Padepokan Pena - Gemar Membaca Giat Menulis

Sumber Daya Manusia Berbasis Spritual

Judul     : Sharpening Our Concept and Tools
Penulis     : BS. Wibowo, dkk
Penerbit     : PT Syaamil Cipta Media
Tebal     : xviii + 520 hlm

Manusia adalah sebaik‑baik makhluk yang diciptakan Allah SWT, karena dibekali dengan akal, semangat, iman dan struktur fisik yang sempurna. Segala potensi tersebut akan menjadi mubazir atau bermanfaat, tergantung pada bagaimana kita memberdayakannya. Hal itu sekaligus akan menentukan ting­kat kualitas kita dalam lingkungan sosial (integritas hori­zontal) maupun dengan al‑Khalik (kepatuhan vertikal).

Dalam sebuah hadis disebutkan, bahwa sebaik‑baik manu­sia ialah yang paling berguna bagi sesama. Supaya keberadaan kita membawa berkah/kemanfaatan, minimal kita harus mandiri dan berprestasi.

Untuk menjadi insan yang produktif, kita mesti pandai mengelola seluruh potensi yang kita miliki. Kalau manajemen Barat umumnya lebih menitikberatkan pada pencapaian prestasi yang bersifat keduniawian, maka tidak demikian halnya dengan manajemen islami, yang mengacu pada konsep keseimbangan dunia‑ukrawi.

Manajemen model Trostco menawarkan alternatif pengem­bangan diri, tim dan lembaga yang berbasis pada keseimbangan spritual, emosional, intelektual, fisik, dan profesionalis­me. Kelima unsur tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh. Artinya, seseorang belum bisa dikatakan sukses jika pemenu­han terhadap salah satu unsur diatas menyebabkan terabainya unsur lain.

Misalkan, apa gunanya memiliki materi yang berlimpah, kalau kesehatan fisik buruk lantaran kelewat sering mempor­sir tenaga dan pikiran. Atau, apa artinya punya karir cemer­lang kalau tidak ditopang dengan kekuatan spritual, karena semua itu takkan berlangsung langgeng.

Dulu para ahli ilmu jiwa sempat mengklaim bahwa kesuksesan seseorang sangat ditentukan oleh tingkat IQ-nya. Belakangan hipotesa tersebut dibantah, dan kini orang mulai menekankan pentingnya Emosional Quotient dan Spritual Quotient.

Faktor penyebab utama kenapa bangsa Indonesia sampai sekarang dilanda krisis multi‑demensional, karena kita lebih memfocuskan pada pembangunan material ketimbang mental. Akibatnya, untuk mengejar target‑target tertentu orang tak lagi mertimbangkan halal‑haram, sehingga apa yang dicapai jauh dari keberkahan Allah. Padahal tanpa landasan aqidah, cepat atau lambat akan berujung pada kehancuran.

Di sinilah, sekali lagi kita diingatkan akan pentingnya mengedepankan sisi spiritual.

Dimensi spiritual berupaya mempertahankan keharmonisan atau keselarasan dengan dunia luar, berjuang untuk menjawab atau mendapatkan kekuatan ketika sedang menghadapi stres emosional, penyakit fisik, atau kematian (hal: 40).

Bahkan seluruh rahasia kesuksesan berpangkal dari pengejawantahan nilai‑nilai spiritual (agama) ke dalam aktivitas sehari‑hari. Karena barangsiapa mencintai Allah, maka dunia pun akan mudah digenggamnya.

Ketika seseorang menyakini kehadiran Allah dalam dirin­ya, niscaya segala tantangan dan kesulitan terasa ringan. Sebagaimana janji Allah bahwa dibalik kesulitan itu terdapat kemudahan. Dari sinilah akan muncul kepercayaan diri.

Selain itu, amaliah yang didasari niat ikhlas semata untuk mencapai ridha Allah, kalau berhasil akan mendatangkan rasa syukur; sebaliknya kalau pun gagal juga tidak akan mengakibatkan kekecewaan, apalagi sampai berputus asa dari rahmat Allah.

Motivasi untuk melakukan kebaikan sangat dipengaruhi kekokohan spritualitas kita. Emosi dan motivasi yang tidak berakar pada nilai‑nilai spritual, laksana pohon tinggi yang rawan patah jika diterjang badai (hal: 57).

Berapa banyak orang yang tadinya mapan dari segi finan­sial, namun karena imannya kropos dan mudah tergiur berbuat maksiat, akhirnya hartanya ludes dengan cara sia‑sia, diham­bur‑hamburkan untuk foya‑foya atau bermain judi. Hal ini membuktikan, bahwa siapapun yang menyimpang dari risalah Allah bakal menuai kekalahan, jauh dari hakekat kesuksesan dunia‑akhirat.

Keyakinan atas talenta pribadi, kemampuan mengenali kesempatan, kesungguhan untuk menjadi yang terbaik, kesadar­an akan pentingnya membangun komunikasi dan relasi, adalah bagian dari strategi pengembangan SDM. Kiat‑kiat ini sesung­guhnya telah tertuang dalam Alquran maupun al‑hadis. Tinggal bagaimana kita menggali dan memformulasikan dalam aktivitas sehari‑hari.

Buku yang merujuk pada ajaran Islam ini, sangat cocok dimiliki oleh kalangan muslim yang punya dedikasi untuk meningkatkan kualitas diri. Apalagi di era globalisasi yang kian kompetitif ini, agar eksistensi umat Islam layak diperhitung­kan dan berdaya saing tinggi, maka diperlukan usaha terus‑menerus untuk mengembangkan SDM yang berbasis keagamaan. aliansyah jumbawuya

***


Posted in Resensi Buku

Al Qur’an dan Kriteria Muslim Intelektual

Judul buku: Membumikan Al Quran
Penulis : Dr. M. Quraish Shihab
Penerbit : Mizan, Bandung

Alquran adalah mukjizat yang diberikan Allah kepada Nabi akhir zaman, Muhammad Saw. Ia berisi tentang risalah jalan menuju cahaya kebenaran, penyempurna dari ajaran-ajaran terdahulu. Nilai-nilai universal yang terkandung dalam Alquran tak lekang oleh waktu. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tidak berarti tantangan hidup makin berkurang. Justru sebaliknya, problem yang dihadapi manusia bertambah konflik. Sebutlah misalnya, persoalan bayi tabung dan kloning, tetap membutuhkan rujukan keagamaan, agar di kemudian hari nanti justru tidak menimbulkan eksis-eksis negatif yang akan mengacaukan eksistensi maupun pola integritas manusia itu sendiri.

(lagi…)


Posted in Resensi Buku

Membangun Komunitas Pencinta Buku

Judul buku: Menggengam Dunia (Bukuku, Hatiku)
Penulis : Gola Gong
Penerbit : DAR Mizan
Cetakan : Pertama, Maret 2006
Tebal : 260 halaman

Buku merupakan salah satu sumber informasi dan ilmu pengetahuan. Dengan banyak membaca, wawasan kita jadi kian terbuka. Lewat buku kita dapat menyerap berbagai buah pemikiran para cendekiawan terdahulu maupun sekarang — dan itu akan memperkaya khasanah batin kita. Begitu pula kalau doyan menyimak biografi tokoh-tokoh ternama dunia, banyak hal yang bisa kita petik dari semangat dan liku-liku perjuangan mereka. Paling tidak, memotivasi kita untuk lebih mengoptimalkan potensi diri. Berarti di sini betapa besar peran buku dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).

(lagi…)


Posted in Resensi Buku

Ketika Artis Kian Mengenal Tuhan

Judul buku: Pengalaman Rohani Selebritis
Penyunting: RA. Gunadi & Anif Punto Utomo
Penerbit     : Republika
Tebal     : vii + 124 halaman

Dunia selebritis selalu menarik untuk disimak. Bahkan hal sepele yang terkait sisi kehidupan pribadi mereka jadi konsumsi berita yang digandrungi khalayak. Tak jarang gaya hidup mereka dicontoh mentah-mentah, terutama oleh penggemar fanatiknya. Semua itu tak lepas dari sosok mereka sebagai publik figur.

Dalam persepsi umum, kehidupan para artis cenderung glamor. Mereka lebih mementingkan popularitas ketimbang moralitas. Sebagian besar waktu mereka tercurah untuk meraup ketenaran dan bagaimana agar selalu eksis di blantika hiburan. Pergaulan mereka pun dianggap longgar, sehingga rentan dengan berbagai tudingan perilaku negatif. Kewajiban dan kaidah agama kurang mendapat perhatian. Namun sebagai manusia, artis pun berproses di dalam upaya pencarian hakekat kesejatian dirinya. Pada titik-titik tertentu, mereka ‘disentakkan’ oleh pengalaman rohani yang menghantarkan kepada sebuah kesadaran spiritual.

Buku ini menghimpun pengalaman beberapa selebritis yang cukup berpengaruh mengubah tingkat penghayatan mereka terhadap agama Islam. Ada Indra Lesmana — yang tadinya muslim karena menikah dengan Sophia Latjuba lalu ikut agama istrinya itu — setelah mereka bercerai (1996) Indra sempat mengalami depresi berat dan kehampaan jiwa. Hampir satu tahun tahun ia dihinggapi ketakutan. Lantas ia mencari buku pegangan untuk bisa meredakan kegelisahannya tersebut.

“Sebenarnya setiap ke toko buku, Allah telah memberikan petunjuk. Tapi saya tidak peka. Setiap masuk toko buku, pandangan saya tertumpu pada Alquran,” tutur musisi jazz ini.

Doni Suhendra (personil Krakatau), Wong Aksan dan Humania, turut membantu memperkenalkan kembali Indra Lesmana kepada Islam. Hingga pengaruh ajaran Islam tersebut mampu membebaskan Indra dari kegamangan hidup.

Presenter Dewi Hughes, penyanyi pop Cindy Claudia, pelawak Cahyono yang tadinya non-muslim, memutuskan untuk menjadi muallaf setelah memperoleh hidayah melalui pengalaman yang menggetarkan kalbu. Juga diceritakan bagaimana kesabaran Dewi Yull selama 15 tahun untuk menggiring suaminya, Ray Sahetapy, untuk mengenal Islam lebih intensif.

Sutradara film dan sinetron kolosal, Imam Tantowi, mengaku justru mendapat teguran dari Allah begitu ia dihadapkan pada satu masalah. Ia mendapat protes dari masyarakat Hindu di Bali ketika menggarap sinetron “Angling Darma” karena memasukkan tokoh fiksi yang beragama Islam.

Imam Tantowi merasa diperlakukan tidak adil. Ia menulis hampir 500 episode dengan setting Hindu, tapi ketika ia memasuki cuma beberapa episode unsur agamanya, malah mendapat protes keras.

Kejadian itu, kemudian ia maknai sebagai sentilan dan teguran langsung dari Allah. “Kamu orang Islam selama ini kok menulis tentang agama lain,” gumamnya pada diri-sendiri. Ia yang selama kurun waktu 31 tahun bergelut di dunia perfilman merasa diingatkan untuk membela agamanya.

Sejak itulah ia termotivasi untuk mengangkat tema dakwah dalam beberapa garapannya, seperti Film Fatahillah (bekerjasama dengan Chairul Umam), dan terakhir Ramadhan 2003 lalu sinetron “Wali Songo” mendapat sambutan hangat dari pemirsa (selengkapnya baca halaman 50-56).

Anwar Fuady, walaupun lahir dari keluarga religius tapi ia mengaku shalatnya masih belang-belang. Sebelum akhirnya dia bermimpi dirinya mati. Walaupun itu terjadi di alam maya, tapi ia merasa jelas sekali melihat jasadnya seperti digiring ke liang lahat. Sebelum jasadnya dikubur, dalam hati Anwar Fuady sempat berjanji andai diberi kesempatan hidup lagi ia akan bertobat dan tidak akan meninggalkan shalat. Apalagi sekarang ia merasa sudah tua.

Kesuksesan Rano Karno mengangkat sinetron “Si Doel Anak Sekolahan” tak lepas dari ilham yang diperolehnya di Masjidil Haram. Waktu itu, ia mendengar seperti orang yang memanggil-manggilnya dengan nama Dullah, padahal begitu ia cermati tak ada siapapun. Dari pengalaman tersebutlah muncul gagasan untuk melahirkan tokoh si Doel yang mampu berjaya di tengah kelesuan dunia perfilman.

Menyadari besarnya nikmat yang telah diberikan Allah kepadanya, Rano Karno pun mencoba membalas cinta-Nya itu dengan memperlakukan istimewa hari Jum’at. Pada hari tersebut ia off dari segala aktivitas duniawi. Semua karyawan Karno’s Film diliburkan.

Menurut Rano, kesadaran itu muncul setelah ia membaca ayat Alquran yang menjelaskan bahwa barangsiapa yang beribadah pada hari Jum’at, insya Allah akan diberi segala macam kemudahan.

Dalam buku ini, masih banyak selebritis lain yang memaparkan pengalaman mereka seputar hidayah yang diturunkan Allah kepada mereka.

Meskipun, pengakuan itu masih membutuhkan pembuktian di masa-masa mendatang. Karena sebagaimana kita mafhumi, kehidupan para selebritis itu sulit ditebak, antara realitas mereka keseharian dengan pelakon akting, sulit dibedakan. Tapi, setidaknya pengalaman rohani mereka tersebut diharapkan mampu menggugah pembaca tentang pentingnya agama sebagai pegangan hidup. aliansyah jumbawuya

***


Posted in Resensi Buku

Perilaku Politik Ali Bin Abi Thalib

Judul buku: Moralitas Politik Islam
Penulis : Syed Hussain Mohammad Jafri
Penerjemah: Ilyas Hasan
Penerbit : Pustaka Zahra, Jakarta
Tebal : 192 hlm

Di kancah politik, tak jarang demi tercapainya tujuan, segala cara dilakukan. Apa yang digembar-gemborkan sebagai pembelaan terhadap kepentingan rakyat, kadang cuma dijadikan komoditas untuk melambungkan nama sang tokoh. Bahkan jika perlu berbagai intrik yang dapat menjatuhkan lawan tak segan-segan diterapkan, asalkan itu mampu menghantar ambisinya ke kursi kekuasaan. Bahkan tak menutup kemungkinan agama dipolitisasi sedemikian rupa.

Sejarah mencatat, ketika perang Shiffin berlangsung, dan pasukan Ali bin Abi Thalib hampir memenangkan pertempuran, tiba-tiba saja Muawiyah bin Abu Sufyan menancapkan sebuah Alquran di atas tombaknya seraya berteriak: “Di antara kami dan kalian terdapat Alquran!”

Hal itu dilakukan Muawiyah di saat-saat pasukannya kian terdesak, dan jika perang terus berlanjut bisa dipastikan pihaknya akan mengalami kekalahan telak. Inilah salah satu contoh, di mana Alquran mereka jadikan legitimasi untuk mengambil simpati dan menipu massa. Trik yang digunakan Muawiyah Cs merupakan aktualisasi paling transfaran mempolitisasi Islam untuk sebuah ambisi politik yang di baliknya terselubung konspirasi dan kelicikan.

Walaupun kebusukan itu dapat dibongkar oleh Ali bin Abi Thalib dengan ketajaman nurani islaminya, tapi tak pelak sebagian pengikutnya ada juga yang terkecoh oleh lambang yang dipamerkan Muawiyah.

Dalam konteks sekarang pun, boleh jadi ada person atau partai yang menggunakan simbol Islam, padahal tingkah-polahnya jauh dari substansi Islam itu sendiri.

Terhadap realitas demikian, tak heran manakala kemudian berkembang anggapan bahwa politik itu kotor. Padahal ini tentu saja tidak bisa digeneralisir, semua sangat tergantung kepada siapa pelakunya.

Dalam buku yang aslinya berjudul Political and Moral Vision of Islam: As Explained by Ali Bin Abi Thalib ini, Prof. Dr. Syed Mohammad Jafri mencoba meluruskan bahwa antara politik dan moral itu bisa saja berjalan seiring, sebagaimana pernah dibuktikan Syaidina Ali ketika memerintah. Meskipun kekhalifahan dia singkat, cuma 4 tahun 9 bulan, dan kondisi kala itu kurang bersahabat, tapi ia tak bergeming untuk tetap mengedepankan standar moral.

Buku ini selain mengupas perilaku politik Ali bin Abi Thalib, juga memfocuskan pada isi surat beliau kepada gubernur Mesir, gubernur Basrah, serta putranya. Dari tiga surat tersebut tersirat secara gamblang bagaimana sikap politik Sang Imam.

Antara lain kepada Malik bin al-Harits yang baru diangkat jadi gubernur Mesir, beliau berpesan untuk bersikap pemurah dan adil terhadap rakyat. Rakyat hendaknya dijadikan kepedulian utama di atas kaum elite. Juga untuk membina hubungan baik dengan mereka yang lurus moralnya.

Dalam hal memilih pejabat negara Ali bin Abi Thalib berpesan, “lakukanlah telaah atau penyelidikan yang seksama, dan angkatlah mereka setelah melakukan pengujian yang semestinya (mengenai kemampuan dan karakter mereka) dan bukan atas dasar kepentingan pribadi atas favoritisme, karena pada kepentingan pribadi terdapat beragam ketidak-adilan dan ketidak-jujuran. Pilihlah orang-orang yang berpengalaman dan moderat atau bersahaja… (hal: 108).

Menyangkut gaji, diusulkan untuk memberi gaji yang besar karena itu akan membantu pejabat meningkatkan taraf hidupnya, sehingga diharapkan mencegah mereka untuk berbuat korup. Kalau dengan sarana yang memadai itu mereka tetap saja berkhianat, maka tiada alasan lagi untuk tidak menghukum mereka dengan keras.

Kepada pejabat juga dianjurkan untuk meluangkan waktu bertemu langsung dengan kaum miskin. Sebab, lewat cara itulah pejabat dapat mengetahui berbagai permasalahan yang dihadapi rakyatnya. Kalau perlu tanpa pengawal dan tentara, agar mereka bisa leluasa berbicara tanpa rasa takut. Karena Nabi SAW pernah bersabda,”Tak ada bangsa yang akan mendapat berkah bila hak si lemah belum diberikan oleh si kuat.”

Disamping itu, jangan sekali-kali membuat jarak dengan rakyat. Karena, bagaimana pun, tanpa dukungan rakyat negara tidak bakalan berdiri kokoh.

Hal yang tak boleh dilupakan, agar pejabat senantiasa membina kedekatan spiritual dengan Allah. Malah, keterlibatannya di dalam berbagai kegiatan keagamaan bisa mendekatkan hubungan silaturrahim antara pejabat dan rakyat.

Buku ini cukup refresentatif untuk dimiliki, khususnya bagi para politisi, agar dalam setiap keputusannya tetap memperhatikan nilai-nilai agama dan moralitas. Apalagi di tengah situasi Indonesia seperti sekarang ini, rakyat sangat menginginkan adanya pemimpin yang benar-benar mau menyerap dan memperjuangkan aspirasi mereka. aliansyah jumbawuya

***


Posted in Resensi Buku

Risalah Menuju Keselamatan

Judul buku: Jalan Para Nabi Menuju Surga
Penulis     : Syayyid Abdullah Al-Haddad
Penerjemah: Drs. Ahmad Nashirin
Penerbit     : Hikmah, Jakarta
Tebal     : viii + 264 halaman

Manusia diturunkan ke bumi dengan mengemban tanggung‑jawab amanah dari Al‑Khalik. Mereka tidak dilepas begitu saja untuk memperturutkan hasrat sesuka hatinya; melainkan oleh Allah diberi petunjuk jalan yang lurus. Jika manusia berpegang teguh pada tuntunan Alquran dan sunah Nabi, nis­caya keselamatan dunia dan akhirat itulah ganjaran yang dijanjikan Allah.

Sesungguhnya, nilai kebaikan manusia bukanlah terletak pada wajah yang elok, harta berlimpah, pangkat dan kedudukan yang tinggi, akan tetapi diukur dari seberapa besar kadar ketakwaan seorang mukmin kepada Allah SWT. Dalam Alquran lebih dari 70 kali disebut kata takwa.

Apabila perintah takwa itu benar‑benar dilaksanakan dengan kepatuhan dan hati yang bersih, maka Allah berikan kebaikan‑kebaikan, berupa:

Pertama, dikaruniai jalan keluar dari segala persoalan dan dimurahkan rejeki dari sumber yang tak terduga (QS. Al‑ Thalaq: 2‑3). Kedua, diberi petunjuk dalam mencari hakikat kebenaran (QS. Al‑Baqarah: 2). Ketiga, dianugerahi ilmu dan kejernihan akal pikir (QS. Al‑Baqarah: 282). Keempat, pandai membedakan antara yang haq dan yang batil, sehingga dirinya terjauhkan dari amal jelek, serta mendapatkan ampunan dosa (QS. Al‑Anfal: 29). Kelima, pertolongan dari Allah (QS. Al‑ Jatsiyah: 19). Keenam, ia selalu bersama‑sama dengan Allah, baik dalam keadaan sunyi maupun di tengah keramaian (QS. Al‑ Baqarah: 194). Ketujuh, memperoleh keselamatan (QS Maryam: 72). Kedelapan, surga (QS Al‑Ra’du:35).

Kendati demikian, masih banyak manusia yang berpaling dari cahaya kebenaran. Mereka lebih memilih kemilau dunia yang menawarkan kenikmatan sesaat. Padahal berapa banyak sudah nabi‑nabi yang diturunkan Allah untuk mengingatkan pada risalah keselamatan. Dan terakhir, Allah mengutus Muhammad SAW agar manusia menjauhi cara‑cara hidup model jahiliyah. Berikutnya, wasiat itu dilanjutkan oleh para ulama.

Sayyid Abdullah Al‑Haddad, dalam bukunya ini yang terdiri dari Risalah Mudzakarah dan Risalah Muawanah, kemba­li mengingatkan kita untuk selalu meningkatkan nilai takwa dengan memperbanyak amaliah dan kekhusyukan ibadah. Juga supaya mewaspadai dari perkara‑perkara yang dapat menodai kemurnian ibadah, seperti sifat riya, ujub, ubud dunia, serta menjauhkan diri dari makan barang‑barang haram maupun syubhat.

Satu hal mendasar, yang dapat menggiring seorang mukmin untuk selalu tekun beribadah, serta malu berbuat maksiat, ialah tertanamnya satu keyakinan bahwa dirinya selalu berada dalam pengawasan (muraqabah) Allah. Karena memang setiap gerak, diam, niat, bahkan keseluruhan perilaku makhluk di muka bumi ini, tak ada yang luput dari pengawasan Allah. Dan setiap perbuatan ‑‑ baik maupun buruk ‑‑ akan mendapat balasan yang seadil‑adilnya.

Demikian Sayyid Abdullah mengingatkan, “Ketika Allah melarangmu melanggar suatu larangan atau memerintahkan suatu perintah kepadamu, Dia tidak berada dalam posisi membutuh­kanmu. Hal itu dilakukan hanyalah untuk kebaikanmu sendiri. Oleh karena itu, sembahlah Allah seakan‑akan kamu melihat‑Nya, tetapi apabila kamu tidak melihatnya, maka Dialah yang melihatmu” (hal: 89).

Inilah langkah awal seorang mukmin untuk meniti jalan menuju makrifat‑Nya.

Selanjutnya, implikasi ibadah diharapkan mampu memper­baiki dan memperkuat aqidah. Dimana mukmin bersangkutan termasuk ke dalam kelompok ahlu sunah wal‑jamaah, yaitu orang‑orang yang berpegang kuat pada apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW dan meneladani akhlak para sahabat.

Sayyid Abdullah juga menganjurkan untuk membersihkan lahir dan batin dari berbagai sifat tercela. Disamping juga perlunya menghias hati dengan akhlak‑akhlak mulia seperti tawadhu, malu, ikhlas, dermawan, dan lain‑lain. Menurutnya, untuk mengenal kesejatian akhlak, ada baiknya pula mempela­jari dan mengamalkan kitab Ihya Ulumuddin karya Al‑Ghazali.

Buku yang dalam bahasanya aslinya terdiri dari dua kitab, yaitu “Risalat Al‑Mudzakarah ma’a Al‑Ikhwan Al‑ Muhibbin min Ahl Al‑Khair wa Al‑Din” dan “Risalat Al‑ Mu’awanah wa Al‑Muzhaharah wa Al‑Muazarah li Al‑Raghibin min Al‑Mukminin fi Suluk Thariq Al‑akhirah” ini oleh penerjemah coba disarikan sedemikian rupa. Sehingga, setiap pokok baha­san tampak sederhana dan mudah untuk dicerna. aliansyah jumbawuya

***


Posted in Resensi Buku

Membangun Keinsyafan Kolektif Lewat Zikir

Judul buku: Indonesia Berzikir
Penulis     : Muhammad Arifin Ilham & Syamsul Yakin
Penerbit     : Intuisi Press
Tebal     : 144 halaman

Bangsa Indonesia tak jua kunjung keluar dari belitan krisis multi-demensional. Hal ini terkait erat dengan prilaku penduduknya, terutama para pejabat pengelola negara, yang masih saja dihinggapi budaya korup, ubud dunia, serta abai terhadap amanah yang diembankan di pundak. Akibatnya hukum bisa diperjual-belikan, sumber daya alam diekploitasi habis-habisan, politik lebih berorientasi pada penumpukan kekuasaan, nasib rakyat kecil dibiarkan terkatung-katung.

Dampak berikutnya, kriminalitas meningkat, patologi sosial meluas, dan sikap apatis mulai menghinggapi sebagian anak bangsa. Realitas dimaksud tak jauh dari gambaran yang diperingatkan Allah dalam Alquran surah Al-A’raaf ayat 96: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan dari bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat dan hukum-hukum Kami) itu, maka Kami siksa (azab) mereka disebabkan perbuatannya”.

Lalu, bagaimanakah cara kita keluar dari keterpurukan ini?

Kalau kita analisis lebih seksama, ternyata krisis yang mendera bangsa Indonesia lantaran jauhnya kita dari nilai-nilai religius dan moralitas. Maka, solusi yang bisa ditawarkan dalam konteks ini ialah adanya kemauan bersama untuk memperbaiki diri. Melalui penajaman iman dan takwa insya Allah berbagai penyakit hati bisa dikikis, meski perlu waktu dan kesungguhan.

Salah satu metode yang belakangan ini cukup gencar digalakkan Muhammad Arifin Ilham adalah menyelenggarakan majelis zikir dimana-mana. Dan, zikir sejatinya tidak sekadar dilafazkan secara lisan, tetapi maknanya musti dihayati, diendapkan ke dalam kalbu, untuk kemudian diharapkan terjadi pencerahan batin menuju perbaikan perilaku.

“Salah satu cara untuk melakukan pendakian spritualitas adalah dengan mengambil bagian dalam peribadatan yang intens, terus-menerus, dalam waktu yang tak bertepi. Misalnya, dengan melakukan beragam zikir sebanyak-banyaknya kepada Allah. Zikir kepada Allah dipercaya bakal berimplikasi positif, baik secara pribadi maupun kolektif bagi pembaruan dan perbaikan kehidupan berbangsa dan bernegara menjangkau semua aspek dan sendi kehidupan” (hal: 22).

Agar perhelatan zikir itu efektif dan punya daya gugah, sangatlah perlu diperhatikan beberapa etika dalam berzikir. Antara lain:

Pertama, hendaknya dalam keadaan suci dan berwudhu terlebih dahulu, sebab niat kita dari awal hendak berkomunikasi dengan Yang Maha Suci. Kedua, sebaiknya dilakukan di dalam masjid, karena sumber cahaya itu muncul di dalam masjid sebagaimana ditegaskan Allah dalam surah an-Nuur: 36. Ketiga, menghadap kiblat sebagai simbol persatuan umat Islam. Keempat, duduk seperti saat duduk diantara dua sujud dalam shalat. Karena posisi seperti inilah Rasulullah SAW berhadapan dengan Jibril saat diuji tentang rukun iman, islam dan ihsan. Demikian pula seyogianya kalau kita ingin mempertautkan hati dengan Ilahi.

Lebih jauh dalam buku berjudul Indonesia Berzikir ini disebutkan ada 60 butir manfaat yang bisa kita petik dari keutamaan zikir.

Bahkan kalau mengacu pada hadis Rasulullah yang mengumpamakan antara mereka yang berzikir dengan yang tidak berzikir, yaitu seperti orang yang hidup dan mati, menegaskan betapa penting kedudukan zikir dalam menghidupkan hati. Sebab, hanya mereka yang punya hati jernih yang punya solidaritas sosial dan keberpihakan kepada kaum tertindas.

Menurut Arifin Ilham, dengan zikir transformatif diharapkan terjadi koreksi pribadi, masyarakat, dan para penyelenggara negara. Dengan demikian, jelas zikir transformatif memiliki urgensi yang tinggi bagi pembaruan Indonesia ke depan. Zikir transformatif tidak hanya membawa pelakunya kepada kenikmatan anggur spritual, lebih dari itu dapat pula memotivasi kita untuk menggerakkan tangan memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan, serta menentang segala bentuk angkara.

Dengan kata lain, Indonesia Berzikir merupakan wahana yang dapat menghantar kita semua kepada keinsyafan kolektif. aliansyah jumbawuya

***


Posted in Resensi Buku

Meluruskan Tasawuf dari Berbagai Penyimpangan

Judul Buku : Tasawuf Positif (Dalam Pemikiran Hamka)
Penulis        : Mohammad Damami, MA
Penerbit       : Fajar Pustaka Baru
Tebal     : xvi + 272 hlm

Prof Buya Hamka bukan saja dikenal sebagai pujangga pada zamannya, tetapi ia juga seorang cendekiawan muslim yang pemikiran-pemikirannya sampai sekarang tetap menjadi referensi atas berbagai masalah aktual yang berkembang di masyarakat. Salah satu karyanya yang banyak mendapat perhatian ialah bukunya berjudul “Tasawuf Modern” yang diterbitkan tahun 1939.

Ketertarikan Hamka untuk mempelajari dan memperdalam tasawuf, tak lepas dari peran lingkungan (Minangkabau) dan keluarga, ayah Hamka, ulama besar yang punya pengaruh luas di masyarakat.

Bahkan ketika paham tasawuf Wahdat al-Wujud banyak dibelokkan untuk kepentingan ilmu sihir, DR Haji Karim Amrullah berusaha keras meluruskan. Keadaan masyarakat Minangkabau yang terlanjur lekat dengan hal-hal yang bersifat luar biasa (khariq al-’adah) seperti ilmu kebal, berimbas pada kecenderungan memuja-muja tokoh agama secara berlebihan, malah sampai pada tahap pengkultusan.

Akibatnya, cukup lazim terlihat, bahwa masyarakat muslim Minangkabau pada waktu itu ketika berziarah ke makam bukan lagi mendoakan orang yang meninggal, atau mengingatkan diri sendiri tentang kematian, melainkan lebih dimaksudkan untuk meminta berkah kekeramatan.

Ditengarai, konsep Rabitah mursyid atau melakukan kontak batin dengan pembimbing spiritual, yaitu metode menghadirkan sosok sang mursyid (guru) dalam imajinasi si murid, telah memberi peluang pada proses pengkultusan. Dan hampir semua tarekat mengenal konsep “Wasilah”, yaitu mediasi lewat bimbingan mursyid yang selalu mengamati dan mengawasi tingkat perkembangan spritual seorang murid.

Menyikapi keadaan masyarakat yang demikian, ditambah lagi dengan adanya penyakit taqlid yang mengharamkan diri melakukan ijtihad, DR Alfian menawarkan dua tindakan ke arah perbaikan. Pertama, dimensi pemurnian, dilaksanakan dengan cara mengembalikan segala kegiatan masyarakat muslim kepada sumber yang asli dan orisinal agama, yaitu kembali kepada Alquran dan As-Sunnah. Kedua, dimensi pembaharuan (modernisme), dilaksanakan dengan cara menjebol dinding taqlid agar terbuka jalan untuk melakukan ijtihad. Ijtihad dimaksudkan agar pemahaman ajaran agama dapat sejajar dan relevan dengan dinamika zaman dan masyarakat (hal: 133).

Hamka sendiri mengakui mencintai tasawuf, dalam pengertian: sebagai suatu kehendak untuk memperbaiki budi dan membersihkan batin. Dalam bukunya “Tasawuf Modern”, dengan rendah hati Hamka berujar bahwa dirinya bukanlah ulama tasawuf melainkan “sekadar” pengurai tasawuf, karena tidak ada konsepsi baru yang dia tawarkan dalam wacana ilmu tasawuf.

Berdasarkan pendekatan historis, disebutkan bahwa keberadaan tasawuf adalah untuk memperkokoh akhlak dari pengaruh-pengaruh luar, terutama terhadap harta dan kekuasaan. Juga dimaksudkan untuk membina sikap zuhud dari hal-ihwal keduniawian, meskipun sebenarnya peluang untuk hidup bermewah-mewah itu ada. Sebagaimana dicontohkan pekerti agung Rasulullah yang senantiasa hidup sederhana. Dalam hal ini, tasuwuf berfungsi untuk mengendalikan diri dari kecenderungan serakah serta berkeinginan tanpa batas.

Sayangnya, di masyarakat pengertian tasawuf sebagaimana tersebut diatas acapkali disalah-artikulasikan sehingga kemudian terkesan sebagai suatu kepasifan dan eskapisme (lari dari kenyataan hidup). Terlebih sejak abad ke-12 Masehi, sesudah periode hidup Imam Ghazali, bermunculan tarekat-tarekat yang seolah membenci dunia. Padahal semustinya tasawuf itu justru mempunyai daya aktif dan positif.

Dalam menguraikan fungsi tasawuf, Hamka selalu mengait-ngaitkan dengan konteks nasib umat Islam di Indonesia yang serba “miskin”: miskin ekonomi, miskin iptek, miskin kebudayaan, miskin politik, bahkan yang paling tragis ialah “miskin mentalitas”. Sudut pandang inilah yang memicu Hamka untuk mempertanyakan ulang tentang fungsi tasawuf itu, dan berikutnya diharapkan bisa menggugah bagi pembaharuan umat Islam.

Dari uraian tersebut, Hamka kemudian menawarkan pendapatnya, bahwa tasawuf bisa menjadi positif apabila dilaksanakan dalam bentuk kegiatan keagamaan yang searah dengan muatan-muatan peribadatan yang telah dirumuskan oleh Alquran dan As-Sunnah. Disamping wajah peribadatan itu musti berkorelasi antara ibadah yang hablun minallah (Ketuhanan) dan hablun minannas (sosial nyata).

Yang menarik, dalam buku ini Mohammad Damami juga memuat seputar fase-fase kehidupan Hamka, sehingga sentuhan human interestnya terasa cukup kental. Bahwa penganut tasawuf itu, di masa kecilnya juga seorang bocah yang nakal seperti bergaul dengan preman, menyabung ayam, gemar berkelahi, suka keluyuran ke mana-mana, mencuri jambu, mengambil ikan di tambak orang lain, dan kalau pergi ke surau sering berbelok ke gedung bioskop untuk mengintip lakon film bisu yang sedang diputar. Sampai-sampai penduduk kampung Padang Panjang kenal betul dengan kenakalan Hamka kecil.

Fakta ini justru menegaskan, bahwa untuk menjadi insan kamil itu masing-masing orang dihadapkan pada proses panjang dan pengalaman unik yang berbeda-beda. aliansyah jumbawuya

***


Posted in Resensi Buku

Kontribusi Islam dalam Peta Perpolitikan Indonesia

Judul      : Islam dan Politik
(Upaya Membingkai Peradaban)
Penulis      : Ahmad Syafii Maarif
Penerbit  : Pustaka Dinamika, Cirebon
Tebal : XIV + 254

Kekuasaan tanpa landasan moral, cepat atau lambat dipastikan akan berdampak buruk bagi tatanan hidup berbangsa dan bernegara. Upaya untuk membangun dan memelihara kebersa­maan tinggal sekadar retorika, yang mencuat justru ego‑ego berkedok kemunafikan. Posisi dalam struktur pemerintahan, tidak lagi dianggap sebagai amanah buat memperjuangkan nasib rakyat, melainkan lahan basah untuk memanjakan hasrat priba­di atau kepentingan golongan.

Akibatnya, demi menduduki jabatan tertentu, orang tak segan‑segan menghalalkan segala cara. Seperti mengeksploita­si massa untuk unjuk kekuatan, political money untuk merek­rut dukungan, memanipulasi angka perhitungan dalam pemilu, dan lain sebagainya. Bahkan kalau perlu rakyat dijadikan tumbal dalam rekayasa politik. Sehingga lambat‑laun lahirlah sebuah citra negatif: politik itu kotor!

Mencermati peta perpolitikan di Indonesia, kalau mau jujur, masih jauh dari gambaran menggembirakan. Nilai‑nilai kemanu­siaan, etika moral, sering terabaikan. Dan, umat Islam (penyandang predikat khalifah di muka bumi) sangat tidak layak untuk berdiam diri menyaksikan wajah perpolitikan di negeri ini berlangsung corat‑marut. Harus ada rasa tergugah untuk melakukan perubahan konstruktif.

Munculnya pemikiran reformis dan kreatif dalam penyam­paian pesan‑pesan kemanusiaan Islam inilah yang ingin diso­sialisasikan Ahmad Syafii Maarif, dalam bukunya “Islam & Politik, Upaya Membingkai Peradaban”.

Syafii Maarif, optimis Islam akan mampu memberi corak pertumbuhan dan perkembangan masyarakat yang berwawasan moral. Asalkan Islam dipahami secara benar dan realistis, tidak diragukan lagi akan berpotensi dan berpeluang besar untuk ditawarkan sebagai pilar‑pilar peradaban alternatif di masa depan. Sumbangsih solusi Islam terhadap masalah‑masalah kemanusiaan yang semakin lama semakin komplek ini, baru punya makna historis bila umat Islam sendiri dapat tampil sebagai umat yang beriman dan cerdas (hal vi).

Menyikapi tantangan tersebut, hal paling mendasar adalah bahwa umat Islam tidak boleh terpecah‑belah oleh dua kutub pemikiran: antara ilmu agama dan ilmu sekuler. Dengan bekal perpaduan spritual dan intelektual, maka posisi umat Islam yang semula berada di buritan, dimasa mendatang dihar­apkan menjadi lokomotif dalam membangun masyarakat bermoral yang diback‑up kemantapan ontologi.

Kalau mau menelusuri sejauhmana pengaruh Islam terhadap perpolitikan di Indonesia, akar sejarahnya boleh dikata cukup panjang. Sejak abad 13, sebelum para kolonial menceng­keramkan kekuasaannya di Nusantara ini, kita sudah mengenal beberapa kerajaan Islam seperti di Sumatera, Maluku, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Nusa Tenggara Barat.

Namun yang paling monumental adalah saat perdebatan seputar usul konstitusi Indonesia. Daulah Islamiyah bersaing dengan Asas Pancasila. Format Piagam Jakarta, dengan tujuh kata kuncinya, yakni: dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk‑pemeluknya, hanya sempat bertahan selama 57 hari. Sebab pada tanggal 18 Agustus 1945 Pancasila dite­tapkan sebagai dasar filosofis negara.

Langkah tersebut merupakan kompromi politik demi menja­ga persatuan dan kesatuan, mengingat bangsa ini sangat plural, meski mereka yang beragama Islam termasuk mayoritas.

Dengan bahasa yang lugas, Syafii Maarif, penulis buku ini, menilai penamaan negara tidak terlalu fundamental. Yang penting, dalam kehidupan kolektif cita‑ cita politik Islam dilaksanakan. Dengan diberlakukannya asas Pancasila, tidak berarti aspirasi politik Islam kemudian menjadi mandul.

Wawasan moral tentang kekuasaan itulah yang dimaksud aspirasi Islam. Bagi Islam, apa yang bernama kekuasaan politik haruslah dijadikan “kendaraan” penting untuk menca­pai tujuan Islam seperti: penegakkan keadilan, kemerdekaan, humanisme egaliter, yang berlandaskan nilai‑nilai tauhid.

Sayangnya, sejak Orde Lama hingga tumbangnya Orde Baru kelompok‑kelompok santri yang tergabung dalam Muhammadiyah, Al‑Irsyad, Persis, Nahdhatul Ulama, Al‑Washliyah, PUI (Persatuan Umat Islam), Perti (Persatuan Tarbiyah Islamiyah), Nahdhatul Wathan, Masyumi dan lain‑lain telah lumpuh secara politik dan ekonomi, sehingga kurang terlatih untuk menjadi dewasa dalam percaturan perpolitikan nasional.

Di masa Orde Baru yang feodal serta otoritarian, teru­tama anggota Korpri sekian lama mental mereka terpasung, sehingga tak punya peluang untuk menawarkan pemikiran alter­natif. Mereka cenderung menjadi corong pemerintah. Tak heran, kalau dalam beberapa pemilu Golkar selalu tampil sebagai pemenang.

Demikian pula, di era reformasi ini, banyak melahirkan politisi‑politisi karbitan yang orientasi perjuangannya cuma untuk mengincar kursi jabatan. Mereka begitu gampang berkoar mencaplok slogan “demi kepentingan bangsa dan negara”, padahal tujuan akhir tak lain adalah untuk kepentingan pribadi atau kelompok.

Maka, dalam kondisi bangsa yang sangat memprihatinkan sekarang, sudah waktunya bagi kita semua untuk berpikir jernih, serius, tidak terombang‑ambing oleh pernyataan‑ pernyataan politik yang a‑historis. Karena, semua itu penuh racun yang menghancurkan. Golongan santri tidak boleh lagi bermain di wilayah pinggir sejarah, turut menari menurut irama genderang yang ditabuh pihak lain. Oleh sebab itu, kita perlu menyiapkan para pemain yang handal, berakhlak mulia, profesional, dan punya integritas pribadi yang tang­guh dan prima (hal 81).

Dengan begitu, umat Islam di negara ini diharapkan tidak lagi termarginalisasi. Politik Islam harus mampu merepresentasikan idealismenya sebagai rahmatan lil alamin, sehingga tidak mudah dicap sebagai ekstremis atau sempalan. aliansyah jumbawuya

***



Posted in Resensi Buku

Sosok Pemimpin Dekat dengan Ulama

Judul buku: H. Sjachrani Mataja

(Perjalanan Berliku Menuju Puncak)

Penyunting: Hatmansyah, dkk

Penerbit : Comdes Kalimantan

Tebal : xl + 298 hlm

Penting bagi warga untuk mengenal sosok pemimpinnya secara lebih detil, bukan sekadar tahu nama atau sepintas melihatnya pada kegiatan-kegiatan seremonial belaka. Dengan begitu, masyarakat bisa menilai karakteristik si pemimpin secara lebih objektif dan jernih sehingga jauh dari prasangka sosial ataupun pengkultusan individu yang didasari fanatisme.

Dalam kacamata proporsional pemimpin tetaplah seorang manusia biasa, yang punya berbagai kelebihan dan kekurangan. Karena itu dalam kiprahnya untuk membangun banua, seorang pemimpin senantiasa membutuhkan partisipasi dari warganya. Juga kritik konstruktif bagi perbaikan bersama di masa-masa mendatang.

Pemimpin yang matang lahir dari proses panjang, bukan karbitan atau epigon dari bayang-bayang kebesaran orangtuanya. Ia dipilih jadi pemimpin karena memang potensi dirinya mendukung untuk itu.

Sebagaimana ditegaskan Drs Masdari MSi, dalam pengantar buku ini, bahwa untuk memiliki syarat-syarat kepemimpinan itu bukanlah perkara gampang, person bersangkutan musti melewati pergulatan panjang. Disinilah diperlukan keuletan, ketabahan, keyakinan diri di dalam memadukan ikhtiar dan doa. Juga tak boleh dilupakan untuk senantiasa mengembangkan kemampuan manegerial skill, mental dinamis, integratif, komunikatif, keberanian mengambil resiko, dan lain sebagainya.

Dalam buku “H. Sjachrani Mataja, Perjalanan Berliku Menuju Puncak” ini Hatmansyah dkk mencoba mengangkat figur tokoh lokal, yang saat ini menjabat sebagai bupati Kotabaru.

Bab I dari buku ini merupakan bagian paling menarik, sebab cukup kental dengan gaya penulisan human interes. Masa kecil Sjacrani yang sarat oleh berbagai cobaan, menegaskan betapa penuh liku perjalanan yang harus dilaluinya. Kisah sedih itu bermula sekitar tahun 1956, ketika sang Abah, Mataja, ternyata menikah lagi untuk kedua kalinya. Hj. Siti Maryam, ibunda Syachrani, tak bisa terima sehingga berbuntut pada perceraian. Maka, sejak itulah ia mengasuh putranya single parent. Berbagai profesi pun pernah digeluti Hj. Maryam seperti berjualan gado-gado, soto, barang kelontongan, nasi kuning, pisang dan gumbili goreng, demi kelangsungan hidup putranya.

Bahkan mereka pernah diusir dari rumah kontrakan lantaran tidak mampu lagi membayar uang sewa. Latar belakang kehidupan serba prihatin itulah yang kemudian mencetak Sjahrani Mataja menjadi pribadi yang tegar, kreatif, dan mandiri.

Habis pulang sekolah ada pekerjaan rutin yang dilakukan Sjahrani kecil, yaitu menimba air di bawah gunung Dulahit yang jaraknya sekitar 300 meter dari rumah hingga satu drum penuh. Sudah itu barulah ia membantu ibunya berjualan di pasar.

Selain itu, ia juga pernah berjualan pisang goreng, dadar gulung, keliling kampung dengan menjunjung nyiru.

“Pernah terjadi suatu hari saya pulang ke rumah dengan derai airmata, menangis. Ketika saya sedang meniti sebuah jembatan keci, saya terjatuh dan semua jualan pun terbalik habis,” kenang Sjahrani Mataja (hal: 10).

Meski kondisi ekonominya susah, tapi kenyataan itu tidaklah menyurutkannya untuk terus melanjutkan sekolah. Malah pernah menjelang ujian akhir kelas III SMEA Negeri Kotabaru ia hampir saja dikeluarkan dari sekolah karena tak mampu membayar SPP sekian bulan. Untunglah, setelah mendengar penjelasan Sjahrani sang kepsek mau bermurah hati membolehkannya ikut ujian.

Di mata guru-gurunya, sejak kecil Sjahrani sudah menampakkan jiwa kepemimpinannya. Sehingga tak heran kalau ia sering dipercaya menduduki jabatan-jabatan penting baik di tempat ia bekerja maupun di masyarakat.

Tahun 1958 ibundanya menikah lagi dengan Anang Masri. Justru dari ayah tirinya inilah Sjahrani banyak mendapat gemblengan ilmu agama. Sesibuk apapun, begitu terdengar adzan Maghrib dia selalu menyuruh anak-anaknya agar segera pergi ke langgar untuk shalat berjamaah. Dari situlah pulalah Sjahrani termotivasi untuk belajar mengaji Alquran, mendalami ilmu tauhid, fiqih, dan akhlak tasawuf.

Karena rajin belajar ilmu agama, tak heran di kalangan warga kampung Higa Gunung mereka cukup akrab mendengar adzan dan qamat yang dikumandangkan Sjahrani.

Ia juga aktif bersama kawan-kawan pengurus remaja langgar al Mustaqim mempelopori berbagai kegiatan keagamaan seperti mengadakan acara Mauludan, Isra Mi’raj, perayaan Tahun Baru Islam, sehingga membuat syiar keagamaan di kampungnya menjadi semarak. Belakangan, kehidupan Sjahrani yang sangat agamis ini pulalah yang menyebabkan ia selalu dekat dengan para ulama (hal: 27).

Dalam buku ini juga memuat sisi kesenimanan Sjahrani, baik sebagai anak band maupun pencinta sastra. Serta tak ketinggalan, proses bagaimana hingga ia bisa diangkat jadi bupati Kotabaru periode 2000-2005.

Menyimak kisah hidup Sjahrani Mataja ini pembaca bisa mengambil hikmah, bahwa untuk menuju puncak kesuksesan itu ada anak tangga yang harus dilewati, selain mengandalkan ikhtiar juga perlu ditopang dengan doa. aliansyah jumbawuya

***


Posted in Resensi Buku
Halaman Berikutnya »