Judul : Filsafat Manusia; Memahami Manusia Melalui Filsafat
Penulis : Zainal Abidin
Penerbit : Rosdakarya
Cetakan : 2002
Tebal : ix + 241 halaman
Objek material filsafat adalah segala yang ada dan mungkin ada, sedangkan objek formalnya merupakan metode atau alat untuk menganalisa objek materialnya. Terkhusus untuk objek material filsafat manusia, barangkali tidak lebih dari ilmu-ilmu lain yang membahas manusia, seperti antropologi, sosiologi dan psikologi, justru objek formalnyalah yang membedakan filsafat manusia dari kajian ilmu-ilmu lain.
Menurut Zainal Abidin, penulis buku ini, metode filsafat manusia bercorak sintesis dan reflektif. Selain itu, ia juga mengemukakan ciri-ciri filsafat manusia.
Uraian singkat di atas hanya sebagai pengantar agar setiap pembaca dapat membedakan di mana pembahasan yang bersifat filsafati dan mana yang tidak. Dengan begitu akan memudahkan pemahaman.
Ketakjuban manusia atas dunia eksternal (luar dirinya) berbanding terbalik dengan perhatiannya terhadap dunia internal (dirinya sendiri), demikian menurut Alexis Carrel. Pernyataan ini dapat dibuktikan dari sejarah, di mana filsuf pertama (Thales) justeru mencurahkan perhatiannya pada alam. Pertanyaan tentang manusia sendiri baru muncul pada periode Plato (abad ke-5 SM).
Pertanyaan muncul dari ketakjuban, dan ketakjuban lazimnya berasal dari keluar-biasaan. Orang hampir tidak ada (untuk menghidari mengatakan “tidak”) yang mempertanyakan kenapa manusia berjalan di atas tanah. Sebaliknya, orang justru bertanya-tanya: kenapa ada orang yang mampu berjalan di atas angin? Walaupun praktik semacam itu pernah kita saksikan, belum tentu mendorong kita untuk bertanya siapa saya? Alih-alih mempertanyakan yang demikian, kita justru cuma mengatakan, “Wah hebat sekali dia!” Dengan cara demikian, rahasia potensi manusia tetap terpendam.
Filsafat manusia hadir bukan untuk mengadakan sihir agar orang berdecak kagum, tetapi sebagai media pemenuhan diri. Artinya, bagaimana seseorang dapat memperoleh pemenuhan diri kalau dia sendiri tidak memahami dirinya? Untuk mencapai target ini tentu memerlukan proses yang tidak bisa diukur dengan waktu.
Meskipun jawaban dari pertanyaan, siapa manusia itu, belum (tidak) pernah final, akan tetapi setidaknya — dengan mensentesiskan berbagai pemikiran dan refleksi diri — kita mempunyai patokan untuk menentukan langkah ke depan. Karena perencanaan tanpa kesadaran diri hanya kekosongan. Sebaliknya, dengan kesadaran orientasi hidup akan dapat dipahami.
Filsafat Manusia: Memahami Manusia Melalui Filsafat adalah sebuah pengantar ke pemahaman terhadap manusia. Secara kronologis buku ini memaparkan pemikiran beberapa filsuf, dari rasionalisme sampai post-modernisme.
Descartes mengenalkan pentingnya res cogitan yang bukan hanya berarti “berpikir” tetapi juga “berkesadaran”, sehingga tercapailah res extensa. Schopenhauer menyodorkan hakikat manusia sebegai kehendak buta (bandingkan dengan Hobbes).
Nietzsche dengan konsep “kematian Tuhan” hadir bersama ubermench (manusia unggul), yaitu manusia yang divdalam dirinya selalu tertanam “will to power“. Comte membahas tahap-tahap perkembangan manusia, dari manusia mistis ke manusia ilmiah. Tesisnya ini semacam penjungkir-balikkan pendapat kalangan idealis.
Kierkegaard mengupas tiga tahap “mengada” manusia, dari yang paling rendah sampai kepada yang paling tinggi. Husserl bereaksi terhadap pandangan mazhab positivisme dan neo-kantian seraya menawarkan fenomenologi transedental. Heidegger mensinyalir hilangnya kesadaran manusia modern terhadap makna “Ada”, oleh karena itu, dia bukan sekadar mempertanyakan makna Ada, tetapi juga mencari jawabnya. Sartre menunjuk dua cara mengada, yaitu “L’etre en soi” dan “L’etre pour soi”, yang kedua inilah cara mengada manusia. aliansyah jumbawuya
***