Oleh: Aliansyah Jumbawuya
Dalam pergaulan sehari-hari kita acapkali terlibat pembicaraan tentang berbagai masalah aktual yang berkembang di masyarakat. Entah itu pada pertemuan formal maupun di warung-warung pojok. Bahkan kadang diwarnai perdebatan sengit sampai bersitegang urat leher.

Memang setiap saat kita mesti berinteraksi, berbagi pengalaman dan informasi. Dan bentuk komunikasi yang paling sederhana adalah bahasa lisan.
Kendati bahasa tutur dapat dipergunakan setiap saat (kecuali bagi yang bisu dan gagap), namun ia mempunyai beberapa sisi kelemahan dibanding wacana. Di antaranya, objek yang tadinya begitu hangat diperdebatkan tidak bertahan lama, yang oleh seorang penyair Arab ditenggarai sebagai “omongan hanyalah debu diudara!“. Buah pikiran yang disampaikan kadang bersifat acak, tidak sistematis, sering melompat dari tema yang satu ke tema lain yang mungkin tidak ada relevansinya. Selain itu, media wicara cuma bisa disimak oleh segelintir orang yang kebetulan hadir pada saat dialog tersebut berlangsung.
Lain halnya dengan tulisan, ia bisa dinikmati kalangan luas, dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikut. Buktinya kita yang hidup di era millineum ini masih bisa mengadopsi pemikiran Al-Ghazali, Iqbal, Jalaluddin ar-Rumi, Montesque, Aristoteles, Plato, Abraham Lincoln, Ir. Soekarno, Buya Hamka, dan lain-lain berkat jasa pustaka. Singkat kata, wacana lebih “awet” ketimbang wicara!
Sayangnya, tidak setiap orang mampu menuangkan gagasan ke dalam bentuk tulisan. Banyak pelajar, remaja, mahasiswa, sarjana, bahkan dosen yang fasih berbicara di depan umum dan begitu terobsesi ingin jadi penulis namun belum ada satu pun tulisannya berhasil menembus kreteria layak muat.
Meski beratus buku panduan tentang tulis-menulis beredar di pasaran, tidak berarti begitu selesai mempelajarinya orang lalu jadi penulis handal. Teori sekedar memberi petunjuk, tetapi prakteklah yang paling penting. Di sinilah orang sering dihadapkan langsung dengan berbagai kendala, yang sekiranya kurang gigih tentu akan surut lalu mengubur cita- citanya untuk jadi penulis.
Jika demikian, apakah untuk menjadi penulis itu sulit? Jawabnya bisa ya bisa tidak. Ya, lantaran tidak setiap orang berhasil jadi penulis kendati ia sangat berambisi.
Tidak, karena cukup banyak orang yang berhasil jadi penulis dengan latar belakang kehidupan yang beragam. Bahkan Arswendo Atmowiloto pernah berkomentar dalam satu bukunya “Mengarang Itu Gampang”. Memang, pekerjaan apapun pada mulanya terasa sulit, tetapi jika sudah terbiasa akan mudah. Setiap orang yang melakoni profesi apapun, awalnya berangkat dari nol. Namun dengan itikad dan kemauan kuat untuk terus belajar, cepat atau lambat cita-cita tersebut pasti terwujud. Orang bijak bilang: kegagalan pada langkah pertama bukan akhir segalanya, melainkan kesuksesan yang tertunda.
Jika ada orang yang ngomong bahwa keterampilan menulis itu merupakan bakat alam yang dibawa sejak lahir yang cuma dimiliki orang-orang tertentu, semua itu jelas: nonsens! Thomas Alpha Edison merumuskan kunci keberhasilan itu adalah 90 persen usaha + 10 persen bakat. Disini ketekunan menjadi faktor penentu utama.
La Rose (alm), seorang penulis wanita yang produktif ketika ditanya berapa waktu yang diperlukannya dalam merampungkan satu artikel, dengan mantap menukas: puluhan tahun! Menurutnya kemampuan yang dimilikinya sekarang merupakan kelanjutan dari proses puluhan tahun silam. Di awal karirnya, seperti halnya penulis lain, tidak sedikit tulisannya berakhir di tong sampah redaksi. Tetapi ia tidak putus asa, dan terus mencoba memperbaiki gaya kepenulisannya. Akhirnya kegigihan tersebut membuahkan hasil. Bahkan kemudian banyak perusahaan penerbit yang ingin mengrekrutnya.
Intelegensi bukanlah segala-galanya. Untuk menjadi penulis tidak harus super cerdas. Asalkan pandai memberdayakan nalar, siapa pun “berhak” jadi penulis. Putu Wijaya ketika menggarap novel Telegram dilecut oleh semangat untuk membuktikan bahwa orang yang tidak banyak tahu pun layak dan harus diperhitungkan di Indonesia ini (Lihat: “Dari Bila Malam Bertambah Malam sampai Nyali dan Gerr” Putu Wijaya dalam Proses Kreatif, Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang, Editor Pamusuk Eneste hal: 151).
Kepercayaan terhadap potensi sendiri, perlu dipupuk. Tanpa kepercayaan diri biasanya orang hanya berjuang setengah hati. Para psikolog dibidang pengembangan sumber daya manusia acapkali menasehati bahwa besar-kecilnya nilai manusia sebanding dengan kapasitas pikirannya. Jika seseorang yakin bahwa kelak ia bakal jadi penulis tentu tidak akan berhenti berusaha kendati dihadapkan dengan berbagai kendala, hingga cita-citanya benar-benar terealisasi. Hukum alam menetapkan siapa yang gigih dialah yang berhak tampil sebagai pemenang.
Setiap perjuangan tentu saja menuntut pengorbanan. Salah satu modal yang harus dimiliki seorang calon penulis adalah gemar membaca. Dengan sering membaca pembendaharaan kosa kata terus bertambah, pun lambat-laun akan tahu bagaimana merangkai kata, menyusun kalimat, membuat paragraf hingga berbentuk karangan utuh.
Kalau kita rajin menyimak sisi kehidupan penulis, rasanya tak ada yang tidak kutu buku. Dari sering menyimak karya orang lain akhirnya tumbuh obsesi untuk menulis karya sendiri yang lebih bermutu.
Hal serupa dialami (Alm) Asmaraman S. Kho Ping Hoo. Karena merasa tidak puas terhadap cerita-cerita silat yang beredar waktu itu, ia sempat berkomentar bahwa ia pun mampu menulis fiksi yang lebih berbobot. Ternyata ia tidak sekadar jual omong kosong. Terbukti karya-karyanya begitu digandrungi kalangan muda hingga orang dewasa. Sekali lagi, disini faktor kepercayaan diri sangat dominan memegang peranan.
Perlu pula disadari oleh seorang penulis pemula, bahwa bilamana satu-dua tulisannya berhasil menembus media massa hendaknya ia tidak segera berpuas diri. Sebab begitu seseorang dihinggapi rasa puas maka seketika itu pula ia akan stagnasi, bahkan mungkin mengalami kematian kreativitas.
Padahal seorang penulis tidak saja bersaing dengan rekannya sekarang dan para pendahulunya (lihatlah karya- karya penulis yang telah wafat hingga kini banyak beredar dan dicetak ulang!) tapi juga penulis di masa depan yang terus bermunculan. Inilah keunikan profesi penulis. Jika tidak memiliki nafas marathon, tentu setelah beberapa kali sempat menghiasi lembaran media massa namanya akan tenggelam dan dilupakan orang.
Karena itu hasrat untuk menghasilkan karya terbaik dalam berbagai kesempatan perlu terus dipupuk. Seorang penulis sejati baru berhenti jika keadaan sudah benar-benar tak memungkinkan lagi!
***
Tentang penulis
The author does not say much about himself
Cari
Navigasi
Kategori:
Tautan:
Arsip:
Feed
Theme: Supposedly Clean by Alvin Woon. Blog pada WordPress.com.