculan. Terbukti, kehadiran penulis Muslim ini mampu memberi pencerahan. Sehingga, tak berlebihan bila sastrawan Taufik Ismail memuji, bahwa kehadiran FLP merupakan anugerah bagi Indonesia.
Memperjuangkan Islam
Kalau mau jujur, sampai hari ini begitu banyak problem yang membelit umat Islam. Dari keterbelakangan, kebodohan, kemiskinan, hingga ketertindasan. Semua itu tentu memerlukan solusi dan perbaikan. Di sinilah peran penulis Muslim untuk memberikan pemikiran dan pencerahan. Kesadaran umat perlu digugah dan dibuka lewat tulisan. Misalnya, untuk mencintai ilmu, mendalami teknologi, membangkitkan etos kerja, dan lain-lain, sehingga kita tak terus-terusan terpuruk dalam ketertinggalan. Semua itu bisa diulas dan ditulis menurut perspektif Islam.
Islam sendiri sangat menghargai kedudukan penulis Muslim, sehingga dinyatakan tinta ulama itu senilai darah syuhada. Jadi, untuk memperjuangkan Islam tidak harus terjun ke medan perang. Jihad itu artinya bersungguh-sungguh. Kalau kita bersungguh-sungguh menulis untuk membangkitkan ghirah umat membebaskan diri dari kejumudan itu juga bagian dari jihad.
Termasuk, ketika Islam dilecehkan kita wajib membela melalui tulisan. Sudah teramat sering agama kita dihina lewat kartun, komik, film, video, dan tulisan oleh Barat. Kentara sekali kebencian yang mereka perlihatkan. Di antaranya, Rasulullah kerap dideskripsikan sebagai (maaf) seks maniak lantaran beliau beristri banyak. Biasanya menghadapi penghinaan tersebut umat Islam bereaksi dengan cara demo besar-besaran. Sah-sah saja, tapi apakah langkah tersebut cukup efektif?
Penghinaan itu terlontar boleh jadi karena ketidakpahaman mereka terhadap Islam. Di sinilah seharusnya kita lebih gencar meluruskan kekeliruan persepsi tersebut lewat tulisan. Jelaskan bahwa poligami yang dilakoni Rasulullah justru untuk mengangkat derajat wanita-wanita yang beliau nikahi. Jika dimaksudkan buat mengumbar hawa nafsu, tentu beliau tidak akan memilih para janda. Barangkali memberi penjelasan melalui tulisan inilah yang masih minim kita lakukan.
Apalagi penduduk Eropa, khususnya AS, mereka umumnya adalah orang yang berpendidikan tinggi dan terbiasa berpikir ilmiah. Kalau ingin mendalami sesuatu hal, termasuk Islam, mereka akan mencarinya di literatur-literatur. Jika buku-buku yang tersedia justru ditulis oleh pengarang yang memang antipati terhadap Islam, maka tak heran bila terjadi penyesatan informasi atau opini.
Kita juga patut prihatin, kok buku-buku tentang Islam malah banyak ditulis oleh para orientalis yang bukan beragama Islam. Pertanyaannya, siapa yang berani menjamin uraian dan ulasan mereka benar-benar netral, tanpa misi terselubung?
Menyikapi kenyataan demikian, kita tak perlu dan memang tak pantas mengecam mereka. Sebab, ketika umat Islam membiarkan suatu celah kosong, maka orang lain yang akan mengisinya.
Karena itu, kalau memang serius ingin melihat umat Islam mengalami kebangkitan di masa mendatang, kita perlu lebih banyak memiliki para penulis Muslim. Dari tangan-tangan mereka inilah diharapkan syiar Islam semakin bergema di berbagai penjuru dunia.
Kayak apa pendapat dangsanak, akur juakah?
Banjarmasin, 16 Jan 2009
***
Oleh: Aliansyah Jumbawuya
Dalam konsep Islam, apabila kita ikhlas berbuat sesuatu, cepat atau lambat akan mendapat ganjaran dari sumber yang tak disangka-sangka. Ini janji Allah, lho! Karena itu, pasti berlaku.
Begitu pula, jika menulis didasari niat tulus untuk memberi pencerahan, mengajak pada kebajikan, memotivasi publik agar tergugah meningkatkan kualitas hidup, membangun kesadaran bersama, tunggulah ‘efek samping’ bakal menyertai Anda.
Kalau sampeyan seorang dosen, berkat sering menulis di media massa, mungkin saja tawaran untuk jadi pembicara semakin gencar. Kalau antum ustadz muda, karena kerap menulis boleh jadi pamor ikut meningkat, sehingga undangan sebagai khatib, penceramah, terus berdatangan. Kalau ente seorang guru, siapa tahu suatu hari nanti memudahkan untuk mendapatkan sertifikasi. Bahkan kalau Anda cuma orang biasa, kemudian berminat menjadi caleg, maka tak perlu lagi banyak mengeluarkan dana untuk mengiklankan diri, sebab nama Anda sudah dikenal luas. Semua itu hanyalah sebagian kecil dari berkah menulis.
Cukup banyak contoh orang yang ikhlas menulis akhirnya mendapatkan ‘bonus’ tak terduga.
Kini, siapa yang tak kenal Andrea Hirata. Padahal, dulu ia sama sekali tak pernah berniat untuk menjadi orang yang ngetop. Semua itu ia peroleh berkat ikhlas menulis. Ceritanya, Andrea menggarap novel Laskar Pelangi untuk dipersembahkan kepada Bu Muslimah yang kian beranjak tua. Ketika tulisan itu jatuh ke tangan sahabatnya, tanpa sepengetahuan Andrea, kemudian dikirim ke penerbit. Tak diduga sambutan publik begitu luar biasa. Dalam waktu relatif singkat mengalami belasan kali cetak ulang. Royalti pun mengalir deras ke saku Andrea Hirata. Apalagi setelah diangkat ke layar lebar. Konon semilyar lebih penghasilannya.
Padahal, waktu menulis novel fenomenal tersebut ia tidak pernah berharap atau memasang target yang muluk-muluk. Ikhlas semata untuk mengenang dedikasi dan pengabdian gurunya tersebut. Nyatanya, popularitas dan kekayaan berpihak pada Andrea.
Begitu pula yang terjadi dengan EWA, setiap hari ia menulis di blog untuk memotivasi pembaca. Kalau ada media cetak mau memuat tulisannya, ia pun mempersilakan tanpa menuntut soal honor. Niatnya semata untuk berbagi ilmu. Alhasil, ketika ia hendak menerbitkan buku, bantuan pun mengalir dari sahabat-sahabatnya. Belum lagi rezeki lain yang sifatnya non-material, seperti kepuasan batin, punya kenalan di mana-mana, dsbnya.
Suhadi, seorang guru di Danau Panggang (HSU), rajin menulis seputar masalah pendidikan. Ia ikhlas menulis dan terus menulis. Lalu, apa imbalan yang didapatkannya? Satu hal yang dirasakan Suhadi, kini kalau ke kantor Diknas setempat sambutan pegawai di sana kepadanya lebih hormat. Dan, penghargaan semacam itu tidak bisa dinilai dengan uang.
Jadi, kalau Anda ikhlas menulis, meskipun luput mendapatkan imbalan finansial, setidaknya Anda akan memperoleh pahala berbagi ilmu.
Kayak apa pendapat dangsanak, akur juakah?
Banjarmasin, 10 Jan 2009
***
Oleh: Aliansyah Jumbawuya
“Saya suka menulis waktu saya merasa kesal; itu seperti bersin yang melegakan.”
(DH Lawrence)
***
Dalam hidup ini tidak jarang antara harapan dan kenyataan bertolakbelakang. Bak pribahasa, menanam padi malah tumbuh ilalang. Akibatnya, timbul kecewa, masygul, serta perasaan terluka. Sebenarnya bersedih itu manusiawi dan sah-sah saja, asalkan jangan sampai berlarut-larut. Sebaliknya, jika dipendam berlama-lama itu yang bisa jadi masalah.
Beban mental kalau dibiarkan akan berpengaruh buruk pada kondisi fisik dan psikologis. Dalam penelitian disebutkan, penyakit jasmani itu justru kebanyakan disebabkan oleh sengkarut pikiran dan emosi. Kebencian, dendam, amarah, jengkel, adalah energi negatif yang berpotensi ‘merongrong’ ketenangan batin.
Karena itu, apabila diterpa suatu masalah jangan biarkan berlumut di hati, segera lontarkan. Dan, salah satu cara cerdas menyalurkan luapan emosi ialah lewat tulisan. Biasanya begitu rampung menulis, apa-apa yang mengganjal bagai termuntahkan. Tak ada lagi beban yang tersisa. Berganti dengan perasaan plong. Jiwa pun lebih tentram.
Misal, dalam sebuah kerjasama Anda dipecundangi seorang teman, wajar bila gondok. Tetapi, tak usah mencak-mencak apalagi menjotos mukanya yang menyebalkan itu. Sebab, ketika menggunakan kekerasan Anda akan mengalami kerugian berlipatganda. Ada dua kemungkinan, berurusam dengan pihak berwajib atau berdamai tapi Anda harus membayar ganti rugi jutaan rupiah. Kan berabe. Mendingan kegusaran Anda disalurkan melalui tulisan.
Umpama, bikin cerpen yang karakter dan kejadiannya persis seperti yang Anda alami. Buat dia sebagai tokoh antagonis. Dalam karya fiksi itu Anda bebas memperlakukan dia, mau dipermak sampai babak-belur atau mati, tak ada yang bisa menghalangi Anda. Lha, yang menulis Anda. Suka-suka dong! Siapa tahu setelah membaca tulisan Anda itu yang bersangkutan merasa dan sadar diri. Paling tidak, dengan menuliskannya kemarahan Anda menjadi reda.
Ingat, tak semua yang tidak kita sukai mesti dilawan secara frontal. Kadang kita perlu ‘kompromi’ dengan diri sendiri. Caranya? Ya, tulis. Setelah itu, habis perkara. Tak perlu memelihara dendam, sebab itu hanya akan mengotori hati.
Begitu pula, kalau Anda jengkel dengan ulah pejabat yang kebijakannya tidak berpihak pada rakyat kecil, segera tulis. Itu jauh lebih baik daripada sekadar menggrundel. Atau, Anda melihat ketimpangan hukum yang amat kentara, kenapa tidak dituliskan saja? Seperti puisi saya berikut ini: “Aku tak percaya butir‑butir pasal bisa menjelma embun/Jika tangan para penaburnya belepotan dengan kotoran/Aku sangsi ketuk palu menyuarakan keadilan/Jika keputusan dapat diperjualbelikan/Aku memandang sinis yang namanya lembaga sakral/Jika iman para penghuninya masih dangkal/Mata berkunang‑kunang, nurani terjungkal/Dijegal sumpal segepok uang pemilik kantong tebal…“
Tulisan tersebut saya buat ketika merasakan betapa ketimpangan hukum di negeri ini masih sering terjadi. Daripada kekecewaan tersebut terus disimpan, mending dituangkan ke dalam bentuk tulisan. Setelah itu, batin pun menjadi lega.
Demikian juga, kala jatuh cinta tapi terhalang tembok tradisi, saat rindu menggelegak namun jarak tak memungkinkan untuk bersua, ketika ibunda tercinta meninggal dunia, perasaan yang bergejolak menuntut penyaluran. Maka, lahirlah bait-bait puisi tentang itu.
Termasuk ketika warga di lingkungan tempat tinggal saya banyak yang mengeluh lantaran berdekatan dengan kandang ayam. Bau kotoran yang menyengat ditambah serbuan lalat-lalat, tak pelak membuat siapapun yang bermukim di situ jengkel. Bahkan, ada yang sempat mengusulkan untuk mengadukan kepada dinas terkait supaya peternakan itu ditutup. Terus terang saya sendiri merasa cukup terganggu dengan keberadaan kandang ayam tersebut. Tapi, di sisi lain terbetik rasa kasihan pada si pemiliknya, kalau digusur lalu bagaimana nanti dia menafkahi istri dan anak-anaknya. Antara ego pribadi dan naluri kemanusiaan berperang dalam diri saya. Akhirnya untuk menjinakkan perasaan, saya tulis menjadi cerpen “Lalat”.
Artinya, cukup banyak tulisan saya yang lahir karena dipicu oleh kenyataan pahit yang menyesakkan dada. Daripada dipendam sendiri, mendingan ditulis. Terbukti, setelah itu jiwa terasa plong.
Katarsis
Mungkin Anda pernah menyandang predikat mahasiswa atau mampir ke tempat mereka. Umumnya di dinding kamar anak-anak kuliahan itu banyak terdapat coretan. Isinya bermacam-macam, ada yang kecewa karena ditinggal pacar, sedih lantaran belum dapat uang kiriman, termasuk hasrat-hasrat lainnya yang tak kesampaian. Walaupun pemilik kost berulang kali melarang ‘kreativitas’ liar tersebut, toh mereka tetap saja melakukannya. Kenapa? Karena saat dirundung masalah, mahasiswa yang jauh dari orangtua tak punya tempat buat curhat. Akhirnya, daripada kemelut itu menggelegak di hati, lalu mereka salurkan dengan menuliskan di dinding.
Pun, jika Anda kebetulan lewat di gang-gang sempit sering ditemukan tulisan grafiti di tembok-tembok, dari kata-kata yang bernada memelas hingga berbau hujatan. Mereka rela mengeluarkan kocek untuk membeli cat semprot semata agar bisa menumpahkan isi hati. Sebab, boleh jadi selama ini nasib mereka sering tergencit dan terabaikan.
Biasanya usai mengeluarkan uneg-uneg melalui tulisan si bersangkutan menemukan ketentraman jiwa. Barangkali inilah yang dimaksud dengan katarsis, proses penyucian diri.
Caryn Mirriam Goldberg, seorang penyair sekaligus konsultan remaja di Amerika, mengaku menulis telah menyelamatkan hidupnya. Pada waktu berumur 14 tahun ia bertengkar dengan sahabat karib satu-satunya. Ketika pulang ke rumah, ia dihadapkan pada masalah lain, kedua orangtuanya berencana untuk bercerai. Saat itu Caryn benar-benar merasa terpukul, seolah hidupnya telah hancur. Bahkan sempat tebersit niat untuk bunuh diri.
Untunglah, dengan menulis ia secara berangsur menemukan secercah harapan.
“Saya percaya menuliskan pemikiran, puisi, dan cerita — kadang berjam-jam setiap hari — mencegah saya terlalu banyak memikirkan bunuh diri di saat-saat sulit dan sedih. Sebagai seorang remaja, saya bertanya-tanya apakah saya layak hidup, dan menulis membantu saya memahami luka hati saya. Saat menulis, saya dapat mengumpulkan ketakutan dan emosi saya yang meluap-luap di atas kertas, menciptakan semacam cermin,” ungkap Caryn Mirriam Goldberg dalam buku Daripada Bete, Nulis Aja!
Jadi, bila Anda punya problem memberat di hati, kenapa tidak segera disalurkan lewat tulisan? Jika Anda sudah menuangkannya ke dalam tulisan, niscaya timbul perasaan tenang, adem, tentram. Pokoknya, gimana gituuuu… Kalau tidak percaya, silakan buktikan sendiri.
Banjarmasin, 10 Jan 2009
***
Oleh: Aliansyah Jumbawuya
Amaliah apapun jika didasari keikhlasan pasti akan terasa indah. Senantiasa membuahkan kebahagiaan. Bagi si pelaku letak kepuasan bukan pada hasil, justru didapat saat melakoni proses itu sendiri.
Kalau mau tahu perbuatan yang benar-benar dilandasi keikhlasan lihatlah prilaku para pemancing ikan. Kalau dikalkulasi antara modal yang dikeluarkan dengan hasil yang diperoleh sering tidak berimbang. Hitunglah, membeli anak wanyi buat umpan saja sudah berapa? Belum lagi harga tantaran, nilon, kawat, bensin — karena biasanya lokasi untuk memancing itu cukup jauh. Ditambah dengan pengorbanan dirubung nyamuk, kulit berbilur-bilur tergores ilalang, sementara ikan yang didapat tidak memadai. Sesudah itu, sepulang di rumah diomeli istri pula. Padahal, jika semua pengeluaran tadi dibelikan ikan di pasar tentu dapat lebih banyak.
Lalu, apa kata si pemancing ikan? “Karujutnya itu nah orang
nang kadada bajual.”
Demikianlah kalau orang melakukan sesuatu karena ikhlas atau hobi, maka apapun hasilnya dia tidak terlalu peduli. Tetap enjoy dan happy. Tak ada istilah merasa rugi, apalagi kapok.
Begitu pula ketika kita ikhlas menulis, merangkai kata-kata akan menjadi kegiatan nan menyenangkan. Sarat dengan kenikmatan. Tak perlu ada beban apapun. Sebab, tugas utama penulis adalah menulis. Soal publikasi itu urusan belakangan. Kalau dimuat syukur, ditolak redaksi pun tiada mengapa. Terus menulis dan menulis. Kalau media massa terlalu ‘angkuh’ untuk memuat karya kita, cari alternatif lain. Apalagi generasi sekarang cukup dimanjakan oleh kemajuan teknologi, siapapun bisa menggunakan fasilitas gratis weblog. Kita boleh sesuka hati mempublikasikan tulisan di dunia maya. Tak ada yang dapat menghalangi. Malah daya jangkaunya lebih luas, bisa diakses lintas negara.
Intinya, kalau kita ikhlas menulis insya Allah selalu ada cara buat berbagi ilmu, buah pemikiran, maupun hasil renungan kepada khalayak. Meskipun tulisan kita berulang kali tidak dimuat di media massa, jangan pernah patah semangat untuk terus menulis. Siapa tahu nanti bila sudah terkumpul banyak kita bisa membukukannya dengan biaya sendiri atau atas sponsor pihak lain. Jadi, sekali lagi perlu ditegaskan, manakala kita ikhlas menulis, maka tidak ada alasan untuk kecewa.
Sebaliknya, jika kita menulis lantaran mengejar pamrih tertentu, inilah yang sering membuat mental down ketika apa yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Contoh, tulisan ditolak redaksi, lalu menggerutu. Atau tulisan kita dimuat, tapi honornya tak kunjung datang — mungkin sekretaris media itu lupa mengirimkan atau wesel nyasar ke tempat lain — akhirnya merajuk tidak mau menulis lagi.
Ada juga seseorang menulis karena berambisi mengejar popularitas, berharap dirinya dicap sebagai sastrawan. Begitu orang bikin ensiklopedi ternyata kemudian namanya tidak tercantum dalam entri, dia pun mencak-mencak, merasa tidak diakui. Akibatnya apa? Motivasi dan minat dia untuk menulis menjadi kendor!
Ada lagi yang menulis lantaran ingin mendapatkan hadiah dan penghargaan. Dia hanya menulis bila ada sayembara. Alhasil, produktivitas menulisnya sangat rendah. Sebab, dalam setahun bisa dihitung dengan jari berapa jumlah perlombaan. Itupun belum tentu dia masuk nominasi. Karena orientasinya begitu, biasanya apabila kalah si bersangkutan mudah kecewa. Padahal, yang namanya pengakuan dan penghargaan itu sangat relatif. Tidak bisa dijadikan pegangan.
Ini bukan berarti penulis tidak boleh mengharapkan honor, popularitas, serta berbagai bentuk penghargaan lainnya, tapi jika kita ikhlas menulis, percayalah semua itu akan datang ‘mengekor’ dengan sendirinya.
***
Oleh: Aliansyah Jumbawuya
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
(QS Alam Nasyrah ayat 5-6)
***
Merintis usaha apapun pada awalnya wajar bila mengalami banyak kendala dan kesulitan. Tidak ada yang langsung mulus. Semua perlu proses. Untuk menjadi besar harus dimulai dari kecil. Di sinilah waktu akan menguji: apakah kita memiliki mental yang tangguh atau malah mudah menyerah.
Sekedar contoh, dulu ketika hari pertama saya membuka jasa pengetikan komputer di Kayutangi Banjarmasin, sampai sore tak seorangpun pengunjung yang datang. Tapi, saya tetap bertahan. Akhirnya, persis menjelang Maghrib ada juga yang mampir. Itupun dia cuma minta diketikkan satu lembar untuk sampul makalah. Namun seiring perjalanan waktu, pelan-pelan lokasi usaha saya tersebut makin dikenal orang, sehingga pelanggan terus bertambah. Alhamdulillah, dari situ saya bisa memperoleh nafkah hidup.
Nah, begitu pula jika Anda mau meniti karir sebagai penulis tentu perlu kesabaran. Kalau tulisan pertama Anda ditolak redaksi, tak usah lantas buru-buru berputus asa. Anggaplah pengalaman itu sebagai ajang latihan.
Lha, jangankan Anda yang kelas pemula, para ‘pemain senior’ pun masih sering tulisan mereka ditolak. Penulis produktif seperti Ahmad Barjie dan dr Pribakti yang artikel‑artikelnya sering menghiasi SKH Banjarmasin Post saja tidak ada jaminan karya mereka pasti dimuat. Mereka tetap harus bersaing, paling tidak sabar untuk antre, mengingat tulisan yang masuk ke meja redaksi lumayan banyak. Jadi, bila tulisan pertama yang Anda kirim tidak diterbitkan itu hal yang lumrah. Yang penting, hindari sikap gampang menyerah. Justru Anda harus lebih giat dan getol lagi menulis. Kalau Anda gencar ‘membombardir’ redaktur dengan tulisan‑tulisan Anda, dari sekian banyak itu boleh jadi ada satu yang berkenan di hati untuk dimuat. Atau, minimal nama Anda nyantol di benaknya dan siapa tahu dia salut dengan kegigihan Anda.
Sebagai ilustrasi, sastrawan Joni Ariadinata pada awal terjun di dunia kepenulisan, naskah‑naskah yang dikirimnya mengalami penolakan bukan puluhan kali saja, tetapi ratusan kali! Bayangkan, andai Anda mengalami hal serupa kira‑kira masihkah tetap keukeh dan istiqomah untuk jadi penulis? Terbukti, berkat kesabaran, ketekunan, kegigihan, serta kemauan belajar, akhirnya cerpen dia yang berjudul “Lampor” dimuat juga oleh Kompas. Beruntungnya lagi, tahun itu pula cerpen tersebut dinobatkan terbaik di antara nominasi lain, dan mendapat penghargaan bergengsi dari media bersangkutan.
Kini, peminat sastra mana yang tak kenal Joni Ariadinata. Kalau dulu tulisannya disepelekan, belakangan justru para redaktur yang menunggu‑nunggu naskah kiriman Joni. Malah sekarang di majalah Annida ia dipercaya mengasuh rubrik khusus.
Maka, seyogianya jadikanlah kasus Joni Ariadinata itu sebagai inspirasi sekaligus pemacu semangat. Kalau tulisan Anda tak kunjung dipublikasikan, jangan keburu berkecil hati dan frustasi, apalagi terbersit niat untuk berhenti.
Ingat, dari sekian banyak biji karet yang bertebaran di tanah, tidak semua berhasil menjadi pohon. Hanya yang kuat menghadapi beragam ujian cuaca itulah yang bisa tumbuh. Demikian pula halnya manusia, hanya mereka yang punya ketahanan prima dan daya juang tinggi yang mampu menunjukkan eksistensinya.
Evaluasi Diri
Sesungguhnya dalam perjuangan untuk mewujudkan impian apapun tidak ada istilah gagal, melainkan sekadar kesuksesan yang tertunda. Mau dan berani mencoba itu sendiri sudah merupakan nilai plus. Sebab, meskipun naskah Anda belum dimuat, pasti terselip beberapa pelajaran yang bisa dipetik. Di sinilah diperlukan kerendahan hati untuk bersedia mengevaluasi diri.
Mungkin tulisan Anda kurang fokus pada satu topik, saking banyaknya ide yang hendak ditumpahkan lalu ngambang ke mana‑mana. Atau, susunan kalimat Anda masih susah dimengerti maksudnya. Biasanya penulis pemula sering tanpa sadar terjebak pada kalimat yang berpanjang‑panjang, akibatnya kalimat pokok tenggelam oleh rentetan anak‑anak kalimat.
Bisa pula tulisan Anda sudah bagus, tapi media yang Anda pilih kurang tepat. Misalnya, Anda menulis tentang kiat mendidik anak, tapi mengirimnya ke majalah Hai, Trubus, atau Warta Ekonomi, jelas saja ditolak. Lain halnya Anda mengirim ke Nova, Nakita, Ayahbunda, atau Mahkota, ada kemungkinan bakal dimuat. Sebab, tiap-tiap media massa itu dari awal sudah punya standar dan segmentasi tertentu. Jadi, daripada menyalahkan redaksi lantaran tidak memuat tulisan Anda, lebih baik koreksi sekali lagi karya Anda. Siapa tahu setelah ditelaah ulang, ternyata Anda memang menemukan beberapa kejanggalan dan kelemahan. Maka, tidak ada salahnya direvisi. Bila sudah diperbaiki, kirimkan lagi. Mudah‑mudahan tulisan Anda kali ini pantas dimuat.
Sebaliknya, jika Anda yakin karya tersebut sudah bagus dan berbobot tinggi, mungkin redaksinya saja kurang cermat dan jeli menangkap itu, sebagai alternatif kirimkanlah ke media lain. Karena beda redaktur beda pula kriteria penilaian.
Faktanya, tidak sedikit kasus yang dialami penulis pemula sudah ke mana‑mana menawarkan tulisannya, selalu saja ditolak. Namun, si bersangkutan tak gampang menyerah. Ia terus ngotot karena yakin tulisannya cukup berkualitas dan layak untuk diperhitungkan. Akhirnya, berkat kegigihan itu ada juga penerbit yang berkenan mempublikasikan naskah tersebut. Lalu, apa hasilnya? Ternyata buku yang semulasempat ditolak oleh beberapa penerbit itu, begitu dilempar ke pasaran laris manis alias best seller.
Tahukah Anda kalau novel Harry Potter karya JK Rowling yang menggemparkan itu awalnya ketika ditawarkan kepada beberapa penerbit juga ditolak? Namun berkat keyakinan serta kegigihannya, ia terus berusaha keras. Alhasil, kini Rowling tercatat sebagai salah satu orang terkaya di dunia. Semua itu diperolehnya semata dari hasil menulis.
Dalam dunia kepenulisan berbagai kemungkinan tak terduga bisa terjadi. Tetapi, ingat hanya mereka yang tak mudah menyerah saja yang berhak menuai kesuksesan.
Sebuah pribahasa mengatakan, orang yang hebat itu bukanlah dia yang tidak pernah jatuh; justru orang yang jatuh berulang-ulang kali, tetapi dia tetap mau bangkit dan terus berjuang.
Nah, masihkah Anda bersemangat untuk menjajal kemampuan di dunia tulis‑menulis? Selamat berkarya! Kami tunggu tulisan Anda, tentu saja bukan yang disimpan di laci meja, melainkan yang dimuat di media massa.
Banjarmasin, 1 Jan 2009
***
Oleh: Aliansyah Jumbawuya
“Biarkan dirimu ditarik secara diam‑diam oleh tarikan yang lebih kuat dari apa yang benar‑benar engkau cintai.”
(Jalaluddin Rumi)
***
Pernahkah kita memperhatikan anak yang tengah bermain? Kadang saking asyiknya, ia sampai lupa waktu, tak ingat makan, dan samasekali tak berniat untuk tidur siang. Sinar matanya tampak berbinar. Senyumnya merekah. Kadang tertawa lepas mengekspresikan kegembiraannya. Mengapa? Karena ia menemukan dunianya, sarana mengaktualisasikan diri.
Begitu pula jika kita menulis dilandasi rasa cinta, maka merangkai kata‑kata menjadi begitu nikmat. Tak heran jika ada penulis yang mengibaratkan berkarya sebagai proses menuju ‘orgasme’. Aktivitas menulis memberinya kepuasan batin yang tak ternilai dengan materi.
Kalau kita sudah mencintai pekerjaan apapun, termasuk menulis, insya Allah kita akan melakoninya dengan penuh kegembiraan. Selalu enjoy. Tanpa beban. Tenaga yang dimiliki pun bagai berlipat‑lipat, tiada mengenal rasa capek. Antusiasme meluap‑luap dalam diri. Semangat senantiasa menggebu‑gebu. Walau sudah seharian bergelut dengan rutinitas kantor, setiba di rumah hasrat untuk menulis tetap memanggil‑manggil. Rasa kantuk tiada dipedulikan. Sebab, godaan untuk berkutat dengan tuts‑tuts komputer jauh lebih besar. Alhasil, tak lama berselang kita pun sibuk menulis dan menulis.
Memang, jika seseorang sudah sampai tahap tersebut, ia akan selalu keranjingan untuk berkarya. Baginya menulis tak ubahnya dengan bermain‑main. Menulis bukan lagi ‘kewajiban’ apalagi beban, melainkan kebutuhan. Di mana ada kesempatan, di situ ia akan menuangkan ide‑idenya. Tak perlu menunggu suasana serba nyaman dan kondusif.
Orang yang menulis didasari oleh rasa cinta dan yang terpaksa, pastilah hasilnya berbeda. Tak diragukan, biasanya tipe pertamalah yang cenderung dekat dengan kesuksesan. Kenapa? Ada beberapa faktor yang ikut mempengaruhi. Pertama, orang yang mencintai profesinya tentu tak akan pernah berhenti untuk belajar. Ia selalu berusaha untuk memperbaiki kualitas dirinya, sehingga karya yang dihasilkan bisa diterima khalayak.
Kedua, semangat pantang menyerah. Ingatlah ketika kita mengejar‑ngejar seseorang yang dicintai, kita tidak akan berhenti sebelum benar‑benar memilikinya. Walau pernah ditolak, selalu saja ada akal kita untuk menaklukkan hati si doi. Pokoknya rela berkorban apa saja, ibaratnya gunung akan didaki lautan pun diseberangi. Cailahh… Begitu pula, seseorang yang mencintai aktivitas menulis, meski naskahnya berkali‑kali ditolak dia tidak akan putus asa, hingga tekadnya untuk mempublikasikan tulisan tercapai. Kalau perlu, andai semua penerbit tidak ada yang berkenan, maka ia menerbitkan dan membiayainya sendiri. Buktinya, cukup banyak penulis yang nekat seperti itu, dan menuai sukses karena ternyata bukunya laris‑manis di pasaran. Salah satu contohnya adalah Edy Zaques.
Selain itu, seseorang yang menulis dilandasi rasa cinta pastilah produktivitasnya sangat tinggi. Kreativitas dia juga bagai tak ada habis‑habisnya. Ia selalu berusaha melakukan inovasi dan terobosan‑terobosan baru. Dengan karakteristik yang demikian, wajar jika kemudian si bersangkutan menuai kesuksesan.
Karena itu, kalau kita mencintai dunia tulis‑menulis, tak usah takut bakal kekurangan penghasilan. Imbalan akan menyusul dengan sendirinya. Sebutlah Seno Gumira Adjidarma, saking mencintai profesi yang digeluti baginya menulis itu sudah seperti bernafas. Tidak bisa dipisahkan dari kesehariannya. Terbukti, beberapa karya Seno langganan mendapat penghargaan bergengsi, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
Memang, tulisan yang lahir dari hati akan mudah pula menyentuh hati para pembaca. Dan, kalau karya‑karya kita sudah digemari banyak orang, rejeki pun bakal mengalir lancar ke saku kita. Saat itulah kita semakin yakin bahwa cinta itu membawa berkah.
Jadi Prioritas
Mungkin kita semua pernah jatuh cinta. Rasanya semua serba indah. Selalu ingin bercengkerama. Walau kemarin sudah bertemu dengan sang kekasih, bahkan berjam‑jam saling curhat, tapi hari ini tetap saja ingin bersua. Begitu pula, besoknya. Rindu senantiasa mendera kalbu.
Apapun keinginannya sebisa mungkin kita kabulkan. Kalau lagi bokek, nekat ngutang sama teman. Tentu saja di luar pengetahuan si doi. Pokoknya kebutuhan dia lebih utama dari diri kita sendiri!
Walaupun kata orang parasnya tidak cantik, tapi di mata kita dialah satu‑satunya yang paling menggetarkan hati. Meski gadis‑gadis lain silih‑berganti datang menggoda, tetap tak mampu membuat kita berpaling darinya.
Nah, hal serupa berlaku pula pada dunia tulis‑menulis. Kalau kita sudah mencintai kegiatan yang satu ini, kita akan menempatkannya sebagai prioritas utama dalam hidup. Sedangkan hal‑hal lainnya cukup ditaruh pada urutan ke‑13. Nomor satunya adalah menulis. Kedua, masih menulis. Ketiga, juga menulis. Keempat, kelima, dan seterusnya … sama, tetap menulis.
Maka, tak heran jika orang yang mencintai kegiatan menulis tahan berjam‑jam di depan komputer. Berbagai acara di televisi, tak mampu mengalihkan perhatiannya dari keasyikkan merangkai kata. Sekalipun band favoritnya tampil live di layar kaca, paling sebentar dia melirik, setelah itu kembali berkutat menggarap tulisan. Apalagi sekadar sinetron‑sinetron picisan, sebelah mata pun ia enggan memandang.
Sebaliknya, kalau menulis tanpa perasaan cinta, mendengar kucing meong‑meong sedang kawin saja konsentrasinya jadi buyar, langsung beranjak dari meja tulis. Buru‑buru mengambil air, dan byuur — kedua kucing itupun basah kuyup, tak kesampaian menyalurkan hasrat hewani mereka. (Ha.. ha… memangnya tidak ada contoh lain?!)
Artinya, tingkat kecintaan seseorang dalam menulis akan mempengaruhi, atau tepatnya berbanding lurus dengan kadar kesungguhan dia saat berkarya.
Kita sering menemukan si Polan yang mengaku sebagai pengarang, tapi setelah tulisannya dimuat satu‑dua judul di media massa, dia malah berhenti berkarya. Mandeg. Kalau ditanya, kenapa? Dalihnya bisa bermacam‑macam. Padahal, yang benar adalah kecintaan dia pada menulis belum begitu mendalam. Masih setengah atau seperempat hati.
Kata orang, kalau cinta sudah melekat gula Jawa rasa coklat. Kalau menulis didasari rasa cinta, sambil makan coklat pasti lebih enak. Nggak percaya? Silakan bukti sendiri!
Banjarmasin, 26 Des 2008
***
BANJARBARU- Dalam beberapa tahun terakhir ini Ersis Warmansyah Abbas memang gencar menularkan virus menulis. Sabtu (20/12), santri/wati Ponpes Darul Ilmi, Landasan Ulin, Banjarbaru, kena giliran mendapat motivasi menulis darinya.
“Umur 5 tahun saya sudah membaca novel karangan Buya Hamka. Saya terkagum-kagum pada orang Padang yang piawai menulis. Tapi, ketika saya hijrah ke Banjar tahun 1994 saya menemukan figur ulama Kalsel Syekh Arsyad Al Banjari yang di abad 18 sudah menulis buku,” kata Ersis.
Waktu itu, lanjut dosen FKIP Unlam ini, belum lagi ada orang Jawa, Manado, atau Padang yang menulis. Kitab-kitab karya Syekh Arsyad, terutama Sabilal Muhtadin, terkenal sampai ke Thailand. Padahal di zamannya belum dikenal mesin tik, komputer, apalagi laptop. Syekh Arsyad menulis menggunakan pena dari bulu ayam.
“Lalu, siapa yang mewarisi semangat menulis Syekh Arsyad sekarang di tanah Banjar. Karena itu, saya menuntut kepada kiai-kiai di pesantren kenapa tidak menulis buku?” gugatnya.
Ersis mengaku memiliki 200 lebih buku tentang Rasulullah. Hampir 90 persen adalah terjemahan, itupun kebanyakan dilakukan para alumni Mesir. Jadi, di mana kiai-kiai kita?
Ditegaskannya bahwa menulis itu sangat mudah. Syaratnya asalkan bisa berpikir.
“Siapapun yang bisa berpikir pasti bisa menulis!” pungkas Ersis.
Sedangkan Aliansyah Jumbawuya menekankan bahwa menulis itu bisa dijadikan profesi alternatif. Sekarang ini para sarjana di mana-mana kebanyakan pengin jadi PNS, walaupun tahu persaingan amat ketat. Bahkan siswa-siswa IPDN rela dan pasrah dipukuli seniornya karena ingin mendapatkan pekerjaan. Termasuk gadis-gadis cantik yang menjadi salesgirl, mereka mau saja memakai rok mini pamer aurat demi mencari sumber penghasilan.
“Kenapa tidak berpikir untuk jadi penulis saja? Saya sendiri, walau tidak bisa dikatakan berkelebihan, tapi paling tidak dengan jadi penulis bisa menafkahi isteri dan anak-anak,” ungkap Wakil Korlip Serambi UmmaH ini.
Dalam kesempatan tersebut juga hadir sebagai pembicara Sandi Firly, Abdurrahman Hakim, dan Randu Alamsyah (penulis novel Jazirah Cinta) yang menceritakan seputar proses kreatif menulis mereka.
***
Novelnya yang berlatarbelakang Kalsel mendapat pujian dari artis Zaskia Adya Mecca. Uniknya lagi, karya alumni Ponpes Darul Ilmi ini dibuat dalam kondisi serba terbatas di tengah hutan.
………….
Dia senang mengembara. Hampir seluruh kota-kota besar di Indonesia sudah pernah disinggahinya.
“Di Balikpapan saya sempat jadi gelandangan, tidur di masjid-masjid,” ujar Randu Alamsyah.
Mengembara, lanjut pria kelahiran Manado 25 Juni 1983 ini, tidak sama dengan merantau. Kalau merantau lebih diartikan pergi ke tempat jauh untuk mencari penghidupan. Sedangkan mengembara semata berjalan-jalan.
“Saya juga pernah jadi pemulung, cleaning servis, dan lain-lain. Kerja sekadar demi menutupi biaya hidup sehari-hari,” kata Randu.
Tahun 1995 ia diajak pamannya untuk menuntut ilmu di Pondok Pesantren Darul Ilmi, Landasan Ulin, Banjarbaru. Ia mengaku sempat dua tahun tidak naik kelas, karena baru di sini belajar Alquran.
“Di kampung halaman saya, Manado, 99 persen penduduknya Nonmuslim. Kalau mau salat Jumat jauh, harus naik taksi ke perkampungan Muslim. Bahkan waktu SD saya sekolah di Eben Ezer,” cerita pemilik nama asli Muhammad Nur Alam Machmud ini.
Tahun 2000 ia berhasil merampungkan Madrasah Aliyah. Kemudian melanjutkan kuliah di Fakultas Tarbiyah STAIN Sultan Amai, Gorontalo. Tapi hanya sampai semester II, ia pun dihinggapi kebosanan. Randu lebih memilih untuk belajar langsung dari pengembaraan panjang di berbagai kota di Indonesia.
Suatu kali, ia ikut temannya masuk ke perkampungan trans di dalam hutan yang dihuni orang-orang Bali. Karena tidak ada kerjaan — paling siangnya membantu-bantu memetik coklat di kebun — untuk mengisi waktu Randu lalu menulis novel Jazirah Cinta. Kebetulan waktu itu novel Ayat-Ayat Cinta sedang booming, sebagaimana diakui Randu ia pun ikut terpengaruh dengan karya fenomenal Habiburrahman El Shirazy tersebut.
Karena di Pulau Peling belum ada listrik, ia pun menulis tangan di bawah penerangan lampu teplok.
“Bahkan, di sana mencari buku saja susah. Karena itu, kalau ada anak-anak yang sekolah ke kecamatan lewat saya minta kertas pada mereka,” beber mantan redaktur Buletin Deka ini.
Tapi, siapa sangka karya fiksi yang ditulisnya dalam kondisi serba terbatas itu diterbitkan secara nasional. Awalnya Randu sempat mengirimkan ke Penerbit Zahra, tapi tidak ada kabar. Akhirnya ia mengirimkan ke Penerbit Serambi. Sekitar sebulan kemudian Randu ditelpon, ia diminta segera memperbaiki kesalahan penulisan, diksi, dan logika cerita.
“Saya diberi batas seminggu. Katanya, novel-novel Islami bertema cinta sudah mulai anti klimaks, jadi naskah tersebut harus diterbitkan secepatnya. Saya pun mengeditnya. Tiga hari selesai. Hasil revisi itupun langsung saya kirim,” ungkap Randu.
Mulai Juni 2008 novel Jazirah Cinta yang mendapat pujian dari artis Zaskia Adya Mecca dan penulis Asma Nadia ini pun beredar di pasaran.
Setting Kalsel
Ide cerita novel ini diangkat dari fenomena di masyarakat plus imajinasi. Dengan lokasi seting sebagian besar di Kalsel, tepatnya di sebuah pesantren yang berdekatan dengan tempat pelacuran di Pal 18.
“Pesan yang ingin disampaikan cukup kompleks. Tapi, intinya adalah tentang kebaikan. Bahwa Islam itu rahmatan lil alamin, dari lumpur manapun manusia berasal Islam tetap berlaku,” ujar Randu.
Dalam novel tersebut Randu juga menyindir tentang prilaku pejabat pemerintah yang tidak mau melihat penderitaan rakyat bawah dan kekecewaannya terhadap ulama yang berpolitik.
“Termasuk kekaguman saya pada Guru Sekumpul juga tergambar di novel itu,” ujar Randu Alamsyah.
Ia mengaku sudah menulis sejak kelas 3 SD. Tapi, baru mempublikasikan tulisannya ketika kelas 1 SMP, antara lain dimuat di Kompas, Media Indonesia, Gorontalo Pos, dan Manado Pos.
Kini sambil menghonor di Ponpes Darul Ilmi, Randu tengah mempersiapkan novel keduanya. Sudah dalam tahap finishing. Tinggal mencari judul yang agak komersil.
Kali ini temanya tak jauh dari pengalamannya ketika kuliah di STAIN Gorontalo, khususnya menyoroti tentang organisasi radikal.
“Saya kecewa dengan sekolah tinggi agama itu yang lebih permisif daripada universitas negeri. Jauh-jauh sekolah kok menentang Tuhan, seharusnya makin tinggi ilmu makin sadar dan rendah hati,” gugatnya.
Motivasi Randu menulis memang lebih banyak sebagai bentuk protes. “Kalau kita protes dengan lisan, sebagai orang kecil mungkin tak akan didengar. Tapi dengan menuliskannya, setidaknya akan banyak orang yang membaca,” pungkasnya. aliansyah jumbawuya
***
Oleh: Aliansyah Jumbawuya
Kalau kita menyimak riwayat hidup para penulis terkenal, umumnya mereka sejak kecil atau remaja sudah gemar membaca. Dari kecintaan terhadap buku itulah lambat-laun tumbuh keinginan kuat untuk jadi penulis. Chairil Anwar, sebagaimana diceritakan dalam biografinya, adalah seorang pecandu buku. Saking doyannya membaca, apabila kebetulan tak punya duit kadang penyair “binatang jalang” ini tak segan-segan mencuri buku (tentu saja perbuatan yang satu ini tidak usah ditiru). Kita membeberkan ini semata ingin menekankan, betapa besarnya minat Chairil terhadap membaca.
Pelopor cerpen Islami sekaligus pendiri Forum Lingkar Pena Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia mengaku semenjak usia dini sudah doyan membaca. Bahkan, untuk memenuhi rasa lapar dan dahaga rohani kakak-beradik ini, isi koran bekas pembungkus cabe pun ‘dilahap’. Hari-hari mereka akrab dengan bacaan. Tak heran jika kemudian keduanya dikenal sebagai penulis handal. Karya-karya Helvy Tiana dan Asma Nadia laris manis di pasaran, beberapa di antaranya mendapat penghargaan bergengsi. Apa yang mereka hasilkan sekarang, tak bisa dipungkiri merupakan buah atau akumulasi dari kegemaran membaca mereka di masa lalu.
Hal serupa berlaku pula pada penulis-penulis lainnya. Arsewendo Atmowiloto, dalam buku Proses Kreatif, Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang (Editor Pamusuk Eneste), mengungkapkan: “Kalau saya pikir-pikir sekarang ini, kebiasaan saya mengarang ternyata tidak muncul begitu saja. Jauh sebelumnya, saya sudah termasuk kutu buku… Saya membaca buku apa saja. Di setiap persewaan buku saya terdaftar sebagai langganan dan semuanya pernah tidak saya kembalikan bukunya. Nafsu baca saya terlalu besar dibandingkan dengan keuangan yang saya miliki.”
Memang, rata-rata mereka yang kini jadi penulis produktif dan profesional memiliki minat serta kebiasaan membaca yang tinggi. Pengalaman saya sendiri dari SD sudah keranjingan membaca buku. Setiap perpustakaan sekolah dibuka saya senang dan antusiasnya bukan main. Ketika SMP buku apa saja saya santap. Mulai novel-novel picisan karya Fredy S, Maria Fransisca, Abdullah Harapan, Ali Shahab, Motinggo Busye, komik, cerita wayang, sampai sastra serius saya lahap.
Terlebih ketika SMA kebiasaan membaca saya semakin tak terbendung, buku-buku tasawuf pun saya pelajari. Saya juga menjadi anggota perpustakaan daerah, waktu itu lokasinya di depan Masjid Raya Amuntai. Suatu hari karena buku-buku yang tersedia hampir semua sudah pernah saya baca, akhirnya saya meminjam buku berjudul Cara Merawat Bayi. Ketika saya mendaftarkannya ke petugas perpustakaan, mereka heran dan tak kuasa menahan tawa. Barangkali dalam pikiran mereka, kok masih pelajar sudah membaca buku gituan, memangnya mau cepat-cepat kawin dan punya anak? Saya pun sekarang kalau ingat itu kadang geli sendiri.
Bahkan saking kemaruknya dengan buku, Kamus Besar Bahasa Indonesia karangan WJS Poerwadarminta yang tebalnya minta ampun rampung saya baca saat kelas tiga SMA. Belum lagi kebiasaan saya mengkliping artikel-artikel psikologi dan kesusastraan dengan cara membeli koran loakan. (Sampai kini arsip-arsip tersebut tetap saya simpan, sayangnya lama tidak dibuka. Mudah-mudahan suatu saat nanti ada gunanya.)
Saya masih ingat, ketika menjadi mahasiswa baru di Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, seusai Ospek dan penataran P4 kami diajak berkeliling mengenal perpustakaan kampus. Rupanya saking senang, ekspresi kegembiraan saya tertangkap oleh seorang teman. Dia pun nyeletuk, “Alaaah… bisa membaca aja bangga, apalagi jadi penulis!”
Ucapan itu pun melecut perasaan saya. Ada keinginan untuk membuktikan diri. Saya mulai belajar dan berlatih menulis. Alhamdulillah berkat cangkal (tekun) akhirnya tulisan saya dimuat juga di media massa lokal. Sejak itulah saya makin termotivasi untuk menulis dan menulis. Berbagai jenis tulisan, puisi, cerpen, artikel tentang kesusastraan, keagamaan, sosial kemasyarakat, politik, resensi buku, berhasil dipublikasikan. Kalau boleh sedikit membanggakan diri (tapi bukan narsis lho!) sampai sekarang jika dihitung dengan tulisan jurnalistik, tak kurang dari seribu judul yang telah saya buat. Kemampuan menulis tersebut saya dapat tentu saja berkat senang membaca.
Teori Kendi
Sungguh, sangat jarang ditemukan seseorang yang berprofesi sebagai penulis tapi dia tidak suka membaca. Kalaupun ada, pastilah suatu pengecualian –jika tidak ingin menyebutnya langka.
Karena itu, siapapun yang berniat jadi penulis dia harus rajin dan banyak membaca. Dengan gemar membaca, niscaya ilmu pengetahuan dan wawasannya menjadi bertambah luas. Ini tentu saja akan ada pengaruhnya pada proses penulisan. Seseorang yang hobi membaca, insya Allah dia tidak akan terlalu kesulitan dalam mencari ide dan mengembangkan isi tulisannya.
Sadarilah bahwa kerja otak manusia itu sangat luar biasa. Meskipun ketika membaca kita sama sekali tidak berniat untuk menghafalnya, tapi ilmu yang kita serap tersebut akan terus tersimpan dalam memori. Boleh saja hari ini kita lupa, tapi di saat kita memerlukannya ia bisa muncul dengan tiba-tiba, karena rekaman itu memang tak pernah hilang, melainkan sekadar tersembunyi di alam bawah sadar. Maka, tak usah heran bila di saat kita menulis tanpa diduga mengalir gagasan-gagasan yang brilian. Kita sendiri kadang takjub membaca isi tulisan yang kita hasilkan. Itulah keajaiban otak manusia. Kita saja yang sering abai memberdayakannya.
Tetapi jika seseorang jarang membaca, wajar kalau si bersangkutan ketika menulis kerap tersendat-sendat dan macet, sehingga kemudian membuatnya mengurungkan niat untuk menyelesaikan tulisan. Lha, kalau ilmu dan wawasannya terbatas memangnya apa yang mau dibagi pada calon pembaca?
Orang sering mengilustrasikan hubungan antara membaca dan menulis itu dengan teori kendi. Kendi kalau terus dituangi air, maka dia akan terisi penuh bahkan jadi tumpah. Air yang dimasukkan diibaratkan dengan bacaan, sedangkan tumpahannya diibaratkan tulisan.
Lain lagi dengan Ersis Warmansyah Abbas, motivator penulisan yang tulisan-tulisannya bisa dinikmati di website webersis.com ini menamsilkan membaca dengan makan, dan tulisan dengan berak. Katanya, kalau kita doyan atau sering makan tentu akan cepat berak. (He.. he.. perumpamaan ini sebenarnya lucu apa jorok sih?)
Inti maksudnya sama: jika kita suka membaca, maka peluang untuk jadi penulis itu jauh lebih mudah. Gemar membaca merupakan langkah awal untuk merintis karir sebagai penulis. Tapi, yang namanya langkah awal supaya benar-benar bisa menghantar kita ke tujuan, yakni jadi penulis, tentu saja harus disertai dengan langkah-langkah berikutnya. Apa saja itu? Antara lain: miliki semangat dan dedikasi yang tinggi, terus berlatih, jangan mudah menyerah, serta yang paling penting adalah praktik menulis itu sendiri.
Semoga dalam waktu dekat ini juga Anda bisa menambah deretan jumlah penulis di negeri ini. Dan jangan lupa, teruslah membaca karena membaca dapat memuluskan cita-cita Anda untuk jadi penulis.
***
Landasan Ulin, 18 Okt 2008
Tentang penulis
The author does not say much about himself
Cari
Navigasi
Kategori:
Tautan:
Arsip:
Feed
Theme: Supposedly Clean by Alvin Woon. Blog pada WordPress.com.