Oleh: Aliansyah Jumbawuya
Wajah Urip tergolek di atas meja belajar, telungkup menindih buku pelajaran. Rupanya bocah itu tak kuasa lagi menahan kantuk.
Tia segera membopong tubuh itu, lalu memindahkannya ke kasur tipis. Sejenak ia tertegun, memandangi lekat‑lekat sosok adiknya yang terbujur. Di wajah yang polos itu, Tia seperti melihat serpihan mimpi yang terpendam. Haruskah keadaan memupuskan impian Urip untuk terus bersekolah?
“Mak, tadi Bu Guru nanya lagi kapan Urip melunasi uang iuran yang tertunggak empat bulan? Jika tidak, katanya Urip nggak boleh ikut ujian.”
Oleh: Aliansyah Jumbawuya
Sukri yang tengah asyik menemani putri bungsunya menonton film kartun, tiba-tiba dikejutkan oleh suara putranya, Yudit, yang barusan mencomot kue bolu. Huughh. Huuughhh.. Cairan coklat berisi bekas makanan itu pun tak terbendung, mucrat dari mulut bocah delapan tahun tersebut. Muntah, memercik di baju dan mengotori lantai.
Menyadari betapa banyak keunikan di Kalsel yang belum terangkat ke wilayah lebih luas, wanita berjilbab ini pun mencoba memasukkan unsur-unsur lokal ke dalam karya-karyanya.
Tak banyak cerpenis, apalagi novelis dari Kalsel yang karya-karyanya cukup diperhitungkan di jagad kesusastraan nasional. Jumlah mereka masih dihitung dengan jari tangan.
Di tengah kelangkaan itu, Rumah Tumbuh karya Farah Hidayati terpilih sebagai juara I lomba dalam sayembara mengarang novel remaja 2005 yang diselenggarakan PT Grasindo dan Radio Nederland Wereldomroep. Meskipun persaingan kala itu sangat ketat, tapi Farah berhasil menjadi pemenang dari 621 naskah yang masuk.
Oleh: Ahmad Surkati AR
Usai gelap, subuh mengembalikan matahari seperti semula. Butiran bening yang pias dengan cahaya amat indah di mata Zalikha mengingatkan dirinya pada berbagai perhiasan intan yang dimilikinya. Kemilau kemilau itu bergelayutan manja di ranting mawar. Tidak ketinggalan ditingkahi semilir berembun begitu rupa membelai wajahnya yang berparas cantik. Selintas membayang kenangan indah rumah tangganya bersama suami tercinta, Yusuf.
“Terimalah ini sebagai tanda cintaku. Cincin, gelang dan teristimewa kalung ini. Kau akan mengingatku setiap kali benda ini bergelantungan di leher,” tandasnya usai dia melamar Zalikha. Yusuf begitu pandai memikat hatinya. Dia membuang cemas gadis pilihannya dengan menandaskan cintanya tidak berkesudahan. Inilah modal hidup. Keyakinan yang ditanam.
Karena pembawaannya yang selalu ingin memberi manfaat bagi orang lain, dia dijuluki sebagai teladan kesalehan intelektual dan sumber kearifan hidup. Tapi, kini dia telah menghadap Ilahi.
Sudah jadi kebiasaan Kuntowijoyo setiap pagi jalan‑jalan di sekitar rumahnya. Bahkan Ahad (20/2) dia menyempatkan diri silaturahmi, mengunjungi adiknya yang tengah hamil tua. Tak nampak tanda‑tanda sakit. Kala itu Kunto mengatakan kalau dia belum sempat mempersiapkan nama‑nama pilihan untuk calon keponakannya tersebut.
Dari royalti menulis novel-novel yang sarat dengan nuansa islami, siapa sangka dai muda ini mampu menghidupi keluarganya dan membangun sebuah pesantren.
Siapa bilang novel relijius pangsa pasarnya terbatas? Faktanya, karya-karya Habiburrahman El Shirazy yang terkenal dengan label ‘buku penggugah jiwa’ rata-rata best seller. Peminatnya bukan hanya remaja santri, masyarakat umum pun banyak menggandrungi. Bahkan, novelnya Ayat-ayat Cinta kini sudah mengalami cetak ulang yang ke 28. Dalam waktu tiga tahun mampu menembus oplah di atas 300 ribu eksemplar. Sungguh, sebuah prestasi yang luar biasa di Indonesia.
Dari satu novelnya yang fenomenal itu saja, Kang Abik, demikian ia akrab disapa, memperoleh royalti sekitar Rp1,8 miliar. Belum lagi dari karya-karya lainnya seperti: Pudarnya Pesona Cleopatra, Di Atas Sajadah Cinta, Ketika Cinta Berbuah Surga, Dalam Mihrab Cinta, Nyanyian Cinta, Ketika Derita Mengabadikan Cinta, tidak kurang dari Rp100 juta per judul yang ia kantongi.
Goresan pena teranyar Habiburrahman El Shirazy, yaitu Ketika Cinta Bertasbih, belum genap sebulan beredar sudah laku terjual 30.000 eksemplar. Rencananya, dalam waktu dekat pria kelahiran Semarang 30 September 1976 ini juga akan merampungkan Langit Makkah Berwarna Merah, Bidadari Bermata‑Bening, dan Bulan Madu di Yerusalem.
Atas prestasinya itu, tak heran bila ia beberapa kali meraih penghargaan bergengsi, antara lain Pena Award 2005, The Most Favorite Book and Writer 2005 dan BF Award 2006.
Malah, dalam perkembangan berikut karya-karya Habiburrahman tersebut satu per satu diangkat menjadi tayangan sinetron dan film. Katanya, akhir Desember 2007 ini film Ayat-Ayat Cinta yang dibintangi oleh Fedi Nuril, Rianti Cartwright, Carissa Puteri, Zaskia Adya Mecca, dan Melanie Putria itu, akan tayang perdana.
Meski para penggemarnya sudah tak sabar menunggu kapan film tersebut akan beredar, Habiburrahman El Shirazy ingin sebelum tayang terlebih dulu dikoreksi oleh MUI.
“Sesuai kesepakatan awal, saya minta kepada production house agar film Ayat‑Ayat Cinta sebelum ditayangkan kepada masayarakat luas diputar terlebih dahulu di hadapan Majelis Ulama Indonesia (MUI) sehingga bagian‑bagian yang tidak sesuai dengan nilai‑nilai Islam dapat disensor,” tegasnya.
Dan dari royalti menulis Habiburrahman berhasil membangun pesantren Basmala Indonesia, di Gunungpati, Semarang, Jawa Tengah. “Mudah‑mudahan dari pesantren ini akan lahir para mujahid dakwah, baik dengan lisan, harta, tangan maupun penanya,” ujar Kang Abik.
Semakin Sibuk
Kini Habiburrahman mendedikasikan diri sepenuhnya di dunia dakwah dan pendidikan, baik melalui karya-karya maupun ceramah-ceramahnya. Selain dikenal sebagai penulis, ia adalah seorang dai yang jago berdakwah secara lisan.
Seiring dengan ketenaran namanya, belakangan aktivitas Habiburrahman El Shirazy semakin padat. Dia sering diundang berbicara di forum-forum nasional dan internasional.
“Pernah di Palembang, dalam dua hari saya harus mengisi delapan acara, baik bedah buku dan talkshow, maupun mengisi ceramah agama,” tutur suami Muyasaratun Sa’idah ini.
Habiburrahman memang alumnus Universitas Al‑Azhar, Kairo. Di Negeri Seribu Menara itu, ia menimba ilmu keislaman tak kurang dari tujuh tahun, tepatnya 1995‑2002.
“Paling sulit menolak undangan untuk ceramah, apalagi kalau datangnya dari majelis taklim dan mereka mengutus orang untuk menjemput saya,” ujarnya.
Dalam waktu sekitar lima tahun sejak pulang ke Tanah Air, ia telah berceramah di hampir seluruh kota di Jawa, hingga ke pelosok‑peloksok daerah. Termasuk di beberapa daerah Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Bahkan Habiburrahman diundang sampai ke mancanegara, seperti Hongkong dan Malaysia. Di Mesir ia tidak hanya ceramah di ibukota Kairo, tapi juga hingga jauh ke ibukota provinsi‑provinsi seperti Thontho, Zagaziq, dan Mansuroh.
Sebenarnya berceramah bukan profesi baru bagi lelaki yang telah merampungkan S‑2 di The Institute for Islamic Studies itu. “Saya sudah mulai ceramah sejak duduk di bangku Tsanawiyah, tapi makin intens terutama sejak pulang dari Mesir,” ungkap dai yang memulai pendidikan menengahnya di MTs Futuhiyyah I Mranggen sambil belajar kitab kuning di Pondok Pesantren Al‑Anwar, Mranggen, Demak, kemudian Madrasah Aliyah Program Khusus (MPAK) Surakarta ini.
Habiburrahman mengaku bahagia bisa berbagi ilmu dan pengalaman, baik melalui menulis maupun ceramah.
“Keduanya sama‑sama menjadi jalan dakwah. Muaranya sama, yakni sama‑sama mencari ridha Allah,” tegas ayah dari dua anak ini. aliansyah jumbawuya – berbagai sumber
***
Oleh: M Hasbi Salim
Pagi‑pagi sekali aku meluncur menaiki ninja menuju kampus biru tempat kuliahku. Hatiku bertanya‑tanya apakah namaku tercantum dalam daftar nama mahasiswa yang akan melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) pada semester ini atau tidak. Jika ya, berarti aku dapat menyelesaikan kuliah dengan cepat sesuai rencana. Sehingga akan bisa segera menyunting ‘Putri Teratai’ buah bibir anak‑anak kampus.
‘Putri teratai’ begitu julukan khusus yang kuberikan kepada Diana, seorang mahasiswi setahun di bawahku. Julukan itu kuberikan karena melihat wajahnya yang anggun, bersahaja dan pemalu bagaikan bunga teratai yang ada di kolam kecil depan kampus.
“Yes!” seruku sambil mengucapkan hamdallah saat kulihat namaku tertera dengan jelas di papan pengumuman, walaupun pada deretan paling buntut. “Tidak masalah!” ucapku membatin.
Judul : Sharpening Our Concept and Tools
Penulis : BS. Wibowo, dkk
Penerbit : PT Syaamil Cipta Media
Tebal : xviii + 520 hlm
Manusia adalah sebaik‑baik makhluk yang diciptakan Allah SWT, karena dibekali dengan akal, semangat, iman dan struktur fisik yang sempurna. Segala potensi tersebut akan menjadi mubazir atau bermanfaat, tergantung pada bagaimana kita memberdayakannya. Hal itu sekaligus akan menentukan tingkat kualitas kita dalam lingkungan sosial (integritas horizontal) maupun dengan al‑Khalik (kepatuhan vertikal).
Dalam sebuah hadis disebutkan, bahwa sebaik‑baik manusia ialah yang paling berguna bagi sesama. Supaya keberadaan kita membawa berkah/kemanfaatan, minimal kita harus mandiri dan berprestasi.
Untuk menjadi insan yang produktif, kita mesti pandai mengelola seluruh potensi yang kita miliki. Kalau manajemen Barat umumnya lebih menitikberatkan pada pencapaian prestasi yang bersifat keduniawian, maka tidak demikian halnya dengan manajemen islami, yang mengacu pada konsep keseimbangan dunia‑ukrawi.
Manajemen model Trostco menawarkan alternatif pengembangan diri, tim dan lembaga yang berbasis pada keseimbangan spritual, emosional, intelektual, fisik, dan profesionalisme. Kelima unsur tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh. Artinya, seseorang belum bisa dikatakan sukses jika pemenuhan terhadap salah satu unsur diatas menyebabkan terabainya unsur lain.
Misalkan, apa gunanya memiliki materi yang berlimpah, kalau kesehatan fisik buruk lantaran kelewat sering memporsir tenaga dan pikiran. Atau, apa artinya punya karir cemerlang kalau tidak ditopang dengan kekuatan spritual, karena semua itu takkan berlangsung langgeng.
Dulu para ahli ilmu jiwa sempat mengklaim bahwa kesuksesan seseorang sangat ditentukan oleh tingkat IQ-nya. Belakangan hipotesa tersebut dibantah, dan kini orang mulai menekankan pentingnya Emosional Quotient dan Spritual Quotient.
Faktor penyebab utama kenapa bangsa Indonesia sampai sekarang dilanda krisis multi‑demensional, karena kita lebih memfocuskan pada pembangunan material ketimbang mental. Akibatnya, untuk mengejar target‑target tertentu orang tak lagi mertimbangkan halal‑haram, sehingga apa yang dicapai jauh dari keberkahan Allah. Padahal tanpa landasan aqidah, cepat atau lambat akan berujung pada kehancuran.
Di sinilah, sekali lagi kita diingatkan akan pentingnya mengedepankan sisi spiritual.
Dimensi spiritual berupaya mempertahankan keharmonisan atau keselarasan dengan dunia luar, berjuang untuk menjawab atau mendapatkan kekuatan ketika sedang menghadapi stres emosional, penyakit fisik, atau kematian (hal: 40).
Bahkan seluruh rahasia kesuksesan berpangkal dari pengejawantahan nilai‑nilai spiritual (agama) ke dalam aktivitas sehari‑hari. Karena barangsiapa mencintai Allah, maka dunia pun akan mudah digenggamnya.
Ketika seseorang menyakini kehadiran Allah dalam dirinya, niscaya segala tantangan dan kesulitan terasa ringan. Sebagaimana janji Allah bahwa dibalik kesulitan itu terdapat kemudahan. Dari sinilah akan muncul kepercayaan diri.
Selain itu, amaliah yang didasari niat ikhlas semata untuk mencapai ridha Allah, kalau berhasil akan mendatangkan rasa syukur; sebaliknya kalau pun gagal juga tidak akan mengakibatkan kekecewaan, apalagi sampai berputus asa dari rahmat Allah.
Motivasi untuk melakukan kebaikan sangat dipengaruhi kekokohan spritualitas kita. Emosi dan motivasi yang tidak berakar pada nilai‑nilai spritual, laksana pohon tinggi yang rawan patah jika diterjang badai (hal: 57).
Berapa banyak orang yang tadinya mapan dari segi finansial, namun karena imannya kropos dan mudah tergiur berbuat maksiat, akhirnya hartanya ludes dengan cara sia‑sia, dihambur‑hamburkan untuk foya‑foya atau bermain judi. Hal ini membuktikan, bahwa siapapun yang menyimpang dari risalah Allah bakal menuai kekalahan, jauh dari hakekat kesuksesan dunia‑akhirat.
Keyakinan atas talenta pribadi, kemampuan mengenali kesempatan, kesungguhan untuk menjadi yang terbaik, kesadaran akan pentingnya membangun komunikasi dan relasi, adalah bagian dari strategi pengembangan SDM. Kiat‑kiat ini sesungguhnya telah tertuang dalam Alquran maupun al‑hadis. Tinggal bagaimana kita menggali dan memformulasikan dalam aktivitas sehari‑hari.
Buku yang merujuk pada ajaran Islam ini, sangat cocok dimiliki oleh kalangan muslim yang punya dedikasi untuk meningkatkan kualitas diri. Apalagi di era globalisasi yang kian kompetitif ini, agar eksistensi umat Islam layak diperhitungkan dan berdaya saing tinggi, maka diperlukan usaha terus‑menerus untuk mengembangkan SDM yang berbasis keagamaan. aliansyah jumbawuya
***
Oleh: Aliansyah Jumbawuya
(catatan tercecer tragedi Mei 1998)
Bias api menebar panas menyebar ngeri
Menembus pori-pori hingga ulu hati
Orang-orang kasak-kusuk berebut kesempatan
Menjarah aneka barang di pertokoan
Emosi yang disulut rasa benci tak beralamat
Mengguratkan tragedi dari kesumat warna pekat
Lembaran sejarah belepotan darah dan airmata
Juga keluh-kesah mereka yang teraniaya
Kota tiba-tiba menjelma medan Kurusetra
Penuh pecahan kaca dan kepulan asap
Pekik kalap bercampur jerit ratap
Tercipta oleh amuk membabi-buta
Mengenang peristiwa kelabu itu
Luka Alicia kian membekas biru di rabu
Ia diperkosa selagi menstruasi
Saat hendak pulang dari beli buku diary
Kini ia terus mendekam dalam kamar
Meratapi nasibnya yang penuh cacar
Pada lelaki berwajah sangar
Caci makinya gencar, dendamnya berkobar
Kini ia terus mendekam dalam kamar
Merenungi nasibnya yang penuh cacar
Hingga Alicia malu dan enggan keluar
Apalagi buat bertemu sang pacar
Setiap menatap nyala api
Ia acapkali histeris sendiri
Hingga orang-orang tak habis mengerti
Mendesak tanya: apa yang terjadi?
Tapi Alicia tak mau berbagi
Menyimpan rapi kemelut hati
Juga pada bunda yang turut berduka
Melihat si anak memendam derita
***
Sept, 1998