Padepokan Pena - Gemar Membaca Giat Menulis

Kiat Melestarikan Bahasa Banjar | Sep 02nd 2008

Judul buku: Mandulang Intan

Penulis : Drs HM Syamsiar Seman

Penerbit : Lembaga Pendidikan Banua Banjarmasin

Tebal : vi + 52 halaman

Semangat dan dedikasi Syamsiar Seman untuk memelihara dan melestarikan khasanah budaya Banjar begitu tinggi. Sudah banyak buku-buku tentang sejarah lokal, adat budaya, kesenian daerah, cerita rakyat, pantun, pribahasa, permainan tradisional, yang terkait erat dengan Banjar ditulis olehnya. Kali ini dia kembali meluncurkan tiga jilid buku yang memfocuskan pada pembelajaran bahasa.

Salah satunya lewat buku Lancar Basa Banjar Gasan SD Kelas 4 ini, ia mencoba memperkenalkan sejak dini kepada anak-anak seputar kehidupan para pendulang intan. Meskipun intan Martapura terkenal sampai ke seluruh dunia, namun untuk mendapatkannya tidaklah semudah seperti yang dibayangkan orang. Bahkan sebelum menentukan lokasi pencarian terlebih dahulu bertanya kepada orang pintar yang lazim disebut Malim. Juga disertai dengan doa, memohon kepada Allah SWT. Kalau ketemu intan mereka serentak mengucap shalawat.

Ini menunjukkan bahwa dalam mencari rejeki masyarakat Banjar selain mengandalkan ikhtiar juga tak lupa bertawakal kepada Al-Khalik. Selama mendulang, mereka tidak diperkenankan berkata-kata atau berprilaku sembarangan. Jika pantangan ini dilanggar, ada semacam keyakinan tidak akan memperoleh intan yang dicari-cari. Bahkan kalau menyebut intan harus diganti dengan panggilan Galuh.

Setelah memaparkan wacana Mandulang Intan di atas, yang keseluruhan isinya dalam bahasa Banjar, berikutnya penulis menyodorkan beberapa pertanyaan terkait ihwal dimaksud. Dengan begitu diharapkan tingkat pemahaman anak-anak tentang pendulangan intan bisa melekat kuat dalam ingatan.

Wacana yang dipilih memang sengaja yang berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat Banjar. Misalnya, tentang Pangeran Antasari, Musik Panting, Carita: Si Picak Lawan Si Bungkuk, Pantun Balulucuan, Pribahasa Urang Banjar, dan permainan Batungkau.

Ternyata bahasa Banjar juga memiliki keunikan dan kekayaan tersendiri. Untuk kata yang sama bisa pula mengandung dua arti yang berbeda. Dicontohkan kata lamak bisa berarti gendut atau lemak yang terdapat pada makanan, tergantung pada konteks kalimat yang menyertainya. Juga ada yang namanya sinonim, antonim, atau kata sepadan yang maknanya rada mirip.

Sebagai mantan guru SR, SMP, dan dosen, Syamsiar cukup akrab dengan dunia pendidikan. Karena itu, dia paham betul bagaimana membuat soal-soal yang disesuaikan dengan tingkatan usia peserta didik. Seperti pilihan ganda, melengkapi kalimat dengan pilihan kata yang disediakan di sebelahnya, dan lain-lain.

Menariknya lagi, pada bagian akhir buku ini juga disediakan semacam teka-teki silang, yang dalam istilah Syamsiar dinamai Tatangguhan Sulang-Sali (TSS) dengan latar-belakang gambar iwak kalui. Dengan demikian murid tidak hanya dituntut serius dalam mempelajari bahasa Banjar, melainkan disisipkan pula hiburan. Dengan begitu, diharapkan mereka jadi lebih tertarik dan berminat terhadap bahasa Banjar.

Buku ini sangat cocok dimasukkan sebagai kurikulum bermuatan lokal. Tinggal kemauan dari pihak Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel untuk memprogramkan dan memberlakukannya di sekolah-sekolah.

Salah satu yang jadi pemicu Syamsiar Seman menulis buku ini, sebagaimana diungkapkan dalam kata pengantar, karena pertemuannya dengan orang asing yang berminat untuk mempelajari bahasa Banjar. Dari situ kemudian terbetik pemikiran, kalau orang luar saja menaruh minat sedemikian besar terhadap bahasa Banjar, seharusnya urang banua lebih lagi, karena ia merupakan warisan nenek moyang.

Kalau bukan kita sendiri bertekad untuk melestarikan bahasa Banjar, tentu tidak mungkin berharap dari orang luar.

Untuk maksud itulah sasarannya dipilih anak-anak SD, karena proses pembelajaran idealnya memang musti dimulai sejak usia dini, pada bangku Sekolah Dasar.

Meskipun diperuntukkan buat anak-anak sekolah, namun masyarakat umum pun ada baiknya menyimak buku ini. Soalnya selama ini kita belajar bahasa Banjar semata berdasarkan percakapan sehari-hari. Belum banyak yang memperdalam lewat tulisan.

Ketersediaan buku ini kiranya akan bermanfaat sekali bagi kita semua untuk menjaga khasanah serta keunikan bahasa Banjar hingga di masa-masa mendatang. aliansyah jumbawuya

***


Posted in Resensi Buku

No Comments Yet »

Ada yang ingin disampaikan?RSS Komentar URI Lacak Balik