Padepokan Pena - Gemar Membaca Giat Menulis

Menulis Segenap Rasa Cinta

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

“Biarkan dirimu ditarik secara diam‑diam oleh tarikan yang lebih kuat dari apa yang benar‑benar engkau cintai.”

(Jalaluddin Rumi)

***

Pernahkah kita memperhatikan anak yang tengah bermain? Kadang saking asyiknya, ia sampai lupa waktu, tak ingat makan, dan samasekali tak berniat untuk tidur siang. Sinar matanya tampak berbinar. Senyumnya merekah. Kadang tertawa lepas mengekspresikan kegembiraannya. Mengapa? Karena ia menemukan dunianya, sarana mengaktualisasikan diri.

Begitu pula jika kita menulis dilandasi rasa cinta, maka merangkai kata‑kata menjadi begitu nikmat. Tak heran jika ada penulis yang mengibaratkan berkarya sebagai proses menuju ‘orgasme’. Aktivitas menulis memberinya kepuasan batin yang tak ternilai dengan materi.

Kalau kita sudah mencintai pekerjaan apapun, termasuk menulis, insya Allah kita akan melakoninya dengan penuh kegembiraan. Selalu enjoy. Tanpa beban. Tenaga yang dimiliki pun bagai berlipat‑lipat, tiada mengenal rasa capek. Antusiasme meluap‑luap dalam diri. Semangat senantiasa menggebu‑gebu. Walau sudah seharian bergelut dengan rutinitas kantor, setiba di rumah hasrat untuk menulis tetap memanggil‑manggil. Rasa kantuk tiada dipedulikan. Sebab, godaan untuk berkutat dengan tuts‑tuts komputer jauh lebih besar. Alhasil, tak lama berselang kita pun sibuk menulis dan menulis.

Memang, jika seseorang sudah sampai tahap tersebut, ia akan selalu keranjingan untuk berkarya. Baginya menulis tak ubahnya dengan bermain‑main. Menulis bukan lagi ‘kewajiban’ apalagi beban, melainkan kebutuhan. Di mana ada kesempatan, di situ ia akan menuangkan ide‑idenya. Tak perlu menunggu suasana serba nyaman dan kondusif.

Orang yang menulis didasari oleh rasa cinta dan yang terpaksa, pastilah hasilnya berbeda. Tak diragukan, biasanya tipe pertamalah yang cenderung dekat dengan kesuksesan. Kenapa? Ada beberapa faktor yang ikut mempengaruhi. Pertama, orang yang mencintai profesinya tentu tak akan pernah berhenti untuk belajar. Ia selalu berusaha untuk memperbaiki kualitas dirinya, sehingga karya yang dihasilkan bisa diterima khalayak.

Kedua, semangat pantang menyerah. Ingatlah ketika kita mengejar‑ngejar seseorang yang dicintai, kita tidak akan berhenti sebelum benar‑benar memilikinya. Walau pernah ditolak, selalu saja ada akal kita untuk menaklukkan hati si doi. Pokoknya rela berkorban apa saja, ibaratnya gunung akan didaki lautan pun diseberangi. Cailahh… Begitu pula, seseorang yang mencintai aktivitas menulis, meski naskahnya berkali‑kali ditolak dia tidak akan putus asa, hingga tekadnya untuk mempublikasikan tulisan tercapai. Kalau perlu, andai semua penerbit tidak ada yang berkenan, maka ia menerbitkan dan membiayainya sendiri. Buktinya, cukup banyak penulis yang nekat seperti itu, dan menuai sukses karena ternyata bukunya laris‑manis di pasaran. Salah satu contohnya adalah Edy Zaques.

Selain itu, seseorang yang menulis dilandasi rasa cinta pastilah produktivitasnya sangat tinggi. Kreativitas dia juga bagai tak ada habis‑habisnya. Ia selalu berusaha melakukan inovasi dan terobosan‑terobosan baru. Dengan karakteristik yang demikian, wajar jika kemudian si bersangkutan menuai kesuksesan.

Karena itu, kalau kita mencintai dunia tulis‑menulis, tak usah takut bakal kekurangan penghasilan. Imbalan akan menyusul dengan sendirinya. Sebutlah Seno Gumira Adjidarma, saking mencintai profesi yang digeluti baginya menulis itu sudah seperti bernafas. Tidak bisa dipisahkan dari kesehariannya. Terbukti, beberapa karya Seno langganan mendapat penghargaan bergengsi, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Memang, tulisan yang lahir dari hati akan mudah pula menyentuh hati para pembaca. Dan, kalau karya‑karya kita sudah digemari banyak orang, rejeki pun bakal mengalir lancar ke saku kita. Saat itulah kita semakin yakin bahwa cinta itu membawa berkah.

Jadi Prioritas

Mungkin kita semua pernah jatuh cinta. Rasanya semua serba indah. Selalu ingin bercengkerama. Walau kemarin sudah bertemu dengan sang kekasih, bahkan berjam‑jam saling curhat, tapi hari ini tetap saja ingin bersua. Begitu pula, besoknya. Rindu senantiasa mendera kalbu.

Apapun keinginannya sebisa mungkin kita kabulkan. Kalau lagi bokek, nekat ngutang sama teman. Tentu saja di luar pengetahuan si doi. Pokoknya kebutuhan dia lebih utama dari diri kita sendiri!

Walaupun kata orang parasnya tidak cantik, tapi di mata kita dialah satu‑satunya yang paling menggetarkan hati. Meski gadis‑gadis lain silih‑berganti datang menggoda, tetap tak mampu membuat kita berpaling darinya.

Nah, hal serupa berlaku pula pada dunia tulis‑menulis. Kalau kita sudah mencintai kegiatan yang satu ini, kita akan menempatkannya sebagai prioritas utama dalam hidup. Sedangkan hal‑hal lainnya cukup ditaruh pada urutan ke‑13. Nomor satunya adalah menulis. Kedua, masih menulis. Ketiga, juga menulis. Keempat, kelima, dan seterusnya … sama, tetap menulis.

Maka, tak heran jika orang yang mencintai kegiatan menulis tahan berjam‑jam di depan komputer. Berbagai acara di televisi, tak mampu mengalihkan perhatiannya dari keasyikkan merangkai kata. Sekalipun band favoritnya tampil live di layar kaca, paling sebentar dia melirik, setelah itu kembali berkutat menggarap tulisan. Apalagi sekadar sinetron‑sinetron picisan, sebelah mata pun ia enggan memandang.

Sebaliknya, kalau menulis tanpa perasaan cinta, mendengar kucing meong‑meong sedang kawin saja konsentrasinya jadi buyar, langsung beranjak dari meja tulis. Buru‑buru mengambil air, dan byuur — kedua kucing itupun basah kuyup, tak kesampaian menyalurkan hasrat hewani mereka. (Ha.. ha… memangnya tidak ada contoh lain?!)

Artinya, tingkat kecintaan seseorang dalam menulis akan mempengaruhi, atau tepatnya berbanding lurus dengan kadar kesungguhan dia saat berkarya.

Kita sering menemukan si Polan yang mengaku sebagai pengarang, tapi setelah tulisannya dimuat satu‑dua judul di media massa, dia malah berhenti berkarya. Mandeg. Kalau ditanya, kenapa? Dalihnya bisa bermacam‑macam. Padahal, yang benar adalah kecintaan dia pada menulis belum begitu mendalam. Masih setengah atau seperempat hati.

Kata orang, kalau cinta sudah melekat gula Jawa rasa coklat. Kalau menulis didasari rasa cinta, sambil makan coklat pasti lebih enak. Nggak percaya? Silakan bukti sendiri!

Banjarmasin, 26 Des 2008

***


Posted in Mari Menulis

Mewarisi Semangat Menulis Syekh Arsyad

BANJARBARU- Dalam beberapa tahun terakhir ini Ersis Warmansyah Abbas memang gencar menularkan virus menulis. Sabtu (20/12), santri/wati Ponpes Darul Ilmi, Landasan Ulin, Banjarbaru, kena giliran mendapat motivasi menulis darinya.

“Umur 5 tahun saya sudah membaca novel karangan Buya Hamka. Saya terkagum-kagum pada orang Padang yang piawai menulis. Tapi, ketika saya hijrah ke Banjar tahun 1994 saya menemukan figur ulama Kalsel Syekh Arsyad Al Banjari yang di abad 18 sudah menulis buku,” kata Ersis.

Waktu itu, lanjut dosen FKIP Unlam ini, belum lagi ada orang Jawa, Manado, atau Padang yang menulis. Kitab-kitab karya Syekh Arsyad, terutama Sabilal Muhtadin, terkenal sampai ke Thailand. Padahal di zamannya belum dikenal mesin tik, komputer, apalagi laptop. Syekh Arsyad menulis menggunakan pena dari bulu ayam.

“Lalu, siapa yang mewarisi semangat menulis Syekh Arsyad sekarang di tanah Banjar. Karena itu, saya menuntut kepada kiai-kiai di pesantren kenapa tidak menulis buku?” gugatnya.

Ersis mengaku memiliki 200 lebih buku tentang Rasulullah. Hampir 90 persen adalah terjemahan, itupun kebanyakan dilakukan para alumni Mesir. Jadi, di mana kiai-kiai kita?

Ditegaskannya bahwa menulis itu sangat mudah. Syaratnya asalkan bisa berpikir.

“Siapapun yang bisa berpikir pasti bisa menulis!” pungkas Ersis.

Sedangkan Aliansyah Jumbawuya menekankan bahwa menulis itu bisa dijadikan profesi alternatif. Sekarang ini para sarjana di mana-mana kebanyakan pengin jadi PNS, walaupun tahu persaingan amat ketat. Bahkan siswa-siswa IPDN rela dan pasrah dipukuli seniornya karena ingin mendapatkan pekerjaan. Termasuk gadis-gadis cantik yang menjadi salesgirl, mereka mau saja memakai rok mini pamer aurat demi mencari sumber penghasilan.

“Kenapa tidak berpikir untuk jadi penulis saja? Saya sendiri, walau tidak bisa dikatakan berkelebihan, tapi paling tidak dengan jadi penulis bisa menafkahi isteri dan anak-anak,” ungkap Wakil Korlip Serambi UmmaH ini.

Dalam kesempatan tersebut juga hadir sebagai pembicara Sandi Firly, Abdurrahman Hakim, dan Randu Alamsyah (penulis novel Jazirah Cinta) yang menceritakan seputar proses kreatif menulis mereka.

***


Posted in Mari Menulis

Randu Alamsyah: Sang Pengembara Jazirah Cinta

Novelnya yang berlatarbelakang Kalsel mendapat pujian dari artis Zaskia Adya Mecca. Uniknya lagi, karya alumni Ponpes Darul Ilmi ini dibuat dalam kondisi serba terbatas di tengah hutan.

………….

Dia senang mengembara. Hampir seluruh kota-kota besar di Indonesia sudah pernah disinggahinya.

“Di Balikpapan saya sempat jadi gelandangan, tidur di masjid-masjid,” ujar Randu Alamsyah.

Mengembara, lanjut pria kelahiran Manado 25 Juni 1983 ini, tidak sama dengan merantau. Kalau merantau lebih diartikan pergi ke tempat jauh untuk mencari penghidupan. Sedangkan mengembara semata berjalan-jalan.

“Saya juga pernah jadi pemulung, cleaning servis, dan lain-lain. Kerja sekadar demi menutupi biaya hidup sehari-hari,” kata Randu.

Tahun 1995 ia diajak pamannya untuk menuntut ilmu di Pondok Pesantren Darul Ilmi, Landasan Ulin, Banjarbaru. Ia mengaku sempat dua tahun tidak naik kelas, karena baru di sini belajar Alquran.

“Di kampung halaman saya, Manado, 99 persen penduduknya Nonmuslim. Kalau mau salat Jumat jauh, harus naik taksi ke perkampungan Muslim. Bahkan waktu SD saya sekolah di Eben Ezer,” cerita pemilik nama asli Muhammad Nur Alam Machmud ini.

Tahun 2000 ia berhasil merampungkan Madrasah Aliyah. Kemudian melanjutkan kuliah di Fakultas Tarbiyah STAIN Sultan Amai, Gorontalo. Tapi hanya sampai semester II, ia pun dihinggapi kebosanan. Randu lebih memilih untuk belajar langsung dari pengembaraan panjang di berbagai kota di Indonesia.

Suatu kali, ia ikut temannya masuk ke perkampungan trans di dalam hutan yang dihuni orang-orang Bali. Karena tidak ada kerjaan — paling siangnya membantu-bantu memetik coklat di kebun — untuk mengisi waktu Randu lalu menulis novel Jazirah Cinta. Kebetulan waktu itu novel Ayat-Ayat Cinta sedang booming, sebagaimana diakui Randu ia pun ikut terpengaruh dengan karya fenomenal Habiburrahman El Shirazy tersebut.

Karena di Pulau Peling belum ada listrik, ia pun menulis tangan di bawah penerangan lampu teplok.

“Bahkan, di sana mencari buku saja susah. Karena itu, kalau ada anak-anak yang sekolah ke kecamatan lewat saya minta kertas pada mereka,” beber mantan redaktur Buletin Deka ini.

Tapi, siapa sangka karya fiksi yang ditulisnya dalam kondisi serba terbatas itu diterbitkan secara nasional. Awalnya Randu sempat mengirimkan ke Penerbit Zahra, tapi tidak ada kabar. Akhirnya ia mengirimkan ke Penerbit Serambi. Sekitar sebulan kemudian Randu ditelpon, ia diminta segera memperbaiki kesalahan penulisan, diksi, dan logika cerita.

“Saya diberi batas seminggu. Katanya, novel-novel Islami bertema cinta sudah mulai anti klimaks, jadi naskah tersebut harus diterbitkan secepatnya. Saya pun mengeditnya. Tiga hari selesai. Hasil revisi itupun langsung saya kirim,” ungkap Randu.

Mulai Juni 2008 novel Jazirah Cinta yang mendapat pujian dari artis Zaskia Adya Mecca dan penulis Asma Nadia ini pun beredar di pasaran.

Setting Kalsel

Ide cerita novel ini diangkat dari fenomena di masyarakat plus imajinasi. Dengan lokasi seting sebagian besar di Kalsel, tepatnya di sebuah pesantren yang berdekatan dengan tempat pelacuran di Pal 18.

“Pesan yang ingin disampaikan cukup kompleks. Tapi, intinya adalah tentang kebaikan. Bahwa Islam itu rahmatan lil alamin, dari lumpur manapun manusia berasal Islam tetap berlaku,” ujar Randu.

Dalam novel tersebut Randu juga menyindir tentang prilaku pejabat pemerintah yang tidak mau melihat penderitaan rakyat bawah dan kekecewaannya terhadap ulama yang berpolitik.

“Termasuk kekaguman saya pada Guru Sekumpul juga tergambar di novel itu,” ujar Randu Alamsyah.

Ia mengaku sudah menulis sejak kelas 3 SD. Tapi, baru mempublikasikan tulisannya ketika kelas 1 SMP, antara lain dimuat di Kompas, Media Indonesia, Gorontalo Pos, dan Manado Pos.

Kini sambil menghonor di Ponpes Darul Ilmi, Randu tengah mempersiapkan novel keduanya. Sudah dalam tahap finishing. Tinggal mencari judul yang agak komersil.

Kali ini temanya tak jauh dari pengalamannya ketika kuliah di STAIN Gorontalo, khususnya menyoroti tentang organisasi radikal.

“Saya kecewa dengan sekolah tinggi agama itu yang lebih permisif daripada universitas negeri. Jauh-jauh sekolah kok menentang Tuhan, seharusnya makin tinggi ilmu makin sadar dan rendah hati,” gugatnya.

Motivasi Randu menulis memang lebih banyak sebagai bentuk protes. “Kalau kita protes dengan lisan, sebagai orang kecil mungkin tak akan didengar. Tapi dengan menuliskannya, setidaknya akan banyak orang yang membaca,” pungkasnya. aliansyah jumbawuya
***



Posted in Sosok

Gemar Membaca Langkah Awal Jadi Penulis

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Kalau kita menyimak riwayat hidup para penulis terkenal, umumnya mereka sejak kecil atau remaja sudah gemar membaca. Dari kecintaan terhadap buku itulah lambat-laun tumbuh keinginan kuat untuk jadi penulis. Chairil Anwar, sebagaimana diceritakan dalam biografinya, adalah seorang pecandu buku. Saking doyannya membaca, apabila kebetulan tak punya duit kadang penyair “binatang jalang” ini tak segan-segan mencuri buku (tentu saja perbuatan yang satu ini tidak usah ditiru). Kita membeberkan ini semata ingin menekankan, betapa besarnya minat Chairil terhadap membaca.

Pelopor cerpen Islami sekaligus pendiri Forum Lingkar Pena Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia mengaku semenjak usia dini sudah doyan membaca. Bahkan, untuk memenuhi rasa lapar dan dahaga rohani kakak-beradik ini, isi koran bekas pembungkus cabe pun ‘dilahap’. Hari-hari mereka akrab dengan bacaan. Tak heran jika kemudian keduanya dikenal sebagai penulis handal. Karya-karya Helvy Tiana dan Asma Nadia laris manis di pasaran, beberapa di antaranya mendapat penghargaan bergengsi. Apa yang mereka hasilkan sekarang, tak bisa dipungkiri merupakan buah atau akumulasi dari kegemaran membaca mereka di masa lalu.

Hal serupa berlaku pula pada penulis-penulis lainnya. Arsewendo Atmowiloto, dalam buku Proses Kreatif, Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang (Editor Pamusuk Eneste), mengungkapkan: “Kalau saya pikir-pikir sekarang ini, kebiasaan saya mengarang ternyata tidak muncul begitu saja. Jauh sebelumnya, saya sudah termasuk kutu buku… Saya membaca buku apa saja. Di setiap persewaan buku saya terdaftar sebagai langganan dan semuanya pernah tidak saya kembalikan bukunya. Nafsu baca saya terlalu besar dibandingkan dengan keuangan yang saya miliki.”

Memang, rata-rata mereka yang kini jadi penulis produktif dan profesional memiliki minat serta kebiasaan membaca yang tinggi. Pengalaman saya sendiri dari SD sudah keranjingan membaca buku. Setiap perpustakaan sekolah dibuka saya senang dan antusiasnya bukan main. Ketika SMP buku apa saja saya santap. Mulai novel-novel picisan karya Fredy S, Maria Fransisca, Abdullah Harapan, Ali Shahab, Motinggo Busye, komik, cerita wayang, sampai sastra serius saya lahap.

Terlebih ketika SMA kebiasaan membaca saya semakin tak terbendung, buku-buku tasawuf pun saya pelajari. Saya juga menjadi anggota perpustakaan daerah, waktu itu lokasinya di depan Masjid Raya Amuntai. Suatu hari karena buku-buku yang tersedia hampir semua sudah pernah saya baca, akhirnya saya meminjam buku berjudul Cara Merawat Bayi. Ketika saya mendaftarkannya ke petugas perpustakaan, mereka heran dan tak kuasa menahan tawa. Barangkali dalam pikiran mereka, kok masih pelajar sudah membaca buku gituan, memangnya mau cepat-cepat kawin dan punya anak? Saya pun sekarang kalau ingat itu kadang geli sendiri.

Bahkan saking kemaruknya dengan buku, Kamus Besar Bahasa Indonesia karangan WJS Poerwadarminta yang tebalnya minta ampun rampung saya baca saat kelas tiga SMA. Belum lagi kebiasaan saya mengkliping artikel-artikel psikologi dan kesusastraan dengan cara membeli koran loakan. (Sampai kini arsip-arsip tersebut tetap saya simpan, sayangnya lama tidak dibuka. Mudah-mudahan suatu saat nanti ada gunanya.)

Saya masih ingat, ketika menjadi mahasiswa baru di Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, seusai Ospek dan penataran P4 kami diajak berkeliling mengenal perpustakaan kampus. Rupanya saking senang, ekspresi kegembiraan saya tertangkap oleh seorang teman. Dia pun nyeletuk, “Alaaah… bisa membaca aja bangga, apalagi jadi penulis!”

Ucapan itu pun melecut perasaan saya. Ada keinginan untuk membuktikan diri. Saya mulai belajar dan berlatih menulis. Alhamdulillah berkat cangkal (tekun) akhirnya tulisan saya dimuat juga di media massa lokal. Sejak itulah saya makin termotivasi untuk menulis dan menulis. Berbagai jenis tulisan, puisi, cerpen, artikel tentang kesusastraan, keagamaan, sosial kemasyarakat, politik, resensi buku, berhasil dipublikasikan. Kalau boleh sedikit membanggakan diri (tapi bukan narsis lho!) sampai sekarang jika dihitung dengan tulisan jurnalistik, tak kurang dari seribu judul yang telah saya buat. Kemampuan menulis tersebut saya dapat tentu saja berkat senang membaca.

Teori Kendi

Sungguh, sangat jarang ditemukan seseorang yang berprofesi sebagai penulis tapi dia tidak suka membaca. Kalaupun ada, pastilah suatu pengecualian –jika tidak ingin menyebutnya langka.

Karena itu, siapapun yang berniat jadi penulis dia harus rajin dan banyak membaca. Dengan gemar membaca, niscaya ilmu pengetahuan dan wawasannya menjadi bertambah luas. Ini tentu saja akan ada pengaruhnya pada proses penulisan. Seseorang yang hobi membaca, insya Allah dia tidak akan terlalu kesulitan dalam mencari ide dan mengembangkan isi tulisannya.

Sadarilah bahwa kerja otak manusia itu sangat luar biasa. Meskipun ketika membaca kita sama sekali tidak berniat untuk menghafalnya, tapi ilmu yang kita serap tersebut akan terus tersimpan dalam memori. Boleh saja hari ini kita lupa, tapi di saat kita memerlukannya ia bisa muncul dengan tiba-tiba, karena rekaman itu memang tak pernah hilang, melainkan sekadar tersembunyi di alam bawah sadar. Maka, tak usah heran bila di saat kita menulis tanpa diduga mengalir gagasan-gagasan yang brilian. Kita sendiri kadang takjub membaca isi tulisan yang kita hasilkan. Itulah keajaiban otak manusia. Kita saja yang sering abai memberdayakannya.

Tetapi jika seseorang jarang membaca, wajar kalau si bersangkutan ketika menulis kerap tersendat-sendat dan macet, sehingga kemudian membuatnya mengurungkan niat untuk menyelesaikan tulisan. Lha, kalau ilmu dan wawasannya terbatas memangnya apa yang mau dibagi pada calon pembaca?

Orang sering mengilustrasikan hubungan antara membaca dan menulis itu dengan teori kendi. Kendi kalau terus dituangi air, maka dia akan terisi penuh bahkan jadi tumpah. Air yang dimasukkan diibaratkan dengan bacaan, sedangkan tumpahannya diibaratkan tulisan.

Lain lagi dengan Ersis Warmansyah Abbas, motivator penulisan yang tulisan-tulisannya bisa dinikmati di website webersis.com ini menamsilkan membaca dengan makan, dan tulisan dengan berak. Katanya, kalau kita doyan atau sering makan tentu akan cepat berak. (He.. he.. perumpamaan ini sebenarnya lucu apa jorok sih?)

Inti maksudnya sama: jika kita suka membaca, maka peluang untuk jadi penulis itu jauh lebih mudah. Gemar membaca merupakan langkah awal untuk merintis karir sebagai penulis. Tapi, yang namanya langkah awal supaya benar-benar bisa menghantar kita ke tujuan, yakni jadi penulis, tentu saja harus disertai dengan langkah-langkah berikutnya. Apa saja itu? Antara lain: miliki semangat dan dedikasi yang tinggi, terus berlatih, jangan mudah menyerah, serta yang paling penting adalah praktik menulis itu sendiri.

Semoga dalam waktu dekat ini juga Anda bisa menambah deretan jumlah penulis di negeri ini. Dan jangan lupa, teruslah membaca karena membaca dapat memuluskan cita-cita Anda untuk jadi penulis.

***

Landasan Ulin, 18 Okt 2008


Posted in Mari Menulis