Padepokan Pena - Gemar Membaca Giat Menulis

Hijaz Yamani: Berdakwah Lewat Puisi | Agu 27th 2008

Mengumandangkan syiar Islam, menyuarakan amar ma’ruf nahi munkar, bukan melulu otonomi para ulama. Banyak alternatif yang bisa ditempuh orang untuk menggairah­kan gerakan moral. Seperti yang selama ini ditekuni Hijaz Yamani, lewat puisi‑puisinya ia senantiasa mencoba mengusik kesadaran nurani sesamanya untuk menegakkan yang haq dan menentang yang batil.

Hijaz Yamani tidak cuma sekadar menulis puisi, juga mendeklamasikannya dalam berbagai momentum, terutama yang ada kaitannya dengan peringatan hari besar Islam seper­ti tahun baru Hijriah, Renungan Ramadhan, Soli­daritas Bosnia, dan sebagainya.

Dari karakter puisi maupun penampilannya di atas pang­gung Hijaz tak “segarang” WS. Rendra, Sutardji ataupun Ajamuddin Tifani. Gayanya lebih punya kemiripan dengan Taufik Ismail yang berpembawaan kalem namun bersahaja.

Tren berdakwah lewat baca puisi memang bukan sesuatu yang baru. Bahkan tak sedikit ulama yang sekaligus memposi­sikan diri sebagai penyair. Sebutlah misalnya, KH Mustafa Bisri pimpinan Ponpes Raudatul Tholibin Rembang, Emha Ainun Nadjib penggagas pengajian Padang Rembulan, Muhammad Zuhri yang juga membuka halaqah tasawuf di Sekarjalak.

Tetapi, di tengah kondisi seperti sekarang ini, di mana kritik yang disampaikan dengan bahasa lugas saja sering tidak digubris orang, bagaimana halnya dengan puisi yang menggunakan bahasa simbol. Apakah tak ada kekhawatiran bakal lebih dianggap angin lalu?

“Kita punya cara sendiri yang lebih halus, yakni menyi­sipkan amanat kebenaran lewat keindahan kata‑kata yang lahir dari permenungan intensif. Inilah bentuk kontribusi yang bisa kita berikan pada masyarakat. Kalau kita menempuh cara teriak‑teriak menghujat berbagai penyimpangan yang terjadi, lalu apa bedanya kita dengan para demonstran atau orator jalanan?” tegas salah seorang dari rombongan Kilang Sastra Batu Karaha yang kebetulan jugahadir untuk mengucapkan turut belasungkawa kepada keluarga almarhum.

Ketika saya bermaksud meminjam kumpulan puisi Hijaz Yamani yang bernuansa religius, bebera­pa saat kemudian meja tamu pun berubah menjadi tumpukan buku. “Padahal semasa hidup beliau kami anak‑anaknya tidak diperbolehkan mengusik ruang kerjanya,” ungkap Micky Hi­dayat.

Dari antologi Percakapan Malam, tersirat sejauhmana keseriusan penyair dalam melakoni proses pentauhidan diri seorang hamba kepada Tuhannya. Baginya pertemuan dengan Rabbul Idzati adalah puncak dari kerinduan. Demikian Hijaz Yamani berujar, “Ah, aku yang amat kecil ini begitu iri pada Rabi’ah yang fisik lemah namun tegar tatapan metafisiknya, yang begitu banyak berkontemplasi. Rabi’ah yang arif dalam hakikat pencarian dan penemuan, Rabiah yang faham rahasia menemukakan hakikat keniscayaan. Tapi biarlah aku tetap mencari‑Mu, sampai kapanpun. Karena aku merindukan Engkau….”

Demikian pula dengan puisi‑puisinya lainnya yang ter­himpun dalam antologi bertajuk: Perkenalan Dalam Sajak (1963), Panorama (1974), Pesta Seni (1974), Pesta Puisi (1975), Tanah Huma (1978), Puisi ASEAN (1978), Temu Penyair 10 Kota (1982), Kilau Zamrut Khatulistiwa (1984), cukup kental menyuarakan sisi kemanusiaan dan keberagamaan.

Kiprah sang Maestro

Desember 1981, Hijaz Yamani menulis sebuah puisi ten­tang kepasrahan seorang hamba saat menghadapi sakratul maut. Baginya kematian adalah sunatullah yang pasti dialami oleh tiap‑tiap makhluk bernyawa. Jika batas waktu perjanjian itu tiba, maka tiada satu kekuatan pun yang mampu mengelak darinya.

Demikian isi bait puisi “Kalau Kau Datang” tersebut:

Sungguh aku sekarang terikat oleh rabun malam

membuka perjanjian yang lama aku setuju.

Bukankah kau pasti dating

menjamah diriku

akan balik membawa berita.

Sebentar malam langit akan terbuka

karena telah kau ketuk pintunya.

Bawalah aku masuk kepadanya.

Dua puluh tahun kemudian, persis di bulan yang sama, hal itu berlaku atas diri Hijaz Yamani. Ia dipanggil mengha­dap Sang Khalik, Senin 17 Desember 2001 sekitar pukul 09.30 Wita di RS Suaka Insan.

“Saat pertama di bawa ke rumah sakit tensi darahnya tidak stabil. Dan setelah di rontgen ternyata ia juga mengi­dap gangguan prostat,” jelas Ny. Hijaz tentang penyakit suaminya.

Hijaz Yamani, meninggalkan 5 orang putri, 2 orang putra dan 10 orang cucu.

“Di usia tuanya ia tetap produktif menulis. Sekitar 300 karya puisi sudah dihasilkannya. Bahkan selama dirawat di rumah sakit ia tetap menulis dengan menggunakan mesin tik manual,” tutur Micky Hidayat mengenai kecintaan ayahnya terhadap dunia kesusastraan, khususnya puisi.

Bagi Hijaz Yamani, berpuisi adalah semacam katarsis. Jika mengalami depresi politik, maka sebagai penyeimbang jiwa dia akan menulis puisi. Walau cuma satu bait, sesudah itu ia akan merasa terbebas dari kejumudan, tambah Micky.

“Kapanpun diminta untuk memberikan kata sambutan dalam penerbitan buku, ia senantiasa meluangkan waktu. Begitu pula jika ada pertunjukan seni, ia selalu menyempatkan diri berhadir, walau harus terlambat, Misalnya, pernah kejadian seusai rapat membahas kasus Trisaktigatte ia langsung bergegas untuk mengikuti pembacaan puisi,” kenang Eza Thabry Husano.

Bahkan ketika ia meninggal di sampingnya terdapat buku: Tiga Kutub Senja (Antologi Puisi Tiga Penyair Kalsel), Dunia Telor dan Nyanyian Seribu Sungai (karya Hamami Adaby).

Selain itu, Hijaz dikenal sangat getol memacu semangat penyair pemula atau generasi yang lebih yunior untuk terus berkarya. Dalam pergaulan ia tidak pernah menempatkan garis pemisah, antara yang muda dan tua.

Tak banyak penyair di daerah ini yang mampu membina hubungan bukan saja di tingkat nasional tapi juga sampai kawasan Asean, tambah Eza Thabry Husano. Buktinya, selasa (18/12) surat undangan dari Dewan Bahasa dan Sastra Serawak, Malaysia tiba di kediamannya. Bisa dipastikan rekan-rekannya dari negeri jiran bersangkutan bakal terkejut begitu mendengar berita kematiannya.

Khusus daerah Kalsel, ada tiga penyair yang sangat diperhitungkan dalam khasanah kesusastraan Indonesia. Mereka adalah: D. Zauhidhie, Yustan Aziddin dan H. Hijaz Yamani. Dan kini ketiganya telah almarhum.

Kiprah Hijaz Yamani di bidang kesenian bukan cuma sebatas menulis dan membacakan puisi-puisinya di depan publik. Sejak puluhan tahun lalu ia telah dipercaya mengasuh ruang Untaian Mutiara Sekitar Ilmu dan Seni, ruang Sastra dan Budaya pada RRI Nusantara III Banjarmasin. Pendiri sekaligus Ketua Ikatan Pencinta Seni Sastra Banjarmasin (1954-1957). Pendiri dan Sekretaris Lembaga Kebudayaan Daerah Kalimantan (1957-1960). Ketua Komda Lesbumi Jawa Timur (1964-1970). Pendiri dan Ketua Seksi Sastra DKD Kalsel (1971-1976). Pendiri sekaligus Ketua Himpunan Sastrawan Indonesia Kalsel (sejak 1979), Wakil Ketua Lembaga Budaya Banjar, anggota Majelis Pertimbangan DKD Kalsel (1994 hingga wafat).

***

Dari Tangannya Lahir Bocah Ajaib

Mungkin masih lekat dalam ingatan kita, sekitar sepuluh tahun silam, bocah berusia tiga tahun sempat memukau ribuan peserta Kirab Remaja di Istora Senayan Jakarta dan pemirsa TVRI di seluruh tanah air. Dengan vocal yang jernih dan lantang ia membacakan puisi yang panjangnya lebih dua halaman kertas folio. Dia tak lain adalah Shalehuddin al-Ayubi, cucu Hijaz Yamani.

Dari penampilan tersebut, Mbak Tutut, jadi terkesan. Kemudian semenjak tahun 1991 sampai 1995 ia diminta tampil dalam acara puncak Kirab Remaja Nasional. Sebagai penghargaan atas prestasinya, biaya pendidikan Shalehuddin ditanggung oleh putri sulung mantan orang nomor satu di negeri ini.

Sekarang bocah itu sudag beranjak remaja, dan tercatat sebagai mahasiswa FISIP UI. Belakangan, sempat membintangi iklan batik, minuman penyegar cap Kaki Tiga dan Mc Donald. Juga turut mengisi dalam acara Marhaban ya Ramadhan yang ditayangkan SCTV.

Begitu mendengar kakeknya meninggal, ia pun cepat balik ke Banjarmasin. Menurut Shalehuddin, apa yang ia capai sekarang ini adalah berkat gemblengan sang kakek.

“Semula beliau bermaksud melatih ayah saya, Haderani Thalib, agar jadi deklamator. Kemudian, karena melihat potensi saya, target tersebut dialihkan ke saya. Beliaulah yang banyak berperan mengajarkan bagaimana teknik olah vokal, pengaturan napas dan intonasi serta cara menghindari grogi tampil di depan khlayak umum, ” cerita Shalehuddin al-Ayubi.

Terakhir, menurut Shalehuddin, mereka ketemu saat sama-sama baca puisi di gedung Go-Skate Surabaya, dalam rangka menghimpun dana untuk Solidaritas Bosnia. Waktu itu hadir pula Emha Ainun Nadjib, Sutardji Calsoum Bachri, Deddy Mizwar dan Jose Rizal Manua.

“Kakek paling pandai membujuk orang. Dulu, waktu saya masih berumur 3 tahun pernah dijemput diminta tampil membacakan puisi, padahal sudah pukul 23.00 malam. Karuan saja saya sempat menolak. Tapi karena dielus-elus dan diambung, akhirnya saya bersedia juga memenuhi permintaannya,” kenang Shalehuddin seraya tersenyum. aliansyah jumbawuya

***

Banjarmasin, 19 Des 2001



Posted in Sosok

1 Komentar »

  1. dimana mendapatkan buku kumpulan puisi itu. misalnya, karya darmansyah zauhide

    salam

    Komentar oleh ahmad juhaidi — Maret 23, 2009 @ 11:07 am


Ada yang ingin disampaikan?RSS Komentar URI Lacak Balik