Padepokan Pena - Gemar Membaca Giat Menulis

Penyandang Cacat Eksis Sebagai Penulis | Mar 15th 2009

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Siapapun pasti tak ingin menderita kelainan fisik, baik cacat semenjak lahir maupun karena faktor kecelakaan. Namun ketika takdir menetapkan demikian, tentu kita tidak bisa mengelak. Larut dalam kesedihan, menyesali diri, meratapi nasib, toh tak akan merubah keadaan. Justru akan menambah beban mental. Kendati bukan perkara mudah, barangkali berdamai dengan kenyataan itu jauh lebih baik.

Persolannya, di Indonesia ini — mungkin pula di negara-negara lain — kesempatan bagi penyandang cacat untuk berkiprah sangat terbatas. Tak banyak instansi pemerintah yang bersedia menampung orang-orang cacat untuk jadi PNS. Juga perusahaan-perusahaan swasta, terutama yang kapitalis, cenderung hanya mempekerjakan karyawan normal. Jangankan penderita cacat permanen, mengidap penyakit akut tertentu saja, perusahaan tidak akan mau menerima. Alasannya sederhana, karena ketidakberfungsian salah satu organ tubuh lalu efektifitas dan produktifitas si bersangkutan diragukan.

Negara dan masyarakat agaknya masih diskriminatif memperlakukan para penyandang cacat dalam mengakses pekerjaan.

Meskipun profesi lain terkesan menutup pintu kesempatan buat mereka, tapi tidak demikian di bidang kepenulisan. Siapapun berhak untuk jadi penulis, termasuk orang cacat. Karena untuk bergelut di dunia yang satu ini tak perlu prosedur dan persyaratan yang berbelit-belit. Menulis bisa dilakukan kapan dan dimana saja, tanpa terikat ruang dan waktu. Mau menulis di kamar, silakan. Mau menulis sambil rebahan di kasur, juga monggo. Tak ada yang membatasi. Begitu pula terkait dengan jadwal, terserah kita mengaturnya.

Menulis adalah kerja individual. Jadi, untuk menulis kita tak perlu melapor pada atasan atau berkoordinasi dengan orang lain. Cukup dilakukan di rumah atas inisiatif pribadi. Kitalah yang bertindak sebagai bigboss bagi diri kita.

Selain itu, menulis tidak terlalu mengandalkan tenaga dan gerak fisik. Karena sifatnya yang demikian, maka penyandang cacat sekalipun punya kesempatan luas untuk jadi penulis.

Di negeri ini ada beberapa orang penderita cacat yang eksis bahkan sukses sebagai penulis kawakan. Salah satunya ialah Gola Gong, penulis serial Balada Si Roy yang di era 90-an sangat digandrungi remaja kita. Setelah membaca karya fiksi tersebut, tidak sedikit anak muda yang terinspirasi untuk berpetualang (avonturir), meniru jejak si tokoh utama dalam cerita. Kini, sudah tak terhitung lagi berapa banyak buku hasil goresan pena Gola Gong. Termasuk di antaranya yang diangkat ke layar kaca. Padahal, suami Tias Tatanka ini hanya memiliki satu lengan.

Ceritanya, pada usia 10 tahun ia bermain bersama rekan-rekannya. Siapa yang paling hebat akan dinobatkan sebagai Jenderal Kancil. Mereka berlomba memanjat pohon, kemudian terjun bebas. Karena tidak ingin kalah, Gola Gong naik hingga di ketinggian 3 meter. Waktu jatuh bukan kakinya yang duluan nancap di tanah, melainkan bagian bahu. Akibatnya, tangan kiri dia patah dan harus diamputasi.

Semula ia sempat mengecap bangku kuliah, tapi setelah realistis melihat kenyataan bahwa di negeri ini orang cacat sulit diterima di instansi pemerintah, ia pun memutuskan merintis karir sebagai penulis. Kendati buntung, toh tak menyurutkan langkahnya untuk jadi penulis. Apalagi sekedar menekan tuts-tuts huruf mesin tik, tidak harus menggunakan dua tangan.

Alhasil, kini Gola Gong bisa hidup mapan dari menulis. Kecacatan fisik samasekali tak menghalangi dia dalam berkarya.

Mensiasati Keterbatasan

Kalau Gola Gong cacat karena kecelakaan, Pipiet Senja menderita kelainan darah (thallasemia) sejak lahir. Dua kali seminggu ia harus menjalani cuci darah. Kendati demikian, ia berhasil membuktikan bahwa penyakit bukan halangan untuk berkreativitas.

“Semoga tidak ada yang mengalami seperti saya, sungguh penderitaan sepanjang hayat. Tapi Allah Maha Pengasih, selalu memberi kemudahan kepada saya. Alhamdulillah, akhirnya penyakit ini malah saya maknai sebagai berkah. Mungkin saya tidak akan jadi penulis jika tidak mengidap thallassemia,” ungkapnya tegar.

Semangat wanita kelahiran Sumedang 16 Mei 1957 ini dalam menulis tak perlu diragukan. Meski digerogoti penyakit, Pipiet Senja terus berkarya. Ibu dua anak ini mengaku bisa menulis kapan dan di mana saja. Bahkan pada saat diopname di rumah sakit ia sering membawa mesin tik. Kalau dokter atau suster pas lagi lengah dia suka mencuri‑curi waktu untuk mengetik.

Sampai kini produktifitas Pipiet seolah tak tertandingi oleh penulis-penulis lain. Selama 30 tahun berkecimpung di dunia tulis-menulis ia telah melahirkan 96 judul buku. Itu belum termasuk ratusan cerpen dan puluhan novel berbahasa Sunda. Wajar jika Ahmadun Yosi Herfanda kemudian menjulukinya sebagai Ikon Fiksi Indonesia.

Fakta ini, sekali lagi menegaskan bahwa penyandang cacat pun bisa jadi penulis. Termasuk orang yang kedua tangan dan kakinya tak dapat berfungsi. Seperti dialami Ratna Indraswari Ibrahim,

akibat penyakit radang tulang (rachitis) ia hanya mampu duduk di kursi roda. Dengan kondisi tersebut, segala keperluannya harus dilayani.

Kendati demikian, ia senantiasa tetap bersyukur, tak pernah menghujat takdir yang menimpa dirinya. “Masih untung otak saya selamat, tidak diserang virus. Jadi, saya masih bisa berpikir dan berbuat sesuatu,” katanya.

Sepintas melihat keadaan Ratna Indraswari yang tak berdaya, orang akan mengira dia tidak bakal bisa berbuat apa-apa. Nyatanya, tulisan dia sering menghiasi lembaran media massa. Bahkan, sebagian telah dibukukan seperti Kado Istimewa, Menjelang Pagi, Namanya Massa, Lakon di Kota Senja, Sumi dan Gambarnya (kumpulan cerpen) dan Lemah Tanjung (novel).

Lalu, bagaimana proses dia menulis kalau tangan dan kakinya tidak dapat digerakkan? Caranya, Ratna mendiktekan cerita, si asisten yang mengetikkan. Begitulah ia mensiasati keterbatasan fisiknya. Sebab, sebagaimana sering saya tekankan menulis itu sekadar menuangkan isi pikiran dan perasaan ke dalam bentuk tulisan. Tak perlu persyaratan dan aturan yang ribet.

Coba renungkan, mereka yang cacat saja mampu eksis menjadi penulis, masak kita dianugerahi kesehatan prima, kelengkapan organ tubuh, kalah dengan mereka? Karena itu, tancapkanlah keyakinan bahwa Anda pun bisa jadi penulis.

Banjarmasin, 14 Maret 2009


Posted in Mari Menulis

& Komentar »

  1. Tuhan memang maha adil, buktinya ada orang-orang yang dilahirkan cacat dari lahir, tapi ternyata orang itu punya kelebihan lain.

    Kenapa ada orang yang cacat dengan segala keterbatasannya tapi dia mampu melahirkan karya besar, dan kenapa ada orang yang normal dengan semua kelengkapannya tapi orang ini tidak tidak mampu membuat karya apapun juga.

    Jawabannya adalah mereka punya api motivasi besar yang berkobar dalam dirinya.

    Mereka punya keterbatasan, tapi mereka punya keinginan yang kuat dalam dirinya untuk menjadi orang yang tidak dipandang sebelah mata, punya keinginan yang kuat untuk berhasil dalam melakukan segala hal, dan mereka bertindak untuk mewujudkan keinginannya.

    Sukses ada di tangan kita sendiri.

    Salam

    Komentar oleh taufik79 — Maret 17, 2009 @ 9:18 am

  2. subhanallah atas sgala kehendaknya…
    alhamdulillah aku sehat dan sempurna… bisa menulis dan membaca

    Komentar oleh hajriansyah — Maret 20, 2009 @ 3:01 am

  3. Tulisan yang bagus.

    Komentar oleh Mahmud — Maret 20, 2009 @ 12:06 pm

  4. Contoh sempurnah … betapa menulis sangat mudah dapat dilakukan siapa saja

    Komentar oleh Ersis Warmansyah Abbas — Maret 22, 2009 @ 8:24 am

  5. akur pulang, wal ai

    Komentar oleh hajriansyah — Maret 28, 2009 @ 12:49 pm


Ada yang ingin disampaikan?RSS Komentar URI Lacak Balik