Oleh: Aliansyah Jumbawuya
Sore yang indah. Langit disepuh bias merah tembaga. Desir angin menggamit lembut ujung dedaunan. Sebagian burung‑burung sudah ada yang kembali ke sarangnya, berkemas untuk episode esok yang tak pernah pasti.
Seperti hari‑hari kemarin, aku duduk di beranda. Terpekur dalam kesendirian. Sambil tanganku terus mengelus perutku yang kian membesar. Ini sudah bulan ketiga kehamilanku. Aku berharap bayi yang lahir kelak adalah laki‑laki, duplikat dari sang bapak. Setiap memandang pohon mangga yang terpancak di halaman, ingatanku selalu tertuju pada Mas Agam.
“Bagaimana pun bibit mangga ini mesti ditanam. Meski kita tak pernah tahu apakah kelak akan menikmatinya atau tidak. Sebab alam sendiri begitu sarat mengajarkan tentang kedermawanan. Seperti matahari yang selalu memberikan sinarnya tanpa sempat mempertanyakan imbalan yang ia terima,” cetus Mas Agam kala itu sambil mengibas-ngibaskan tangannya yang belepotan tanah.
Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan dia yang terkesan berfalsafah itu. Karena aku sudah terbiasa mendapatkan muntahan‑muntahan kalimat dari Mas Agam yang membutuhkan perenungan lebih mendalam.
Aku sendiri mulai terkesan dengannya lantaran kepiawaian dia dalam mengolah kata‑kata. Kendati kadangkala sikapnya rada ugal‑ugalan. Bahkan perkenalan kami cukup unik dan tak terduga. Malah aku sempat menduga dia orang gila yang kesasar.
Malam itu, selesai shalat Isya aku dikagetkan suara ribut‑ribut diluar. Seorang pemuda berteriak lantang mengusik perhatian seluruh penghuni kost.
“Wahai para penghuni khayangan! Adakah di sini yang bernama Dewi? Aku datang membawa titah. Songsonglah segera!” Berulang‑ulang kalimat itu diucapkannya, bagai orang yang tengah menghapalkan skenario untuk pertunjukan teater.
“Mungkin kamu yang dia maksud,” desak teman‑temanku sambil mendorong‑dorong tubuhku agar keluar menemuinya.
“Kebetulan saja namaku Dewi. Masak omongan orang yang lagi menceracau mesti ditanggapi,” sergahku mencoba mengelak.
Karena pemuda itu tak bosan‑bosan mengoceh, akhirnya ada juga temanku yang memberanikan diri menyamperi dia dari atas loteng.
“Cari siapa ya?” tanya Yetti.
“Di sini ada yang namanya Dewinta Anggreini? Aku mau ketemu. Penting! Bilang saja dari wartawan Al-Haq,” kata pemuda itu sambil menunjukkan ID Card‑nya.
Setengah ragu, aku mengansurkan tubuh di depan pintu. Dia langsung menyapaku: “Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikum salam,” sahutku seraya tetap diliputi rasa heran.
“Kamu Dewi kan?! Tadi aku menawari temanmu Santi untuk jadi model busana muslim. Dia sudah setuju. Karena kami butuh dua orang, dia kemudian merokemendasikan kamu. Kalau nggak percaya, ini pesan dia, juga foto kalian berdua,” katanya langsung ke pokok masalah.
Aku segera menerima kertas yang disodorkan pemuda itu. Betul, dari tulisannya aku bisa mengenali kalau itu memang benar-benar dari Santi.
“Bagaimana? Setuju kan!” cecarnya.
Semula aku sempat menolak. Tapi karena terus dibujuk (setengah dipaksa) akhirnya aku menyerah juga untuk menerima tawaran tersebut.
***
Setelah acara pemotretan itu aku mengira tak akan ketemu dia lagi. Tapi dugaanku meleset. Sekitar sebulan berikut ia nongol. Tanpa banyak cingcong ia langsung mengajakku makan di luar.
“Kebetulan aku barusan dapat juara lomba penulisan Hari Lingkungan Hidup. Jadi, maksudku kemari pengin traktir kamu. Hitung-hitung sekalian bagi-bagi rejeki,” katanya.
“Gimana ya…” sahutku ragu.
“Jangan menolak. Soalnya memberi kesempatan orang lain untuk berbuat kebaikan juga sebuah kebaikan. Ayolah. Please…”
Jadilah malam itu kami makan bersama di depot Ananda.
Sedang asyik menikmati hidangan, tiba-tiba Mas Agam nyeletuk, “Dewi, dengar-dengar sudah dua kali orang melamarmu tapi menthok. Memangnya gimana kreteria calon suamimu nanti?”
Aku hampir saja tersedak mendengar pertanyaan itu. Sesaat aku sempat dibuatnya kelimpungan.
“Kalau Mas Agam sendiri menginginkan istri itu yang bagaimana?” elakku mencoba mengalihkan arah pembicaraan.
“Yang penting salehah. Di samping juga mandiri, tidak terlalu mengantungkan hidupnya pada suami. Sebab, kalau aku mati dia tidak panik untuk menafkahi anak-anak,” kata Mas Agam sambil menyendok sayur sop di depannya.
“Maksudnya dia harus wanita karir?”
“Tidak mesti. Ia boleh saja menjadi ibu rumah tangga, asal itu memang panggilan jiwanya. Yang pasti aku tidak mau seorang wanita itu begitu menjadi istri, lalu potensinya jadi lumpuh. Rasanya sayang kalau bakat yang dikaruniakan Allah ditelantarkan,” lanjut Mas Agam.
Bicara dengan Mas Agam memang mengasyikkan. Dalam setiap pertemuan, ia hampir selalu memotivasiku. Kalau ditanya targetnya selalu jawabnya ingin jadi orang kaya.
“Sebab kalau ekonomi muslim kuat kita akan bisa berbuat banyak untuk umat. Kita terlalu mokal bicara tentang jihad ke negeri tetangga, kalau hal kecil seperti menyuguhi tamu air putih saja kita sering abai. Itu karena kita miskin, di samping juga dihinggapi sifat kikir. Bagaimana orang lain bisa respek kalau kita bisanya cuma menerima dan enggan memberi,” ucap Mas Agam berapi-api di kesempatan lain.
Ternyata omongan Mas Agam itu tidak main-main. Setelah ia jadi suamiku, aku sering menyaksikan ia mendermakan uangnya pada fakir miskin dan anak-anak panti asuhan. Padahal gajinya sendiri tidak begitu besar.
Bahkan suatu hari aku pernah dibuatnya takjub. Uang honor tulisan yang sekiranya direncanakan untuk membeli kemeja koko semua disumbangkannya untuk dana pembangunan masjid. Padahal pagi sebelumnya, kudengar ia begitu menggebu-gebu ingin punya baju baru. Tapi ketika siang itu pencari dana mengetuk pintu rumah kami, tanpa banyak pertimbangan ia langsung memberikan uangnya.
Waktu aku protes, dengan enteng Mas Agam berucap, “Ah baju yang ada juga masih bagus. Nanti rejeki lain pasti datang. Kalau orang minta dan kita kebetulan punya kenapa tidak. Sesekali menyenangkan orang yang punya hajat apa salahnya.”
Haahhh?! Sesekali, katanya. Apakah Mas Agam lupa kalau ia berbuat itu bukan cuma sekali, bahkan terlalu sering?
***
Seperti hari-hari lalu, semenjak suamiku terbunuh karena ditikam seseorang yang tak dikenal (diduga suruhan pengusaha ilegal logging yang kasusnya dibongkar Mas Agam), setiap sore aku duduk di beranda rumah sambil memandangi pohon mangga. Dengan begitu aku sering merasa Mas Agam masih di sisiku. Terngiang selalu ucapannya saat-saat pertama menanam bibit mangga itu.
“Bagaimana pun bibit mangga ini mesti ditanam. Meski kita tak pernah tahu apakah kelak akan menikmatinya atau tidak. Sebab alam sendiri begitu sarat mengajarkan tentang kedermawanan….”
Kini pohon mangga itu sudah tumbuh besar dan berbuah. Sekarang tinggal sebiji buahnya yang tersisa, setelah sebagian besar diminta para tetangga.
Sebenarnya, kalau memperturutkan hasratku yang lagi ngidam mungkin sudah lama mangga itu kujolok. Tapi keinginan itu selalu kutahan. Sebab setiap melihat buah mangga itu berjuntai-juntai di tiup angin, rasanya ada kebanggaan tersendiri bahwa jerih-payah Mas Agam dulu hasilnya terlihat.
Pikiranku pun sempat menerawang jauh. Kenapa Mas Agam pergi menghadap Ilahi justru disaat kehamilanku yang pertama.
Aku tahu betapa Mas Agam dulu sangat menginginkan anak. Tapi selama tiga tahun mengarungi bahtera perkawinan, kami belum juga dikarunia buah hati. Sampai kemudian aku telat menstruasi satu bulan. Setelah diperiksa, ternyata aku positif hamil. Sengaja aku merahasiakannya dari Mas Agam, dengan maksud memberinya suprise.
Tapi sebelum aku sempat memberitahu tentang kehamilanku, musibah itu merenggut nyawa Mas Agam.
Mendadak lamunanku buyar, ketika Titin, tetanggaku di ujung gang, memanggil-manggil namaku.
“Mbak Dewi, minta mangganya ya?! Soalnya aku lagi ngidam dan pengin ngerujak mangga. Tadi sudah dicari-cari di pasar tapi tak ada yang jual. Boleh nggak Mbak Dewi?” Suara itu begitu memelas.
Aku sendiri sangat menginginkan buah itu. Sebab ada ikatan emosi dengan Mas Agam setiap menatap buah mangga tersebut.
Di tengah kebimbanganku, tiba-tiba seolah-seolah suara Mas Agam berdengung di telingaku.
“Dalam ajaran Islam seseorang belum bisa dikatakan dermawan sebelum ia memberikan apa yang dicintainya.”
Tiba-tiba aku seperti diingatkan. Sesaat kemudian langsung mengiyakan permintaan Titin.
Rasa plong mengusap relung kalbuku. Hati kecilku pun lalu berbisik, “Mas Agam, pesanmu tentang kedermawanan akan kuingat selalu….”
(Pernah dimuat di Serambi Ummah No.180, 25 April–1 Mei 2003)
***
Judul Buku: Jaringan Konspirasi Menentang Islam
Penulis : Dr. Sa’duddin al-Sayid Shalih
Penerjemah: Drs. Muhammad Thalib
Penerbit : Wihdah Press
Tebal : xvi + 214 halaman
Dari masa ke masa musuh-musuh Islam tak pernah berdiam diri, mereka selalu melancarkan rencana dan gerakan untuk melemahkan kekuatan Islam. Kelompok Zionis, Salibis, dan komunis atheis bersekutu lewat berbagai cara dalam upaya memerangi Islam. Bahkan sekarang ini caranya lebih tersembunyi dan sistematis. Terutama melalui penyebaran ‘virus’ pemikiran dan budaya, dengan tujuan agar kaum muslim kian jauh dari ajarannya.
Sebetulnya isu-isu semacam ini sudah lama berkembang. Bahkan Allah dalam Alquran sudah memperingatkan: “Sebagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang timbul dari diri mereka sendiri…” (Al-Baqarah: 109).
Sejarah mencatat dari beberapa kali serangan yang dialamatkan kepada umat Islam walau didukung persenjataan canggih, tapi mereka acapkali mengalami kegagalan. Setelah itu, mereka terus berusaha menyelidiki apa yang menjadi dasar kekuatan umat Islam.
Ternyata meskipun seluruh kekuatan di muka bumi ini dihimpun untuk memberangus kaum muslimin, tidak akan pernah berhasil selama umat Islam mampu mengekang hawa nafsunya dan berpegang teguh pada agama Allah. Tetapi, manakala terjadi pengabaian dan pengingkaran terhadap syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari, maka pada saat itulah kita mudah untuk dilumpuhkan.
Kekuatan muslim terletak pada konsistensi mereka dalam menjalankan ajaran Islam, apapun bentuk makar dan tipu-muslihat musuh-musuh dapat ditangkis. Kehancuran umat Islam bukan disebabkan oleh faktor eksternal (luar), melainkan akibat kesalahan sendiri. Dan, salah satu penyakit paling menonjol yang menimpa umat Islam adalah suka berpecah-belah dan tercerai-berai dalam kelompok atau aliran. Padahal pemicunya hanya masalah-masalah yang bersifat khilafiyah.
Dalam bukunya ini, Dr Sa’duddin as-Sayyid Shalih mencoba membeberkan beberapa siasat yang dilakukan musuh-musuh Islam, yaitu dengan cara melemahkan aqidah Islam, menimbulkan kebimbangan dan keraguan di hati kaum muslimin, meniupkan perasaan putus asa, memutuskan ikatan persaudaraan sesama muslim, menimbulkan fitnah dan kekacauan di dunia Islam serta membantu para penjajah menguasai dunia Islam (hal: 79).
Lebih jauh, dipaparkan secara rinci target yang dilancarkan musuh-musuh Islam.
Pertama, mengikis jiwa Islam dari hati kaum mukmin. Karena mereka tahu pasti bahwa sumber kekuatan umat Islam pada aqidah yang sarat dengan nilai-nilai akhlak, kesucian dan ketulusan untuk berkorban. Lalu, ditempuhlah cara bagaimana supaya ajaran Islam dilaksanakan sepotong-potong, atau malah sama sekali ditinggalkan oleh pemeluknya. Sehingga Islam hanya tinggal nama, dan Alquran sekadar kaligrafi yang dipajang di dinding.
Kedua, menghancurkan persatuan di dunia Islam. Para misionaris terus berupaya meniupkan api fitnah dengan mengobarkan fanatisme golongan. Akibatnya, jika umat Islam sudah tercerai-berai bak buih di lautan, mana sempat lagi untuk mengurusi usaha pemberdayaan dan pengembangan potensi umat. Maka, tak heran dalam hal penguasaan iptek kita masih tertinggal jauh.
Ketiga, menghalangi dakwah Islam. Kaum misionaris dengan didukung tenaga profesional dan dana yang sangat memadai, mereka lebih gesit melakukan kristenisasi di daerah-daerah terpencil.
Keempat, menimbulkan kesan jelek tentang Islam di mata dunia. Karena sentral media massa dikuasai Yahudi, maka mereka dengan mudah menyebarkan berbagai propanganda yang bertujuan untuk menciptakan imej negatif terhadap Islam. Jika opini publik telah berhasil dibentuk, akibatnya orang jadi antipati dengan Islam.
Kelima, menebarkan benih putus asa di kalangan Islam. Sikap pesimis, mudah menyerah dengan keadaan, gampang dibuai khayalan, tak pelak membuat SDM umat Islam jadi lemah. Jika sudah begitu, maka jabatan-jabatan penting dan strategis akan jatuh ke tangan orang-orang non-muslim.
Dalam memperkuat kupasannya, penulis buku ini didukung daftar referensi yang cukup panjang. Kepada pembaca muslim, Sa’duddin mengingatkan bahaya strategi yang dilancarkan musuh-musuh Islam yaitu dengan cara mengobok-obok Islam dari dalam. Dengan pengetahuan tersebut diharapkan kita semakin jeli dan mawas diri dalam mengenali trik-trik yang mereka terapkan untuk melumpuhkan kekuatan Islam. aliansyah jumbawuya
(Ingin bukunya diresensi? Silakan kirimkan ke Serambi Ummah Jl AS Mussyafa No 16 atau kontak person HP 085249344519. Terimakasih.)
***
Oleh: Aliansyah Jumbawuya
Benih kasih purba titipan Adam dan Hawa
Berbiak, merambatkan akar serabut di katup jantungku
Mendesak urat saraf menagih lahan gembur
Dinda, kaukah pewaris kesuburan itu
Tataplah pohon pinang di samping rumah
Berpuluh musim sudah mengurai mayang
Dan agin pun berhembus lembut
Menghantar semerbaknya ke bilik kamarmu.
Merpati bersedau-gurau dengan pasangannya
Bergulingan di permadani rerumputan
Sambil mencercap butir-butir embun
Mereka jalin kemesraan
Atas nama restu semesta
Dinda, tidakkah kau iri menyaksikannya?
Tiga purnama sudah kita lewati titian waktu
Bersulang canda sembari meragi hati
Tidakkah kau tangkap isyarat yang kubidik
Lewat kata dan tatapan mata?
***
Judul buku: Senjata Pemusnah Masal dan Kebijakan Luar Negeri Kolonialis
Pengarang : Hizbut Tahrir Inggris
Penerjemah: M. Ramdhan Adhi, dkk
Penerbit : Pustaka Thariqul Izzah
Cetakan : I, 2002
Tebal : xx + 124 halaman
Sebagai negara adikuasa, Amerika Serikat senantiasa pamer kekuatan. Negara-negara berkembang tak luput dari intervensinya. Bahkan PBB sebagai lembaga pengawas dunia yang seharusnya bersikap netral lambat-laun seperti didikte oleh AS dengan mengandalkan hak veto.
Kasus aktual yang begitu menyolok memperlihatkan arogansi negara super power ini ialah penyerangan terhadap kedaulatan Irak. Dengan alasan yang sangat dibuat-buat AS menuding negeri 1001 malam itu memiliki senjata pembunuh masal, walaupun faktanya sampai kini tuduhan tersebut tak pernah terbukti. Tapi lagi-lagi AS berdalih dengan argumentasi untuk membebaskan rakyat Irak dari rezim otoriter Saddam Husien.
Sebelum penyerangan mereka meyakinkan PBB untuk memanimalisir korban di pihak sipil. Namun realitas di lapangan berbicara lain, tak terhitung berapa banyak wanita dan anak-anak yang tak berdosa jadi tumbal kebiadaban agresi tentara koalisi di bawah komando Amerika.
Ini hanyalah satu dari konspirasi Barat dalam rangka menancapkan kuku-kuku kolonialisme mereka, terutama di kawasan Timur Tengah yang notabene adalah mayoritas muslim.
Buku yang disusun Hizbur Tahrir Inggris ini mencoba menguak secara jeli, motif-motif busuk apa yang tersembunyi di balik serangan Amerika terhadap Irak. Di sini terungkap betapa sering dengan mengatasnamakan hukum Internasional, politik luar negeri Barat terus berupaya mengokohkan kolonialisme, arogansi, tirani, serta perluasan pengaruh. Akibatnya, stabilitas dunia dan kedaulatan negara-negara lemah kian terancam.
Karena menyandang predikat polisi dunia, Amerika telah sedemikian jauh melampaui batas kewenangannya, tak jarang mencampuri kedaulatan dan kebijakan suatu negara. Setiap mendengar negara tertentu punya persenjataan nuklir Amerika seperti kebakaran jenggot, mengecam habis-habisan. Padahal dialah negara yang paling gencar mengembangkan senjata pemusnah masal seperti nuklir, bom hidrogen, maupun senjata kimia dan biologi.
“Jelas sekali bahwa Barat tidak dapat dipercaya dalam hal kepemilikan senjata pemusnah masal. Senjata tersebut telah digunakan secara sistematis oleh Barat terhadap jutaan orang tak berdosa dalam PD I, PD II, Perang Vietnam dan bahkan terhadap warga mereka sendiri” (hal: 21).
Dalam menyingkapi isu-isu yang terjadi di Timur Tengah, kentara sekali ketidakadilan Amerika dan Inggris. Mereka tak pernah membiarkan resolusi PBB yang memungkinkan diterapkannya langkah militer untuk menekan Israel, selalu dipatahkan dengan hak veto. Padahal jutaan pasang mata di dunia tak bisa dikelabui, begitu gamblang menyaksikan bagaimana Israel membantai warga muslim.
Hak Azasi Manusia (HAM) yang selama ini didengung-dengungkan adalah sebuah istilah yang sangat subjektif, dan standarnya tiada lain mengacu pada kehendak negara adi-kuasa! Sehingga lembaga-lembaga Internasional yang tadinya dapat berperan sebagai penetralisir, pengontrol bagi terciptanya perdamaian dunia, lambat-laun dimanipulasi oleh negara-negara Barat.
Maka dalam perkembangan berikut, wajar jika timbul berbagai gugatan atas ketidak-objektifan tersebut.
“Lembaga-lembaga internasional semacam PBB dan IMF merupakan organ-organ imperialis yang dirancang untuk menjajah negara-negara berkembang, termasuk negeri-negeri muslim. Syariat Islam melarang kaum muslim untuk menggantungkan nasibnya pada lembaga-lembaga seperti itu secara politik dan pemerintahan, dalam bentuk apapun” (hal: 33).
Untuk menutupi ‘belangnya’ AS sangat piawai memanfaatkan peran media massa dalam usaha menyebarkan propaganda. Sebab, apabila opini publik sudah bisa dikendalikan dan dikuasai, mereka akan mudah sekali memperoleh dukungan. Contoh paling aktual, pasca runtuhnya gedung WTC New York 11 September 2001, tanpa didukung bukti yang memadai, pemerintah Amerika langsung melemparkan tuduhan bahwa pelakunya adalah kelompok Osama bin Laden. Demikian pula label teroris sering dialamatkan kepada kelompok Islam.
Namun, lewat buku yang terdiri dari lima bab ini, Hizbut Tahrir Inggris mencoba membongkar kebobrokan di balik politik kebijakan luar negeri Barat. Dalam analisisnya, pengarang didukung oleh berbagai informasi dan data-data intelijen.
Buku ini hanya membeberkan seputar trik-trik yang dimainkan Barat dalam upaya memperluas politik kolonialis mereka, dan sayangnya tidak disertai ulasan tentang bagaimana seharusnya kiat-kiat strategis muslim untuk menghadapi semua itu. aliansyah jumbawuya
(Pernah dimuat di Serambi Ummah edisi 1 Oktober 2003)
***
Oleh: Aliansyah Jumbawuya
Demikianlah, kupilih kata paling baja
Kutempa hingga tajamnya menjelma senjata
Dik, mari tetak rantai tradisi karatan
Bukan, bukan karena keangkuhan
Atau lantaran kita asuhan era milineum tiga
Adalah semata demi karunia yang bermukim di dada
Yang sekian musim kita pelihara dari badai prahara
Haruskah kini porak poranda, tersia
Saat terbentur diskriminasi & persepsi salah kaprah
Bahwa kau yang gadis turunan Syarifah
Mesti berkait jari dengan lelaki Said
Telah berulang kudulang butiran makna Al Quran
Namun tiada kutemu ketentuan demikian
Maka, selama ikrar dan kiblat kita sama
Sepanjang itu jalan dan gerbang terbuka.
Banjarmasin, Mei 1999
***
Judul buku: Bagaimana Menyukseskan Pergaulan Anda
Penulis : Khalil Al-Musawi
Penerjemah: Ahmad Subandi
Penerbit : Lentera
Tebal : xii + 216
Manifestasi takwa bukan hanya dalam bentuk pelaksanaan ibadah, juga tercermin dari akhlak pergaulan. Sebagai makhluk sosial, manusia tak bisa mengesampingkan orang lain. Karena itulah dalam konsep agama diatur masalah-masalah muamalah yang menyangkut hubungan dengan sesama.
Bahkan hal-hal yang tampaknya sepele, tak luput dari perhatian Islam. Misalnya, menyingkirkan duri di tengah jalan, larangan berbisik-bisik di antara orang lain demi menghindari ada pihak yang tersinggung, dll. Termasuk menebar senyum tulus sama nilainya dengan bersedekah. Hal ini menegaskan betapa tingginya akhlak pergaulan yang diajarkan dalam Islam. Tinggal kemauan dan itikad kita untuk mengerjakannya.
Dalam buku yang berjudul Kaifa Tata’amal Ma’a an-Nas ini Khalil Al-Musawi mencoba menawarkan kaidah-kaidah pergaulan berdasarkan tuntunan Islam yang disarikan dari Alquran, sunah-sunah Rasulullah, maupun riwayat-riwayat para imam. Dengan tujuan agar kita semakin bijaksana dalam bergaul, sehingga memberi kontribusi positif bagi terciptanya suasana harmonis di masyarakat.
Kita tidak menampik bahwa harta sangat penting dalam memenuhi kebutuhan pribadi maupun sosial, termasuk untuk membantu orang lain yang sedang kesusahan. Namun harta bukanlah satu-satunya ukuran untuk berbuat kebajikan. Jikalau kita tak mampu bersedekah dalam bentuk materi (finansial), kita masih dimungkinkan berbuat sesuatu yang berarti, dengan akhlak terpuji. Membezok orang yang sakit, membesarkan hati mereka yang ditimpa musibah, dapat pula menjadi sarana terciptanya ukhuwah Islamiyah yang erat. Sebagaimana pernah dikatakan imam Ali ra. bahwa akhlak yang baik itu akan mampu melahirkan kecintaan dan memperkuat kasih-sayang di antara sesama.
Untuk melestarikan pergaulan hal mendasar yang patut dikedepankan ialah sifat tawadhu. Agar bisa diterima di berbagai lapisan masyarakat, seyogianya kita menempatkan diri sepadan dengan siapapun, tanpa mempersoalkan kedudukan dan status sosial yang disandang.
“Rasulullah SAW — meskipun seorang nabi yang agung – di tengah-tengah kaumnya, tidak ubahnya seperti salah seorang dari mereka. Rasulullah SAW menambatkan sendiri unta, menyapu rumah, memerah susu domba, menjahit sandalnya, menjemur pakaiannya, makan bersama pembantu, menggantikan pembantunya menggiling gandum jika si pembantu capai, membeli sendiri keperluannya ke pasar, tidak malu menjilat makanan yang menempel di tangannya, dan sebagainya” (hal: 70).
Kiat lain adalah memberi perhatian yang tulus kepada orang lain. Jika kita selalu bersimpati pada sesama, niscaya akan tercipta persaudaraan abadi. Apalagi di saat seseorang terpuruk, kemudian kita mendampingi dan memberi dukungan moril, insya Allah disaat jayanya, ia tidak akan mudah melupakan kita.
Pada dasarnya setiap manusia itu senang jika dirinya dihargai. Karena itu, dalam pergaulan sehari-hari jangan sungkan-sungkan untuk menunjukkan bahwa kehadiran mereka sangat penting. Terutama kalau seseorang punya prestasi atau kelebihan khusus, apa salahnya kita memberikan pujian dengan maksud untuk memotivasi dia agar lebih memberdayakan potensi yang dimilikinya.
Dalam bukunya ini, Khalil Al-Musawi cukup detail memaparkan seputar kebiasaan yang patut untuk dikembangkan agar dalam pergaulan kita menjadi pribadi yang disenangi semua orang. Antara lain: kemampuan menularkan keceriaan pada teman-teman, murah senyum, menghindari perdebatan, menjadi pembicara yang luwes, berani mengakui kesalahan sendiri, memelihara aib sesama, dan sebagainya.
Bahkan hal yang tampaknya sepele, namun cukup vital bagi terbinanya persahabatan yang langgeng, tak luput dari analisa penulis. Seperti kesediaan untuk menjadi pendengar yang baik, maupun menghafal nama orang-orang yang baru dikenal.
Buku ini cukup representatif sebagai acuan bagi muslim. Dengan memperluas jaringan pergaulan, kesempatan kita untuk mengembangkan ukhuwah Islamiyah juga lebih luas. Dan itu merupakan bagian integral dari kesalehan sosial. Bukankah sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling bermanfaat bagi sesamanya? aliansyah jumbawuya
(Pernah dimuat di Serambi Ummah edisi 16 Sept 2003.)
***
Oleh: Aliansyah Jumbawuya
Mana yang lebih mujarab
Ucap atau usap
Mana yang lebih candu
Lagu atau cumbu
Mana yang lebih ngilu
Sembilu atau cemburu
Ada yang paling luka
Duka atas prasangka
Ragumu memburu ragaku
Menjelma batu
Banjarmasin, Sept 2000
***
Judul buku : Islam dan Teologi Pembebasan
Penulis : Asghar Ali Engineer
Penerjemah : Agung Prihantoro
Penerbit : Pustaka Pelajar
Tebal : xiv + 332 halaman
Agama bukan semata berisi tentang hal-hal ritual, juga mengandung potensi dan semangat perubahan. Ajaran Islam agar bisa membumi, ia harus mampu memberi nilai manfaat bagi pemeluknya, yang menuntun ke arah perbaikan hidup.
Kalau kita cermati awal sejarah kemunculan Islam, betapa banyak perombakan yang dilakukan Nabi Muhammad SAW terhadap masyarakatnya yang waktu itu masih dikungkung oleh tradisi jahiliyah. Kaum perempuan yang tadinya sekadar alat pemuas nafsu, bahkan kelahiran mereka dianggap aib bagi keluarga, namun semenjak kehadiran Islam persepsi tersebut coba diluruskan; sehingga dalam perkembangan berikut derajat dan harkat mereka dihargai setara dengan pria. Fanatisme terhadap kesukuan berubah menjadi persaudaraan universal. Masyarakat Arab yang dulunya dikenal buta huruf, dianjurkan mencintai ilmu pengetahuan.
Hal ini merupakan indikasi kuat bahwa Islam itu sarat dengan nilai-nilai revolusioner. Terdapat semacam keberpihakan dan pembelaan terhadap kaum tertindas. Maka, tak heran jika di awal penyebarannya Islam lebih dulu diterima di kalangan masyarakat bawah. Karena dalam pandangan Islam semua manusia itu sama, yang membedakan di hadapan Allah hanyalah kadar ketakwaan masing-masing. Atas dasar itu Islam tidak mengenal kelas sosial. Inilah konsep keadilan. Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa Islam mengusung misi pembebasan dari segala bentuk diskriminasi. Hal tersebut bisa dikaji dari banyaknya ayat-ayat Alquran, baik secara tersurat maupun tersirat, yang menggugat beragam ketidak-adilan yang terjadi di masyarakat.
Sayangnya, sekarang ini nilai-nilai ajaran Islam sebagai penyelamat dari keterpurukan, penggagas bagi perubahan, pendengung keadilan, kurang begitu dikenal oleh pemeluknya sendiri. Wacana yang muncul lebih banyak berkutat pada seputar peribadatan, yang menyebabkan umat Islam sekian abad ini kehilangan spirit untuk memadukan antara keluhuran agama dengan motivasi membangun peradaban.
Karena itu, dalam kata pengantar bukunya ini, Agshar Ali Engineer menegaskan perlunya untuk menggali kembali potensi revolusioner yang terkandung dalam teologi Islam. Dengan alasan bahwa teologi Islam yang saat ini berkembang di masyarakat telah kehilangan relevansi dengan konteks sosial yang ada. Padahal, menurutnya, teologi Islam itu seharusnya bersifat kontekstual dan transendental. Di samping itu, juga untuk mengembalikan komitmen Islam seperti semula terhadap terciptanya keadilan sosial-ekonomi dan terhadap golongan masyarakat lemah (hal: xi).
Salah satu tantangan umat Islam sekarang ialah meningkatkan sumber daya manusia (SDM). Tanpa didukung yang satu ini, rasanya akan sulit untuk mengambil peran sentral di berbagai lini kehidupan. Terutama dalam upaya mengentaskan kemiskinan.
Nabi Muhammad SAW sendiri menyatakan bahwa kemiskinan itu akan mendekatkan orang pada kekufuran. Sebab, mereka yang hidup dalam keadaan serba kekurangan, sangat rentan tergelincir aqidahnya hanya karena iming-iming materi. Karena itu, dalam rangka mewujudkan kebangkitan Islam, sektor ekonomi perlu pula mendapat perhatian yang serius. Di sinilah tantangan bagi para ekonom muslim bagaimana caranya melakukan terobosan untuk lebih memberdayakan umat Islam.
Dalam Islam di samping kesalehan ritual dikenal pula apa yang dinamakan kesalehan sosial. Salah satu bentuk implementasi dari kesalehan sosial itu antara lain adalah membebaskan golongan masyarakat lemah (marjinal) dari penderitaan, serta memberi kesempatan kepada mereka seluas-luasnya untuk mengaktualisasikan diri.
Kehadiran buku ini diharapkan kiranya dapat merangsang pemikiran-pemikiran baru untuk membantu membebaskan teologi Islam dari cengkeraman stagnasi dan konservatisme, sehingga ke depan umat Islam lebih piawai dalam menghadapi berbagai tantangan zaman. aliansyah jumbawuya
(Pernah dimuat di Serambi Ummah edisi 207, 29 Oktober 2003)
***
Oleh: Aliansyah Jumbawuya
ada yang lebih berarti
dari seumbar janji
ialah kesetiaan matahari
menyapa di tiap pagi
ada yang lebih berharga
dari selaksa kata-kata
ialah kesediaan bunga
berbagi pesona
ada yang lebih sarat makna
dari seuntai puisi
ialah tatapan jejaka
kepada juwita
ada yang lebih asyik
dari seribu bisik
ialah cercit sepasang gelatik
saling menggamit
Banjarmasin, September 2000
***
Oleh: Aliansyah Jumbawuya
Mengenang alm Hj Siti Sarah
Langit disaput mendung
Burung-burung enggan terbang
Tertegun di dahan-dahan dan reranting kering
Tunduk, turut larut dalam suasana berkabung
Pohon-pohon kaku
Daun-daun gagu
Terpaku menyaksikan drama penuh haru
Saat jenazah seorang ibu tengah ditandu
“Sungguh, telah ikhlas suami dan anak-anakmu
Melepasmu ibu
Karena surga dengan seribu pintu
Telah menunggumu!”
Sadar takdir tak dapat dipungkiri
Maka, 3 putra 2 putri 1 suami
Tak ingin tenggelam di arus duka tak bertepi
Hidup mesti dilakoni. Demikian kehendak Ilahi
Banjarmasin, Maret 1998
***