Padepokan Pena - Gemar Membaca Giat Menulis

Iman Sumber Kekuatan Mukmin

Judul buku: Merasakan Kehadiran Tuhan

Penulis : Dr. Yusuf Qardhawi

Penerjemah: Jazirotul Islamiyah

Penerbit : Mitra Pustaka

Tebal : 372 halaman

Ketika lalu-lintas kehidupan sosial di sekitar kita penuh dengan carut-marut, keinginan orang untuk mendapatkan kedamaian sejati pun semakin kuat. Mereka yang tadinya menganggap bahwa kebahagiaan itu terletak pada kepemilikan harta, status mentereng, jabatan terhormat, berangsur mulai mencari kebahagiaan dengan cara menyelami diri lebih intensif. Maka, tak usah heran jika ada seorang eksekutif, pengusaha kaya, tiba-tiba menekuni meditasi, yoga, atau jadi pengikut tarekat tertentu. Semua itu semata didorong oleh desakan untuk memperoleh kebahagiaan hakiki.

Sebagian memang ada yang berhasil mengalami pencerahan batin. Tapi, tak sedikit pula yang jiwanya tetap serasa ditungkup kehampaan, ia semakin jauh dan terasing dengan dirinya sendiri. Padahal iman menjanjikan ketenangan dan ketentraman, bahkan dapat menjadi penangkal dari segala kesusahan. Seperti dialami Ali bin Abi Thalib, ketika anak panah yang menancap di badannya dicabut dia tak merasakan apa-apa karena saking khusuknya menghadap Allah.

Bagaimana dengan mereka yang rajin dan rutin beribadah, namun tak tak juga mengecap manisnya iman? Adakah yang salah dalam penghayatan terhadap ajaran Islam? Yusuf Qardhawi dalam bukunya berjudul Al-Iman wal Hayat menegaskan bahwa iman itu bukan sekadar pelengkap atau instrumen, melainkan punya fungsi urgen yang akan menentukan nasib manusia. Karena berangkat dari ukuran keimanan itulah nantinya akan mengantarkan manusia kepada kebahagiaan abadi, atau malah sebaliknya terperangkap pada kesengsaraan tak bertepi.

Ibadah yang dirisalahkan Allah kepada mukmin adalah sarana untuk mensucikan diri serta meninggikan derajat kemakhlukannya. Sebaliknya, apa-apa yang diharamkan oleh Allah jika konsisten dipatuhi, niscaya kita akan memperoleh keberuntungan berupa petunjuk, keteguhan sikap (istiqamah) di jalan kebenaran, serta mampu mengendalikan hawa nafsu. Yang pada gilirannya akan akan menghantar kita pada kondisi kejiwaan yang tenang, damai, dan tenteram.

Di sinilah iman seseorang diuji. Karena ukuran iman itu tidak sekadar dilapazkan di lisan, melainkan mesti diimplementasikan ke dalam perilaku. Itupun jika tanpa penghayatan, dengan merasakan kehadiran Tuhan, maka segala ibadah yang dilakukan masih dalam tataran ritual.

“Iman disamping menuntut adanya pengetahuan, pemahaman dan keyakinan yang kuat, dia juga mensyaratkan kepatuhan hati, kesediaan dan kerelaan menjalankan perintah” (hal: 29).

Adapun iman itu jika benar-benar dipegang dan diyakini, niscaya akan mampu membentuk pribadi-pribadi yang berakhlakul karimah dan tangguh menghadapi tantangan zaman.

Lebih jauh, Yusuf Qardhawi dalam bukunya ini memaparkan beberapa sumber kekuatan mukmin.

Pertama, karena percaya dan sepenuhnya berserah diri kepada Allah. Kalau seseorang sudah yakin betapa Allah senantiasa mengiringi langkah dan melindunginya, maka tiada sesuatu yang mampu menggetarkan hatinya (QS Ali Imran: 160). Mati sekalipun, asalkan itu demi mencapai ridha Allah, niscaya dilakoninya.

Kedua, percaya akan kebenaran. Betapa kebenaran itu, cepat atau lambat, pada akhirnya bakal mampu mengalahkan kebatilan. Sepatutnya kita percaya pada janji Allah: “Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap (surah al-Israa’ ayat 81). Kendati kadang proses untuk menampilkan kebenaran itu perlu waktu lama dan rintangan yang tiada tara. Tapi, atas dasar keyakinan bahwa janji Allah itu pasti datang, justru akan memacu jiwa mukmin senantiasa gigih berjuang.

Ketiga, percaya dengan kehidupan yang kekal. Mereka yang meyakini adanya alam akhirat, tentu setiap ingin berbuat sesuatu ia bakal ingat bahwa semua itu kelak akan dipertanggung-jawabkan di hadapan Al-Khalik. Sehingga, memotivasi mukmin untuk memperbanyak ibadah dan amal saleh.

Kepercayaan terhadap kehidupan abadi setelah mati itulah yang menjadi pemicu semangat juang kaum mujahid untuk membela Islam. Seperti dialami Umair bin Hamam, ia tak sedikit pun diliputi rasa takut saat maju ke medan tempur, begitu mendengar sabda Nabi SAW: “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam kuasa-Nya, laki-laki yang hari ini memerangi kaum musyrik, lalu dia terbunuh dalam keadaan sabar dan ikhlas, terus maju dan bukan mundur ke belakang, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga.”

Keempat, percaya kepada qadar. Karena mengetahui bahwa segala cobaan yang dialami adalah takdir dari Allah, maka seorang mukmin tiada patut berkeluh-kesah maupun berputus asa dari rahmat-Nya. Tugas mukmin adalah optimis berikhtiar, sedangkan perkara apakah berhasil atau gagal itu mutlak atas kehendak Allah. Dengan sikap tawakal demikian, ia tidak mudah terombang-ambing oleh kenyataan yang dijalaninya.

Bahkan dengan kekuatan iman, umat Islam dapat melahirkan revolusi dan pembaharuan! Aliansyah jumbawuya

(Pernah dimuat di Serambi UmmaH edisi 2 Sept 2003)

***


Posted in Resensi Buku

Mahligai Cinta Berlandaskan Agama

Judul: Meminang Bidadari

Penulis: Asma Nadia

Penerbit: FBA Press

Cetakan: Kedua, Maret 2003

Tebal: viii + 192 halaman

Tahun 1997 merupakan awal kebangkitan karya fiksi islami. Melalui Forum Lingkar Pena yang dimotori Helvy Tiana Rosa, kini banyak bermunculan penulis‑penulis muda berbakat. Dari ketajaman pena mereka inilah lahir aneka cerpen maupun novel yang sarat dengan nuansa keislaman.

Padahal sebelum itu dunia fiksi di Indonesia didomina­si oleh tema‑tema picisan yang mengeksplotasi seputar per­cintaan remaja, yang kurang memberikan kontribusi pendidikan bagi perkembangan mental khalayak pembaca. Karena itu, kehadiran kisah‑kisah islami boleh dikata selayak oase di tengah padang tandus.

Seperti diperlihatkan Asma Nadia dalam buku kumpulan cerpennya Meminang Bidadari ini, yang secara khusus mengangkat tema seputar penikahan dan kehidupan rumah-tangga. Beragam persoalan yang muncul dalam keluarga coba disikapi dengan cara Islami.

Membina rumah tangga itu sendiri merupakan proses yang tak pernah selesai, di sini dua pribadi yang berbeda dituntut untuk selalu saling memahami pasangannya. Kadang hal yang sepele, bisa memicu kecemburuan yang tak beralasan.

Demikian dalam cerpen “Rahasia Mas Danu”, diceritakan akibat kurangnya komunikasi antara seorang suami yang pendiam dengan istrinya yang banyak bicara, maka terjadilah kesalah-pahaman. Karena ketidak-mampuan Mas Danu mengungkapkan isi hatinya, timbul berbagai kecurigaan dari Eni. Ia sempat menyangka suaminya beristri lagi, sehingga suasana rumah tangga yang semula romantis berubah keruh.

Padahal yang ingin diucapkan Mas Danu — sampai gugup dan berkeringat lantaran tidak terbiasa — kepada istrinya adalah pernyataan bahwa ia jatuh cinta kepada Eni seminggu sebelum mereka resmi menikah.

“Mas cuma ingin sekali bisa mengatakannya padamu. Seperti orang Barat yang bisa mengucapkan I love you berkali-kali dalam sehari. Atau teman-teman di kantor. Dan aku berpikir, kenapa aku tak bisa mengatakannya pada Dinda? Karena… aku malu. Keluarga kami tertutup untuk masalah seperti itu” (hal: 48).

Dan, Mas Danu tidak ingin menanggung penyesalan seumur. Seperti yang dialami bapaknya — walaupun sangat mencintai ibunya, tetapi lelaki itu tak pernah mengungkapkan perasaannya — sampai wanita yang begitu berbakti meladeninya itu meninggal.

Di sinilah kepiawaian Asma Nadia, membuat sesuatu yang sepele menjadi konflik, sehingga dari awal pembaca dibuat penasaran, untuk terus menguntit cerita sampai akhir.

Demikian pula dalam cerpen “Meminang Bidadari” digambarkan ketulusan seorang wanita bernama Ayesha, yang bersedia diperistri oleh Ayyash hanya untuk sehari semalam, karena keesokan paginya sang suami telah merencanakan untuk bom syahid di kamp Israel.

Malam pertama sekaligus yang terakhir itu mereka isi dengan berbincang-bincang biasa, karena Ayyash ingin sepeninggal dia nanti kehormatan istrinya tetap utuh. Tengah malam mereka lanjutkan dengan ibadah bersama.

Perkawinan mereka itu sendiri dimaksudkan demi menyempurnakan separuh agama, sebelum Ayyash menghadap Rabbul Izzati.

Setelah shalat subuh lelaki itu tertidur. Dan menjelang fajar Ayesha melangkah pelan keluar rumah.

Sekali lagi Asma Nadia, membuat kejutan (suspense) kepada pembacanya. Karena siapapun mungkin tak menyangka, justru sang istri, Ayesha, yang memutuskan untuk syahid karena dengan diam-diam ia meledakkan gudang peluru tentara Israel, sebagai bentuk perlawanan warga Palestina yang tertindas.

Peristiwa tersebut malah kian memantapkan semangat Ayyash untuk melakukan penyerangan pusat militer Israel di daerah perbatasan, karena lelaki itu ingin menyusul bidadarinya.

Cerita lain, yang agak santai dan lebih meremaja tampak pada cerpen “Jodoh Bagi Rani”, yang mendeskripsikan pergolakan batin seorang muslimah dalam menentukan calon pasangan hidupnya. Ternyata untuk menyamakan antara apa yang diucapkan dengan tindakan, perlu ditopang oleh keikhlasan.

Kepada teman-temannya, Rani berujar siapapun yang melamarnya akan diterima, asalkan seorang ikhwan. Tak peduli apakah itu Hanif yang bertubuh pendek ataupun Bimbim yang bobot badannya luar biasa. Karena Rani menetapkan ukuran bagi pasangannya yang penting adalah alim dan sholeh. Tapi ketika Rani dilamar Cak Isa, duda dengan empat anak, ia pun jadi bimbang.

Masih ada beberapa cerpen lainnya, yang tak kalah menarik. Kesebelas cerpen dimaksud bukan sekadar memberi hiburan, namun ada nilai-nilai islami yang dapat kita petik sehingga kemanusiaan kita semakin peka untuk mensyukuri segala nikmat yang dianugerahkan Allah. Karena keluarga merupakan bagian terpenting dari kehidupan kita semua, tempat di mana kita bertolak dan berlabuh. Celoteh anak dan senyum istri dapat mencegah seorang suami untuk berbuat serong, sebagaimana yang tersirat dalam “Cerita Tiga Hari”.

Agaknya, lewat karya fiksi seorang pengarang dapat menyisipkan pesan-pesan moral maupun nilai-nilai religius. Dan, itu diyakini akan lebih mampu mengendap ke dalam kalbu pembaca ketimbang mereka direcoki dengan berbagai dogma dan dalil-dalil. aliansyah jumbawuya

***

(Pernah dimuat di Serambi UmmaH edisi 18 Juni 2003.)



Posted in Resensi Buku