Padepokan Pena - Gemar Membaca Giat Menulis

Kejepit

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Saat dihadapkan pada realitas yang memojokkan, sanggup­kah kau untuk bersikokoh merawat idealisme. Ataukah justru membiarkan diri hanyut dalam arus pengingkaran nurani?

Ketika ijazah sarjana kian berdebu, dan suara‑suara sumbang tetangga makin santer mengusik ketidak‑berdayaanmu untuk memperoleh emblim mentering dalam struktur kepega­waian, kira‑kira sampai kapan kau bertahan agar tidak ter­giur mengetuk pintu sebuah instansi dengan segepok uang persekongkolan? Sementara kau tahu persis orang lain pun melakukan hal serupa.

Sejak kecil kita hapal di luar kepala butir sila keadi­lan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Tapi sampai dewasa pun kita tidak pernah mengerti maknanya. Karena kesejahter­aan sosial itu hanya milik segelintir orang. Sistem yang menelingkupi pergaulan sosial, budaya, apalagi politik, tidak mengajarkan kita untuk memelihara kebersamaan.

Jika seorang intelektual saja kejepit oleh pusaran persaingan yang tak sehat, apalagi kaum marginal tentu sangat sulit untuk mendapatkan kesempatan hidup layak.

Wajar kalau di negeri gemah ripah loh jenawi ini, ketimpangan (terutama ekonomi) begitu menyolok. Kita akan dianggap otupis kalau berharap akan ada pemimpin yang mempo­sisikan diri seperti Rasulullah: kalau rakyatku kelaparan maka akulah orang pertama yang merasakan lapar itu. Seba­liknya, jika rakyatku kenyang biarlah aku orang yang terak­hir merasakan kenyang itu.

Konsep pendistribusian kesejahteraan baru berkutat pada cuap‑cuap di belakang podium , belum menukik hingga tataran realitas. Konon, sebelum memasuki masa pensiun, para oknum peja­bat bukannya memilih zuhud dan memperbanyak muhasabah, justru tambah gesit menghimpun kekayaan pribadi. Tak peduli kalau sepak‑terjang mereka itu menyengsarakan rakyat. Asal­kan, di hari tua mereka bisa ongkang‑ongkang di kursi malas.

Maraknya kriminalitas, bukan semata karena para pela­kunya memang ditakdirkan berbakat untuk jadi penjahat. Barangkali, situasi mereka sudah sedemikian kejepit akibat kebutuhan yang mendesak, sedang mereka tak melihat peluang lain kecuali mengambil jalan pintas. Atau, bisa pula lantar­an mereka apatis terhadap orang‑orang di sekeliling yang sangat langka memberi keteladanan.

Sebagaimana gugatan Emha Ainun Nadjib, bahwa anak‑anak kita telah dikepung oleh pasal‑pasal hukum yang diperjualbelikan. Oleh ayat‑ayat agama yang dijual eceran. Oleh tradisi penafsiran sepihak. Oleh pemaksaan yang damai, kemunafikan yang harmonis, manipulasi yang bermuka ramah, kepalsuan yang cerah dan penghisapan yang nikmat. Anak‑anak makin tidak menemukan tempat untuk meneladani kejujuran. Anak‑anak digiring memasuki komune tempat perzinaan massal dari sejarah yang auratnya terbuka tapi berwajah bopeng.

Di tengah situasi demikian, bisakah kita berharap akan lahir generasi yang berjiwa luhur dan istaqomah? Entahlah …

***


Posted in Refleksi

Ketika Rakyat Cemburu

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Kata kaum pintar
Supaya negara kuat
Rakyat harus lemah
Dan kami tidak ingin mengatakan
Bahwa agar rakyat kuat
Negara harus lemah
Sebab kami tidak mencita-citakan
Kerakusan yang sama
Kami hanya memimpikan
Tawar-menawar yang seimbang
Untuk pemerataan dan kesepadanan

(Sajak “Doa Kemarau Politik yang Teramat Panjang“, Emha Ainun Nadjib).

Jadi rakyat kecil memang harus banyak bersabar. Tak bisa lain, toh mengeluh pun tak ada yang peduli. Protes sampai mulut berbuih dan urat leher tegang, hasilnya juga tidak terlalu ditanggapi. Para pejabat dengan enteng berkata: aspirasi kalian akan kami tampung. Tanpa ada tindak-lanjut konkrit yang melegakan semua pihak. Satu masalah bukannya selesai, tetapi terkubur dan terlupakan oleh masalah baru. Inikah tabiat bangsa kita?

Kini, nasib rakyat semakin terpuruk. Setelah sebagian subsidi BBM ditarik pemerintah, kemudian disusul kenaikan tarif dasar listrik (TDL) dan telpon. Tatkala gaji pegawai negeri naik, harga bahan pokok ikut meroket. Sementara penghasilan rakyat cenderung mandeg. Bahkan belakangan gencar terjadi pemutusan hubungan kerja, sehingga jumlah pengangguran kian meningkat.

Ya, jadi rakyat kecil memang harus banyak bersabar dan mengelus dada. Untuk mencari nafkah saja, sekedar memenuhi kebutuhan keluarga, kadang mesti diuber-uber petugas Satpol PP. Mereka mungkin setuju dengan larangan berjualan di pinggir jalan — demi tidak merusak estetika kota — tapi alangkah bijaknya jika aturan itu dibarengi dengan alternatif untuk menyediakan lahan yang memadai. Pasar tradisional kurang mendapat porsi, meskipun sebetulnya minat masyarakat cukup besar.

Di tengah kondisi hidup yang serba prihatin ini, rakyat lagi-lagi dibuat pangling dengan berita kenaikan tunjangan rumah anggota DPRD Propinsi Kalsel 6-8 juta rupiah. Wajar kalau rakyat cemburu sembari mempertanyakan: dimana keberpihakan terhadap wong cilik? Mereka seolah merasa tidak malu menuntut tunjangan fantastis tersebut, sementara rakyat hidup dalam kondisi ketelingsut.

Anjuran hidup sederhana hanya berlaku untuk rakyat kecil, bukan ditujukan kepada pejabat atau anggota dewan terhormat. Kalau mereka bergelimang aneka kemewahan dan kemanjaan itu ‘lumrah’ agar mata dunia tahu bahwa kita negara yang makmur. Barangkali saja tingkat kesehjateraan negeri ini diukur dari penampilan dan gaya hidup para ‘wakil rakyat’-nya?

Kalau kaum terpelajar menggugat, maka sodori saja mereka dengan ungkapan: “Jangan kau tanya apa yang bisa negera berikan kepadamu, tapi tanyakanlah apa yang bisa kau berikan buat negara.” Pasti beres!

Sementara rakyat terus-menerus disuruh berkorban untuk kepentingan negara, diam-diam atau terang-terangan para pejabat kita maupun anggota dewan tak sungkan-sungkan menuntut kepada negara untuk berkorban pada mereka. Bila kenyataannya demikian, adilkah itu?

Maka, jangan heran jika kemudian rakyat memaklumatkan rasa cemburu mereka.

Teman saya, seorang ustadz, merasa terpanggil untuk ikut nimbrung mengomentari tentang kenaikan tunjangan rumah anggota DPRD Kalsel. Katanya, mereka itu belum lagi sampai pada tahap muslim yang ‘berpuasa’ karena tak mampu mengendalikan nafsu pribadi di tengah mayoritas rakyat yang hidup serba prihatin.

Bahkan, lanjutnya, mereka itu juga tak lolos ’shalat’. Karena dalam shalat itu mesti diakhiri dengan ’salam’, sedangkan mereka tak menunjukkan kepedulian terhadap sekelilingnya.

Dan jika kecemburuan sosial terus dibiarkan, apa yang akan terjadi? Paling tidak, bisa mengurangi atau mematikan kepercayaan rakyat. Maka, jangan sepelekan gelegak cemburu kami ini!

***


Posted in Refleksi

Kepalan Tangan

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Sekitar tahun 1993 saya mengikuti mata kuliah Pengantar Ilmu Hukum. Di depan para mahasiswa H Abdurrahman SH MH — sekarang hakim agung — menguraikan beberapa pendapat para pakar tentang definisi hukum. Di akhir paparannya, tiba-tiba beliau nyeletuk, “Hukum itu adalah … nih! (Sambil mengepalkan tangan)”. Waktu itu boleh jadi beliau cuma goyun. Tapi, dalam persepsi saya justru itu yang paling mewakili dari realitas pelaksanaan hukum di Indonesia.

Betapa penerapan hukum belum sepenuhnya bebas dari berbagai pengaruh kekuatan dan kekuasaan.

Memang, dalam tataran teori disebutkan bahwa semua warga negera bersamaaan kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan. Tapi, kenyataannya perlakuan terhadap maling ayam dengan penjahat berkrah putih, amat berbeda. Kalau pejabat korupsi, sering proses penahanan mereka ditunda-tunda. Sekalipun akhirnya divonis toh hukumannya sangat tidak memadai dibanding kesalahan dia mahantup uang rakyat. Dan tak jarang waktu di sel dia mendapat perlakuan istimewa, disediakan fasilitas khusus. Atau dengan dalih berobat karena sakit — padahal boleh jadi itu cuma alasan yang dibuat-buat — anak mantan pejabat dengan mudah mendapatkan izin keluar dari penjara lalu bersenang-senang di kawasan puncak.

Kita salut dengan gerakan kepolisian yang bertekad untuk memberantas praktik ilegal logging. Sayangnya, masih sering terjadi diskriminasi hukum. Masak sopir yang menarik upah mengantarkan ulin untuk pembangunan gedung sekolah, mobilnya langsung disita dan orangnya ditahan. Sementara seorang pengusaha besar yang dikenal sebagai dalang di balik maraknya penebangan liar cuma dijatuhi hukuman masa percobaan. Kendati divonis, tapi dia tetap bebas berkeliaran di luar. Jadi, sama juga bohong!

Masyarakat yang kritis tentu tidak buta terhadap kenyataan tersebut. Mereka bisa mengendus dan merasakan kuatnya aroma diskriminasi. Betapa orang-orang berduit masih bisa seenaknya mempermainkan hukum. Akibatnya, tingkat kepercayaan mereka atas penegakkan hukum di negeri ini jadi lemah. Bahkan mungkin apatis.

Kalau mengacu pada teori Donald Black disebutkan ada lima faktor penyebab munculnya diskriminasi hukum, yaitu stratifikasi, morfologi, kultur, organisasi, dan pengendalian sosial.

Status sosial seseorang yang lebih tinggi, akan menyebabkan dia mendapat perlakuan berbeda dibandingkan dengan seseorang yang berstatus sosial lebih rendah, meskipun dikenal adagium equal justice under the law. Sehingga Prof Achmad Ali dengan nada satire menyindir, “semua orang sama kedudukan di bawah hukum, tetapi siapa dulu bapaknya….”

Hal itu jelas cuma akan membuahkan kegamangan hukum. Adagium tentang kesederajatan jelas-jelas dipatahkan oleh adannya diskriminasi hukum.

Padahal Rasulullah jauh-jauh hari telah mengingatkan bahwa salah satu tanda kehancuran suatu negeri apabila pembesarnya melakukan kejahatan, maka dibiarkan. Tapi, jika pelakunya orang kecil, maka hukum diterapkan dengan keras (HR Muslim).

Kenapa? Karena rakyat sudah lagi percaya dengan pemimpinnya. Akibatnya, mereka enggan diarahkan kepada kebaikan dan kerelaan berkorban, itu lantaran mereka terlanjur beranggapan segala kebijakan pembesar hanya untuk kepentingan para pejabat beserta konco-konconya.

Ini pula yang mengilhami saya beberapa tahun lalu untuk menulis puisi berikut:

Aku tak percaya butir-butir pasal bisa menjelma embun
Jika tangan para penaburnya belepotan dengan kotoran
Aku sangsi ketuk palu menyuarakan keadilan
Jika keputusan dapat diperjualbelikan
Aku memandang sinis yang namanya lembaga sakral
Jika iman para penghuninya masih dangkal
Mata berkunang-kunang, nurani terjungkal
Dijegal sumpal segepok uang pemilik kantong tebal
Aku ragu ruang pengadilan mampu mewakili suasana pagi
Di mana secercah cahaya mengiringi terbitnya kejujuran
Aku menanggung perih yang tak terperi
Manakala menyaksikan orang-orang lemah dikalahkan
Hanya karena mereka tak punya harta dan kuasa
Maka, meja hijau pun menjadi dagelan
Yang menyebalkan di mana tuan-tuan berdasi
Sepakat bicara dalam bahasa rekayasa.

Mendadak kesadaranku tersentak
Teringat Sang Junjungan punya wasiat:
“Tunggulah kebinasaan suatu bangsa
Di mana kalian tak mungkin mengelak darinya
Semata karena sukma keadilan dibiarkan tak berdaya
Disekap paksa dalam pengap keranda
Yakni apabila rakyat jelata berbuat cela
Ia mesti menerima sanksi
Tetapi ketika penguasa yang berbuat nista
Semua seperti sengaja menutup mata
Demi cahaya iman yang memancar di dada
Sekiranya putriku Fatimah mencuri sekerat roti
Pasti tangannya kupotong sendiri!

***


Posted in Refleksi

Kandidat

Oleh: Aliansyah Jumbawaya

Konstilasi politik di negeri Amarta mulai memanas. Menjelang Pilkada para kandidat gesit bergerak, melancarkan trik-trik mempuni. Jurus-jurus pamungkas mereka kerahkan untuk menjaring massa pendukung sebanyak mungkin. Pokoknya berbagai taktik dan strategi dibikin berlapis, disesuaikan dengan strata pemilih yang hendak dibidik.

Adapun mereka yang meramaikan bursa pilkada, antara lain:

Si Pilas (boleh diterjemahkan si Bengkok) sesuai dengan tabiatnya acapkali melakukan berbagai keculasan. Ini nampak ketika dia berkuasa terlalu sering melakukan kebohongan publik. Tapi, dia begitu pandai menyembunyikan kebusukan mentalnya. Bahkan saat tersudut sekalipun dia masih lihai untuk berkelit. Akibatnya, justru lawan-lawan politiknya yang kewalahan meladeni sepak-terjangnya.

Karena jauh-jauh hari si Pilas sudah merancang bakal ikut berlaga di arena Pilkada, mumpung jadi pejabat dia gunakan kesempatan tersebut untuk cari muka di hadapan wargaa. Misalnya, pada pekan tertentu dia bagi-bagi uang kepada kaum dhuafa biar dianggap pendekar budiman yang memiliki sifat dermawan. Padahal dana sumbangan itu dicaplok dari kas negara. Rakyat akar rumput mana jeli melihat hal itu. Mereka terlanjur dinina-bobokan. Karena kerongkongan rutin dibilas rupiah, feat control mereka pun begitu merdu menyanjung-puji si Pilas.

Di samping itu, dia juga sigap bergerilya. Rajin melakukan kunjungan kerja ke daerah-daerah terpencil, sambil memberikan bantuan si Pilas sekalian minta dukungan. Padahal fasilitas yang digunakan adalah milik negara.

Lain lagi dengan si Pulus, karena kantongnya tebal dia beranggapan suara pemilih bisa dibeli dengan uang. Bahkan dari awal dia berkeyakinan kalau tak punya stok pulus memadai sebaiknya tak usah maju ikut Pilkada. Karena itu, untuk menarik simpatisan dia royal menghambur-hamburkan uang. Getol menggelar aneka lomba dengan hadiah wah sekadar buat pamer kepada warga bahwa dia adalah calon pemimpin yang mapan sehingga jika terpilih nanti tidak akan kemaruk melakukan korupsi.

Tak jarang untuk mendongkrak popularitasnya si Pulus gemar menggelar acara dangdutan. Sdikitpun tak menyinggung apa misi dan visinya andai terpilih jadi pemimpin. Sebab, sejauh pengamatan dia tingkat kecerdasan politik masyarakat masih rendah, pilihan lebih kepada ketakjuban terhadap figur ketimbang menelusuri kredebilitas bersangkutan.

Ada pula kandidat bernama si Poles. Karena dari awal tak punya pulus, kebetulan begitu ada pengusaha yang mendanai maka dia tak keberatan berperan sebagai wayang. Tipe seperti ini dikhawatirkan bila kelak terpilih tugasnya tak lebih dari tukang cat, sekadar mengikuti pesanan sang dalang.

Berikutnya adalah si Palas, untuk mewujudkan ambisinya dia tak segan-segan mempersembahkan tumbal. Segala cara dilakoni, asalkan itu bisa menghantarkan ke puncak kekuasaan dia tega mengorbankan banyak orang.

Meskipun para kandidat tersebut di atas berbeda karakter dan tabiat, tapi mereka juga banyak punya kesamaan. Misalnya, yang dulu jarang shalat berjamaah, kini rajin hadir ke berbagai masjid dan mushala. Yang tadinya rada cuek berubah ramah dan murah senyum. Rasa sosialnya jadi tinggi; setiap ada musibah selalu mengulurkan bantuan, apalagi tahu kalau bakal diekspos media massa. Pokoknya di setiap momentum penting mereka selalu berusaha untuk tampil, hitung-hitung sebagai ajang kampanye.

Satu hal yang sangat diharap-harapkan rakyat bahwa pada ajang Pilkada ini bakal muncul kandidat bernama si Polos. Yakni tokoh yang punya trick record bersih dan benar-benar memperjuangkan aspirasi rakyat. Sayangnya, sosok yang didamba-dambakan tersebut tak kunjung muncul. Soalnya, baru sampai tahap penjaringan parpol dia sudah terdepak. Sebab, katanya, bagaimanapun kandidat yang dicari-cari adalah yang punya banyak pulus untuk menyokong keberadaan partai. Test and property hanya sekadar sandiwara satu babak.

Kalau sudah begitu, tidak usah heran jika catatan perjalanan kepemimpinan di negeri Amarta tak kunjung beranjak dari kilometer nol — meminjam istilah Taufik Ismail. Jadi, apakah kelewat muluk bila kita berharap akan muncul sosok pemimpin yang mendekati ideal? Silakan jawab sendiri!

***


Posted in Refleksi

Brutal

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Lihatlah bola mata anak‑anakmu berbinar saat menyaksi­kan film laga. Mereka serta‑merta riuh‑rendah bertepuk tangan manakala tokoh jagoannya melancarkan aksi balas dendam. Batok kepala mereka direcoki beragam adegan kekera­san. Darah, mesiu, mayat bergelimpangan seakan menjadi pemandangan biasa.

Perlahan namun pasti mereka kelak bakal mempersepsikan bahwa kepahlawanan adalah siapa pun yang mampu mengalahkan lawannya tanpa ampun, pembinasaan adalah akhir dari penyele­saian masalah.

Naifnya, kau malah tersenyum menyaksikan momentum kecil itu seakan merestui upaya transfer kekerasan yang didalangi pemilik Production House yang semata berorientasi pada keuntungan finansial.

Maka tak perlu kaget jika setiap pagi, sebelum sempat menyerompot segelas kopi engkau keburu disuguhi berita kriminalitas. Modus operandi kejahatan pun kian canggih dan terorganisir. Kita semakin akrab dengan penganiayaan serta pembunuhan massal. Orang kian pandai merakit bom waktu dan meledakannya untuk suatu alasan yang mungkin sepele.

Sesekali cermatilah lebih seksama bagaimana ekspresi pelaku kejahatan dalam tayangan “Derap Hukum”, adakah kau temukan bias penyesalan di wajah mereka? Sudah pupuskah rasa kemanusiaan di antara kita? Apakah nyawa manusia tak lebih berharga dari uang recehan yang diperebutkan?

Padahal dalam surah Al Isra’ ayat 33 Allah SWT memper­ingatkan: “Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan (alasan) yang benar”.

Anehnya, manusia malah gemar mencari alasan pembenar!

Amerika Serikat yang mengaku sebagai polisi kemanu­siaan, justru di tangan negara super power ini HAM bukan lagi Ham Azasi Manusia melainkan “Hukum Adalah Mereka”.

Agar Badan Intelejin mereka tidak dianggap lemah berke­naan dengan peristiwa hancurnya gedung WTC dan Petagon maka diperlukan kambing‑hitam. Tanpa didasari bukti kuat AS seenaknya menuduh Osama bin Laden sebagai dalang di balik peristiwa itu. Dengan brutal mereka melepas ratusan rudal ke Afganistan setelah batasan waktu yang ditujukan kepada tentara Taliban untuk segera menyerahkan Osama tidak diin­dahkan.

Kini ratusan nyawa warga sipil tak berdosa bergelimpan­gan. Lewat televisi kita bisa saksikan bagaimana kebiadaban tentara AS yang didukung para sekutu. Kemudian untuk menutu­pi kebobrokannya AS menghimbau agar menyeleksi tayangan yang disebar‑luaskan stasiun Azeera.

Adakah nyawa manusia tak lebih berharga dari seonggok daging? Ya, manakala nurani telah mati, angkara pun merajai hati. Selalu ada dalih untuk melegalisasi kebrutalan.

***

Banjarmasin, 16 Oktober 2001



Posted in Refleksi

Memaknai HUT Kemerdekaan

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Di kota‑kota besar, di sudut‑sudut kampung, bahkan di dalam gang‑gang sempit, orang‑orang sibuk membangun gapura, memasang umbul‑umbul, memajang bendera merah‑putih. Jutaan rakyat di seantero Nusantara diliputi suasana suka‑cita. Tak terasa 63 tahun sudah Indonesia memproklamirkan kemerde­kaannya.

Kemerdekaan bukanlah anugerah dari langit. Atau hadiah kaum penjajah, melainkan berkat kegigihan para pahlawan yang tak mengenal kata menyerah. Perjuangan mereka dilandasi niat luhur untuk kebahagiaan generasi berikut di masa depan. Mereka kesampingkan derita dan airmata, bahkan sedia berkor­ban nyawa demi tegaknya Indonesia di mata dunia.

Kepada para syuhada itu, Allah telah menjanjikan maqam mulia sebagaimana firman‑Nya dalam surah Al Baqarah ayat 154: “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang‑orang yang gugur di jalan Allah itu mati; karena sebenarnya mereka hidup, tapi kamu tiada menyadarin­ya.”

Lalu apa realisasi dari generasi sekarang, bahwa kita sungguh‑sungguh mewarisi semangat pahlawan? Betapa merah itu mengisyaratkan gelora yang tak pernah lindap untuk mewujud­kan cita‑cita bangsa. Betapa putih itu menegaskan setiap langkah kita selalu disertai niat yang suci.

Setengah abad lebih sudah kita terbebas dari cengkera­man kolonial. Namun, kita masih saja gagap untuk menerjemahkan arti kemerdekaan.

Sudahkah kita merdeka? Kalau di televisi kita saksikan ratusan pelacur jalanan kocar‑kacir diuber‑uber petugas kantib, dan sebagian terpaksa nyemplung di selokan. Padahal wanita mana yang mencita‑citakan dirinya untuk jadi pelacur. Mereka terpaksa melakoni profesi itu, dan menanggalkan rasa malu, lantaran tak melihat cara lain untuk menyambung hidup. Sarjana saja banyak yang nganggur, karena peluang kerja tak memperhitungkan potensi yang dimiliki seorang individu, melainkan tergantung seberapa berani ia menyogok instansi terkait.

Sudahkah kita merdeka? Kalau ribuan TKI terlunta‑lunta nasibnya di negeri jiran. Sebab di bumi asalnya, yang katan­ya gemoh ripah loh jenawi, mereka terlanjur pesimis berharap untuk bisa hidup layak. Karena konsep pendistribusian kese­jahteraan yang merata cuma sebatas koar di belakang podium.

Sudahkah kita merdeka? Kalau ribuan buruh diperlakukan seperti sapi perahan. Karena para pengusaha berjiwa kapita­lis tahu persis betapa sulit mencari lowongan kerja saat ini, sehingga meski upah yang ditawarkan sangat minim tetap saja orang‑orang akan antri berduyun‑duyun.

Sudahkah kita merdeka? Kalau polisi dan tentara tak lagi memberi kita rasa aman.

Sudahkah kita merdeka? Kalau perangkat hukum tak ubahn­ya seperti sarang laba‑laba yang hanya mampu menjaring habitat kecil, namun tak berdaya ketika berhadapan dengan kuku‑kuku kekuasaan.

Sudahkah kita merdeka? Kalau kita merasa asing di tengah saudaranya sendiri hanya karena perbedaan‑perbedaan sepele.

Sudahkah kita merdeka? Kalau amanat rakyat terus-menerus dikhianati. Para politisi gemar melancarkan trik-trik klasik: ‘atas nama rakyat’, padahal target yang diperjuangkan adalah demi kepentingan kelompoknya.

Sudahkah kita merdeka? Kalau untuk mendapatkan pendidikan harus menggadaikan sertifikat tanah dan sawah.

Sudahkah kita merdeka? Kalau kaum proletar terus didesak mengorbankan lahannya dengan ganti rugi yang kurang memadai (namanya juga ganti rugi, ya pasti rugi!) demi pembangunan yang cuma dinikmati oleh segelentir pejabat dan konco‑konconya.

Sudahkah kita merdeka? Kalau ulama yang berani menyata­kan bahwa yang haq itu haq dan yang batil itu batil jumlahn­ya kian merosot karena takut berhadapan dengan kekuasaan yang zalim.

Sudahkah kita merdeka? Atau jangan‑jangan sampai sekar­ang kita tetap dibelenggu oleh kekuatan terselubung yang melumpuhkan, yang amat sistematis dan tertata rapi hingga kita tak pernah menyadari bahwa sebenarnya kita masih dija­jah.

Adalah tugas kita semua untuk memperjuangkan dan memak­nai kemerdekaan. Yakni dengan mengaktualisasikan potensi diri seluas‑luasnya bagi kemaslahatan sesama. Karena sebaik‑ baik manusia adalah mereka yang paling bermanfaat bagi lingkungannya.

***


Posted in Refleksi

Etalase

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Betapa anggun dan megah bangunan itu. Bentuknya yang unik menyerupai pesawat UFO menjadi daya magnetis tersendiri bagi masyarakat Kalsel. Dana untuk pembangunannya pun tak kepalang tanggung, menelan milyaran rupiah.

Dulu, saya yang memang dari sononya punya bakat pemim­pi, sempat membayangkan bahwa di Banjarmasin bakal semarak oleh kegiatan yang sarat nuansa Islami. Dengan adanya fasil­itas gedung Sultan Suriansyah pagelaran seni‑budaya Islami akan lebih bergairah.

Tetapi kenyataannya, justru sering diisi untuk acara perhelatan perkawinan akbar kalangan pejabat dan penguasa. Dan, pemandangan ini sudah lama berlangsung. Persis dua tahun lalu, naluri saya sempat terusik sehingga kemudian termotivasi untuk menggugat lewat karya fiksi.

Dalam cerpen tersebut, Gedung Bundar yang telah saya beri “roh” berkesempatan menumpahkan seluruh uneg‑unegnya: “Dulu, aku sempat bungah ketika mendengar bakal difungsikan untuk kepentingan orang banyak. Aku akan dijadikan ajang para calon intelektual berdebat dalam diskusi, sarasehan, sambil belajar bagaimana berdemokrasi.

Tapi ternyata aku hanya milik segelintir orang. Aku lebih banyak digunakan untuk tempat resepsi perkawinan orang‑orang berduit dan berpangkat. Bukankah Nabi Junjungan pernah memperingatkan bahwa seburuk‑buruknya pesta adalah tempat dimana orang‑orang kaya makan minum sambil bersendau gurau, sementara orang‑orang miskin cuma bisa menatap dari luar…”

Fakta yang menelingkupi seputar penyimpangan fungsi gedung bundar, hanyalah secuil narasi dari kenaifan sikap kita dalam merumuskan arti pembangunan. Kita begitu berse­mangat mempersolek kota dengan gedung‑gedung megah, dan sesudahnya sering tidak tahu mau difungsikan untuk apa bangunan tersebut sebenarnya. Akibatnya, semua itu tak lebih dari sekadar etalase penyedap mata.

Kita terlalu mudah terpaku pada wujud zahir dan melupa­kan hakikat. Lihatlah, kita begitu antusias membangun masjid tapi malas menjadi jamaahnya. Setiap hari lantainya diber­sihkan, tapi batin kita sendiri dibiarkan berdebu. Rumah kita penuh dengan pajangan kaligrafi indah, tapi lidah kita sepi dari dzikir.

Tata kota dibangun sedemikian rupa, supaya turis Manca­negara jatuh hati. Untuk itu, agar citra nusantara tetap terpelihara, maka pedagang asongan, penarik becak, apalagi gelandangan harus disingkirkan. Demi nama baik sesaat di mata turis, pejabat kita rela menanggalkan rasa kemanusiaan justru terhadap rakyatnya sendiri. Mengapa? Karena kita terlanjur percaya bahwa identitas itu terletak pada eta­lase, bukan di atas kepribadian!


Posted in Refleksi

Panjang Angan

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Bulu mata istri Polan berkerjap‑kerjap diserbu barisan iklan sepanjang jalan. Ia bayangkan dirinya bak Cinderella, bergelimang kemanjaan. Dan, si bungsu terlanjur mengidenti­fikasi dirinya bagai Richie Rich. Padahal saat terjaga, fakta yang terpampang ialah betapa kropos dompet suaminya lantaran terus digasak tuntutan hidup sehari‑hari.

Inikah sasaran yang ingin dicapai para kapitalis, menjamuri benak generasi kini dengan beribu impian? Hasil riset membuktikan, tidak kurang dari 400.000 kali dalam setahun memori kita dijejali dengan berbagai iklan. Bukti terdekat, baru‑baru ini Banjarmasin menyandang predikat kota seribu reklame.

Belum lagi, yang tampil dalam bentuk terselubung. Simaklah tayangan televisi yang doyan pamer kemewahan. Seorang anak SMU berangkat sekolah pakai mobil BMW, kemana‑mana menenteng handphone. Rumahnya pun tingkat dua, dilapisi porselin, lengkap dengan kolam renang plus perabotan serba luks. Deskripsi semacam inilah yang menjadi mainstream dalam kancah sinetron Indonesia. Kemudian seolah menghipnotes para pemirsa: betapa aneka kemewahan itu dengan mudah dapat direngkuh.

Sementara, film Langitku Rumahku yang di luar negeri mendapat penghargaan, di negerinya sendiri justru pernah tidak diperkenankan menjadi bahan konsumsi, lantaran ceritanya yang mengekspos tentang kemiskinan dianggap bisa mencoreng citra Indonesia. Akibatnya, sutradara kita lebih memilih cara aman, yakni menjual mimpi glamor ketimbang memotret wajah cacar rakyat jelata.

Jadilah cerita‑cerita model Jin dan Jun, Jenny Oh Jenny, Tuyul dan Mbak Yul, Aladin, Bidadari, yang meluluh‑lantakan logika begitu akrab dengan keseharian kita. Seakan dengan ayunan tongkat ajaib segala impian bisa terwu­jud. Implikasinya, dapat melemahkan etos kerja!

Kasus lain, di tengah keterpurukan ekonomi bangsa, Yamisa datang menawarkan iming‑iming: setiap bulan per jiwa akan mendapat Rp 400 ribu. Tentu saja heboh. Sampai hari ini rakyat terus berharap. Apakah janji muluk ini akan terwujud atau cuma harapan tanpa ujung?

Padahal sudah merupakan sunatullah, bahwa untuk menda­patkan sesuatu itu perlu proses dan ikhtiar, tak ada yang namanya “keajaiban dari langit”. Berkah Tuhan biasanya berbungkus kesulitan. Siapa yang gigih mengupas kulit itu, dialah yang berhak menikmati karunia berlebih dari Allah.

Demikian, Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu sendiri berusaha merubahnya. Takdir adalah titik terakhir dari perjuangan maksimal. Bukan bertopang dagu atau membelenggu leher sambil mengumbar angan.

Rasulullah Saw bersabda, “Sesuatu yang paling mengkha­watirkan atas kamu adalah dua hal, yakni angan‑angan yang muluk dan mengikuti hawa nafsu.” Karena keduanya akan mem­buat orang lupa pada kehidupan akhirat dan menghalanginya dari suara kebenaran.

Dalam hadis lain disebutkan pula bahwa kesalehan gener­asi awal umat Islam berkat menjaga jarak dari hal‑hal kedu­niawian. Sedangkan kebinasaan generasi akhir umat ini akibat kebatilan dan muluknya angan‑angan.

Mimpi muluk bukan hanya membuat orang lalai terhadap realitas di depan mata, kadang dibarengi pula dengan tinda­kan‑tindakan konyol. Seperti yang diungkapkan pribahasa lama: karena terkecoh bunyi halilintar di langit, air di tempayan ditumpahkan. Berapa banyak orang yang tertipu lantaran tergiur janji‑janji fantastis. Misalnya, berharap kaya dengan membeli kupon putih sehingga malas bekerja.

Tak ada yang gratis dalam hidup ini, semua mesti ditebus dengan cucuran keringat. Simsabim adradabra, lalu permintaan seketika menjelma, hanya terdapat dalam negeri dongeng. Dan Islam sangat mencela mereka yang berpanjang angan. Mengimpikan sesuatu memang sah-sah saja, bahkan dalam teori psikologi terapan merupakan titik tolak bagi sebuah kemajuan. Dengan catatan, asalkan ada tindak-lanjut berupa langkah-langkah konkrit.

Karena itu, mari bangkit dari lena, susun rencana, ayun langkah dalam karsa dan karya. Sekali berarti, sudah itu terus berprestasi. Biarkan sejarah mencatat nama kita. Diperhitungkan atau tidak, tugas kita adalah mencoba mengekspresikan dan mengaktualisasikan potensi yang kita miliki. Tentu, dengan niat lillahi ta’ala.


Posted in Refleksi

Aneh Tapi Mulia

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Dalam masyarakat kontemporer, teramat banyak realitas yang sulit dimengerti oleh akal sehat. Lihatlah remaja ABG kita, tak kuasa menahan histeris begitu menyaksikan sang idola unjuk kebolehan di atas pentas. Untuk sekadar bisa berjabatan, atau mendapatkan tanda tangan, apalagi bisa foto bareng dengan bintang pujaan, mereka rela berdesak‑desakan sampai pingsan. Bahkan ada yang hingga tewas. Sebuah ekpresi kecintaan yang terlampau berlebih‑lebihan…

eramuslim.com

Betapa picisan dan dangkalnya standar yang kita tetap­kan atas hidup. Yang diuber‑uber dan diperjuangkan melulu bayang‑bayang semu!

Kita jarang punya kesungguhan hati untuk benar‑benar memahami hakikat hidup. Seluruh energi yang kita miliki tercurah untuk mengecap kesenangan sesaat, kekayaan yang memabukan, kekuasaan artifisial. Dalam mengokohkan identitas diri, kita lebih memilih penampilan fisik ketimbang keluhur­an budi, lebih menghargai bungkus ketimbang isi. Akibatnya, orientasi hidup kita berkiblat pada citra, simbol, atau tanda‑tanda (sign) yang tidak ada nilai gunanya (use value).

Berapa banyak orang‑orang kaya, pejabat, selebritis kita yang memesan nomor plat mobilnya, dan untuk itu rela membayar mahal, demi menciptakan interpretasi baru. Tak ada nilai pragmatis memang, kecuali mungkin untuk menonjolkan keakuan.

Terhadap benda‑benda teknologi, keinginan kita untuk memilikinya sering dimotivasi oleh gengsi, bukan karena fungsi atau demi efektivitas kerja. Dan budaya konsumtif ini telah menjangkiti berbagai lapisan masyarakat. Saya barusan terkaget‑kaget karena ‘ditodong’ oleh si Bungsu yang minta dibelikan handphone, lantaran teman‑temannya di Madrasyah, katanya, selalu menenteng HP. Untunglah dompet saya lagi paceklik, jadi ada alasan untuk tidak memenuhi hajatnya yang prematur itu.

Ironisnya lagi, gaya hidup yang menonjolkan pada kepe­milikan benda‑benda wah, seolah menjadi mainstream (arus utama) dalam tata pergaulan kita. Buktinya, orang yang berharta lebih dihormati ketimbang orang yang berakhlak mulia. Aksesoris sosial berupa pangkat, kedudukan, harta, menjadi acuan kesuksesan seseorang. Sementara bening atau pekat sisi batin yang bersangkutan, sering luput dari perha­tian kita.

Pola hidup yang kita pedomani cenderung American Style. Budaya Barat nyaris mendominasi seluruh tata ruang pergaulan kita. Hampir setiap tayangan TV menjadi bursa pemanjaan hasrat libido. Betapa banyak sudah umat Islam yang kehilan­gan identitas diri lantaran mengadopsi cara‑cara hidup yang bertentangan dengan aqidah agama yang dianut. Perempuan yang pamer kemolekan tubuh sudah menjadi pemandangan lazim dalam keseharian kita.

Aparat kepolisian yang katanya adalah salah satu penja­ga moral bangsa, justru mempersulit warganya yang ingin membuat SIM dengan foto berjilbab. Sementara Sales Promotion Girl yang berpakaian serba mini malah seolah memperoleh keleluasaan, sengaja memancing jakun kaum pria yang mempelo­totinya turun‑naik.

Mereka yang konsisten memelihara auratnya, malah dipan­dang nyelineh. Mereka yang punya sikap istiqomah dalam menjalankan syariat Islam justru dicap kolot dan puritan. Mereka yang tidak mau mengenal diskotik, ekstasi, gemerlap kehidupan malam, serta‑merta dianggap kuper dan ketinggalan zaman.

Mengenai hal ini Rasulullah jauh‑jauh hari telah men­gingatkan: “Agama Islam dimulai dengan aneh. Rasul dan para sahabat yang pada waktu itu jumlahnya masih sedikit, pada saat mengajak orang‑orang kafir ke jalan tauhid, dianggap aneh dan asing. Akan tetapi Islam kian berkembang dan diken­al banyak orang. Namun setelah itu, Islam akan kembali menjadi asing dan aneh dalam pandangan umat manusia. Pada saat‑saat semacam ini, beruntunglah mereka yang dianggap aneh dan asing (ghuraba’) karena kecilnya jumlah mereka.”

Rasulullah lebih jauh menjelaskan siapa saja mereka yang dikategorikan sebagai ghuraba’ itu.

Pertama, mereka yang militan berusaha memperbaiki pola pikir masyarakat, dari yang tadinya bergelimang kemaksiatan, kembali ke jalan yang diridhai Allah. Walau di sekelilingnya banyak orang‑orang yang korupsi, ia tetap berlaku amanah, hanya menerima apa yang menjadi haknya. Tak peduli lantaran sikapnya itu, ia dicecar dengan umpatan sok suci atau pahla­wan kesiangan.

Kedua, mereka yang mengisi apa yang dianggap kosong, melengkapi apa yang dikatakan ganjil. Yaitu mereka yang gencar mengembangkan syiar Islam, justru di saat masyarakat banyak yang loyo dan enggan memperjuangkan ajaran Islam. Manakala orang‑orang disibukan untuk mengejar target duniawi dan kejayaan pribadi, ia justru lebih memilih memberdayakan tenaga, pikiran, harta dan ilmunya demi kemajuan Islam.

Ketiga, orang‑orang yang menghidupkan sunah Rasulullah setelah sekian lama ditelantarkan oleh umat manusia. Pada saat bid’ah menyebar di mana‑mana, pada saat kultur Barat yang menyesatkan menjadi acuan pergaulan masyarakat, mereka berani tampil beda, senantiasa berpegang pada Alquran dan sunah Rasul.

Nah, bersediakah kita dicap aneh oleh orang-orang di sekitar kita, tapi justru menyimpan rahasia kemuliaan dalam pandangan Allah?

***


Posted in Refleksi