Padepokan Pena - Gemar Membaca Giat Menulis

Kharisma

Oleh: Prof Dr HM Gazali, MA.

Segala yang hidup tentulah bergerak. Hakikat setiap gerak adalah berputar, karena alam diciptakan bulat, semesta pun diciptakan demikian. Di saat benda itu berputar, muncullah daya magnet atau daya tarik karena pergesekan atau perputaran itu sendiri. Ada benda yang lemah daya tariknya, ia pun tertarik pada benda yang besar bobot daya tariknya yang ada di sekitarnya, namun ada juga tertarik kepada benda yang lebih jauh karena besarnya daya tarik masing-masing.

Tuhan menjelaskan bahwa di alam ini semua benda berseleweran seperti yang tertera pada QS al-Anbiya: 33 yang menjelaskan bahwa : Dan Dialah (Tuhan) yang telah menjadikan malam dan siang, serta matahari dan bulan; tiap-tiap satunya beredar terapung-apung di tempat edaran masing-masing (di angkasa lepas). Begitu pula pada QS Yasin: 40 yang artinya: (Dengan ketentuan yang demikian), matahari tidak mudah baginya mengejar bulan, dan malam pula tidak dapat mendahului siang; karena tiap-tiap satunya berdar terapung-apung di tempat edarannya masing-masing.

Allah memberi nikmat kepada manusia empat model kharisma, yakni daya tarik seseorang kepada orang lain.

Pertama, kharisma tubuh. Seseorang tertarik kepada yang lainnya karena keelokan parasnya, kekuatan atau kelembutan, kekasaran atau kehalusan, kelincahan atau keuletan.

Kedua, kharisma otak. Seseorang menjadi tertarik karena kepintaran, kepandaian, kecerdasan yang dimiliki oleh orang lain.

Ketiga, kharisma hati atau perasaan. Yakni rasa tertarik pada seseorang yang ditimbulkan oleh kehalusan budi pekertinya, kelembutan pandangan seseorang yang membuat pesona pada orang lain, kelembutan cara berbicara atau kelihaian seseorang dalam berdialog, kehalusan seseorang bertutur dengan tata bahasa yang indah, atau pesona sastra yang dimilikinya.

Keempat, kharisma ilhami, firasat atau instink. Khusus bagi para Rasul dan Nabi berupa wahyu Ilahi, sementara bagi para ulama dan cendekiawan berupa pemikiran yang mendalam (al-hikmah) atau brilian yang memberikan tuah atau kekuatan pada otak sehingga menjadi cerdas, atau kepada hati seseorang sehingga ia memiliki ketahanan/kematangan mental.

Pengolahan kharisma atau daya tarik tersebut diajarkan Tuhan lewat QS al-Muzzammil ayat 1-5 yang artinya: Wahai orang yang berselimut! Bangunlah shalat Tahajjud pada waktu malam, meskipun hanya sebentar (dari waktu untuk beristirahat), yakni pada waktu tengah malam, atau kurang sedikit dari itu, atau lebihkan (sedikit) daripada separoh malam; dan bacalah Alquran dengan tartil (membaca dengan baik dan benar sesuai dengan tata cara membaca Alquran yang sering diistilahkan dengan ilmu tajwid yakni bimbingan membaca Alquran dengan baik). (Semestinya engkau dan pengikut-pengikutmu membiasakan diri masing-masing dengan ibadat yang berat kepada hawa nafsu) sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu wahyu (Alquran yang mengandung perintah-perintah) yang berat (kepada orang-orang yang tidak bersedia menyempurnakannya).

Surah ini berisi 20 ayat, ditujukan kepada Rasulullah yang seakan-akan berselimut gemetar atau khawatir terhadap kedahsyatan tantangan kaumnya. Tampaknya seluruh ayat dari surah tersebut memberikan bimbingan kepada Rasulullah bagaimana menstabilkan sikap.

Surah tersebut ditutup dengan ayat keduapuluh yang berisikan makna atau keutamaan shalat Tahajjud yang artinya seperti berikut: Sesungguhnya Tuhanmu (wahai Muhammad) mengetahui bahwasanya engkau bangun (shalat Tahajjud) selama kurang dari dua pertiga malam, dan selama satu perduanya, dan selama satu pertiganya; dan (demikian juga dilakukan oleh) segolongan dari orang-orang yang bersama-samamu (karena hendak menepati perintah yang terdahulu); padahal Allah jualah yang menentukan dengan tepat kadar masa malam dan siang. Ia mengetahui bahwa kamu tidak sekali-kali akan dapat mengira dengan tepat kadar masa itu, lalu Ia menarik balik perintah-Nya yang terdahulu (dengan memberikan kemudahan) kepada kamu; oleh karena itu bacalah mana-mana yang mudah kamu dapat membacanya dari Alquran (dalam shalat).

Ia juga mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit, dan yang lainnya orang-orang yang musafir di muka bumi untuk mencari rezeki dari limpah karunia Allah; dan yang lainnya lagi orang-orang yang berjuang pada jalan Allah (membela agama-Nya). Maka bacalah mana-mana yang sudah kamu dapat membacanya dari Alquran; dan dirikanlah shalat serta berikanlah zakat; dan berilah pinjaman kepada Allah sebagai pinjaman yang baik (ikhlas). Dan (ingatlah), apa jua kebaikan yang kamu kerjakan sebagai bekal untuk diri kamu, tentulah kamu akan mendapat balasannya pada sisi Allah, sebagai balasan yang sebaik-baiknya dan yang amat besar pahalanya. Dan minta ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mengasihani.

Kedahsyatan Tahajjud

Orang yang terbiasa melakukan shalat Tahajjud ditambah sedikit membaca sedikit ayat Alquran dengan baik, niscaya akan mendatangkan tuah atau kehebatan kepada pelakunya. Ada bobot yang muncul dari ucapannya, ada kharisma atau daya tarik yang menyertai isi pembicaraannya.

Kebiasaan shalat malam bahkan dilakukan pula oleh binatang unggas seperti ayam jago. Makna filosofis yang tersirat darinya bahwa ayam jago adalah lambang kejantanan (keperkasaan). Keperkasaan yang dimiliki oleh ayam jago itu pun bisa saja terjadi pada manusia apabila membiasakan diri dengan shalat malam diiringi dengan membaca Alquran sekadarnya. Kekuatan-kekuatan yang diberikan oleh Tuhan bisa saja beragam; ada yang diberikan tuah atau kekuatan atau bobot pada kedudukan atau jabatannya sehingga orang menjadi tunduk kepadanya karena pengaruh jabatan yang dimiliki oleh orang itu; ada juga yang diberikan tuah pada kekayaan atau harta bendanya sehingga orang lain menjadi tunduk atau terpengaruh atau tertarik kepada orang itu karena kekayaannya.

Rasulullah SAW pernah bersabda: “Wahai manusia, tebarkan salam, berikan makanan kepada handai-taulanb dan jiran, dan bangunlah di tengah malam di saat orang pulas dalam diam atau terlena dalam pelukan malam, niscaya kamu akan dimasukkan ke dalam wilayah yang menyenangkan, nirwana dengan rasa aman dan nyaman.”

Menebarkan salam adalah mendoakan orang selamat, menebarkan kesejahteraan yang akan menuaikan kesejahteraan pada dirinya sendiri; memberi makan adalah sikap baik kepada orang lain yang membuat orang lain bersimpati kepadanya; dan bangun malam di saat orang sedang diam dalam pelukan malam adalah lambang kejantanan atau keperkasaan. Bisa saja kejantanan dan keperkasaan tersebut diberiukan dalam bentuk fisik, bisa juga non-fisik berupa melimpahnya harta benda, atau naiknya kedudukan atau jabatan seseorang.

Lebih jauh lagi di saat orang-orang mengalami krisis kepercayaan karena banyaknya janji-janji palsu yang tak pernah ditepati, maka dia menjadi kepercayaan orang seperti halnya Rasulullah SAW yang diberi gelar “al-amin” si jujur, si luhur, si santun, orang yang selalu memegang amanah, orang teguh pendirian dalam membela kebenaran, sosk yang sangat dicari apalagi pada saat pemilu sekarang, memilih figur atau sosk yang dapat dijadikan pemimpin umat yang membawa kepada keselamatan dan kesejahteraan bangsa, negara dan agama.

***


Posted in Tausyiah