Padepokan Pena - Gemar Membaca Giat Menulis

Hijaz Yamani: Berdakwah Lewat Puisi

Mengumandangkan syiar Islam, menyuarakan amar ma’ruf nahi munkar, bukan melulu otonomi para ulama. Banyak alternatif yang bisa ditempuh orang untuk menggairah­kan gerakan moral. Seperti yang selama ini ditekuni Hijaz Yamani, lewat puisi‑puisinya ia senantiasa mencoba mengusik kesadaran nurani sesamanya untuk menegakkan yang haq dan menentang yang batil.

Hijaz Yamani tidak cuma sekadar menulis puisi, juga mendeklamasikannya dalam berbagai momentum, terutama yang ada kaitannya dengan peringatan hari besar Islam seper­ti tahun baru Hijriah, Renungan Ramadhan, Soli­daritas Bosnia, dan sebagainya.

Dari karakter puisi maupun penampilannya di atas pang­gung Hijaz tak “segarang” WS. Rendra, Sutardji ataupun Ajamuddin Tifani. Gayanya lebih punya kemiripan dengan Taufik Ismail yang berpembawaan kalem namun bersahaja.

Tren berdakwah lewat baca puisi memang bukan sesuatu yang baru. Bahkan tak sedikit ulama yang sekaligus memposi­sikan diri sebagai penyair. Sebutlah misalnya, KH Mustafa Bisri pimpinan Ponpes Raudatul Tholibin Rembang, Emha Ainun Nadjib penggagas pengajian Padang Rembulan, Muhammad Zuhri yang juga membuka halaqah tasawuf di Sekarjalak.

Tetapi, di tengah kondisi seperti sekarang ini, di mana kritik yang disampaikan dengan bahasa lugas saja sering tidak digubris orang, bagaimana halnya dengan puisi yang menggunakan bahasa simbol. Apakah tak ada kekhawatiran bakal lebih dianggap angin lalu?

“Kita punya cara sendiri yang lebih halus, yakni menyi­sipkan amanat kebenaran lewat keindahan kata‑kata yang lahir dari permenungan intensif. Inilah bentuk kontribusi yang bisa kita berikan pada masyarakat. Kalau kita menempuh cara teriak‑teriak menghujat berbagai penyimpangan yang terjadi, lalu apa bedanya kita dengan para demonstran atau orator jalanan?” tegas salah seorang dari rombongan Kilang Sastra Batu Karaha yang kebetulan jugahadir untuk mengucapkan turut belasungkawa kepada keluarga almarhum.

Ketika saya bermaksud meminjam kumpulan puisi Hijaz Yamani yang bernuansa religius, bebera­pa saat kemudian meja tamu pun berubah menjadi tumpukan buku. “Padahal semasa hidup beliau kami anak‑anaknya tidak diperbolehkan mengusik ruang kerjanya,” ungkap Micky Hi­dayat.

Dari antologi Percakapan Malam, tersirat sejauhmana keseriusan penyair dalam melakoni proses pentauhidan diri seorang hamba kepada Tuhannya. Baginya pertemuan dengan Rabbul Idzati adalah puncak dari kerinduan. Demikian Hijaz Yamani berujar, “Ah, aku yang amat kecil ini begitu iri pada Rabi’ah yang fisik lemah namun tegar tatapan metafisiknya, yang begitu banyak berkontemplasi. Rabi’ah yang arif dalam hakikat pencarian dan penemuan, Rabiah yang faham rahasia menemukakan hakikat keniscayaan. Tapi biarlah aku tetap mencari‑Mu, sampai kapanpun. Karena aku merindukan Engkau….”

Demikian pula dengan puisi‑puisinya lainnya yang ter­himpun dalam antologi bertajuk: Perkenalan Dalam Sajak (1963), Panorama (1974), Pesta Seni (1974), Pesta Puisi (1975), Tanah Huma (1978), Puisi ASEAN (1978), Temu Penyair 10 Kota (1982), Kilau Zamrut Khatulistiwa (1984), cukup kental menyuarakan sisi kemanusiaan dan keberagamaan.

Kiprah sang Maestro

Desember 1981, Hijaz Yamani menulis sebuah puisi ten­tang kepasrahan seorang hamba saat menghadapi sakratul maut. Baginya kematian adalah sunatullah yang pasti dialami oleh tiap‑tiap makhluk bernyawa. Jika batas waktu perjanjian itu tiba, maka tiada satu kekuatan pun yang mampu mengelak darinya.

Demikian isi bait puisi “Kalau Kau Datang” tersebut:

Sungguh aku sekarang terikat oleh rabun malam

membuka perjanjian yang lama aku setuju.

Bukankah kau pasti dating

menjamah diriku

akan balik membawa berita.

Sebentar malam langit akan terbuka

karena telah kau ketuk pintunya.

Bawalah aku masuk kepadanya.

Dua puluh tahun kemudian, persis di bulan yang sama, hal itu berlaku atas diri Hijaz Yamani. Ia dipanggil mengha­dap Sang Khalik, Senin 17 Desember 2001 sekitar pukul 09.30 Wita di RS Suaka Insan.

“Saat pertama di bawa ke rumah sakit tensi darahnya tidak stabil. Dan setelah di rontgen ternyata ia juga mengi­dap gangguan prostat,” jelas Ny. Hijaz tentang penyakit suaminya.

Hijaz Yamani, meninggalkan 5 orang putri, 2 orang putra dan 10 orang cucu.

“Di usia tuanya ia tetap produktif menulis. Sekitar 300 karya puisi sudah dihasilkannya. Bahkan selama dirawat di rumah sakit ia tetap menulis dengan menggunakan mesin tik manual,” tutur Micky Hidayat mengenai kecintaan ayahnya terhadap dunia kesusastraan, khususnya puisi.

Bagi Hijaz Yamani, berpuisi adalah semacam katarsis. Jika mengalami depresi politik, maka sebagai penyeimbang jiwa dia akan menulis puisi. Walau cuma satu bait, sesudah itu ia akan merasa terbebas dari kejumudan, tambah Micky.

“Kapanpun diminta untuk memberikan kata sambutan dalam penerbitan buku, ia senantiasa meluangkan waktu. Begitu pula jika ada pertunjukan seni, ia selalu menyempatkan diri berhadir, walau harus terlambat, Misalnya, pernah kejadian seusai rapat membahas kasus Trisaktigatte ia langsung bergegas untuk mengikuti pembacaan puisi,” kenang Eza Thabry Husano.

Bahkan ketika ia meninggal di sampingnya terdapat buku: Tiga Kutub Senja (Antologi Puisi Tiga Penyair Kalsel), Dunia Telor dan Nyanyian Seribu Sungai (karya Hamami Adaby).

Selain itu, Hijaz dikenal sangat getol memacu semangat penyair pemula atau generasi yang lebih yunior untuk terus berkarya. Dalam pergaulan ia tidak pernah menempatkan garis pemisah, antara yang muda dan tua.

Tak banyak penyair di daerah ini yang mampu membina hubungan bukan saja di tingkat nasional tapi juga sampai kawasan Asean, tambah Eza Thabry Husano. Buktinya, selasa (18/12) surat undangan dari Dewan Bahasa dan Sastra Serawak, Malaysia tiba di kediamannya. Bisa dipastikan rekan-rekannya dari negeri jiran bersangkutan bakal terkejut begitu mendengar berita kematiannya.

Khusus daerah Kalsel, ada tiga penyair yang sangat diperhitungkan dalam khasanah kesusastraan Indonesia. Mereka adalah: D. Zauhidhie, Yustan Aziddin dan H. Hijaz Yamani. Dan kini ketiganya telah almarhum.

Kiprah Hijaz Yamani di bidang kesenian bukan cuma sebatas menulis dan membacakan puisi-puisinya di depan publik. Sejak puluhan tahun lalu ia telah dipercaya mengasuh ruang Untaian Mutiara Sekitar Ilmu dan Seni, ruang Sastra dan Budaya pada RRI Nusantara III Banjarmasin. Pendiri sekaligus Ketua Ikatan Pencinta Seni Sastra Banjarmasin (1954-1957). Pendiri dan Sekretaris Lembaga Kebudayaan Daerah Kalimantan (1957-1960). Ketua Komda Lesbumi Jawa Timur (1964-1970). Pendiri dan Ketua Seksi Sastra DKD Kalsel (1971-1976). Pendiri sekaligus Ketua Himpunan Sastrawan Indonesia Kalsel (sejak 1979), Wakil Ketua Lembaga Budaya Banjar, anggota Majelis Pertimbangan DKD Kalsel (1994 hingga wafat).

***

Dari Tangannya Lahir Bocah Ajaib

Mungkin masih lekat dalam ingatan kita, sekitar sepuluh tahun silam, bocah berusia tiga tahun sempat memukau ribuan peserta Kirab Remaja di Istora Senayan Jakarta dan pemirsa TVRI di seluruh tanah air. Dengan vocal yang jernih dan lantang ia membacakan puisi yang panjangnya lebih dua halaman kertas folio. Dia tak lain adalah Shalehuddin al-Ayubi, cucu Hijaz Yamani.

Dari penampilan tersebut, Mbak Tutut, jadi terkesan. Kemudian semenjak tahun 1991 sampai 1995 ia diminta tampil dalam acara puncak Kirab Remaja Nasional. Sebagai penghargaan atas prestasinya, biaya pendidikan Shalehuddin ditanggung oleh putri sulung mantan orang nomor satu di negeri ini.

Sekarang bocah itu sudag beranjak remaja, dan tercatat sebagai mahasiswa FISIP UI. Belakangan, sempat membintangi iklan batik, minuman penyegar cap Kaki Tiga dan Mc Donald. Juga turut mengisi dalam acara Marhaban ya Ramadhan yang ditayangkan SCTV.

Begitu mendengar kakeknya meninggal, ia pun cepat balik ke Banjarmasin. Menurut Shalehuddin, apa yang ia capai sekarang ini adalah berkat gemblengan sang kakek.

“Semula beliau bermaksud melatih ayah saya, Haderani Thalib, agar jadi deklamator. Kemudian, karena melihat potensi saya, target tersebut dialihkan ke saya. Beliaulah yang banyak berperan mengajarkan bagaimana teknik olah vokal, pengaturan napas dan intonasi serta cara menghindari grogi tampil di depan khlayak umum, ” cerita Shalehuddin al-Ayubi.

Terakhir, menurut Shalehuddin, mereka ketemu saat sama-sama baca puisi di gedung Go-Skate Surabaya, dalam rangka menghimpun dana untuk Solidaritas Bosnia. Waktu itu hadir pula Emha Ainun Nadjib, Sutardji Calsoum Bachri, Deddy Mizwar dan Jose Rizal Manua.

“Kakek paling pandai membujuk orang. Dulu, waktu saya masih berumur 3 tahun pernah dijemput diminta tampil membacakan puisi, padahal sudah pukul 23.00 malam. Karuan saja saya sempat menolak. Tapi karena dielus-elus dan diambung, akhirnya saya bersedia juga memenuhi permintaannya,” kenang Shalehuddin seraya tersenyum. aliansyah jumbawuya

***

Banjarmasin, 19 Des 2001



Posted in Sosok

Monumen

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Telah kuselami makna firman Tuhan

Agar tak berputus asa dari hamparan rahmat-Nya

Karena itu walau letih dan tertatih-tatih

Kutahan rintih, kusekap keluh

Terus melangkah meski tapak kaki kian melepuh

Dan tubuh pun penuh peluh

Mengisyaratkan jalan telah jauh kutempuh

Selama hatinya bukan bongkah batu

Aku takkan berhenti

Menggali kilau mutiara tersembunyi

Berapa pun harga yang harus dibayar

Perburuan semoga berujung tangkapan

***


Posted in Puisi

Ode Buat Ayah

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Meski diguyur peluh

Ia tak pernah mengeluh

Apalagi sampai mengaduh

Demi derai tawa anak-anaknya

Ia rela bergumul di segala medan dan cuaca

Bila pagi menyapa, ia telah siap sedia

Menyongsong matahari

Mengais rejeki

Kendati duka dan duri sukar diterka

Tapi asa tak pernah susut

Tapi langkah tak pernah surut

Adalah ayah: sosok perkasa

Yang mengolah bongkah batu menjadi tugu!

***


Posted in Puisi

Pribadi Handal Ciri Muslim Beriman

Judul Buku: Percaya Diri Sepanjang Hari ( Panduan Sukses Generasi Islami)

Penulis : Abu Al‑Ghifari

Penerbit : Mujahid Press

Tebal : 108 halaman

Generasi muda muslim merupakan aset yang amat berharga bagi kemajuan peradaban Islam di masa depan. Untuk menjadi insan yang mandiri dan berguna (rahmatan lil alamin) memang dibutuhkan pribadi‑pribadi handal, tahan uji, yang degup jantungnya senantiasa memompakan semangat optimisme.

Salah satu indikasi orang yang beriman ialah memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Karena segala urusannya ia sandarkan pada kuasa Allah Azza wa Jalla. Hidupnya senantia­sa penuh harapan. Sebab, rejeki dari Tuhan terhampar begitu luas. Tinggal sejauhmana manusia mau memanfaatkan potensi yang ada di dalam dirinya.

“Katakanlah: ‘Siapakah yang memberimu rejeki dari langit dan bumi?’ Katakanlah: Allah” (QS. Saba: 24).

Harus diakui bahwa untuk mencapai tangga sukses itu memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Mesti dibar­engi dengan kegigihan, kesabaran, kesediaan berkorban di dalam melakoni suatu proses. Dan ingat, amaliah seseorang yang dilandasi niat lillahi ta’ala, maka apapun hasil yang didapatnya selalu berujung pada rasa syukur.

Dalam buku berjudul Percaya Diri Sepanjang Hari sebagai panduan bagi generasi Qurani ini, Abu Al‑Ghifari ingin menegaskan bahwa setiap orang punya peluang sukses yang sama. Bukan melulu ‘hak progatif’ mereka yang berpendi­dikan tinggi atau yang orangtuanya kaya‑raya. Semua sangat tergantung pada seberapa besar tingkat kepercayaan diri si individu bersangkutan untuk mewujudkan impiannya.

Masing‑masing orang telah dibekali Tuhan dengan modal yang cukup untuk menggapai kesuksesan. Segala iderawi, akal pikir, kesehatan, waktu, semua itu sesungguhnya tak ternilai harganya. Buktinya, tak ada seorang pun di antara kita yang mau menukar matanya dengan uang walau sebesar ratusan juta rupiah. Namun sayangnya, tidak semua orang jeli memanfaatkan anugerah tak terkira itu.

“Orang beriman harus yakin bahwa semua problema kehidu­pan pasti ada jalan jika kita berusaha keras dan tetap mengaitkan hati kita kepada Allah SWT. Setiap detik adalah tanggung‑jawab. Karena itu, tidak ada hari tanpa perjuangan. Tidak ada alasan untuk berpangku tangan atau mengharap bintang jatuh dari langit. Karena Allah tidak akan merubah nasib seseorang sebelum dia berusaha merubahnya sendiri ” (hal: 40).

Menurut perspektif Islam, orientasi kesuksesan yang ingin dibangun tidak semata menyangkut dunia, tapi juga akhirat. Karena itu, di dalam upaya mencapai target seorang muslim tetap harus memperhatikan kaidah‑kaidah agama dan etika moral, sehingga ia tidak sampai terjebak pada mengha­lalkan segala cara. Iman menjadi pegangan sejati umat Islam di dalam meniti kesuksesan.

Salah satu tradisi yang patut dikembangkan generasi muslim ialah kerja keras. Maraknya pengangguran bukan dise­babkan oleh ketiadaan kesempatan, melainkan lebih kepada sikap mental yang rapuh. Seperti kata pepatah: di mana ada kemauan disitu ada jalan. Sebagai orang yang beriman, tidak sepantasnya menyerah dengan keadaan. Tekad inilah yang ditunjukkan Ali bin Abi Thalib, ia pernah berkata sekiranya kemiskinan itu berwujud sesosok tubuh, maka ia akan membu­nuhnya.

Mereka yang punya dedikasi tinggi untuk meraih masa depan gemilang selalu berbuat dan berkarya. Bahkan ia merasa malu apabila ada tugas yang melenceng dari harapan yang semula direncanakan. Semangat untuk meningkatkan kinerja seyogianya senantiasa dipupuk. Tak boleh puas dengan hasil ala kadarnya.

Demikian firman Allah dalam surah An‑Nashr ayat 7: “Jika kamu sudah selesai melakukan suatu pekerjaan, segera­lah lakukan pekerjaan lainnya.”

Di sinilah pentingnya kesigapan menangkap peluang. Bahkan ayat pertama Alquran berbicara tentang kejelian di dalam melihat tanda‑tanda kekuasaan Allah yang terhampar di seluruh semesta raya.

Dalam bukunya ini, Abu Al‑Ghifari masih banyak merujuk kepada para pemikir Barat seperti AW. Combs, Dale Carnegie, David J. Schwartz, Allan Loy Mc Ginnis, dan lain‑lain. Bahkan pada Bab III yang mengupas masalah kegagalan akibat dalih, ia nyaris sepenuhnya mengutip pada pendapat DJ. Schwart dalam buku “Berjiwa Besar”.

Namun, setidaknya buku ini diharapkan dapat memotivasi generasi muslim untuk selalu mengembangkan sikap percaya diri. Karena di pundak mereka dititipkan amanah untuk mema­jukan misi Islam di berbagai sektor kehidupan. Sebab, siapa lagi yang akan mewujudkan kebangkitan Islam, kalau bukan dari pribadi muslim itu sendiri! aliansyah jumbawuya

***


Posted in Resensi Buku

Cahaya di Ujung Labirin 3

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Roda waktu terus menggelinding, melindas beragam peris­tiwa. Akhirnya, penantian panjang Gito usai jua. Delapan tahun sudah ia menjalani masa hukuman. Diiringi tatapan rekan‑rekan napi lain, Gito di antar petugas sipir.

Cukup lama Gito tertegun di depan pintu gerbang LP, seolah ia ingin mereguk tandas udara kebebasannya. Tangannya tengadah mengucap syukur. Dalam hati Gito berikrar, cukup sekali menjadi penghuni LP. Dia kapok, tak akan mengulangi kesalahan di masa lalu.

Tanpa terasa Gito sudah berdiri di tepi jalan. Ia lalu merogoh saku. Untung tadi, Pak Arief memberinya uang sepuluh ribu, sekedar sangu pulang. Begitu dilihatnya sebuah mikro­let melintas, Gito cepat melambaikan tangan. Mobil itu berhenti. Gito segera masuk. Taksi tersebut kemudian melaju.

“Stop! Stop di sini, Bang!” sergah Gito sambil turun.

Gito menapakkan kaki, menyusuri gang yang menuju ru­mahnya. Rupanya beberapa warga sekitar masih mengenalinya. Gito coba menebar senyum. Tetapi sambutan mereka tampak tak bersahabat.

“Wah, anak durhaka itu sudah balik. Bakal tak aman nih komplek,” bisik seorang ibu yang sedang memilih sayur.

“Huss, Mbak Surti jangan kelewat keras bicaranya. Kalau dia dengar dan tersinggung salah-salah kamu bakal kena bacok!” timpal wanita lain.

Gito berusaha untuk tidak terpengaruh dengan suara‑suara sumbang yang menyudutkan itu. Dia terus melangkah. Rasanya, ia sudah tak sabar lagi berte­mu dengan adiknya Sutinah.

Tapi, begitu tiba di halaman, rumah itu terlihat sepi. Pintunya terkunci rapat. Beberapa kali Gito mengetuk namun tak ada sahutan. Sampai kemudian seorang tetangga melongok­kan kepala lewat jendela.

“Eh, Nak Gito! Rumah itu sudah lama kosong. Kuncinya dititipkan Sutinah sama ibu!”

Gito menyamperi wanita tua itu. “Emangnya Suti­nah ke mana, Bu?”

“Setelah Emakmu meninggal, Sutinah tak bisa melanjutkan sekolah. Lama ia luntang‑lantung kerja serabotan. Sampai kemudian ada wanita dari kota menawari dia kerja. Katanya sih mau dijadikan karyawan di sebuah salon. Tapi Sutinah tak pernah ngasih alamat,” jelas tetangganya itu.

Gito mengangguk sedih. Setelah tak ada keterangan lain seputar keberadaan adiknya, Gito mohon pamit.

Saat ia masuk rumah, tampak dipenuhi debu dan sarang laba‑laba. Rumah itu benar‑benar tak terawat. Gito mencoba membersihkan sebisanya. Dan begitu sampai di depan kamar bapaknya (alm), Gito tercekat. Bayangan peristiwa tragis itu kembali berkelebat di benak, menyamak hati yang rawan.

Malamnya, Gito kesulitan memejamkan mata, padahal tubuhnya begitu letih. Sudah berulang kali Gito membolak‑balik badan di dipan, tapi perasaan gelisah itu tak juga sirna. Ia terus dihantui rasa sesal dan bersalah. Berikutn­ya, segera Gito putuskan untuk berwudhu disusul tadarus Alquran.

***

Untuk sementara, keinginan Gito mencari adiknya ditang­guhkan dulu. Ia harus bekerja, mengumpulkan uang. Sudah beberapa kali ia menawarkan diri. Pertama, di bengkel Bang Somad. Tapi ia langsung ditolak. Katanya, mereka sudah kele­bihan tenaga kerja. Begitu pula di toko bangunan Babah Ping An, lagi‑lagi ditolak. Namun Gito tak putus asa.

Begitu mendengar bahwa di rumah makan Padang milik Pak Miko membutuhkan karyawan, Gito cepat ke sana.

“Dengar‑dengar katanya disini lagi memerlukan tenaga baru. Betul ya Pak? Kebetulan saya siap melakukan apa saja. Yang penting saya tidak nganggur,” aju Gito pada Pak Miko.

“O, kamu Gito tuh… Kapan keluar dari tahanan?!” tukas lelaki yang mulai beruban itu dengan nada sinis.

“Baru seminggu, Pak!”

“Memang betul di sini memerlukan tambahan karyawan. Tapi bukan untuk mantan pembunuh! Apalagi yang namanya pembeli itu bermacam‑macam tabiat, jika tidak sabar menghadapi salah‑salah terjadi keributan. Sedangkan kamu setahu saya bukan orang yang sabaran. Buktinya, bapak sendiri tega dihabisi!”

Dada Gito berdegup kencang. Gemuruh. Kata‑ kata itu bagai sengat lebah. Namun Gito berusaha menahan diri agar terpancing amarah. Ia sadar tak mudah bagi bekas napi untuk memulihkan citra dirinya.

Dengan langkah gontai Gito berlalu. Entah kebetulan, sayup‑sayup kupingnya mendengar Ebiet G. Ade melantunkan lagu ‘Kau Dengarkah Keluhanku’ dari sebuah radio:

Nampaknya semua mata memandangku curiga. Seperti hendak telanjangi dan kuliti jiwaku. Apakah buku diri ini akan selalu hitam pekat? Apakah dalam sejarah orang musti jadi pahlawan? Sedangkan Tuhan di atas sana tak pernah menghukum dengan sinar mata‑Nya yang lebih tajam dari matahari…

Kembali dari keterasingan ke bumi beradab, ternyata lebih menyakitkan dari derita panjang. Oh Tuhan bimbinglah batin ini agar tak gelap mata. Dan sampaikanlah rasa inginku kembali bersatu…

Tembang itu seolah bagian dari instrumen kisah hidup Gito!

***

Suatu malam Gito disuruh menghadap Pak RT. Ia sendiri tak tahu kenapa dipanggil. Apalagi setiba di sana Pak Sukiman, saudagar barang kelontongan, juga ikut menunggu kedatangannya.

Setelah Gito duduk, Pak RT langsung angkat bicara, “Begini, Nak Gito. Tujuan kami mengundang kamu kemari adalah untuk meluruskan sesuatu, yang mungkin belum kamu ketahui. Bahwa waktu proses penyelengaraan jenazah Bapakmu, disusul biaya rumah sakit juga pemakaman Emakmu, dulu kami warga di sini meminta agar Pak Sukiman ini mau menalangi. Diperkirakan ada sekitar Rp 9 juta biaya yang dikeluarkan. Nah, kebetulan selagi kamu di sini, baiknya segera kita clearkan masalah ini.”

“Tapi saya tak punya uang sebesar itu, Pak! Untuk biaya bertahan hidup saja saya mesti prihatin.”

“Kami tahu itu! Karena itu kami sudah memikirkan jalan tengahnya. Bagaimana jika rumah Nak Gito dijual saja sama Pak Sukiman. Nanti uang pembayaran lebihnya mungkin bisa digunakan Nak Gito untuk modal usaha. Gimana?” usul Pak RT.

“Yakh… saya tidak bisa langsung memutuskan saat ini juga. Bagaimana jika saya minta tangguh waktu tiga hari untuk mempertimbangkan?”

“Baiklah. Kami tunggu!”

***

Setiap ngedon di rumah, Gito tak bisa mengenyahkan bayangan pembunuhan di hari naas itu. Wajah bapaknya yang mengerang kesakitan sambil memegangi belati yang nancap diperut acapkali mengusik ketenangan Gito. Karena itu Gito memutuskan untuk menjual saja rumah tersebut. Apalagi, sepulang dari masa hukuman, masyarakat di sekitar masih menganggap dirinya sebagai pendosa. Terlalu sering Gito mendengar cemooh yang menyakitkan hati. Dengan uang sisa penjualan rumah itu, Gito berusaha mencari adiknya, Sutinah. Sudah beberapa kota yang dia jelajahi, tapi tanda‑tanda keberadaan Sutinah belum juga tampak. Adiknya itu seperti raib di sembunyikan bumi.

Waktu ingin membayar makan di warung soto, tanpa senga­ja dompet Gito terjatuh. Selembar kertas ikut tercecer. Gito segera memungutnya. Ternyata alamat ustadz Dayat yang diber­ikan saat mereka ingin berpisah. Tiba‑tiba saja kerinduan pada ayah angkatnya itu menggedor‑gedor relung hatinya. Maka, hari itu juga Gito memutuskan untuk ke Magelang.

Setiba di alamat dimaksud ia langsung di sambut para santri. Ia diantar ke bilik khusus. Betapa takjubnya Gito saat melihat ustadz Dayat di hadapannya. Tanpa kuasa menahan diri, Gito segera menghambur ke pelukan lelaki yang telah meluruskan jalan hidupnya itu. Ia sama sekali tak menyangka ustadz Dayat juga sudah dibebaskan.

Akhirnya, Gito nyantri di ponpes asuhan ustadz Dayat. Di sini para santri tidak hanya dijejali ilmu agama, tapi kadang mereka turun ke lapangan menyerukan amar mar’uf nahi munkar.

Seperti kali ini, setelah mendapat laporan dari sumber terpercaya, nanti malam mereka akan bergerak menyantroni sebuah gudang dekat dermaga yang diduga sebagai tempat ajang penjualan wanita ABG yang berkedok TKW, padahal sesampai di negara tujuan mereka dijadikan tenaga prostitusi.

Gito ikut dilibatkan. Dengan senjata pentongan dan pedang mereka beraksi. Setelah sebelumnya melaporkan rencana penggerebekan ini kepada aparat polisi setempat.

Betul juga, ketika di dek kapal bagian paling bawah digeledah, di sana ratusan gadis‑gadis polos disekap. Kea­daan mereka sungguh mengenaskan.

“Ayo, semua cepat keluar!” teriak Gito.

Satu per satu para wanita yang baru beranjak dewasa itu dituntun Gito menuju tangga.

“Kak Gito?” tanya seorang gadis agak ragu. Sebagian wajahnya tertutup oleh rambut yang kusut‑masai.

“Sutinah? Betul ini Sutinah?” cecar Gito tak kalah kagetnya.

“Iya. Saya Sutinah, Kak!” jawab gadis itu sambil menghambur ke pelukan Gito. Mereka bertangisan. Diliputi keharuan. Rupanya Allah masih berkenan mempertemukan mereka. Justru disaat adiknya hampir saja terjerumus dari perbuatan orang-orang biadab itu. TAMAT

***


Posted in Cerpen

Politik Islam di Tengah Masyarakat Global

Judul : Pemikiran Politik Islam

Penulis : Abdul Qadim Zallum

Penerjemah: Abu Faiz

Penerbit : Al-Izzah

Kokoh atau rapuhnya suatu negara amat tergantung pada landasan pemikiran politik yang dianut. Setiap kebijakan publik yang diambil para penyelenggara negara, bermuara dari pemikiran politik, dan tak pelak akan berpengaruh luas bagi kehidupan rakyat. Karena itu, harus ada peran aktif masyarakat untuk mengontrol segala kebijakan penguasa.

Salah satu penyebab hancurnya daulah islamiyah di Turki karena lemahnya pemikiran politik kala itu. Bahkan sampai sekarang pemikiran politik Islam tersingkir dari kehidupan umat Islam itu sendiri. Politisi kita dalam perjuangannya sering mengabaikan aqidah Islam. Mereka cenderung mengadopsi pemikiran Barat yang jelas-jelas bersifat sekuler, dan memisahkan agama dari urusan politik.

Akibatnya, sepak terjang para politisi kita sungguh memprihatinkan, mereka tak lagi mengindahkan nilai-nilai agama, etika moral dan kemanusiaan. Demi mencapai targetnya, orang lain rela dijadikan tumbal. Bahkan rakyat kecil yang tak berdosa harus memikul dampak dari perbuatan egosentrisnya. Citra politik jadi buruk. Sampai-sampai ada yang mengklaim politik itu kotor.

Padahal itu cuma ulah segelintir orang yang menjadikan politik sebagai kendaraan pribadinya untuk memperturutkan hawa nafsu. Namun jika kecenderungan tersebut menjadi mainstream (arus utama) dalam peta perpolitikan suatu negara, ini merupakan tragedi besar yang cepat atau lambat akan berujung pada kehancuran. Degrasi moral, krisis kepercayaan, adalah imbas konkrit dari buruknya penerapan sistem politik bangsa kita.

Kenapa? Karena kiblat pemikiran, perjuangan, dan aktivitas politik kita dominan mengacu pada Barat. Dalam menghadapi persoalan bangsa, tak jarang alternatif solusi yang diambil berdasarkan metode kaum kufur, padahal konsep itu mungkin hanya sesuai untuk masyarakat kapitalis atau komunis, dan sama sekali tidak cocok bagi umat Islam.

Kenyataan inilah yang dikritik keras oleh Abdul Qadim Zallum, pengarang buku ini, dengan lugas menyatakan betapa banyak penguasa di negara-negara Islam yang menganggap Book of The Prince sebagai kitab suci, dan Machiavelli sebagai panutan. Pemikiran dan perilaku mereka sudah sedemikian jauh menyimpang dari aqidah Islam. Akibatnya, seperti yang kita lihat, negara-negara Islam begitu mudah diintervensi oleh bangsa-bangsa Barat.

Padahal Alquran dan sunah Rasul, tak kurang lengkapnya memberikan pedoman mengenai penyelenggaraan sistem negara, baik menyangkut masalah sipil, militer, pidana, ekonomi, perdata, maupun politik. Tapi, mengapa umat Islam masih saja mencari landasan pijakan lain?

Dalam surah Al-Maidah ayat 49 Allah memperingatkan, “Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkanmu dari sebagian apa yang diturunkan Allah kepadamu.”

Islam tidak akan terwujud dalam kehidupan sampai ia ditegakkan dalam suatu negara yang menerapkan hukum-hukumnya. Islam adalah suatu diin, sedangkan ideologi serta sistem pemerintahan merupakan bagian darinya. Tegaknya negara adalah satu-satunya metode (thariqah) yang disyariatkan untuk menerapkan hukum-hukum Islam dalam kehidupan manusia (hal: 155).

Karena itu, adalah kewajiban setiap muslim untuk berpolitik — dalam pengertian seni memahami realitas untuk menggiring kepada perubahan konstruktif — bagaimana kiranya mempengaruhi penguasa agar memprioritaskan aqidah Islam sebagai acuan dalam melahirkan kebijakan-kebijakannya. Bahkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Dawud, disebutkan bahwa jihad yang paling utama itu ialah menyampaikan kebenaran kepada penguasa yang zalim.

Lebih luas lagi, sebagai bagian integral dari “perkampungan global” agar eksistensi dan gaung Islam mampu mempengaruhi suasana perpolitikan Internasional, kaum Muslim seyogianya selalu punya komitmen untuk mensosialisasikan pemikirannya. Bukan malah didikte oleh paham lain, yang entah secara terselubung maupun terang-terangan bertujuan melumpuhkan kekuatan umat Islam.

Karena itu, umat Islam harus selalu mengikuti perkembangan situasi Internasional, jeli mengamati gaya politik negara-negara lain, menyadari apa motif di balik manuver-manuver politik yang mereka lancarkan. Tanpa mengetahui serta memahami aktivitas politik mereka, kemungkinan besar umat Islam hanya akan menjadi “bidak kecil” yang gampang dipermainkan dalam percaturan politik dunia Internasional. aliansyah jumbawuya

***


Posted in Resensi Buku

Pergulatan Batin dalam Menggapai Hidayah

Judul buku: Anak Sepasang Bintang

Penulis : Ibnu Hs, Gola Gong, Irwan Kelana, dkk

Penerbit : FBA Press

Cetakan : Pertama, 2003

Tebal : vi + 248 halaman

Dekade 90-an merupakan era kebangkitan perkembangan cerpen Islami. Ditandai dengan kemunculan Forum Lingkar Pena (FLP) yang gencar mengorbitkan penulis-penulis muda berbakat, juga menerbitkan buku-buku fiksi dengan tema keislaman. Kini, remaja muslim tak lagi mengalami kesulitan untuk mendapatkan bacaan bermutu yang dapat menuntun mereka kepada pemahaman agama. Sebelumnya, dunia fiksi remaja kita justru didominasi oleh tema-tema picisan tentang percintaan dan pergaulan bebas. Karena itu, tidaklah berlebihan jika sastrawan Taufik Ismail menyebut kehadiran FLP sebagai berkah bagi Indonesia.

Demikian pula dalam antologi cerpen yang berjudul “Anak Sepasang Bintang” ini, yang secara khusus menghimpun para penulis laki-laki, meski cerita yang ditawarkan beragam, tapi terdapat satu benang merah yaitu usaha menggambarkan pergulatan manusia di dalam upaya memperoleh hidayah.

Seperti dalam cerpen “Jangan Panggil Dia Lilis!” karya Boim Lebon, diceritakan bagaimana beratnya perjuangan tokoh Listiyo untuk membebaskan diri dari kepribadian seorang banci. Apalagi teman-temannya di sekolah sering meledek dia dengan panggilan Lilis.

Di sinilah dilematisnya bagi Nana, seorang murid baru pindahan dari sekolah lain, ketika menyadari laki-laki kemayu itu ternyata menaruh hati padanya. Banyak orang yang berharap bahwa ketertarikan Listiyo itu awal bagi perubahan dia untuk menjadi laki-laki tulen. Padahal sebagai gadis berjilbab yang aktif di rohis, bagi Nana tabu untuk pacaran. Nana bingung. Kalau dia menjauhi Listiyo, tidakkah itu akan memupuskan harapan Listiyo untuk ’sembuh’?

Tapi Nana tidak kehabisan akal, dengan cerdik ia memanfaatkan kedekatannya dengan Listiyo untuk membimbing lelaki itu supaya sering ke mushola dan mengaji.

Tentu saja ajakan itu semula tak habis dimengerti Listiyo. Tapi, dalam perkembangan berikut, setelah bergabung di kegiatan rohis, Listiyo merasa dirinya dihargai secara utuh. Karena para ikhwan itu tak pernah sekalipun mengejeknya dengan panggilan Lilis. Mereka mau menerima dirinya apa adanya. Sehingga, tak ada lagi keinginan untuk membuktikan dirinya sebagai lelaki tulen dengan cara memacari seorang cewek.

Sakti Wibowo dalam cerpen “Lutut” yang bergaya surealistik, cukup jitu menohok mereka yang sering melalaikan shalat. Cerita ini diawali tokoh Dirjo yang bermimpi lututnya dipukul dengan gada besi berduri. Dan ketika ia terbangun, ternyata tempurung lututnya memang benar-benar tak ada, sehingga kakinya tak bisa ditekuk. Karuan saja ia panik. Dirjo pun berusaha keras untuk mengembalikan lututnya. Bahkan ia ingin bertemu langsung dengan Tuhan untuk mempertanyakan takdirnya.

“Oh, Tuhan…! Lantas bagaimana kau rukuk dan sujud kepada Tuhan jika tempurungmu berada di belakang?” pekik orang yang ditemui Dirjo di perjalanan.

“Aku… tak pernah rukuk dan sujud.”

“Kalau begitu, bagaimana kau akan bertemu dengan Tuhan?”

“Aku…”

“Kalau kau tak mau rukuk dan sujud, untuk apa kau menuntut takdir lututmu sekarang?” gugat lelaki itu (hlm: 188).

Begitu pula Suatu Siang di Teras Masjid karya Gola Gong, tak jauh dari tema pergulatan manusia dalam upaya mendapatkan hidayah Tuhan. Di sini diceritakan, seorang preman yang terbiasa dengan kekerasan, justru tergugah pintu kesadarannya oleh seorang bocah dermawan yang tanpa sengaja dia temui di sebuah masjid. Sikap tulus bocah itulah yang kemudian memotivasinya untuk bertobat, dan meninggalkan masa lalunya yang kelam.

Sedangkan dalam Anak Sepasang Bintang karya Ibnu HS yang menjadi judul antologi ini, menuturkan tentang pergulatan batin seorang anak jadah, yang sampai dewasa pun selalu dibayang-bayangi pertanyaan siapa ayahnya. Bahkan sudah tiga lelaki saleh yang melamar, tapi selalu dia tolak hanya karena takut silsilah dirinya terbongkar. Yang ia tahu, waktu kecil, setiap kali ia menanyakan siapa ayahnya, ibunya cuma menghibur dengan menunjukkan satu bintang di langit. Cukup lama ia merasa terbebani oleh kenyataan tersebut. Sampai ia bertemu dengan seorang teman, yang sejak kecil tak pernah tahu siapa kedua orangtuanya. Jadi, ia masih lebih beruntung dibandingkan temannya itu.

Ketika sang ibu menjelang ajal, dan ingin mengatakan terus-terang siapa ayahnya, ia tak lagi terobsesi untuk mengetahuinya. Karena ia sudah bisa menerima kenyataan, dan tak ingin menghakimi masa lalu ibunya.

Dalam antologi ini masih banyak lagi cerita-cerita yang sarat dengan pesan moral dan agama, yang ditulis pengarang-pengarang beken seperti Joni Ariadinata, Irwan Kelana, M. Arman AZ, Ahmadun Y. Herfanda, Birulaut, dll. Aliansyah jumbawuya

(Ingin bukunya diresensi? Silakan kirimkan ke Serambi Ummah Jl AS Musyaffa No 16 Banjarmasin atau kontak person 085249344519)

***


Posted in Resensi Buku

Peringatan Maulid Nabi

Oleh: Dr H Abdurrahman, SH MH

Setiap bulan Rabiul Awwal tiba, umat Islam di berbagai kawasan bumi terlibat dalam satu kegiatan tradisi yang disebut dengan peringatan “Maulid” atau lengkapnya Maulid ar Rasul. Ditinjau dari aspek kebahasaan, kata maulid dalam bahasa Arab berasal dari akar kata “wa-la-da” yang artinya lahir. Yang melahirkan atau Sang ibu disebut “walidah“, bayi yang dilahirkan disebut “maulud”, sedangkan ayah dari bayi itu disebut “walid“. Karena itu dalam perkataan maulid tercakup makna waktu kelahiran itu terjadi, kalau perkataan maulid kita terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia maknanya adalah “hari kelahiran” atau dalam hubungan ini peringatan hari lahir Rasulullah SAW yang menurut ahli sejarah terjadi pada tanggal 12 Rabiul Awwal Tahun Gajah atau sekitar tahun 570 M.

Dalam ungkapan di atas disebutkan bahwa peringatan maulid Rasul adalah sebuah tradisi yang berkembang di kalangan umat Islam. Dikatakan tradisi oleh karena Rasulullah tidak pernah menganjurkan apalagi mewajibkan umatnya untuk memperingati hari lahirnya. Karena itu peringatan-peringatan maulid yang dilakukan di berbagai tempat lebih banyak dikaitkan dengan kondisi lokal. Karena itu berkembanglah berbagai kreasi tentang maulid melalui penampilan budaya yang dibalut dengan acara seremonial yang bernuansa agama seperti membaca salawat dan puji-pujian kepada Rasul sebagai sesuatu yang memang diwajibkan dalam agama.

Kapan peringatan maulid ini mulai diadakan? Kiranya perlu dibedakan antara peringatan yang sifatnya sederhana dan peringatan yang dilakukan secara besar-besaran melalui suatu acara. Memperingati secara sederhana dapat dilakukan oleh setiap orang sehubungan dengan ajaran “cinta pada Rasulullah” sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadis. Rasulullah harus dicintai lebih dari segala-galanya. Peringatan yang demikian tentunya tidak harus dikaitkan dengan hari lahir beliau dan harus dilakukan setiap saat oleh setiap muslim.

Dalam konteks inilah banyak diriwayatkan bahwa para sahabat Rasulullah juga sering berkumpul menjelang hari kelahiran Rasullah, mengungkapkan beberapa hadis Rasulullah, memperbincangkan perikehidupan beliau dalam rangka mengenang bagaimana dulunya mereka hidup bersama Rasulullah, menyajikan makanan-makanan yang disukai Rasulullah adalah tidak salah kalau disebut bentuk-bentuk peringatan maulid yang sangat sederhana.

Dalam sejarah buku tua yang berjudul “Peri Hidup Muhammad Rasulullah SAW” (1951) KH. Zainal Arifin Abbas seorang ulama terkenal dari Medan mengungkapkan menurut keterangan Sayid Ahmad Zaini Dahlan dalam “Siratun Nabawiyah“, bahwa As Sakhwy mengatakan pekerjaan melakukan upacara-upacara peringatan Maulid Rasul ini telah dilakukan umat Islam sesudah kurun yang ketiga dari hijrah. Sejak itu penganut-penganut agama Islam di seluruh negeri besar dan kecil, kampung dan desa terus menerus tiap tahun melakukan upacara maulid dengan cara besar-besaran. Menurut As Sakhawi, tidak ada ulama-ulama yang membangkang perbuatan itu, malah semua menyetujuinya dan merasakan manfaatnya, sebab mengandung pengajaran dan doa kepada Rasulullah, tak ada taabudi barang sedikit juga kepada Rasul (Abbas, 1951: 355).

Upacara memperingati maulid tersebut, kata As Sakhawy, yaitu pada malam Rasul maulid, umat mengadakan sedekah-sedekah, dan terutama sekali mementingkan pembacaan riwayat maulid Nabi yang mulia ini. Hal itu telah mendapat sukses terus menerus, sebab siapa yang melakukan maulid, mereka memperoleh keamanan dan ketenteraman selama tahun tersebut. Malah Ibn Jauzi menerangkan lagi, bahwa di antara khasiat melakukan upacara Maulid seperti tersebut di atas, yaitu beroleh keamanan dalam tahun itu dan tercapai maksud-maksud yang baik dan mulia.

Dalam disertasinya di Universitas Leiden (1989) Nico Kaptein dengan tema “Perayaan Hari Lahir Nabi Muhammad SAW: Asal-usul dan Penyebaran Awalnya; Sejarah di Magrib dan Spanyol Muslim sampai Abad ke 10/ ke-16 (Inis, 1994) mengemukakan dalam kata pengantarnya bahwa dewasa ini perayaan hari lahir Nabi Muhammad (arab, maulid an nabi) pada tanggal 12 Rabiul awal (=Rabi’I) merupakan satu dari tiga hari raya muslim yang utama. Meskipun maulid berbeda dari dua perayaan lainnya itu Hari Raya Buka Puasa (‘id al-fitr) dan Hari Raya Kurban (‘id al adha) bukan hari raya agama, dan perayaannya tidak ditentukan oleh hukum, namun dirayakan di hampir seluruh dunia muslim. Juga masyarakat muslim di luar dunia muslim merayakannya, misalnya di negeri Belanda.

Kemudian penulis wanita tentang keislaman Annemarie Schimmel dalam bukunya “And Muhammad is His Messengger: The Veneration of the Prophet in Islamic Piety” (1985) menulis tentang perayaan maulid Nabi dengan mengutip pendapat seorang darwys Turki Kecaturk (wafat 1697) yang berpantun: “Malam kala Rasul lahir sungguh serupa dengan Laylat Al-Qadar (Malam Ketentuan)” yaitu serupa dengan malam ketika Alquran diwahyukan untuk pertama kalinya, yang dalam surah ke-97 disebut “lebih baik dari seribu bulan”.

Satu abad kemudian Mufti mazhab Maliki Aljazair, Ibn Ammar, mengemukakan tiga hujjah ilmiah untuk gagasan ini: (1) hari kelahiran (mawlid) telah mempersembahkan Nabi kepada seluruh dunia, sedang Laylat Al-Qadar dikhususkan baginya (2) kehadiran Muhammad lebih penting bagi umat daripada turunnya para malaikat seperti yang disebut-sebutkan oleh surah ke-97, sebab Muhammad lebih tinggi dari para malaikat; (3) maulid adalah sebuah hari yang sangat penting bagi segenap alam semesta, sedangkan pewahyuan pertama Alquran dikhususkan bagi orang-orang yang muslim saja.

Apa yang dikemukakan oleh Nice Kaptein dan Annamerie Schimmel sebagai dua orang non-muslim, mungkin akan dinilai orang “agak berlebihan” tetapi itulah yang dapat direkam bagaimana penilaian orang tentang Maulid.

Hal ini juga terwujud pada waktu pemerintahan Khalifah Harun Ar-Rasyid di Baghdad (786 – 809) ibunya ketika menunaikan ibadah haji ke Mekkah pernah melakukan renovasi besar-besaran terhadap rumah tempat dimana Rasulullah dilahirkan dan menjadikannya tempat shalat dan di sana mereka mengadakan semacam peringatan maulid sebagaimana yang dilakukan oleh orang sekarang. Tempat itu ternyata mampu menimbulkan daya tarik yang luar biasa bagi jamaah haji yang datang ke Mekkah hampir menyamai Masjidil Haram. Karena itu adalah wajar bilamana tempat-tempat semacam itu ketika terjadi reformasi yang dilakukan oleh orang-orang Wahabi dihancurkan walaupun sampai sekarang tempat itu dijadikan sebagai perpustakaan yang masih dikunjungi oleh para jamaah yang datang dari berbagai penjuru dunia.

Para penulis sejarah mengemukakan bahwa peringatan maulid yang pertama secara besar-besaran adalah Malik Muzaffar Abu Said, pengusaha negeri Irbil (Arbella) di Irak sekitar 80 Km dari kota Mousul, pada tahun 604 H/1207. Beberapa penulis terkemuka seperti Ibn Jauzi dalam kitabnya “Miratuz Zaman” dan Ibn Khalikan dalam kitabnya “Wafayatu Al-Ayan“, sebagai saksi mata menggambarkan betapa luar biasanya peringatan yang dilakukan oleh Malik Muzaffar Abu Said yang juga dikenal sebagai Abu Said Al-Kaukaburi. Peringatan yang demikian memang berdimensi politis tetapi juga masih dalam kaitan mempertahankan dan tegaknya agama Allah.

Adanya peringatan semacam ini memang tidak lepas dari pro dan kontra. Para penentangnya mengemukakan pendapat bahwa peringatan yang demikian adalah sesuatu yang diada-adakan (bid’ah) dan bersifat sangat tercela. Hal ini mendorong seorang ulama terkemukakan Jalaluddin Asy Syuyuti (849 – 911 H/1445 – 1505 M) menulis sebuah kitab yang berjudul “Husn al-maqsid fi ‘amal al-Maulid” (Tujuan yang baik dalam peringatan Maulid), yang sangat membela adanya peringatan tersebut. Kalaulah perbuatan tersebut dianggap bid’ah maka menurut Syuyuti ia termasuk dalam apa yang dinamakan bid’ah hasanah.

Dalam bulan Rabiul awal sekarang ini kita kembali melakukan peringatan-peringatan maulid yang mungkin tidak banyak berbeda dengan peringatan-peringatan masa lalu. Bilamana alasan dan motivasi peringatan ini dilakukan dalam rangka kecintaan kita kepada Rasulullah maka ia adalah sesuatu yang baik, akan tetapi akan lebih baik lagi bilamana peringatan dimaksud membawa nilai tambah bagi kemajuan dan peningkatan kualitas umat dalam rangka mengembalikan kejayaan umat Islam dan sebagai upaya menegakkan sunah Rasulullah. Karenanya untuk kesekian kalinya kami mengemukakan mengenai perlunya kita mencarikan upaya alternatif yang perlu dikembangkan agar supaya peringatan itu benar-benar bermakna dan tidak hanya bersifat seremonial semata.

(Penulis sekarang menjadi Hakim Agung RI)

***


Posted in Budaya Banjar

Membaca Tanda-Tanda Kiamat

Judul buku: Kiamat Kecil dan Tanda-tanda Kiamat Besar

Penulis : Dr. Umar Sulaiman al-Asyqar

Penerjemah: Irfan Salim

Penerbit : PT. Serambi Ilmu Semesta

Tebal : 248 halaman

Kapan kiamat qubra tiba yang akan meluluh-lantakkan seluruh alam semesta sepenuhnya adalah rahasia Allah. Tak seorang pun mampu meramal, kecuali sekadar membaca tanda-tanda yang sebelumnya telah diisyaratkan dalam Alquran yang kemudian dipertegas oleh hadis Nabi.

Hal tak kalah penting daripada membicarakan kiamat besar ialah manusia seyogyanya jangan sampai lalai untuk mengingatkan dirinya sendiri bahwa suatu saat nanti ia pasti bakal mengalami kiamat kecil, bersamaan dengan datangnya ajal. Karena dengan mengingat maut, orang akan menjadi mawas diri, termotivasi beramal untuk bekal kehidupan akhirat. Sebab, ketika anak Adam memasuki alam barzah segala perbuatannya yang baik maupun yang jahat akan mendapatkan balasan setimpal.

Bahkan di saat malaikat maut mau mengambil nyawa sudah diperlihatkan keadilan Tuhan. Bagi muslim yang bertakwa, proses pencabutan roh itu dianalogikan seperti air yang menetes dari kantong. Malaikat yang datang pun dengan wajah cemerlang dipenuhi semerbak wewangian surga. Sebaliknya, bagi yang kufur nyawanya ditarik paksa bagai bulu wol yang tebal dan basah. Dan malaikat yang muncul tampangnya bengis lagi galak. Jadi, berat-ringan sakratul maut yang dihadapi seseorang sangat tergantung pada amaliah si bersangkutan selama hidup di dunia.

Tatkala sekarat pada saat itulah puncak ujian dihadapi manusia, garis penentu antara khusnul khotimah atau su’ul khotimah. Disebutkan, dalam keadaan genteng tersebut setan sangat antusias merubungi untuk menggoda sekaligus menggelincirkan manusia pada kesesatan. Caranya bisa dengan menyamar sebagai orangtua, suami/istri, atau orang yang terdekat dengan dia sembari merayu agar mau mengingkari keesaan Allah dan kerasulan Muhammad.

Karena itulah, dianjurkan bagi seorang muslim untuk membiasakan diri berdoa: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi karunia” (QS. Ali Imran: 8).

Pada bagian pertama buku karya Dr. Sulaiman al-Asyqar ini dijelaskan secara runtut bagaimana proses sakratul maut, keadaan dalam kubur, serta nasib roh setelah terpisah dari jasad. Diyakini paparan tersebut setidaknya akan mampu menggugah kita untuk senantiasa mengingat kematian, yang pada gilirannya dapat membawa kepada sebuah kesadaran.

Berikut dalam bagian dua, penulis memfocuskan pada pembahasan kiamat besar. Dan mempercayai datangnya kiamat merupakan bagian dari rukun iman.

Lebih detail lagi dalam bab III Sulaiman al-Asyqar menyebutkan tanda-tanda dekatnya kiamat yang masih berlangsung dan mungkin terulang lagi. Antara lain: terjadi penaklukkan dan peperangan, munculnya Dajal-dajal yang mengaku nabi, maraknya berbagai fitnah, diserahkannya urusan kepada yang bukan ahli, rusaknya kaum muslim, hamba sahaya melahirkan tuannya, konspirasi bangsa-bangsa terhadap umat Islam, bencana khasaf, qadzaf, dan masakh, harta melimpah-ruah, guncangnya nilai-nilai, serta polisi akhir zaman bersikap kejam.

Sedangkan tanda-tanda kiamat yang belum terjadi ialah: 1) Jazirah Arab kembali sarat dengan kebun-kebun dan sungai-sungai. 2) Bulan terlihat membesar. 3) Binatang buas dan benda mati dapat berbicara. 4) Sungai Efrat menyingkap gunung emas. 5) Keluarnya kekayaan alam yang terpendam di perut bumi. 6) Kaum muslim terkepung di Madinah. 7) Jahjah menjadi raja. 8 ) Munculnya al-Mahdi.

Selain tanda-tanda kecil yang mengindikasikan kian dekatnya kiamat, terdapat pula tanda-tanda besar yang memperkuat bahwa kiamat berada di ambang pintu.

Diriwayatkan ketika para sahabat berkumpul mendiskusikan tentang kiamat, Nabi menjelaskan: “Kiamat tidak akan terjadi sampai kalian melihat sepuluh tanda sebelumnya”. Lalu beliau menyebut kabut, Dajal, hewan melata, matahari terbit dari sebelah barat, turunnya Isa ibn Maryam, Ya’jud dan Ma’juj, tiga khasaf — di sebelah Timur, Barat, dan Jazirah Arab — dan terakhir api muncul dari Yaman yang memaksa manusia ke tempat berkumpul (mahsyar) mereka (dikutip dari Shahih Muslim IV, hadis ini disandarkan kepada Abu Daud dan Tirmidzi).

Adapun manfaat mempelajari tanda-tanda kiamat dapat memperteguh keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya, sekaligus menambah keyakinan kita terhadap kekuasaan Sang Khalik. Dengan mengacu pada sumber Alquran dan hadis Rasulullah, seyogianya kita tidak gampang terkecoh dengan ramalan-ramalan yang tidak berdasar.

Seperti pada kasus baru-baru ini oleh sekte Katolik yang menamakan kelompoknya sebagai Pondok Nabi, mereka berkeyakinan kiamat datang hari Senin 10 Nopember pukul 15.00, namun ternyata tidak terbukti. Malah kemudian mereka terpaksa berurusan dengan pihak berwajib karena telah menimbulkan keresahan di masyarakat. aliansyah jumbawuya

***


Posted in Resensi Buku

Brutal

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Lihatlah bola mata anak‑anakmu berbinar saat menyaksi­kan film laga. Mereka serta‑merta riuh‑rendah bertepuk tangan manakala tokoh jagoannya melancarkan aksi balas dendam. Batok kepala mereka direcoki beragam adegan kekera­san. Darah, mesiu, mayat bergelimpangan seakan menjadi pemandangan biasa.

Perlahan namun pasti mereka kelak bakal mempersepsikan bahwa kepahlawanan adalah siapa pun yang mampu mengalahkan lawannya tanpa ampun, pembinasaan adalah akhir dari penyele­saian masalah.

Naifnya, kau malah tersenyum menyaksikan momentum kecil itu seakan merestui upaya transfer kekerasan yang didalangi pemilik Production House yang semata berorientasi pada keuntungan finansial.

Maka tak perlu kaget jika setiap pagi, sebelum sempat menyerompot segelas kopi engkau keburu disuguhi berita kriminalitas. Modus operandi kejahatan pun kian canggih dan terorganisir. Kita semakin akrab dengan penganiayaan serta pembunuhan massal. Orang kian pandai merakit bom waktu dan meledakannya untuk suatu alasan yang mungkin sepele.

Sesekali cermatilah lebih seksama bagaimana ekspresi pelaku kejahatan dalam tayangan “Derap Hukum”, adakah kau temukan bias penyesalan di wajah mereka? Sudah pupuskah rasa kemanusiaan di antara kita? Apakah nyawa manusia tak lebih berharga dari uang recehan yang diperebutkan?

Padahal dalam surah Al Isra’ ayat 33 Allah SWT memper­ingatkan: “Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan (alasan) yang benar”.

Anehnya, manusia malah gemar mencari alasan pembenar!

Amerika Serikat yang mengaku sebagai polisi kemanu­siaan, justru di tangan negara super power ini HAM bukan lagi Ham Azasi Manusia melainkan “Hukum Adalah Mereka”.

Agar Badan Intelejin mereka tidak dianggap lemah berke­naan dengan peristiwa hancurnya gedung WTC dan Petagon maka diperlukan kambing‑hitam. Tanpa didasari bukti kuat AS seenaknya menuduh Osama bin Laden sebagai dalang di balik peristiwa itu. Dengan brutal mereka melepas ratusan rudal ke Afganistan setelah batasan waktu yang ditujukan kepada tentara Taliban untuk segera menyerahkan Osama tidak diin­dahkan.

Kini ratusan nyawa warga sipil tak berdosa bergelimpan­gan. Lewat televisi kita bisa saksikan bagaimana kebiadaban tentara AS yang didukung para sekutu. Kemudian untuk menutu­pi kebobrokannya AS menghimbau agar menyeleksi tayangan yang disebar‑luaskan stasiun Azeera.

Adakah nyawa manusia tak lebih berharga dari seonggok daging? Ya, manakala nurani telah mati, angkara pun merajai hati. Selalu ada dalih untuk melegalisasi kebrutalan.

***

Banjarmasin, 16 Oktober 2001



Posted in Refleksi