Padepokan Pena - Gemar Membaca Giat Menulis

Trauma Alicia

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

(catatan tercecer tragedi Mei 1998)

Bias api menebar panas menyebar ngeri
Menembus pori-pori hingga ulu hati
Orang-orang kasak-kusuk berebut kesempatan
Menjarah aneka barang di pertokoan

Emosi yang disulut rasa benci tak beralamat
Mengguratkan tragedi dari kesumat warna pekat
Lembaran sejarah belepotan darah dan airmata
Juga keluh-kesah mereka yang teraniaya

Kota tiba-tiba menjelma medan Kurusetra
Penuh pecahan kaca dan kepulan asap
Pekik kalap bercampur jerit ratap
Tercipta oleh amuk membabi-buta

Mengenang peristiwa kelabu itu
Luka Alicia kian membekas biru di rabu
Ia diperkosa selagi menstruasi
Saat hendak pulang dari beli buku diary

Kini ia terus mendekam dalam kamar
Meratapi nasibnya yang penuh cacar
Pada lelaki berwajah sangar
Caci makinya gencar, dendamnya berkobar

Kini ia terus mendekam dalam kamar
Merenungi nasibnya yang penuh cacar
Hingga Alicia malu dan enggan keluar
Apalagi buat bertemu sang pacar

Setiap menatap nyala api
Ia acapkali histeris sendiri
Hingga orang-orang tak habis mengerti
Mendesak tanya: apa yang terjadi?

Tapi Alicia tak mau berbagi
Menyimpan rapi kemelut hati
Juga pada bunda yang turut berduka
Melihat si anak memendam derita
***
Sept, 1998


Posted in Puisi

Monumen

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Telah kuselami makna firman Tuhan

Agar tak berputus asa dari hamparan rahmat-Nya

Karena itu walau letih dan tertatih-tatih

Kutahan rintih, kusekap keluh

Terus melangkah meski tapak kaki kian melepuh

Dan tubuh pun penuh peluh

Mengisyaratkan jalan telah jauh kutempuh

Selama hatinya bukan bongkah batu

Aku takkan berhenti

Menggali kilau mutiara tersembunyi

Berapa pun harga yang harus dibayar

Perburuan semoga berujung tangkapan

***


Posted in Puisi

Ode Buat Ayah

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Meski diguyur peluh

Ia tak pernah mengeluh

Apalagi sampai mengaduh

Demi derai tawa anak-anaknya

Ia rela bergumul di segala medan dan cuaca

Bila pagi menyapa, ia telah siap sedia

Menyongsong matahari

Mengais rejeki

Kendati duka dan duri sukar diterka

Tapi asa tak pernah susut

Tapi langkah tak pernah surut

Adalah ayah: sosok perkasa

Yang mengolah bongkah batu menjadi tugu!

***


Posted in Puisi

Instrumentalia

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Benih kasih purba titipan Adam dan Hawa
Berbiak, merambatkan akar serabut di katup jantungku
Mendesak urat saraf menagih lahan gembur
Dinda, kaukah pewaris kesuburan itu

Tataplah pohon pinang di samping rumah
Berpuluh musim sudah mengurai mayang
Dan agin pun berhembus lembut
Menghantar semerbaknya ke bilik kamarmu.

Merpati bersedau-gurau dengan pasangannya
Bergulingan di permadani rerumputan
Sambil mencercap butir-butir embun
Mereka jalin kemesraan
Atas nama restu semesta
Dinda, tidakkah kau iri menyaksikannya?

Tiga purnama sudah kita lewati titian waktu
Bersulang canda sembari meragi hati
Tidakkah kau tangkap isyarat yang kubidik
Lewat kata dan tatapan mata?

***


Posted in Puisi

Di Depan Tembok Tradisi

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Demikianlah, kupilih kata paling baja
Kutempa hingga tajamnya menjelma senjata
Dik, mari tetak rantai tradisi karatan
Bukan, bukan karena keangkuhan
Atau lantaran kita asuhan era milineum tiga
Adalah semata demi karunia yang bermukim di dada
Yang sekian musim kita pelihara dari badai prahara
Haruskah kini porak poranda, tersia
Saat terbentur diskriminasi & persepsi salah kaprah
Bahwa kau yang gadis turunan Syarifah
Mesti berkait jari dengan lelaki Said
Telah berulang kudulang butiran makna Al Quran
Namun tiada kutemu ketentuan demikian
Maka, selama ikrar dan kiblat kita sama
Sepanjang itu jalan dan gerbang terbuka.

Banjarmasin, Mei 1999
***


Posted in Puisi

Seserpih Kisah Kasih

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Mana yang lebih mujarab
Ucap atau usap

Mana yang lebih candu
Lagu atau cumbu

Mana yang lebih ngilu
Sembilu atau cemburu

Ada yang paling luka
Duka atas prasangka

Ragumu memburu ragaku
Menjelma batu

Banjarmasin, Sept 2000

***


Posted in Puisi

Bahasa Romansa

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

ada yang lebih berarti
dari seumbar janji
ialah kesetiaan matahari
menyapa di tiap pagi

ada yang lebih berharga
dari selaksa kata-kata
ialah kesediaan bunga
berbagi pesona

ada yang lebih sarat makna
dari seuntai puisi
ialah tatapan jejaka
kepada juwita

ada yang lebih asyik
dari seribu bisik
ialah cercit sepasang gelatik
saling menggamit

Banjarmasin, September 2000
***


Posted in Puisi

Hari Terakhir Seorang Ibu

Oleh: Aliansyah Jumbawuya
Mengenang alm Hj Siti Sarah

Langit disaput mendung
Burung-burung enggan terbang
Tertegun di dahan-dahan dan reranting kering
Tunduk, turut larut dalam suasana berkabung

Pohon-pohon kaku
Daun-daun gagu
Terpaku menyaksikan drama penuh haru
Saat jenazah seorang ibu tengah ditandu

“Sungguh, telah ikhlas suami dan anak-anakmu
Melepasmu ibu
Karena surga dengan seribu pintu
Telah menunggumu!”

Sadar takdir tak dapat dipungkiri
Maka, 3 putra 2 putri 1 suami
Tak ingin tenggelam di arus duka tak bertepi
Hidup mesti dilakoni. Demikian kehendak Ilahi

Banjarmasin, Maret 1998

***


Posted in Puisi

Doa Kuam Dhuafa

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Aku ziarahi rumah kardus dengan isak tertahan

Mengusung bekas sayatan peradaban kosmopolitan

Atas nama tatanan & keindahan yang tercemar

Seenaknya kalian lepas buldozer yang gusar

Hingga dalam hitungan sekelebat bayangan

Perlindungan terakhir pun tinggal kenangan

Hiba dan airmata tak berarti apa-apa

Karena pamongpraja telah terbiasa tutup mata

Dengan retorika terlatih

Mereka berlagak seakan masih menyimpan simpati

“Maaf, kami cuma menjalankan titah paduka

Bahkan terpaksa mengabaikan nurani.”

Bila negosiasi kemanusiaan sudah tak mungkin lagi

Lantaran ego tuan mendominasi peluang kompromi

Kami, kaum dhuafa cuma bisa merangkai doa

Menembus petala langit bercadar mega:

“Ya Allah, batin ini telah kuyup oleh ketidakadilan

Akankan kami tenggelam ditelan angkara mereka

Ataukah musti merancang sebuah perlawanan?

Agar kepasrahan tidak disalah-artikan

Sebagai kelemahan.

Engkau pun telah menjanjikan

Selalu berpihak kepada orang-orang teraniaya

Lalu, kapan kau timpakan karma?

Agar mereka tak senantiasa mengumbar tawa

Di antara nestapa saudara-saudaranya.”

***

Bjm, Januari 2002


Posted in Puisi

Biografi Diri

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Lama, aku terpaku

Bagai arca

Mengkhidmati lembar-lembar kalender tua

Yang terkelupas satu-satu

Gemetar kusibak biografi diri

Betapa kerontang, kuning dan berdebu

Digantang waktu yang berpacu

Tanpa terasa butir airmata merembes di pipi

Menghitung merjan-merjan dosa

Pada hamparan catatan kelabu

Serasa masa lalu bagai benalu

Separuh usia digerumus lagak-laku sia-sia

Lama, aku termangu

Bagai batu

Bersekutu dengan kebisuan

Menghitung sisa perjalanan.

***

Amuntai, Februari 2002


Posted in Puisi
Halaman Berikutnya »