Padepokan Pena - Gemar Membaca Giat Menulis

Randu Alamsyah: Sang Pengembara Jazirah Cinta

Novelnya yang berlatarbelakang Kalsel mendapat pujian dari artis Zaskia Adya Mecca. Uniknya lagi, karya alumni Ponpes Darul Ilmi ini dibuat dalam kondisi serba terbatas di tengah hutan.

………….

Dia senang mengembara. Hampir seluruh kota-kota besar di Indonesia sudah pernah disinggahinya.

“Di Balikpapan saya sempat jadi gelandangan, tidur di masjid-masjid,” ujar Randu Alamsyah.

Mengembara, lanjut pria kelahiran Manado 25 Juni 1983 ini, tidak sama dengan merantau. Kalau merantau lebih diartikan pergi ke tempat jauh untuk mencari penghidupan. Sedangkan mengembara semata berjalan-jalan.

“Saya juga pernah jadi pemulung, cleaning servis, dan lain-lain. Kerja sekadar demi menutupi biaya hidup sehari-hari,” kata Randu.

Tahun 1995 ia diajak pamannya untuk menuntut ilmu di Pondok Pesantren Darul Ilmi, Landasan Ulin, Banjarbaru. Ia mengaku sempat dua tahun tidak naik kelas, karena baru di sini belajar Alquran.

“Di kampung halaman saya, Manado, 99 persen penduduknya Nonmuslim. Kalau mau salat Jumat jauh, harus naik taksi ke perkampungan Muslim. Bahkan waktu SD saya sekolah di Eben Ezer,” cerita pemilik nama asli Muhammad Nur Alam Machmud ini.

Tahun 2000 ia berhasil merampungkan Madrasah Aliyah. Kemudian melanjutkan kuliah di Fakultas Tarbiyah STAIN Sultan Amai, Gorontalo. Tapi hanya sampai semester II, ia pun dihinggapi kebosanan. Randu lebih memilih untuk belajar langsung dari pengembaraan panjang di berbagai kota di Indonesia.

Suatu kali, ia ikut temannya masuk ke perkampungan trans di dalam hutan yang dihuni orang-orang Bali. Karena tidak ada kerjaan — paling siangnya membantu-bantu memetik coklat di kebun — untuk mengisi waktu Randu lalu menulis novel Jazirah Cinta. Kebetulan waktu itu novel Ayat-Ayat Cinta sedang booming, sebagaimana diakui Randu ia pun ikut terpengaruh dengan karya fenomenal Habiburrahman El Shirazy tersebut.

Karena di Pulau Peling belum ada listrik, ia pun menulis tangan di bawah penerangan lampu teplok.

“Bahkan, di sana mencari buku saja susah. Karena itu, kalau ada anak-anak yang sekolah ke kecamatan lewat saya minta kertas pada mereka,” beber mantan redaktur Buletin Deka ini.

Tapi, siapa sangka karya fiksi yang ditulisnya dalam kondisi serba terbatas itu diterbitkan secara nasional. Awalnya Randu sempat mengirimkan ke Penerbit Zahra, tapi tidak ada kabar. Akhirnya ia mengirimkan ke Penerbit Serambi. Sekitar sebulan kemudian Randu ditelpon, ia diminta segera memperbaiki kesalahan penulisan, diksi, dan logika cerita.

“Saya diberi batas seminggu. Katanya, novel-novel Islami bertema cinta sudah mulai anti klimaks, jadi naskah tersebut harus diterbitkan secepatnya. Saya pun mengeditnya. Tiga hari selesai. Hasil revisi itupun langsung saya kirim,” ungkap Randu.

Mulai Juni 2008 novel Jazirah Cinta yang mendapat pujian dari artis Zaskia Adya Mecca dan penulis Asma Nadia ini pun beredar di pasaran.

Setting Kalsel

Ide cerita novel ini diangkat dari fenomena di masyarakat plus imajinasi. Dengan lokasi seting sebagian besar di Kalsel, tepatnya di sebuah pesantren yang berdekatan dengan tempat pelacuran di Pal 18.

“Pesan yang ingin disampaikan cukup kompleks. Tapi, intinya adalah tentang kebaikan. Bahwa Islam itu rahmatan lil alamin, dari lumpur manapun manusia berasal Islam tetap berlaku,” ujar Randu.

Dalam novel tersebut Randu juga menyindir tentang prilaku pejabat pemerintah yang tidak mau melihat penderitaan rakyat bawah dan kekecewaannya terhadap ulama yang berpolitik.

“Termasuk kekaguman saya pada Guru Sekumpul juga tergambar di novel itu,” ujar Randu Alamsyah.

Ia mengaku sudah menulis sejak kelas 3 SD. Tapi, baru mempublikasikan tulisannya ketika kelas 1 SMP, antara lain dimuat di Kompas, Media Indonesia, Gorontalo Pos, dan Manado Pos.

Kini sambil menghonor di Ponpes Darul Ilmi, Randu tengah mempersiapkan novel keduanya. Sudah dalam tahap finishing. Tinggal mencari judul yang agak komersil.

Kali ini temanya tak jauh dari pengalamannya ketika kuliah di STAIN Gorontalo, khususnya menyoroti tentang organisasi radikal.

“Saya kecewa dengan sekolah tinggi agama itu yang lebih permisif daripada universitas negeri. Jauh-jauh sekolah kok menentang Tuhan, seharusnya makin tinggi ilmu makin sadar dan rendah hati,” gugatnya.

Motivasi Randu menulis memang lebih banyak sebagai bentuk protes. “Kalau kita protes dengan lisan, sebagai orang kecil mungkin tak akan didengar. Tapi dengan menuliskannya, setidaknya akan banyak orang yang membaca,” pungkasnya. aliansyah jumbawuya
***



Posted in Sosok

Hudan Nur: Persiapkan Antologi Puisi 7 Bahasa

Setelah sepuluh tahun berkarya, di ulang tahunnya yang ke-23 penyair wanita ini akan menerbitkan antologi puisi yang ditulis dalam 7 bahasa yang dikuasainya.

………..

Dia masih belia, namun aktivitas Hudan Nur cukup berjibun. Sekarang ini saja, di organisasi kampus ia dipercaya menjadi Ketua Art Department (Enigma Community) English Student Association (ESA) UNLAM, Ketua Advokasi Badan Legislatif Mahasiswa, Ketua Dewan Pimpinan Daerah DPD Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris (HIMABSII) se‑Kalimantan Selatan periode 2006‑2008.

Selain itu, Hudan aktif berkecimpung di dunia kesenian. Bahkan semenjak kelas 4 SD putri sulung M Nurdin dan Rahmiyati ini sudah bergabung di sebuah sanggar tari. Dua tahun berselang, ia pun mulai menyukai puisi dan mengenal beberapa tokoh sastrawan Banjarbaru.

“Tahun 2001 saya baru mempublikasikan puisi di Banjarmasin Post dan Untaian Mutiara RRI Nusantara. Setelah sukses di media lokal, saya pun makin yakin mengirimkan karya-karya saya dan dimuat di Majalah Dewan Sastera Kuala Lumpur, buletin Rumah Sastra Bandung, tabloid Realitas, Lampung Post, dan Majalah Gong,” ujar Hudan.

Bahkan, ia pernah aktif di club Jepang ARADANTRI sebagai pengarang Fun Fiction dengan nama pena Kanatoshi Ariwa. Puluhan lomba sastra, menulis, dan karya tulis ilmiah pun dimenangkannya.

Hudan juga sempat menjadi jurnalis, tapi tak sempat lama karena 2006 ia harus terlibat tour keliling Indonesia. Salah satunya menghadiri kegiatan Ode Kampung yang diselenggarakan oleh Rumah Dunia, Gola Gong Banten.

“Tahun 2007, saya terpilih sebagai salah seorang dari 8 utusan yang mewakili Indonesia dalam Mastera Puisi Asia Tenggara,” kata gadis berjilbab ini.

Terakhir, Hudan juga diundang ke Malaysia dan Brunei Darussalam, namun kala itu ia tak bisa berhadir karena pada waktu bersamaan harus mengikuti kegiatan PPL.

Memang ia harus pandai membagi waktu antara kegiatan kampus dan kesenian. “Dulu pernah jalan keduanya. Namun, pada akhirnya karena keadaan saya harus memilih salah satunya,” tegas deklamator handal ini.

Untuk sekarang Hudan mengaku akan lebih intens mengelola Teras Puitika, sebuah komunitas yang diperuntukkan khusus yang muda-muda, dengan kegiatan utama dialog bedah karya dan publikasi.

Bagi Hudan, dengan aktif di berbagai kegiatan ia menemukan kepuasan batin tersendiri.

“Kita yang membesarkan komunitas, atau bisa pula justru komunitas yang membesarkan kita,” tegasnya.

Target Menulis

Sampai kini karya-karya Hudan Nur sudah dibukukan dalam 16 antologi bersama maupun tunggal, di antaranya Antologi Puisi Penyair Kontemporer Indonesia yang diterbitkan dalam Bahasa Tionghoa di Beijing, RRC (2007).

Dalam kesehariannya, gadis kelahiran Banjarbaru 23 Nopember 1985 ini memang dikenal energik, kreatif, idealis, dan senang bergaul. Tak heran, jika temannya ada di mana-mana. Ketika beberapa waktu lalu ia mengalami kecelakaan, yang mengakibatkan tulang punggung, rahim, dan rusuknya patah, tanpa dikomando kabar itu menyebar luas di seluruh Indonesia melalui SMS dan e-mail. Ucapan keprihatinan, doa kesembuhan, dan bantuan dana, spontan bergulir.

Dalam hal kreativitas menulis, ia selalu punya target dan perencanaan.

“Untuk 2008 ini, insya Allah saya akan menyelesaikan dua novel saya, Enigma dan Kahada Tupang, yang dalam tiga tahun terakhir tak kunjung rampung-rampung,” harapnya.

Selain itu, Hudan juga akan menerbitkan antologi puisi Catatan 10 Tahun (1998-2008) dan Banjarbaru, Mein Land Geboren yang ditulis dalam 7 bahasa yang dikuasainya Hudan (Arab, Inggris, Jepang, Jerman, Belanda, Indonesia dan Banjar). Tak ketinggalan dongeng Janah, Gadis Penjual Kayu serta buku sosial budaya “Mengenali Diri sebagai Orang Timur dalam Keterbatasan Sejarah”. Semua itu akan di-launching pada ulang tahun ke 23 disejumlah kota di Indonesia.

Tadarus Puisi

Karena dedikasi dan kecintaannya pada seni tersebut, Hudan dipercaya sebagai Ketua Panitia Tadarus Puisi se-Kalimantan Selatan yang akan dilaksanakan, Jum’at (19/9) malam di Banjarbaru.

Rencananya acara ini dimulai pukul 18.00 Wita dengan buka puasa bersama, salat Isya dan Tarawih berjamaah di seputar Taman Air Mancur.

“Setelah itu baru pembacaan puisi islami, nasyid, musikalisasi dan dramatisasi puisi, serta pertunjukan teater. Yang istimewa kali ini akan ada pelelangan baca puisi oleh jajaran muspida, Polda kalsel, aktor, sastrawan, seniman Kalimantan selatan yang nama-namanya sudah dipersiapankan oleh panitia. Dana yang terkumpul itu nantinya disumbangkan pada fakir miskin dan membantu penyair sepuh, Eza Thabry Husano dan Hamamy Adaby, untuk menerbitkan antologi puisi berikutnya,” terang Hudan. aliansyah  jumbawuya

***


Posted in Sosok

Dewa Pahuluan: Berbagi Bersama Komunitas MGR

Lewat MGR ia ingin hidupnya lebih bermanfaat bagi banyak orang. Karena itu, beberapa tahun terakhir bersama komunitasnya ini ia banyak melakukan kegiatan sosial pada masyarakat.

…………..

Nama aslinya Fitri Zamzam SSos MAP. Tapi, orang-orang lebih mengenalnya dengan sebutan Dewa Pahuluan. Bahkan, banyak yang tidak tahu kalau dia adalah putra seorang ulama tersohor, Jafri Zamzam, mantan Rektor IAIN Antasari dan Kakanwil Penerangan pertama di Kalsel.

Sikap sosial sang ayah yang sepanjang hidup banyak mengabdikan diri untuk kemaslahatan umat, tanpa kenal lelah mengajar di lembaga formal maupun pengajian-pengajian, diakui Dewa menjadi inspirasi sekaligus panutannya.

“Namun, terus terang saya tidak suka mendompleng kebesaran nama beliau. Biarlah orang mengenal sepak terjang saya, tanpa menghubung-hubungkannya dengan siapa ayah saya,” ujar pria kelahiran Kandangan, 15 Mei 1957 ini.

Karena itu, ia seperti sengaja menenggelamkan identitas diri yang sebenarnya. Ia merasa lebih sreg dipanggil Dewa Pahaluan.

Nama ini sendiri melekat semenjak ia mendirikan Komunitas MGR, tepatnya 10 Juli 1978. Waktu itu Mingguraya Banjarbaru merupakan pusat tempat berkumpulnya anak-anak muda dengan segala tingkahpolah dan kenakalan mereka.

“Kita coba rangkul mereka. Kemudian menyalurkan bakat dan hobi masing-masing, baik di bidang kepemudaan, olahraga, seni, maupun pencinta alam, kepada kegiatan yang lebih positif. Mungkin karena dinilai berhasil menyelamatkan mereka dari prilaku tidak baik, saya kemudian dipanggil Dewa, sedangkan Pahuluan dinisbatkan dari daerah asal kelahiran saya,” kenang ayah dari tiga anak ini.

Kini, keberadaan MGR tidak bisa dipisahkan bahkan terlanjur identik dengan sosok Dewa. Diceritakannya, dulu di awal-awal berdirinya MGR mereka punya peraturan dasar bahwa setiap dua tahun sekali dibentuk kepengurusan baru. Hal itu sempat berjalan lima periode, tapi secara aklamasi selalu dia yang ditunjuk jadi ketua umum.

“Akhirnya, saya didaulat menjadi presiden MGR. Kayaknya terkesan ‘abadi’. Supaya ada regenerasi, maka dibentuklah organisasi-organisasi sayap, dari situlah nanti akan muncul, ” jelas Dewa Pahuluan.

Kegiatan Sosial

Seiring perjalanan waktu, tanpa terasa MGR sudah berusia 30 tahun. Para pengurusnya pun kini telah beranjak tua.

“Pada 5 tahun terakhir ini kami ingin lebih dekat lagi dan punya arti bagi masyarakat. Caranya adalah dengan memperbanyak pengabdian pada masyarakat,” terang Dewa.

Sekarang mereka lebih focus melaksanakan kegiatan sosial, seperti sunatan massal yang digelar setiap tahun, bisa pada saat ultah MGR atau ketika libur puasa.

Komunitas MGR juga menyantuni kaum dhuafa lewat Paket Ramadhan berupa pemberian beras, gula, minyak goreng, teh, dll agar mereka bisa memanfaatkannya untuk berbuka puasa dan sahur. Setiap tahun rata-rata 250 paket dibagikan kepada orang-orang yang telah didata. “Dan itu dibagikan bukan di markas pusat MGR, melainkan door to door pada malam hari. Cara ini di samping tidak merepotkan kaum dhuafa, juga untuk menghindari kecemburuan mereka yang menurut kita tergolong mampu, tapi kepengin jua. Kita menghendaki benar-benar tepat sasaran, yaitu mereka yang memang layak dibantu,” ujar Dewa Pahuluan.

Begitu pula pada hari raya haji, para anggota yang punya kemampuan lebih bagi-bagi hewan qurban yang dipusatkan di markas MGR.

Belum lagi kegiatan sosial yang bersifat insidentil. Jika ada masyarakat yang tidak mampu untuk mengobati penyakitnya akan dibantu secara kontinyu sampai sembuh.

“Asalkan dilaporkan dan menurut hasil tinjauan kami latarbelakang kehidupan si bersangkutan memang tidak mampu, insya Allah akan dibantu,” imbuhnya.

Pernah ada seorang warga yang ususnya terburai dan tidak dijahit. Bertahun-tahun dia buang air besar lewat usus tersebut karena anusnya tidak berfungsi.

“Akhirnya kita bawa ke rumahsakit, di operasi sampai sembuh. Alhamdulillah, kini dia sudah normal,” beber Dewa.

Sedangkan di bidang olahraga, lanjutnya, MGR focus pada catur dengan membangun terminal catur di depan kolam renang Idaman. Hasilnya, dalam beberapa tahun terakhir Banjarbaru jadi barometer pecatur di Kalsel.

“Bahkan, ada tiga junior kita yang mampu berbicara di tingkat nasional dengan keberadaan terminal catur itu,” ujar pegawai Kantor Pertanahan Kota Banjarbaru ini.

MGR tidak bedanya dengan organisasi kemasyarakatan lain, cuma karena usia senior dan dianggap mapan mengingat anggotanya banyak yang duduk di biorkrat atau jadi pengusaha. Lucunya, organisasi yang sama rutin setiap bulan minimal ada tiga yang mengajukan proposal. Termasuk perguruan tinggi dan sekolah. Sepanjang untuk mengembangkan bakat, insya Allah akan dibantu dan didukung.

“Syukurnya, keluarga saya cukup mendukung. Kalau menyangkut pengeluaran untuk kegiatan sosial kami tidak pernah berhitung,” tegas penulis produktif di era 1980-an ini. aliansyah jumbawuya

***


Posted in Sosok

Farah Hidayati: Memasukkan Unsur Lokal Banjar

Menyadari betapa banyak keunikan di Kalsel yang belum terangkat ke wilayah lebih luas, wanita berjilbab ini pun mencoba memasukkan unsur-unsur lokal ke dalam karya-karyanya.

Tak banyak cerpenis, apalagi novelis dari Kalsel yang karya-karyanya cukup diperhitungkan di jagad kesusastraan nasional. Jumlah mereka masih dihitung dengan jari tangan.

Di tengah kelangkaan itu, Rumah Tumbuh karya Farah Hidayati terpilih sebagai juara I lomba dalam sayembara mengarang novel remaja 2005 yang diselenggarakan PT Grasindo dan Radio Nederland Wereldomroep. Meskipun persaingan kala itu sangat ketat, tapi Farah berhasil menjadi pemenang dari 621 naskah yang masuk.

(lagi…)


Posted in Sosok

Kuntowijoyo: Berkarya Hingga Akhir Hayat

Karena pembawaannya yang selalu ingin memberi manfaat bagi orang lain, dia dijuluki sebagai teladan kesalehan intelektual dan sumber kearifan hidup. Tapi, kini dia telah menghadap Ilahi.

Sudah jadi kebiasaan Kuntowijoyo setiap pagi jalan‑jalan di sekitar rumahnya. Bahkan Ahad (20/2) dia menyempat­kan diri silaturahmi, mengunjungi adiknya yang tengah hamil tua. Tak nampak tanda‑tanda sakit. Kala itu Kunto mengatakan kalau dia belum sempat mempersiapkan nama‑nama pilihan untuk calon keponakannya tersebut.

(lagi…)


Posted in Sosok

Habiburrahman El Shirazy: Royalti Menulis untuk Membangun Pesantren

Dari royalti menulis novel-novel yang sarat dengan nuansa islami, siapa sangka dai muda ini mampu menghidupi keluarganya dan membangun sebuah pesantren.

Siapa bilang novel relijius pangsa pasarnya terbatas? Faktanya, karya-karya Habiburrahman El Shirazy yang terkenal dengan label ‘buku penggugah jiwa’ rata-rata best seller. Peminatnya bukan hanya remaja santri, masyarakat umum pun banyak menggandrungi. Bahkan, novelnya Ayat-ayat Cinta kini sudah mengalami cetak ulang yang ke 28. Dalam waktu tiga tahun mampu menembus oplah di atas 300 ribu eksemplar. Sungguh, sebuah prestasi yang luar biasa di Indonesia.

Dari satu novelnya yang fenomenal itu saja, Kang Abik, demikian ia akrab disapa, memperoleh royalti sekitar Rp1,8 miliar. Belum lagi dari karya-karya lainnya seperti: Pudarnya Pesona Cleopatra, Di Atas Sajadah Cinta, Ketika Cinta Berbuah Surga, Dalam Mihrab Cinta, Nyanyian Cinta, Ketika Derita Mengabadikan Cinta, tidak kurang dari Rp100 juta per judul yang ia kantongi.

Goresan pena teranyar Habiburrahman El Shirazy, yaitu Ketika Cinta Bertasbih, belum genap sebulan beredar sudah laku terjual 30.000 eksemplar. Rencananya, dalam waktu dekat pria kelahiran Semarang 30 September 1976 ini juga akan merampungkan Langit Makkah Berwarna Merah, Bidadari Bermata‑Bening, dan Bulan Madu di Yerusalem.

Atas prestasinya itu, tak heran bila ia beberapa kali meraih penghargaan bergengsi, antara lain Pena Award 2005, The Most Favorite Book and Writer 2005 dan BF Award 2006.

Malah, dalam perkembangan berikut karya-karya Habiburrahman tersebut satu per satu diangkat menjadi tayangan sinetron dan film. Katanya, akhir Desember 2007 ini film Ayat-Ayat Cinta yang dibintangi oleh Fedi Nuril, Rianti Cartwright, Carissa Puteri, Zaskia Adya Mecca, dan Melanie Putria itu, akan tayang perdana.

Meski para penggemarnya sudah tak sabar menunggu kapan film tersebut akan beredar, Habiburrahman El Shirazy ingin sebelum tayang terlebih dulu dikoreksi oleh MUI.

“Sesuai kesepakatan awal, saya minta kepada production house agar film Ayat‑Ayat Cinta sebelum ditayangkan kepada masayarakat luas diputar terlebih dahulu di hadapan Majelis Ulama Indonesia (MUI) sehingga bagian‑bagian yang tidak sesuai dengan nilai‑nilai Islam dapat disensor,” tegasnya.

Dan dari royalti menulis Habiburrahman berhasil membangun pesantren Basmala Indonesia, di Gunungpati, Semarang, Jawa Tengah. “Mudah‑mudahan dari pesantren ini akan lahir para mujahid dakwah, baik dengan lisan, harta, tangan maupun penanya,” ujar Kang Abik.

Semakin Sibuk

Kini Habiburrahman mendedikasikan diri sepenuhnya di dunia dakwah dan pendidikan, baik melalui karya-karya maupun ceramah-ceramahnya. Selain dikenal sebagai penulis, ia adalah seorang dai yang jago berdakwah secara lisan.

Seiring dengan ketenaran namanya, belakangan aktivitas Habiburrahman El Shirazy semakin padat. Dia sering diundang berbicara di forum-forum nasional dan internasional.

“Pernah di Palembang, dalam dua hari saya harus mengisi delapan acara, baik bedah buku dan talkshow, maupun mengisi ceramah agama,” tutur suami Muyasaratun Sa’idah ini.

Habiburrahman memang alumnus Universitas Al‑Azhar, Kairo. Di Negeri Seribu Menara itu, ia menimba ilmu keislaman tak kurang dari tujuh tahun, tepatnya 1995‑2002.

“Paling sulit menolak undangan untuk ceramah, apalagi kalau datangnya dari majelis taklim dan mereka mengutus orang untuk menjemput saya,” ujarnya.

Dalam waktu sekitar lima tahun sejak pulang ke Tanah Air, ia telah berceramah di hampir seluruh kota di Jawa, hingga ke pelosok‑peloksok daerah. Termasuk di beberapa daerah Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Bahkan Habiburrahman diundang sampai ke mancanegara, seperti Hongkong dan Malaysia. Di Mesir ia tidak hanya ceramah di ibukota Kairo, tapi juga hingga jauh ke ibukota provinsi‑provinsi seperti Thontho, Zagaziq, dan Mansuroh.

Sebenarnya berceramah bukan profesi baru bagi lelaki yang telah merampungkan S‑2 di The Institute for Islamic Studies itu. “Saya sudah mulai ceramah sejak duduk di bangku Tsanawiyah, tapi makin intens terutama sejak pulang dari Mesir,” ungkap dai yang memulai pendidikan menengahnya di MTs Futuhiyyah I Mranggen sambil belajar kitab kuning di Pondok Pesantren Al‑Anwar, Mranggen, Demak, kemudian Madrasah Aliyah Program Khusus (MPAK) Surakarta ini.

Habiburrahman mengaku bahagia bisa berbagi ilmu dan pengalaman, baik melalui menulis maupun ceramah.

“Keduanya sama‑sama menjadi jalan dakwah. Muaranya sama, yakni sama‑sama mencari ridha Allah,” tegas ayah dari dua anak ini. aliansyah jumbawuya – berbagai sumber

***


Posted in Sosok

Lihan: Milyuner Berpenampilan Sederhana

Karena penampilannya yang suka memakai baju kaos dan sandal murahan, banyak orang yang sempat terkecoh. Tak menyangka kalau dia seorang pengusaha kaya-raya.

Sepintas kalau melihat penampilan dia yang sangat bersahaja, tak banyak yang mengira pemilik PT Tri Abadi Mandiri ini punya aset sekian milyar. Dalam keseharian Lihan selalu berpakaian sederhana. Sama sekali tak menampakkan figur sebagai orang kaya.

“Saya tidak terbiasa berpakaian rapi mengkilat atau mengenakan sepatu. Kemana-mana suka pakai baju kaos, paling bagus kemeja sasirangan. Beginilah bawaan asli saya, bukan maksud untuk menyamar. Kalau berubah, justru saya merasa seperti kehilangan ciri khas atau jati diri,” ujar Lihan.

(lagi…)


Posted in Sosok

Helvy Tiana Rosa: Pelopor Cerpen Islami

Hingga akhir dekade 80-an fiksi remaja di Indonesia cenderung didominasi oleh tema-tema percintaan yang mengarah kepada pergaulan bebas. Hal itu tentu saja kurang sehat bagi perkembangan mental generasi muda.

Kemunculan Helvy Tiana Rosa yang sarat mengusung cerpen-cerpen bernuansa Islami, dianggap sebagai pembawa angin segar. Bagi wanita kelahiran Medan, 2 April 1970 ini, menulis fiksi bukan semata untuk memberikan hiburan, melainkan dalam rangka pencerahan.

“Sebenarnya sejak berjilbab tulisan-tulisan saya lebih bernuansa Islami. Mungkin karena ada semacam komitmen diri untuk mengatur ekspresi saya dalam bingkai Islam. Dan sungguh, saya ingin sekali orang-orang dapat merasakan keindahan Islam, tanpa merasa digurui, setelah membaca tulisan saya,” ungkap Helvy Tiana Rosa.

(lagi…)


Posted in Sosok

Muchtar Lubis: Mujahid di Medan Jurnalistik

Jauh sebelum orang-orang ‘latah’ menyerukan anti KKN di era reformasi, Mochtar Lubis sudah lama menyuarakannya dengan lantang. Tulisan-tulisannya yang kritis dan berani di masa Orde Lama dan Orde Baru tak jarang membuat berang penguasa pada waktu itu. Tapi, ia tak pernah surut memperjuangkan kebebasan berpikir, demokrasi, HAM, keadilan, dan pembelaan terhadap nasib wong cilik. Bahkan untuk itu, ia rela keluar-masuk penjara. Sehingga di kalangan rekan-rekannya, pria bertubuh jangkung ini sering dijuluki “wartawan jihad”.

Mochtar Lubis, lahir di Padang (Sumatera Barat) 7 Maret 1922. Setelah tamat sekolah dasar berbahasa Belanda HIS di Sungai Penuh, dia melanjutkan di sekolah partikelir di Kayutanam. Meski pendidikan formalnya tidak sampai taraf AMS atau HBS, tapi wawasan dan pergaulannya patut diperhitungkan. Mochtar Lubis sering diundang dalam seminar nasional maupun internasional. Memang, ia dikenal sebagai otodidak tulen.

Pada masa pendudukan Jepang ia pernah bekerja sebagai anggota tim yang khusus memonitor siaran radio Sekutu di luar negeri. Berita yang didengar lalu dibuatkan laporan untuk disampaikan kepada Gunseikanbu, kantor pemerintahan Dai Nippon. Pada saat itulah, akhir 1944 ia menyunting gadis Sunda, Halimah, yang bekerja di sekretariat redaksi harian Asia Raya.

Setelah proklamasi kemerdekaan RI, dan kantor berita antara yang didirikan tahun 1937 oleh Adam Malik dkk muncul kembali, Mochtar Lubis pun ikut bergabung. Berkat piawai berbahasa Inggris ia pun jadi penghubung dengan para koresponden asing yang berdatangan di Jawa untuk meliput kisah Revolusi Indonesia. Tak heran kalau sosoknya yang tinggi 1,85 meter sangat familiar di kalangan jurnalis bule-bule itu.

Menjelang penyerahan kedaulatan Belanda kepada Republik Indonesia Serikat (RIS) Mochtar bersama Hasjim Mahdan berinisiatif menerbitkan suratkabar baru, maka kemudian lahirlah SKH Indonesia Raya yang menempatkannya sebagai pemred.

Ketika pertengahan 1950 pecah perang Korea ia pun pergi meliput ke sana. Ia pun lalu dikenal sebagai koresponden perang.

Masuk Penjara

Tahun 1957 Mochtar Lubis dikenai tahanan rumah, yang kemudian berubah status menjadi tahanan penjara selama sembilan tahun (sampai 1966) karena keberaniannya mengungkap affair para pejabat kala itu, yang membikin masyarakat gempar. Antara lain kasus Sudarsono, pegawai Kementerian P dan K, yang melakukan pelecehan seksual terhadap bawahannya. Kedua, perselingkuhan presiden Soekarno dengan Hartini, yang mengakibatkan ibu Fatmawati berang dan meninggalkan istana. Karena reportase itu Soekarno marah-marah kepada Mochtar Lubis.

Sebelumnya, 1956 International Press Institute mengundang para editor Indonesia dan editor Belanda di Zurich, Swiss, untuk mendiskusikan hubungan kedua negara tersebut. Tapi, sehari sebelum berangkat, Mochtar Lubis dan Rosihan Anwar diinterogasi oleh CPM selama 8 jam terkait dengan sebuah pemberitaan. Mereka diminta untuk tidak ke mana-mana, tapi perintah itu tidak digubris.

Mochtar dan Rosihan tetap ngotot berangkat. Lebih sebulan lamanya mereka di luar negeri, menunggu situasi aman di Tanah Air. Mereka baru kembali setelah ada jaminan dari Jaksa Agung bahwa mereka tidak akan ditangkap. Rosihan bebas, tapi tidak demikian halnya dengan Mochtar Lubis, ia dikenai tahanan rumah.

Kendati statusnya tahanan rumah Mochtar tetap berusaha memimpin SKH Indonesia Raya dari rumah. Tapi situasi kian memanas, 1961 dipindahkan ke penjara Madiun. SKH Indonesia Raya pun dibekukan, seiring sirnanya kebebasan pers.

Namun setelah 1968 Indonesia Raya diizinkan terbit kembali, penjara tak mengubah sikap Mochtar, ia tetap berani mengungkap berbagai kebobrokan yang dilakukan pejabat negara. Kali ini ia menyoroti secara tajam korupsi yang terjadi di Pertamina hingga akhirnya Letjen Ibnu Soetowo mundur dari jabatan dirut Pertamina.

Begitu pula di masa pemerintahan Soeharto, ketika terjadi peristiwa Malari (1974) para mahasiswa mendemo PM Tanaka dari Jepang, Soeharto dibuat kelabakan. Ia pun memerintahkan beberapa suratkabar yang bersuara keras agar dibredel, termasuk SKH Indonesia Raya. Dan Mochtar Lubis sendiri ditahan selama 2 bulan.

Di pentas jurnalistik Mochtar memang dikenal pemberani. Apabila terjadi pencemaran lingkungan hidup maupun pelanggaran HAM, maka disitulah ia berdiri untuk membela kebenaran dan keadilan. “Hero complex” Mochtar jadi motor penggerak dalam segala tindak-tanduknya.

Penuh Dedikasi

Selain dikenal sebagai wartawan senior ia juga seorang sastrawan dan budayawan. Sejumlah novel telah Mochtar Lubis tulis, seperti: Tak Ada Esok, Jalan Tak Ada Ujung, Senja di Jakarta, Tanah Gersang, Maut dan Cinta, Bromocorah, Catatan Subversif, Kuli Kontrak dan Harimau! Harimau!

Kecintaannya pada dunia sastra dibuktikan dengan kegigihannya mendirikan majalah sastra Horizon. Meski ia tahu persis majalah itu tidak akan laku, bukan cuma di Indonesia, melainkan juga di seluruh dunia, tapi Mochtar Lubis tak pernah kehilangan semangat mengupayakan agar Horizon tetap selalu terbit, untuk memacu perkembangan kesusastraan Indonesia.

Dan dulu, majalah satu ini memang sempat menjadi barometer, seseorang belum ‘resmi’ diakui sebagai sastrawan kalau belum mampu mempublikasikan karyanya di Horizon.

Selain itu, ia juga menjadi Direktur Yayasan Obor Indonesia yang berpretensi menerbitkan buku-buku bermutu, baik yang dari luar negeri maupun domestik untuk membuka wawasan masyarakat Indonesia.

Dari dedikasinya sebagai wartawan, budayawan, maupun sastrawan, Mochtar Lubis beberapa kali menerima penghargaan, antara lain: Hadiah Sastra BMKN, Hadiah Sastra Yayasan Buku Utama, Hadiah Magsagsay dari Filipina (1958) Pena Emas dari World Association of Newspapers (1967), penghargaan dari PWI untuk reportase Perang Korea, dan penghargaan Presiden untuk karya seni (1977), dan Hadiah Sastra Chairil Anwar dari DKJ (1992).

Sifat yang menonjol dari pribadi Muchtar Lubis adalah dia memiliki public relations yang kuat, luwes bergaul, antusias terhadap sesuatu cause seperti ekologi, demokrasi, dan HAM. Kalau menggagas sesuatu, ia tidak suka berbelit-belit membahasnya, tapi sigap berusaha untuk segera diwujudkan. Tak heran kalau Dr. Mochtar Pabottinggi dari LIPI memberinya julukan person of character, insan nan berwatak. Aliansyah jumbawuya – berbagai sumber

***



Posted in Sosok

Syamsiar Seman: Pejuang Budaya Banjar

Kecintaan dan kegigihannya untuk mengangkat nilai-nilai budaya Banjar yang hampir punah patut dihargai. Apalagi sekarang ini tokoh pemerhati budaya Banjar kian langka, jumlah mereka bisa dihitung dengan jari tangan.

Semenjak dekade 50-an Syamsiar Seman telah mempublikasikan berbagai tulisannya di media cetak lokal dan nasional. Pantun, puisi, dan cerpen karyanya sering dimuat di majalah-majalah terbitan Jakarta seperti Pancawarna, Ipphos Report, Sinar Islam, Konfrontasi, Varia, Bina Sejahtera, Monitor, Warnasari, Pusparagam, Berita Minggu, Minggu Pagi Yogya, Pesat, dan lain sebagainya.

“Sejak duduk di bangku kelas 2 SMP saya sudah gemar menulis. Belajar secara otodidak. Semua itu bermula dari hobi membaca, kemudian timbul motivasi untuk menghasilkan karya sendiri. Padahal faktor keluarga dan lingkungan kurang mendukung. Bayangkan, toko buku saja kala itu di Barabai belum ada,” ungkap Drs H. Syamsiar Seman kepada Aliansyah dari Serambi UmmaH.

Namun demi menyalurkan minat bacanya yang tak terbendung itu, Syamsiar mengirimkan uang via pos ke Jakarta untuk memesan buku-buku yang disenangi.

Bahkan, tahun 1956 ia sempat ikut kursus tertulis wartawan Pro-Patria Yogyakarta selama 10 bulan. Dari situlah ia kemudian mengenal dasar-dasar jurnalistik. Lalu ia pun turut bergabung di beberapa penerbitan. Pernah jadi reporter Masyarakat Baru Samarinda (1955-1958), koresponden Sinar Islam Jakarta (1957-1958), koresponden Suara Pemuda Medan (1960-1961), majalah Pembina Surabaya (1965-1967), wakil redaksi Mingguan Pemda Waja Sampai Kaputing (1968-1969), wakil pemimpin majalah seni dan budaya Bandarmasih (1971-1972) buletin Gasan Kita (1975-1977), dan jadi pemred buletin KB (1979-1989).

Syamsiar terbilang cermat dalam hal memelihara dokumentasi atas karya-karyanya. Kliping tulisan-tulisannya terjaga dengan baik. Malah, dengan fasih ia bisa menyebutkan jumlahnya.

“Ada 78 puisi, 146 cerpen, 9 judul naskah drama, 6 buah lagu nasional dan daerah, 327 artikel, 58 makalah tentang budaya Banjar, dan 41 buku yang sampai kini sudah saya hasilkan,” tandas pria kelahiran Barabai 1 April 1936 ini.

Bahkan lagu Mars Tantri Kencana (1978) ciptaannya terpilih sebagai juara I se-Indonesia. Tapi, belakangan bakatnya yang satu ini jadi vakum. Karena ia lebih memilih untuk konsentrasi di bidang tulis-menulis.

Apalagi setelah memasuki usia pensiun produktivitas menulisnya semakin tinggi karena ia punya banyak waktu senggang. Karena sudah mahir, di dalam menulis Syamsiar tidak terikat oleh waktu, kapan dan di mana saja. Tak jarang, pada saat mengambil gaji pensiunan, karena menunggu waktu panggilan cukup lama, ia lalu duduk di pojok ruangan untuk menulis. Begitu pula saat di rumah sakit sambil menunggu antrian dia gunakan untuk membuat konsep, corat-coret kertas.

Ada pula kebiasaan unik Syamsiar yang lain. Setiap naik taksi ia musti memilih bangku depan. Kadang ia rela menunggu taksi berikutnya, asalkan dia bisa duduk di depan. Dengan begitu, selama mobil angkot dalam perjalanan ia bisa menulis.

“Hiruk-pikuk kiri dan kanan tidak mempengaruhi konsentrasi, karena saya sudah terbiasa,” bebernya.

Budayawan Banjar

“Tahun 1960 saya mulai mengkhususkan diri menulis sejarah dan budaya Banjar. Karena saya melihat langkanya orang-orang yang mau menulis budaya Banjar, kecuali Anggreini Antemas dan Arthum Artha (alm). Karena itulah saya terpanggil untuk menekuninya demi kemajuan daerah ini,” ujar Syamsiar.

Menurutnya, sebetulnya banyak budaya Banjar yang bisa digali, hanya saja pengetahuan tersebut masih berbentuk lisan. Sedangkan yang berupa literatur masihlah minim. Maka itu, untuk mengangkat budaya Banjar perlu melakukan penelitian, musti sering mewawancarai tetuha masyarakat.

“Disinilah letak tantangannya sehingga saya termovitasi untuk mengangkat budaya Banjar. Kebetulan pula kala itu saya menjabat kepala bidang supervisi dan pemeriksaan BKKBN Propinsi Kalsel, dan dua kali setahun ditugaskan pergi ke daerah-daerah. Kesempatan itulah saya pergunakan sambil melakukan penelitian,” tandasnya.

Kendala di lapangan yang dihadapi Syamsiar untuk mengumpulkan bahan-bahan tidaklah sedikit. Acapkali si pelaku tradisi itu sendiri tidak tahu makna yang terkandung dari apa yang mereka perbuat.

Sebagai contoh, ketika ia pergi ke Nagara (HSS) Syamsiar menemukan rumah berbentuk Palimasan. Begitu dia tanyai penghuni rumah tersebut seputar makna arsitek, malah tidak tahu sama sekali. “Waktu saya tanya kenapa tiang jeruji jendela berjumlah lima, dan anak tangganya ada tujuh, mereka tidak bisa menjawab. Sebab, mereka sekadar menempati rumah bahari yang diwariskan orangtua mereka tanpa mengenal sejarahnya,” ungkap penerima piagam penghargaan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Pusat Jakarta (1999) ini.

Barulah kemudian Syamsiar jelaskan bahwa urang Banjar itu menyukai bilangan ganjil, sebagai pengejawantahan dari hadis Nabi yang diriwayatkan Baihaki: Allah itu ganjil (Esa) dan menyukai bilangan ganjil.

“Kadang justru lebih banyak tahu saya ketimbang mereka yang jadi narasumber penelitian,” tandas Syamsiar.

Adapun wilayah garapannya meliputi upacara, adat-istiadat, pribahasa, permainan rakyat, cerita rakyat, sejarah, dan arsitektur Banjar.

“Apapun yang bersifat tradisional Banjar itulah yang jadi perhatian saya, karena saya khawatir suatu saat nanti akan hilang,” imbuhnya.

Sepanjang karirnya Syamsiar Seman juga sering menjadi dewan juri di berbagai ajang lomba puisi, cerpen, termasuk dalam pemilihan Nanang dan Galuh Banjar. Bahkan untuk yang terakhir ini, ia terbilang sebagai penggagas pertama kalinya (1983) bersama-sama dengan Addi Mawardi (alm), Hijaz Yamani (alm), Yustan Aziddin (alm), Suriansyah, dan Anang Ardiansyah.

Dikoleksi Washington

Obsesinya di masa mendatang tiada lain yakni akan terus menulis, karena masih banyak lagi budaya Banjar yang perlu ditulis. Mudah-mudahan diberi umur panjang dan sehat.

“Itulah wujud kecintaan dan tanggung-jawab saya terhadap budaya daerah Banjar agar jangan sampai punah, supaya ada peninggalan yang bermanfaat bagi anak-cucu,” tegas Syamsiar.

Hebatnya lagi, buku-bukunya tentang sejarah dan budaya Banjar itu diperkirakan saat ini menjadi koleksi perpustakaan di Washitong, AS.

Ceritanya, sekitar tiga tahun lalu Drs Taufik, kepala kepustakaan kedutaan AS di Jakarta datang ke rumahnya. Saat ditanya dimana tahu alamat Syamsiar, katanya karena diberitahu petugas perpustakaan Wilayah Propinsi Kalsel.

“Dia berkeliling Indonesia mencari buku-buku terbitan lokal. Tiap-tiap judul dari buku saya masing-masing dibeli lima biji. Dua untuk disimpan di perpustakaan kedutaan AS di Jakarta, dan tiga lagi dikirim ke Washington untuk bahan penelitian,” ungkapnya. aliansyah jumbawuya

***


Posted in Sosok
Halaman Berikutnya »