Oleh: Aliansyah Jumbawuya
Dalam persepsi saya yang berasal dari kampung udik ini, kalau seseorang berhasil jadi sarjana berarti dia pantas dikategorikan pintar. Bukankah di perguruan tinggi itu ladangnya buat menuntut ilmu? Terlebih-lebih di Indonesia – jika mau dipersempit lagi Kalsel – cukup banyak yang menyandang gelar profesor, doctor, dan master. Bahkan tak sedikit yang jebolan dari berbagai universitas luar negeri. Mereka itu tentunya berotak brilian. Kalau tidak, bagaimana mungkin bisa melewati jenjang pendidikan yang terbilang wah. (Kecuali bagi yang dapat gelar dari membeli ijazah aspal, itu sih nggak perlu diomongin. Kasihan aja, kok mau-maunya menipu diri sendiri. He.. he…)
Artinya, untuk mencari pakar di bidang tertentu rasanya di negeri ini tidaklah sulit. Sayangnya, mereka yang punya bekal dan stok ilmu seabrek tersebut terkesan membiarkan ‘harta karun’-nya sekadar ngedon di batok kepala. Kalau mau diprosentasikan, hanya segelintir orang di antara para ahli itu yang melakukan upaya transfer of knowledge melalui tulisan. Selebihnya, adalah jago-jago omong. Pandai berbicara, tapi kikuk dalam menulis.
Saya sering terkagum-kagum menyaksikan narasumber maupun penanggap diskusi, seminar, lokakarya, sarasehan, atau apapun namanya, yang berbicara begitu berapi-api. Pikiran-pikiran yang dibentangkannya pun terbilang luar biasa. Gagasan-gagasan yang dikemukakan, bukan cuma masuk akal, bahkan bisa membawa khalayak keluar dari kejumudan. Si bersangkutan tidak hanya pandai menganalisis dan menguliti masalah, juga mampu menawarkan alternatif solusi. Malah, hal-hal yang belum terpikirkan orang lain, olehnya sudah lama jadi bahan perenungan. Saking bersemangatnya berbicara, batas waktu yang disediakan panitia pun dilanggarnya. Akibatnya, peserta-peserta lain yang tak kalah bernafsu dan antusiasnya untuk angkat bicara, protes karena merasa tidak diberi kesempatan. Bagi yang bermuka tebal, walaupun di belakangnya terdengar celetukan-celetukan dan cemoohan bagai suara lebah mendengung, ia tetap saja ngotot meneruskan omongannya. Andai tidak segera diingatkan oleh moderator, mungkin ia akan terus berbicara, sampai mulut berbusa-busa.
Sementara, mereka yang tak kesampaian niatnya untuk berbicara, mungkin lantaran tidak puas, begitu forum dialog usai, kemudian sepakat melanjutkan pembicaraan di pojok ruangan. Makanan prasmanan yang disediakan pihak penyelenggara pun tak sepenuhnya dinikmati. Ada hal lain yang lebih penting, uneg-unegnya harus didengar!
Ternyata, meskipun sifatnya informal perdebatan lanjutan itu tak kalah serunya. Masing-masing berkomentar, membentangkan isi pikirannya. Kadang supaya kelihatan intelektualnya, mereka menggunakan berbagai terminologi yang susah dimengerti. Kalau perlu bahasan yang diangkat sengaja yang berat-berat. Ibarat dalam dunia tasawuf, orang lain masih pada tingkatan ‘syariat’ mereka sudah pada tataran ‘makrifat’. Sehingga, yang mendengar hanya bisa manggut-manggut, pura-pura mengerti. Bagaimana mau menyanggah, lha ilmu mereka jauh lebih tinggi…
Sayangnya, ide-ide brilian kaum intelektual tersebut tidak dituangkan dalam bentuk tulisan. Akibatnya, ia mudah meruap begitu saja. Hilang seiring dengan berlalunya waktu. Karenanya, sehebat apapun gagasan yang dipunyai tidak banyak memberi arti.
Lain ceritanya jika ‘diabadikan’ dalam tulisan dan dipublikasikan, entah berapa ratus atau ribu jiwa yang tercerahkan. Atau siapa tahu wacana yang dipaparkannya bisa mempengaruhi para pengambil kebijakan, sehingga perbaikan yang diharapkannya bisa terwujud. Dan itu pasti jauh lebih bermakna daripada sekadar omong doang.
Tanggungjawab Moral
Herannya, ketika didesak kenapa para intelektual tadi tidak menulis, beragam dalih pun mereka kemukakan. Dari tidak banyak punya waktu sampai kesulitan menuangkan gagasan dengan tulisan.
Menurut saya, kaum cerdik pandai tersebut bukannya tidak bisa menulis, melainkan enggan. Bayangkan, menggarap makalah, skripsi, tesis, desertasi yang tingkat kesulitannya jauh lebih tinggi saja mereka mampu. Masak menulis esei, artikel, di media massa yang panjangnya cuma 3-5 lembar kuarto tidak sanggup? Inti persoalannya justru terletak pada ketiadaan motivasi yang kuat untuk menulis.
Padahal, sebagai cendekiawan mereka punya tanggung jawab moral dan sosial untuk mencerdaskan dan mencerahkan masyarakat. Misalnya di kancah politik, kenapa hari ini orang-orang yang moralnya bobrok atau pendidikannya tidak memadai, kok bisa lulus masuk lembaga legeslatif? Bukan berita spektakuler lagi kalau seseorang yang tadinya makelar, tukang ojek, pengangguran luntang-lantung, bahkan suka main perempuan, ternyata pada pemilu lalu terpilih sebagai anggota DPR/DPRD. Itu bisa terjadi karena pendidikan politik di negeri ini masih rendah, sehingga masyarakat kurang bisa memilih wakil rakyatnya dengan jeli. Semua itu, mau diakui atau dipungkiri, sedikit-banyaknya akibat ‘dosa’ kaum intelektual yang minim dalam memberikan pendidikan politik. Salah satunya lantaran malas berbagi pengetahuan lewat tulisan.
Karena itu, dalam kesempatan ini saya mengajak para pengamat politik, pakar hukum, budayawan, psikolog, sosiolog, antropolog, seksolog, pemerhati lingkungan hidup, dosen, ulama, aktivis LSM, dan lain-lain, untuk menulis sesuai bidang dan keahliannya masing-masing. Jangan sampai kita termasuk orang menyembunyikan ilmu, sebab dalam ajaran Islam manusia kategori ini kelak di akhirat akan dilaknat Allah. Sungguh, kita berlindung dari hal demikian!
Sekarang ini beragam problem mendera bangsa kita. Mulai kenakalan remaja hingga kerakusan penguasa. Dari hal yang kelihatannya sepele namun cukup krusial, sampai permasalahan teramat serius. Semua itu, membutuhkan sumbangsih pemikiran siapa saja, terutama dari kaum cerdik pandai. Supaya pemikiran si bersangkutan dapat dicerna oleh banyak orang, bahkan lintas waktu dan generasi, alangkah baiknya menggunakan media tulisan.
Kalau cuma ‘jual’ omong, pedagang obat di pasar kaki lima jauh lebih hebat. Maka, agar tidak disebut gombal, bagaimanapun caranya kalangan intelektual harus terbiasa dan piawai menulis.
Alangkah ruginya kita menuntut ilmu puluhan tahun, sampai rela menjual tanah warisan dan terpisah dari anak-isteri, demi mewujudkan impian meraih gelar setinggi mungkin; tapi begitu tercapai, ilmu yang dimiliki hanya untuk dinikmati sendiri. Orang lain tak banyak tahu bahwa kita sebenarnya punya sumur pengetahuan – apalagi untuk mengambil manfaat darinya — karena salah kita sendiri tidak pernah mengucurkannya lewat tulisan. Begitu ajal tiba, segala ilmu yang kita peroleh dengan susah-payah juga ikut sirna. Sungguh, betapa naifnya!
Beda kalau ilmu itu kita transfer dan investasikan dalam tulisan, walaupun kita telah meninggal dunia, generasi berikut tetap bisa menikmatinya. Setiap ada yang memetik manfaat darinya, tentu sepanjang itu pahala terus mengalir pada kita.
Jadi, masihkan para ilmuwan, cendekiawan, intelektual, cerdik-pandai, kaum terpelajar, atau apapun sebutannya, enggan untuk menulis???
***
Landasan Ulin, 11 Okt 2008
Oleh: Aliansyah Jumbawuya
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”
(QS Ali ‘Imran: 104)
Beragam problem sampai sekarang membelit bangsa Indonesia. Dari kebodohan, keterbelakangan, kemaksiatan hingga patologi sosial yang akut. Kadang kejahatan itu bukan hanya dilakukan individual, malah berjamaah. Korupsi di era reformasi bukannya menurun, justru menjadi-jadi, merambah di segala lini kehidupan. Korban narkoba terus berjatuhan. Perzinahan terjadi di mana-mana. Aborsi meningkat. Sensualitas dikomersilkan. Tayangan televisi hampir setiap hari menyajikan artis dan model yang tanpa risih – bahkan terkesan bangga – pamer aurat. Dan itu tidak hanya dikonsumsi kalangan dewasa, juga anak-anak. Kalau kenakalan remaja (yang masih mencari identitas diri) mungkin masih bisa dimaklumi, tapi kalau seorang aki yang sudah bau tanah berbuat mesum itu sungguh keterlaluan. Ingat, kasus anggota DPR yang sudah ubanan beradegan ranjang dengan artis dangdut. Fatalnya lagi, prilaku bejat tersebut direkam dalam video. Coba pikir, apa dia sudah tidak punya rasa malu?
Kalau mau terus membeberkan, pastinya banyak lagi bentuk kemunkaran yang terjadi di sekitar kita. Intinya, di manapun kejahatan itu selalu ada. Ia merupakan batu ujian bagi keimanan kita semua.
Namun ketika melihat ketidakberesan di depan mata, kita tidak boleh berdiam diri. Membiarkan semua itu terjadi, tanpa berbuat apa-apa, sama artinya dengan merestui. Apa kita mau dicap bersengkongkol dengan kemaksiatan? Perbuatan dosa jika ditolerir yang menanggung akibatnya bukan cuma si pelaku, masyarakat di sekitarnya juga ikut terkena getahnya.
Ibaratnya di sebuah kampung terjadi kebakaran, ketika seorang warga yang berprofesi dokter dimintai bantuan memadamkan api ia kemudian berkata, “Maaf, tugas saya adalah menyembuhkan orang sakit.” Begitu pula ketika datang pada seorang guru, ia berucap: “Sorry, tugas saya adalah mencerdaskan anak didik.” Kalau petani, pedagang, tukang ojek, pekerja bengkel, masing-masing mengklaim itu bukan tanggung jawabnya, mengharapkan sepenuhnya pada anggota BPK (bantuan pemadam kebakaran), apa yang terjadi? Bisa dibayangkan, kobaran api akan terus merembet hingga ikut meluluh-lantakkan rumah mereka yang tadinya menolak untuk berpartisipasi.
Karena itu, berdakwah bukan hanya tugas para ulama. Setiap muslim punya kewajiban untuk beramar ma’ruf nahi munkar. Sampaikanlah kebenaran walau satu ayat, begitu pesan Rasulullah.
Angkat Pena
Jika kita cermati fakta di masyarakat, tak dipungkiri bahwa dakwah bil lisan masih mendominasi dibanding dakwah bil kalam. Mungkin karena berbicara itu jauh lebih gampang ketimbang menulis, sehingga menjadi pilihan banyak orang. Bukan berarti kita menyepelekan kontribusi para mubaligh yang menggunakan metode lisan, tapi alangkah bagusnya lagi andai dibarengi dengan tulisan. Sebab, biasanya ceramah itu hanya dihadiri jamaah yang tinggal di sekitar pengajian tersebut. Apalagi tidak semua warga bisa datang, mungkin karena punya kesibukan. Terlebih di kalangan remaja, hanya sedikit di antara mereka yang doyan datang ke majelis taklim. Kecuali, bagi yang benar-benar punya motivasi kuat untuk mendapatkan siraman rohani.
Selain itu, materi ceramah yang disampaikan secara lisan relatif lebih mudah raib dari ingatan. Kadang jamaah yang pulang dari pengajian, belum lagi sampai di rumah sudah lupa dengan uraian hikmah yang dipaparkan sang ustadz. Yang nyantol di kepala dia justru cerita lucu atau anekdotnya, padahal itu oleh penceramah sekadar dimaksudkan sebagai selingan untuk menghidupkan suasana.
Beda dengan tulisan, ia bisa dibaca berulang-ulang, kapan dan di mana saja. Misalnya, saat dalam perjalanan naik mobil, ketika menunggu giliran antre mengambil obat di apotik, tatkala santai di rumah, atau di kasur empuk sebelum tidur. Bahkan, orang super sibuk sekalipun masih bisa menimba ilmu melalui perantara tulisan.
Artinya, dakwah yang dikemas dalam bentuk tulisan jauh lebih awet ketimbang yang dilakukan secara lisan. Daya jangkaunya juga lebih luas, menembus sekat ruang dan waktu. Buktinya, tulisan para ulama yang dibuat ratusan tahun silam masih bisa dinikmati oleh generasi kini. Bahkan generasi mendatang, berikutnya, serta berikutnya lagi, senantiasa dapat mengambil manfaat darinya.
Maka, beruntunglah Imam Ghazali, Syafi’i, Maliki, Hanafi, Hambali, Ibnu Taimiyah, Syekh Abdul Qadir Jailani, Al-Razi, Ibnu Sina, Muhammad Abduh, Syekh Abdussamad Palembangi, Kiai Haji Agus Salim, KH Ahmad Dahlan, Buya Hamka, Nurcholis Madjid, Kontowijoyo, dan lain-lain, yang semasa hidupnya sempat menulis buku. Sepanjang karya mereka dibaca orang dan mampu memberikan pencerahan, maka selama itu pula pahala akan mengalir pada yang bersangkutan. Bukankah setelah mati, maka seketika itu juga putuslah amaliah seseorang. Kecuali tiga perkara yang dapat menyambung, di antaranya ilmu yang bermanfaat bagi orang lain.
Setiap manusia suatu saat pasti akan mati. Ini suatu keniscayaan, siapapun tak mungkin dapat mengelak. Maka, sebelum ajal menjemput, alangkah eloknya jika kita meninggalkan karya yang berharga. Jasad penulis boleh terkubur, tapi tulisannya akan senantiasa langgeng.
Jika kita telusuri, sesungguhnya menulis itu adalah tradisi Islam. Ingat, Syaiddina Ali bin Abi Thalib ra pernah berpesan: “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.” Ucapan ini hendaknya jadi renungan kita semua agar memiliki motivasi yang kuat untuk mengangkat pena.
Dalam konteks Kalsel, kita pernah punya ulama panutan Syekh Arsyad Al-Banjari. Setiap tahun haul beliau diperingati. Tapi ada satu hal yang sering terlupakan, bahwa Datu Kelampayan selain berdakwah dengan lisan dan perbuatan, juga lewat tulisan. Salah satunya karya Syekh Arsyad yang terkenal adalah kitab Sabilal Muhtadin. Semangat dan keteladan berdakwah menggunakan metode tulisan inilah yang acapkali terabaikan oleh kita.
Bagaimanapun kita perlu lebih banyak lagi ulama yang disamping pandai berceramah sekaligus pula piawai menulis. Sebutlah, seperti KH Husin Nafarin, Prof HM Asywadie Syukur, Drs Murjani Sani, H. A Hafiz Anshary, Abdurrahman SH MH, Prof Jurkani Jahja (alm), dan lain-lain.
Perlu disadari pula, bahwa berdakwah dengan tulisan itu tidak melulu dalam bentuk ulasan keagamaan yang sarat dengan ayat-ayat Alquran, hadis-hadis, maupun fatwa-fatwa ulama. Untuk menyentuh dan menarik minat berbagai kalangan atau lapisan masyarakat, kita bisa lebih ‘cair’ serta fleksibel. Umpamanya melalui puisi (sebagaimana dilakoni Emha Ainun Nadjib, KH Mustafa Bisri, Taufik Ismail, Eza Thabry Husano, Abdurraham El-Husein, dll), cerpen (sebagaimana dilakukan Danarto, Ahmadun Yosi Herfanda, Helvy Tiana Rosa beserta anggota Forum Lingkar Pena lainnya), novel (sebagaimana digeluti Pipiet Senja, Habiburrahman El Shirazy, dll). Atau, memotivasi orang agar giat bekerja dan optimis menyongsong masa depan (sebagaimana digalakkan Toto Tasmara), memberikan kiat-kiat bagaimana membentuk keluarga sakinah dan mendidik anak yang baik (sebagaimana ditekuni Mohammad Fauzil Adhim) juga bagian dari dakwah. Bahkan tulisan homur yang bisa membuat orang sedih jadi ketawa, dapat dikategorikan dakwah.
Intinya, tulisan apapun yang mampu menghantar orang pada kualitas kehidupan yang lebih baik itu adalah dakwah.
Nah, apakah Anda mau ikut ambil bagian berdakwah dengan tulisan seperti mereka? Segera ambil dan gerakkan pena Anda!
***
Landasan Ulin, 16 Okt 2008
Tentang penulis
The author does not say much about himself
Cari
Navigasi
Kategori:
Tautan:
Arsip:
Feed
Theme: Supposedly Clean by Alvin Woon. Blog pada WordPress.com.