Judul : Sharpening Our Concept and Tools
Penulis : BS. Wibowo, dkk
Penerbit : PT Syaamil Cipta Media
Tebal : xviii + 520 hlm
Manusia adalah sebaik‑baik makhluk yang diciptakan Allah SWT, karena dibekali dengan akal, semangat, iman dan struktur fisik yang sempurna. Segala potensi tersebut akan menjadi mubazir atau bermanfaat, tergantung pada bagaimana kita memberdayakannya. Hal itu sekaligus akan menentukan tingkat kualitas kita dalam lingkungan sosial (integritas horizontal) maupun dengan al‑Khalik (kepatuhan vertikal).
Dalam sebuah hadis disebutkan, bahwa sebaik‑baik manusia ialah yang paling berguna bagi sesama. Supaya keberadaan kita membawa berkah/kemanfaatan, minimal kita harus mandiri dan berprestasi.
Untuk menjadi insan yang produktif, kita mesti pandai mengelola seluruh potensi yang kita miliki. Kalau manajemen Barat umumnya lebih menitikberatkan pada pencapaian prestasi yang bersifat keduniawian, maka tidak demikian halnya dengan manajemen islami, yang mengacu pada konsep keseimbangan dunia‑ukrawi.
Manajemen model Trostco menawarkan alternatif pengembangan diri, tim dan lembaga yang berbasis pada keseimbangan spritual, emosional, intelektual, fisik, dan profesionalisme. Kelima unsur tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh. Artinya, seseorang belum bisa dikatakan sukses jika pemenuhan terhadap salah satu unsur diatas menyebabkan terabainya unsur lain.
Misalkan, apa gunanya memiliki materi yang berlimpah, kalau kesehatan fisik buruk lantaran kelewat sering memporsir tenaga dan pikiran. Atau, apa artinya punya karir cemerlang kalau tidak ditopang dengan kekuatan spritual, karena semua itu takkan berlangsung langgeng.
Dulu para ahli ilmu jiwa sempat mengklaim bahwa kesuksesan seseorang sangat ditentukan oleh tingkat IQ-nya. Belakangan hipotesa tersebut dibantah, dan kini orang mulai menekankan pentingnya Emosional Quotient dan Spritual Quotient.
Faktor penyebab utama kenapa bangsa Indonesia sampai sekarang dilanda krisis multi‑demensional, karena kita lebih memfocuskan pada pembangunan material ketimbang mental. Akibatnya, untuk mengejar target‑target tertentu orang tak lagi mertimbangkan halal‑haram, sehingga apa yang dicapai jauh dari keberkahan Allah. Padahal tanpa landasan aqidah, cepat atau lambat akan berujung pada kehancuran.
Di sinilah, sekali lagi kita diingatkan akan pentingnya mengedepankan sisi spiritual.
Dimensi spiritual berupaya mempertahankan keharmonisan atau keselarasan dengan dunia luar, berjuang untuk menjawab atau mendapatkan kekuatan ketika sedang menghadapi stres emosional, penyakit fisik, atau kematian (hal: 40).
Bahkan seluruh rahasia kesuksesan berpangkal dari pengejawantahan nilai‑nilai spiritual (agama) ke dalam aktivitas sehari‑hari. Karena barangsiapa mencintai Allah, maka dunia pun akan mudah digenggamnya.
Ketika seseorang menyakini kehadiran Allah dalam dirinya, niscaya segala tantangan dan kesulitan terasa ringan. Sebagaimana janji Allah bahwa dibalik kesulitan itu terdapat kemudahan. Dari sinilah akan muncul kepercayaan diri.
Selain itu, amaliah yang didasari niat ikhlas semata untuk mencapai ridha Allah, kalau berhasil akan mendatangkan rasa syukur; sebaliknya kalau pun gagal juga tidak akan mengakibatkan kekecewaan, apalagi sampai berputus asa dari rahmat Allah.
Motivasi untuk melakukan kebaikan sangat dipengaruhi kekokohan spritualitas kita. Emosi dan motivasi yang tidak berakar pada nilai‑nilai spritual, laksana pohon tinggi yang rawan patah jika diterjang badai (hal: 57).
Berapa banyak orang yang tadinya mapan dari segi finansial, namun karena imannya kropos dan mudah tergiur berbuat maksiat, akhirnya hartanya ludes dengan cara sia‑sia, dihambur‑hamburkan untuk foya‑foya atau bermain judi. Hal ini membuktikan, bahwa siapapun yang menyimpang dari risalah Allah bakal menuai kekalahan, jauh dari hakekat kesuksesan dunia‑akhirat.
Keyakinan atas talenta pribadi, kemampuan mengenali kesempatan, kesungguhan untuk menjadi yang terbaik, kesadaran akan pentingnya membangun komunikasi dan relasi, adalah bagian dari strategi pengembangan SDM. Kiat‑kiat ini sesungguhnya telah tertuang dalam Alquran maupun al‑hadis. Tinggal bagaimana kita menggali dan memformulasikan dalam aktivitas sehari‑hari.
Buku yang merujuk pada ajaran Islam ini, sangat cocok dimiliki oleh kalangan muslim yang punya dedikasi untuk meningkatkan kualitas diri. Apalagi di era globalisasi yang kian kompetitif ini, agar eksistensi umat Islam layak diperhitungkan dan berdaya saing tinggi, maka diperlukan usaha terus‑menerus untuk mengembangkan SDM yang berbasis keagamaan. aliansyah jumbawuya
***
jadi serasa disemangatin nih!
Komentar oleh hamsi — September 12, 2008 @ 2:36 am
tulis pang resensi untuk buku2 orang banjar yang sudah kuunjuki… dimulai dari bukukukah…(hehe)
Komentar oleh hajriansyah — Juni 25, 2009 @ 6:50 am