Padepokan Pena - Gemar Membaca Giat Menulis

Piawai Menulis Buah dari Ketekunan

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Penguasaan terhadap suatu keterampilan terbukti dapat memuluskan jalan hidup seseorang. Karena itu, penting bagi setiap individu untuk membekali diri dengan keahlian tertentu. Caranya bisa melalui pendidikan formal maupun otodidak.

Sebuah keterampilan, termasuk kemampuan menulis, tentu tidak diperoleh secara simsalabim, melainkan lewat proses yang cukup panjang. Tidak ada penulis yang lahir instan. Kalaupun ada yang begitu muncul langsung ‘menyentak’ jagad kepenulisan, sebenarnya tidaklah demikian. Jauh sebelumnya si bersangkutan telah menempa dirinya, hanya saja mungkin luput dari sorotan. Boleh jadi selama ini dia getol menulis, tapi tidak terpublikasikan.

Begitu pula para penulis yang sekarang kita kenal sangat produktif, mereka tidak serta‑merta piawai menulis. Dulunya juga mengalami banyak kendala, sering macet dan tersendat‑sendat saat hendak menuangkan gagasan. Namun, berkat tekun belajar, terus berlatih dan berlatih, seiring perjalanan waktu kemampuan menulis mereka pun semakin lancar.

Suatu hari, karena penasaran dengan produktivitas La Rose yang luar biasa dalam menulis dia ditanya, “Berapa lama waktu yang Anda perlukan untuk menyelesaikan satu tulisan?” Tanpa diduga dia menjawab: “15 tahun!”

Keruan saja si penanya kaget dan bingung. Sejenak kemudian La Rose pun menjelaskan, bahwa dia memang bisa merampungkan sebuah tulisan dengan mudah, hanya butuh sekian menit. Tapi untuk sampai pada tahap piawai menulis seperti itu, tidak dapat dipisahkan dari masa lalunya; bagaimana dulu susahnya ia berusaha menembus media massa. Entah berapa banyak tulisannya yang ditolak dan berakhir di tong sampah redaksi. “Untungnya, puluhan tahun silam saya tak mudah menyerah, sehingga sekarang bisa menulis dengan mudah,” kata pengarang perempuan itu pada wartawan yang mewawancarainya.

Pengalaman La Rose (alm) tersebut kiranya layak dijadikan pelajaran, terutama bagi yang merintis karir di bidang kepenulisan, bahwa kegagalan itu adalah hal yang lumrah. Mental seperti inilah yang harus dimiliki oleh calon penulis. Sebab, berapa banyak mereka yang sebetulnya potensial, tapi karena tak kuat menghadapi penolakan, terpaksa mengubur impiannya. Padahal jika dia mau bertahan, cepat atau lambat, pasti kelak akan berhasil menjadi penulis handal.

Di dunia ini tak ada hal yang lebih menentukan dari ketekunan, ujar Calvin Coolidge. Bakat tidak, sebab betapa banyak orang berbakat yang jauh dari kesuksesan. Jenius pun tidak, karena jenius yang gagal hampir ada di mana‑mana. Juga bukan pendidikan, karena di dunia ini penuh dengan pengangguran intelektual. Yang terpenting ialah ketekunan dan keteguhan hati.

Kerja Keras

Di sekeliling kita cukup banyak orang yang ahli di bidangnya masing-masing. Ada dokter yang cukup dengan meraba badan pasien ia sudah bisa menerka penyakit yang diderita. Ada perajin tikar, yang sambil bicara tanpa melihat ke bagian tangannya bisa merajut purun dengan rapi. Ada pemain sirkus yang begitu enteng melipat-lipat tubuhnya atau berjumpalitan di udara. Mungkin kita takjub dan berdecak kagum melihat kepiawaian mereka itu.

Namun perlu diingat, bahwa semua keterampilan tersebut merupakan hasil dari kerja keras. Setiap hari mereka belajar, baik dari teori maupun praktik langsung. Bahkan, ada yang dari kecil sudah mempersiapkan diri.

Sebelum sampai pada tahap ahli, terlebih dulu mereka bekerja keras. Tekun berlatih itulah kunci kesuksesan. Tak peduli sekecil apapun potensi yang dimiliki, selama punya kemauan kuat dan istiqomah, insya Allah terbuka jalan bagi terwujudnya cita-cita.

“Seandainya orang tahu betapa kerasnya usaha saya dalam mencapai tingkat keahlian sekarang, apa yang saya hasilkan tidak akan tampak begitu menakjubkan,” ungkap seorang pelukis sekaligus pematung ternama Michelangelo.

Jadi, tak usah heran jika menyaksikan seorang penulis yang sekali duduk di depan komputer bisa menghasilkan beberapa tulisan dengan kualitas lumayan bagus. Berbagai ide seolah tak habis-habisnya mengalir dari batok kepalanya. Kapan dan di mana saja ia mampu menuangkan gagasan ke dalam bentuk tulisan secara sistematis dan lancar. Tapi, tahukah kita bahwa kepiawai itu merupakan akomulasi dari kerja kerasnya selama ini?

Kemudian boleh jadi timbul perasaan ‘iri’ kita dalam pengertian positif ingin memiliki kepiawai serupa. Sah-sah saja. Kalau orang lain mampu, kenapa kita tidak? Tinggal sejauhmana kegigihan kita berusaha untuk merealisasikannya. Bayangkan, air yang dianggap lemah saja, karena setiap hari menetes di atas batu goa akhirnya berhasil melobangi benda keras itu.

Begitu pula dengan keterampilan menulis, sekiranya di asah setiap hari, sesuatu yang semula sulit, niscaya berangsur menjadi mudah.

Karena itu, jika kita serius pengin jadi penulis, maka luangkanlah waktu setiap hari buat menulis. Terserah mau menulis apa saja. Dari pembiasaan itulah kemampuan menulis kita akan meningkat.

Kayak apa pendapat dangsanak, akur juakah?


Posted in Mari Menulis

Mumpung Masih Muda, Menulislah

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Masa remaja adalah fase pencarian jati diri. Karena itu, tak heran jika sebagian ABG sering bertingkah rada nyeleneh. Misalnya, berpenampilan ala pungky dengan celana super ketat, rambut disemir warna-warni, plus aksesoris rantai. Hampir setiap malam mereka nongkrong di pinggir jalan. Semua itu dilakukan semata untuk memancing orang-orang agar menaruh perhatian padanya.

Menulis salah satu pilihan cerdas bagi remaja dalam upaya mengaktualisasikan diri. Juga sebuah prestasi yang layak dibanggakan! Dengan menjadi penulis, remaja akan lebih pandai menghargai waktu. Daripada mabuk playstation, mending hari-harinya diisi untuk berkarya.

    Kalau menulis sudah menjadi kegiatan yang mengasyikkan, insya Allah remaja bakal terhindar dari berbagai prilaku negatif seperti kebut-kebutan di jalan, apalagi mengonsumsi narkoba. Sebab, bagaimanapun daya nalar dan kreativitas merupakan andalan penulis, tentu si bersangkutan tak sudi otaknya digerogoti oleh benda laknat tersebut.

    Dalam beberapa penelitian disebutkan, bahwa remaja itu rasa ingin tahunya terhadap segala hal sangat tinggi. Jika tidak diarahkan ke kegiatan positif, dikhawatirkan malah terperosok pada perbuatan menyimpang.

    Sementara di tangan penulis, rasa ingin tahu itu justru bisa menjadi modal awal buat menulis. Setelah tergelitik oleh suatu fenomena atau peristiwa di masyarakat, dia lantas tergugah untuk mendalami masalah dimaksud, entah lewat pengamatan maupun pengumpulan literatur.

    Artinya, menulis itu mampu mengasah kepekaan dan kekritisan remaja. Kejadian apapun yang dilihat dan dirasakan di sekelilingnya dapat menstimulans dia untuk menawarkan pemikiran dan alternatif solusi.

    Selain itu, menulis dapat pula menumbuhkan kecintaan remaja pada ilmu. Sebab, untuk bisa menghasilkan tulisan yang berbobot seseorang tak cukup hanya menimba ilmu di bangku sekolah, juga harus rajin membaca buku di perpustakaan maupun mendengarkan tausiyah di majelis taklim.

    Intinya, cukup banyak manfaat yang bisa dipetik remaja andai dia jadi penulis. Bukan sekadar pengakuan eksistensi, kemampuan menulis dapat pula memuluskan cita-cita si bersangkutan di masa depan. Buktinya, sekarang ini beberapa lembaga pemberi beasiswa tak hanya mensyaratkan prestasi akademis, juga kepandaian menulis dengan melampirkan artikelnya yang pernah dimuat di media massa.

    Terus Berkarya

    Semakin cepat Anda memutuskan menekuni dunia kepenulisan, justru semakin baik. Sebab, keahlian menulis itu lebih banyak ditempa oleh pengalaman. Tak perlu menunggu mengantongi gelar sarjana dulu, baru timbul keinginan menulis.

    Kendati usia Anda masih belia, jangan jadikan alasan untuk tidak menulis. Seorang penulis bukanlah sosok yang serba tahu. Segala keterbatasan bisa disiasati. Apalagi sekadar menulis artikel, untuk mendalami topik tertentu Anda bisa mengumpulkan bahan referensi dari perpustakaan atau internet.

    Atau, kalau tidak mau repot buatlah karya fiksi yang lebih banyak mengandalkan imajinasi. Yang jelas, jangan biarkan masa muda Anda terbuang sia-sia. Sebagaimana pesan Rasulullah: jaga mudamu, sebelum tuamu.

    Cukup banyak orang yang menyesal di usia senja hanya karena dulu di masa remajanya kurang pandai memanfaatkan waktu. Mario Teguh pernah mengingatkan, kalau masa muda Anda bermalas-malasan, maka di usia tua Anda harus bekerja keras. Sedangkan saat itu kemampuan Anda sudah serba terbatas.

    “Kecil dimanja, muda foya-foya, tua kaya-raya, mati masuk surga” adalah ungkapan yang menyesatkan. Tidak ada orang yang terus-menerus bergelimang kenikmatan tanpa dibarengi cucuran keringat.

    Contoh, Hilman Hariwijaya menulis cerita Lupus di usia relatif muda. Ketika teman-teman sebayanya kebanyakan menghabiskan masa remaja untuk berleha-leha, dia justru telaten mengasah kreativitasnya. Tak heran, jika kini Hilman hidup berkelimpahan rejeki.

    Di era 80-an serial Lupus begitu digandrungi kalangan remaja. Ketika dibukukan terjual laris manis. Penghasilan yang diterima Hilman diperkirakan Rp 2.654.000.000. Itu belum termasuk bonus tambahan ketika karya monumentalnya tersebut difilmkan.

    Bahkan sampai kini ia masih menerima royalti Rp 13 juta lebih per bulan. Kerja keras Hilman di masa muda menjadi investasi, sehingga di hari tuanya nanti dia tak perlu lagi takut kekurangan dari segi finansial.

    Jika Anda ingin mengikuti jejak Hilman Hariwijaya, sekaranglah saatnya Anda buat berkarya, mumpung masih muda. Jangan tunda sampai besok, lusa, apalagi bulan depan — karena waktu tak pernah berhenti untuk menanti!


    Posted in Mari Menulis

    Cara Praktis Belajar Menulis

    Oleh: Aliansyah Jumbawuya

    Tujuan akhir pendidikan bukanlah ilmu pengetahuan, melainkan tindakan.

    (Herbert Spencer)

    ***

    Tidak sedikit orang yang mengaku sudah seabrek melahap buku panduan tentang teknik tulis-menulis, tapi ternyata tak kunjung jadi penulis juga. Hasrat untuk mempublikasikan tulisan di media massa tetap saja sebatas impian. Padahal, beragam teori telah dipelajari. Lalu, di mana letak permasalahannya?

    Hal serupa juga terjadi di bidang lain. Lihatlah berapa banyak pakar ekonomi yang menguasai ilmu manajemen dan pemasaran, tapi penghasilan mereka tidak jauh di atas rata-rata. Sebaliknya, ada orang yang cuma tamatan SD malah sukses sebagai pengusaha besar. Kenapa? Manusia pertama kelewat berkutat dengan teori, sehingga banyak pertimbangan ketika mau merintis bisnis. Sedangkan yang kedua, begitu dapat ide langsung dicoba. Dia lebih memilih untuk berguru pada pengalaman ketimbang belajar dari literatur.

    Sebagaimana halnya belajar berenang, siapa yang sering nyemplung di sungai, dialah yang cepat menguasai keterampilan tersebut. Sebaliknya, seberapa pun banyak teori berenang dipelajari, kalau tidak dipraktikkan niscaya takkan membawa hasil.

    Maka, tak usah heran bila menemukan seseorang yang punya keinginan besar hendak jadi penulis, tapi sampai kini tak juga terealisasi karena dia berhenti sebatas pada pemahaman teoritis. Ingat, ilmu tanpa amaliah ibarat pohon yang tidak berbuah.

    Kalau Anda bersungguh-sungguh ingin jadi penulis handal, maka perbanyaklah praktik menulis. Artinya, menulislah sembari belajar. Dengan cara itu, Insya Allah Anda pelan-pelan akan mengetahui apa-apa saja kelemahan tulisan Anda, untuk kemudian memperbaikinya secara bertahap seiring perjalanan waktu. Ya, namanya juga belajar, wajar dong bila di masa-masa awal terdapat kekurangan. Memangnya ada manusia yang begitu belajar, bisa langsung fasih?

    Beberapa penulis kawakan mengaku jika membaca karya-karyanya terdahulu kerap dihinggapi perasaan malu sendiri lantaran menemukan berbagai kejanggalan. Hal itu justru menunjukkan bahwa kemampuan si penulis telah berkembang.

    Maka, kalau Anda mau belajar menulis, jangan takut salah atau keliru. Sebab, tidak jarang begitu usai dijejali teori tentang teknik tulis-menulis, orang bukannya tergugah untuk segera mempraktikkan, malah jadi minder! Kenapa? Karena di buku itu dijelaskan, untuk menjadi penulis dibutuhkan berbagai persyaratan yang cukup rumit.

    Misalnya, saat menggarap sebuah cerpen calon penulis “diharuskan” menguasai perihal karakter tokoh, setting, plot, konflik, dialog, logika, hingga cara mengakhiri cerita yang cerdas. Akibatnya, tidak mustahil mereka yang semula bersemangat hendak membuat cerpen, setelah direcoki teori dengan segala kriterianya itu, malah mengurungkan niatnya. Kalau untuk mencoba saja sudah tak punya keberanian, bagaimana mungkin bisa jadi penulis.

    Padahal, sebagaimana kita ketahui bersama, teori itu muncul belakangan setelah ada karya yang lahir dari hasil praktik. Jadi, untuk apa kita harus terpaku pada batasan‑batasan yang dibuat oleh sebuah teori. Apalagi menulis itu sangat erat kaitannya dengan masalah kreatifitas. Dan, dalam dunia kreativitas tidak ada hal yang bersifat baku. Selalu terbuka peluang untuk keluar dari pakem.      Contoh, novel Laskar Pelangi oleh sebagian kalangan dinilai memiliki beberapa kelemahan, seperti alur yang longgar, logika anak kecil (Lintang) yang dipaksakan berpikiran dewasa sehingga terkesan terlalu mengada‑ada, dll. Kendati tak luput dari kritikan tajam, toh karya Andrea Hiraa ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat luas.

    Suatu kali, Andrea sendiri pernah mengakui secara terus terang  bahwa dia masih bermasalah dengan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan). Novel‑novel tetraloginya yang kini beredar di pasaran, ternyata sudah mengalami campur tangan dari editor. Fakta ini membuktikan, sekalipun kemampuan menulis seseorang masih terbatas, tidak berarti menghalangi si bersangkutan untuk berkarya.

    Mengasah Kemampuan

    Sebenarnya untuk bisa jadi penulis itu tidak perlu persyaratan yang ribet. Dengan bekal ilmu sekadarnya pun Anda sudah berhak dan layak merintis karir di bidang kepenulisan. Tak harus menguasai banyak teori dulu, baru menulis. Sebab, pada dasarnya setiap orang punya potensi buat jadi penulis. Bayangkan, sejak di bangku SD sampai perguruan tinggi Anda telah diajari Bahasa Indonesia, terutama cara membuat kalimat  yang terdiri dari Subjek, Predikat, Objek, dan Keterangan. Masak hingga kini mesti diajari lagi hal yang sama. Memangnya bebal, apa?! Mungkin yang belum Anda lakukan ialah mempraktikkannya

    Benar kata Mario Teguh, dalam hidup ini yang terpenting bukan berapa banyak ilmu yang Anda miliki, tapi seberapa sering kemampuan Anda yang dimanfaatkan. Apa artinya sejubel teori, bila tidak ditindaklanjuti dengan perbuatan. Maka, kalau Anda ingin efektif dan cepat belajar menulis, caranya ya … dengan menulis itu sendiri.

    Bukan berarti teori itu tidak penting, tapi jangan sampai karena terlalu asyik berkutat dengan teori lalu abai untuk mengaplikasinya.

    Sekilas jika dipikir‑pikir, mereka yang tamat kuliah di Fakultas Sastra seharusnya piawai menulis puisi, cerpen, novel, artikel, ataupun naskah drama, sebab sekian tahun mereka dijejali teori tentang itu. Kenyataannya hanya sedikit di antara mereka yang berhasil jadi sastrawan. Bahkan, hal ini sempat menjadi pembicaraan hangat di kancah nasional yang menggugat: kenapa Fakultas Sastra tak mampu berperan banyak melahirkan sastrawan‑sastrawan besar dan kritikus yang berwibawa? Jawabnya sederhana, karena ilmu yang mereka dapat dari teori‑teori itu tidak dipraktikkan!

    Acep Iwan Saidi dalam buku Matinya Dunia Sastra menceritakan, saat dia mengutarakan alasannya memilih Fakultas Sastra karena ingin jadi sastrawan oleh seniornya malah ditertawakan. Sebab, katanya, tujuan Fakultas Sastra bukanlah untuk mencetak sastrawan, melainkan ahli sastra. Sementara seorang ahli belum tentu adalah praktisi.

    Richard Gehman menyarankan, untuk mengembangkan keterampilan menulis terserah apakah mau menempuh pendidikan formal atau secara otodidak. Tetapi di atas segala-galanya, praktiklah yang terpenting.

    Lalu, tunggu apa lagi? Kalau Anda ingin jadi penulis, segeralah menulis. Karena dari situlah kemampuan Anda akan terasah.


    Posted in Mari Menulis

    Calon Penulis Harus Pede

    Oleh: Aliansyah Jumbawuya

    Entah berapa banyak orang yang sebenarnya pintar, berpengetahuan luas, tapi karena tidak didukung dengan kepercayaan diri yang memadai, akhirnya dia terpinggirkan dalam kehidupan. Sementara orang lain jadi ‘pemain’ dia hanya menonton di pinggir lapangan. Sesungguhnya ia sendiri tidak puas dengan dirinya yang minim prestasi. Jauh di lubuk hati tebersit keinginan agar lebih berarti dan punya sesuatu yang layak untuk dibanggakan. Namun selama si bersangkutan tidak membenahi kepercayaan dirinya, sepanjang itu pula bakal sulit berkembang.

    Dalam dunia kepenulisan pun sering ditemui, seseorang tidak pede menulis karena merasa kurang berkompeten. Katanya, ilmu yang dimiliki masih jauh dari ‘maqam’ yang diharapkan. Lha, memangnya untuk jadi penulis harus menunggu punya ilmu yang komplet dulu? Kalau beranggapan demikian, sampai kapanpun tidak akan pernah menulis.

    Seorang penulis handal bukanlah sosok pilihan yang dianugerahi kemampuan luar biasa. Mereka tak jauh berbeda dari manusia umumnya. Bahkan, ada yang tidak pernah mengecap bangku kuliah. Sebab, intelektualitas bukanlah segalanya (meski cukup penting sebagai penunjang). Mereka juga tak luput dari berbagai kekurangan. No body perfeksionis, ujar bubuhan Alabio.

    Ingat, orang yang IQ‑nya pas‑pasan namun berkat ditunjang kepercayaan diri yang tinggi dapat mengalahkan mereka yang berotak brilian. Karena orang yang pede itu biasanya pandai menutupi kekurangannya.

    Kalau Anda diminta menulis topik tertentu yang ternyata Anda kurang begitu menguasai, jangan buru‑buru menolak tawaran tersebut. Anda masih punya waktu untuk mempelajari dan mengumpulkan bahan melalui perpustakaan, internet, atau menggali informasi dari pakarnya. Setelah itu, baru dicerna dan diolah sesuai dengan daya nalar Anda. Jadi, apa susahnya?

    Andaipun pengetahuan Anda sangat terbatas, tak berarti peluang untuk jadi penulis tertutup. Tinggal mensiasatinya saja. Caranya? Fokuslah menulis karya‑karya fiksi. Karena untuk menulis puisi, cerpen cerbung, novel, cukup dengan mengandalkan imajinasi. Hampir bisa dipastikan semua orang terbiasa, bahkan mungkin jago menghayal.

    Soal membangun kepercayaan diri, ada baiknya Anda berguru kepada para pelawak. Mereka itu rata‑rata memiliki kekurangan fisik yang cukup menonjol seperti tubuh cebol, wajah jelek, gigi tongos, kepala botak, sehingga tidak bisa ditutup‑tutupi dari pandangan khalayak. Hebatnya, justru mereka mampu mengakrobatik kekurangan tersebut jadi kelebihan dengan menjadikannya sebagai bahan guyonan. Bagi sebagian orang kekurangan itu mungkin bikin minder, tapi bagi pelawak malah jadi berkah.

    Putu Wijaya juga pernah menerapkan hal serupa. Suatu kali ia membuat naskah cerita yang menuntut ada dialog berbahasa Arab. Karena tidak menguasai bahasa gurun pasir, daripada bingung akhirnya dia tulis semua huruf konsonan secara acak tanpa makna. Putu tidak mau kekurangan tersebut membuatnya terkendala menulis.

    Ternyata di kemudian hari tindakannya itu justru mendatangkan berkah. Oleh kritikus sastra dinilai sebagai bagian dari keberanian Putu Wijaya untuk melakukan terobosan. Padahal, tadinya dia tidak bermaksud apa‑apa, sekadar untuk menutupi kelemahannya.

    Karena itu, apapun latarbelakang dan kondisi Anda sekarang ini, kalau memang serius ingin jadi penulis, milikilah keyakinan dan kepercayaan diri bahwa Anda bakal mampu mewujudkannya.

    Sikap Mental

    Ada beberapa bentuk ketidakpercayaan diri yang sering menghinggapi calon penulis. Pertama, buru‑buru mengklaim diri tidak berbakat. Seolah menulis itu hanya diperuntukkan bagi orang‑orang tertentu yang dikaruniai kemampuan khusus. Padahal, siapapun bisa jadi penulis asalkan dia mau belajar, tekun berlatih, dan tak gampang menyerah. Setiap orang pada dasarnya punya potensi menulis, tinggal sejauhmana mengasahnya.

    Kalau Anda pernah membaca buku Membangunkan Raksasa Tidur karya dr H Taufiq Pasiak MPd, di situ diungkapkan betapa dahsyat kekuatan otak manusia. Dijelaskan, dengan memahami cara kerja otak yang terdiri dari 100 milyar sel saraf itu kita bahkan bisa menyusun ulang takdir kita. Sayang, selama ini kita belum optimal memberdayakannya.

    Dalam Alquran ditegaskan bahwa manusia itu adalah sebaik‑baiknya penciptaan. Kalau Anda meragukan kemampuan Anda, berarti sama saja dengan menyepelekan dan mengecewakan Sang Khalik. Jangankan sekadar menulis, lebih rumit dari itupun otak Anda sanggup mengatasinya.

    Kedua, merasa tulisan sendiri jelek dan kurang bermutu. Susah‑payah menulis, begitu rampung kok malah diremehkan. Kalau Anda sendiri tak menghargai karya Anda, bagaimana orang lain mau menghargainya? Semestinya karena tulisan itu lahir dari hasil perenungan dan pemikiran Anda, maka perlakukanlah seperti anak kandung. Bagus atau jelek namanya anak sendiri di mata orangtua tetaplah yang terbaik.

    Ketiga, ketika hendak mengirimkan ke media massa tidak pede bersaing dengan penulis lain, terlebih pada yang senior. Ia merasa redaktur pasti akan memprioritaskan penulis yang telah mapan lantaran kualitas tulisan mereka sudah tak diragukan lagi. Padahal para penulis terkenal itu dulunya juga sama seperti Anda berangkat dari pemula. Jadi, buat apa mesti minder? Jagat kepenulisan senantiasa terbuka lebar bagi nama‑nama baru.

    Maka, dalam setiap kali pelatihan kepenulisan hal yang selalu saya tekankan adalah menumbuhkan kepercayaan diri peserta. Sebab, kalau seseorang yakin dengan kemampuannya, masalah teknis bisa dia pelajari sendiri. Apalagi buku panduan tentang teknik tulis-menulis cukup banyak tersedia di pasaran.

    Sebaliknya, kalau dari awal sudah tidak pede ibarat mobil yang mesinnya bermasalah, walau didorong-dorong tak akan bergerak jauh. Malah si motivator yang mungkin kecapekan dan kehabisan tenaga.

    Sukses atau gagalnya seseorang jadi penulis cenderung ditentukan oleh sikap mental si bersangkutan, bukan terletak pada apakah dia berbakat atau tidak.

    Coba pikir, Ryan si jagal beruntun asal Jombang yang diduga punya kelainan jiwa saja mampu menulis buku selama di penjara, masak Anda yang normal dan berada di alam bebas kalah sama dia?

    Karena itu, yakin dan percaya dirilah bahwa Anda pun bisa jadi penulis!


    Posted in Mari Menulis

    Penyandang Cacat Eksis Sebagai Penulis

    Oleh: Aliansyah Jumbawuya

    Siapapun pasti tak ingin menderita kelainan fisik, baik cacat semenjak lahir maupun karena faktor kecelakaan. Namun ketika takdir menetapkan demikian, tentu kita tidak bisa mengelak. Larut dalam kesedihan, menyesali diri, meratapi nasib, toh tak akan merubah keadaan. Justru akan menambah beban mental. Kendati bukan perkara mudah, barangkali berdamai dengan kenyataan itu jauh lebih baik.

    Persolannya, di Indonesia ini — mungkin pula di negara-negara lain — kesempatan bagi penyandang cacat untuk berkiprah sangat terbatas. Tak banyak instansi pemerintah yang bersedia menampung orang-orang cacat untuk jadi PNS. Juga perusahaan-perusahaan swasta, terutama yang kapitalis, cenderung hanya mempekerjakan karyawan normal. Jangankan penderita cacat permanen, mengidap penyakit akut tertentu saja, perusahaan tidak akan mau menerima. Alasannya sederhana, karena ketidakberfungsian salah satu organ tubuh lalu efektifitas dan produktifitas si bersangkutan diragukan.

    Negara dan masyarakat agaknya masih diskriminatif memperlakukan para penyandang cacat dalam mengakses pekerjaan.

    Meskipun profesi lain terkesan menutup pintu kesempatan buat mereka, tapi tidak demikian di bidang kepenulisan. Siapapun berhak untuk jadi penulis, termasuk orang cacat. Karena untuk bergelut di dunia yang satu ini tak perlu prosedur dan persyaratan yang berbelit-belit. Menulis bisa dilakukan kapan dan dimana saja, tanpa terikat ruang dan waktu. Mau menulis di kamar, silakan. Mau menulis sambil rebahan di kasur, juga monggo. Tak ada yang membatasi. Begitu pula terkait dengan jadwal, terserah kita mengaturnya.

    Menulis adalah kerja individual. Jadi, untuk menulis kita tak perlu melapor pada atasan atau berkoordinasi dengan orang lain. Cukup dilakukan di rumah atas inisiatif pribadi. Kitalah yang bertindak sebagai bigboss bagi diri kita.

    Selain itu, menulis tidak terlalu mengandalkan tenaga dan gerak fisik. Karena sifatnya yang demikian, maka penyandang cacat sekalipun punya kesempatan luas untuk jadi penulis.

    Di negeri ini ada beberapa orang penderita cacat yang eksis bahkan sukses sebagai penulis kawakan. Salah satunya ialah Gola Gong, penulis serial Balada Si Roy yang di era 90-an sangat digandrungi remaja kita. Setelah membaca karya fiksi tersebut, tidak sedikit anak muda yang terinspirasi untuk berpetualang (avonturir), meniru jejak si tokoh utama dalam cerita. Kini, sudah tak terhitung lagi berapa banyak buku hasil goresan pena Gola Gong. Termasuk di antaranya yang diangkat ke layar kaca. Padahal, suami Tias Tatanka ini hanya memiliki satu lengan.

    Ceritanya, pada usia 10 tahun ia bermain bersama rekan-rekannya. Siapa yang paling hebat akan dinobatkan sebagai Jenderal Kancil. Mereka berlomba memanjat pohon, kemudian terjun bebas. Karena tidak ingin kalah, Gola Gong naik hingga di ketinggian 3 meter. Waktu jatuh bukan kakinya yang duluan nancap di tanah, melainkan bagian bahu. Akibatnya, tangan kiri dia patah dan harus diamputasi.

    Semula ia sempat mengecap bangku kuliah, tapi setelah realistis melihat kenyataan bahwa di negeri ini orang cacat sulit diterima di instansi pemerintah, ia pun memutuskan merintis karir sebagai penulis. Kendati buntung, toh tak menyurutkan langkahnya untuk jadi penulis. Apalagi sekedar menekan tuts-tuts huruf mesin tik, tidak harus menggunakan dua tangan.

    Alhasil, kini Gola Gong bisa hidup mapan dari menulis. Kecacatan fisik samasekali tak menghalangi dia dalam berkarya.

    Mensiasati Keterbatasan

    Kalau Gola Gong cacat karena kecelakaan, Pipiet Senja menderita kelainan darah (thallasemia) sejak lahir. Dua kali seminggu ia harus menjalani cuci darah. Kendati demikian, ia berhasil membuktikan bahwa penyakit bukan halangan untuk berkreativitas.

    “Semoga tidak ada yang mengalami seperti saya, sungguh penderitaan sepanjang hayat. Tapi Allah Maha Pengasih, selalu memberi kemudahan kepada saya. Alhamdulillah, akhirnya penyakit ini malah saya maknai sebagai berkah. Mungkin saya tidak akan jadi penulis jika tidak mengidap thallassemia,” ungkapnya tegar.

    Semangat wanita kelahiran Sumedang 16 Mei 1957 ini dalam menulis tak perlu diragukan. Meski digerogoti penyakit, Pipiet Senja terus berkarya. Ibu dua anak ini mengaku bisa menulis kapan dan di mana saja. Bahkan pada saat diopname di rumah sakit ia sering membawa mesin tik. Kalau dokter atau suster pas lagi lengah dia suka mencuri‑curi waktu untuk mengetik.

    Sampai kini produktifitas Pipiet seolah tak tertandingi oleh penulis-penulis lain. Selama 30 tahun berkecimpung di dunia tulis-menulis ia telah melahirkan 96 judul buku. Itu belum termasuk ratusan cerpen dan puluhan novel berbahasa Sunda. Wajar jika Ahmadun Yosi Herfanda kemudian menjulukinya sebagai Ikon Fiksi Indonesia.

    Fakta ini, sekali lagi menegaskan bahwa penyandang cacat pun bisa jadi penulis. Termasuk orang yang kedua tangan dan kakinya tak dapat berfungsi. Seperti dialami Ratna Indraswari Ibrahim,

    akibat penyakit radang tulang (rachitis) ia hanya mampu duduk di kursi roda. Dengan kondisi tersebut, segala keperluannya harus dilayani.

    Kendati demikian, ia senantiasa tetap bersyukur, tak pernah menghujat takdir yang menimpa dirinya. “Masih untung otak saya selamat, tidak diserang virus. Jadi, saya masih bisa berpikir dan berbuat sesuatu,” katanya.

    Sepintas melihat keadaan Ratna Indraswari yang tak berdaya, orang akan mengira dia tidak bakal bisa berbuat apa-apa. Nyatanya, tulisan dia sering menghiasi lembaran media massa. Bahkan, sebagian telah dibukukan seperti Kado Istimewa, Menjelang Pagi, Namanya Massa, Lakon di Kota Senja, Sumi dan Gambarnya (kumpulan cerpen) dan Lemah Tanjung (novel).

    Lalu, bagaimana proses dia menulis kalau tangan dan kakinya tidak dapat digerakkan? Caranya, Ratna mendiktekan cerita, si asisten yang mengetikkan. Begitulah ia mensiasati keterbatasan fisiknya. Sebab, sebagaimana sering saya tekankan menulis itu sekadar menuangkan isi pikiran dan perasaan ke dalam bentuk tulisan. Tak perlu persyaratan dan aturan yang ribet.

    Coba renungkan, mereka yang cacat saja mampu eksis menjadi penulis, masak kita dianugerahi kesehatan prima, kelengkapan organ tubuh, kalah dengan mereka? Karena itu, tancapkanlah keyakinan bahwa Anda pun bisa jadi penulis.

    Banjarmasin, 14 Maret 2009


    Posted in Mari Menulis

    Menulis: Investasi Dunia dan Akhirat

    Oleh: Aliansyah Jumbawuya

    Hidup di dunia ini relatif singkat. Karena itu, kita harus cerdas bertindak.

    Dalam hal mencari nafkah misalnya, ada orang yang bekerja keras seharian menguras keringat, tapi penghasilan dia cuma pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan pokok. Sebaliknya ada yang kelihatan santai, justru hidupnya bergelimang kemakmuran. Manusia pertama sekadar mengandalkan tenaga, sedangkan yang kedua pintar memutar otaknya. Mungkin dia banyak berinvestasi, sehingga uang terus mengalir ke rekeningnya. Bekerjalah lebih cerdas, bukan lebih keras. Prinsip inilah yang gencar digalakkan Robert Kiyosaki.

    Demikian pula dengan amaliah keagamaan. Ada ibadah yang bernilai setakaran perbuatan itu sendiri. Artinya, begitu dikerjakan, dapat pahala, berhenti thok di situ. Sebaliknya, ada ibadah yang sekali dikerjakan pahalanya mengalir terus-menerus bahkan sampai si bersangkutan mati. Salah satunya dalam Islam disebutkan ialah mengajarkan ilmu yang bermanfaat kepada orang lain. Selama ilmu tersebut terus digunakan, maka sepanjang itu pula pahala akan mengalir padanya.

    Termasuk menulis buku, walaupun jasad si penulis telah terkubur ratusan tahun silam, tapi karena generasi sekarang tetap mengambil faedah dari karyanya dimaksud, maka ia berhak untuk menerima ‘royalti’ pahala. Karena itulah, ulama-ulama dahulu rajin menulis. Ya, sungguh beruntung mereka yang sebelum ajalnya tiba sempat mewariskan ilmu dalam bentuk buku. Dengan cara itu mereka melakukan investasi pahala yang tak ternilai harganya.

    Dalam hal ini, ada sebuah contoh yang sangat bagus dikemukakan. Seorang penulis hanya dari satu judul buku sukses berinvestasi, baik untuk kehidupan dunia maupun akhiratnya.

    Buku tersebut ditulis tahun 1976, dengan tiga versi ukuran. Ukuran kecil naik cetak 359 kali, ukuran sedang 348 kali, dan ukuran besar 365 kali. Jika ditotal, berarti sudah mengalami cetak ulang 1.072 kali (jika pihak keluarga mau mengajukan bisa masuk rekor MURI).

    Karena si penulis telah meninggal dunia, hak royalti Rp 3 milyar lebih jatuh pada anak cucunya. Alhamdulillah, berkat investasi tersebut kini keturunannya kaya-raya.

    Tahukah Anda judul buku itu? Risalah Tuntunan Shalat Lengkap karangan Moh Rifa’i. Padahal, baik dari segi isi maupun kertas, buku tersebut terbilang sederhana. Tapi, karena dihajatkan oleh banyak orang jadi laris manis. Apalagi harganya cukup murah.

    Bayangkan, berapa ribu bahkan jutaan penduduk Indonesia yang merasa terbantu dengan keberadaan buku itu? Sebab, setiap Muslim pasti berkepentingan untuk mempelajari tata cara shalat yang benar. Bukan hanya kalangan mualaf, Muslim keturunan pun tak sedikit yang hingga dewasa shalatnya masih bermasalah. Maka, begitu mereka terbuka hati untuk bertobat, pasti memerlukan buku panduan shalat, sebab jika belajar langsung dengan seseorang boleh jadi yang bersangkutan merasa malu.

    Berarti, setiap kali ada yang mengambil manfaat dari buku itu, otomatis penulisnya juga dapat pahala. Seharusnya kita tergugah meniru jejak Moh Rafi’i, melakukan investasi dunia dan akhirat dengan menulis? Karena itu, mari kita tancapkan niat menulis sebagai bagian dari ibadah.

    Kayak apa pendapat dangsanak, akur juakah?

    Banjarmasin, 2 Feb 2009


    Posted in Mari Menulis

    Tips Agar Tulisan Dimuat di Media Massa

    Oleh: Aliansyah Jumbawuya

    Anggaplah redaktur itu sebagai guru yang baik, karena ia mengerti betul siapa pembacanya dan apa yang diinginkan.

    (Muhammad Diponegoro)

    ***

    Taruhlah kemampuan menulis sudah lumayan, tidak masalah lagi. Justru yang sering jadi kendala itu ketika hendak mempublikasikannya. Setelah dikirim ke media massa, ditunggu-tunggu sekian waktu, tak juga kunjung dimuat. Kasus seperti ini cukup banyak dialami orang, terutama oleh calon penulis. Akibatnya, niat yang semula begitu menggebu-gebu untuk jadi penulis berangsur redup.

    Untuk menghindari hal demikian, berikut ini ada beberapa tips agar tulisan kita dimuat di media massa:

    Pertama, pelajari media cetak bersangkutan. Sebab, masing-masing koran, tabloid, majalah, itu berbeda-beda segmentasi atau sasaran pembacanya. Dari awal pihak pengelola pasti punya ’standar’ tertentu. Boleh jadi tulisan Anda sudah bagus, tapi karena tidak sesuai dengan visi dan misi media terkait, akhirnya ditolak. Contoh, Anda menulis cerita remaja pro-pacaran dengan aneka pergaulan bebasnya, tentu tidak cocok bila dikirim ke Serambi Ummah, Annida, Muslimah, atau Sabili. Begitu pula, jika Anda menulis cerpen yang sarat nuansa islami, tapi dikirim ke media massa yang dikelola oleh orang-orang komunitas Utan Kayu, kemungkinan besar akan terganjal karena berbeda paham atau aliran. Kurnia Effendi pernah dimintai tulisan oleh redaktur majalah Matra untuk menyambut momen tertentu. Begitu naskah dikirim, ternyata dinilai terlalu feminim, bertentangan dengan citra maskulin yang menjadi ciri khas media bersangkutan. Begitu pula cerpen keduanya, masih dianggap kurang pas. Baru pada kali ketiga karya Kurnia diterima.

    Bayangkan, itu redaktur sendiri lho yang minta, namun tetap saja tidak bisa langsung disetujui. Ini bukan berarti tulisan Kurnia Effendi yang terdahulu jelek — buktinya cerpen pertama dimuat di majalah Femina dan yang kedua diterbitkan Kompas — tapi ada kriteria tertentu yang harus dipenuhi.

    Termasuk masalah rubrik, kalau di media massa tersebut tidak ada ruang untuk puisi misalnya, jangan ngotot mengirimkan puisi. Mubazir, tidak bakalan dimuat. Sebab, bukan redaktur yang harus menyesuaikan dengan penulis, tapi penulislah yang mesti jeli ‘membaca’ mau redaktur.

    Kedua, khusus bagi penulis pemula sebagai langkah awal sebaiknya mengirim tulisan ke koran lokal dulu, sebab seleksinya cenderung lebih longgar, sehingga kemungkinan untuk dimuat pun lebih besar. Anggaplah Anda masih tahap belajar, sekaligus dalam upaya menumbuhkan kepercayaan diri. Nanti kalau telah terbiasa dan piawai menulis, baru membidik media nasional.

    Jangan sampai baru satu-dua kali menulis sastra sudah buru-buru mau menaklukkan Horison misalnya, dikhawatirkan lantaran persaingan yang ketat, tunas layu sebelum berkembang. Sebenarnya bukan tidak berpotensi untuk jadi penulis, tapi cuma karena keliru menerapkan strategi. Ingat, pertumbuhan manusia sendiri melalui fase-fase tertentu: dari berbaring, duduk, merangkak, berdiri, dan seterusnya, tidak bisa langsung melenggang. Begitu pula dalam urusan mempublikasikan tulisan.

    Ketiga, setelah Anda mengirim sebuah tulisan ke media massa, segera tulis topik yang lain. Jangan tunggu dimuat dulu, baru menulis lagi. Sebab, urusan kapan tulisan tersebut dimuat itu sudah di luar wewenang penulis, toh Anda tidak mungkin mengendalikan hati dan pikiran redaktur. Jadi, lakukanlah apa yang bisa dilakukan, yakni teruslah menulis. Bukankah dalam hukum probalitas, semakin banyak tulisan yang kita kirim, semakin besar pula kemungkinan untuk dimuat?

    Keempat, kalau bisa mempublikasikan tulisan jangan terpaku hanya pada satu media. Kalau cerpen atau artikel Anda minggu ini dimuat di koran A, kecil kemungkinan edisi depan diisi karya Anda lagi. Sebab, selain mempertimbangkan mutu, redaktur juga ingin memberi kesempatan pada penulis lain. Tidak mau medianya hanya didominasi orang-orang tertentu. Kecuali, bila Anda diminta jadi pengasuh rubrik tetap. Untuk sampai pada tahap tersebut, tentu saja Anda harus punya brand yang ‘menjual’ dan kesempatan tersebut agak langka.

    Kelima, seorang penulis harus melek teknologi. Jangan sampai orang lain mengirim tulisan lewat email, Anda masih menggunakan mesin tik atau tulis tangan. Kalau di waktu bersamaan ada dua tulisan dengan kualitas yang sama, tentu redaktur akan mengambil yang lebih praktis. Daripada mengetik ulang tulisan Anda mending mengambil file yang sudah siap saji.

    Keenam, kenal dan bersahabat dengan redaktur boleh jadi merupakan nilai plus tersendiri untuk memuluskan peluang tulisan Anda dimuat. Tapi, tetap saja itu bukan suatu jaminan. Karena di sisi lain redaktur pun harus bertindak profesional. Kalau ada tulisan lain yang masuk duluan berbulan-bulan, sementara tulisan Anda baru kemarin diterima, lantas Anda minta diprioritaskan karena merasa punya hubungan dekat, juga tidak adil. Objektivitas tetap perlu dikedepankan.

    Ketujuh, hindari mengirimkan tulisan kembar apalagi plagiat. Jika itu Anda lakukan dan ketahuan, sama artinya mencederai kepercayaan redaktur yang selama ini terbina.

    Tulisan kembar maksudnya karya yang sudah dimuat di media A, kemudian dikirim lagi ke koran B, entah isinya sama persis maupun judulnya doang yang dirubah, tetap saja tidak fair. Hal itu akan menimbulkan asumsi negatif di benak redaktur. Pertama, si penulis dianggap sudah kehabisan ide dan kreativitas, sehingga hanya mampu menembakkan ’selongsong’ bukan ‘peluru’ baru. Kedua, ini agak ekstrem, Anda dinilai mata duitan karena ingin menangguk honor secara double.

    Sedangkan karya plagiat ialah menyontek total atau sebagian karya orang lain. Akibatnya bisa fatal, nama Anda di-black list atau pemilik karya aslinya menuntut ke meja hijau karena hak intelektualnya dilanggar. Jadi, bagi yang pernah melakukan segera hentikanlah kebiasaan buruk ini.

    Delapan, simpanlah arsip tulisan Anda. Dengan demikian, kalau tulisan Anda ditolak, Anda masih bisa mengirim ke koran, tabloid, atau majalah lain. Terserah mau direvisi atau dibiarkan utuh seperti semula. Sebab, siapa tahu di media yang berbeda karya Anda diterima.

    Kalaupun tulisan tersebut tetap dianggap tidak layak muat, jangan keburu putus asa. Jika sewaktu-waktu kebetulan punya modal, silakan Anda terbitkan sendiri. Tidak mustahil tulisan Anda yang tadinya disepelekan orang, ketika dibukukan justru best seller. Bagaimanapun yang paling menentukan apakah tulisan itu diminati atau tidak, pada akhirnya ada di tangan masyarakat pembaca.

    Semoga beberapa tips di atas bisa bermanfaat. Selamat mencoba!

    ***

    (Disampaikan pada Seminar Motivasi Penulisan di MAN 2 Model Banjarmasin, Sabtu 14 Febuari 2009).


    Posted in Mari Menulis

    Cara Cerdas Mengikat Ilmu

    Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.

    (Ali bin Abi Thalib)

    ***

    Setiap saat kita punya peluang untuk memperoleh ilmu. Tidak harus melalui pendidikan formal. Justru dalam pergaulan sehari-hari banyak kita temukan ilmu tentang kehidupan yang jarang didapat di bangku sekolah atau kuliah. Tinggal bagaimana kita mengelola ilmu tersebut, sehingga tidak mudah lupa.

    Agar ilmu yang telah kita serap tidak meruap digerus waktu, maka cara cerdas untuk mengikatnya ialah dengan menuliskannya. Kalau sudah ditulis dan dipublikasikan, berarti kita sekaligus berbagi ilmu kepada khalayak. Berbeda dengan harta yang apabila dibagi-bagikan akan berkurang, ilmu begitu didistribusikan malah semakin bertambah. Melekat kuat dalam ingatan, dan manfaatnya bisa dipetik oleh siapapun.

    Banyak cara yang bisa ditempuh untuk mendapatkan ilmu. Misalnya, dengan menghadiri majelis taklim. Setiap kali mengikuti pengajian pasti ada ilmu baru yang kita petik dan bawa pulang. Supaya tidak mudah hilang, alangkah bagus bila dituliskan.

    Ingat, tulisan saya tentang sikap iklas yang dicontohkan pemancing ikan pada edisi lalu (baca: Ikhlas Menulis Membawa Berkah) dicomot dari isi pengajian ustadz Ahmad Bayani di Musala Banjarmasin Post Group. Andai tidak segera saya tulis, mungkin beberapa bulan kemudian jadi lupa. Tapi, karena sudah diikat dengan tulisan, insya Allah sepuluh tahun akan datang tetap ingat. Yang pasti ilmu tersebut tak lagi hanya dinikmati jamaah pengajian dengan jumlah terbatas; begitu ditulis dan dimuat di media massa otomatis warga yang berada di pelosok Amuntai, Barabai, Juai sekalipun, bahkan seantero Indonesia yang semula tidak tahu — karena juga diposting di blog — kini bisa turut mencernanya. Demikianlah salah satu kekuatan dari tulisan.

    Ilmu juga bisa didapat dari menyimak pembicaraan, perdebatan, diskusi, seminar, lokakarya, dsbnya. Di sinilah pentingnya nilai filosofi kenapa kita diciptakan dua telinga agar banyak mendengar, dan satu mulut supaya sedikit bicara. Biarlah orang lain bakancangan urat gulu, kita cukup mengambil manfaat darinya. Jangan biarkan ilmu yang bertebaran di sekitar kita bersileweran begitu saja, cepat tangkap dan ikat dengan cara menuliskannya.

    Termasuk bagi yang suka mencermati keadaan di sekeliling bisa memperoleh pelajaran berharga dari prilaku sesama. Bahkan dari hewan dan tetumbuhan pun kita bisa menuai ilmu. Umpamanya, perhatikanlah pohon yang batangnya dipotong (ditamsilkan dengan sedekah), tak lama kemudian bermunculan banyak ranting, lebih rimbun dari sebelumnya. Artinya, tanpa membaca buku-buku karangan ustadz Mansyur yang menekankan kalau kita rajin bersedekah maka rezeki akan bertambah — jauh sebelumnya fenomena alam telah mengajarkan itu. Hasil renungan semacam ini, jangan biarkan datang sesaat untuk kemudian pergi tanpa jejak. Caranya? Ya, cepat-cepat ditulis!

    Membaca adalah metode yang praktis untuk menjaring ilmu. Dalam satu jam saja kita bisa menimba berbagai ilmu dari buku. Apabila ada kalimat yang berkesan, segera tulis. Kalau perlu jadikan kegiatan membaca sebagai pemantik untuk menulis. Dengan begitu, kita menempatkan diri tidak sekadar sebagai pengonsumsi buku, juga produsen tulisan.

    Hal inilah yang dilakukan KH Adnani Iskandar, mantan Ketua Komisi Fatwa MUI Provinsi Kalsel. Setiap kali menemukan bahan bacaan yang dinilai penting, ulama sepuh ini mencatatnya. Hampir semua persoalan aktual di masyarakat, terutama yang bersifat lokal, tak luput dari perhatiannya. Kalau ada wartawan datang untuk mewawancarai, beliau tinggal mengambil cacatan sebagai rujukan.

    Alhasil, di usia yang uzur sang kiai tetap eksis dan konsisten berbagi ilmu. Daya ingat dan penglihatan beliau masih tajam. Boleh jadi ini berkat kebiasaan sidin yang gemar membaca dan menulis.

    Tak Hanya Menghafal

    Beruntunglah orang-orang yang dikaruniai kemampuan menghafal yang luar biasa. Dalam waktu relatif singkat sukses menyerap ilmu yang diberikan dan terpelihara rapi di pusat memori. Meski memiliki otak brilian, tetap saja kita perlu mengikatnya dengan tulisan. Sebab, kalau dibiarkan sekadar bersemayam di batok kepala berarti cuma si empunya diri yang bisa menikmati ilmu tersebut. Apabila habis umur, otomatis ilmu yang dimiliki pun ikut sirna. Sebaliknya, manakala sudah dituangkan dalam tulisan, insya Allah ilmu itu bakal langgeng sepanjang masa.

    Karena itulah ulama-ulama dahulu meski rata-rata mempunyai daya hafal yang kuat, mereka tidak mau sepenuhnya mempercayakan ilmunya pada ingatan. Imam Syafi’i misalnya, dalam beberapa riwayat terkenal sangat jenius. Pada usia 13 tahun ia telah hafal Alquran dan banyak hadis. Suatu hari, ia mengikuti majelis akbar Imam Malik. Ketika jamaah lain bubar, Syafi’i tidak beranjak dari tempat duduknya. Imam Malik ibn Anas pun heran, lalu mendekati. Untuk menguji keseriusan anak muda itu menuntut ilmu, ia menanyakan sebuah hadis yang disampaikan dalam pengajian tadi. Ternyata bukan cuma satu, semua hadis yang baru didengar mampu dihafal oleh Syafi’i. Bahkan jauh sebelum pertemuan itu ia sudah hafal kitab Muwatta yang berisi ribuan hadis. Imam Malik pun terkesan, dan sejak itu mengangkatnya menjadi murid.

    Walaupun memiliki daya hafal kuat, nyatanya Syafi’i tak abai untuk menuliskan ilmunya. Sebab, ia sadar mungkin saja sewaktu-waktu bisa lupa. Bagaimana pun tidak ada manusia yang sempurna, pasti punya keterbatasan.

    Dalam buku Aadab Asy-Syafi’i wa Manaqibuhu karangan Ibnu Abi Hatim diceritakan, seorang sahabat bernama Al Humaidi ketika keluar tengah malam ia mendapati lampu rumah Syafi’i menyala. Ia pun mampir dan melihat di dekat cendekiawan Muslim itu terdapat secarik kertas dan pena. Ketika ditanya, Syafi’i menjawab bahwa ia tengah memikirkan makna sebuah hadis berkaitan dengan masalah fiqih, karena takut keburu raib maka ia segera menyalakan lampu dan menuliskannya.

    Begitu pula dengan Imam Bukhari, dalam semalam ia bisa bangun sebanyak 18 kali untuk menuliskan sesuatu yang terlintas dalam ingatannya.

    Imam Nawawi pernah mengingatkan, “Janganlah seseorang meremehkan suatu faedah dalam bidang apapun yang didengar atau dilihatnya, tetapi hendaklah ia segera menuliskannya.

    Bayangkan, mereka yang dianugerahi kecerdasan tinggi sekalipun tidak mau menggantungkan ilmunya semata pada hafalan; apalagi bagi yang merasa punya daya ingat pas-pasan seharusnya justru lebih gencar dan telaten untuk menggoreskan pena. Jangan sampai karena abai mengikatnya dengan tulisan, ilmu yang didapat raib begitu saja.

    Kayak apa pendapat dangsanak, akur juakah?

    Banjarmasin, 31 Jan 2009


    Posted in Mari Menulis

    Menulis Itu Ibadah

    Oleh: Aliansyah Jumbawuya

    Pengertian ibadah dalam Islam sangatlah luas. Dari bangun tidur sampai menutup mata kembali mengandung nilai ibadah. Singkatnya, pada setiap tarikan dan hembusan nafas terbuka peluang untuk ibadah. Tinggal terpulang pada diri masing-masing, apakah mau atau ogah memanfaatkan kesempatan tersebut.

    Sayangnya, sampai kini masih saja ada orang yang beranggapan bahwa ibadah itu sebatas hal-hal ritual, seperti salat, puasa, zakat, dan seterusnya. Padahal, tersenyum atau membuang duri dari jalanan juga ibadah. Termasuk menulis, jika diniatkan ikhlas untuk kemaslahatan umat tentu Allah akan mencatatnya sebagai ibadah.

    Kalau karena tulisan Anda masyarakat jadi tergugah buat memelihara kelestarian lingkungan hidup, bukankah itu manifestasi dakwah? Kalau berkat tulisan Anda kemudian warga jadi rukun hidup bertetangga, bukankah itu artinya Anda telah menyebarkan kebajikan? Kalau setelah menyimak tulisan Anda waria terbuka kesadarannya untuk kembali berprilaku normal sesuai fitrahnya, bukankah Anda mengajak dia pada jalan kebenaran? Kalau usai mencerna tulisan Anda seorang penjahat memutuskan berhenti berbuat maksiat, bukankah itu buah dari amar ma’ruf nahi munkar? Karena hal-hal tersebut dianjurkan dalam Islam, tentu si penulis pantas mendapatkan poin pahala.

    Dulu di era 1990-an memakai jilbab sering dipermasalahkan, padahal penduduk Indonesia adalah Muslim terbesar di dunia. Tidak sedikit kasus siswi di sekolah umum yang memakai jilbab dilarang mengikuti pelajaran bahkan di-skorsing. Foto muslimah berjilbab tidak diperbolehkan untuk ijazah dan SIM (Surat Izin Mengemudi). Apalagi kalau hendak bekerja di supermarket atau mall sering disyaratkan agar menanggalkan jilbab. Aturan sekuler itu tak pelak menjadi dilema bagi kaum Hawa yang hendak menerapkan ajaran Islam secara kaffah, terutama menyangkut kewajiban menutup aurat. Sebagian memang ada yang istiqomah mempertahankan jilbabnya meski dengan segala konsekuensi, namun banyak pula yang terpaksa melepasnya.

    Di tengah kondisi demikian, muncullah para aktivis Islam yang begitu gencar mensosialisasikan jilbab, baik lewat artikel-artikel maupun karya fiksi. Salah satunya, cerpen Ketika Mas Gagah Pergi karangan Helvy Tiana Rosa mampu menginspirasi ratusan wanita mengenakan jilbab.

    Alhamdulillah, akhirnya pemerintah memberi kebebasan kepada WNI untuk berjilbab. Kini di perguruan-perguruan tinggi dan sekolah-sekolah umum marak wanita berjilbab. Semua itu, sedikit-banyak berkat andil penulis Muslim yang gigih memperjuangkan jilbab lewat tulisan. Mereka yang turut ambil bagian mengangkat pena tersebut, niscaya memperoleh ganjaran pahala.

    Tidak melulu harus bertemakan keagamaan, menulis apapun asalkan terbukti mampu memberikan pencerahan layak dikategorikan sebagai ibadah. Menulis buku motivasi agar generasi muda berani menerjuni dunia wiraswasta sehingga tingkat pengangguran berkurang, juga termasuk ibadah.

    Karena itu, mari rame-rame menulis sesuai bidang yang kita minati. Mau menulis masalah politik, ekonomi, sosial, budaya, sastra, parenting, terserah mana yang Anda gandrungi. Sepanjang memberi efek positif bagi masyarakat, insya Allah akan bernilai ibadah.

    Kayak apa pendapat dangsanak, akur juakah?


    Posted in Mari Menulis

    Andai Ulama Rajin Menulis

    Oleh: Aliansyah Jumbawuya

    Ulama diidentikkan sebagai orang yang berilmu agama luas, saleh, berakhlak mulia, dan bijaksana. Karena itu, pemikirannya sering dijadikan rujukan umat. Wajar jika banyak orang yang datang kepadanya berkonsultasi masalah hukum fiqih, amaliah keseharian, dan sebagainya.

    Namun, tidak setiap saat ulama bisa menyediakan diri untuk meladeni dan menjawab berbagai problem yang dihadapi umat. Mereka juga harus mengalokasikan waktu buat keluarga serta hal-hal yang sifatnya pribadi. Sementara di sisi lain, kebutuhan umat untuk mendapatkan pencerahan atau solusi keagamaan kadang sangat mendesak.

    Maka, untuk mensiasatinya, kenapa ulama tidak menulis saja? Dengan begitu, satu kali kerja sekian ratus bahkan ribu orang terlayani. Sebab, banyak individu yang punya kepentingan sama. Misalnya, hari ini ulama dalam tulisannya mengulas tentang hukum mengecat rambut berwarna-warni, menato kulit, atau menyuntikkan silikon ke organ tubuh ditinjau dari kacamata Islam. Pihak terkait bukan kalangan remaja saja, para orangtua pun perlu tahu agar bisa bersikap tegas ketika menemukan anak mereka berprilaku demikian.

    Hal ini menegaskan betapa efektifnya tulisan menjangkau khalayak luas. Bahkan bisa dibaca berulang-ulang kapan dan dimana pun, sehingga kadar pemahaman terhadap permasalahan yang dimaksud melekat kuat, tidak mudah lupa.

    Persoalannya, sudahkah ulama kita, terutama yang di banua Banjar, rajin menulis?

    Dulu Serambi UmmaH pernah menyediakan rubrik sari khutbah. Para khatib dimintai secara bergantian tulisan mereka yang akan dibacakan pada khutbah Jumat berikut. Fakta di lapangan sebagian memang ada yang sanggup memenuhi target, menyerahkan tulisan hari Rabu sesuai deadline. Namun, justru lebih banyak yang tidak sebagaimana diharapkan. Ketika dihubungi si ulama mengaku belum menyiapkan teks yang dijanjikan. Akibatnya, karena sudah kepepet disiasati dengan model wawancara. Si bersangkutan ngomong, wartawan yang menuliskan.

    Rupanya budaya menulis, tanpa bermaksud meng-generalisasi, di kalangan ulama kita masih tipis. Buktinya, tidak jarang isi khutbah yang Jumat ini dibacakan di masjid A, nanti diulang lagi di masjid B, C, D, dan seterusnya. Artinya, dalam sebulan dari jadwal dia menjadi khatib, teks yang dibaca ya itu-itu saja. Masih mendingan kalau tulisan tersebut hasil karya sendiri, sebab pernah kejadian ketika dimintai teks khutbah si ulama menyerahkan lembaran fotocopi yang dicomot dari buku kumpulan khutbah. Ternyata apa yang dia sampaikan di depan jamaah Jumat selama ini bukan hasil pemikiran dia, tapi mencuplik total tulisan orang lain. Sungguh, betapa memprihatinkan kenyataan ini!

    Seorang sahabat — saya lebih senang menyebutnya ‘Mr Lebah’ karena kata-kata yang dia lontarkan sering menyengat, tapi jika dikaji lebih dalam justru mampu menghasilkan ‘madu’ sebab menggugah orang untuk memperbaiki kualitas diri — ketika memberikan motivasi penulisan, mengaku punya 200 lebih buku tentang Rasulullah. Sayang, sesalnya, sebagian besar adalah karya terjemahan.

    “Lalu, apa saja yang dilakukan kiai-kiai kita di pesantren, sehingga tulisan mereka tidak terlihat? Padahal, kita punya ulama panutan Syekh Arsyad Al Banjari, yang selain berdakwah secara lisan juga rajin menulis,” gugatnya dengan nada menohok.

    Agaknya statement ini patut menjadi renungan kita bersama.

    Potensi Dahsyat

    Dalih yang paling sering dikemukakan kenapa ulama kita tidak sempat lagi menulis, karena mereka disibukkan oleh mengisi undangan ceramah di mana-mana. Tak dipungkiri, bahwa memberi ceramah itu memang penting dan kontribusinya bagi umat cukup besar. Namun, alangkah baiknya jika dibarengi pula dengan menulis. Sebab, ulama-ulama dulu pun tak kalah sibuknya, toh mereka masih bisa meluangkan waktu berdakwah menggunakan goresan pena.

    Imam Malik setiap hari membuka majelis ilmu. Muridnya ribuan orang dari berbagai penjuru. Saking banyak yang belajar padanya, untuk memudahkan maka tiap hari dibagi beberapa sesi, sesuai dengan bidang kajian yang hendak diperdalam. Berarti jadwalnya memberi pengajian sangat padat. Kendati demikian, nyatanya Imam Malik masih sempat menulis. Padahal waktu itu fasilitas serba terbatas, belum ada listrik apalagi komputer dan laptop. Buktinya, beliau mampu produktif menulis.

    Dalam buku Seratus Muslim Terkemuka karya Jamil Ahmad disebutkan rata-rata ulama dahulu tak hanya fasih berceramah, juga piawai menulis. Bahkan, saking tingginya dedikasi mereka untuk mewariskan ilmu kepada generasi berikut, di antaranya ada yang menulis sambil menunggang kuda. Bandingkan dengan kita sekarang, punya waktu luang saja sering disia-siakan.

    Saya sering membayangkan, di Kalsel ini kita punya masjid sekitar 3.000 buah. Berarti tiap Jumat ada 3.000 khatib yang naik mimbar, dan tentu membawa teks khotbah. Andai tiap 30 buah tulisan dikumpulkan, kemudian dicetak, hitungannya dalam seminggu kita menghasilkan 100 buku. Kali 48 minggu, berarti 4.800 jilid dalam setahun. Wooww!!! Betapa dahsyatnya potensi ilmu yang dimiliki umat Islam jika benar-benar diberdayakan. Itu baru dari teks khotbah, belum lagi yang lain.

    Tapi, persoalannya seberapa banyak ulama kita yang rajin menulis, walau seminggu sekadar menghasilkan satu tulisan? Apalagi yang mau mengangkat topik tulisan sesuai dengan aktualitas yang tengah berkembang di masyarakat, sehingga bisa jadi penyejuk atas kegelisahan umat. Belum lagi kalau bicara tentang kualitas tulisan.

    Saya pernah ngobrol dengan seorang mubaligh, dia bilang kalau diminta ceramah mendadak di depan jamaah, tiga jam pun sanggup menguraikan materi keagamaan. Tapi kalau diminta menulis tiga halaman kuarto saja, katanya, susah bukan main.

    Padahal semua orang memiliki potensi besar untuk menjadi penulis. Karena menulis itu sekadar mentransfer pikiran ke dalam bentuk tulisan. Terlebih bagi ulama, yang kita tahu adalah gudangnya ilmu. Jadi, sebenarnya tidak ada alasan untuk ‘pelit’ menulis.

    Seorang Yahudi pernah bilang: “Kami tak akan pernah takut pada umat Islam selama mereka masih tidak suka membaca dan menulis.”

    Nah, apa tidak panas kuping. Mestinya mendengar pernyataan tersebut kita terlecut untuk menghidupkan kembali tradisi baca-tulis di kalangan Islam. Ingat, kita hanya akan bisa mencapai kebangkitan apabila dimulai dengan revolusi mental. Salah satu caranya ialah tumbuhkan kecintaan masyarakat pada ilmu — dan itu harus didukung oleh budaya membaca dan menulis.

    Lihatlah, Paus Benidiktus XVI setelah menjalin kerjasama dengan Apple untuk aplikasi doa pada iPhone, kini kembali merangkul Google agar membuatkan kanal khusus di layanan YouTube dalam upaya menyebarkan isi khutbahnya. Vatikan begitu gencar memanfaatkan teknologi, sementara kita menulis saja masih dianggap sebagai problem.

    Sekali lagi, ini patut jadi renungan kita bersama.

    Banjarmasin, 29 Jan 2009


    Posted in Mari Menulis
    Halaman Berikutnya »