Oleh: Aliansyah Jumbawuya
Pengertian ibadah dalam Islam sangatlah luas. Dari bangun tidur sampai menutup mata kembali mengandung nilai ibadah. Singkatnya, pada setiap tarikan dan hembusan nafas terbuka peluang untuk ibadah. Tinggal terpulang pada diri masing-masing, apakah mau atau ogah memanfaatkan kesempatan tersebut.
Sayangnya, sampai kini masih saja ada orang yang beranggapan bahwa ibadah itu sebatas hal-hal ritual, seperti salat, puasa, zakat, dan seterusnya. Padahal, tersenyum atau membuang duri dari jalanan juga ibadah. Termasuk menulis, jika diniatkan ikhlas untuk kemaslahatan umat tentu Allah akan mencatatnya sebagai ibadah.
Kalau karena tulisan Anda masyarakat jadi tergugah buat memelihara kelestarian lingkungan hidup, bukankah itu manifestasi dakwah? Kalau berkat tulisan Anda kemudian warga jadi rukun hidup bertetangga, bukankah itu artinya Anda telah menyebarkan kebajikan? Kalau setelah menyimak tulisan Anda waria terbuka kesadarannya untuk kembali berprilaku normal sesuai fitrahnya, bukankah Anda mengajak dia pada jalan kebenaran? Kalau usai mencerna tulisan Anda seorang penjahat memutuskan berhenti berbuat maksiat, bukankah itu buah dari amar ma’ruf nahi munkar? Karena hal-hal tersebut dianjurkan dalam Islam, tentu si penulis pantas mendapatkan poin pahala.
Dulu di era 1990-an memakai jilbab sering dipermasalahkan, padahal penduduk Indonesia adalah Muslim terbesar di dunia. Tidak sedikit kasus siswi di sekolah umum yang memakai jilbab dilarang mengikuti pelajaran bahkan di-skorsing. Foto muslimah berjilbab tidak diperbolehkan untuk ijazah dan SIM (Surat Izin Mengemudi). Apalagi kalau hendak bekerja di supermarket atau mall sering disyaratkan agar menanggalkan jilbab. Aturan sekuler itu tak pelak menjadi dilema bagi kaum Hawa yang hendak menerapkan ajaran Islam secara kaffah, terutama menyangkut kewajiban menutup aurat. Sebagian memang ada yang istiqomah mempertahankan jilbabnya meski dengan segala konsekuensi, namun banyak pula yang terpaksa melepasnya.
Di tengah kondisi demikian, muncullah para aktivis Islam yang begitu gencar mensosialisasikan jilbab, baik lewat artikel-artikel maupun karya fiksi. Salah satunya, cerpen Ketika Mas Gagah Pergi karangan Helvy Tiana Rosa mampu menginspirasi ratusan wanita mengenakan jilbab.
Alhamdulillah, akhirnya pemerintah memberi kebebasan kepada WNI untuk berjilbab. Kini di perguruan-perguruan tinggi dan sekolah-sekolah umum marak wanita berjilbab. Semua itu, sedikit-banyak berkat andil penulis Muslim yang gigih memperjuangkan jilbab lewat tulisan. Mereka yang turut ambil bagian mengangkat pena tersebut, niscaya memperoleh ganjaran pahala.
Tidak melulu harus bertemakan keagamaan, menulis apapun asalkan terbukti mampu memberikan pencerahan layak dikategorikan sebagai ibadah. Menulis buku motivasi agar generasi muda berani menerjuni dunia wiraswasta sehingga tingkat pengangguran berkurang, juga termasuk ibadah.
Karena itu, mari rame-rame menulis sesuai bidang yang kita minati. Mau menulis masalah politik, ekonomi, sosial, budaya, sastra, parenting, terserah mana yang Anda gandrungi. Sepanjang memberi efek positif bagi masyarakat, insya Allah akan bernilai ibadah.
Kayak apa pendapat dangsanak, akur juakah?
Tentang penulis
The author does not say much about himself
Cari
Navigasi
Kategori:
Tautan:
Arsip:
Feed
Theme: Supposedly Clean by Alvin Woon. Blog pada WordPress.com.
Menulis Sebagai Ibadah ini makin menyemangati diri saya untuk selalu menulis.
Bismillah, Alhamdulillah wa Swalawatullah wa Salaamuhu ‘alan Nabi. Biar tambah mantap, jangan lupa tips berikut:
1. Yakinkan diri kalau tema yang akan ditulis bermanfaat bagi banyak orang.
2. Gali tsaqofah Islam seluas dan sedalam-dalamnya. Ini adalah modal utama seorang penulis muslim. Bukankah kita mau mendakwahkan Islam? So pasti butuh amunisi yang banyak
3. Jadilah penulis kreatif. Buku-buku Islam sekarang sudah banyak bertebaran, jadilah the different one, sesuatu yang beda! Kuncinya adalah jangan pernah bosan dan malas untuk belajar menulis.
4. Jaga niat. Harus ikhlas jadi penulis muslim, jangan cuma mikir royalti doang, berapa tiras penjualan, atau berapa kali naik cetak. Ingat, menulis bagian dari dakwah dan ibadah
5. Bertanggung jawab. Jangan lupa, setiap amal yang kita bikin di dunia ini ada tanggung jawabnya di hadapan Allah kelak.
Semoga bermanfaat dan tetap semangat!
Komentar oleh taufik79 — Februari 2, 2009 @ 10:03 am
Yap. Maka dari itu mari menulis ya kan Mas Ali
Komentar oleh Ersis Warmansyah Abbas — Februari 3, 2009 @ 2:46 am
Nah, akur pulang ulun dangsanak ai nah…!
Komentar oleh randualamsyah — Februari 3, 2009 @ 8:22 am
iyah sih selagi tulisan itu bermanfaat untuk orang banyak dan diri kita sendiri gmana kalau tulisan kita merugikan orang lain apakah itu juga ibadah…
Komentar oleh iwan — Februari 3, 2009 @ 11:25 am
Wah harus nyari referensi nih buat bahan tulisannya biar jadi ibadah… SIAP GARAK!!!
Komentar oleh sandyagustin — Februari 4, 2009 @ 8:36 am
Ass.
Membuka pintu anggapan bahwa ibadah itu sebatas hal-hal ritual, seperti salat, puasa, zakat, dan seterusnya yang perlu terus diupayakan, sehingga terlalu terbelenggu sebatas ritualitas dan terkesan ibadah begitu terbatas.
Ya … menulis salah satu ibadah, akur ja.
Komentar oleh HE. Benyamine — Februari 4, 2009 @ 12:07 pm
pokoknya amun ujung-ujungnya ibadah, akur tu pang.
akur..! hehehe
Komentar oleh hajri — Februari 11, 2009 @ 7:21 am
Saya jadi tergelitik menambahkan. Belumkan berbuat, baru berniat baik saja sudah ibadah.
Komentar oleh SQ — Februari 12, 2009 @ 12:17 pm
Assalaamu’alaikum…
Apa sahaja yang kita lakukan kerana Allah beserta niat akan ditulis sebagai ibadah. Termasuk menulis. Menulis sesuatu yang bermanfaat untuk dibaca oleh diri sendiri atau orang lain membantu meningkatkan semangat dalam menghidupkan jiwa dan tingkah laku manusia.
Jika baik yang ditulis akan banyaklah kebaikan yang akan muncul. Jika sebaliknya akan memebri kesan yang buruk dalam pembangunan modal insan. kedua-duanya mempunyai imbalan dari Allah swt. Salam kenal dari Malaysia.
Komentar oleh Siti Fatimah Ahmad — Februari 15, 2009 @ 1:28 am