Padepokan Pena - Gemar Membaca Giat Menulis

Sosok Pemimpin Dekat dengan Ulama | Sep 05th 2008

Judul buku: H. Sjachrani Mataja

(Perjalanan Berliku Menuju Puncak)

Penyunting: Hatmansyah, dkk

Penerbit : Comdes Kalimantan

Tebal : xl + 298 hlm

Penting bagi warga untuk mengenal sosok pemimpinnya secara lebih detil, bukan sekadar tahu nama atau sepintas melihatnya pada kegiatan-kegiatan seremonial belaka. Dengan begitu, masyarakat bisa menilai karakteristik si pemimpin secara lebih objektif dan jernih sehingga jauh dari prasangka sosial ataupun pengkultusan individu yang didasari fanatisme.

Dalam kacamata proporsional pemimpin tetaplah seorang manusia biasa, yang punya berbagai kelebihan dan kekurangan. Karena itu dalam kiprahnya untuk membangun banua, seorang pemimpin senantiasa membutuhkan partisipasi dari warganya. Juga kritik konstruktif bagi perbaikan bersama di masa-masa mendatang.

Pemimpin yang matang lahir dari proses panjang, bukan karbitan atau epigon dari bayang-bayang kebesaran orangtuanya. Ia dipilih jadi pemimpin karena memang potensi dirinya mendukung untuk itu.

Sebagaimana ditegaskan Drs Masdari MSi, dalam pengantar buku ini, bahwa untuk memiliki syarat-syarat kepemimpinan itu bukanlah perkara gampang, person bersangkutan musti melewati pergulatan panjang. Disinilah diperlukan keuletan, ketabahan, keyakinan diri di dalam memadukan ikhtiar dan doa. Juga tak boleh dilupakan untuk senantiasa mengembangkan kemampuan manegerial skill, mental dinamis, integratif, komunikatif, keberanian mengambil resiko, dan lain sebagainya.

Dalam buku “H. Sjachrani Mataja, Perjalanan Berliku Menuju Puncak” ini Hatmansyah dkk mencoba mengangkat figur tokoh lokal, yang saat ini menjabat sebagai bupati Kotabaru.

Bab I dari buku ini merupakan bagian paling menarik, sebab cukup kental dengan gaya penulisan human interes. Masa kecil Sjacrani yang sarat oleh berbagai cobaan, menegaskan betapa penuh liku perjalanan yang harus dilaluinya. Kisah sedih itu bermula sekitar tahun 1956, ketika sang Abah, Mataja, ternyata menikah lagi untuk kedua kalinya. Hj. Siti Maryam, ibunda Syachrani, tak bisa terima sehingga berbuntut pada perceraian. Maka, sejak itulah ia mengasuh putranya single parent. Berbagai profesi pun pernah digeluti Hj. Maryam seperti berjualan gado-gado, soto, barang kelontongan, nasi kuning, pisang dan gumbili goreng, demi kelangsungan hidup putranya.

Bahkan mereka pernah diusir dari rumah kontrakan lantaran tidak mampu lagi membayar uang sewa. Latar belakang kehidupan serba prihatin itulah yang kemudian mencetak Sjahrani Mataja menjadi pribadi yang tegar, kreatif, dan mandiri.

Habis pulang sekolah ada pekerjaan rutin yang dilakukan Sjahrani kecil, yaitu menimba air di bawah gunung Dulahit yang jaraknya sekitar 300 meter dari rumah hingga satu drum penuh. Sudah itu barulah ia membantu ibunya berjualan di pasar.

Selain itu, ia juga pernah berjualan pisang goreng, dadar gulung, keliling kampung dengan menjunjung nyiru.

“Pernah terjadi suatu hari saya pulang ke rumah dengan derai airmata, menangis. Ketika saya sedang meniti sebuah jembatan keci, saya terjatuh dan semua jualan pun terbalik habis,” kenang Sjahrani Mataja (hal: 10).

Meski kondisi ekonominya susah, tapi kenyataan itu tidaklah menyurutkannya untuk terus melanjutkan sekolah. Malah pernah menjelang ujian akhir kelas III SMEA Negeri Kotabaru ia hampir saja dikeluarkan dari sekolah karena tak mampu membayar SPP sekian bulan. Untunglah, setelah mendengar penjelasan Sjahrani sang kepsek mau bermurah hati membolehkannya ikut ujian.

Di mata guru-gurunya, sejak kecil Sjahrani sudah menampakkan jiwa kepemimpinannya. Sehingga tak heran kalau ia sering dipercaya menduduki jabatan-jabatan penting baik di tempat ia bekerja maupun di masyarakat.

Tahun 1958 ibundanya menikah lagi dengan Anang Masri. Justru dari ayah tirinya inilah Sjahrani banyak mendapat gemblengan ilmu agama. Sesibuk apapun, begitu terdengar adzan Maghrib dia selalu menyuruh anak-anaknya agar segera pergi ke langgar untuk shalat berjamaah. Dari situlah pulalah Sjahrani termotivasi untuk belajar mengaji Alquran, mendalami ilmu tauhid, fiqih, dan akhlak tasawuf.

Karena rajin belajar ilmu agama, tak heran di kalangan warga kampung Higa Gunung mereka cukup akrab mendengar adzan dan qamat yang dikumandangkan Sjahrani.

Ia juga aktif bersama kawan-kawan pengurus remaja langgar al Mustaqim mempelopori berbagai kegiatan keagamaan seperti mengadakan acara Mauludan, Isra Mi’raj, perayaan Tahun Baru Islam, sehingga membuat syiar keagamaan di kampungnya menjadi semarak. Belakangan, kehidupan Sjahrani yang sangat agamis ini pulalah yang menyebabkan ia selalu dekat dengan para ulama (hal: 27).

Dalam buku ini juga memuat sisi kesenimanan Sjahrani, baik sebagai anak band maupun pencinta sastra. Serta tak ketinggalan, proses bagaimana hingga ia bisa diangkat jadi bupati Kotabaru periode 2000-2005.

Menyimak kisah hidup Sjahrani Mataja ini pembaca bisa mengambil hikmah, bahwa untuk menuju puncak kesuksesan itu ada anak tangga yang harus dilewati, selain mengandalkan ikhtiar juga perlu ditopang dengan doa. aliansyah jumbawuya

***


Posted in Resensi Buku

& Komentar »

  1. tulis, tulis, tulis, teruslah menulis,,,,,
    izin menaut ke http://bubuhanbanjar.wordpress.com/

    Komentar oleh wajidi — Juni 30, 2009 @ 3:59 am

    • oke bos….

      Komentar oleh padepokan2pena — Juli 24, 2009 @ 5:14 am


Ada yang ingin disampaikan?RSS Komentar URI Lacak Balik