Oleh: Aliansyah Jumbawuya
Entah berapa banyak orang yang sebenarnya pintar, berpengetahuan luas, tapi karena tidak didukung dengan kepercayaan diri yang memadai, akhirnya dia terpinggirkan dalam kehidupan. Sementara orang lain jadi ‘pemain’ dia hanya menonton di pinggir lapangan. Sesungguhnya ia sendiri tidak puas dengan dirinya yang minim prestasi. Jauh di lubuk hati tebersit keinginan agar lebih berarti dan punya sesuatu yang layak untuk dibanggakan. Namun selama si bersangkutan tidak membenahi kepercayaan dirinya, sepanjang itu pula bakal sulit berkembang.
Dalam dunia kepenulisan pun sering ditemui, seseorang tidak pede menulis karena merasa kurang berkompeten. Katanya, ilmu yang dimiliki masih jauh dari ‘maqam’ yang diharapkan. Lha, memangnya untuk jadi penulis harus menunggu punya ilmu yang komplet dulu? Kalau beranggapan demikian, sampai kapanpun tidak akan pernah menulis.
Seorang penulis handal bukanlah sosok pilihan yang dianugerahi kemampuan luar biasa. Mereka tak jauh berbeda dari manusia umumnya. Bahkan, ada yang tidak pernah mengecap bangku kuliah. Sebab, intelektualitas bukanlah segalanya (meski cukup penting sebagai penunjang). Mereka juga tak luput dari berbagai kekurangan. No body perfeksionis, ujar bubuhan Alabio.
Ingat, orang yang IQ‑nya pas‑pasan namun berkat ditunjang kepercayaan diri yang tinggi dapat mengalahkan mereka yang berotak brilian. Karena orang yang pede itu biasanya pandai menutupi kekurangannya.
Kalau Anda diminta menulis topik tertentu yang ternyata Anda kurang begitu menguasai, jangan buru‑buru menolak tawaran tersebut. Anda masih punya waktu untuk mempelajari dan mengumpulkan bahan melalui perpustakaan, internet, atau menggali informasi dari pakarnya. Setelah itu, baru dicerna dan diolah sesuai dengan daya nalar Anda. Jadi, apa susahnya?
Andaipun pengetahuan Anda sangat terbatas, tak berarti peluang untuk jadi penulis tertutup. Tinggal mensiasatinya saja. Caranya? Fokuslah menulis karya‑karya fiksi. Karena untuk menulis puisi, cerpen cerbung, novel, cukup dengan mengandalkan imajinasi. Hampir bisa dipastikan semua orang terbiasa, bahkan mungkin jago menghayal.
Soal membangun kepercayaan diri, ada baiknya Anda berguru kepada para pelawak. Mereka itu rata‑rata memiliki kekurangan fisik yang cukup menonjol seperti tubuh cebol, wajah jelek, gigi tongos, kepala botak, sehingga tidak bisa ditutup‑tutupi dari pandangan khalayak. Hebatnya, justru mereka mampu mengakrobatik kekurangan tersebut jadi kelebihan dengan menjadikannya sebagai bahan guyonan. Bagi sebagian orang kekurangan itu mungkin bikin minder, tapi bagi pelawak malah jadi berkah.
Putu Wijaya juga pernah menerapkan hal serupa. Suatu kali ia membuat naskah cerita yang menuntut ada dialog berbahasa Arab. Karena tidak menguasai bahasa gurun pasir, daripada bingung akhirnya dia tulis semua huruf konsonan secara acak tanpa makna. Putu tidak mau kekurangan tersebut membuatnya terkendala menulis.
Ternyata di kemudian hari tindakannya itu justru mendatangkan berkah. Oleh kritikus sastra dinilai sebagai bagian dari keberanian Putu Wijaya untuk melakukan terobosan. Padahal, tadinya dia tidak bermaksud apa‑apa, sekadar untuk menutupi kelemahannya.
Karena itu, apapun latarbelakang dan kondisi Anda sekarang ini, kalau memang serius ingin jadi penulis, milikilah keyakinan dan kepercayaan diri bahwa Anda bakal mampu mewujudkannya.
Sikap Mental
Ada beberapa bentuk ketidakpercayaan diri yang sering menghinggapi calon penulis. Pertama, buru‑buru mengklaim diri tidak berbakat. Seolah menulis itu hanya diperuntukkan bagi orang‑orang tertentu yang dikaruniai kemampuan khusus. Padahal, siapapun bisa jadi penulis asalkan dia mau belajar, tekun berlatih, dan tak gampang menyerah. Setiap orang pada dasarnya punya potensi menulis, tinggal sejauhmana mengasahnya.
Kalau Anda pernah membaca buku Membangunkan Raksasa Tidur karya dr H Taufiq Pasiak MPd, di situ diungkapkan betapa dahsyat kekuatan otak manusia. Dijelaskan, dengan memahami cara kerja otak yang terdiri dari 100 milyar sel saraf itu kita bahkan bisa menyusun ulang takdir kita. Sayang, selama ini kita belum optimal memberdayakannya.
Dalam Alquran ditegaskan bahwa manusia itu adalah sebaik‑baiknya penciptaan. Kalau Anda meragukan kemampuan Anda, berarti sama saja dengan menyepelekan dan mengecewakan Sang Khalik. Jangankan sekadar menulis, lebih rumit dari itupun otak Anda sanggup mengatasinya.
Kedua, merasa tulisan sendiri jelek dan kurang bermutu. Susah‑payah menulis, begitu rampung kok malah diremehkan. Kalau Anda sendiri tak menghargai karya Anda, bagaimana orang lain mau menghargainya? Semestinya karena tulisan itu lahir dari hasil perenungan dan pemikiran Anda, maka perlakukanlah seperti anak kandung. Bagus atau jelek namanya anak sendiri di mata orangtua tetaplah yang terbaik.
Ketiga, ketika hendak mengirimkan ke media massa tidak pede bersaing dengan penulis lain, terlebih pada yang senior. Ia merasa redaktur pasti akan memprioritaskan penulis yang telah mapan lantaran kualitas tulisan mereka sudah tak diragukan lagi. Padahal para penulis terkenal itu dulunya juga sama seperti Anda berangkat dari pemula. Jadi, buat apa mesti minder? Jagat kepenulisan senantiasa terbuka lebar bagi nama‑nama baru.
Maka, dalam setiap kali pelatihan kepenulisan hal yang selalu saya tekankan adalah menumbuhkan kepercayaan diri peserta. Sebab, kalau seseorang yakin dengan kemampuannya, masalah teknis bisa dia pelajari sendiri. Apalagi buku panduan tentang teknik tulis-menulis cukup banyak tersedia di pasaran.
Sebaliknya, kalau dari awal sudah tidak pede ibarat mobil yang mesinnya bermasalah, walau didorong-dorong tak akan bergerak jauh. Malah si motivator yang mungkin kecapekan dan kehabisan tenaga.
Sukses atau gagalnya seseorang jadi penulis cenderung ditentukan oleh sikap mental si bersangkutan, bukan terletak pada apakah dia berbakat atau tidak.
Coba pikir, Ryan si jagal beruntun asal Jombang yang diduga punya kelainan jiwa saja mampu menulis buku selama di penjara, masak Anda yang normal dan berada di alam bebas kalah sama dia?
Karena itu, yakin dan percaya dirilah bahwa Anda pun bisa jadi penulis!
Tentang penulis
The author does not say much about himself
Cari
Navigasi
Kategori:
Tautan:
Arsip:
Feed
Theme: Supposedly Clean by Alvin Woon. Blog pada WordPress.com.