Novelnya yang berlatarbelakang Kalsel mendapat pujian dari artis Zaskia Adya Mecca. Uniknya lagi, karya alumni Ponpes Darul Ilmi ini dibuat dalam kondisi serba terbatas di tengah hutan.
………….
Dia senang mengembara. Hampir seluruh kota-kota besar di Indonesia sudah pernah disinggahinya.
“Di Balikpapan saya sempat jadi gelandangan, tidur di masjid-masjid,” ujar Randu Alamsyah.
Mengembara, lanjut pria kelahiran Manado 25 Juni 1983 ini, tidak sama dengan merantau. Kalau merantau lebih diartikan pergi ke tempat jauh untuk mencari penghidupan. Sedangkan mengembara semata berjalan-jalan.
“Saya juga pernah jadi pemulung, cleaning servis, dan lain-lain. Kerja sekadar demi menutupi biaya hidup sehari-hari,” kata Randu.
Tahun 1995 ia diajak pamannya untuk menuntut ilmu di Pondok Pesantren Darul Ilmi, Landasan Ulin, Banjarbaru. Ia mengaku sempat dua tahun tidak naik kelas, karena baru di sini belajar Alquran.
“Di kampung halaman saya, Manado, 99 persen penduduknya Nonmuslim. Kalau mau salat Jumat jauh, harus naik taksi ke perkampungan Muslim. Bahkan waktu SD saya sekolah di Eben Ezer,” cerita pemilik nama asli Muhammad Nur Alam Machmud ini.
Tahun 2000 ia berhasil merampungkan Madrasah Aliyah. Kemudian melanjutkan kuliah di Fakultas Tarbiyah STAIN Sultan Amai, Gorontalo. Tapi hanya sampai semester II, ia pun dihinggapi kebosanan. Randu lebih memilih untuk belajar langsung dari pengembaraan panjang di berbagai kota di Indonesia.
Suatu kali, ia ikut temannya masuk ke perkampungan trans di dalam hutan yang dihuni orang-orang Bali. Karena tidak ada kerjaan — paling siangnya membantu-bantu memetik coklat di kebun — untuk mengisi waktu Randu lalu menulis novel Jazirah Cinta. Kebetulan waktu itu novel Ayat-Ayat Cinta sedang booming, sebagaimana diakui Randu ia pun ikut terpengaruh dengan karya fenomenal Habiburrahman El Shirazy tersebut.
Karena di Pulau Peling belum ada listrik, ia pun menulis tangan di bawah penerangan lampu teplok.
“Bahkan, di sana mencari buku saja susah. Karena itu, kalau ada anak-anak yang sekolah ke kecamatan lewat saya minta kertas pada mereka,” beber mantan redaktur Buletin Deka ini.
Tapi, siapa sangka karya fiksi yang ditulisnya dalam kondisi serba terbatas itu diterbitkan secara nasional. Awalnya Randu sempat mengirimkan ke Penerbit Zahra, tapi tidak ada kabar. Akhirnya ia mengirimkan ke Penerbit Serambi. Sekitar sebulan kemudian Randu ditelpon, ia diminta segera memperbaiki kesalahan penulisan, diksi, dan logika cerita.
“Saya diberi batas seminggu. Katanya, novel-novel Islami bertema cinta sudah mulai anti klimaks, jadi naskah tersebut harus diterbitkan secepatnya. Saya pun mengeditnya. Tiga hari selesai. Hasil revisi itupun langsung saya kirim,” ungkap Randu.
Mulai Juni 2008 novel Jazirah Cinta yang mendapat pujian dari artis Zaskia Adya Mecca dan penulis Asma Nadia ini pun beredar di pasaran.
Setting Kalsel
Ide cerita novel ini diangkat dari fenomena di masyarakat plus imajinasi. Dengan lokasi seting sebagian besar di Kalsel, tepatnya di sebuah pesantren yang berdekatan dengan tempat pelacuran di Pal 18.
“Pesan yang ingin disampaikan cukup kompleks. Tapi, intinya adalah tentang kebaikan. Bahwa Islam itu rahmatan lil alamin, dari lumpur manapun manusia berasal Islam tetap berlaku,” ujar Randu.
Dalam novel tersebut Randu juga menyindir tentang prilaku pejabat pemerintah yang tidak mau melihat penderitaan rakyat bawah dan kekecewaannya terhadap ulama yang berpolitik.
“Termasuk kekaguman saya pada Guru Sekumpul juga tergambar di novel itu,” ujar Randu Alamsyah.
Ia mengaku sudah menulis sejak kelas 3 SD. Tapi, baru mempublikasikan tulisannya ketika kelas 1 SMP, antara lain dimuat di Kompas, Media Indonesia, Gorontalo Pos, dan Manado Pos.
Kini sambil menghonor di Ponpes Darul Ilmi, Randu tengah mempersiapkan novel keduanya. Sudah dalam tahap finishing. Tinggal mencari judul yang agak komersil.
Kali ini temanya tak jauh dari pengalamannya ketika kuliah di STAIN Gorontalo, khususnya menyoroti tentang organisasi radikal.
“Saya kecewa dengan sekolah tinggi agama itu yang lebih permisif daripada universitas negeri. Jauh-jauh sekolah kok menentang Tuhan, seharusnya makin tinggi ilmu makin sadar dan rendah hati,” gugatnya.
Motivasi Randu menulis memang lebih banyak sebagai bentuk protes. “Kalau kita protes dengan lisan, sebagai orang kecil mungkin tak akan didengar. Tapi dengan menuliskannya, setidaknya akan banyak orang yang membaca,” pungkasnya. aliansyah jumbawuya
***