Judul buku: Senjata Pemusnah Masal dan Kebijakan Luar Negeri Kolonialis
Pengarang : Hizbut Tahrir Inggris
Penerjemah: M. Ramdhan Adhi, dkk
Penerbit : Pustaka Thariqul Izzah
Cetakan : I, 2002
Tebal : xx + 124 halaman
Sebagai negara adikuasa, Amerika Serikat senantiasa pamer kekuatan. Negara-negara berkembang tak luput dari intervensinya. Bahkan PBB sebagai lembaga pengawas dunia yang seharusnya bersikap netral lambat-laun seperti didikte oleh AS dengan mengandalkan hak veto.
Kasus aktual yang begitu menyolok memperlihatkan arogansi negara super power ini ialah penyerangan terhadap kedaulatan Irak. Dengan alasan yang sangat dibuat-buat AS menuding negeri 1001 malam itu memiliki senjata pembunuh masal, walaupun faktanya sampai kini tuduhan tersebut tak pernah terbukti. Tapi lagi-lagi AS berdalih dengan argumentasi untuk membebaskan rakyat Irak dari rezim otoriter Saddam Husien.
Sebelum penyerangan mereka meyakinkan PBB untuk memanimalisir korban di pihak sipil. Namun realitas di lapangan berbicara lain, tak terhitung berapa banyak wanita dan anak-anak yang tak berdosa jadi tumbal kebiadaban agresi tentara koalisi di bawah komando Amerika.
Ini hanyalah satu dari konspirasi Barat dalam rangka menancapkan kuku-kuku kolonialisme mereka, terutama di kawasan Timur Tengah yang notabene adalah mayoritas muslim.
Buku yang disusun Hizbur Tahrir Inggris ini mencoba menguak secara jeli, motif-motif busuk apa yang tersembunyi di balik serangan Amerika terhadap Irak. Di sini terungkap betapa sering dengan mengatasnamakan hukum Internasional, politik luar negeri Barat terus berupaya mengokohkan kolonialisme, arogansi, tirani, serta perluasan pengaruh. Akibatnya, stabilitas dunia dan kedaulatan negara-negara lemah kian terancam.
Karena menyandang predikat polisi dunia, Amerika telah sedemikian jauh melampaui batas kewenangannya, tak jarang mencampuri kedaulatan dan kebijakan suatu negara. Setiap mendengar negara tertentu punya persenjataan nuklir Amerika seperti kebakaran jenggot, mengecam habis-habisan. Padahal dialah negara yang paling gencar mengembangkan senjata pemusnah masal seperti nuklir, bom hidrogen, maupun senjata kimia dan biologi.
“Jelas sekali bahwa Barat tidak dapat dipercaya dalam hal kepemilikan senjata pemusnah masal. Senjata tersebut telah digunakan secara sistematis oleh Barat terhadap jutaan orang tak berdosa dalam PD I, PD II, Perang Vietnam dan bahkan terhadap warga mereka sendiri” (hal: 21).
Dalam menyingkapi isu-isu yang terjadi di Timur Tengah, kentara sekali ketidakadilan Amerika dan Inggris. Mereka tak pernah membiarkan resolusi PBB yang memungkinkan diterapkannya langkah militer untuk menekan Israel, selalu dipatahkan dengan hak veto. Padahal jutaan pasang mata di dunia tak bisa dikelabui, begitu gamblang menyaksikan bagaimana Israel membantai warga muslim.
Hak Azasi Manusia (HAM) yang selama ini didengung-dengungkan adalah sebuah istilah yang sangat subjektif, dan standarnya tiada lain mengacu pada kehendak negara adi-kuasa! Sehingga lembaga-lembaga Internasional yang tadinya dapat berperan sebagai penetralisir, pengontrol bagi terciptanya perdamaian dunia, lambat-laun dimanipulasi oleh negara-negara Barat.
Maka dalam perkembangan berikut, wajar jika timbul berbagai gugatan atas ketidak-objektifan tersebut.
“Lembaga-lembaga internasional semacam PBB dan IMF merupakan organ-organ imperialis yang dirancang untuk menjajah negara-negara berkembang, termasuk negeri-negeri muslim. Syariat Islam melarang kaum muslim untuk menggantungkan nasibnya pada lembaga-lembaga seperti itu secara politik dan pemerintahan, dalam bentuk apapun” (hal: 33).
Untuk menutupi ‘belangnya’ AS sangat piawai memanfaatkan peran media massa dalam usaha menyebarkan propaganda. Sebab, apabila opini publik sudah bisa dikendalikan dan dikuasai, mereka akan mudah sekali memperoleh dukungan. Contoh paling aktual, pasca runtuhnya gedung WTC New York 11 September 2001, tanpa didukung bukti yang memadai, pemerintah Amerika langsung melemparkan tuduhan bahwa pelakunya adalah kelompok Osama bin Laden. Demikian pula label teroris sering dialamatkan kepada kelompok Islam.
Namun, lewat buku yang terdiri dari lima bab ini, Hizbut Tahrir Inggris mencoba membongkar kebobrokan di balik politik kebijakan luar negeri Barat. Dalam analisisnya, pengarang didukung oleh berbagai informasi dan data-data intelijen.
Buku ini hanya membeberkan seputar trik-trik yang dimainkan Barat dalam upaya memperluas politik kolonialis mereka, dan sayangnya tidak disertai ulasan tentang bagaimana seharusnya kiat-kiat strategis muslim untuk menghadapi semua itu. aliansyah jumbawuya
(Pernah dimuat di Serambi Ummah edisi 1 Oktober 2003)
***