Oleh: Aliansyah Jumbawuya
Tujuan akhir pendidikan bukanlah ilmu pengetahuan, melainkan tindakan.
(Herbert Spencer)
***
Tidak sedikit orang yang mengaku sudah seabrek melahap buku panduan tentang teknik tulis-menulis, tapi ternyata tak kunjung jadi penulis juga. Hasrat untuk mempublikasikan tulisan di media massa tetap saja sebatas impian. Padahal, beragam teori telah dipelajari. Lalu, di mana letak permasalahannya?
Hal serupa juga terjadi di bidang lain. Lihatlah berapa banyak pakar ekonomi yang menguasai ilmu manajemen dan pemasaran, tapi penghasilan mereka tidak jauh di atas rata-rata. Sebaliknya, ada orang yang cuma tamatan SD malah sukses sebagai pengusaha besar. Kenapa? Manusia pertama kelewat berkutat dengan teori, sehingga banyak pertimbangan ketika mau merintis bisnis. Sedangkan yang kedua, begitu dapat ide langsung dicoba. Dia lebih memilih untuk berguru pada pengalaman ketimbang belajar dari literatur.
Sebagaimana halnya belajar berenang, siapa yang sering nyemplung di sungai, dialah yang cepat menguasai keterampilan tersebut. Sebaliknya, seberapa pun banyak teori berenang dipelajari, kalau tidak dipraktikkan niscaya takkan membawa hasil.
Maka, tak usah heran bila menemukan seseorang yang punya keinginan besar hendak jadi penulis, tapi sampai kini tak juga terealisasi karena dia berhenti sebatas pada pemahaman teoritis. Ingat, ilmu tanpa amaliah ibarat pohon yang tidak berbuah.
Kalau Anda bersungguh-sungguh ingin jadi penulis handal, maka perbanyaklah praktik menulis. Artinya, menulislah sembari belajar. Dengan cara itu, Insya Allah Anda pelan-pelan akan mengetahui apa-apa saja kelemahan tulisan Anda, untuk kemudian memperbaikinya secara bertahap seiring perjalanan waktu. Ya, namanya juga belajar, wajar dong bila di masa-masa awal terdapat kekurangan. Memangnya ada manusia yang begitu belajar, bisa langsung fasih?
Beberapa penulis kawakan mengaku jika membaca karya-karyanya terdahulu kerap dihinggapi perasaan malu sendiri lantaran menemukan berbagai kejanggalan. Hal itu justru menunjukkan bahwa kemampuan si penulis telah berkembang.
Maka, kalau Anda mau belajar menulis, jangan takut salah atau keliru. Sebab, tidak jarang begitu usai dijejali teori tentang teknik tulis-menulis, orang bukannya tergugah untuk segera mempraktikkan, malah jadi minder! Kenapa? Karena di buku itu dijelaskan, untuk menjadi penulis dibutuhkan berbagai persyaratan yang cukup rumit.
Misalnya, saat menggarap sebuah cerpen calon penulis “diharuskan” menguasai perihal karakter tokoh, setting, plot, konflik, dialog, logika, hingga cara mengakhiri cerita yang cerdas. Akibatnya, tidak mustahil mereka yang semula bersemangat hendak membuat cerpen, setelah direcoki teori dengan segala kriterianya itu, malah mengurungkan niatnya. Kalau untuk mencoba saja sudah tak punya keberanian, bagaimana mungkin bisa jadi penulis.
Padahal, sebagaimana kita ketahui bersama, teori itu muncul belakangan setelah ada karya yang lahir dari hasil praktik. Jadi, untuk apa kita harus terpaku pada batasan‑batasan yang dibuat oleh sebuah teori. Apalagi menulis itu sangat erat kaitannya dengan masalah kreatifitas. Dan, dalam dunia kreativitas tidak ada hal yang bersifat baku. Selalu terbuka peluang untuk keluar dari pakem. Contoh, novel Laskar Pelangi oleh sebagian kalangan dinilai memiliki beberapa kelemahan, seperti alur yang longgar, logika anak kecil (Lintang) yang dipaksakan berpikiran dewasa sehingga terkesan terlalu mengada‑ada, dll. Kendati tak luput dari kritikan tajam, toh karya Andrea Hiraa ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat luas.
Suatu kali, Andrea sendiri pernah mengakui secara terus terang bahwa dia masih bermasalah dengan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan). Novel‑novel tetraloginya yang kini beredar di pasaran, ternyata sudah mengalami campur tangan dari editor. Fakta ini membuktikan, sekalipun kemampuan menulis seseorang masih terbatas, tidak berarti menghalangi si bersangkutan untuk berkarya.
Mengasah Kemampuan
Sebenarnya untuk bisa jadi penulis itu tidak perlu persyaratan yang ribet. Dengan bekal ilmu sekadarnya pun Anda sudah berhak dan layak merintis karir di bidang kepenulisan. Tak harus menguasai banyak teori dulu, baru menulis. Sebab, pada dasarnya setiap orang punya potensi buat jadi penulis. Bayangkan, sejak di bangku SD sampai perguruan tinggi Anda telah diajari Bahasa Indonesia, terutama cara membuat kalimat yang terdiri dari Subjek, Predikat, Objek, dan Keterangan. Masak hingga kini mesti diajari lagi hal yang sama. Memangnya bebal, apa?! Mungkin yang belum Anda lakukan ialah mempraktikkannya
Benar kata Mario Teguh, dalam hidup ini yang terpenting bukan berapa banyak ilmu yang Anda miliki, tapi seberapa sering kemampuan Anda yang dimanfaatkan. Apa artinya sejubel teori, bila tidak ditindaklanjuti dengan perbuatan. Maka, kalau Anda ingin efektif dan cepat belajar menulis, caranya ya … dengan menulis itu sendiri.
Bukan berarti teori itu tidak penting, tapi jangan sampai karena terlalu asyik berkutat dengan teori lalu abai untuk mengaplikasinya.
Sekilas jika dipikir‑pikir, mereka yang tamat kuliah di Fakultas Sastra seharusnya piawai menulis puisi, cerpen, novel, artikel, ataupun naskah drama, sebab sekian tahun mereka dijejali teori tentang itu. Kenyataannya hanya sedikit di antara mereka yang berhasil jadi sastrawan. Bahkan, hal ini sempat menjadi pembicaraan hangat di kancah nasional yang menggugat: kenapa Fakultas Sastra tak mampu berperan banyak melahirkan sastrawan‑sastrawan besar dan kritikus yang berwibawa? Jawabnya sederhana, karena ilmu yang mereka dapat dari teori‑teori itu tidak dipraktikkan!
Acep Iwan Saidi dalam buku Matinya Dunia Sastra menceritakan, saat dia mengutarakan alasannya memilih Fakultas Sastra karena ingin jadi sastrawan oleh seniornya malah ditertawakan. Sebab, katanya, tujuan Fakultas Sastra bukanlah untuk mencetak sastrawan, melainkan ahli sastra. Sementara seorang ahli belum tentu adalah praktisi.
Richard Gehman menyarankan, untuk mengembangkan keterampilan menulis terserah apakah mau menempuh pendidikan formal atau secara otodidak. Tetapi di atas segala-galanya, praktiklah yang terpenting.
Lalu, tunggu apa lagi? Kalau Anda ingin jadi penulis, segeralah menulis. Karena dari situlah kemampuan Anda akan terasah.
Tentang penulis
The author does not say much about himself
Cari
Navigasi
Kategori:
Tautan:
Arsip:
Feed
Theme: Supposedly Clean by Alvin Woon. Blog pada WordPress.com.
yang terjadi memang demikian.terlalu banyak teori dalam dunia pendidikan kita. meskipun kurikulum sudah diganti tapi amsih tetap sama saja. salam kenal…..
Komentar oleh rimba — Mei 8, 2009 @ 12:47 pm
Tips yang bagus. Tapi teknik juga terkadang penting. Ia membantu mengorganisir gagasan, menata makna, dan menguatkan alur. Beberapa pakar menulis seperti Roy Peter Clark dari Poynter Institute bahkan mempunyai alat penulisan di meja tulis mereka. Alat itu digunakan setiap menulis. Roy membagi alat penulisannya kepada kita dalam sebuah karangan berjudul Fifty Writing Tools (Lima Puluh Alat Penulisan). Anda dapat baca di http://www.poynter.org. Atau Anda juga bisa mendapatkannya dengan mengunjungi blog bahasa Indonesia saya di http://davidjuly.blogspot.com. Salam blogging!
Komentar oleh David — Mei 9, 2009 @ 11:12 pm
Kaya apa dansanak, akur jua kah-nya ketinggalan tuh…
Komentar oleh randualamsyah — Mei 13, 2009 @ 8:01 am
belajar yang baik emang dari pengalaman, dan tujuan akhir dari pend. bhs.indonesia adalah terampil berbahasa yang di dalamnya juga sastra. trim 4 u makalah/artikelnya
Komentar oleh herdian — Juni 13, 2009 @ 12:11 pm
belajar yang baik emang dari pengalaman, dan tujuan akhir dari pend. bhs.indonesia adalah terampil berbahasa yang di dalamnya juga sastra. trim 4 u makalah/artikelnya salam blogger http://herdianwibisono@blogspot.com
Komentar oleh herdian — Juni 13, 2009 @ 12:17 pm