Judul : Filsafat Manusia; Memahami Manusia Melalui Filsafat
Penulis : Zainal Abidin
Penerbit : Rosdakarya
Cetakan : 2002
Tebal : ix + 241 halaman
Objek material filsafat adalah segala yang ada dan mungkin ada, sedangkan objek formalnya merupakan metode atau alat untuk menganalisa objek materialnya. Terkhusus untuk objek material filsafat manusia, barangkali tidak lebih dari ilmu-ilmu lain yang membahas manusia, seperti antropologi, sosiologi dan psikologi, justru objek formalnyalah yang membedakan filsafat manusia dari kajian ilmu-ilmu lain.
Menurut Zainal Abidin, penulis buku ini, metode filsafat manusia bercorak sintesis dan reflektif. Selain itu, ia juga mengemukakan ciri-ciri filsafat manusia.
Uraian singkat di atas hanya sebagai pengantar agar setiap pembaca dapat membedakan di mana pembahasan yang bersifat filsafati dan mana yang tidak. Dengan begitu akan memudahkan pemahaman.
Ketakjuban manusia atas dunia eksternal (luar dirinya) berbanding terbalik dengan perhatiannya terhadap dunia internal (dirinya sendiri), demikian menurut Alexis Carrel. Pernyataan ini dapat dibuktikan dari sejarah, di mana filsuf pertama (Thales) justeru mencurahkan perhatiannya pada alam. Pertanyaan tentang manusia sendiri baru muncul pada periode Plato (abad ke-5 SM).
Pertanyaan muncul dari ketakjuban, dan ketakjuban lazimnya berasal dari keluar-biasaan. Orang hampir tidak ada (untuk menghidari mengatakan “tidak”) yang mempertanyakan kenapa manusia berjalan di atas tanah. Sebaliknya, orang justru bertanya-tanya: kenapa ada orang yang mampu berjalan di atas angin? Walaupun praktik semacam itu pernah kita saksikan, belum tentu mendorong kita untuk bertanya siapa saya? Alih-alih mempertanyakan yang demikian, kita justru cuma mengatakan, “Wah hebat sekali dia!” Dengan cara demikian, rahasia potensi manusia tetap terpendam.
Filsafat manusia hadir bukan untuk mengadakan sihir agar orang berdecak kagum, tetapi sebagai media pemenuhan diri. Artinya, bagaimana seseorang dapat memperoleh pemenuhan diri kalau dia sendiri tidak memahami dirinya? Untuk mencapai target ini tentu memerlukan proses yang tidak bisa diukur dengan waktu.
Meskipun jawaban dari pertanyaan, siapa manusia itu, belum (tidak) pernah final, akan tetapi setidaknya — dengan mensentesiskan berbagai pemikiran dan refleksi diri — kita mempunyai patokan untuk menentukan langkah ke depan. Karena perencanaan tanpa kesadaran diri hanya kekosongan. Sebaliknya, dengan kesadaran orientasi hidup akan dapat dipahami.
Filsafat Manusia: Memahami Manusia Melalui Filsafat adalah sebuah pengantar ke pemahaman terhadap manusia. Secara kronologis buku ini memaparkan pemikiran beberapa filsuf, dari rasionalisme sampai post-modernisme.
Descartes mengenalkan pentingnya res cogitan yang bukan hanya berarti “berpikir” tetapi juga “berkesadaran”, sehingga tercapailah res extensa. Schopenhauer menyodorkan hakikat manusia sebegai kehendak buta (bandingkan dengan Hobbes).
Nietzsche dengan konsep “kematian Tuhan” hadir bersama ubermench (manusia unggul), yaitu manusia yang divdalam dirinya selalu tertanam “will to power“. Comte membahas tahap-tahap perkembangan manusia, dari manusia mistis ke manusia ilmiah. Tesisnya ini semacam penjungkir-balikkan pendapat kalangan idealis.
Kierkegaard mengupas tiga tahap “mengada” manusia, dari yang paling rendah sampai kepada yang paling tinggi. Husserl bereaksi terhadap pandangan mazhab positivisme dan neo-kantian seraya menawarkan fenomenologi transedental. Heidegger mensinyalir hilangnya kesadaran manusia modern terhadap makna “Ada”, oleh karena itu, dia bukan sekadar mempertanyakan makna Ada, tetapi juga mencari jawabnya. Sartre menunjuk dua cara mengada, yaitu “L’etre en soi” dan “L’etre pour soi”, yang kedua inilah cara mengada manusia. aliansyah jumbawuya
***
Judul : Zuhud di Abad Modern
Gaya hidup materialistik dan hedonistik oleh orang‑ orang yang salah kaprah dalam mengartikan modernisme, berujung pada pemanjaan hawa nafsu. Bahkan untuk memenuhi hasratnya, tak jarang mereka menghalalkan segala cara. Gemerlap dunia telah membutakan mati hatinya, namun kesenangan yang didapat begitu nisbi. Akibatnya, mereka makin kehilangan identitas dirinya, dan mudah terseret untuk melakukan perbuatan destruktif.
Rasulullah jauh‑jauh hari telah mengingatkan, barang siapa yang mengejar dunia niscaya ia akan dipermainkan dunia. Karena itu, untuk memperoleh keseimbangan hidup seorang muslim hendaknya dapat memposisikan diri secara proporsional terhadap hal‑hal yang bersifat kebendaan. Yakni dengan cara mengembangkan sikap zuhud.
HM. Amin Syukur, penulis bukunya ini, mencoba meluruskan makna zuhud yang sebenarnya. Bahwa zuhud bukan berarti meninggalkan, apalagi membenci dunia. Dalam surah al‑Qasas ayat 77 Allah memerintahkan manusia untuk mencari kebahagiaan di negeri akhirat, dengan tanpa melupakan bagiannya di dunia.
Sebagaimana dicontohkan Rasulullah, Abu Bakar Siddiq, Umar Ibnu Khattab, Usman bin Affan, Ali Abi Thalib, serta sahabat lainnya yang dikenal zuhud, namun mereka tetap mengemban tugas kekhalifahannya dengan aktif berkecimpung dalam soal‑soal keagamaan, sosial, politik, ekonomi dan perang.
Dengan sikap zuhud akan tumbuh sifat‑sifat seperti: qana’ah, tawakkal, wara, sabar, lapang dada dan gampang mensyukuri nikmat yang diberikan Allah. Hal ini bukan berarti membuat orang menjadi pasif, enggan mencari nafkah, eksklusif (menarik diri dari keramaian). Sebaliknya, karena manusia mengemban amanah kekhalifahan, maka ia dituntut untuk berikhtiar memakmurkan lingkungan.
Dalam skala kecil, khalifah berarti pemimpin dalam masyarakat atau komunitas tertentu. Posisinya yang demikian mengharuskan mereka untuk mampu mengaktualkan diri sebagai motivator dan dinamisator dalam kebaikan, baik secara vertikal (hablu minallah) maupun horizontal (hablu minnaas) dengan penuh dedikasi (hal 171).
Lewat buku setebal 198 hal ini, yang didasari kajian sosiologis dan historis, HM. Amin Syukur berusaha mengedepankan makna zuhud yang tidak lagi isolatif, sehingga penerapannya yang fungsionil diharapkan mampu menjawab tantangan zaman yang kian rumit ini. aliansyah jumbawuya
***
Judul : Tasawuf dan Krisis
Editor : Prof. Dr HM. Amin Syukur, MA dan Dr. Abdul Muhayya, MA
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan : I, April 2001
Harus diakui, modernisasi telah menghantar kita kepada kemajuan teknologi, terutama di bidang industri dan informasi. Tingkat pergaulan manusia tak lagi dibatasi oleh sekat‑sekat kewilayahan, melainkan sudah menjadi perkampungan global (global village). Pertukaran budaya, pola interaksi sosial, bahkan ideologi, tidak harus melalui persentuhan fisik, cukup lewat media massa semua bisa berlangsung.
Semula kita begitu mudah terpukau dan menyangka modernisme serta‑merta akan memberikan kesejahteraan. Dan lupa dengan yang namanya the agony modernisation, yakni imbas negatif yang menggoncang tata nilai kehidupan. Hal ini tampak dari maraknya kekerasan dan tingkat kriminalitas yang menjadi‑jadi dengan modus operandi yang kian canggih. Bahkan remaja kita dalam usia amat belia sudah akrab dengan tawuran, free sex, narkotika, serta jenis patologi sosial lainnya.
Krisis akhlak atau degradasi moral ini berpangkal dari paham materialisme dan hedonisme. Nilai seseorang dilihat berdasarkan aksesoris fisik seperti kepemilikan benda, jabatan, maupun kedudukan di masyarakat; bukan diukur berdasarkan ketinggian budi pekerti, kadar keimanan maupun ketaqwaan seseorang kepada Tuhan. Kenyataan ini jika dibiarkan berlarut‑larut akan berdampak disharmoni di berbagai aspek kehidupan. Sehingga, diperlukan adanya langkah‑langkah antisipatif dan alternatif jalan keluar.
Karena itu, tim Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang berinisiatif menyelenggarakan seminar Regional bertajuk “Tasawuf bagi Masyarakat Modern” yang kemudian dibukukan dengan judul: Tasawuf dan Krisis.
Dari hasil seminar tersebut, disimpulkan bahwa modernisme dipandang telah gagal memberi warna kehidupan yang lebih bermakna kepada manusia, sehingga tak heran jika kemudian orang tergugah untuk kembali pada agama (tasawuf). Karena tasawuf diyakini mampu menghantarkan manusia untuk mengenali eksistensi dan hakikat tujuannya hidup di dunia.
Secara umum, buku ini memaparkan tiga pokok pemikiran berkaitan dengan persoalan spritualitas bagi masyarakat modern.
Bagian pertama, mengupas seputar realitas kegersangan masyarakat modern, dan fungsi tasawuf serta urgensinya dalam menanggulangi hal tersebut.
Bagian kedua, berisi tentang tawaran berbagai alternatif metodologis dan konfigurasi tasawuf yang diharapkan mampu memberikan kontribusi pencerahan terhadap masyarakat modern.
Dan bagian terakhir, memuat langkah aktualisasi dan pemberdayaan tasawuf dalam persoalan sosial keagamaan. Pada bagian ini dijelaskan pula tempat persemaian tasawuf di Nusantara, khususnya dalam organisasi keagamaan (Nahdatul Ulama dan Muhammadiyah). Juga menyajikan manfaat tasawuf dalam merawat korban ketergantungan ekstasi, dan lain sebagainya.
Tasawuf diyakini mampu membebaskan manusia dari krisis (spritual, moral, sosial, dan kultural) karena esensi yang dikandung ajaran tasawuf akan membawa kepada tingkatan shafa al tauhid, di mana manusia menyesuaikan segala perilakunya dengan Iradah Allah. Dan konsekuensinya, pengikut tasawuf tidak akan melakukan aktivitas, kecuali yang membawa kemanfaatan, selaras dengan tuntutan Allah.
Lebih detail dapat dijelaskan, kenapa tasawuf mampu berfungsi sebagai terapi untuk keluar dari krisis, antara lain: Pertama, secara psikologis tasawuf merupakan hasil dari berbagai pengalaman spritual sekaligus merupakan pengetahuan langsung mengenai realitas ketuhanan yang cenderung menjadi inovator. Pengalaman tersebut memberi sugesti dan pemuasan yang luar biasa bagi penganutnya.
Kedua, kehadiran Tuhan dalam wujud pengalaman mistis akan menstimulasi perasaan‑perasaan seperti ma’rifat, ittihat, hulul, mahabbah, dsbnya sehingga menjadi moral force untuk memperbanyak amal saleh.
Ketiga, dalam tasawuf hubungan seorang hamba dengan Sang Khalik didasari atas rasa cinta, sehingga tidak ada tempat untuk melakukan perbuatan‑perbuatan tercela. Karena semua yang bersifat destruktif, jika dilakukan berarti sama saja dengan mengkhianati makna cinta mistis yang telah terjalin (Abdul Muhayya: 24‑25).
Tasawuf mengalami kebangkitan pada masa periodesasi Neo‑Sufisme. Dengan berpegah teguh kepada Alquran dan hadis, paham yang tadinya mengkondisikan orang kepada kepasifan hidup, kemudian berbalik menganjurkan aktivitas praktis dan menanamkan sikap positif terhadap dunia.
Tokoh neo‑sufisme, al‑Qushashi, berpendapat sufi yang sebenar‑benar sufi bukanlah orang yang mengasingkan diri dari masyarakat, melainkan sufi yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran, membantu orang sakit, miskin serta membebaskan mereka yang tertindas. Juga mampu berta’awun dengan sesama muslim lainnya untuk kemajuan bangsa, di antaranya ialah memerangi kemalasan dan kebodohan.
Kendati untuk menyimak buku ini butuh konsentrasi yang intensif, bahkan terkesan rada rumit, diharapkan kehadiran buku ini akan memberi pengertian utuh tentang dunia tasawuf. Bahwa tasawuf, tidak berarti harus meninggalkan hal‑hal yang bersifat kekinian (duniawiyah), melainkan bagaimana semestinya kita memposisikan diri terhadap sesuatu yang fana untuk menuju maqam Ihsan al‑Kamil. Atau setidaknya, menuntun kita keluar dari krisis multi-dimensional. aliansyah jumbawuya
***
Judul : Rahasia Sufi
Penulis : Syekh Abdul Qadir al‑Jilani
Penerjemah: Abdul Majid Hj. Khatib
Penerbit : Pustaka Sufi Yogyakarta
Cetakan : Kelima, Maret 2003
Nama Syekh Abdul Qadir al‑Jilani begitu populer, terutama di kalangan warga Nahdiyyin. Kesufiannya tak diragukan lagi. Pengikutnya pun (tarekat Qadiriah) tersebar dimana‑mana. Riwayat hidupnya konon sarat dengan berbagai karomah atau peristiwa luar biasa. Terutama bagi yang pernah membaca manaqib Syekh Abdul Qadir, percaya betul dengan cerita dimaksud.
Ia dianggap salah satu sufi yang tetap selamat dalam memelihara personalitas sufistik dengan cara tetap ‘menjaga jarak’ untuk tidak ‘larut’ dalam kesadaran ekstatis kesatuan wujud sehingga tidak sampai terserumpung pada pengakuan “Ana al‑Haqq”.
Menurut Abdul Qadir al‑Jilani, setinggi apapun maqam seseorang dalam proses bertauhid, yang bersangkutan tetap tak bisa menanggalkan posisi sebagai makhluk. Sufi sejati, dalam usaha mendekatkan diri kepada Al‑Khalik seyogianya berpedoman pada jalur yang telah digariskan Allah melalui nabi‑Nya, Muhammad SAW. Artinya, tetap harus mengacu pada syariah.
Diceritakan, suatu hari di tengah khalwat Abdul Qadir mendapat bisikan yang mengaku bersumber dari Tuhan. Isinya, karena ia dianggap sudah berhasil menyatu dengan Tuhan, maka ia diperkenankan meninggalkan yang diwajibkan oleh Allah dan dibolehkan mengerjakan apa‑apa yang diharamkan‑Nya.
Mendengar itu, Abdul Qadir tak mau tertipu. Ia langsung berteriak lantang, “Enyahlah iblis laknat! Engkau bukan Tuhan. Allah tidak mungkin berpaling dari apa yang telah Dia tetapkan!” Sehingga gagallah usaha Iblis untuk menggelincirkannya pada jurang kesesatan.
Pengalaman ini, setidaknya menegaskan bahwa untuk mencapai predikat sufi itu diperlukan kekuatan mental serta keteguhan iman. Karena jalan yang ditempuh dan godaan yang siap menghadang cukup berat. Disinilah pentingnya ilmu, sebab ia merupakan penyuluh bagi jiwa manusia.
Kitab Sirr al‑Asrar fi Ma Yahtaj ilayh al Abrar (Rahasia Sufi) ini sendiri ditulis demi memenuhi keinginan kuat dari murid‑muridnya yang berniat memperdalam hakikat keimanan dan perjalanan menuju Allah SWT.
Abdul Qadir al‑Jilani (di lidah orang Indonesia akrab dilafazkan dengan Jailani) membagi ilmu tersebut atas empat tingkatan. Pertama, ilmu yang berkenaan dengan hukum agama, yakni ilmu yang berisi perintah dan larangan Allah. Kedua, ilmu mengenai maksud di balik hukum atau syariat agama. Ketiga, ilmu tentang hakikat yang tersembunyi, yang disebut sebagai ilmu hakikat. Terakhir, ilmu makrifat, yaitu ilmu yang berkenaan dengan pengenalan terhadap Zat bagi segala zat atau Hakikat bagi segala hakikat (hal: 57).
Untuk mempelajarinya, kita mesti memperhatikan tahapan‑tahapan tersebut. Setiap tingkatan diawali dengan tobat. Dan ini merupakan syarat dasar sebelum memulai perjalanan menuju Allah. Sebab, selama di hati masih ada sifat‑sifat kotor Nur Ilahi tidak akan bersemayam. Maka, diperlukan upaya terus‑menerus untuk menjauhkan diri dari berbagai tabiat rendah. Inilah tangga untuk sampai di Majelis Ketuhanan yang penuh semburat cahaya ketentraman bagi jiwa‑jiwa yang rindu memandang Allah.
Sesungguhnya, semenjak di alam ruh atau Yawm al‑misaq kita semua telah mengakui bahwa Allah adalah Tuhan yang mencibtakan kita. Kita juga berjanji untuk mematuhi segala perintah dan larangan‑Nya. Jika kesadaran ini tumbuh, niscaya akan timbul rasa rindu yang mendalam untuk ‘berpadu’ dengan Dia. Karena di sisi Allah itulah hakikat muasal kita.
“Bila hijab atau tabir kegelapan itu telah tersingkap, Cahaya akan menggantikan kegelapan yang ada di dalam hatinya. Kemudian dia dapat melihat rahasia‑rahasia Ketuhanan dengan mata hatinya, yakni Basirah. Dia akan mengenal apa yang dilihatnya itu dengan Nur yang melekat pada sifat‑sifat Allah. Kemudian barulah dia dilimpahi cahaya dan menjadi cahaya itu sendiri. Cahaya ini pun masih juga dianggap hijab yang menutupi cahaya Zat Allah. Tetapi, bila telah sampai waktunya, cahaya itu pun akan hilang dan bersinarlah Zat Allah. Yang tinggal hanya Zat itu sendiri,” demikian pendapat Syekh Abdul Qadir al‑Jilani yang diperolehnya melalui pengalaman ruhani/suluk (hal: 125).
Jika seorang muslim sudah sampai kategori sufi semacam ini, maka segala tingkah lakunya sarat dengan kearifan. Ucapannya penuh hikmah. Melihat persoalan pun tidak sebatas kulit, tapi menembus ke sari pati. Sehingga bagi mereka yang awam sering menilai seorang sufi tampak aneh dan tidak lazim, itu disebabkan daya pandangnya telah melampaui penglihatan manusia kebanyakan.
Seorang wali Allah biasanya memiliki sifat tawadhu yang tinggi. Ia selalu berusaha menyembunyikan amaliahnya, takut kesalehannya akan dianggap riya. Namun berkat ketinggian derajatnya, Allah akan men‑taskhir‑kan namanya, sehingga orang berbondong‑bondong datang kepadanya. Bahkan makamnya sekalipun tak pernah sepi diziarahi orang. Hal inilah yang berlaku atas diri Syekh Abdul Qadir al‑Jilani.
Minat masyarakat Indonesia terhadap buku Rahasia Hati ini sendiri terbilang cukup besar. Terbukti, sejak cetakan pertama Juli 2002, kini sudah mengalami cetak ulang yang kelima. Patut dimiliki oleh siapa pun ‑‑ tidak terbatas di kalangan pengikut tarekat Qadiriah saja ‑‑ yang punya keinginan untuk menjadi insan kamil. aliansyah jumbawuya
***
Judul : Merombak Pola Pikir Intelektual Muslim
Editor : Ziauddin Sardar
Penerbit : Pustaka Pelajar
Cetakan : I, April 2000
Kemajuan peradaban Islam sangat ditentukan oleh kualitas para intelektual muslim. Kiprah mereka diharapkan dapat memberi kontribusi, bukan saja di masa kini melainkan juga bagi generasi berikut. Karena itulah perlu dikembangkan budaya berpikir kritis yang ajeg. Apalagi di tengah kompleksitas kehidupan seperti sekarang, agar tidak termarginalkan, umat Islam harus mampu bersikap dinamis dan fleksibel menjawab tantangan zaman ini.
Sangat disayangkan kalau umat Islam sampai tertinggal dalam hal penguasaan ilmu dan teknologi. Karena ilmu berpotensi untuk turut memberi arah bagi kehidupan sosial, budaya, ekonomi, hukum, politik, yang hidup di masyarakat. Wajar, jika al‑Ghazali berkesimpulan bahwa kekuatan apapun jika tidak ditopang dengan ilmu pengetahuan, cepat atau lambat akan berujung pada keruntuhan.
Alquran ‑‑ yang merupakan rujukan utama seorang muslim ‑‑ begitu jelas, komprehensif, dan intens meletakkan konsep ilmu sebagai tema sentral. Dalam Alquran disebutkan sebanyak 800 kali kata ilmu beserta padanannya. Bahkan yang menjadi salah satu kelebihan paham Islam dibanding ideologi lain manapun, ialah usaha menuntut ilmu bernilai ibadah.
Dengan harapan, jika umat Islam berwawasan luas maka moral dan pemahaman religiusnya turut bertambah. Juga mampu memberi manfaat serta pencerahan bagi sesama dan lingkungan.
Namun kenyataannya, upaya Islamisasi di berbagai sektor kehidupan mengalami benturan gagasan maupun ideologi, cendekiawan muslim cuma menjadi penonton (outsider) di tengah dominasi pemikiran sekuler. Terbukti, setiap kali ada negara manapun, termasuk Indonesia, berinisiatif memberlakukan syariat Islam, negara‑negara Barat dengan segala superioritasnya selalu berusaha keras untuk menghalang‑halangi. Naifnya, di kalangan muslim sendiri tidak sedikit yang ikut terpengaruh sehingga jadi “alergi” kalau syariat Islam benar‑benar diterapkan.
Menurut Ziauddin Sardar, salah seorang penulis buku ini, ada tiga aspek yang patut menjadi perhatian cendekiawan muslim. Pertama, pemikiran Islam terpinggirkan karena tidak dapat memberikan gagasan yang cerdas terhadap bangunan ‘fisik’ dan khazanah intelektual di dalam wacana ilmu pengetahuan kontemporer. Sebuah fakta yang menyakitkan, kita masih sangat tergantung pada pemikiran pihak lain.
Kedua, di alam modern ini segala masalah saling terkait (inter‑koneksi) dan saling ketergantungan (inter‑depedensi), sehingga dalam pemecahannya mesti melibatkan aspek lain. Misalnya, untuk memperkenalkan sistem perbankan Islam tanpa merombak sistem distribusi sumber daya yang tidak seimbang, juga takkan banyak manfaatnya. Proyek besar yang bernama reformasi atau Islamisasi tidak bisa dilaksanakan secara terpisah, harus ada “penggabungan” berbagai disiplin ilmu untuk membangun sebuah dunia baru yang berakar pada kepentingan kaum muslim dan kebudayaan Islam.
Ketiga, tiap perbedaan hendaknya jangan dimaknai sebagai titik picu pertentangan, justru merupakan esensi untuk bertahan hidup (survival). Dalam dunia Islam sering kita temui fanatisme, yaitu sikap beragama yang bersikukuh pada fiqh (hukum Islam klasik) ataupun kepada salah satu mazhab tertentu.
“Masyarakat muslim telah berada di ambang kehancuran baik secara fisik, kultural maupun intelektual hanya karena fanatisme yang berlebihan dan tradisionalisme yang picik dibiarkan menguasai pemikiran mereka. Kita harus bisa melepaskan diri dari mentalitas kelompok minoritas seperti ini. Artinya, kita dituntut untuk berpikir imajinatif, tegas dan universal” (hal: 124).
Ajaran Islam bersifat dinamis dan universal, cocok untuk segala zaman, tidak terikat oleh sekat‑sekat budaya. Kebenaran inilah yang mestinya kita amalkan, bukan terjebak pada pemikiran yang kaku.
Di tengah gencarnya berbagai perubahan, tentunya kita tidak bisa mengandalkan pada formulasi syari’ah yang statis. Diperlukan sebuah pembaharuan, yang menuntut peran besar intelektual muslim. Karena mereka merupakan corong pemikiran, penyuluh, sekaligus urat nadi kecenderungan yang ada.
Sungguh ironis, kalau dalam sebuah masyarakat muslim minim intelektual, bahkan beberapa intelektual yang ada cenderung menaruh minat pada ideologi seperti sekularisme dan westernisasi, ketimbang menghidupkan spirit umat Islam.
“Sesungguhnya, tanpa kaum intelektual, sejarah peradaban muslim tidak akan dapat dibayangkan, dan tidak pernah ada peradaban muslim masa depan yang tetap hidup, dinamis dan terus berkembang tanpa lembaga kaum inteletual yang kritis dan kreatif” (hal: 131).
Untuk itu, sudah bukan saatnya lagi ada seseorang atau lembaga yang menganggap punya hak monopoli pemikiran karena merasa mengemban kesalehan bawaan, sehingga mengekang dan memangkas kebebasan berpikir kaum intelektual muslim sejati.
Juga mentalitas guru yang seolah dalam setiap ajarannya selalu benar atau tak terbantahkan ‑‑ meski pada suatu saat mungkin saja ia salah ‑‑ hal ini jelas akan menumbangkan daya kritis dan analitis umat. Dikhawatirkan karena banyaknya orang yang memposisikan diri sebagai pengekor fanatik sang guru, maka kekurangan yang ada terus terulang. Padahal Rasulullah saja, dalam beberapa riwayat, bersedia dikritik dan mengakui argumentasi para sahabat sekiranya pendapat beliau salah. aliansyah jumbawuya
(Bagi yang ingin bukunya diresensi, silakan kirimkan ke Serambi Ummah Jl As Musyaffa No 16 atau kontak person 085249344519. Terimakasih).
***
Judul : Haji, Sebuah Perjalanan Air Mata
Penyunting : Mustofa W. Hasyim dan Ahmad Munif
Penerbit : Bentang Budaya, Yogyakarta
Tebal : xiv + 272 hlm
Perjalanan ibadah haji sering dikatakan sebagai puncak pengabdian seorang hamba kepada Tuhannya. Untuk bisa melaksanakan rukun Islam kelima ini, disamping tercukupinya dana, yang paling penting ialah kesiapan mental. Terbukti, berapa banyak orang yang dari segi finansial berkelebihan, tapi manakala panggilan itu belum datang, hatinya tak sedikit pun terbetik untuk pergi ke tanah suci Mekkah, selalu saja ada alasan yang menghalangi dia untuk berhaji.
Baitullah merupakan simbol pemersatu muslim, karena di sanalah jutaan muslim dari berbagai penjuru dunia berhimpun, dengan tujuan yang sama yakni bersujud di depan kebesaran Al-Khalik. Selama melaksanakan haji setiap individu punya pengalaman unik yang beragam. Tak jarang mereka diperlihatkan dengan berbagai keajaiban yang tidak bisa dianalisa dengan nalar, kecuali oleh kemantapan iman. Lewat kejadian-kejadian itu batin yang bersangkutan seolah disentakkan, untuk kemudian menghantarkannya pada proses pencerahan diri.
Buku berjudul “Haji, Sebuah Perjalanan Air Mata” ini mencoba menyatukan berbagai pengalaman dari 30 tokoh ternama di Indonesia dengan latar belakang pendidikan dan profesi yang berbeda-beda. Mereka terdiri dari ulama, cendekiawan, penyanyi, bintang film, pelawak, pelukis, penyair, politisi, dan wanita karir.
Dipilihnya judul diatas – diambil dari tulisan Taufik Ismail — seolah menjadi benang simpul karena hampir semua pelaku haji itu merasakan takjub, trenyuh, serta haru saat berada di Tanah Suci, yang pada gilirannya menyebabkan mereka berurai air mata.
Seperti yang dialami Camelia Malik. Ia sendiri tak habis mengerti kenapa begitu memasuki kota Mekkah tiba-tiba saja dia menangis.
“Mungkin saya terharu, senang, dan bahagia. tetapi saya memang menangis. Pokoknya saya ingin menangis, begitu! Tangisan itu terasa tulus sekali. Tiba-tiba saya merasa dekat dengan Allah. Dekat sekali. Mungkin banyak orang yang merasa seperti saya. Ada rasa tersendiri, ada kekhusyukan yang begitu mendalam dan belum pernah saya rasakan selama ini” (hal: 97).
Di sini manusia merasakan betapa kecil dirinya di hadapan kekuasaan Allah Azza wa Jalla.
Banyak cerita-cerita aneh yang dialami jamaah haji. Misalnya ketika sedang khuyuk berdoa, tiba-tiba ada yang merasa seperti kena pukul. Padahal setelah dicermati dengan seksama tidak ada seorang pun yang memukul dia. Katanya, itu sebagai balasan karena yang bersangkutan di masa lalu suka memukul orang. Dan itu justru merupakan sarana untuk membersihkan diri.
Bahkan selama di Tanah Suci jamaah haji dianjurkan menjaga perilaku. Sebab perbuatan atau ucapan sekalipun akan cepat sekali mendapat ganjaran setimpal. Sebagaimana yang dialami Bunyamin S (sekarang sudah almarhum). Waktu itu saat melempar jumrah ia tidak mengenakan sandal. Karena sakit akibat terinjak dan kena batu, akhirnya ia berusaha mencari sandal. Kebetulan ada yang terserak, tetapi cuma sebelah. Setelah berpikir lama, diputuskannya mengambil sandal tersebut. Begitu sandal dipakai, mendadak uang di sakunya hilang.
Demikian pula dengan doa seseorang mudah sekali dikabulkan Allah. Hal ini beberapa kali dialami oleh Kiai Mustofa Bisri. Ketika mau pulang, ia kekurangan uang sekitar 300 Riyal. Timbul pikiran untuk menjual cincin. Tapi setelah melewati proses yang alot cincinnya cuma dihargai calon pembeli sekitar 200 Riyal. Dalam kebingungan ia kemudian berdoa.
“Tanpa merasa sungkan-sungkan lagi, saya berdoa. Sederhana saja yakni minta duit kepada Tuhan. Saya berpendapat tidak ada salahnya jika persoalan-persoalan sepele diwadulkan pada Tuhan. Saya tidak merasa risi dengan doa sepele itu. Tuhan memang mengabulkan doa saya,” papar Mustofa Bisri. Saat jalan-jalan di Jabal Qubas cincinnya ditawar orang sebesar 600 Riyal.
Masih banyak cerita menarik lainnya dalam buku ini.
Yang pasti ada satu kesamaan dari penuturan 30 tokoh tersebut, setelah berhaji kali pertama mereka semua punya kerinduan kuat untuk kembali mengulang di kesempatan berikut. Karena mereka telah merasakan langsung kesejukan batin dan manisnya saat mengerjakan ibadah haji.
Tak salah, kalau dikatakan bahwa dengan membaca buku ini akan tumbuh hasrat untuk berhaji. aliansyah jumbawuya
***