Padepokan Pena - Gemar Membaca Giat Menulis

Mumpung Masih Muda, Menulislah

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Masa remaja adalah fase pencarian jati diri. Karena itu, tak heran jika sebagian ABG sering bertingkah rada nyeleneh. Misalnya, berpenampilan ala pungky dengan celana super ketat, rambut disemir warna-warni, plus aksesoris rantai. Hampir setiap malam mereka nongkrong di pinggir jalan. Semua itu dilakukan semata untuk memancing orang-orang agar menaruh perhatian padanya.

Menulis salah satu pilihan cerdas bagi remaja dalam upaya mengaktualisasikan diri. Juga sebuah prestasi yang layak dibanggakan! Dengan menjadi penulis, remaja akan lebih pandai menghargai waktu. Daripada mabuk playstation, mending hari-harinya diisi untuk berkarya.

    Kalau menulis sudah menjadi kegiatan yang mengasyikkan, insya Allah remaja bakal terhindar dari berbagai prilaku negatif seperti kebut-kebutan di jalan, apalagi mengonsumsi narkoba. Sebab, bagaimanapun daya nalar dan kreativitas merupakan andalan penulis, tentu si bersangkutan tak sudi otaknya digerogoti oleh benda laknat tersebut.

    Dalam beberapa penelitian disebutkan, bahwa remaja itu rasa ingin tahunya terhadap segala hal sangat tinggi. Jika tidak diarahkan ke kegiatan positif, dikhawatirkan malah terperosok pada perbuatan menyimpang.

    Sementara di tangan penulis, rasa ingin tahu itu justru bisa menjadi modal awal buat menulis. Setelah tergelitik oleh suatu fenomena atau peristiwa di masyarakat, dia lantas tergugah untuk mendalami masalah dimaksud, entah lewat pengamatan maupun pengumpulan literatur.

    Artinya, menulis itu mampu mengasah kepekaan dan kekritisan remaja. Kejadian apapun yang dilihat dan dirasakan di sekelilingnya dapat menstimulans dia untuk menawarkan pemikiran dan alternatif solusi.

    Selain itu, menulis dapat pula menumbuhkan kecintaan remaja pada ilmu. Sebab, untuk bisa menghasilkan tulisan yang berbobot seseorang tak cukup hanya menimba ilmu di bangku sekolah, juga harus rajin membaca buku di perpustakaan maupun mendengarkan tausiyah di majelis taklim.

    Intinya, cukup banyak manfaat yang bisa dipetik remaja andai dia jadi penulis. Bukan sekadar pengakuan eksistensi, kemampuan menulis dapat pula memuluskan cita-cita si bersangkutan di masa depan. Buktinya, sekarang ini beberapa lembaga pemberi beasiswa tak hanya mensyaratkan prestasi akademis, juga kepandaian menulis dengan melampirkan artikelnya yang pernah dimuat di media massa.

    Terus Berkarya

    Semakin cepat Anda memutuskan menekuni dunia kepenulisan, justru semakin baik. Sebab, keahlian menulis itu lebih banyak ditempa oleh pengalaman. Tak perlu menunggu mengantongi gelar sarjana dulu, baru timbul keinginan menulis.

    Kendati usia Anda masih belia, jangan jadikan alasan untuk tidak menulis. Seorang penulis bukanlah sosok yang serba tahu. Segala keterbatasan bisa disiasati. Apalagi sekadar menulis artikel, untuk mendalami topik tertentu Anda bisa mengumpulkan bahan referensi dari perpustakaan atau internet.

    Atau, kalau tidak mau repot buatlah karya fiksi yang lebih banyak mengandalkan imajinasi. Yang jelas, jangan biarkan masa muda Anda terbuang sia-sia. Sebagaimana pesan Rasulullah: jaga mudamu, sebelum tuamu.

    Cukup banyak orang yang menyesal di usia senja hanya karena dulu di masa remajanya kurang pandai memanfaatkan waktu. Mario Teguh pernah mengingatkan, kalau masa muda Anda bermalas-malasan, maka di usia tua Anda harus bekerja keras. Sedangkan saat itu kemampuan Anda sudah serba terbatas.

    “Kecil dimanja, muda foya-foya, tua kaya-raya, mati masuk surga” adalah ungkapan yang menyesatkan. Tidak ada orang yang terus-menerus bergelimang kenikmatan tanpa dibarengi cucuran keringat.

    Contoh, Hilman Hariwijaya menulis cerita Lupus di usia relatif muda. Ketika teman-teman sebayanya kebanyakan menghabiskan masa remaja untuk berleha-leha, dia justru telaten mengasah kreativitasnya. Tak heran, jika kini Hilman hidup berkelimpahan rejeki.

    Di era 80-an serial Lupus begitu digandrungi kalangan remaja. Ketika dibukukan terjual laris manis. Penghasilan yang diterima Hilman diperkirakan Rp 2.654.000.000. Itu belum termasuk bonus tambahan ketika karya monumentalnya tersebut difilmkan.

    Bahkan sampai kini ia masih menerima royalti Rp 13 juta lebih per bulan. Kerja keras Hilman di masa muda menjadi investasi, sehingga di hari tuanya nanti dia tak perlu lagi takut kekurangan dari segi finansial.

    Jika Anda ingin mengikuti jejak Hilman Hariwijaya, sekaranglah saatnya Anda buat berkarya, mumpung masih muda. Jangan tunda sampai besok, lusa, apalagi bulan depan — karena waktu tak pernah berhenti untuk menanti!


    Posted in Mari Menulis

    Cara Praktis Belajar Menulis

    Oleh: Aliansyah Jumbawuya

    Tujuan akhir pendidikan bukanlah ilmu pengetahuan, melainkan tindakan.

    (Herbert Spencer)

    ***

    Tidak sedikit orang yang mengaku sudah seabrek melahap buku panduan tentang teknik tulis-menulis, tapi ternyata tak kunjung jadi penulis juga. Hasrat untuk mempublikasikan tulisan di media massa tetap saja sebatas impian. Padahal, beragam teori telah dipelajari. Lalu, di mana letak permasalahannya?

    Hal serupa juga terjadi di bidang lain. Lihatlah berapa banyak pakar ekonomi yang menguasai ilmu manajemen dan pemasaran, tapi penghasilan mereka tidak jauh di atas rata-rata. Sebaliknya, ada orang yang cuma tamatan SD malah sukses sebagai pengusaha besar. Kenapa? Manusia pertama kelewat berkutat dengan teori, sehingga banyak pertimbangan ketika mau merintis bisnis. Sedangkan yang kedua, begitu dapat ide langsung dicoba. Dia lebih memilih untuk berguru pada pengalaman ketimbang belajar dari literatur.

    Sebagaimana halnya belajar berenang, siapa yang sering nyemplung di sungai, dialah yang cepat menguasai keterampilan tersebut. Sebaliknya, seberapa pun banyak teori berenang dipelajari, kalau tidak dipraktikkan niscaya takkan membawa hasil.

    Maka, tak usah heran bila menemukan seseorang yang punya keinginan besar hendak jadi penulis, tapi sampai kini tak juga terealisasi karena dia berhenti sebatas pada pemahaman teoritis. Ingat, ilmu tanpa amaliah ibarat pohon yang tidak berbuah.

    Kalau Anda bersungguh-sungguh ingin jadi penulis handal, maka perbanyaklah praktik menulis. Artinya, menulislah sembari belajar. Dengan cara itu, Insya Allah Anda pelan-pelan akan mengetahui apa-apa saja kelemahan tulisan Anda, untuk kemudian memperbaikinya secara bertahap seiring perjalanan waktu. Ya, namanya juga belajar, wajar dong bila di masa-masa awal terdapat kekurangan. Memangnya ada manusia yang begitu belajar, bisa langsung fasih?

    Beberapa penulis kawakan mengaku jika membaca karya-karyanya terdahulu kerap dihinggapi perasaan malu sendiri lantaran menemukan berbagai kejanggalan. Hal itu justru menunjukkan bahwa kemampuan si penulis telah berkembang.

    Maka, kalau Anda mau belajar menulis, jangan takut salah atau keliru. Sebab, tidak jarang begitu usai dijejali teori tentang teknik tulis-menulis, orang bukannya tergugah untuk segera mempraktikkan, malah jadi minder! Kenapa? Karena di buku itu dijelaskan, untuk menjadi penulis dibutuhkan berbagai persyaratan yang cukup rumit.

    Misalnya, saat menggarap sebuah cerpen calon penulis “diharuskan” menguasai perihal karakter tokoh, setting, plot, konflik, dialog, logika, hingga cara mengakhiri cerita yang cerdas. Akibatnya, tidak mustahil mereka yang semula bersemangat hendak membuat cerpen, setelah direcoki teori dengan segala kriterianya itu, malah mengurungkan niatnya. Kalau untuk mencoba saja sudah tak punya keberanian, bagaimana mungkin bisa jadi penulis.

    Padahal, sebagaimana kita ketahui bersama, teori itu muncul belakangan setelah ada karya yang lahir dari hasil praktik. Jadi, untuk apa kita harus terpaku pada batasan‑batasan yang dibuat oleh sebuah teori. Apalagi menulis itu sangat erat kaitannya dengan masalah kreatifitas. Dan, dalam dunia kreativitas tidak ada hal yang bersifat baku. Selalu terbuka peluang untuk keluar dari pakem.      Contoh, novel Laskar Pelangi oleh sebagian kalangan dinilai memiliki beberapa kelemahan, seperti alur yang longgar, logika anak kecil (Lintang) yang dipaksakan berpikiran dewasa sehingga terkesan terlalu mengada‑ada, dll. Kendati tak luput dari kritikan tajam, toh karya Andrea Hiraa ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat luas.

    Suatu kali, Andrea sendiri pernah mengakui secara terus terang  bahwa dia masih bermasalah dengan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan). Novel‑novel tetraloginya yang kini beredar di pasaran, ternyata sudah mengalami campur tangan dari editor. Fakta ini membuktikan, sekalipun kemampuan menulis seseorang masih terbatas, tidak berarti menghalangi si bersangkutan untuk berkarya.

    Mengasah Kemampuan

    Sebenarnya untuk bisa jadi penulis itu tidak perlu persyaratan yang ribet. Dengan bekal ilmu sekadarnya pun Anda sudah berhak dan layak merintis karir di bidang kepenulisan. Tak harus menguasai banyak teori dulu, baru menulis. Sebab, pada dasarnya setiap orang punya potensi buat jadi penulis. Bayangkan, sejak di bangku SD sampai perguruan tinggi Anda telah diajari Bahasa Indonesia, terutama cara membuat kalimat  yang terdiri dari Subjek, Predikat, Objek, dan Keterangan. Masak hingga kini mesti diajari lagi hal yang sama. Memangnya bebal, apa?! Mungkin yang belum Anda lakukan ialah mempraktikkannya

    Benar kata Mario Teguh, dalam hidup ini yang terpenting bukan berapa banyak ilmu yang Anda miliki, tapi seberapa sering kemampuan Anda yang dimanfaatkan. Apa artinya sejubel teori, bila tidak ditindaklanjuti dengan perbuatan. Maka, kalau Anda ingin efektif dan cepat belajar menulis, caranya ya … dengan menulis itu sendiri.

    Bukan berarti teori itu tidak penting, tapi jangan sampai karena terlalu asyik berkutat dengan teori lalu abai untuk mengaplikasinya.

    Sekilas jika dipikir‑pikir, mereka yang tamat kuliah di Fakultas Sastra seharusnya piawai menulis puisi, cerpen, novel, artikel, ataupun naskah drama, sebab sekian tahun mereka dijejali teori tentang itu. Kenyataannya hanya sedikit di antara mereka yang berhasil jadi sastrawan. Bahkan, hal ini sempat menjadi pembicaraan hangat di kancah nasional yang menggugat: kenapa Fakultas Sastra tak mampu berperan banyak melahirkan sastrawan‑sastrawan besar dan kritikus yang berwibawa? Jawabnya sederhana, karena ilmu yang mereka dapat dari teori‑teori itu tidak dipraktikkan!

    Acep Iwan Saidi dalam buku Matinya Dunia Sastra menceritakan, saat dia mengutarakan alasannya memilih Fakultas Sastra karena ingin jadi sastrawan oleh seniornya malah ditertawakan. Sebab, katanya, tujuan Fakultas Sastra bukanlah untuk mencetak sastrawan, melainkan ahli sastra. Sementara seorang ahli belum tentu adalah praktisi.

    Richard Gehman menyarankan, untuk mengembangkan keterampilan menulis terserah apakah mau menempuh pendidikan formal atau secara otodidak. Tetapi di atas segala-galanya, praktiklah yang terpenting.

    Lalu, tunggu apa lagi? Kalau Anda ingin jadi penulis, segeralah menulis. Karena dari situlah kemampuan Anda akan terasah.


    Posted in Mari Menulis