Padepokan Pena - Gemar Membaca Giat Menulis

Cara Cerdas Mengikat Ilmu | Feb 15th 2009

Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.

(Ali bin Abi Thalib)

***

Setiap saat kita punya peluang untuk memperoleh ilmu. Tidak harus melalui pendidikan formal. Justru dalam pergaulan sehari-hari banyak kita temukan ilmu tentang kehidupan yang jarang didapat di bangku sekolah atau kuliah. Tinggal bagaimana kita mengelola ilmu tersebut, sehingga tidak mudah lupa.

Agar ilmu yang telah kita serap tidak meruap digerus waktu, maka cara cerdas untuk mengikatnya ialah dengan menuliskannya. Kalau sudah ditulis dan dipublikasikan, berarti kita sekaligus berbagi ilmu kepada khalayak. Berbeda dengan harta yang apabila dibagi-bagikan akan berkurang, ilmu begitu didistribusikan malah semakin bertambah. Melekat kuat dalam ingatan, dan manfaatnya bisa dipetik oleh siapapun.

Banyak cara yang bisa ditempuh untuk mendapatkan ilmu. Misalnya, dengan menghadiri majelis taklim. Setiap kali mengikuti pengajian pasti ada ilmu baru yang kita petik dan bawa pulang. Supaya tidak mudah hilang, alangkah bagus bila dituliskan.

Ingat, tulisan saya tentang sikap iklas yang dicontohkan pemancing ikan pada edisi lalu (baca: Ikhlas Menulis Membawa Berkah) dicomot dari isi pengajian ustadz Ahmad Bayani di Musala Banjarmasin Post Group. Andai tidak segera saya tulis, mungkin beberapa bulan kemudian jadi lupa. Tapi, karena sudah diikat dengan tulisan, insya Allah sepuluh tahun akan datang tetap ingat. Yang pasti ilmu tersebut tak lagi hanya dinikmati jamaah pengajian dengan jumlah terbatas; begitu ditulis dan dimuat di media massa otomatis warga yang berada di pelosok Amuntai, Barabai, Juai sekalipun, bahkan seantero Indonesia yang semula tidak tahu — karena juga diposting di blog — kini bisa turut mencernanya. Demikianlah salah satu kekuatan dari tulisan.

Ilmu juga bisa didapat dari menyimak pembicaraan, perdebatan, diskusi, seminar, lokakarya, dsbnya. Di sinilah pentingnya nilai filosofi kenapa kita diciptakan dua telinga agar banyak mendengar, dan satu mulut supaya sedikit bicara. Biarlah orang lain bakancangan urat gulu, kita cukup mengambil manfaat darinya. Jangan biarkan ilmu yang bertebaran di sekitar kita bersileweran begitu saja, cepat tangkap dan ikat dengan cara menuliskannya.

Termasuk bagi yang suka mencermati keadaan di sekeliling bisa memperoleh pelajaran berharga dari prilaku sesama. Bahkan dari hewan dan tetumbuhan pun kita bisa menuai ilmu. Umpamanya, perhatikanlah pohon yang batangnya dipotong (ditamsilkan dengan sedekah), tak lama kemudian bermunculan banyak ranting, lebih rimbun dari sebelumnya. Artinya, tanpa membaca buku-buku karangan ustadz Mansyur yang menekankan kalau kita rajin bersedekah maka rezeki akan bertambah — jauh sebelumnya fenomena alam telah mengajarkan itu. Hasil renungan semacam ini, jangan biarkan datang sesaat untuk kemudian pergi tanpa jejak. Caranya? Ya, cepat-cepat ditulis!

Membaca adalah metode yang praktis untuk menjaring ilmu. Dalam satu jam saja kita bisa menimba berbagai ilmu dari buku. Apabila ada kalimat yang berkesan, segera tulis. Kalau perlu jadikan kegiatan membaca sebagai pemantik untuk menulis. Dengan begitu, kita menempatkan diri tidak sekadar sebagai pengonsumsi buku, juga produsen tulisan.

Hal inilah yang dilakukan KH Adnani Iskandar, mantan Ketua Komisi Fatwa MUI Provinsi Kalsel. Setiap kali menemukan bahan bacaan yang dinilai penting, ulama sepuh ini mencatatnya. Hampir semua persoalan aktual di masyarakat, terutama yang bersifat lokal, tak luput dari perhatiannya. Kalau ada wartawan datang untuk mewawancarai, beliau tinggal mengambil cacatan sebagai rujukan.

Alhasil, di usia yang uzur sang kiai tetap eksis dan konsisten berbagi ilmu. Daya ingat dan penglihatan beliau masih tajam. Boleh jadi ini berkat kebiasaan sidin yang gemar membaca dan menulis.

Tak Hanya Menghafal

Beruntunglah orang-orang yang dikaruniai kemampuan menghafal yang luar biasa. Dalam waktu relatif singkat sukses menyerap ilmu yang diberikan dan terpelihara rapi di pusat memori. Meski memiliki otak brilian, tetap saja kita perlu mengikatnya dengan tulisan. Sebab, kalau dibiarkan sekadar bersemayam di batok kepala berarti cuma si empunya diri yang bisa menikmati ilmu tersebut. Apabila habis umur, otomatis ilmu yang dimiliki pun ikut sirna. Sebaliknya, manakala sudah dituangkan dalam tulisan, insya Allah ilmu itu bakal langgeng sepanjang masa.

Karena itulah ulama-ulama dahulu meski rata-rata mempunyai daya hafal yang kuat, mereka tidak mau sepenuhnya mempercayakan ilmunya pada ingatan. Imam Syafi’i misalnya, dalam beberapa riwayat terkenal sangat jenius. Pada usia 13 tahun ia telah hafal Alquran dan banyak hadis. Suatu hari, ia mengikuti majelis akbar Imam Malik. Ketika jamaah lain bubar, Syafi’i tidak beranjak dari tempat duduknya. Imam Malik ibn Anas pun heran, lalu mendekati. Untuk menguji keseriusan anak muda itu menuntut ilmu, ia menanyakan sebuah hadis yang disampaikan dalam pengajian tadi. Ternyata bukan cuma satu, semua hadis yang baru didengar mampu dihafal oleh Syafi’i. Bahkan jauh sebelum pertemuan itu ia sudah hafal kitab Muwatta yang berisi ribuan hadis. Imam Malik pun terkesan, dan sejak itu mengangkatnya menjadi murid.

Walaupun memiliki daya hafal kuat, nyatanya Syafi’i tak abai untuk menuliskan ilmunya. Sebab, ia sadar mungkin saja sewaktu-waktu bisa lupa. Bagaimana pun tidak ada manusia yang sempurna, pasti punya keterbatasan.

Dalam buku Aadab Asy-Syafi’i wa Manaqibuhu karangan Ibnu Abi Hatim diceritakan, seorang sahabat bernama Al Humaidi ketika keluar tengah malam ia mendapati lampu rumah Syafi’i menyala. Ia pun mampir dan melihat di dekat cendekiawan Muslim itu terdapat secarik kertas dan pena. Ketika ditanya, Syafi’i menjawab bahwa ia tengah memikirkan makna sebuah hadis berkaitan dengan masalah fiqih, karena takut keburu raib maka ia segera menyalakan lampu dan menuliskannya.

Begitu pula dengan Imam Bukhari, dalam semalam ia bisa bangun sebanyak 18 kali untuk menuliskan sesuatu yang terlintas dalam ingatannya.

Imam Nawawi pernah mengingatkan, “Janganlah seseorang meremehkan suatu faedah dalam bidang apapun yang didengar atau dilihatnya, tetapi hendaklah ia segera menuliskannya.

Bayangkan, mereka yang dianugerahi kecerdasan tinggi sekalipun tidak mau menggantungkan ilmunya semata pada hafalan; apalagi bagi yang merasa punya daya ingat pas-pasan seharusnya justru lebih gencar dan telaten untuk menggoreskan pena. Jangan sampai karena abai mengikatnya dengan tulisan, ilmu yang didapat raib begitu saja.

Kayak apa pendapat dangsanak, akur juakah?

Banjarmasin, 31 Jan 2009


Posted in Mari Menulis

No Comments Yet »

Ada yang ingin disampaikan?RSS Komentar URI Lacak Balik