Oleh: Aliansyah Jumbawuya
Hidup di dunia ini relatif singkat. Karena itu, kita harus cerdas bertindak.
Dalam hal mencari nafkah misalnya, ada orang yang bekerja keras seharian menguras keringat, tapi penghasilan dia cuma pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan pokok. Sebaliknya ada yang kelihatan santai, justru hidupnya bergelimang kemakmuran. Manusia pertama sekadar mengandalkan tenaga, sedangkan yang kedua pintar memutar otaknya. Mungkin dia banyak berinvestasi, sehingga uang terus mengalir ke rekeningnya. Bekerjalah lebih cerdas, bukan lebih keras. Prinsip inilah yang gencar digalakkan Robert Kiyosaki.
Demikian pula dengan amaliah keagamaan. Ada ibadah yang bernilai setakaran perbuatan itu sendiri. Artinya, begitu dikerjakan, dapat pahala, berhenti thok di situ. Sebaliknya, ada ibadah yang sekali dikerjakan pahalanya mengalir terus-menerus bahkan sampai si bersangkutan mati. Salah satunya dalam Islam disebutkan ialah mengajarkan ilmu yang bermanfaat kepada orang lain. Selama ilmu tersebut terus digunakan, maka sepanjang itu pula pahala akan mengalir padanya.
Termasuk menulis buku, walaupun jasad si penulis telah terkubur ratusan tahun silam, tapi karena generasi sekarang tetap mengambil faedah dari karyanya dimaksud, maka ia berhak untuk menerima ‘royalti’ pahala. Karena itulah, ulama-ulama dahulu rajin menulis. Ya, sungguh beruntung mereka yang sebelum ajalnya tiba sempat mewariskan ilmu dalam bentuk buku. Dengan cara itu mereka melakukan investasi pahala yang tak ternilai harganya.
Dalam hal ini, ada sebuah contoh yang sangat bagus dikemukakan. Seorang penulis hanya dari satu judul buku sukses berinvestasi, baik untuk kehidupan dunia maupun akhiratnya.
Buku tersebut ditulis tahun 1976, dengan tiga versi ukuran. Ukuran kecil naik cetak 359 kali, ukuran sedang 348 kali, dan ukuran besar 365 kali. Jika ditotal, berarti sudah mengalami cetak ulang 1.072 kali (jika pihak keluarga mau mengajukan bisa masuk rekor MURI).
Karena si penulis telah meninggal dunia, hak royalti Rp 3 milyar lebih jatuh pada anak cucunya. Alhamdulillah, berkat investasi tersebut kini keturunannya kaya-raya.
Tahukah Anda judul buku itu? Risalah Tuntunan Shalat Lengkap karangan Moh Rifa’i. Padahal, baik dari segi isi maupun kertas, buku tersebut terbilang sederhana. Tapi, karena dihajatkan oleh banyak orang jadi laris manis. Apalagi harganya cukup murah.
Bayangkan, berapa ribu bahkan jutaan penduduk Indonesia yang merasa terbantu dengan keberadaan buku itu? Sebab, setiap Muslim pasti berkepentingan untuk mempelajari tata cara shalat yang benar. Bukan hanya kalangan mualaf, Muslim keturunan pun tak sedikit yang hingga dewasa shalatnya masih bermasalah. Maka, begitu mereka terbuka hati untuk bertobat, pasti memerlukan buku panduan shalat, sebab jika belajar langsung dengan seseorang boleh jadi yang bersangkutan merasa malu.
Berarti, setiap kali ada yang mengambil manfaat dari buku itu, otomatis penulisnya juga dapat pahala. Seharusnya kita tergugah meniru jejak Moh Rafi’i, melakukan investasi dunia dan akhirat dengan menulis? Karena itu, mari kita tancapkan niat menulis sebagai bagian dari ibadah.
Kayak apa pendapat dangsanak, akur juakah?
Banjarmasin, 2 Feb 2009
Oleh: Aliansyah Jumbawuya
Anggaplah redaktur itu sebagai guru yang baik, karena ia mengerti betul siapa pembacanya dan apa yang diinginkan.
(Muhammad Diponegoro)
***
Taruhlah kemampuan menulis sudah lumayan, tidak masalah lagi. Justru yang sering jadi kendala itu ketika hendak mempublikasikannya. Setelah dikirim ke media massa, ditunggu-tunggu sekian waktu, tak juga kunjung dimuat. Kasus seperti ini cukup banyak dialami orang, terutama oleh calon penulis. Akibatnya, niat yang semula begitu menggebu-gebu untuk jadi penulis berangsur redup.
Untuk menghindari hal demikian, berikut ini ada beberapa tips agar tulisan kita dimuat di media massa:
Pertama, pelajari media cetak bersangkutan. Sebab, masing-masing koran, tabloid, majalah, itu berbeda-beda segmentasi atau sasaran pembacanya. Dari awal pihak pengelola pasti punya ’standar’ tertentu. Boleh jadi tulisan Anda sudah bagus, tapi karena tidak sesuai dengan visi dan misi media terkait, akhirnya ditolak. Contoh, Anda menulis cerita remaja pro-pacaran dengan aneka pergaulan bebasnya, tentu tidak cocok bila dikirim ke Serambi Ummah, Annida, Muslimah, atau Sabili. Begitu pula, jika Anda menulis cerpen yang sarat nuansa islami, tapi dikirim ke media massa yang dikelola oleh orang-orang komunitas Utan Kayu, kemungkinan besar akan terganjal karena berbeda paham atau aliran. Kurnia Effendi pernah dimintai tulisan oleh redaktur majalah Matra untuk menyambut momen tertentu. Begitu naskah dikirim, ternyata dinilai terlalu feminim, bertentangan dengan citra maskulin yang menjadi ciri khas media bersangkutan. Begitu pula cerpen keduanya, masih dianggap kurang pas. Baru pada kali ketiga karya Kurnia diterima.
Bayangkan, itu redaktur sendiri lho yang minta, namun tetap saja tidak bisa langsung disetujui. Ini bukan berarti tulisan Kurnia Effendi yang terdahulu jelek — buktinya cerpen pertama dimuat di majalah Femina dan yang kedua diterbitkan Kompas — tapi ada kriteria tertentu yang harus dipenuhi.
Termasuk masalah rubrik, kalau di media massa tersebut tidak ada ruang untuk puisi misalnya, jangan ngotot mengirimkan puisi. Mubazir, tidak bakalan dimuat. Sebab, bukan redaktur yang harus menyesuaikan dengan penulis, tapi penulislah yang mesti jeli ‘membaca’ mau redaktur.
Kedua, khusus bagi penulis pemula sebagai langkah awal sebaiknya mengirim tulisan ke koran lokal dulu, sebab seleksinya cenderung lebih longgar, sehingga kemungkinan untuk dimuat pun lebih besar. Anggaplah Anda masih tahap belajar, sekaligus dalam upaya menumbuhkan kepercayaan diri. Nanti kalau telah terbiasa dan piawai menulis, baru membidik media nasional.
Jangan sampai baru satu-dua kali menulis sastra sudah buru-buru mau menaklukkan Horison misalnya, dikhawatirkan lantaran persaingan yang ketat, tunas layu sebelum berkembang. Sebenarnya bukan tidak berpotensi untuk jadi penulis, tapi cuma karena keliru menerapkan strategi. Ingat, pertumbuhan manusia sendiri melalui fase-fase tertentu: dari berbaring, duduk, merangkak, berdiri, dan seterusnya, tidak bisa langsung melenggang. Begitu pula dalam urusan mempublikasikan tulisan.
Ketiga, setelah Anda mengirim sebuah tulisan ke media massa, segera tulis topik yang lain. Jangan tunggu dimuat dulu, baru menulis lagi. Sebab, urusan kapan tulisan tersebut dimuat itu sudah di luar wewenang penulis, toh Anda tidak mungkin mengendalikan hati dan pikiran redaktur. Jadi, lakukanlah apa yang bisa dilakukan, yakni teruslah menulis. Bukankah dalam hukum probalitas, semakin banyak tulisan yang kita kirim, semakin besar pula kemungkinan untuk dimuat?
Keempat, kalau bisa mempublikasikan tulisan jangan terpaku hanya pada satu media. Kalau cerpen atau artikel Anda minggu ini dimuat di koran A, kecil kemungkinan edisi depan diisi karya Anda lagi. Sebab, selain mempertimbangkan mutu, redaktur juga ingin memberi kesempatan pada penulis lain. Tidak mau medianya hanya didominasi orang-orang tertentu. Kecuali, bila Anda diminta jadi pengasuh rubrik tetap. Untuk sampai pada tahap tersebut, tentu saja Anda harus punya brand yang ‘menjual’ dan kesempatan tersebut agak langka.
Kelima, seorang penulis harus melek teknologi. Jangan sampai orang lain mengirim tulisan lewat email, Anda masih menggunakan mesin tik atau tulis tangan. Kalau di waktu bersamaan ada dua tulisan dengan kualitas yang sama, tentu redaktur akan mengambil yang lebih praktis. Daripada mengetik ulang tulisan Anda mending mengambil file yang sudah siap saji.
Keenam, kenal dan bersahabat dengan redaktur boleh jadi merupakan nilai plus tersendiri untuk memuluskan peluang tulisan Anda dimuat. Tapi, tetap saja itu bukan suatu jaminan. Karena di sisi lain redaktur pun harus bertindak profesional. Kalau ada tulisan lain yang masuk duluan berbulan-bulan, sementara tulisan Anda baru kemarin diterima, lantas Anda minta diprioritaskan karena merasa punya hubungan dekat, juga tidak adil. Objektivitas tetap perlu dikedepankan.
Ketujuh, hindari mengirimkan tulisan kembar apalagi plagiat. Jika itu Anda lakukan dan ketahuan, sama artinya mencederai kepercayaan redaktur yang selama ini terbina.
Tulisan kembar maksudnya karya yang sudah dimuat di media A, kemudian dikirim lagi ke koran B, entah isinya sama persis maupun judulnya doang yang dirubah, tetap saja tidak fair. Hal itu akan menimbulkan asumsi negatif di benak redaktur. Pertama, si penulis dianggap sudah kehabisan ide dan kreativitas, sehingga hanya mampu menembakkan ’selongsong’ bukan ‘peluru’ baru. Kedua, ini agak ekstrem, Anda dinilai mata duitan karena ingin menangguk honor secara double.
Sedangkan karya plagiat ialah menyontek total atau sebagian karya orang lain. Akibatnya bisa fatal, nama Anda di-black list atau pemilik karya aslinya menuntut ke meja hijau karena hak intelektualnya dilanggar. Jadi, bagi yang pernah melakukan segera hentikanlah kebiasaan buruk ini.
Delapan, simpanlah arsip tulisan Anda. Dengan demikian, kalau tulisan Anda ditolak, Anda masih bisa mengirim ke koran, tabloid, atau majalah lain. Terserah mau direvisi atau dibiarkan utuh seperti semula. Sebab, siapa tahu di media yang berbeda karya Anda diterima.
Kalaupun tulisan tersebut tetap dianggap tidak layak muat, jangan keburu putus asa. Jika sewaktu-waktu kebetulan punya modal, silakan Anda terbitkan sendiri. Tidak mustahil tulisan Anda yang tadinya disepelekan orang, ketika dibukukan justru best seller. Bagaimanapun yang paling menentukan apakah tulisan itu diminati atau tidak, pada akhirnya ada di tangan masyarakat pembaca.
Semoga beberapa tips di atas bisa bermanfaat. Selamat mencoba!
***
(Disampaikan pada Seminar Motivasi Penulisan di MAN 2 Model Banjarmasin, Sabtu 14 Febuari 2009).
Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.
(Ali bin Abi Thalib)
***
Setiap saat kita punya peluang untuk memperoleh ilmu. Tidak harus melalui pendidikan formal. Justru dalam pergaulan sehari-hari banyak kita temukan ilmu tentang kehidupan yang jarang didapat di bangku sekolah atau kuliah. Tinggal bagaimana kita mengelola ilmu tersebut, sehingga tidak mudah lupa.
Agar ilmu yang telah kita serap tidak meruap digerus waktu, maka cara cerdas untuk mengikatnya ialah dengan menuliskannya. Kalau sudah ditulis dan dipublikasikan, berarti kita sekaligus berbagi ilmu kepada khalayak. Berbeda dengan harta yang apabila dibagi-bagikan akan berkurang, ilmu begitu didistribusikan malah semakin bertambah. Melekat kuat dalam ingatan, dan manfaatnya bisa dipetik oleh siapapun.
Banyak cara yang bisa ditempuh untuk mendapatkan ilmu. Misalnya, dengan menghadiri majelis taklim. Setiap kali mengikuti pengajian pasti ada ilmu baru yang kita petik dan bawa pulang. Supaya tidak mudah hilang, alangkah bagus bila dituliskan.
Ingat, tulisan saya tentang sikap iklas yang dicontohkan pemancing ikan pada edisi lalu (baca: Ikhlas Menulis Membawa Berkah) dicomot dari isi pengajian ustadz Ahmad Bayani di Musala Banjarmasin Post Group. Andai tidak segera saya tulis, mungkin beberapa bulan kemudian jadi lupa. Tapi, karena sudah diikat dengan tulisan, insya Allah sepuluh tahun akan datang tetap ingat. Yang pasti ilmu tersebut tak lagi hanya dinikmati jamaah pengajian dengan jumlah terbatas; begitu ditulis dan dimuat di media massa otomatis warga yang berada di pelosok Amuntai, Barabai, Juai sekalipun, bahkan seantero Indonesia yang semula tidak tahu — karena juga diposting di blog — kini bisa turut mencernanya. Demikianlah salah satu kekuatan dari tulisan.
Ilmu juga bisa didapat dari menyimak pembicaraan, perdebatan, diskusi, seminar, lokakarya, dsbnya. Di sinilah pentingnya nilai filosofi kenapa kita diciptakan dua telinga agar banyak mendengar, dan satu mulut supaya sedikit bicara. Biarlah orang lain bakancangan urat gulu, kita cukup mengambil manfaat darinya. Jangan biarkan ilmu yang bertebaran di sekitar kita bersileweran begitu saja, cepat tangkap dan ikat dengan cara menuliskannya.
Termasuk bagi yang suka mencermati keadaan di sekeliling bisa memperoleh pelajaran berharga dari prilaku sesama. Bahkan dari hewan dan tetumbuhan pun kita bisa menuai ilmu. Umpamanya, perhatikanlah pohon yang batangnya dipotong (ditamsilkan dengan sedekah), tak lama kemudian bermunculan banyak ranting, lebih rimbun dari sebelumnya. Artinya, tanpa membaca buku-buku karangan ustadz Mansyur yang menekankan kalau kita rajin bersedekah maka rezeki akan bertambah — jauh sebelumnya fenomena alam telah mengajarkan itu. Hasil renungan semacam ini, jangan biarkan datang sesaat untuk kemudian pergi tanpa jejak. Caranya? Ya, cepat-cepat ditulis!
Membaca adalah metode yang praktis untuk menjaring ilmu. Dalam satu jam saja kita bisa menimba berbagai ilmu dari buku. Apabila ada kalimat yang berkesan, segera tulis. Kalau perlu jadikan kegiatan membaca sebagai pemantik untuk menulis. Dengan begitu, kita menempatkan diri tidak sekadar sebagai pengonsumsi buku, juga produsen tulisan.
Hal inilah yang dilakukan KH Adnani Iskandar, mantan Ketua Komisi Fatwa MUI Provinsi Kalsel. Setiap kali menemukan bahan bacaan yang dinilai penting, ulama sepuh ini mencatatnya. Hampir semua persoalan aktual di masyarakat, terutama yang bersifat lokal, tak luput dari perhatiannya. Kalau ada wartawan datang untuk mewawancarai, beliau tinggal mengambil cacatan sebagai rujukan.
Alhasil, di usia yang uzur sang kiai tetap eksis dan konsisten berbagi ilmu. Daya ingat dan penglihatan beliau masih tajam. Boleh jadi ini berkat kebiasaan sidin yang gemar membaca dan menulis.
Tak Hanya Menghafal
Beruntunglah orang-orang yang dikaruniai kemampuan menghafal yang luar biasa. Dalam waktu relatif singkat sukses menyerap ilmu yang diberikan dan terpelihara rapi di pusat memori. Meski memiliki otak brilian, tetap saja kita perlu mengikatnya dengan tulisan. Sebab, kalau dibiarkan sekadar bersemayam di batok kepala berarti cuma si empunya diri yang bisa menikmati ilmu tersebut. Apabila habis umur, otomatis ilmu yang dimiliki pun ikut sirna. Sebaliknya, manakala sudah dituangkan dalam tulisan, insya Allah ilmu itu bakal langgeng sepanjang masa.
Karena itulah ulama-ulama dahulu meski rata-rata mempunyai daya hafal yang kuat, mereka tidak mau sepenuhnya mempercayakan ilmunya pada ingatan. Imam Syafi’i misalnya, dalam beberapa riwayat terkenal sangat jenius. Pada usia 13 tahun ia telah hafal Alquran dan banyak hadis. Suatu hari, ia mengikuti majelis akbar Imam Malik. Ketika jamaah lain bubar, Syafi’i tidak beranjak dari tempat duduknya. Imam Malik ibn Anas pun heran, lalu mendekati. Untuk menguji keseriusan anak muda itu menuntut ilmu, ia menanyakan sebuah hadis yang disampaikan dalam pengajian tadi. Ternyata bukan cuma satu, semua hadis yang baru didengar mampu dihafal oleh Syafi’i. Bahkan jauh sebelum pertemuan itu ia sudah hafal kitab Muwatta yang berisi ribuan hadis. Imam Malik pun terkesan, dan sejak itu mengangkatnya menjadi murid.
Walaupun memiliki daya hafal kuat, nyatanya Syafi’i tak abai untuk menuliskan ilmunya. Sebab, ia sadar mungkin saja sewaktu-waktu bisa lupa. Bagaimana pun tidak ada manusia yang sempurna, pasti punya keterbatasan.
Dalam buku Aadab Asy-Syafi’i wa Manaqibuhu karangan Ibnu Abi Hatim diceritakan, seorang sahabat bernama Al Humaidi ketika keluar tengah malam ia mendapati lampu rumah Syafi’i menyala. Ia pun mampir dan melihat di dekat cendekiawan Muslim itu terdapat secarik kertas dan pena. Ketika ditanya, Syafi’i menjawab bahwa ia tengah memikirkan makna sebuah hadis berkaitan dengan masalah fiqih, karena takut keburu raib maka ia segera menyalakan lampu dan menuliskannya.
Begitu pula dengan Imam Bukhari, dalam semalam ia bisa bangun sebanyak 18 kali untuk menuliskan sesuatu yang terlintas dalam ingatannya.
Imam Nawawi pernah mengingatkan, “Janganlah seseorang meremehkan suatu faedah dalam bidang apapun yang didengar atau dilihatnya, tetapi hendaklah ia segera menuliskannya.
Bayangkan, mereka yang dianugerahi kecerdasan tinggi sekalipun tidak mau menggantungkan ilmunya semata pada hafalan; apalagi bagi yang merasa punya daya ingat pas-pasan seharusnya justru lebih gencar dan telaten untuk menggoreskan pena. Jangan sampai karena abai mengikatnya dengan tulisan, ilmu yang didapat raib begitu saja.
Kayak apa pendapat dangsanak, akur juakah?
Banjarmasin, 31 Jan 2009
Oleh: Aliansyah Jumbawuya
Pengertian ibadah dalam Islam sangatlah luas. Dari bangun tidur sampai menutup mata kembali mengandung nilai ibadah. Singkatnya, pada setiap tarikan dan hembusan nafas terbuka peluang untuk ibadah. Tinggal terpulang pada diri masing-masing, apakah mau atau ogah memanfaatkan kesempatan tersebut.
Sayangnya, sampai kini masih saja ada orang yang beranggapan bahwa ibadah itu sebatas hal-hal ritual, seperti salat, puasa, zakat, dan seterusnya. Padahal, tersenyum atau membuang duri dari jalanan juga ibadah. Termasuk menulis, jika diniatkan ikhlas untuk kemaslahatan umat tentu Allah akan mencatatnya sebagai ibadah.
Kalau karena tulisan Anda masyarakat jadi tergugah buat memelihara kelestarian lingkungan hidup, bukankah itu manifestasi dakwah? Kalau berkat tulisan Anda kemudian warga jadi rukun hidup bertetangga, bukankah itu artinya Anda telah menyebarkan kebajikan? Kalau setelah menyimak tulisan Anda waria terbuka kesadarannya untuk kembali berprilaku normal sesuai fitrahnya, bukankah Anda mengajak dia pada jalan kebenaran? Kalau usai mencerna tulisan Anda seorang penjahat memutuskan berhenti berbuat maksiat, bukankah itu buah dari amar ma’ruf nahi munkar? Karena hal-hal tersebut dianjurkan dalam Islam, tentu si penulis pantas mendapatkan poin pahala.
Dulu di era 1990-an memakai jilbab sering dipermasalahkan, padahal penduduk Indonesia adalah Muslim terbesar di dunia. Tidak sedikit kasus siswi di sekolah umum yang memakai jilbab dilarang mengikuti pelajaran bahkan di-skorsing. Foto muslimah berjilbab tidak diperbolehkan untuk ijazah dan SIM (Surat Izin Mengemudi). Apalagi kalau hendak bekerja di supermarket atau mall sering disyaratkan agar menanggalkan jilbab. Aturan sekuler itu tak pelak menjadi dilema bagi kaum Hawa yang hendak menerapkan ajaran Islam secara kaffah, terutama menyangkut kewajiban menutup aurat. Sebagian memang ada yang istiqomah mempertahankan jilbabnya meski dengan segala konsekuensi, namun banyak pula yang terpaksa melepasnya.
Di tengah kondisi demikian, muncullah para aktivis Islam yang begitu gencar mensosialisasikan jilbab, baik lewat artikel-artikel maupun karya fiksi. Salah satunya, cerpen Ketika Mas Gagah Pergi karangan Helvy Tiana Rosa mampu menginspirasi ratusan wanita mengenakan jilbab.
Alhamdulillah, akhirnya pemerintah memberi kebebasan kepada WNI untuk berjilbab. Kini di perguruan-perguruan tinggi dan sekolah-sekolah umum marak wanita berjilbab. Semua itu, sedikit-banyak berkat andil penulis Muslim yang gigih memperjuangkan jilbab lewat tulisan. Mereka yang turut ambil bagian mengangkat pena tersebut, niscaya memperoleh ganjaran pahala.
Tidak melulu harus bertemakan keagamaan, menulis apapun asalkan terbukti mampu memberikan pencerahan layak dikategorikan sebagai ibadah. Menulis buku motivasi agar generasi muda berani menerjuni dunia wiraswasta sehingga tingkat pengangguran berkurang, juga termasuk ibadah.
Karena itu, mari rame-rame menulis sesuai bidang yang kita minati. Mau menulis masalah politik, ekonomi, sosial, budaya, sastra, parenting, terserah mana yang Anda gandrungi. Sepanjang memberi efek positif bagi masyarakat, insya Allah akan bernilai ibadah.
Kayak apa pendapat dangsanak, akur juakah?
Tentang penulis
The author does not say much about himself
Cari
Navigasi
Kategori:
Tautan:
Arsip:
Feed
Theme: Supposedly Clean by Alvin Woon. Blog pada WordPress.com.