Setelah sepuluh tahun berkarya, di ulang tahunnya yang ke-23 penyair wanita ini akan menerbitkan antologi puisi yang ditulis dalam 7 bahasa yang dikuasainya.
………..
Dia masih belia, namun aktivitas Hudan Nur cukup berjibun. Sekarang ini saja, di organisasi kampus ia dipercaya menjadi Ketua Art Department (Enigma Community) English Student Association (ESA) UNLAM, Ketua Advokasi Badan Legislatif Mahasiswa, Ketua Dewan Pimpinan Daerah DPD Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris (HIMABSII) se‑Kalimantan Selatan periode 2006‑2008.
Selain itu, Hudan aktif berkecimpung di dunia kesenian. Bahkan semenjak kelas 4 SD putri sulung M Nurdin dan Rahmiyati ini sudah bergabung di sebuah sanggar tari. Dua tahun berselang, ia pun mulai menyukai puisi dan mengenal beberapa tokoh sastrawan Banjarbaru.
“Tahun 2001 saya baru mempublikasikan puisi di Banjarmasin Post dan Untaian Mutiara RRI Nusantara. Setelah sukses di media lokal, saya pun makin yakin mengirimkan karya-karya saya dan dimuat di Majalah Dewan Sastera Kuala Lumpur, buletin Rumah Sastra Bandung, tabloid Realitas, Lampung Post, dan Majalah Gong,” ujar Hudan.
Bahkan, ia pernah aktif di club Jepang ARADANTRI sebagai pengarang Fun Fiction dengan nama pena Kanatoshi Ariwa. Puluhan lomba sastra, menulis, dan karya tulis ilmiah pun dimenangkannya.
Hudan juga sempat menjadi jurnalis, tapi tak sempat lama karena 2006 ia harus terlibat tour keliling Indonesia. Salah satunya menghadiri kegiatan Ode Kampung yang diselenggarakan oleh Rumah Dunia, Gola Gong Banten.
“Tahun 2007, saya terpilih sebagai salah seorang dari 8 utusan yang mewakili Indonesia dalam Mastera Puisi Asia Tenggara,” kata gadis berjilbab ini.
Terakhir, Hudan juga diundang ke Malaysia dan Brunei Darussalam, namun kala itu ia tak bisa berhadir karena pada waktu bersamaan harus mengikuti kegiatan PPL.
Memang ia harus pandai membagi waktu antara kegiatan kampus dan kesenian. “Dulu pernah jalan keduanya. Namun, pada akhirnya karena keadaan saya harus memilih salah satunya,” tegas deklamator handal ini.
Untuk sekarang Hudan mengaku akan lebih intens mengelola Teras Puitika, sebuah komunitas yang diperuntukkan khusus yang muda-muda, dengan kegiatan utama dialog bedah karya dan publikasi.
Bagi Hudan, dengan aktif di berbagai kegiatan ia menemukan kepuasan batin tersendiri.
“Kita yang membesarkan komunitas, atau bisa pula justru komunitas yang membesarkan kita,” tegasnya.
Target Menulis
Sampai kini karya-karya Hudan Nur sudah dibukukan dalam 16 antologi bersama maupun tunggal, di antaranya Antologi Puisi Penyair Kontemporer Indonesia yang diterbitkan dalam Bahasa Tionghoa di Beijing, RRC (2007).
Dalam kesehariannya, gadis kelahiran Banjarbaru 23 Nopember 1985 ini memang dikenal energik, kreatif, idealis, dan senang bergaul. Tak heran, jika temannya ada di mana-mana. Ketika beberapa waktu lalu ia mengalami kecelakaan, yang mengakibatkan tulang punggung, rahim, dan rusuknya patah, tanpa dikomando kabar itu menyebar luas di seluruh Indonesia melalui SMS dan e-mail. Ucapan keprihatinan, doa kesembuhan, dan bantuan dana, spontan bergulir.
Dalam hal kreativitas menulis, ia selalu punya target dan perencanaan.
“Untuk 2008 ini, insya Allah saya akan menyelesaikan dua novel saya, Enigma dan Kahada Tupang, yang dalam tiga tahun terakhir tak kunjung rampung-rampung,” harapnya.
Selain itu, Hudan juga akan menerbitkan antologi puisi Catatan 10 Tahun (1998-2008) dan Banjarbaru, Mein Land Geboren yang ditulis dalam 7 bahasa yang dikuasainya Hudan (Arab, Inggris, Jepang, Jerman, Belanda, Indonesia dan Banjar). Tak ketinggalan dongeng Janah, Gadis Penjual Kayu serta buku sosial budaya “Mengenali Diri sebagai Orang Timur dalam Keterbatasan Sejarah”. Semua itu akan di-launching pada ulang tahun ke 23 disejumlah kota di Indonesia.
Tadarus Puisi
Karena dedikasi dan kecintaannya pada seni tersebut, Hudan dipercaya sebagai Ketua Panitia Tadarus Puisi se-Kalimantan Selatan yang akan dilaksanakan, Jum’at (19/9) malam di Banjarbaru.
Rencananya acara ini dimulai pukul 18.00 Wita dengan buka puasa bersama, salat Isya dan Tarawih berjamaah di seputar Taman Air Mancur.
“Setelah itu baru pembacaan puisi islami, nasyid, musikalisasi dan dramatisasi puisi, serta pertunjukan teater. Yang istimewa kali ini akan ada pelelangan baca puisi oleh jajaran muspida, Polda kalsel, aktor, sastrawan, seniman Kalimantan selatan yang nama-namanya sudah dipersiapankan oleh panitia. Dana yang terkumpul itu nantinya disumbangkan pada fakir miskin dan membantu penyair sepuh, Eza Thabry Husano dan Hamamy Adaby, untuk menerbitkan antologi puisi berikutnya,” terang Hudan. aliansyah jumbawuya
***
Niat baik, tapi dilakukan dengan cara yang keliru, hasilnya bisa salah. Itulah pentingnya ilmu sebagai acuan sebelum berbuat sesuatu. Termasuk, perkara mengubur jenazah di depan rumah.
………….
Kalau kita jeli memperhatikan, terutama di daerah-daerah Hulu Sungai, tidak sedikit mereka yang mengubur jenazah orangtua atau kerabatnya persis di lokasi halaman rumah. Mungkin maksudnya supaya setiap hari bisa melihat kuburan itu.
“Sepengetahuan saya di Hulu Sungai masih banyak orang yang melakukan itu,” ujar KH Adnani Iskandar.
Umumnya mereka merasa kalau menguburkan di muka rumah, kata Adnani, seolah-olah dia paling bakti pada orangtua tersebut. Padahal, sebenarnya justru penghinaan pada si mayit.
Motif awalnya mereka mengubur jenazah di depan rumah supaya keluarga yang lewat berikan hadiah bacaan, namun kenyataannya tidak demikian.
“Setahu saya, tidak ada ulama yang menyarankan di kubur di muka rumah. Berwasiat saja tidak perlu dilaksanakan, apalagi tidak berwasiat. Kebanyakan ulama mengatakan hukumnya makruh, sebagaimana tercantum dalam kitab Al Mughni jilid 2 halam 510,” terang mantan Ketua Komisi Fatwa MUI Kalsel ini.
Pernah ditanyakan pada Imam Ahmad bin Hambal tentang seorang laki-laki yang berwasiat supaya dia dikuburkan di muka rumahnya. Lalu disarankan oleh Imam Ahmad sebaiknya dikuburkan di pemakaman kaum muslimin saja, karena menanam mayat di muka rumah akan menyusahkan kepada ahli waris.
“Sebab, bagaimanapun setelah beberapa puluh tahun nanti rumah itu akan terjual, kalau bukan oleh anak-anaknya, ya keturunan berikutnya. Dan orang mau membeli rumah itu, asalkan mayatnya harus dipindah,” kata Adnani.
Ia sendiri pernah menyaksikan di Banjarmasin orang yang mengubur mayat di depan rumah. Akhirnya rumah itu terjual, kuburannya pun ikut hilang. Entah dipindah atau tertindih, karena si pembeli tidak akan peduli karena dia tidak punya ikatan batin dengan penghuni kubur tersebut. Kini, lokasi itu jadi halaman biasa.
Pernah pula dulu kawannya di Rantau ingin mengubur jenazah orangtuanya di depan rumah. Adnani pun menegur serta menjelaskan hukumnya. Tapi, karena masyarakat setempat bersikeras, akhirnya prosesi itu dilanjutkan.
“Ya, sudah. Yang penting tugas kita adalah mengingatkan. Ada kalanya adat lebih mempengaruhi, tahu saja itu makruh tapi tetap saja masyarakat melaksanakannya,” beber Adnani.
Kebanyakan memang tidak tahu bahwa mengubur jenazah di muka rumah itu hukumnya makruh, sekadar ikut-ikutan. Dikiranya sebagai orang yang paling bakti pada orangtua, padahal keliru.
Banyak Mudharat
Kuburan di depan rumah, tambah Adnani Iskandar, dari segi manfaat tidak ada, apalagi bagi mayat di dalam kubur. Malah, banyak mudharatnya.
Kita kalau melewati kuburan dianjurkan untuk memberi salam. Jika tidak, mayat dalam kubur akan marah.
“Kalau kita 10 kali bolak-balik di rumah yang di depannya ada kuburan, berarti sebanyak itu pula kita mestinya mengucapkan salam. Kira-kira apakah itu mungkin atau tidak?” ujar Adnani mengajak berpikir.
Selain itu, karena setiap hari dilewati akhirnya tidak ada lagi niat untuk ziarah, ahli waris sekadar lalu-lalang.
Bahkan, tidak jarang pula di muka rumah tersebut waktu diadakan upacara perkawinan dan lain-lain, di atas kuburan itu di bangun panggung untuk orkes dan berjoget. Sebab, di mana lagi ada tempat yang agak luas.
“Sedihnya lagi kalau penghuni rumah itu orang yang bertabiat jahat, misalnya dia main judi, mereguk minuman keras, atau membawa perempuan nakal ke rumah tersebut, pasti saja ahli kubur akan mengutuknya,” tegas Adnani.
Ulama sebagai panutan, sambungnya, jangan memberi contoh seolah-olah menyenangi kubur di muka rumah, harusnya menjelaskan duduk perkara sebenarnya.
“Kalau menemui hal demikian, segera dicegah. Kalau sudah dijelaskan, tinggal terpulang pada pribadi masing-masing,” ucapnya.
Jika sudah terlanjur menguburkan jenazah orangtua atau kerabat di muka rumah, sebaiknya dipindah saja ke alkah keluarga atau pemakaman umum. Malah itu termasuk perbuatan sunah.
Adnani menyarankan agar membeli alkah untuk kuburan keluarga, karena itu sesuai dengan anjuran Imam Ahmad. Beberapa sahabat pun membeli alkah untuk kuburan mereka, seperti Utsman bin Affan, Umar bin Abdul Azis, Aisyah, dan lain-lain.
“Menurut sunah Rasul kuburan dekat masjid itu jauh lebih baik, karena tiap terdengar adzan, maka ahli kubur akan mendapat keringanan siksa. Atau dekat dengan madrasah, sehingga setiap kali pelajar agama lewat di kuburan tersebut, maka akan diangkat siksa kuburnya selama seminggu,” imbuhnya. aliansyah jumbawuya
***
Lewat MGR ia ingin hidupnya lebih bermanfaat bagi banyak orang. Karena itu, beberapa tahun terakhir bersama komunitasnya ini ia banyak melakukan kegiatan sosial pada masyarakat.
…………..
Nama aslinya Fitri Zamzam SSos MAP. Tapi, orang-orang lebih mengenalnya dengan sebutan Dewa Pahuluan. Bahkan, banyak yang tidak tahu kalau dia adalah putra seorang ulama tersohor, Jafri Zamzam, mantan Rektor IAIN Antasari dan Kakanwil Penerangan pertama di Kalsel.
Sikap sosial sang ayah yang sepanjang hidup banyak mengabdikan diri untuk kemaslahatan umat, tanpa kenal lelah mengajar di lembaga formal maupun pengajian-pengajian, diakui Dewa menjadi inspirasi sekaligus panutannya.
“Namun, terus terang saya tidak suka mendompleng kebesaran nama beliau. Biarlah orang mengenal sepak terjang saya, tanpa menghubung-hubungkannya dengan siapa ayah saya,” ujar pria kelahiran Kandangan, 15 Mei 1957 ini.
Karena itu, ia seperti sengaja menenggelamkan identitas diri yang sebenarnya. Ia merasa lebih sreg dipanggil Dewa Pahaluan.
Nama ini sendiri melekat semenjak ia mendirikan Komunitas MGR, tepatnya 10 Juli 1978. Waktu itu Mingguraya Banjarbaru merupakan pusat tempat berkumpulnya anak-anak muda dengan segala tingkahpolah dan kenakalan mereka.
“Kita coba rangkul mereka. Kemudian menyalurkan bakat dan hobi masing-masing, baik di bidang kepemudaan, olahraga, seni, maupun pencinta alam, kepada kegiatan yang lebih positif. Mungkin karena dinilai berhasil menyelamatkan mereka dari prilaku tidak baik, saya kemudian dipanggil Dewa, sedangkan Pahuluan dinisbatkan dari daerah asal kelahiran saya,” kenang ayah dari tiga anak ini.
Kini, keberadaan MGR tidak bisa dipisahkan bahkan terlanjur identik dengan sosok Dewa. Diceritakannya, dulu di awal-awal berdirinya MGR mereka punya peraturan dasar bahwa setiap dua tahun sekali dibentuk kepengurusan baru. Hal itu sempat berjalan lima periode, tapi secara aklamasi selalu dia yang ditunjuk jadi ketua umum.
“Akhirnya, saya didaulat menjadi presiden MGR. Kayaknya terkesan ‘abadi’. Supaya ada regenerasi, maka dibentuklah organisasi-organisasi sayap, dari situlah nanti akan muncul, ” jelas Dewa Pahuluan.
Kegiatan Sosial
Seiring perjalanan waktu, tanpa terasa MGR sudah berusia 30 tahun. Para pengurusnya pun kini telah beranjak tua.
“Pada 5 tahun terakhir ini kami ingin lebih dekat lagi dan punya arti bagi masyarakat. Caranya adalah dengan memperbanyak pengabdian pada masyarakat,” terang Dewa.
Sekarang mereka lebih focus melaksanakan kegiatan sosial, seperti sunatan massal yang digelar setiap tahun, bisa pada saat ultah MGR atau ketika libur puasa.
Komunitas MGR juga menyantuni kaum dhuafa lewat Paket Ramadhan berupa pemberian beras, gula, minyak goreng, teh, dll agar mereka bisa memanfaatkannya untuk berbuka puasa dan sahur. Setiap tahun rata-rata 250 paket dibagikan kepada orang-orang yang telah didata. “Dan itu dibagikan bukan di markas pusat MGR, melainkan door to door pada malam hari. Cara ini di samping tidak merepotkan kaum dhuafa, juga untuk menghindari kecemburuan mereka yang menurut kita tergolong mampu, tapi kepengin jua. Kita menghendaki benar-benar tepat sasaran, yaitu mereka yang memang layak dibantu,” ujar Dewa Pahuluan.
Begitu pula pada hari raya haji, para anggota yang punya kemampuan lebih bagi-bagi hewan qurban yang dipusatkan di markas MGR.
Belum lagi kegiatan sosial yang bersifat insidentil. Jika ada masyarakat yang tidak mampu untuk mengobati penyakitnya akan dibantu secara kontinyu sampai sembuh.
“Asalkan dilaporkan dan menurut hasil tinjauan kami latarbelakang kehidupan si bersangkutan memang tidak mampu, insya Allah akan dibantu,” imbuhnya.
Pernah ada seorang warga yang ususnya terburai dan tidak dijahit. Bertahun-tahun dia buang air besar lewat usus tersebut karena anusnya tidak berfungsi.
“Akhirnya kita bawa ke rumahsakit, di operasi sampai sembuh. Alhamdulillah, kini dia sudah normal,” beber Dewa.
Sedangkan di bidang olahraga, lanjutnya, MGR focus pada catur dengan membangun terminal catur di depan kolam renang Idaman. Hasilnya, dalam beberapa tahun terakhir Banjarbaru jadi barometer pecatur di Kalsel.
“Bahkan, ada tiga junior kita yang mampu berbicara di tingkat nasional dengan keberadaan terminal catur itu,” ujar pegawai Kantor Pertanahan Kota Banjarbaru ini.
MGR tidak bedanya dengan organisasi kemasyarakatan lain, cuma karena usia senior dan dianggap mapan mengingat anggotanya banyak yang duduk di biorkrat atau jadi pengusaha. Lucunya, organisasi yang sama rutin setiap bulan minimal ada tiga yang mengajukan proposal. Termasuk perguruan tinggi dan sekolah. Sepanjang untuk mengembangkan bakat, insya Allah akan dibantu dan didukung.
“Syukurnya, keluarga saya cukup mendukung. Kalau menyangkut pengeluaran untuk kegiatan sosial kami tidak pernah berhitung,” tegas penulis produktif di era 1980-an ini. aliansyah jumbawuya
***