Judul : Rahasia Sufi
Penulis : Syekh Abdul Qadir al‑Jilani
Penerjemah: Abdul Majid Hj. Khatib
Penerbit : Pustaka Sufi Yogyakarta
Cetakan : Kelima, Maret 2003
Nama Syekh Abdul Qadir al‑Jilani begitu populer, terutama di kalangan warga Nahdiyyin. Kesufiannya tak diragukan lagi. Pengikutnya pun (tarekat Qadiriah) tersebar dimana‑mana. Riwayat hidupnya konon sarat dengan berbagai karomah atau peristiwa luar biasa. Terutama bagi yang pernah membaca manaqib Syekh Abdul Qadir, percaya betul dengan cerita dimaksud.
Ia dianggap salah satu sufi yang tetap selamat dalam memelihara personalitas sufistik dengan cara tetap ‘menjaga jarak’ untuk tidak ‘larut’ dalam kesadaran ekstatis kesatuan wujud sehingga tidak sampai terserumpung pada pengakuan “Ana al‑Haqq”.
Menurut Abdul Qadir al‑Jilani, setinggi apapun maqam seseorang dalam proses bertauhid, yang bersangkutan tetap tak bisa menanggalkan posisi sebagai makhluk. Sufi sejati, dalam usaha mendekatkan diri kepada Al‑Khalik seyogianya berpedoman pada jalur yang telah digariskan Allah melalui nabi‑Nya, Muhammad SAW. Artinya, tetap harus mengacu pada syariah.
Diceritakan, suatu hari di tengah khalwat Abdul Qadir mendapat bisikan yang mengaku bersumber dari Tuhan. Isinya, karena ia dianggap sudah berhasil menyatu dengan Tuhan, maka ia diperkenankan meninggalkan yang diwajibkan oleh Allah dan dibolehkan mengerjakan apa‑apa yang diharamkan‑Nya.
Mendengar itu, Abdul Qadir tak mau tertipu. Ia langsung berteriak lantang, “Enyahlah iblis laknat! Engkau bukan Tuhan. Allah tidak mungkin berpaling dari apa yang telah Dia tetapkan!” Sehingga gagallah usaha Iblis untuk menggelincirkannya pada jurang kesesatan.
Pengalaman ini, setidaknya menegaskan bahwa untuk mencapai predikat sufi itu diperlukan kekuatan mental serta keteguhan iman. Karena jalan yang ditempuh dan godaan yang siap menghadang cukup berat. Disinilah pentingnya ilmu, sebab ia merupakan penyuluh bagi jiwa manusia.
Kitab Sirr al‑Asrar fi Ma Yahtaj ilayh al Abrar (Rahasia Sufi) ini sendiri ditulis demi memenuhi keinginan kuat dari murid‑muridnya yang berniat memperdalam hakikat keimanan dan perjalanan menuju Allah SWT.
Abdul Qadir al‑Jilani (di lidah orang Indonesia akrab dilafazkan dengan Jailani) membagi ilmu tersebut atas empat tingkatan. Pertama, ilmu yang berkenaan dengan hukum agama, yakni ilmu yang berisi perintah dan larangan Allah. Kedua, ilmu mengenai maksud di balik hukum atau syariat agama. Ketiga, ilmu tentang hakikat yang tersembunyi, yang disebut sebagai ilmu hakikat. Terakhir, ilmu makrifat, yaitu ilmu yang berkenaan dengan pengenalan terhadap Zat bagi segala zat atau Hakikat bagi segala hakikat (hal: 57).
Untuk mempelajarinya, kita mesti memperhatikan tahapan‑tahapan tersebut. Setiap tingkatan diawali dengan tobat. Dan ini merupakan syarat dasar sebelum memulai perjalanan menuju Allah. Sebab, selama di hati masih ada sifat‑sifat kotor Nur Ilahi tidak akan bersemayam. Maka, diperlukan upaya terus‑menerus untuk menjauhkan diri dari berbagai tabiat rendah. Inilah tangga untuk sampai di Majelis Ketuhanan yang penuh semburat cahaya ketentraman bagi jiwa‑jiwa yang rindu memandang Allah.
Sesungguhnya, semenjak di alam ruh atau Yawm al‑misaq kita semua telah mengakui bahwa Allah adalah Tuhan yang mencibtakan kita. Kita juga berjanji untuk mematuhi segala perintah dan larangan‑Nya. Jika kesadaran ini tumbuh, niscaya akan timbul rasa rindu yang mendalam untuk ‘berpadu’ dengan Dia. Karena di sisi Allah itulah hakikat muasal kita.
“Bila hijab atau tabir kegelapan itu telah tersingkap, Cahaya akan menggantikan kegelapan yang ada di dalam hatinya. Kemudian dia dapat melihat rahasia‑rahasia Ketuhanan dengan mata hatinya, yakni Basirah. Dia akan mengenal apa yang dilihatnya itu dengan Nur yang melekat pada sifat‑sifat Allah. Kemudian barulah dia dilimpahi cahaya dan menjadi cahaya itu sendiri. Cahaya ini pun masih juga dianggap hijab yang menutupi cahaya Zat Allah. Tetapi, bila telah sampai waktunya, cahaya itu pun akan hilang dan bersinarlah Zat Allah. Yang tinggal hanya Zat itu sendiri,” demikian pendapat Syekh Abdul Qadir al‑Jilani yang diperolehnya melalui pengalaman ruhani/suluk (hal: 125).
Jika seorang muslim sudah sampai kategori sufi semacam ini, maka segala tingkah lakunya sarat dengan kearifan. Ucapannya penuh hikmah. Melihat persoalan pun tidak sebatas kulit, tapi menembus ke sari pati. Sehingga bagi mereka yang awam sering menilai seorang sufi tampak aneh dan tidak lazim, itu disebabkan daya pandangnya telah melampaui penglihatan manusia kebanyakan.
Seorang wali Allah biasanya memiliki sifat tawadhu yang tinggi. Ia selalu berusaha menyembunyikan amaliahnya, takut kesalehannya akan dianggap riya. Namun berkat ketinggian derajatnya, Allah akan men‑taskhir‑kan namanya, sehingga orang berbondong‑bondong datang kepadanya. Bahkan makamnya sekalipun tak pernah sepi diziarahi orang. Hal inilah yang berlaku atas diri Syekh Abdul Qadir al‑Jilani.
Minat masyarakat Indonesia terhadap buku Rahasia Hati ini sendiri terbilang cukup besar. Terbukti, sejak cetakan pertama Juli 2002, kini sudah mengalami cetak ulang yang kelima. Patut dimiliki oleh siapa pun ‑‑ tidak terbatas di kalangan pengikut tarekat Qadiriah saja ‑‑ yang punya keinginan untuk menjadi insan kamil. aliansyah jumbawuya
***