Padepokan Pena - Gemar Membaca Giat Menulis

Kiat Menembus Media Massa

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Semenjak runtuhnya rezim Orde Baru, kran kebebasan pun semakin terbuka luas. Kini, siapa saja asalkan punya modal cukup bisa mendirikan usaha penerbitan media massa. Tak ada lagi keharusan mengantongi Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) dari pemerintah, yang di masa lalu syarat-syarat dan prosedur untuk mendapatkan itu sangatlah sulit. Sekarang mekanisme tersebut diserahkan sepenuhnya pada kontrol masyarakat. Dan hidup-matinya sebuah media massa tergantung sejauhmana tingkat penerimaan pangsa pasar.

Karena itu, tak heran dalam beberapa tahun terakhir ini pertumbuhan media massa bak cendawan di musim penghujan. Majalah-majalah, tabloid-tabloid, koran-koran baru terus bermunculan. Untuk menunjang agar media bersangkutan tetap eksis, hadir berkesinambungan di tengah khalayak pembaca, selain mengandalkan hasil liputan dari para wartawannya, mereka juga memerlukan tulisan-tulisan dari luar. Bentuknya bisa berupa surat pembaca, artikel, esei, puisi, cerpen, resensi buku, dan lain-lain.

Seiring dengan maraknya keberadaan media massa, peluang para penulis lepas (freelance) untuk mempublikasikan karyanya tentu semakin besar. Persoalannya, apakah kita akan memanfaatkan kesempatan tersebut atau membiarkannya begitu saja?

Kriteria Layak Muat

Bagi mereka yang sering mempublikasikan tulisannya di media massa, tentu dengan sendirinya didasari oleh pengalaman akan peka ‘membaca’ tulisan seperti apa kira-kira yang dimaui oleh redaktur. Namun bagi penulis pemula, wajar bila masih awam seputar kriteria tulisan yang layak muat. Karena itu, dalam kesempatan ini saya sekadar ingin sharing mengungkapkan hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan agar tulisan memenuhi syarat untuk dimuat.

Pertama, tulisan sesuai dengan visi dan misi media massa yang hendak dituju. Karena itu, sebelum mengirimkan tulisan alangkah baiknya terlebih dulu Anda mempelajari media bersangkutan. Sebab, tiap-tiap koran, tabloid, majalah itu berbeda-beda segmentasi dan bidang garapannya. Sebagus apapun tulisan Anda, tapi mengirimnya ke media yang salah, tentu akan ditolak. Misalnya, Anda menulis tentang masalah keagamaan, kemudian mengirimnya ke majalah Hai, Trubus, Aneka Yess, Otomotif, atau tabloid olahraga GO, maka wajar bila ditolak. Beda kalau Anda mengirimkannya ke tabloid Serambi UmmaH, Sabili, MQ, ada kemungkinan bakal di muat.

Jadi, penting sekali mengetahui standar yang ditetapkan sebuah media. Termasuk rubrik yang disediakan pengasuh. Kalau di koran itu tidak ada ruang puisi, jangan ngotot mengirimkan puisi ke sana. Sia-sia, karya Anda hanya akan berakhir di tong sampah. Saya sendiri sebagai pengasuh rubrik Cerpen sering menemui hal-hal seperti itu, sudah tahu di Serambi UmmaH tidak pernah memuat kisah bahasa Banjar, ternyata masih saja ada yang ngiyel mengirimkannya. Sebaik apapun kualitas tulisan tersebut, tidak mungkin saya paksakan untuk memuatnya.

Kedua, topik yang dipilih aktual. Apa yang tengah hangat jadi bahan pembicaraan atau perdebatan orang kalau Anda tulis, maka kemungkinannya untuk dimuat tentu lebih besar daripada Anda mengangkat topik yang sudah usang. Misalnya, sekarang ini orang ramai memperbincangkan mengenai boleh tidaknya Muslim ikut yoga, kenapa Anda tidak buruan menuliskannya karena pembaca pasti akan tertarik untuk menyimaknya. Tapi, kalau Anda menulisnya satu atau dua bulan lagi, ceritanya jadi lain, mungkin sudah basi.

Ketiga, sesuai momen. Contohnya, sebentar lagi umat Islam akan merayakan Idul Adha 1429 H. Kalau Anda menulis tentang hikmah ibadah kurban, tentu waktunya sangat tepat. Peluang untuk dimuat pun lebih besar. Kalau ada dua tulisan masuk ke meja redaksi dengan kualitas yang sama, tapi tema yang Anda angkat sesuai momentum, pasti tulisan Anda lebih diprioritaskan untuk segera dimuat. Atau, lihatlah sekarang ini buku-buku tentang persiapan menghadapi tes CPNS banyak beredar di pasaran dan terbukti laris-manis, karena momentumnya memang tepat.

Keempat, menjadi hajat orang banyak. Jika Anda menulis di buku diary, masalah apapun termasuk hal-hal yang remeh-temeh, tidak akan ada yang membatasi karena memang khusus untuk dinikmati pribadi. Tetapi kalau Anda menulis di media massa yang dikonsumsi publik, tema yang dipilih seyogianya benar-benar merupakan kebutuhan orang banyak. Misalnya, mengenai kiat mengoptimalkan potensi anak, pasti banyak orangtua yang merasa berkepentingan, sehingga mereka tertarik untuk menyimak tulisan Anda. Tapi, kalau sekadar tips bagaimana agar mata tidak perih saat mengiris bawang, rasanya kecil kemungkinan ada redaktur yang bermurah hati untuk memuatnya.

Kelima, tulisan berbobot. Redaktur manapun pasti menginginkan tulisan yang berbobot, sebab itu bakal turut menentukan kualitas dan citra media massa bersangkutan. Karena itu, berusahalah mengirimkan tulisan Anda yang terbaik, bukan yang asal-asalan.

Adapun ukuran sebuah tulisan itu untuk bisa dikatakan berbobot, antara lain:

a. Judul menarik dan sesuai dengan isi tulisan. Walaupun tampaknya sepele, ternyata judul ikut mempengaruhi orang untuk membaca atau mengacuhkan tulisan tersebut. Sebab, judullah yang biasanya pertama kali dilihat orang. Kalau judul memancing rasa ingin tahu, tentu tulisan dimaksud bakal dibaca. Seperti bunyi iklan sebuah parfum: kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda. Hal inilah yang dimanfaatkan betul dengan baik oleh Agus Mustafa ketika memberi judul buku-bukunya, seperti Ternyata Akhirat Tidak Kekal, Tahajud di Siang Hari Dzuhur di Malam Hari, Ternyata Adam Dilahirkan, dll.

b. Lead atau pembuka tulisan mampu menggugah dan langsung menuju ke inti persoalan. Tak perlu bertele-tele. Kalau dari awal Anda sudah terkesan berbelit-belit, boleh jadi minat redaktur untuk melanjutkan membaca jadi hilang.

c. Isi tulisan sistematis. Di sinilah pentingnya bagi pemula sebelum menulis agar terlebih dulu membuat kerangka tulisan (outline). Hal ini semata untuk menghindari tumpang-tindihnya gagasan. Jangan sampai ide yang sudah ditulis di paragraf tiga misalnya, kembali terulang di paragraf delapan. Akibatnya, pembaca jadi cepat jenuh. Kecuali kalau Anda sudah terbiasa dan piawai menulis, mungkin outline sudah tidak diperlukan lagi. Seperti penulis produktif Drs Ahmad Barjie, saya yakin dia bisa menulis dengan lancar tanpa outline karena sudah terbiasa berpikir secara runut.

d. Mampu menawarkan solusi. Tidak jarang penulis pemula hanya asyik membeberkan masalah, tapi ia sendiri tidak memberi alternatif atau solusi. Kalau begitu apa bedanya dengan berkeluh-kesah atau curhat, sedangkan pembaca pastinya menghendaki jalan keluar, sehingga bisa mengambil manfaat dari tulisan tersebut.

Pantang Menyerah

Untuk menghasilkan tulisan yang berbobot, diperlukan kesabaran dari penulis pemula. Semua perlu proses. Tidak bisa serba instan. Teruslah mengasah kemampuan dengan berlatih dan berlatih.

Karena itu, kalau satu atau dua kali tulisan Anda ditolak jangan mudah menyerah. Teruslah berkarya. Anggaplah itu sebagai kesuksesan yang tertunda. Justru dari situ Anda bisa belajar apa saja kekurangan Anda untuk kemudian berusaha memperbaikinya. Tetaplah optimis dan selalu berpikir positif.

Ingat, sastrawan Joni Ariadinata sampai 600 kali mengirimkan cerpen baru tulisannya dimuat. Andai ia cepat menyerah, mungkin sampai kini namanya tidak akal dikenal luas.

Kalaupun tulisan Anda tak kunjung dimuat, simpan dan kumpulkan. Siapa tahu kelak Anda bisa menerbitkan sendiri. Tidak sedikit kasus tulisan yang semula kurang diperhitungkan, tapi setelah diterbitkan malah menjadi booming. Tahukah Anda cerita Harry Fotter karya JK Rowling waktu ditawarkan ke penerbit banyak yang menolaknya. Tapi, ia tak putus asa. Sampai akhirnya ada seorang penerbit yang berminat. Hasilnya, sebagaimana kita ketahui bersama dari buku serial itu sekarang JK Rowling mampu mengumpulkan royalti melebihi dari kekayaan ratu Inggris.

Dalam dunia kreativitas, berbagai kemungkinan bisa terjadi. Karena itu, tak ada alasan bagi Anda untuk berkecil hati sekiranya tulisan Anda belum dimuat di media massa. Apalagi generasi sekarang dimudahkan dengan adanya fasilitas weblog. Anda bisa membuatnya dan menyalurkan tulisan apapun di situ. Bahkan Anda berkuasa penuh atas blog tersebut. Tidak ada yang bisa menghalangi Anda untuk mempublikasikan tulisan. Hebatnya lagi, tulisan Anda bisa diakses dari berbagai belahan dunia manapun.

Jadi, masihkah Anda ragu untuk menulis?

***

(Disampaikan dalam lokakarya Jurnalistik Antar Pelajar & Mahasiswa se-Kalsel, Sabtu 29 Nop 2008, diselengggarakan oleh LDK Nurul Fata Fakultas Tarbiyah di Audoturium IAIN Antasari Banjarmasin)

Banjarmasin, 28 Nop 2008


Posted in Mari Menulis

Hudan Nur: Persiapkan Antologi Puisi 7 Bahasa

Setelah sepuluh tahun berkarya, di ulang tahunnya yang ke-23 penyair wanita ini akan menerbitkan antologi puisi yang ditulis dalam 7 bahasa yang dikuasainya.

………..

Dia masih belia, namun aktivitas Hudan Nur cukup berjibun. Sekarang ini saja, di organisasi kampus ia dipercaya menjadi Ketua Art Department (Enigma Community) English Student Association (ESA) UNLAM, Ketua Advokasi Badan Legislatif Mahasiswa, Ketua Dewan Pimpinan Daerah DPD Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris (HIMABSII) se‑Kalimantan Selatan periode 2006‑2008.

Selain itu, Hudan aktif berkecimpung di dunia kesenian. Bahkan semenjak kelas 4 SD putri sulung M Nurdin dan Rahmiyati ini sudah bergabung di sebuah sanggar tari. Dua tahun berselang, ia pun mulai menyukai puisi dan mengenal beberapa tokoh sastrawan Banjarbaru.

“Tahun 2001 saya baru mempublikasikan puisi di Banjarmasin Post dan Untaian Mutiara RRI Nusantara. Setelah sukses di media lokal, saya pun makin yakin mengirimkan karya-karya saya dan dimuat di Majalah Dewan Sastera Kuala Lumpur, buletin Rumah Sastra Bandung, tabloid Realitas, Lampung Post, dan Majalah Gong,” ujar Hudan.

Bahkan, ia pernah aktif di club Jepang ARADANTRI sebagai pengarang Fun Fiction dengan nama pena Kanatoshi Ariwa. Puluhan lomba sastra, menulis, dan karya tulis ilmiah pun dimenangkannya.

Hudan juga sempat menjadi jurnalis, tapi tak sempat lama karena 2006 ia harus terlibat tour keliling Indonesia. Salah satunya menghadiri kegiatan Ode Kampung yang diselenggarakan oleh Rumah Dunia, Gola Gong Banten.

“Tahun 2007, saya terpilih sebagai salah seorang dari 8 utusan yang mewakili Indonesia dalam Mastera Puisi Asia Tenggara,” kata gadis berjilbab ini.

Terakhir, Hudan juga diundang ke Malaysia dan Brunei Darussalam, namun kala itu ia tak bisa berhadir karena pada waktu bersamaan harus mengikuti kegiatan PPL.

Memang ia harus pandai membagi waktu antara kegiatan kampus dan kesenian. “Dulu pernah jalan keduanya. Namun, pada akhirnya karena keadaan saya harus memilih salah satunya,” tegas deklamator handal ini.

Untuk sekarang Hudan mengaku akan lebih intens mengelola Teras Puitika, sebuah komunitas yang diperuntukkan khusus yang muda-muda, dengan kegiatan utama dialog bedah karya dan publikasi.

Bagi Hudan, dengan aktif di berbagai kegiatan ia menemukan kepuasan batin tersendiri.

“Kita yang membesarkan komunitas, atau bisa pula justru komunitas yang membesarkan kita,” tegasnya.

Target Menulis

Sampai kini karya-karya Hudan Nur sudah dibukukan dalam 16 antologi bersama maupun tunggal, di antaranya Antologi Puisi Penyair Kontemporer Indonesia yang diterbitkan dalam Bahasa Tionghoa di Beijing, RRC (2007).

Dalam kesehariannya, gadis kelahiran Banjarbaru 23 Nopember 1985 ini memang dikenal energik, kreatif, idealis, dan senang bergaul. Tak heran, jika temannya ada di mana-mana. Ketika beberapa waktu lalu ia mengalami kecelakaan, yang mengakibatkan tulang punggung, rahim, dan rusuknya patah, tanpa dikomando kabar itu menyebar luas di seluruh Indonesia melalui SMS dan e-mail. Ucapan keprihatinan, doa kesembuhan, dan bantuan dana, spontan bergulir.

Dalam hal kreativitas menulis, ia selalu punya target dan perencanaan.

“Untuk 2008 ini, insya Allah saya akan menyelesaikan dua novel saya, Enigma dan Kahada Tupang, yang dalam tiga tahun terakhir tak kunjung rampung-rampung,” harapnya.

Selain itu, Hudan juga akan menerbitkan antologi puisi Catatan 10 Tahun (1998-2008) dan Banjarbaru, Mein Land Geboren yang ditulis dalam 7 bahasa yang dikuasainya Hudan (Arab, Inggris, Jepang, Jerman, Belanda, Indonesia dan Banjar). Tak ketinggalan dongeng Janah, Gadis Penjual Kayu serta buku sosial budaya “Mengenali Diri sebagai Orang Timur dalam Keterbatasan Sejarah”. Semua itu akan di-launching pada ulang tahun ke 23 disejumlah kota di Indonesia.

Tadarus Puisi

Karena dedikasi dan kecintaannya pada seni tersebut, Hudan dipercaya sebagai Ketua Panitia Tadarus Puisi se-Kalimantan Selatan yang akan dilaksanakan, Jum’at (19/9) malam di Banjarbaru.

Rencananya acara ini dimulai pukul 18.00 Wita dengan buka puasa bersama, salat Isya dan Tarawih berjamaah di seputar Taman Air Mancur.

“Setelah itu baru pembacaan puisi islami, nasyid, musikalisasi dan dramatisasi puisi, serta pertunjukan teater. Yang istimewa kali ini akan ada pelelangan baca puisi oleh jajaran muspida, Polda kalsel, aktor, sastrawan, seniman Kalimantan selatan yang nama-namanya sudah dipersiapankan oleh panitia. Dana yang terkumpul itu nantinya disumbangkan pada fakir miskin dan membantu penyair sepuh, Eza Thabry Husano dan Hamamy Adaby, untuk menerbitkan antologi puisi berikutnya,” terang Hudan. aliansyah  jumbawuya

***


Posted in Sosok

Kuburan di Depan Rumah

Niat baik, tapi dilakukan dengan cara yang keliru, hasilnya bisa salah. Itulah pentingnya ilmu sebagai acuan sebelum berbuat sesuatu. Termasuk, perkara mengubur jenazah di depan rumah.

………….

Kalau kita jeli memperhatikan, terutama di daerah-daerah Hulu Sungai, tidak sedikit mereka yang mengubur jenazah orangtua atau kerabatnya persis di lokasi halaman rumah. Mungkin maksudnya supaya setiap hari bisa melihat kuburan itu.

“Sepengetahuan saya di Hulu Sungai masih banyak orang yang melakukan itu,” ujar KH Adnani Iskandar.

Umumnya mereka merasa kalau menguburkan di muka rumah, kata Adnani, seolah-olah dia paling bakti pada orangtua tersebut. Padahal, sebenarnya justru penghinaan pada si mayit.

Motif awalnya mereka mengubur jenazah di depan rumah supaya keluarga yang lewat berikan hadiah bacaan, namun kenyataannya tidak demikian.

“Setahu saya, tidak ada ulama yang menyarankan di kubur di muka rumah. Berwasiat saja tidak perlu dilaksanakan, apalagi tidak berwasiat. Kebanyakan ulama mengatakan hukumnya makruh, sebagaimana tercantum dalam kitab Al Mughni jilid 2 halam 510,” terang mantan Ketua Komisi Fatwa MUI Kalsel ini.

Pernah ditanyakan pada Imam Ahmad bin Hambal tentang seorang laki-laki yang berwasiat supaya dia dikuburkan di muka rumahnya. Lalu disarankan oleh Imam Ahmad sebaiknya dikuburkan di pemakaman kaum muslimin saja, karena menanam mayat di muka rumah akan menyusahkan kepada ahli waris.

“Sebab, bagaimanapun setelah beberapa puluh tahun nanti rumah itu akan terjual, kalau bukan oleh anak-anaknya, ya keturunan berikutnya. Dan orang mau membeli rumah itu, asalkan mayatnya harus dipindah,” kata Adnani.

Ia sendiri pernah menyaksikan di Banjarmasin orang yang mengubur mayat di depan rumah. Akhirnya rumah itu terjual, kuburannya pun ikut hilang. Entah dipindah atau tertindih, karena si pembeli tidak akan peduli karena dia tidak punya ikatan batin dengan penghuni kubur tersebut. Kini, lokasi itu jadi halaman biasa.

Pernah pula dulu kawannya di Rantau ingin mengubur jenazah orangtuanya di depan rumah. Adnani pun menegur serta menjelaskan hukumnya. Tapi, karena masyarakat setempat bersikeras, akhirnya prosesi itu dilanjutkan.

“Ya, sudah. Yang penting tugas kita adalah mengingatkan. Ada kalanya adat lebih mempengaruhi, tahu saja itu makruh tapi tetap saja masyarakat melaksanakannya,” beber Adnani.

Kebanyakan memang tidak tahu bahwa mengubur jenazah di muka rumah itu hukumnya makruh, sekadar ikut-ikutan. Dikiranya sebagai orang yang paling bakti pada orangtua, padahal keliru.

Banyak Mudharat

Kuburan di depan rumah, tambah Adnani Iskandar, dari segi manfaat tidak ada, apalagi bagi mayat di dalam kubur. Malah, banyak mudharatnya.

Kita kalau melewati kuburan dianjurkan untuk memberi salam. Jika tidak, mayat dalam kubur akan marah.

“Kalau kita 10 kali bolak-balik di rumah yang di depannya ada kuburan, berarti sebanyak itu pula kita mestinya mengucapkan salam. Kira-kira apakah itu mungkin atau tidak?” ujar Adnani mengajak berpikir.

Selain itu, karena setiap hari dilewati akhirnya tidak ada lagi niat untuk ziarah, ahli waris sekadar lalu-lalang.

Bahkan, tidak jarang pula di muka rumah tersebut waktu diadakan upacara perkawinan dan lain-lain, di atas kuburan itu di bangun panggung untuk orkes dan berjoget. Sebab, di mana lagi ada tempat yang agak luas.

“Sedihnya lagi kalau penghuni rumah itu orang yang bertabiat jahat, misalnya dia main judi, mereguk minuman keras, atau membawa perempuan nakal ke rumah tersebut, pasti saja ahli kubur akan mengutuknya,” tegas Adnani.

Ulama sebagai panutan, sambungnya, jangan memberi contoh seolah-olah menyenangi kubur di muka rumah, harusnya menjelaskan duduk perkara sebenarnya.

“Kalau menemui hal demikian, segera dicegah. Kalau sudah dijelaskan, tinggal terpulang pada pribadi masing-masing,” ucapnya.

Jika sudah terlanjur menguburkan jenazah orangtua atau kerabat di muka rumah, sebaiknya dipindah saja ke alkah keluarga atau pemakaman umum. Malah itu termasuk perbuatan sunah.

Adnani menyarankan agar membeli alkah untuk kuburan keluarga, karena itu sesuai dengan anjuran Imam Ahmad. Beberapa sahabat pun membeli alkah untuk kuburan mereka, seperti Utsman bin Affan, Umar bin Abdul Azis, Aisyah, dan lain-lain.

“Menurut sunah Rasul kuburan dekat masjid itu jauh lebih baik, karena tiap terdengar adzan, maka ahli kubur akan mendapat keringanan siksa. Atau dekat dengan madrasah, sehingga setiap kali pelajar agama lewat di kuburan tersebut, maka akan diangkat siksa kuburnya selama seminggu,” imbuhnya. aliansyah jumbawuya

***


Posted in Budaya Banjar

Dewa Pahuluan: Berbagi Bersama Komunitas MGR

Lewat MGR ia ingin hidupnya lebih bermanfaat bagi banyak orang. Karena itu, beberapa tahun terakhir bersama komunitasnya ini ia banyak melakukan kegiatan sosial pada masyarakat.

…………..

Nama aslinya Fitri Zamzam SSos MAP. Tapi, orang-orang lebih mengenalnya dengan sebutan Dewa Pahuluan. Bahkan, banyak yang tidak tahu kalau dia adalah putra seorang ulama tersohor, Jafri Zamzam, mantan Rektor IAIN Antasari dan Kakanwil Penerangan pertama di Kalsel.

Sikap sosial sang ayah yang sepanjang hidup banyak mengabdikan diri untuk kemaslahatan umat, tanpa kenal lelah mengajar di lembaga formal maupun pengajian-pengajian, diakui Dewa menjadi inspirasi sekaligus panutannya.

“Namun, terus terang saya tidak suka mendompleng kebesaran nama beliau. Biarlah orang mengenal sepak terjang saya, tanpa menghubung-hubungkannya dengan siapa ayah saya,” ujar pria kelahiran Kandangan, 15 Mei 1957 ini.

Karena itu, ia seperti sengaja menenggelamkan identitas diri yang sebenarnya. Ia merasa lebih sreg dipanggil Dewa Pahaluan.

Nama ini sendiri melekat semenjak ia mendirikan Komunitas MGR, tepatnya 10 Juli 1978. Waktu itu Mingguraya Banjarbaru merupakan pusat tempat berkumpulnya anak-anak muda dengan segala tingkahpolah dan kenakalan mereka.

“Kita coba rangkul mereka. Kemudian menyalurkan bakat dan hobi masing-masing, baik di bidang kepemudaan, olahraga, seni, maupun pencinta alam, kepada kegiatan yang lebih positif. Mungkin karena dinilai berhasil menyelamatkan mereka dari prilaku tidak baik, saya kemudian dipanggil Dewa, sedangkan Pahuluan dinisbatkan dari daerah asal kelahiran saya,” kenang ayah dari tiga anak ini.

Kini, keberadaan MGR tidak bisa dipisahkan bahkan terlanjur identik dengan sosok Dewa. Diceritakannya, dulu di awal-awal berdirinya MGR mereka punya peraturan dasar bahwa setiap dua tahun sekali dibentuk kepengurusan baru. Hal itu sempat berjalan lima periode, tapi secara aklamasi selalu dia yang ditunjuk jadi ketua umum.

“Akhirnya, saya didaulat menjadi presiden MGR. Kayaknya terkesan ‘abadi’. Supaya ada regenerasi, maka dibentuklah organisasi-organisasi sayap, dari situlah nanti akan muncul, ” jelas Dewa Pahuluan.

Kegiatan Sosial

Seiring perjalanan waktu, tanpa terasa MGR sudah berusia 30 tahun. Para pengurusnya pun kini telah beranjak tua.

“Pada 5 tahun terakhir ini kami ingin lebih dekat lagi dan punya arti bagi masyarakat. Caranya adalah dengan memperbanyak pengabdian pada masyarakat,” terang Dewa.

Sekarang mereka lebih focus melaksanakan kegiatan sosial, seperti sunatan massal yang digelar setiap tahun, bisa pada saat ultah MGR atau ketika libur puasa.

Komunitas MGR juga menyantuni kaum dhuafa lewat Paket Ramadhan berupa pemberian beras, gula, minyak goreng, teh, dll agar mereka bisa memanfaatkannya untuk berbuka puasa dan sahur. Setiap tahun rata-rata 250 paket dibagikan kepada orang-orang yang telah didata. “Dan itu dibagikan bukan di markas pusat MGR, melainkan door to door pada malam hari. Cara ini di samping tidak merepotkan kaum dhuafa, juga untuk menghindari kecemburuan mereka yang menurut kita tergolong mampu, tapi kepengin jua. Kita menghendaki benar-benar tepat sasaran, yaitu mereka yang memang layak dibantu,” ujar Dewa Pahuluan.

Begitu pula pada hari raya haji, para anggota yang punya kemampuan lebih bagi-bagi hewan qurban yang dipusatkan di markas MGR.

Belum lagi kegiatan sosial yang bersifat insidentil. Jika ada masyarakat yang tidak mampu untuk mengobati penyakitnya akan dibantu secara kontinyu sampai sembuh.

“Asalkan dilaporkan dan menurut hasil tinjauan kami latarbelakang kehidupan si bersangkutan memang tidak mampu, insya Allah akan dibantu,” imbuhnya.

Pernah ada seorang warga yang ususnya terburai dan tidak dijahit. Bertahun-tahun dia buang air besar lewat usus tersebut karena anusnya tidak berfungsi.

“Akhirnya kita bawa ke rumahsakit, di operasi sampai sembuh. Alhamdulillah, kini dia sudah normal,” beber Dewa.

Sedangkan di bidang olahraga, lanjutnya, MGR focus pada catur dengan membangun terminal catur di depan kolam renang Idaman. Hasilnya, dalam beberapa tahun terakhir Banjarbaru jadi barometer pecatur di Kalsel.

“Bahkan, ada tiga junior kita yang mampu berbicara di tingkat nasional dengan keberadaan terminal catur itu,” ujar pegawai Kantor Pertanahan Kota Banjarbaru ini.

MGR tidak bedanya dengan organisasi kemasyarakatan lain, cuma karena usia senior dan dianggap mapan mengingat anggotanya banyak yang duduk di biorkrat atau jadi pengusaha. Lucunya, organisasi yang sama rutin setiap bulan minimal ada tiga yang mengajukan proposal. Termasuk perguruan tinggi dan sekolah. Sepanjang untuk mengembangkan bakat, insya Allah akan dibantu dan didukung.

“Syukurnya, keluarga saya cukup mendukung. Kalau menyangkut pengeluaran untuk kegiatan sosial kami tidak pernah berhitung,” tegas penulis produktif di era 1980-an ini. aliansyah jumbawuya

***


Posted in Sosok

Memelihara Kontinuitas Menulis

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Apakah Anda kenal dengan penulis musiman? Ketika semangatnya sedang menggebu-gebu dia begitu produktif menghasilkan tulisan. Hampir setiap minggu tulisannya nongol di media massa. Tidak hanya di satu koran, kadang dalam waktu yang berbarengan beberapa puisi, cerpen, esei, resensi buku, artikelnya dimuat di media yang berbeda-beda. Sayangnya, hal itu tidak bertahan panjang. Setelah sempat mendominasi dan merajai, entah karena alasan apa, namanya menghilang seolah tanpa jejak. Raib begitu saja.

Kenapa seorang penulis yang sebenarnya cukup potensial seperti itu justru bernafas pendek? Jawabnya, karena dia tidak pandai memelihara kontinuitas menulis.

Jauh lebih baik menulis sedikit tapi berkesinambungan, daripada sekaligus menghasilkan banyak karya tapi bersifat angin-anginan. Ketika moodnya lagi bagus, ia sanggup menulis hampir seharian penuh. Tapi begitu penyakit malasnya komat, tak jarang sampai berbulan-bulan tidak membuahkan sebiji tulisan pun.

Ajaran Islam mengatakan, bahwa amaliah yang baik itu biar sedikit asal dilakukan secara rutin. Di sinilah pentingnya belajar mendisiplinkan diri. Setiap hari Anda harus bisa meluangkan waktu untuk menulis. Kalau siang sibuk menangani pekerjaan kantor, sempatkanlah menulis malam sebelum tidur. Atau, setelah shalat subuh. Pokoknya, terserah kapan Anda bisa. Soal pengaturan jadwal, tentu Anda yang paling tahu. Yang penting dalam sehari mesti ada waktu buat menulis. Tidak usah berlama-lama, cukup satu atau dua jam. Tapi kalau bisa lebih dari itu, bagus lagi. Siapa tahu waktu Anda lagi senggang.

Prof HM Asywadie Syukur Lc, Ketua MUI Kalsel, sudah lama membiasakan diri menulis setiap hari sebanyak dua lembar HVS kuarto. Padahal sebagai mubaligh dan dosen kegiatannya cukup padat. Tapi karena sudah jadi komitmen, sedapat mungkin ia menyisihkan waktu untuk menulis. Kalau kebetulan diundang ke luar daerah jadi pembicara dalam sebuah seminar atau pertemuan nasional, di mana hari itu ia tidak mungkin menulis, maka ketertinggalan tersebut dianggapnya sebagai ‘utang’. Nanti pada kesempatan lain akan dilunasinya. Misalkan, tiga hari Asywadie tidak menulis, berarti hari berikutnya ia mewajibkan dirinya menulis delapan lembar kuarto. Dengan sistem kerja yang demikian, tak heran kalau dia berhasil mengarang banyak buku.

Sekiranya menulis sudah menjadi kebiasaan (habits writer), maka sehari saja Anda tidak menulis serasa ada yang kurang dan mengganjal di hati. Karena itu, jadikanlah menulis sebagai candu. Canangkan semboyan: Tiada hari tanpa menulis.

Mencicil Tulisan

Mungkin Anda pernah membaca buku ESQ dan ESQ Power karangan Ary Ginanjar Agustian. Bukan hanya kemampuannya menemukan metode baru pencerahan jiwa yang patut mendapat acungan jepol, juga ketekunannya menggarap buku yang relatif tebal tersebut begitu mengagumkan. Hebatnya lagi, karyanya itu menjadi masterpeace, mengalami cetak ulang belasan kali hanya dalam waktu singkat.

Atau, ada lagi yang lebih tebal yaitu cerita silat Senopati Pamungkas karangan Arsewendo Atmowiloto. Ketebalan buku ini hampir sama dengan Harry Potter-nya JK Rowling.

Melihat buku-buku dimaksud, boleh jadi dalam hati Anda bukan sekadar memuji, juga menggumam: “Kira-kira saya sanggup nggak menulis seperti itu?” Lha, kalau orang lain bisa kenapa Anda tidak? Demikian kalimat motivasi yang sering kita dengar dari orang-orang tua dahulu.

Para penulis tersebut bisa menggarap buku setebal itu karena mempunyai metode khusus, yaitu mencicilnya setiap hari. Sedikit demi sedikit, tapi kontinyu. Tidak bisa sekaligus, begitu tancap langsung selesai. Sebagaimana ungkapan bijak mengatakan, setiap perjalanan panjang tentu dimulai dari langkah-langkah kecil.

Memang, maunya sih dalam menulis kalau bisa sebanyak mungkin dalam waktu sesingkat mungkin. Tapi, kemampuan manusia terbatas. Tidak setiap saat Anda punya tenaga yang fit, pikiran yang jernih, dan waktu yang lapang. Ada hal-hal lain yang kadang mendesak menuntut perhatian Anda. Misalnya, apa Anda tega menolak ketika anak Anda minta diantar berobat ke dokter? Apa Anda bisa cuek terus menulis, sementara para tetangga di kompleks bergotong-royong? Apa Anda sampai hati tidak menghadiri undangan selamatan atau perkawinan kerabat Anda? Bagaimanapun Anda harus pandai dan cerdas membagi waktu. Jangan sampai karena ambisi tertentu, tanpa sadar Anda terjebak menjadi orang yang egois.

Sekali lagi, kalau Anda memang orang sibuk, tak perlu ngoyo dalam menulis. Kalau sehari bisanya hanya dua jam, tidak mengapa. Yang penting berkesinambungan dan patuh dengan target yang Anda tetapkan sendiri.

Jika sekadar menulis puisi, cerpen, atau kolom untuk dimuat di koran, mungkin sekali duduk bisa langsung menuntaskan satu naskah. Tapi, jika menggarap novel atau buku yang berjumlah ratusan halaman, Anda tidak bisa begitu. Harus melakukannya setahap demi setahap. Dengan demikian, pekerjaan pun terasa ringan. Enteng. Tanpa beban. Sebaliknya, manakala Anda berniat hendak menyelesaikannya sekaligus atau dalam waktu singkat, pasti Anda bakal kelabakan. Selain itu, membayangkannya saja sudah terasa berat. Bisa membuat semangat Anda kendor. Mandeg di tengah jalan. Dan, tidak menutup kemungkinan menyebabkan Anda mengurungkannya sama sekali.

Barangkali Anda pernah mempunyai teman semasa kuliah yang skripsinya tak kunjung kelar hingga bertahun-tahun. Rekan-rekan seangkatannya sudah jadi sarjana, dia masih saja berkutat dengan tugas akhir. Padahal dia tidak kelewat sibuk, malah banyak santai dan bermainnya. Jika tidak didesak oleh dosen pembimbingnya, mungkin dia akan menyandang predikat mahasiswa abadi. Sayangnya, sistem seperti itu sudah tidak ada, kalau dalam waktu tujuh tahun tidak juga menyelesaikan studinya terpaksa di-drop out.

Kenapa rencana skripsi dia selalu tertunda-tunda? Karena dia tidak mau mencicilnya sedikit demi sedikit. Penginnya menulis sekali banyak, sehingga timbul perasaan berat dan malas. Lain ceritanya andai dia melakukannya setahap demi setahap, pasti akan rampung juga.

Sama halnya manakala keuangan Anda terbatas, tentu tidak bisa membeli kontan rumah mewah dengan harga ratusan juta rupiah. Kalau sadar begitu, tak ada salahnya membeli rumah sederhana secara kredit. Tiap bulan Anda menyicil ke bank, menyisihkan sebagian dari gaji. Sekiranya dapat kelebihan rezeki, bisa menambah ruang kamar, memperluas bagian dapur, atau mempercantik teras. Nanti cepat atau lambat rumah Anda jadi semakin bagus. Dan, tanpa terasa kreditan Anda akhirnya lunas juga lantaran dibayar terus-menerus secara rutin.

Jika tidak berpikir dan bertindak seperti itu, mungkin sampai tua Anda tidak akan punya rumah sendiri, selamanya ngontrak atau numpang dengan mertua. Apa tidak jadi beban hidup model begitu, heh?!

Demikian pula dalam menulis, kalau sudah tahu kemampuan terbatas, alangkah baiknya dilakukan bertahap. Yang penting, sekali lagi: kontinyu!

Jadi, selamat memelihara kesinambungan menulis. Teruslah berkarya dan berkarya….

***

Landasan Ulin, 14 Okt 2008


Posted in Mari Menulis

Meluruskan Kekeliruan dengan Tulisan

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Beberapa tahun lalu pengamat politik Eep Saefullah Fatah pernah mengungkapkan 10 butir kelemahan umat Islam di Indonesia. Salah satunya adalah, lebih suka bereaksi ketimbang melakukan aksi. Kalau kita renungkan dengan legowo dan hati jernih, pendapat tersebut ada benarnya juga. Lihatlah, dalam beberapa tahun terakhir umat Islam sering difitnah Barat, dikatakan biang teroris, doyan kekerasan, barbar, dan sejenisnya. Bahkan tak jarang dilecehkan, baik lewat tulisan, karikatur, maupun film. Menghadapi hal-hal semacam itu, lalu apa tindakan umat Islam? Kebanyakan bereaksi dengan keras, demo besar-besaran mendatangi markas kedutaan negara yang menghina Islam tersebut. Ada yang membakar ban, menggelar spanduk berisi hujatan, teriak-teriak, mencaci-maki dengan bringas, sampai melemparkan telor busuk. Malah tak jarang terjadi huru-hara, para pendemo bentrok dengan aparat kepolisian Indonesia. Lalu, dalam hal ini siapa yang rugi? Bangsa lain yang jadi pemicu, malah kita berantem dengan sesama sendiri.

Dan kejadian itu tak luput dari sorotan para pemburu berita , baik media cetak maupun elektronik, termasuk wartawan asing. Reaksi penuh emosional itu pun di-shot dan ditayangkan berulang-ulang di televisi. Alhasil, sebagian warga negara asing yang menonton adegan-adegan tersebut dibuat terpengarah, bahkan boleh jadi bergidik. Akibatnya, imej Islam di mata mereka semakin keliru, seolah menegaskan memang betul identik dengan kekerasan. Padahal jelas tidak demikian, justru Islam itu mengajarkan kasih-sayang, hadir sebagai pembawa rahmatan lil alamin. Sayangnya, karena respon yang kurang taktis tadi citra Islam jadi kurang baik.

Seharusnya kalau Islam dipojokkan, didiskreditkan, difitnah lewat tulisan, kita ‘balas’ dengan cara serupa. Argumentasi kita lawan dengan argumentasi. Misalnya, ketika Amerika Serikat seenaknya menuding Islam teroris, kita beberkan berbagai fakta dan data kebobrokan negeri adikuasa tersebut, di antaranya yang secara terang-terangan membombardir Irak; bukan hanya tentara pendukung Saddam Husien yang tewas, ribuan wanita dan anak-anak tak berdosa juga ikut jadi korban. Padahal, tuduhan bahwa negeri 1001 malam itu mengembangkan senjata kimia pemusnah massal sampai kini tidak pernah terbukti. Hanya akal-akalan AS untuk melegalkan ambisi mereka mencaplok negara lain. Jadi, dalam hal ini siapa yang sebenarnya teroris dan biadab?

Seandainya para cendekiawan Muslim gencar melakukan pelurusan fakta melalui tulisan, insya Allah cepat atau lambat prasangka dan kekeliruan terhadap Islam dapat diminimalisir. Bahkan tidak tertutup kemungkinan mereka yang tadinya antipati terhadap Islam berbalik menjadi pengikut ajaran yang dibawa Muhammad SAW ini.

Contoh langkah strategis untuk menjernihkan Islam dari stigma negatif begitu elok dilakukan oleh Abdurrahman El-Shirazy. Dalam novelnya yang sangat fenomenal berjudul Ayat-Ayat Cinta, ia menyisipkan dialog antara tokoh wartawati asing (maaf, saya lupa namanya) dengan tokoh utama Fahri seputar beberapa anggapan buruk Barat terhadap Islam. Dengan porsi yang cukup panjang Kang Abik mencoba meluruskan kesalahpahaman-kesalahanpahaman itu lewat karya fiksinya. Sayang, ketika novel AAC ini difilmkan oleh sutradara Hanung Bramanto dialog-dialog tersebut terpotong karena dipastikan bakal memakan banyak durasi.

Saya pikir, kiat yang dilakukan oleh Kang Abik untuk meluruskan kekeliruan orang-orang terhadap Islam itu jauh lebih efektif dan berdaya gugah tinggi ketimbang menggelar orasi atau unjuk rasa.

Menyelamatkan Generasi

Ternyata serangan-serangan pemikiran untuk menghantam dan melemahkan Islam tidak hanya datang dari luar, juga berasal dari dalam (intern) Islam itu sendiri. Saya sempat terperangah ketika Adrian Husain dalam sebuah seminar di Rektorat IAIN Antasari Banjarmasin memperlihatkan di LCD beberapa buku berbahaya yang dapat menggerogoti aqidah dan keyakinan umat Islam. Salah satunya berjudul Indahnya Perkawinan Sejenis. Belum lagi buku-buku lain, di antaranya yang membolehkan perkawinan beda agama.

Celakanya lagi, buku-buku dimaksud ditulis oleh mereka yang mengecap pendidikan tinggi, rata-rata bergelar doktor. Mereka adalah orang-orang yang mengagungkan rasionalitas, namun sesungguhnya kebablasan. Bayangkan, hadis-hadis Rasulullah dikatakan sejajar dengan puisi. Alquran itu hanya produk budaya, dan untuk memperkuat pendapatnya itu – kebetulan seorang dosen, ia tak segan-segan menginjak-injak Alquran di hadapan para mahasiswanya. Apa tidak keblinger, hah?!

Double celakanya lagi, kelompok ini sangat akrab dengan ilmu filsafat. Logika mereka mantap. Argumentasi yang dikemukakan pun begitu meyakinkan. Juga didukung dengan kutipan ayat-ayat Alquran, tapi bersifat sepotong-sepotong bahkan ada yang kalimat-kalimatnya sengaja dimanipulasi atau diplentir. Bentuk penyimpangan dan ketersesatan yang mereka tawarkan teramat halus. Sehingga, jika kita kurang jeli dan kritis akan terhasut dan termakan ‘propaganda’ mereka. Buktinya, kini tidak sedikit kalangan awam dan terdidik yang menjadi pengikut fanatiknya.

Ironisnya, menghadapi buku-buku yang dapat mencuci otak dan meracuni aqidah generasi Islam tersebut, kaum cendekiawan kita justru banyak yang berdiam diri. Kalaupun mengoreksi, sekadar menghujat lewat omongan. Hanya segelintir orang yang mau meluruskan dengan tulisan. Padahal, di Indonesia ini kita tidak kekurangan ahli Alquran, pakar hadis, serta para ilmuwan cabang-cabang keislaman lainnya. Jika bukan mereka, siapa lagi yang akan membongkar dan meluruskan kekeliruan-kekeliruan tersebut? Bila tidak, dikhawatirkan bakal banyak lagi generasi berikut yang jadi korban dan luput terselamatkan dari ketersesatan.

Andai mau direntangkan, tentu lebih beragam lagi bentuk kekeliruan yang terjadi di masyarakat. Kita tidak bisa menutup mata dari praktik-praktik keliru yang masih saja dilakoni sebagian umat Islam, seperti kepercayaan yang berbau animisme, mitos-mitos yang membodohi, tahayul, klenik, bid’ah, kurafat, bahkan kemusyrikan terselubung. Simaklah, hingga hari ini di televisi kita begitu marak tawaran kepada pemirsa untuk mengirimkan SMS agar dapat mengakses ramalan, zodiak, primbon, dan sejenisnya. Bahkan, sampai kini masih ada pejabat yang percaya dan datang minta bantuan pada dukun atau paranormal agar kekuasaannya bisa langgeng.

Berbagai kesalahpahaman, kekeliruan, kebodohan, kesesatan, kemunkaran, apabila dibiarkan berlarut-larut, bisa-bisa dianggap sebagai kelaziman. Sesuatu yang tadinya hitam, akhirnya menjadi abu-abu. Kebenaran pun semakin kabur.

Karena itu, kalau Anda merasa punya tanggungjawab terhadap kemurnian agama, moral, dan kehidupan sosial, begitu melihat kekeliruan segera luruskan dengan cara mengangkat pena. Sebab, membiarkan semua itu terjadi di depan mata tanpa berbuat apa-apa, sama artinya dengan menyetujui. Apa Anda mau dicap begitu? Makanya, cepat tulis. Jangan tunggu besok, apalagi bulan depan. Ayo, tulislah sekarang juga!

*** Landasan Ulin, 13 Okt 2008.


Posted in Mari Menulis