Padepokan Pena - Gemar Membaca Giat Menulis

Andai Ulama Rajin Menulis

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Ulama diidentikkan sebagai orang yang berilmu agama luas, saleh, berakhlak mulia, dan bijaksana. Karena itu, pemikirannya sering dijadikan rujukan umat. Wajar jika banyak orang yang datang kepadanya berkonsultasi masalah hukum fiqih, amaliah keseharian, dan sebagainya.

Namun, tidak setiap saat ulama bisa menyediakan diri untuk meladeni dan menjawab berbagai problem yang dihadapi umat. Mereka juga harus mengalokasikan waktu buat keluarga serta hal-hal yang sifatnya pribadi. Sementara di sisi lain, kebutuhan umat untuk mendapatkan pencerahan atau solusi keagamaan kadang sangat mendesak.

Maka, untuk mensiasatinya, kenapa ulama tidak menulis saja? Dengan begitu, satu kali kerja sekian ratus bahkan ribu orang terlayani. Sebab, banyak individu yang punya kepentingan sama. Misalnya, hari ini ulama dalam tulisannya mengulas tentang hukum mengecat rambut berwarna-warni, menato kulit, atau menyuntikkan silikon ke organ tubuh ditinjau dari kacamata Islam. Pihak terkait bukan kalangan remaja saja, para orangtua pun perlu tahu agar bisa bersikap tegas ketika menemukan anak mereka berprilaku demikian.

Hal ini menegaskan betapa efektifnya tulisan menjangkau khalayak luas. Bahkan bisa dibaca berulang-ulang kapan dan dimana pun, sehingga kadar pemahaman terhadap permasalahan yang dimaksud melekat kuat, tidak mudah lupa.

Persoalannya, sudahkah ulama kita, terutama yang di banua Banjar, rajin menulis?

Dulu Serambi UmmaH pernah menyediakan rubrik sari khutbah. Para khatib dimintai secara bergantian tulisan mereka yang akan dibacakan pada khutbah Jumat berikut. Fakta di lapangan sebagian memang ada yang sanggup memenuhi target, menyerahkan tulisan hari Rabu sesuai deadline. Namun, justru lebih banyak yang tidak sebagaimana diharapkan. Ketika dihubungi si ulama mengaku belum menyiapkan teks yang dijanjikan. Akibatnya, karena sudah kepepet disiasati dengan model wawancara. Si bersangkutan ngomong, wartawan yang menuliskan.

Rupanya budaya menulis, tanpa bermaksud meng-generalisasi, di kalangan ulama kita masih tipis. Buktinya, tidak jarang isi khutbah yang Jumat ini dibacakan di masjid A, nanti diulang lagi di masjid B, C, D, dan seterusnya. Artinya, dalam sebulan dari jadwal dia menjadi khatib, teks yang dibaca ya itu-itu saja. Masih mendingan kalau tulisan tersebut hasil karya sendiri, sebab pernah kejadian ketika dimintai teks khutbah si ulama menyerahkan lembaran fotocopi yang dicomot dari buku kumpulan khutbah. Ternyata apa yang dia sampaikan di depan jamaah Jumat selama ini bukan hasil pemikiran dia, tapi mencuplik total tulisan orang lain. Sungguh, betapa memprihatinkan kenyataan ini!

Seorang sahabat — saya lebih senang menyebutnya ‘Mr Lebah’ karena kata-kata yang dia lontarkan sering menyengat, tapi jika dikaji lebih dalam justru mampu menghasilkan ‘madu’ sebab menggugah orang untuk memperbaiki kualitas diri — ketika memberikan motivasi penulisan, mengaku punya 200 lebih buku tentang Rasulullah. Sayang, sesalnya, sebagian besar adalah karya terjemahan.

“Lalu, apa saja yang dilakukan kiai-kiai kita di pesantren, sehingga tulisan mereka tidak terlihat? Padahal, kita punya ulama panutan Syekh Arsyad Al Banjari, yang selain berdakwah secara lisan juga rajin menulis,” gugatnya dengan nada menohok.

Agaknya statement ini patut menjadi renungan kita bersama.

Potensi Dahsyat

Dalih yang paling sering dikemukakan kenapa ulama kita tidak sempat lagi menulis, karena mereka disibukkan oleh mengisi undangan ceramah di mana-mana. Tak dipungkiri, bahwa memberi ceramah itu memang penting dan kontribusinya bagi umat cukup besar. Namun, alangkah baiknya jika dibarengi pula dengan menulis. Sebab, ulama-ulama dulu pun tak kalah sibuknya, toh mereka masih bisa meluangkan waktu berdakwah menggunakan goresan pena.

Imam Malik setiap hari membuka majelis ilmu. Muridnya ribuan orang dari berbagai penjuru. Saking banyak yang belajar padanya, untuk memudahkan maka tiap hari dibagi beberapa sesi, sesuai dengan bidang kajian yang hendak diperdalam. Berarti jadwalnya memberi pengajian sangat padat. Kendati demikian, nyatanya Imam Malik masih sempat menulis. Padahal waktu itu fasilitas serba terbatas, belum ada listrik apalagi komputer dan laptop. Buktinya, beliau mampu produktif menulis.

Dalam buku Seratus Muslim Terkemuka karya Jamil Ahmad disebutkan rata-rata ulama dahulu tak hanya fasih berceramah, juga piawai menulis. Bahkan, saking tingginya dedikasi mereka untuk mewariskan ilmu kepada generasi berikut, di antaranya ada yang menulis sambil menunggang kuda. Bandingkan dengan kita sekarang, punya waktu luang saja sering disia-siakan.

Saya sering membayangkan, di Kalsel ini kita punya masjid sekitar 3.000 buah. Berarti tiap Jumat ada 3.000 khatib yang naik mimbar, dan tentu membawa teks khotbah. Andai tiap 30 buah tulisan dikumpulkan, kemudian dicetak, hitungannya dalam seminggu kita menghasilkan 100 buku. Kali 48 minggu, berarti 4.800 jilid dalam setahun. Wooww!!! Betapa dahsyatnya potensi ilmu yang dimiliki umat Islam jika benar-benar diberdayakan. Itu baru dari teks khotbah, belum lagi yang lain.

Tapi, persoalannya seberapa banyak ulama kita yang rajin menulis, walau seminggu sekadar menghasilkan satu tulisan? Apalagi yang mau mengangkat topik tulisan sesuai dengan aktualitas yang tengah berkembang di masyarakat, sehingga bisa jadi penyejuk atas kegelisahan umat. Belum lagi kalau bicara tentang kualitas tulisan.

Saya pernah ngobrol dengan seorang mubaligh, dia bilang kalau diminta ceramah mendadak di depan jamaah, tiga jam pun sanggup menguraikan materi keagamaan. Tapi kalau diminta menulis tiga halaman kuarto saja, katanya, susah bukan main.

Padahal semua orang memiliki potensi besar untuk menjadi penulis. Karena menulis itu sekadar mentransfer pikiran ke dalam bentuk tulisan. Terlebih bagi ulama, yang kita tahu adalah gudangnya ilmu. Jadi, sebenarnya tidak ada alasan untuk ‘pelit’ menulis.

Seorang Yahudi pernah bilang: “Kami tak akan pernah takut pada umat Islam selama mereka masih tidak suka membaca dan menulis.”

Nah, apa tidak panas kuping. Mestinya mendengar pernyataan tersebut kita terlecut untuk menghidupkan kembali tradisi baca-tulis di kalangan Islam. Ingat, kita hanya akan bisa mencapai kebangkitan apabila dimulai dengan revolusi mental. Salah satu caranya ialah tumbuhkan kecintaan masyarakat pada ilmu — dan itu harus didukung oleh budaya membaca dan menulis.

Lihatlah, Paus Benidiktus XVI setelah menjalin kerjasama dengan Apple untuk aplikasi doa pada iPhone, kini kembali merangkul Google agar membuatkan kanal khusus di layanan YouTube dalam upaya menyebarkan isi khutbahnya. Vatikan begitu gencar memanfaatkan teknologi, sementara kita menulis saja masih dianggap sebagai problem.

Sekali lagi, ini patut jadi renungan kita bersama.

Banjarmasin, 29 Jan 2009


Posted in Mari Menulis

Pilih Berdebat atau Menulis?

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Lupakan segala yang telah kita katakan.

Omongan hanya debu di udara.

(Sajak Dua Suara, Khalil Gibran)

***

Tiap-tiap kepala pasti tidak sama isi pikirannya. Anak kembar saja sering berbeda pendapat, apalagi yang samasekali tak punya hubungan darah. Latarbelakang keluarga, pola asuh, pendidikan, pengalaman, lingkungan, turut andil mempengaruh cara berpikir seseorang. Jadi, wajar bila terjadi perbedaan pendapat. Tinggal bagaimana kita mengelolanya sehingga menjadi rahmat.

Sayang, dalam kenyataan sehari-hari perbedaan sering berujung pada pertentangan bahkan permusuhan. Lihatlah, perdebatan di forum-forum resmi maupun di warung-warung pojok kerap diwarnai dengan sikap emosional. Merasa diri paling benar, dan klaim kesalahan disematkan pada lawan bicara. Mereka bersitegang urat leher. Masing-masing berusaha mempertahankan argumentasinya. Kalau perlu, belum lagi orang selesai ngomong langsung dipotong. Akibatnya, dalam perdebatan itu bukan lagi untuk mencari kebenaran, tetapi siapa yang akan menang.

Jika sudah begitu, jangan harap akan tercapai kesepahaman. Sebab, boleh jadi seseorang jauh di lubuk hatinya mengakui pendapat yang dibentangkan sang rival, tapi karena disaksikan oleh khalayak ia pun berusaha melindungi harga dirinya. Pokoknya, logis atau tidak, yang penting ada sanggahan! Kalau perlu banyaringan pander, tak peduli isi bantahan kurang bermutu.

Umat Islam sendiri sampai hari ini masih sering terjebak pada perdebatan hal-hal khilafiyah, sesuatu yang mungkin tidak akan pernah tuntas untuk dibicarakan.

Pernah kejadian di sebuah kampung warga berdebat mengenai boleh-tidaknya membaca syair maulid disertai tabuhan tarbang di dalam masjid. Kedua kubu bersikeras dengan pendapatnya. Bahkan, hampir saja terjadi bentrokan fisik. Masing-masing sudah ada yang membawa parang, tombak, dan kayu. Siap berduel. Untunglah, aparat segera datang, dan ulama bijak sigap menenangkan. Jika tidak, mungkin akan terjadi pertumpahan darah.

Kasus di atas hanyalah satu contoh dampak dari perdebatan. Jangankan masyarakat awam, mereka yang katanya intelek pun saat berdebat kadang lepas kontrol, mengabaikan etika, dan tak mencerminkan sikap sebagai orang yang berpendidikan. Akibatnya, perdebatan menjadi sesuatu yang kontra-produktif. Bukan cuma memubazirkan energi, juga bisa menggiring pada pertikaian. Entah nanti jika masyarakat kita sudah ‘dewasa’. Tetapi, kapankah itu?

Keunggulan Tulisan

Daripada berdebat lebih baik apa yang jadi bahan polemik diulas dalam sebuah tulisan. Dengan begitu, kita bisa berpikir tenang dan mengumpulkan referensi pendukung sebanyak-banyaknya agar lebih meyakinkan. Kita dapat leluasa mengungkapkan dalil-dalil, hujjah-hujjah, data-data, fakta-fakta, secara sistematis dan komprehensif. Tak perlu khawatir bakal ada yang memotong apa yang hendak kita kemukakan.

Beda dengan ketika berdebat, barangkali belum lagi kita tuntas membeberkan argumentasi sudah keburu dipangkas. Perhatikanlah, kalau Anda nonton debat publik yang hampir tiap malam disiarkan TV swasta, betapa sering paparan narasumber terpotong, baik oleh lawan bicara, moderator, maupun tuntutan iklan yang harus tampil. Belum lagi jika si pemandu acara cenderung memihak, boleh jadi porsi bicara kita sengaja dibatasi. Sebentar-sebentar omongan kita di-cut, sehingga pesan yang mau disampaikan tak pernah utuh. Maka, daripada kecewa mendingan kita menulis.

Tulisan jauh lebih efektif mencapai sasaran ketimbang lewat perdebatan. Khalayak pembaca bisa menyimak isi tulisan dalam suasana yang lebih kondusif. Mau sambil rebahan di tempat tidur atau duduk di bangku taman sembari mendengarkan musik, silakan! Pokoknya terserah selera si empunya diri. Dengan begitu, yang bersangkutan punya kesempatan untuk mencerna dan merenungkannya secara intensif.

Beberapa waktu lalu ketika pelantikan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Kalsel di Mahligai Pancasila, Ketua PBNU Pusat KH Hasyim Muzadi dalam sambutannya sempat menyinggung tentang buku yang mengugat seputar amaliah kaum nahdliyin. Ia berpesan, orang-orang NU tak perlu marah-marah atau merasa kebakaran jenggot. Hadapi dengan gentlman. Kalau diserang lewat buku, balas pula dengan buku.

Sekian bulan berselang muncul buku berisi bantahan dari NU. Istilahnya, terjadi ‘perang’ tulisan. Masing-masing mengeluarkan dasar atau landasan hukum untuk memperkuat pendapat dan keyakinan mereka. Itu jauh lebih konstruktif daripada perang mulut. Adu fisik pun terhindarkan. Justru wawasan umat jadi kian terbuka. Tidak melihat permasalahan hanya dari sudut pandang satu aliran.

Soal pendapat mana yang dipilih itu terserah sepenuhnya pada khalayak pembaca. Tidak bisa diintervensi. Karena tingkat penerimaan seseorang sesuai dengan kadar pemahamannya.

Dalam Alquran diajarkan, jika hendak menyampaikan kebenaran lakukanlah dengan cara hikmah. Sementara dalam debat, hal itu malah sering terabaikan. Justru yang mencuat adalah sikap emosional.

Contoh sederhana, sekarang ini banyak remaja putri bahkan wanita paroh baya mengikis alis mata. Apalagi ketika mau bersanding di pelaminan. Padahal, dalam sebuah hadis jelas-jelas perbuatan tersebut dilarang. Kalau kita menemukan fakta demikian, lalu menegur secara lisan, boleh jadi si bersangkutan akan tersinggung. Terlebih jika dilakukan di depan orang banyak, kemungkinan kita bakal didebat. Masih untung kalau tidak disemprot atau dicaci-maki. Tak peduli, bahwa sebenarnya maksud kita baik semata untuk mengingatkan dan meluruskan dia.

Sebaliknya, jika prilaku keliru atau salah itu kita koreksi lewat tulisan, siapapun bisa merenungkannya. Tidak hanya ditujukan pada satu individu. Dan pihak manapun tak perlu ada yang merasa tersinggung, karena maksud kita bukan untuk menghantam person, tapi mengkritisi perbuatannya.

Jadi, kalau kita hendak menyampaikan misi, pemikiran, pandangan tertentu, jauh lebih efektif menggunakan tulisan ketimbang dengan cara berdebat. Karena itulah, tokoh-tokoh pendiri ormas Islam seperti Ihwanul Muslimin, Jamaah Tabligh, Hizbut Tahrir, dan sebagainya, untuk merekrut pengikut sebanyak mungkin, disamping melakukan langkah-langkah praktis juga gencar menerbitkan tulisan. Dengan begitu, paham mereka bisa tersebar luas, melintasi sekat ruang dan waktu.

Maka, daripada sibuk berdebat lebih baik tuangkan isi pikiran kita ke dalam bentuk tulisan. Tak perlu banyak omong, teruslah menulis dan menulis.

Kayak apa pendapat dangsanak, akur juakah?

Banjarmasin, 17 Jan 2009

***


Posted in Mari Menulis

Kita Perlu Banyak Penulis Muslim

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Beberapa waktu lalu mencuat kontroversi seputar Muslim yang ikut yoga. Malaysia bahkan secara tegas memfatwakan haram karena konon dalam praktiknya ada prosesi ritual khas agama Budha. Di Indonesia pun sempat ‘memanas’ adu argumen mengenai boleh tidaknya Muslim menekuni yoga. Institusi, lembaga, ormas, maupun perorangan yang berkompenten dalam masalah ini memang perlu bersuara agar umat tidak terjebak pada kegamangan. Namun kita juga perlu introspeksi, kenapa orang Islam sampai memilih yoga sebagai sarana untuk menemukan ketenangan hidup? Padahal, dalam ajaran Islam cukup banyak metode yang bisa diterapkan. Dengan berzikir dan beristighfar kita bisa mendapatkan ketentraman batin. Dengan salat yang khusyu jiwa menjadi adem. Dengan puasa niscaya tubuh sehat. Tapi, kenapa pemahaman ini tidak merasuk dalam diri sebagian Muslim, malah kemudian mereka kepincut pada cara yang ditawarkan agama lain?

Boleh jadi sosialisasi tentang itu, baik lewat dakwah bil lisan (ceramah), bil qalam (tulisan), bil hal (training) masih minim. Sekarang ini memang telah beredar buku-buku seputar terapi air wudhu, keajaiban salat subuh, dahsyatnya tahajud, dampak puasa bagi kesehatan, dan sejenisnya. Tapi, kita tak boleh cepat berpuas diri. Kita perlu lebih banyak lagi penulis Muslim yang getol mengupas keutamaan ibadah sehingga umat termovitasi untuk melakoni karena mengetahui manfaatnya, baik untuk kepentingan duniawi maupun ukhrawi. Dengan begitu, diharapkan umat Islam tak lagi tergoda untuk ke lain hati.

Betapa ironis, Islam yang rahmatan lil alamin dan punya konsep universal untuk mengatasi berbagai permasalahan manusia, kok ada pemeluknya yang lebih tertarik ikut cara agama lain. Karena itu, sekarang kita perlu kader-kader penulis yang mau mengikuti jejak Ary Ginanjar Agustian, Abu Sangkan, Mohammad Saleh, yang berdakwah lewat pena sesuai dengan kepakaran masing-masing.

Dulu ketika mahasiswa untuk memperkuat mental saya sangat memerlukan buku-buku seputar pengembangan diri. Sayangnya, di era 1990-an itu buku psikologi terapan yang dikarang oleh penulis Muslim terbilang langka. Akibatnya, saya pun sempat menggandrungi penulis-penulis Barat seperti Dale Carnagie, DJ Swartz, Napoleon Hill, Norman V Peale, yang dalam paparannya sering mengutip Injil. Bahkan, tokoh yang disebutkan terakhir adalah seorang pendeta. Untung, tidak pernah terlintas dalam benak saya untuk pindah agama. Tetapi, bisa lain ceritanya andai tidak punya basic keislaman dari kecil.

Saya menyukai karya-karya mereka, karena memang tidak ada alternatif yang bisa disuguhkan oleh penulis Muslim. Baru belakangan saja KH Toto Tasmara muncul dengan buku-bukunya yang gencar memotivasi umat Islam agar memiliki mental tangguh.

Begitu pula, berapa banyak dulu remaja kita yang kecantol pada novel-novel ngepop dan picisan karya Predy S, Maria Fransisca, Abdullah Harahap, yang dalam cerita-cerita mereka terkesan mengagungkan cinta. Bahkan, tidak sedikit yang kecanduan pada serial Nick Carter yang sarat dengan kekerasan dan adegan ranjang. Dampaknya, disadari atau tidak, bacaan semacam itu mempengaruhi pola pikir dan prilaku remaja kita. Di antaranya, pacaran dianggap sebagai kebanggaan. Malah, tak sedikit yang berani nyerempet ke arah perzinahan akibat ‘terinspirasi’ bacaan yang merusak tadi.

Orangtua jangan cuma bisa menyalahkan kenapa remaja kita mengonsumsi novel-novel yang tidak mendidik tersebut, karena waktu itu memang tidak ada pilihan lain. Baru sekitar tahun 1992 muncul gelombang fiksi Islami yang dipelopori oleh Helvy Tiana Rosa bersama komunitas Forum Lingkar Pena (FLP). Ratusan bahkan ribuan penulis muda yang istiqomah menyisipkan nilai-nilai islami dalam karya-karya mereka bermunculan. Terbukti, kehadiran penulis Muslim ini mampu memberi pencerahan. Sehingga, tak berlebihan bila sastrawan Taufik Ismail memuji, bahwa kehadiran FLP merupakan anugerah bagi Indonesia.

Memperjuangkan Islam

Kalau mau jujur, sampai hari ini begitu banyak problem yang membelit umat Islam. Dari keterbelakangan, kebodohan, kemiskinan, hingga ketertindasan. Semua itu tentu memerlukan solusi dan perbaikan. Di sinilah peran penulis Muslim untuk memberikan pemikiran dan pencerahan. Kesadaran umat perlu digugah dan dibuka lewat tulisan. Misalnya, untuk mencintai ilmu, mendalami teknologi, membangkitkan etos kerja, dan lain-lain, sehingga kita tak terus-terusan terpuruk dalam ketertinggalan. Semua itu bisa diulas dan ditulis menurut perspektif Islam.

Islam sendiri sangat menghargai kedudukan penulis Muslim, sehingga dinyatakan tinta ulama itu senilai darah syuhada. Jadi, untuk memperjuangkan Islam tidak harus terjun ke medan perang. Jihad itu artinya bersungguh-sungguh. Kalau kita bersungguh-sungguh menulis untuk membangkitkan ghirah umat membebaskan diri dari kejumudan itu juga bagian dari jihad.

Termasuk, ketika Islam dilecehkan kita wajib membela melalui tulisan. Sudah teramat sering agama kita dihina lewat kartun, komik, film, video, dan tulisan oleh Barat. Kentara sekali kebencian yang mereka perlihatkan. Di antaranya, Rasulullah kerap dideskripsikan sebagai (maaf) seks maniak lantaran beliau beristri banyak. Biasanya menghadapi penghinaan tersebut umat Islam bereaksi dengan cara demo besar-besaran. Sah-sah saja, tapi apakah langkah tersebut cukup efektif?

Penghinaan itu terlontar boleh jadi karena ketidakpahaman mereka terhadap Islam. Di sinilah seharusnya kita lebih gencar meluruskan kekeliruan persepsi tersebut lewat tulisan. Jelaskan bahwa poligami yang dilakoni Rasulullah justru untuk mengangkat derajat wanita-wanita yang beliau nikahi. Jika dimaksudkan buat mengumbar hawa nafsu, tentu beliau tidak akan memilih para janda. Barangkali memberi penjelasan melalui tulisan inilah yang masih minim kita lakukan.

Apalagi penduduk Eropa, khususnya AS, mereka umumnya adalah orang yang berpendidikan tinggi dan terbiasa berpikir ilmiah. Kalau ingin mendalami sesuatu hal, termasuk Islam, mereka akan mencarinya di literatur-literatur. Jika buku-buku yang tersedia justru ditulis oleh pengarang yang memang antipati terhadap Islam, maka tak heran bila terjadi penyesatan informasi atau opini.

Kita juga patut prihatin, kok buku-buku tentang Islam malah banyak ditulis oleh para orientalis yang bukan beragama Islam. Pertanyaannya, siapa yang berani menjamin uraian dan ulasan mereka benar-benar netral, tanpa misi terselubung?

Menyikapi kenyataan demikian, kita tak perlu dan memang tak pantas mengecam mereka. Sebab, ketika umat Islam membiarkan suatu celah kosong, maka orang lain yang akan mengisinya.

Karena itu, kalau memang serius ingin melihat umat Islam mengalami kebangkitan di masa mendatang, kita perlu lebih banyak memiliki para penulis Muslim. Dari tangan-tangan mereka inilah diharapkan syiar Islam semakin bergema di berbagai penjuru dunia.

Kayak apa pendapat dangsanak, akur juakah?

Banjarmasin, 16 Jan 2009

***


Posted in Mari Menulis

Menulis Membawa Berkah

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Dalam konsep Islam, apabila kita ikhlas berbuat sesuatu, cepat atau lambat akan mendapat ganjaran dari sumber yang tak disangka-sangka. Ini janji Allah, lho! Karena itu, pasti berlaku.

Begitu pula, jika menulis didasari niat tulus untuk memberi pencerahan, mengajak pada kebajikan, memotivasi publik agar tergugah meningkatkan kualitas hidup, membangun kesadaran bersama, tunggulah ‘efek samping’ bakal menyertai Anda.

Kalau sampeyan seorang dosen, berkat sering menulis di media massa, mungkin saja tawaran untuk jadi pembicara semakin gencar. Kalau antum ustadz muda, karena kerap menulis boleh jadi pamor ikut meningkat, sehingga undangan sebagai khatib, penceramah, terus berdatangan. Kalau ente seorang guru, siapa tahu suatu hari nanti memudahkan untuk mendapatkan sertifikasi. Bahkan kalau Anda cuma orang biasa, kemudian berminat menjadi caleg, maka tak perlu lagi banyak mengeluarkan dana untuk mengiklankan diri, sebab nama Anda sudah dikenal luas. Semua itu hanyalah sebagian kecil dari berkah menulis.

Cukup banyak contoh orang yang ikhlas menulis akhirnya mendapatkan ‘bonus’ tak terduga.

Kini, siapa yang tak kenal Andrea Hirata. Padahal, dulu ia sama sekali tak pernah berniat untuk menjadi orang yang ngetop. Semua itu ia peroleh berkat ikhlas menulis. Ceritanya, Andrea menggarap novel Laskar Pelangi untuk dipersembahkan kepada Bu Muslimah yang kian beranjak tua. Ketika tulisan itu jatuh ke tangan sahabatnya, tanpa sepengetahuan Andrea, kemudian dikirim ke penerbit. Tak diduga sambutan publik begitu luar biasa. Dalam waktu relatif singkat mengalami belasan kali cetak ulang. Royalti pun mengalir deras ke saku Andrea Hirata. Apalagi setelah diangkat ke layar lebar. Konon semilyar lebih penghasilannya.

Padahal, waktu menulis novel fenomenal tersebut ia tidak pernah berharap atau memasang target yang muluk-muluk. Ikhlas semata untuk mengenang dedikasi dan pengabdian gurunya tersebut. Nyatanya, popularitas dan kekayaan berpihak pada Andrea.

Begitu pula yang terjadi dengan EWA, setiap hari ia menulis di blog untuk memotivasi pembaca. Kalau ada media cetak mau memuat tulisannya, ia pun mempersilakan tanpa menuntut soal honor. Niatnya semata untuk berbagi ilmu. Alhasil, ketika ia hendak menerbitkan buku, bantuan pun mengalir dari sahabat-sahabatnya. Belum lagi rezeki lain yang sifatnya non-material, seperti kepuasan batin, punya kenalan di mana-mana, dsbnya.

Suhadi, seorang guru di Danau Panggang (HSU), rajin menulis seputar masalah pendidikan. Ia ikhlas menulis dan terus menulis. Lalu, apa imbalan yang didapatkannya? Satu hal yang dirasakan Suhadi, kini kalau ke kantor Diknas setempat sambutan pegawai di sana kepadanya lebih hormat. Dan, penghargaan semacam itu tidak bisa dinilai dengan uang.

Jadi, kalau Anda ikhlas menulis, meskipun luput mendapatkan imbalan finansial, setidaknya Anda akan memperoleh pahala berbagi ilmu.

Kayak apa pendapat dangsanak, akur juakah?

Banjarmasin, 10 Jan 2009

***


Posted in Mari Menulis

Menulis Dapat Menentramkan Jiwa

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

“Saya suka menulis waktu saya merasa kesal; itu seperti bersin yang melegakan.”

(DH Lawrence)

***

Dalam hidup ini tidak jarang antara harapan dan kenyataan bertolakbelakang. Bak pribahasa, menanam padi malah tumbuh ilalang. Akibatnya, timbul kecewa, masygul, serta perasaan terluka. Sebenarnya bersedih itu manusiawi dan sah-sah saja, asalkan jangan sampai berlarut-larut. Sebaliknya, jika dipendam berlama-lama itu yang bisa jadi masalah.

Beban mental kalau dibiarkan akan berpengaruh buruk pada kondisi fisik dan psikologis. Dalam penelitian disebutkan, penyakit jasmani itu justru kebanyakan disebabkan oleh sengkarut pikiran dan emosi. Kebencian, dendam, amarah, jengkel, adalah energi negatif yang berpotensi ‘merongrong’ ketenangan batin.

Karena itu, apabila diterpa suatu masalah jangan biarkan berlumut di hati, segera lontarkan. Dan, salah satu cara cerdas menyalurkan luapan emosi ialah lewat tulisan. Biasanya begitu rampung menulis, apa-apa yang mengganjal bagai termuntahkan. Tak ada lagi beban yang tersisa. Berganti dengan perasaan plong. Jiwa pun lebih tentram.

Misal, dalam sebuah kerjasama Anda dipecundangi seorang teman, wajar bila gondok. Tetapi, tak usah mencak-mencak apalagi menjotos mukanya yang menyebalkan itu. Sebab, ketika menggunakan kekerasan Anda akan mengalami kerugian berlipatganda. Ada dua kemungkinan, berurusam dengan pihak berwajib atau berdamai tapi Anda harus membayar ganti rugi jutaan rupiah. Kan berabe. Mendingan kegusaran Anda disalurkan melalui tulisan.

Umpama, bikin cerpen yang karakter dan kejadiannya persis seperti yang Anda alami. Buat dia sebagai tokoh antagonis. Dalam karya fiksi itu Anda bebas memperlakukan dia, mau dipermak sampai babak-belur atau mati, tak ada yang bisa menghalangi Anda. Lha, yang menulis Anda. Suka-suka dong! Siapa tahu setelah membaca tulisan Anda itu yang bersangkutan merasa dan sadar diri. Paling tidak, dengan menuliskannya kemarahan Anda menjadi reda.

Ingat, tak semua yang tidak kita sukai mesti dilawan secara frontal. Kadang kita perlu ‘kompromi’ dengan diri sendiri. Caranya? Ya, tulis. Setelah itu, habis perkara. Tak perlu memelihara dendam, sebab itu hanya akan mengotori hati.

Begitu pula, kalau Anda jengkel dengan ulah pejabat yang kebijakannya tidak berpihak pada rakyat kecil, segera tulis. Itu jauh lebih baik daripada sekadar menggrundel. Atau, Anda melihat ketimpangan hukum yang amat kentara, kenapa tidak dituliskan saja? Seperti puisi saya berikut ini: “Aku tak percaya butir‑butir pasal bisa menjelma embun/Jika tangan para penaburnya belepotan dengan kotoran/Aku sangsi ketuk palu menyuarakan keadilan/Jika keputusan dapat diperjualbelikan/Aku memandang sinis yang namanya lembaga sakral/Jika iman para penghuninya masih dangkal/Mata berkunang‑kunang, nurani terjungkal/Dijegal sumpal segepok uang pemilik kantong tebal…

Tulisan tersebut saya buat ketika merasakan betapa ketimpangan hukum di negeri ini masih sering terjadi. Daripada kekecewaan tersebut terus disimpan, mending dituangkan ke dalam bentuk tulisan. Setelah itu, batin pun menjadi lega.

Demikian juga, kala jatuh cinta tapi terhalang tembok tradisi, saat rindu menggelegak namun jarak tak memungkinkan untuk bersua, ketika ibunda tercinta meninggal dunia, perasaan yang bergejolak menuntut penyaluran. Maka, lahirlah bait-bait puisi tentang itu.

Termasuk ketika warga di lingkungan tempat tinggal saya banyak yang mengeluh lantaran berdekatan dengan kandang ayam. Bau kotoran yang menyengat ditambah serbuan lalat-lalat, tak pelak membuat siapapun yang bermukim di situ jengkel. Bahkan, ada yang sempat mengusulkan untuk mengadukan kepada dinas terkait supaya peternakan itu ditutup. Terus terang saya sendiri merasa cukup terganggu dengan keberadaan kandang ayam tersebut. Tapi, di sisi lain terbetik rasa kasihan pada si pemiliknya, kalau digusur lalu bagaimana nanti dia menafkahi istri dan anak-anaknya. Antara ego pribadi dan naluri kemanusiaan berperang dalam diri saya. Akhirnya untuk menjinakkan perasaan, saya tulis menjadi cerpen “Lalat”.

Artinya, cukup banyak tulisan saya yang lahir karena dipicu oleh kenyataan pahit yang menyesakkan dada. Daripada dipendam sendiri, mendingan ditulis. Terbukti, setelah itu jiwa terasa plong.

Katarsis

Mungkin Anda pernah menyandang predikat mahasiswa atau mampir ke tempat mereka. Umumnya di dinding kamar anak-anak kuliahan itu banyak terdapat coretan. Isinya bermacam-macam, ada yang kecewa karena ditinggal pacar, sedih lantaran belum dapat uang kiriman, termasuk hasrat-hasrat lainnya yang tak kesampaian. Walaupun pemilik kost berulang kali melarang ‘kreativitas’ liar tersebut, toh mereka tetap saja melakukannya. Kenapa? Karena saat dirundung masalah, mahasiswa yang jauh dari orangtua tak punya tempat buat curhat. Akhirnya, daripada kemelut itu menggelegak di hati, lalu mereka salurkan dengan menuliskan di dinding.

Pun, jika Anda kebetulan lewat di gang-gang sempit sering ditemukan tulisan grafiti di tembok-tembok, dari kata-kata yang bernada memelas hingga berbau hujatan. Mereka rela mengeluarkan kocek untuk membeli cat semprot semata agar bisa menumpahkan isi hati. Sebab, boleh jadi selama ini nasib mereka sering tergencit dan terabaikan.

Biasanya usai mengeluarkan uneg-uneg melalui tulisan si bersangkutan menemukan ketentraman jiwa. Barangkali inilah yang dimaksud dengan katarsis, proses penyucian diri.

Caryn Mirriam Goldberg, seorang penyair sekaligus konsultan remaja di Amerika, mengaku menulis telah menyelamatkan hidupnya. Pada waktu berumur 14 tahun ia bertengkar dengan sahabat karib satu-satunya. Ketika pulang ke rumah, ia dihadapkan pada masalah lain, kedua orangtuanya berencana untuk bercerai. Saat itu Caryn benar-benar merasa terpukul, seolah hidupnya telah hancur. Bahkan sempat tebersit niat untuk bunuh diri.

Untunglah, dengan menulis ia secara berangsur menemukan secercah harapan.

“Saya percaya menuliskan pemikiran, puisi, dan cerita — kadang berjam-jam setiap hari — mencegah saya terlalu banyak memikirkan bunuh diri di saat-saat sulit dan sedih. Sebagai seorang remaja, saya bertanya-tanya apakah saya layak hidup, dan menulis membantu saya memahami luka hati saya. Saat menulis, saya dapat mengumpulkan ketakutan dan emosi saya yang meluap-luap di atas kertas, menciptakan semacam cermin,” ungkap Caryn Mirriam Goldberg dalam buku Daripada Bete, Nulis Aja!

Jadi, bila Anda punya problem memberat di hati, kenapa tidak segera disalurkan lewat tulisan? Jika Anda sudah menuangkannya ke dalam tulisan, niscaya timbul perasaan tenang, adem, tentram. Pokoknya, gimana gituuuu… Kalau tidak percaya, silakan buktikan sendiri.

Banjarmasin, 10 Jan 2009

***


Posted in Mari Menulis

Ikhlas Menulis

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Amaliah apapun jika didasari keikhlasan pasti akan terasa indah. Senantiasa membuahkan kebahagiaan. Bagi si pelaku letak kepuasan bukan pada hasil, justru didapat saat melakoni proses itu sendiri.

Kalau mau tahu perbuatan yang benar-benar dilandasi keikhlasan lihatlah prilaku para pemancing ikan. Kalau dikalkulasi antara modal yang dikeluarkan dengan hasil yang diperoleh sering tidak berimbang. Hitunglah, membeli anak wanyi buat umpan saja sudah berapa? Belum lagi harga tantaran, nilon, kawat, bensin — karena biasanya lokasi untuk memancing itu cukup jauh. Ditambah dengan pengorbanan dirubung nyamuk, kulit berbilur-bilur tergores ilalang, sementara ikan yang didapat tidak memadai. Sesudah itu, sepulang di rumah diomeli istri pula. Padahal, jika semua pengeluaran tadi dibelikan ikan di pasar tentu dapat lebih banyak.

Lalu, apa kata si pemancing ikan? “Karujutnya itu nah orang

nang kadada bajual.”

Demikianlah kalau orang melakukan sesuatu karena ikhlas atau hobi, maka apapun hasilnya dia tidak terlalu peduli. Tetap enjoy dan happy. Tak ada istilah merasa rugi, apalagi kapok.

Begitu pula ketika kita ikhlas menulis, merangkai kata-kata akan menjadi kegiatan nan menyenangkan. Sarat dengan kenikmatan. Tak perlu ada beban apapun. Sebab, tugas utama penulis adalah menulis. Soal publikasi itu urusan belakangan. Kalau dimuat syukur, ditolak redaksi pun tiada mengapa. Terus menulis dan menulis. Kalau media massa terlalu ‘angkuh’ untuk memuat karya kita, cari alternatif lain. Apalagi generasi sekarang cukup dimanjakan oleh kemajuan teknologi, siapapun bisa menggunakan fasilitas gratis weblog. Kita boleh sesuka hati mempublikasikan tulisan di dunia maya. Tak ada yang dapat menghalangi. Malah daya jangkaunya lebih luas, bisa diakses lintas negara.

Intinya, kalau kita ikhlas menulis insya Allah selalu ada cara buat berbagi ilmu, buah pemikiran, maupun hasil renungan kepada khalayak. Meskipun tulisan kita berulang kali tidak dimuat di media massa, jangan pernah patah semangat untuk terus menulis. Siapa tahu nanti bila sudah terkumpul banyak kita bisa membukukannya dengan biaya sendiri atau atas sponsor pihak lain. Jadi, sekali lagi perlu ditegaskan, manakala kita ikhlas menulis, maka tidak ada alasan untuk kecewa.

Sebaliknya, jika kita menulis lantaran mengejar pamrih tertentu, inilah yang sering membuat mental down ketika apa yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Contoh, tulisan ditolak redaksi, lalu menggerutu. Atau tulisan kita dimuat, tapi honornya tak kunjung datang — mungkin sekretaris media itu lupa mengirimkan atau wesel nyasar ke tempat lain — akhirnya merajuk tidak mau menulis lagi.

Ada juga seseorang menulis karena berambisi mengejar popularitas, berharap dirinya dicap sebagai sastrawan. Begitu orang bikin ensiklopedi ternyata kemudian namanya tidak tercantum dalam entri, dia pun mencak-mencak, merasa tidak diakui. Akibatnya apa? Motivasi dan minat dia untuk menulis menjadi kendor!

Ada lagi yang menulis lantaran ingin mendapatkan hadiah dan penghargaan. Dia hanya menulis bila ada sayembara. Alhasil, produktivitas menulisnya sangat rendah. Sebab, dalam setahun bisa dihitung dengan jari berapa jumlah perlombaan. Itupun belum tentu dia masuk nominasi. Karena orientasinya begitu, biasanya apabila kalah si bersangkutan mudah kecewa. Padahal, yang namanya pengakuan dan penghargaan itu sangat relatif. Tidak bisa dijadikan pegangan.

Ini bukan berarti penulis tidak boleh mengharapkan honor, popularitas, serta berbagai bentuk penghargaan lainnya, tapi jika kita ikhlas menulis, percayalah semua itu akan datang ‘mengekor’ dengan sendirinya.


***


Posted in Mari Menulis

Penulis Pemula Jangan Mudah Menyerah

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.

(QS Alam Nasyrah ayat 5-6)

***

Merintis usaha apapun pada awalnya wajar bila mengalami banyak kendala dan kesulitan. Tidak ada yang langsung mulus. Semua perlu proses. Untuk menjadi besar harus dimulai dari kecil. Di sinilah waktu akan menguji: apakah kita memiliki mental yang tangguh atau malah mudah menyerah.

Sekedar contoh, dulu ketika hari pertama saya membuka jasa pengetikan komputer di Kayutangi Banjarmasin, sampai sore tak seorangpun pengunjung yang datang. Tapi, saya tetap bertahan. Akhirnya, persis menjelang Maghrib ada juga yang mampir. Itupun dia cuma minta diketikkan satu lembar untuk sampul makalah. Namun seiring perjalanan waktu, pelan-pelan lokasi usaha saya tersebut makin dikenal orang, sehingga pelanggan terus bertambah. Alhamdulillah, dari situ saya bisa memperoleh nafkah hidup.

Nah, begitu pula jika Anda mau meniti karir sebagai penulis tentu perlu kesabaran. Kalau tulisan pertama Anda ditolak redaksi, tak usah lantas buru-buru berputus asa. Anggaplah pengalaman itu sebagai ajang latihan.

Lha, jangankan Anda yang kelas pemula, para ‘pemain senior’ pun masih sering tulisan mereka ditolak. Penulis produktif seperti Ahmad Barjie dan dr Pribakti yang artikel‑artikelnya sering menghiasi SKH Banjarmasin Post saja tidak ada jaminan karya mereka pasti dimuat. Mereka tetap harus bersaing, paling tidak sabar untuk antre, mengingat tulisan yang masuk ke meja redaksi lumayan banyak. Jadi, bila tulisan pertama yang Anda kirim tidak diterbitkan itu hal yang lumrah. Yang penting, hindari sikap gampang menyerah. Justru Anda harus lebih giat dan getol lagi menulis. Kalau Anda gencar ‘membombardir’ redaktur dengan tulisan‑tulisan Anda, dari sekian banyak itu boleh jadi ada satu yang berkenan di hati untuk dimuat. Atau, minimal nama Anda nyantol di benaknya dan siapa tahu dia salut dengan kegigihan Anda.

Sebagai ilustrasi, sastrawan Joni Ariadinata pada awal terjun di dunia kepenulisan, naskah‑naskah yang dikirimnya mengalami penolakan bukan puluhan kali saja, tetapi ratusan kali! Bayangkan, andai Anda mengalami hal serupa kira‑kira masihkah tetap keukeh dan istiqomah untuk jadi penulis? Terbukti, berkat kesabaran, ketekunan, kegigihan, serta kemauan belajar, akhirnya cerpen dia yang berjudul “Lampor” dimuat juga oleh Kompas. Beruntungnya lagi, tahun itu pula cerpen tersebut dinobatkan terbaik di antara nominasi lain, dan mendapat penghargaan bergengsi dari media bersangkutan.

Kini, peminat sastra mana yang tak kenal Joni Ariadinata. Kalau dulu tulisannya disepelekan, belakangan justru para redaktur yang menunggu‑nunggu naskah kiriman Joni. Malah sekarang di majalah Annida ia dipercaya mengasuh rubrik khusus.

Maka, seyogianya jadikanlah kasus Joni Ariadinata itu sebagai inspirasi sekaligus pemacu semangat. Kalau tulisan Anda tak kunjung dipublikasikan, jangan keburu berkecil hati dan frustasi, apalagi terbersit niat untuk berhenti.

Ingat, dari sekian banyak biji karet yang bertebaran di tanah, tidak semua berhasil menjadi pohon. Hanya yang kuat menghadapi beragam ujian cuaca itulah yang bisa tumbuh. Demikian pula halnya manusia, hanya mereka yang punya ketahanan prima dan daya juang tinggi yang mampu menunjukkan eksistensinya.

Evaluasi Diri

Sesungguhnya dalam perjuangan untuk mewujudkan impian apapun tidak ada istilah gagal, melainkan sekadar kesuksesan yang tertunda. Mau dan berani mencoba itu sendiri sudah merupakan nilai plus. Sebab, meskipun naskah Anda belum dimuat, pasti terselip beberapa pelajaran yang bisa dipetik. Di sinilah diperlukan kerendahan hati untuk bersedia mengevaluasi diri.

Mungkin tulisan Anda kurang fokus pada satu topik, saking banyaknya ide yang hendak ditumpahkan lalu ngambang ke mana‑mana. Atau, susunan kalimat Anda masih susah dimengerti maksudnya. Biasanya penulis pemula sering tanpa sadar terjebak pada kalimat yang berpanjang‑panjang, akibatnya kalimat pokok tenggelam oleh rentetan anak‑anak kalimat.

Bisa pula tulisan Anda sudah bagus, tapi media yang Anda pilih kurang tepat. Misalnya, Anda menulis tentang kiat mendidik anak, tapi mengirimnya ke majalah Hai, Trubus, atau Warta Ekonomi, jelas saja ditolak. Lain halnya Anda mengirim ke Nova, Nakita, Ayahbunda, atau Mahkota, ada kemungkinan bakal dimuat. Sebab, tiap-tiap media massa itu dari awal sudah punya standar dan segmentasi tertentu. Jadi, daripada menyalahkan redaksi lantaran tidak memuat tulisan Anda, lebih baik koreksi sekali lagi karya Anda. Siapa tahu setelah ditelaah ulang, ternyata Anda memang menemukan beberapa kejanggalan dan kelemahan. Maka, tidak ada salahnya direvisi. Bila sudah diperbaiki, kirimkan lagi. Mudah‑mudahan tulisan Anda kali ini pantas dimuat.

Sebaliknya, jika Anda yakin karya tersebut sudah bagus dan berbobot tinggi, mungkin redaksinya saja kurang cermat dan jeli menangkap itu, sebagai alternatif kirimkanlah ke media lain. Karena beda redaktur beda pula kriteria penilaian.

Faktanya, tidak sedikit kasus yang dialami penulis pemula sudah ke mana‑mana menawarkan tulisannya, selalu saja ditolak. Namun, si bersangkutan tak gampang menyerah. Ia terus ngotot karena yakin tulisannya cukup berkualitas dan layak untuk diperhitungkan. Akhirnya, berkat kegigihan itu ada juga penerbit yang berkenan mempublikasikan naskah tersebut. Lalu, apa hasilnya? Ternyata buku yang semulasempat ditolak oleh beberapa penerbit itu, begitu dilempar ke pasaran laris manis alias best seller.

Tahukah Anda kalau novel Harry Potter karya JK Rowling yang menggemparkan itu awalnya ketika ditawarkan kepada beberapa penerbit juga ditolak? Namun berkat keyakinan serta kegigihannya, ia terus berusaha keras. Alhasil, kini Rowling tercatat sebagai salah satu orang terkaya di dunia. Semua itu diperolehnya semata dari hasil menulis.

Dalam dunia kepenulisan berbagai kemungkinan tak terduga bisa terjadi. Tetapi, ingat hanya mereka yang tak mudah menyerah saja yang berhak menuai kesuksesan.

Sebuah pribahasa mengatakan, orang yang hebat itu bukanlah dia yang tidak pernah jatuh; justru orang yang jatuh berulang-ulang kali, tetapi dia tetap mau bangkit dan terus berjuang.

Nah, masihkah Anda bersemangat untuk menjajal kemampuan di dunia tulis‑menulis? Selamat berkarya! Kami tunggu tulisan Anda, tentu saja bukan yang disimpan di laci meja, melainkan yang dimuat di media massa.

Banjarmasin, 1 Jan 2009

***


Posted in Mari Menulis