Padepokan Pena - Gemar Membaca Giat Menulis

Lamaran

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Wajah Urip tergolek di atas meja belajar, telungkup menindih buku pelajaran. Rupanya bocah itu tak kuasa lagi menahan kantuk.

Tia segera membopong tubuh itu, lalu memindahkannya ke kasur tipis. Sejenak ia tertegun, memandangi lekat‑lekat sosok adiknya yang terbujur. Di wajah yang polos itu, Tia seperti melihat serpihan mimpi yang terpendam. Haruskah keadaan memupuskan impian Urip untuk terus bersekolah?

“Mak, tadi Bu Guru nanya lagi kapan Urip melunasi uang iuran yang tertunggak empat bulan? Jika tidak, katanya Urip nggak boleh ikut ujian.”

(lagi…)


Posted in Cerpen

Sukri dan Lalat

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Sukri yang tengah asyik menemani putri bungsunya menonton film kartun, tiba-tiba dikejutkan oleh suara putranya, Yudit, yang barusan mencomot kue bolu. Huughh. Huuughhh.. Cairan coklat berisi bekas makanan itu pun tak terbendung, mucrat dari mulut bocah delapan tahun tersebut. Muntah, memercik di baju dan mengotori lantai.

(lagi…)


Posted in Cerpen

Intan

Oleh: Ahmad Surkati AR

Usai gelap, subuh mengembalikan matahari seperti semula. Butiran bening yang pias dengan cahaya amat indah di mata Zalikha mengingatkan dirinya pada berbagai perhiasan intan yang dimilikinya. Kemilau kemilau itu bergelayutan manja di ranting mawar. Tidak ketinggalan ditingkahi semilir berembun begitu rupa membelai wajahnya yang berparas cantik. Selintas membayang kenangan indah rumah tangganya bersama suami tercinta, Yusuf.

“Terimalah ini sebagai tanda cintaku. Cincin, gelang dan teristimewa kalung ini. Kau akan mengingatku setiap kali benda ini bergelantungan di leher,” tandasnya usai dia melamar Zalikha. Yusuf begitu pandai memikat hatinya. Dia membuang cemas gadis pilihannya dengan menandaskan cintanya tidak berkesudahan. Inilah modal hidup. Keyakinan yang ditanam.

(lagi…)


Posted in Cerpen

Putri Teratai

Oleh: M Hasbi Salim

Pagi‑pagi sekali aku meluncur menaiki ninja menuju kampus biru tempat kuliahku. Hatiku bertanya‑tanya apakah namaku tercantum dalam daftar nama mahasiswa yang akan melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) pada semester ini atau tidak. Jika ya, berarti aku dapat menyelesaikan kuliah dengan cepat sesuai rencana. Sehingga akan bisa segera menyunting ‘Putri Teratai’ buah bibir anak‑anak kampus.

‘Putri teratai’ begitu julukan khusus yang kuberikan kepada Diana, seorang mahasiswi setahun di bawahku. Julukan itu kuberikan karena melihat wajahnya yang anggun, bersahaja dan pemalu bagaikan bunga teratai yang ada di kolam kecil depan kampus.

“Yes!” seruku sambil mengucapkan hamdallah saat kulihat namaku tertera dengan jelas di papan pengumuman, walaupun pada deretan paling buntut. “Tidak masalah!” ucapku membatin.

(lagi…)


Posted in Cerpen

Panjol

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Masni dan Mak Rukayah pulang dengan langkah gontai. Raut wajah keduanya tampak kusut. Bias kecewa kentara terpancar di bola mata ibu dan anak itu. Panjol yang sedari tadi asyik bermain tanah, tertegun memandang dengan tatapan polos.

“Sabar ya, Nak. Mungkin sudah suratan nasib kita begini,” kata Mak sambil membelai rambut Masni. Sebetulnya Mak ingin lebih lama lagi menemani dan menghibur, tapi ia mesti bergegas ke tempat majikannya, sebab setumpuk pakaian telah menunggu untuk dicuci. Jika tidak, ia pasti diomeli seperti kejadian seminggu lalu.

Perlahan Masni beranjak ke kamarnya. Lalu, duduk di atas tilam yang lusuh. Bersandar di dinding yang sudah banyak bolong. Sejurus kemudian, butir airmata yang semenjak tadi ia tahan akhirnya tumpah jua.

(lagi…)


Posted in Cerpen

Predo De Costa

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Sejak hari pertama ikut pelatihan jurnalistik intensif yang diselenggarakan Lembaga Pers Dr Soetomo (LPDS) Jakarta, sosok Predo De Costa telah menyita perhatianku. Aku merasa cepat akrab dengan utusan Timor Leste itu. Apalagi ternyata homestage dia tak jauh dari tempat kostku, masih sama-sama di kawasan Kebon Sirih, hanya berbeda gang.

Biasanya, sehabis shalat Maghrib aku sering mampir ke tempat dia untuk mengajak makan bareng. Sebaliknya, bila sedang libur dan tidak ada tugas, justru Predo yang gencar mendesak aku untuk jalan-jalan ke Blok M, Melawai, Roxy, Glodok, atau Tanah Abang. Kalau membeli suatu barang, dia selalu berhitung dengan kurs dollar, sekadar untuk membandingkan harga di negeri asalnya.

Selama berteman dengan Predo De Costa, aku banyak bertanya tentang kondisi riil Timor Leste. Katanya, rakyat di sana tetap saja menderita. Setelah sekian tahun memisahkan diri dari NKRI, kerusuhan masih sering terjadi di mana-mana. Ekonomi morat-marit. Bayangkan, pendapatan per kapita penduduk cuma 1 dollar, sementara harga-harga selangit. Penghasilan mereka sekadar cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok, itupun diperparah lagi dengan kelangkaan beras.

Selain itu, beberapa keunikan yang melekat dalam diri Predo seolah menjadi hiburan tersendiri bagiku. Aku kerap dibuat tersenyum oleh tingkah polahnya, yang setiap kali melihat cewek cantik mulutnya pasti berdecak ck.. ck… Begitu pula kalau menyaksikan para pengendara motor berlomba tancap gas di jalan raya, Predo spontan berdecak kagum, “Waduh, orang-orang di sini sangat lihai, ya. Kalau di Timor Leste seperti itu pasti sudah tabrakan!”

Ada satu lagi kebiasaan Predo dan temannya, Abelio Barros, yang menurutku cukup unik. Setiap kali makan di warung, kuperhatikan, keduanya paling alergi memesan teh. Karena penasaran, iseng aku bertanya, “Kenapa kalian tidak pernah minum teh?”

“Sebab, menurut kepercayaan masyarakat kami, minum teh itu bisa mengurangi darah,” jawab Predo.

Mendengar itu, aku hampir saja tersedak lantaran merasa geli. Tapi, kucoba sebisa mungkin untuk menahan tawa, khawatir mereka tersinggung!

***

Berakrab ria dengan Predo De Costa bukannya tanpa resiko. Seperti malam itu, ketika aku bertandang ke kamarnya langsung ditawari bir.

“Ayo coba, rasanya enak,” katanya sembari menuangkan ke gelas.

“Seumur hidup aku belum pernah mereguk minuman keras.”

“Tidak pernah?!” cecar Predo bernada takjub. “Masak wartawan tidak pernah mencoba hal beginian. Rugi besar kamu,” tandasnya terus merayu.

Tapi, aku tetap bersikukuh untuk tidak termakan hasutan Predo. Melihat aku sedikit pun tak tergiur, akhirnya dia melunak. “You Muslim?”

Aku hanya mengangguk. Namun, itu sudah cukup bagi Predo untuk menghentikan ‘propoganda’ dia.

Pembicaraan kami pun akhirnya beralih ke tema lain. Sempat ngalur-ngidul. Tapi, tak lama kemudian Predo De Costa mengusulkan, “Bagaimana kalau malam ini kita ke tempat pelacuran. Masak sudah dua minggu di Jakarta, belum juga merasakan cewek ibukota.”

Mendengar itu, Abelio Barros spontan menimpali sambil ketawa-ketawa. “Predo ini memang lagi gatal-gatalnya. Maklum, masih bujangan. Beda dengan kita yang sudah beristri. Daripada dengan orang lain berisiko, mendingan sama istri sendiri, ya Rasyid…”

“Kenapa tak cepat kawin saja, Predo?” sergahku.

“Di Timor Leste syarat untuk kawin lumayan berat. Calon mempelai pria minimal harus menyediakan belasan ekor babi. Plus, cincin emas. Belum lagi biaya buat pesta. Kalau tak punya uang puluhan juta, jangan harap bisa kawin,” ujar Predo.

Sebenarnya aku masih ingin ngobrol lebih lama dengan Predo dan Abelio. Tapi, karena ingat ada tugas menulis feature dan besok sudah harus dikumpul, maka aku segera pamit. Aku tak tahu lagi, apakah Predo jadi berangkat ke lokasi WTS, atau justru mengurungkan niatnya itu?

***

Sekitar pukul 09.00 WIB pagi kulihat Predo sudah di Laboratorium Komputer yang disediakan pihak LPDS. Padahal, pelatihan sekitar satu jam lagi. Ia asyik main chatting. Mumpung gratis, katanya, suatu kali. Apalagi di Timur Leste satu jam menggunakan internet biayanya 9 dollar, sama dengan Rp45 ribu.

Begitu melihat aku nongol, Predo langsung menegur, “Ih, Rasyid. Tadi malam, tak lama sehabis kamu pulang ada cewek yang mengetok kamarku. Tapi, sialnya dia berkulit hitam. Kalau tipe seperti itu, di negaraku juga banyak. Aku ingin mencari cewek yang putih mulus.”

Ah, ini anak topik utamanya tidak jauh dari urusan libido. Kalau kuladeni bicara, mungkin akan rame. Sementara beberapa wartawati dari Kompas sudah ada yang datang. Kalau mereka mendengar, kan malu. Karena itu, kutinggalkan saja dia. Mendingan membuka website Rumah Dunia Gola Gong, jauh lebih bermanfaat, putusku.

***

Seminggu lebih aku tidak ke tempat Predo. Sebab, semakin mendekati akhir pelatihan, justru semakin banyak tugas yang diberikan oleh para instruktur. Makanya, Ahad ini meskipun libur aku tidak berniat ke mana-mana, mau konsetrasi mengerjakan tugas.

Ketika aku sedang asyik berkutak dengan laptop, tiba-tiba pintu kamarku diketok seseorang. Begitu kubuka, ternyata Predo De Costa. Langsung kupersilakan masuk.

Wajahnya tampak kusut, seperti tengah dijamak problem tertentu. “Rasyid, bisa nggak aku pinjam uang seratus ribu. Tiga hari nanti pasti kubayar. Soalnya, lagi menunggu transfer dari bosku. Sedangkan sekarang aku sama sekali tak punya uang.”

“Iya, tentu akan kukasih. Tapi, kok mendadak sekali. Ada apa?” pancingku.

Tak lama kemudian, dari mulut Predo mengalir kisah, bahwa kemarin dia membocking WTS. Orangnya cantik, dan yang terpenting mau memasang tarif sedang. Berjam-jam mereka bercengkrama di kamar, sampai Predo merasa puas.

“Sore itu, aku berencana akan mengantarkan pulang perempuan tersebut. Tapi, begitu aku selesai mandi kulihat dia sudah tidak ada di ranjang. Celakanya, begitu saku celana yang tergantung di dinding kurogoh ternyata dompetku raib. Siapa lagi kalau bukan perempuan itu yang mengembat,” ungkap Predo.

Semua uangnya ludes digasak, termasuk lembaran dollar yang disimpan di laci. Tak ketinggalan, handphone dia juga ikut disikat. “Masih untung paspor saya tidak sekalian diambil. Kalau itu sampai dibawa kabur, tambah ruwet masalah saya,” gerutu Predo.

“Makanya, soal tipu-menipu mungkin WTS Jakarta ini sudah pakarnya. Kamu saja yang tidak waspada,” cecarku.

Perdo hanya diam. Entah dia kapok atau tidak. Dalam hati aku berharap, semoga pengalaman itu memberi pelajaran bagi Predo De Costa untuk tidak gampang berbuat zina.

***

Banjarmasin, 4 Sept 2007


Posted in Cerpen

Cahaya di Ujung Labirin 3

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Roda waktu terus menggelinding, melindas beragam peris­tiwa. Akhirnya, penantian panjang Gito usai jua. Delapan tahun sudah ia menjalani masa hukuman. Diiringi tatapan rekan‑rekan napi lain, Gito di antar petugas sipir.

Cukup lama Gito tertegun di depan pintu gerbang LP, seolah ia ingin mereguk tandas udara kebebasannya. Tangannya tengadah mengucap syukur. Dalam hati Gito berikrar, cukup sekali menjadi penghuni LP. Dia kapok, tak akan mengulangi kesalahan di masa lalu.

Tanpa terasa Gito sudah berdiri di tepi jalan. Ia lalu merogoh saku. Untung tadi, Pak Arief memberinya uang sepuluh ribu, sekedar sangu pulang. Begitu dilihatnya sebuah mikro­let melintas, Gito cepat melambaikan tangan. Mobil itu berhenti. Gito segera masuk. Taksi tersebut kemudian melaju.

“Stop! Stop di sini, Bang!” sergah Gito sambil turun.

Gito menapakkan kaki, menyusuri gang yang menuju ru­mahnya. Rupanya beberapa warga sekitar masih mengenalinya. Gito coba menebar senyum. Tetapi sambutan mereka tampak tak bersahabat.

“Wah, anak durhaka itu sudah balik. Bakal tak aman nih komplek,” bisik seorang ibu yang sedang memilih sayur.

“Huss, Mbak Surti jangan kelewat keras bicaranya. Kalau dia dengar dan tersinggung salah-salah kamu bakal kena bacok!” timpal wanita lain.

Gito berusaha untuk tidak terpengaruh dengan suara‑suara sumbang yang menyudutkan itu. Dia terus melangkah. Rasanya, ia sudah tak sabar lagi berte­mu dengan adiknya Sutinah.

Tapi, begitu tiba di halaman, rumah itu terlihat sepi. Pintunya terkunci rapat. Beberapa kali Gito mengetuk namun tak ada sahutan. Sampai kemudian seorang tetangga melongok­kan kepala lewat jendela.

“Eh, Nak Gito! Rumah itu sudah lama kosong. Kuncinya dititipkan Sutinah sama ibu!”

Gito menyamperi wanita tua itu. “Emangnya Suti­nah ke mana, Bu?”

“Setelah Emakmu meninggal, Sutinah tak bisa melanjutkan sekolah. Lama ia luntang‑lantung kerja serabotan. Sampai kemudian ada wanita dari kota menawari dia kerja. Katanya sih mau dijadikan karyawan di sebuah salon. Tapi Sutinah tak pernah ngasih alamat,” jelas tetangganya itu.

Gito mengangguk sedih. Setelah tak ada keterangan lain seputar keberadaan adiknya, Gito mohon pamit.

Saat ia masuk rumah, tampak dipenuhi debu dan sarang laba‑laba. Rumah itu benar‑benar tak terawat. Gito mencoba membersihkan sebisanya. Dan begitu sampai di depan kamar bapaknya (alm), Gito tercekat. Bayangan peristiwa tragis itu kembali berkelebat di benak, menyamak hati yang rawan.

Malamnya, Gito kesulitan memejamkan mata, padahal tubuhnya begitu letih. Sudah berulang kali Gito membolak‑balik badan di dipan, tapi perasaan gelisah itu tak juga sirna. Ia terus dihantui rasa sesal dan bersalah. Berikutn­ya, segera Gito putuskan untuk berwudhu disusul tadarus Alquran.

***

Untuk sementara, keinginan Gito mencari adiknya ditang­guhkan dulu. Ia harus bekerja, mengumpulkan uang. Sudah beberapa kali ia menawarkan diri. Pertama, di bengkel Bang Somad. Tapi ia langsung ditolak. Katanya, mereka sudah kele­bihan tenaga kerja. Begitu pula di toko bangunan Babah Ping An, lagi‑lagi ditolak. Namun Gito tak putus asa.

Begitu mendengar bahwa di rumah makan Padang milik Pak Miko membutuhkan karyawan, Gito cepat ke sana.

“Dengar‑dengar katanya disini lagi memerlukan tenaga baru. Betul ya Pak? Kebetulan saya siap melakukan apa saja. Yang penting saya tidak nganggur,” aju Gito pada Pak Miko.

“O, kamu Gito tuh… Kapan keluar dari tahanan?!” tukas lelaki yang mulai beruban itu dengan nada sinis.

“Baru seminggu, Pak!”

“Memang betul di sini memerlukan tambahan karyawan. Tapi bukan untuk mantan pembunuh! Apalagi yang namanya pembeli itu bermacam‑macam tabiat, jika tidak sabar menghadapi salah‑salah terjadi keributan. Sedangkan kamu setahu saya bukan orang yang sabaran. Buktinya, bapak sendiri tega dihabisi!”

Dada Gito berdegup kencang. Gemuruh. Kata‑ kata itu bagai sengat lebah. Namun Gito berusaha menahan diri agar terpancing amarah. Ia sadar tak mudah bagi bekas napi untuk memulihkan citra dirinya.

Dengan langkah gontai Gito berlalu. Entah kebetulan, sayup‑sayup kupingnya mendengar Ebiet G. Ade melantunkan lagu ‘Kau Dengarkah Keluhanku’ dari sebuah radio:

Nampaknya semua mata memandangku curiga. Seperti hendak telanjangi dan kuliti jiwaku. Apakah buku diri ini akan selalu hitam pekat? Apakah dalam sejarah orang musti jadi pahlawan? Sedangkan Tuhan di atas sana tak pernah menghukum dengan sinar mata‑Nya yang lebih tajam dari matahari…

Kembali dari keterasingan ke bumi beradab, ternyata lebih menyakitkan dari derita panjang. Oh Tuhan bimbinglah batin ini agar tak gelap mata. Dan sampaikanlah rasa inginku kembali bersatu…

Tembang itu seolah bagian dari instrumen kisah hidup Gito!

***

Suatu malam Gito disuruh menghadap Pak RT. Ia sendiri tak tahu kenapa dipanggil. Apalagi setiba di sana Pak Sukiman, saudagar barang kelontongan, juga ikut menunggu kedatangannya.

Setelah Gito duduk, Pak RT langsung angkat bicara, “Begini, Nak Gito. Tujuan kami mengundang kamu kemari adalah untuk meluruskan sesuatu, yang mungkin belum kamu ketahui. Bahwa waktu proses penyelengaraan jenazah Bapakmu, disusul biaya rumah sakit juga pemakaman Emakmu, dulu kami warga di sini meminta agar Pak Sukiman ini mau menalangi. Diperkirakan ada sekitar Rp 9 juta biaya yang dikeluarkan. Nah, kebetulan selagi kamu di sini, baiknya segera kita clearkan masalah ini.”

“Tapi saya tak punya uang sebesar itu, Pak! Untuk biaya bertahan hidup saja saya mesti prihatin.”

“Kami tahu itu! Karena itu kami sudah memikirkan jalan tengahnya. Bagaimana jika rumah Nak Gito dijual saja sama Pak Sukiman. Nanti uang pembayaran lebihnya mungkin bisa digunakan Nak Gito untuk modal usaha. Gimana?” usul Pak RT.

“Yakh… saya tidak bisa langsung memutuskan saat ini juga. Bagaimana jika saya minta tangguh waktu tiga hari untuk mempertimbangkan?”

“Baiklah. Kami tunggu!”

***

Setiap ngedon di rumah, Gito tak bisa mengenyahkan bayangan pembunuhan di hari naas itu. Wajah bapaknya yang mengerang kesakitan sambil memegangi belati yang nancap diperut acapkali mengusik ketenangan Gito. Karena itu Gito memutuskan untuk menjual saja rumah tersebut. Apalagi, sepulang dari masa hukuman, masyarakat di sekitar masih menganggap dirinya sebagai pendosa. Terlalu sering Gito mendengar cemooh yang menyakitkan hati. Dengan uang sisa penjualan rumah itu, Gito berusaha mencari adiknya, Sutinah. Sudah beberapa kota yang dia jelajahi, tapi tanda‑tanda keberadaan Sutinah belum juga tampak. Adiknya itu seperti raib di sembunyikan bumi.

Waktu ingin membayar makan di warung soto, tanpa senga­ja dompet Gito terjatuh. Selembar kertas ikut tercecer. Gito segera memungutnya. Ternyata alamat ustadz Dayat yang diber­ikan saat mereka ingin berpisah. Tiba‑tiba saja kerinduan pada ayah angkatnya itu menggedor‑gedor relung hatinya. Maka, hari itu juga Gito memutuskan untuk ke Magelang.

Setiba di alamat dimaksud ia langsung di sambut para santri. Ia diantar ke bilik khusus. Betapa takjubnya Gito saat melihat ustadz Dayat di hadapannya. Tanpa kuasa menahan diri, Gito segera menghambur ke pelukan lelaki yang telah meluruskan jalan hidupnya itu. Ia sama sekali tak menyangka ustadz Dayat juga sudah dibebaskan.

Akhirnya, Gito nyantri di ponpes asuhan ustadz Dayat. Di sini para santri tidak hanya dijejali ilmu agama, tapi kadang mereka turun ke lapangan menyerukan amar mar’uf nahi munkar.

Seperti kali ini, setelah mendapat laporan dari sumber terpercaya, nanti malam mereka akan bergerak menyantroni sebuah gudang dekat dermaga yang diduga sebagai tempat ajang penjualan wanita ABG yang berkedok TKW, padahal sesampai di negara tujuan mereka dijadikan tenaga prostitusi.

Gito ikut dilibatkan. Dengan senjata pentongan dan pedang mereka beraksi. Setelah sebelumnya melaporkan rencana penggerebekan ini kepada aparat polisi setempat.

Betul juga, ketika di dek kapal bagian paling bawah digeledah, di sana ratusan gadis‑gadis polos disekap. Kea­daan mereka sungguh mengenaskan.

“Ayo, semua cepat keluar!” teriak Gito.

Satu per satu para wanita yang baru beranjak dewasa itu dituntun Gito menuju tangga.

“Kak Gito?” tanya seorang gadis agak ragu. Sebagian wajahnya tertutup oleh rambut yang kusut‑masai.

“Sutinah? Betul ini Sutinah?” cecar Gito tak kalah kagetnya.

“Iya. Saya Sutinah, Kak!” jawab gadis itu sambil menghambur ke pelukan Gito. Mereka bertangisan. Diliputi keharuan. Rupanya Allah masih berkenan mempertemukan mereka. Justru disaat adiknya hampir saja terjerumus dari perbuatan orang-orang biadab itu. TAMAT

***


Posted in Cerpen

Serasa Kau Masih di Sisiku

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Sore yang indah. Langit disepuh bias merah tembaga. Desir angin menggamit lembut ujung dedaunan. Sebagian bur­ung‑burung sudah ada yang kembali ke sarangnya, berkemas untuk episode esok yang tak pernah pasti.

Seperti hari‑hari kemarin, aku duduk di beranda. Terpe­kur dalam kesendirian. Sambil tanganku terus mengelus peru­tku yang kian membesar. Ini sudah bulan ketiga kehamilanku. Aku berharap bayi yang lahir kelak adalah laki‑laki, dupli­kat dari sang bapak. Setiap memandang pohon mangga yang terpancak di hala­man, ingatanku selalu tertuju pada Mas Agam.

“Bagaimana pun bibit mangga ini mesti ditanam. Meski kita tak pernah tahu apakah kelak akan menikmatinya atau tidak. Sebab alam sendiri begitu sarat mengajarkan tentang kedermawanan. Seperti matahari yang selalu memberikan sinarnya tanpa sempat mempertanyakan imbalan yang ia terima,” cetus Mas Agam kala itu sambil mengibas-ngibaskan tangannya yang belepotan tanah.

Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan dia yang terkesan berfalsafah itu. Karena aku sudah terbiasa mendapatkan muntahan‑muntahan kalimat dari Mas Agam yang membutuhkan perenungan lebih mendalam.

Aku sendiri mulai terkesan dengannya lantaran kepia­waian dia dalam mengolah kata‑kata. Kendati kadangkala sikapnya rada ugal‑ugalan. Bahkan perkenalan kami cukup unik dan tak terduga. Malah aku sempat menduga dia orang gila yang kesasar.

Malam itu, selesai shalat Isya aku dikagetkan suara ribut‑ribut diluar. Seorang pemuda berteriak lantang mengu­sik perhatian seluruh penghuni kost.

“Wahai para penghuni khayangan! Adakah di sini yang bernama Dewi? Aku datang membawa titah. Songsonglah segera!” Berulang‑ulang kalimat itu diucapkannya, bagai orang yang tengah menghapalkan skenario untuk pertunjukan teater.

“Mungkin kamu yang dia maksud,” desak teman‑temanku sambil mendorong‑dorong tubuhku agar keluar menemuinya.

“Kebetulan saja namaku Dewi. Masak omongan orang yang lagi menceracau mesti ditanggapi,” sergahku mencoba menge­lak.

Karena pemuda itu tak bosan‑bosan mengoceh, akhirnya ada juga temanku yang memberanikan diri menyamperi dia dari atas loteng.

“Cari siapa ya?” tanya Yetti.

“Di sini ada yang namanya Dewinta Anggreini? Aku mau ketemu. Penting! Bilang saja dari wartawan Al-Haq,” kata pemuda itu sambil menunjukkan ID Card‑nya.

Setengah ragu, aku mengansurkan tubuh di depan pintu. Dia langsung menyapaku: “Assalamu’alaikum!”

“Wa’alaikum salam,” sahutku seraya tetap diliputi rasa heran.

“Kamu Dewi kan?! Tadi aku menawari temanmu Santi untuk jadi model busana muslim. Dia sudah setuju. Karena kami butuh dua orang, dia kemudian merokemendasikan kamu. Kalau nggak percaya, ini pesan dia, juga foto kalian berdua,” katanya langsung ke pokok masalah.

Aku segera menerima kertas yang disodorkan pemuda itu. Betul, dari tulisannya aku bisa mengenali kalau itu memang benar-benar dari Santi.

“Bagaimana? Setuju kan!” cecarnya.

Semula aku sempat menolak. Tapi karena terus dibujuk (setengah dipaksa) akhirnya aku menyerah juga untuk menerima tawaran tersebut.

***

Setelah acara pemotretan itu aku mengira tak akan ketemu dia lagi. Tapi dugaanku meleset. Sekitar sebulan berikut ia nongol. Tanpa banyak cingcong ia langsung mengajakku makan di luar.

“Kebetulan aku barusan dapat juara lomba penulisan Hari Lingkungan Hidup. Jadi, maksudku kemari pengin traktir kamu. Hitung-hitung sekalian bagi-bagi rejeki,” katanya.

“Gimana ya…” sahutku ragu.

“Jangan menolak. Soalnya memberi kesempatan orang lain untuk berbuat kebaikan juga sebuah kebaikan. Ayolah. Please…”

Jadilah malam itu kami makan bersama di depot Ananda.

Sedang asyik menikmati hidangan, tiba-tiba Mas Agam nyeletuk, “Dewi, dengar-dengar sudah dua kali orang melamarmu tapi menthok. Memangnya gimana kreteria calon suamimu nanti?”

Aku hampir saja tersedak mendengar pertanyaan itu. Sesaat aku sempat dibuatnya kelimpungan.

“Kalau Mas Agam sendiri menginginkan istri itu yang bagaimana?” elakku mencoba mengalihkan arah pembicaraan.

“Yang penting salehah. Di samping juga mandiri, tidak terlalu mengantungkan hidupnya pada suami. Sebab, kalau aku mati dia tidak panik untuk menafkahi anak-anak,” kata Mas Agam sambil menyendok sayur sop di depannya.

“Maksudnya dia harus wanita karir?”

“Tidak mesti. Ia boleh saja menjadi ibu rumah tangga, asal itu memang panggilan jiwanya. Yang pasti aku tidak mau seorang wanita itu begitu menjadi istri, lalu potensinya jadi lumpuh. Rasanya sayang kalau bakat yang dikaruniakan Allah ditelantarkan,” lanjut Mas Agam.

Bicara dengan Mas Agam memang mengasyikkan. Dalam setiap pertemuan, ia hampir selalu memotivasiku. Kalau ditanya targetnya selalu jawabnya ingin jadi orang kaya.

“Sebab kalau ekonomi muslim kuat kita akan bisa berbuat banyak untuk umat. Kita terlalu mokal bicara tentang jihad ke negeri tetangga, kalau hal kecil seperti menyuguhi tamu air putih saja kita sering abai. Itu karena kita miskin, di samping juga dihinggapi sifat kikir. Bagaimana orang lain bisa respek kalau kita bisanya cuma menerima dan enggan memberi,” ucap Mas Agam berapi-api di kesempatan lain.

Ternyata omongan Mas Agam itu tidak main-main. Setelah ia jadi suamiku, aku sering menyaksikan ia mendermakan uangnya pada fakir miskin dan anak-anak panti asuhan. Padahal gajinya sendiri tidak begitu besar.

Bahkan suatu hari aku pernah dibuatnya takjub. Uang honor tulisan yang sekiranya direncanakan untuk membeli kemeja koko semua disumbangkannya untuk dana pembangunan masjid. Padahal pagi sebelumnya, kudengar ia begitu menggebu-gebu ingin punya baju baru. Tapi ketika siang itu pencari dana mengetuk pintu rumah kami, tanpa banyak pertimbangan ia langsung memberikan uangnya.

Waktu aku protes, dengan enteng Mas Agam berucap, “Ah baju yang ada juga masih bagus. Nanti rejeki lain pasti datang. Kalau orang minta dan kita kebetulan punya kenapa tidak. Sesekali menyenangkan orang yang punya hajat apa salahnya.”

Haahhh?! Sesekali, katanya. Apakah Mas Agam lupa kalau ia berbuat itu bukan cuma sekali, bahkan terlalu sering?

***

Seperti hari-hari lalu, semenjak suamiku terbunuh karena ditikam seseorang yang tak dikenal (diduga suruhan pengusaha ilegal logging yang kasusnya dibongkar Mas Agam), setiap sore aku duduk di beranda rumah sambil memandangi pohon mangga. Dengan begitu aku sering merasa Mas Agam masih di sisiku. Terngiang selalu ucapannya saat-saat pertama menanam bibit mangga itu.

“Bagaimana pun bibit mangga ini mesti ditanam. Meski kita tak pernah tahu apakah kelak akan menikmatinya atau tidak. Sebab alam sendiri begitu sarat mengajarkan tentang kedermawanan….”

Kini pohon mangga itu sudah tumbuh besar dan berbuah. Sekarang tinggal sebiji buahnya yang tersisa, setelah sebagian besar diminta para tetangga.

Sebenarnya, kalau memperturutkan hasratku yang lagi ngidam mungkin sudah lama mangga itu kujolok. Tapi keinginan itu selalu kutahan. Sebab setiap melihat buah mangga itu berjuntai-juntai di tiup angin, rasanya ada kebanggaan tersendiri bahwa jerih-payah Mas Agam dulu hasilnya terlihat.

Pikiranku pun sempat menerawang jauh. Kenapa Mas Agam pergi menghadap Ilahi justru disaat kehamilanku yang pertama.

Aku tahu betapa Mas Agam dulu sangat menginginkan anak. Tapi selama tiga tahun mengarungi bahtera perkawinan, kami belum juga dikarunia buah hati. Sampai kemudian aku telat menstruasi satu bulan. Setelah diperiksa, ternyata aku positif hamil. Sengaja aku merahasiakannya dari Mas Agam, dengan maksud memberinya suprise.

Tapi sebelum aku sempat memberitahu tentang kehamilanku, musibah itu merenggut nyawa Mas Agam.

Mendadak lamunanku buyar, ketika Titin, tetanggaku di ujung gang, memanggil-manggil namaku.

“Mbak Dewi, minta mangganya ya?! Soalnya aku lagi ngidam dan pengin ngerujak mangga. Tadi sudah dicari-cari di pasar tapi tak ada yang jual. Boleh nggak Mbak Dewi?” Suara itu begitu memelas.

Aku sendiri sangat menginginkan buah itu. Sebab ada ikatan emosi dengan Mas Agam setiap menatap buah mangga tersebut.

Di tengah kebimbanganku, tiba-tiba seolah-seolah suara Mas Agam berdengung di telingaku.

“Dalam ajaran Islam seseorang belum bisa dikatakan dermawan sebelum ia memberikan apa yang dicintainya.”

Tiba-tiba aku seperti diingatkan. Sesaat kemudian langsung mengiyakan permintaan Titin.

Rasa plong mengusap relung kalbuku. Hati kecilku pun lalu berbisik, “Mas Agam, pesanmu tentang kedermawanan akan kuingat selalu….”

(Pernah dimuat di Serambi Ummah No.180, 25 April–1 Mei 2003)

***


Posted in Cerpen

Batu Jilatan

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Aneh juga. Setiap pikiran Salim lagi mumet, rambutnya yang keriting spontan tambah menggumpal tak karuan. Berubah acak‑acakan. Seperti kali ini, sebentar‑sebentar Salim menggaruk‑garuk kepalanya.

Memang, beberapa bulan terakhir toko meubel dia rada sepi. Pembeli semakin jarang. Langganan berkurang. Entah kenapa, mereka lebih suka mampir ke tempat lain. Padahal dulu toko Salim cukup laris. Kadang dalam sebulan sampai dua truk penuh ia merekrut lemari dari desa Kandang Halang dan Panyiuran.

“Sekarang menjual sebiji lemari saja sehari, susah!” gumam Salim di balik meja. Buktinya, hari ini sudah hampir sore tak satu pun barang dagangannya yang laku.

Berbagai kiat telah ia coba. Termasuk mendatangi orang pintar. Siapa tahu ada yang dengki atas usaha yang dikelola Salim, kemudian menaruh simbol pembenci, sehingga calon pembeli kehilangan minat. Namun, setelah sekeliling toko ditaburi tapung tawar, tetap saja dagangan Salim sepi.

Maka, ketika mudik ke Amuntai, Salim menyempatkan diri menemui salah seorang pamannya, seraya menumpahkan keluhan seputar usaha dia yang kian di ambang kebangkrutan.

“Begini saja. Jika tak salah, Misdan, saudara sepupumu di daerah pedalaman Upau punya jimat penglaris yang didapat dari peninggalan (alm) kakek kalian. Namanya batu jilatan. Disebut demikian, karena menurut cerita, kalau kijang‑kijang mau mandi atau minum di sungai mereka selalu menjilat‑jilatkan lidah di sebuah batu yang itu‑itu juga, padahal batu lain banyak bertebaran. Nah, itulah yang dimaksud batu jilatan. Dan apuahnya, konon apabila disimpan di antara barang dagangan, dalam waktu singkat akan dirubungi pembeli. Cobalah temui sepupumu tersebut,” usul paman Idar.

“Kalau terbukti berkhasiat, kenapa bukan paman saja yang mencoba?” cecar Salim, masih setengah sangsi.

“Lha, kamu kan tahu bahwa paman seumur‑umur tak pernah berdagang, cuma bertani dan memelihara ternak.”

Sambil mikir Salim manggut‑manggut. Agaknya, ia mulai percaya dengan saran pamannya itu.

Malam menjelang tidur, Salim menuturkan rencana dia untuk berangkat ke perbatasan Upau kepada Fatimah. Mendengar niat suaminya yang menggebu-gebu untuk mendapatkan batu jilatan, ibu dua anak itu malah menertawakan.

“Masak, Bang Salim percaya dengan hal-hal yang bersifat tahayul. Kalau rejeki kita lagi seret, anggap saja ibarat roda pedati kita lagi di bawah. Usaha apapun pasti pernah mengalami pasang-surut. Barangkali, selama ini kita kurang berdoa kepada Allah, semata mengandalkan tenaga,” tukas Fatimah.

Tapi, nasehat istrinya itu ditanggapi Salim dengan dingin. Tekadnya sudah bulat, bagaimana pun caranya ia harus memperoleh batu jilatan!

***

Pagi sekali Salim sudah berangkat, naik taksi. Tujuan pertama ialah ke tempat Mak Tua. Karena ia sendiri lupa alamat Mislan, mungkin lebih sepuluh tahun ia tak pernah lagi ke sana. Jadi maksud Salim, ia minta supaya diantar.

Setelah sejenak bercengkerama serta berbasa-basi, selepas waktu Dzuhur, ditemani Kastalani, putra sulung Mak Tua, mereka pun menuju lokasi dimaksud. Ternyata, untuk masuk ke sana hanya bisa dilewati dengan jalan kaki, berpuluh-puluh kilometer. Di sebelah kiri jalan setapak itu terbentang tebing curam. Kalau kebetulan hujan, tanah habang tersebut berubah becek. Belum lagi jalannya yang turun-naik, jika kurang hati-hati bisa terpleset dan jatuh. Namun, medan yang berat itu tak menyurutkan semangat Salim untuk mendapatkan batu jilatan.

Akhirnya, menjelang sore mereka tiba juga di pondok Maslan. Maslan sendiri nyaris tak mengenali Salim jika tidak dijelaskan oleh Kastalani. Soalnya, mereka lama tak bertemu.

Malamnya, di bawah penerangan lampu petromak, mereka terlibat pembicaraan santai. Saling menceritakan pengalaman masing-masing. Tak lupa Salim memaparkan usaha meubelnya yang mulai merosot.

“Karena itulah, aku datang kemari untuk meminta batu jilatan. Siapa tahu dapat menaikkan hasil penjualan. Kamu sendiri, di sini berkebun cengkeh dan merica. Menunggu panen setahun sekali. Jadi, batu jilatan itu akan lebih bermanfaat kalau diserahkan padaku,” bujuk Salim.

Semula, Maslan sempat menolak untuk memberikan. Tapi, setelah diiming-imingi dengan uang tebusan sebesar Rp 500 ribu, ia pun akhirnya tak keberatan menyerahkan batu jilatan itu ke tangan Salim.

***

Entah kebetulan, yang jelas semenjak Salim menyimpan batu jilatan toko meubelnya kembali dipadati pelanggan. Setiap hari ada saja yang membeli bupet, lemari pakaian, meja belajar, kursi makan, sofa, ranjang matahari, dan lainnya. Bahkan tak sedikit yang rela memesan duluan, karena barang yang dicari keburu habis. Dalam sebulan ini saja, Salim tiga kali bolak-balik Samarinda – Amuntai untuk memenuhi permintaan barang.

Salah satunya, yang membuat dagangan Salim laris-manis, seorang perempuan — yang kemudian dikenal dengan panggilan nenek Asih — mengajak berkongsi. Ia akan membawa anak-anak angkatnya yang tersebar di berbagai pelosok untuk berbelanja ke toko Salim, dengan kesepakatan jika transaksi gol, Salim memberinya uang persen. Ternyata lewat cara itu, usaha meubel Salim mengalami kemajuan.

Dan, Salim semakin yakin bahwa kesuksesan yang diraihnya berkat keampuhan batu jilatan. Karena itu, ia tambah memperlakukan istemewa batu jilatan — diberi harum-haruman dan kain kuning. Kalau ada barang yang laku, sambil meletakkan uang di laci meja, Salim terlihat mengambil batu jilatan tersebut lalu menciumnya. Barangkali, semacam ungkapan terima-kasih.

Jum’at malam ketika Salim ingin memandikan batu jilatan, tiba-tiba benda itu tak ada di tempatnya. Salim kasak-kusuk mencari, tapi tak juga ketemu. Ia langsung menanyai istrinya, tapi wanita itu mengaku tak tahu-menahu.

“Pasti Dodi, kalau bukan dia siapa lagi! Anak itu memang suka jahil. Apa-apa dibuat mainan. Sekarang mana dia,” tukas Salim dengan mata melotot.

Begitu anak 8 tahun itu dicecar disertai omelan, akhirnya ia mengaku kalau tadi siang mengambil batu jilatan untuk menimpok kucing. Dengan terbata-bata ia menunjuk bahwa batu tersebut nyemplung di got. Mendengar itu, karuan saja Salim emosi. Apalagi setelah got diaduk berhari-hari, benda yang dicari tak bisa lagi diketemukan.

Karena tak kuasa menahan amarah, Salim memukuli Dodi. Bocah itu sambil menangis sesunggukan, berteriak minta ampun. Buntutnya, karena sang istri membela Dodi, ia juga jadi sasaran luapan kejengkelan.

“Ini karena kamu tidak bisa mendidik, makanya dia jadi anak nakal!” pekik Salim lantang.

“Kamu saja yang picik dan gelap mata! Masak, batu diagung-agungkan. Lebih dari anak dan istri…” pekik Fatimah tak mau kalah, karena merasa suaminya sudah tak logis lagi bertindak.

Mereka bertengkar, saling adu argumentasi. Tapi, setiap sanggahan istrinya justru dibalas Salim dengan lebih ngotot.

Merasa bahwa bersitegang urat leher tidak akan menyelesaikan masalah, Fatimah berinisiatif mengalah. Ia sadar saat ini suaminya sedang kalut, diberi penjelasan apapun pasti sulit menerima. Karena itu ia segera membopong Dodi, lalu menjauh.

Baru saat mereka di ranjang, dan hati keduanya mulai dingin, Fatimah coba memberi pengertian.

“Beberapa waktu lalu, saat dagangan kita kurang laris, sebagai istri saya juga ikut mikir. Bahkan sempat konsultasi dengan seorang ulama. Lalu saya dianjurkan, kalau mau dimurahkan rejeki oleh Allah hendaknya memuliakan orangtua, sebab merekalah keramat dunia yang paling bertuah. Karena itu, empat bulan ini saya mengirimi uang ke ibunda Bang Salim, dan minta didoakan supaya usaha kita lancar. Terbukti, kini kita dapat laba cukup lumayan,” ungkap Fatimah.

Salim serius menyimak.

“Jadi, menurut saya bukan lantaran khasiat batu jilatan,” sambung Fatimah. “Kita lihat saja nanti, apa tanpa batu jilatan usaha kita tetap berkembang,” tambahnya.

Hari demi hari terus mengalir. Usaha toko meubel yang dikelola Salim tetap banyak menyedot pembeli. Kendati Salim sudah tak menyimpan batu jilatan lagi.

“Betul juga, ternyata kelapangan pintu rejeki itu erat kaitannya dengan memuliakan orangtua,” gumam Salim kepada diri sendiri.

Sejak itu Salim kian sering mengirimi uang atau bingkisan kepada orangtuanya. Juga mengajak sowan anak-istri.

“Kalau usaha kami terus-menerus lancar seperti sekarang ini, saya berencana tahun depan untuk memberangkatkan ibu berhaji. Makanya, doakan ya, Bu…” pinta Salim.

Wajah wanita tua itu langsung berbinar. Ia tampak bahagia mendengar janji putranya.

***
(Tulisan ini pernah dimuat di Serambi Ummah edisi 192 / 18-24 Juli 2003)


Posted in Cerpen

Copet

Oleh:Yuliati Puspita Sari

Sekali lagi kuperiksa dompetku. Alhamdulillah masih ada. Sebelum berangkat ibu selalu berpesan agar aku berhati-hati di jalan, terutama saat dalam bus. Biasanya banyak copet beraksi di dalam bus, terlebih saat bus penuh dan para penumpang berdesak-desakan. Itu merupakan lahan empuk bagi para pencopet.

Seorang ibu berperawakan agak gemuk tersenyum kepadaku. Ibu itu duduk persis di sebelah kiriku. Di pangkuannya ada tas besar yang entah isinya apa.

“Adik mau kemana?” tanya ibu itu.

“Semarang, Bu.” Sahutku.

Ibu itu tersenyum. Meski sedikit gemuk, tapi ia terlihat cantik.

Lagi-lagi pesan ibu terngiang di telingaku.

“Kamu harus hati-hati, Rin, jangan lekas percaya pada orang,” pesan ibu menjelang keberangkatanku.

“Ingat, Rin, kalau tidak terlalu penting, jangan ngobrol dengan sembarang orang di dalam bus. Ibu takut kalau kamu kena hipnotis nanti.” Lanjut ibu lagi.

Aku maklum dengan kecemasan ibu yang berlebihan melepas kepergianku. Sebelumnya aku memang tidak pernah pergi sendiri. Kalau pergi ke mana-mana apalagi harus menempuh jarak jauh selalu ada keluarga atau setidaknya teman yang menyertai. Tapi kali ini aku terpaksa harus berangkat sendiri. Tak ada yang bisa menemaniku. Semuanya sibuk dengan kerjaan masing-masing.

“Iya, Bu, Ibu tidak usah khawatir” sahutku singkat.

***

Udara sangat panas. Kukipas-kipaskan koran yang ada di tanganku. Lumayan dapat menghadirkan sedikit angin untuk mengusir gerah.

“Mau ngemil, Dik?” Ibu itu menawarkan sebungkus kacang goreng kepadaku.

“Terima kasih, Bu, saya masih kenyang” Kutolak halus tawaran ibu itu. Aku ingat pesan ibu agar jangan sembarangan menerima tawaran orang untuk makan, sebab obat bius bisa dimasukkan melalui makanan.

“Astagfirullahaladzim…!” ucapku lirih. Aku tidak bermaksud berburuk sangka pada ibu itu, tapi aku hanya sekadar berhati-hati.

Bus berhenti. Ada penumpang yang naik. Seorang laki-laki berambut gondrong dan berpakaian agak lusuh. Sepertinya ia berasal dari golongan kelas bawah. Aku patut curiga dengan orang ini. Keterbatasan ekonomi mungkin saja membuatnya nekat. Hal-hal semacam itu sering aku lihat dalam tayangan kriminal di televisi. Jangan-jangan sasarannya kali ini adalah aku. Ih…aku bergidik. Jantungku berdetak makin cepat saat laki-laki itu memilih duduk tepat di sebelah kananku. Bau keringat menyeruak ke dalam penciumanku.

“Ya Allah, lindungi aku.” Kupegang tasku erat-erat. Aku harus hati-hati dengan laki-laki ini.

Sepanjang jalan perasaanku tidak tenang. Rasa hausku pun terpaksa kutahan. Aku tak berani membuka tasku untuk mengambil air kemasan di dalamnya. Aku takut kalau laki-laki di sampingku tahu segala isi tasku. Kulirik laki-laki gondrong di sebelahku. Ia diam terpaku di tempat duduknya, entah apa yang saat ini dipikirkannya.

Selang beberapa jam, bus berhenti. Laki-laki itu beranjak dari tempat duduknya. Rupanya ia sudah sampai di tempat yang ditujunya.

Aku menarik napas lega. Kuperiksanya tas kecilku. Alhamdulillah, dompetku masih ada. Kureguk air kemasan yang kubeli di terminal bus tadi. Lumayan untuk mengusir rasa haus yang kutahan sejak tadi.

Kulihat ibu di sebelahku begitu tenang terlelap. Suara bising dari pengamen di dalam bus seolah menjadi nyanyian pengantar tidurnya.

Untuk yang kesekian kalinya bus berhenti lagi. Seorang laki-laki seumuran kakakku masuk. Ia duduk di sebelahku. Pakaiannya bersih, rapi, dan wangi. Ia juga berkaca mata, sama seperti kakakku. Penampilannya sangat berbeda dengan laki-laki berambut gondorong tadi. Dari penampilannya, aku yakin bahwa ia orang baik-baik. Tak ada yang perlu kucurigai dari dia.

“Mau ke Semarang, Mbak?” tanyanya sopan.

“Iya, Mas,” sahutku ringan.

“Mas mau ke Semarang juga?” aku balik bertanya.

Laki-laki itu mengangguk.

“Saya mau menjenguk saudara saya di Semarang,” katanya.

Aku senang, kali ini aku tidak perlu ketakutan seperti tadi. Aku aman. Kedua orang yang duduk di sebelahku adalah orang baik-baik. Akhirnya aku tenggelam dalam obrolan-obrolan ringan bersama laki-laki yang baru kukenal itu.

Bus berhenti.

“Permisi, Dik, saya duluan”. Rupanya ibu yang duduk di sebelahku sudah sampai di tempat tujuannya. Kugeser tubuhku agar ibu itu bisa lewat. Laki-laki di sebelah kananku pun juga melakukan hal yang sama, memberi jalan agar ibu bertubuh gemuk itu bisa lewat.

Kembali kuperiksa tasku. Aku tersenyum lega. Alhamdulillah dompetku masih ada.

“Kenapa, Mbak?”.

“Oh…eh…tidak apa-apa, Mas” Aku tersenyum malu. Rupanya Bapak itu mengawasiku sejak tadi. Mungkin laki-laki itu heran melihatku yang segera memeriksa tas sepeninggal ibu itu tadi.

“Kita memang harus hati-hati, Mbak, banyak copet di mana-mana.” Laki-laki itu seolah dapat menebak jalan pikiranku.

“Kadang pencopet bisa berpura-pura sebagai orang baik dan mereka pun punya banyak cara untuk melancarkan aksinya.” Lanjut laki-laki itu lagi.

Aku tersenyum sambil mengangguk-angguk. Sepertinya laki-laki ini tahu banyak tentang seluk-beluk copet. “Ah, mungkin dulunya ia pernah dicopet,” ungkapku dalam hati.

***

Angin berhembus masuk melalui jendela bus. Pinggangku terasa sudah mulai penat karena terlalu lama duduk. Kalau saja bus yang kutumpangi ini tidak sering berhenti, sudah sejak tadi aku tiba di Semarang. Kulirik arloji di pergelangan tanganku. Pukul 04.00 WIB. Laki-laki di sebelahku tertidur sejak tadi. Mungkin ia kelelahan sehingga tidak sanggup menahan kantuknya.

Bus kembali berhenti untuk menaikan penumpang. Kuharap ini adalah terakhir kalinya bus berhenti sebelum tiba di terminal. Aku tak ingin paman Umar terlalu lama menungguku kedatanganku di terminal. Tiga orang penumpang naik. Sepasang suami isteri yang masih muda beserta anak mereka yang masih balita.

“Mas dan Mbak silakan duduk di sini, biar saya yang berdiri” Naluri kemanusiaanku muncul. Aku tak tega melihat mereka berdiri. Isterinya sedang hamil, sementara anaknya sedang terlelap dalam gendongan ayahnya.

“Terima kasih, dik.” Mereka tersenyum ramah kepadaku. Tak ada yang perlu kucurigai dari mereka.

Alhamdulillah, aku senang, ternyata kekhawatiran ibu tidak terbukti. Tak ada copet ataupun tukang bius di dalam bus yang kutumpangi ini.

Bus sudah memasuki kota Semarang. Tak lama lagi kami akan tiba di terminal. Lumayan lelah juga berdiri, tapi tak apalah, sedikit berkorban untuk orang yang lebih memerlukan.

Bus kembali berhenti. Ternyata laki-laki yang tadi menjadi teman ngobrolku beserta satu orang penumpang lainnya yang turun.

“Saya duluan, Mbak.” Katanya tergesa. Aku tersenyum.

“Mungkin laki-laki itu takut kalau busnya kembali jalan makanya ia buru-buru turun” pikirku. Tak sempat kutangkap senyum puas terpancar dari bibirnya.

Selang beberapa menit kemudian, perlahan bus memasuki terminal. Penumpang berdesakan turun. Kuapit tasku kuat-kuat, tak akan kubiarkan tangan jahil menjarahnya. Di Kulihat paman Umar dan Annisa sepupuku yang masih kecil tersenyum ke arahku. Mereka sengaja menjemputku di terminal.

“Selamat datang di Semarang, Rin.” Sambut paman Umar. Kucium tangan beliau.

Annisa kecil merengek minta dibelikan es krim. Kuraih tangannya dan berjalan menghampiri penjual es.

“Mas, beli es krimnya satu.” Pintaku pada penjual es.

“Berapa, Mas?” lanjutku lagi.

“Tiga ribu rupiah, Mbak.” Sahut penjual es krim itu.

Akhirnya baru kusadari ada goresan silet di tasku. Tak dapat lagi kutangkap senyum ceria Annisa saat menerima es krim dari penjualnya karena yang ada semuanya gelap. Dompetku entah sudah berpindah kemana.

***

Kertak Hanyar, Agustus 2008


Posted in Cerpen
Halaman Berikutnya »