Oleh: Aliansyah Jumbawuya
Aneh juga. Setiap pikiran Salim lagi mumet, rambutnya yang keriting spontan tambah menggumpal tak karuan. Berubah acak‑acakan. Seperti kali ini, sebentar‑sebentar Salim menggaruk‑garuk kepalanya.
Memang, beberapa bulan terakhir toko meubel dia rada sepi. Pembeli semakin jarang. Langganan berkurang. Entah kenapa, mereka lebih suka mampir ke tempat lain. Padahal dulu toko Salim cukup laris. Kadang dalam sebulan sampai dua truk penuh ia merekrut lemari dari desa Kandang Halang dan Panyiuran.
“Sekarang menjual sebiji lemari saja sehari, susah!” gumam Salim di balik meja. Buktinya, hari ini sudah hampir sore tak satu pun barang dagangannya yang laku.
Berbagai kiat telah ia coba. Termasuk mendatangi orang pintar. Siapa tahu ada yang dengki atas usaha yang dikelola Salim, kemudian menaruh simbol pembenci, sehingga calon pembeli kehilangan minat. Namun, setelah sekeliling toko ditaburi tapung tawar, tetap saja dagangan Salim sepi.
Maka, ketika mudik ke Amuntai, Salim menyempatkan diri menemui salah seorang pamannya, seraya menumpahkan keluhan seputar usaha dia yang kian di ambang kebangkrutan.
“Begini saja. Jika tak salah, Misdan, saudara sepupumu di daerah pedalaman Upau punya jimat penglaris yang didapat dari peninggalan (alm) kakek kalian. Namanya batu jilatan. Disebut demikian, karena menurut cerita, kalau kijang‑kijang mau mandi atau minum di sungai mereka selalu menjilat‑jilatkan lidah di sebuah batu yang itu‑itu juga, padahal batu lain banyak bertebaran. Nah, itulah yang dimaksud batu jilatan. Dan apuahnya, konon apabila disimpan di antara barang dagangan, dalam waktu singkat akan dirubungi pembeli. Cobalah temui sepupumu tersebut,” usul paman Idar.
“Kalau terbukti berkhasiat, kenapa bukan paman saja yang mencoba?” cecar Salim, masih setengah sangsi.
“Lha, kamu kan tahu bahwa paman seumur‑umur tak pernah berdagang, cuma bertani dan memelihara ternak.”
Sambil mikir Salim manggut‑manggut. Agaknya, ia mulai percaya dengan saran pamannya itu.
Malam menjelang tidur, Salim menuturkan rencana dia untuk berangkat ke perbatasan Upau kepada Fatimah. Mendengar niat suaminya yang menggebu-gebu untuk mendapatkan batu jilatan, ibu dua anak itu malah menertawakan.
“Masak, Bang Salim percaya dengan hal-hal yang bersifat tahayul. Kalau rejeki kita lagi seret, anggap saja ibarat roda pedati kita lagi di bawah. Usaha apapun pasti pernah mengalami pasang-surut. Barangkali, selama ini kita kurang berdoa kepada Allah, semata mengandalkan tenaga,” tukas Fatimah.
Tapi, nasehat istrinya itu ditanggapi Salim dengan dingin. Tekadnya sudah bulat, bagaimana pun caranya ia harus memperoleh batu jilatan!
***
Pagi sekali Salim sudah berangkat, naik taksi. Tujuan pertama ialah ke tempat Mak Tua. Karena ia sendiri lupa alamat Mislan, mungkin lebih sepuluh tahun ia tak pernah lagi ke sana. Jadi maksud Salim, ia minta supaya diantar.
Setelah sejenak bercengkerama serta berbasa-basi, selepas waktu Dzuhur, ditemani Kastalani, putra sulung Mak Tua, mereka pun menuju lokasi dimaksud. Ternyata, untuk masuk ke sana hanya bisa dilewati dengan jalan kaki, berpuluh-puluh kilometer. Di sebelah kiri jalan setapak itu terbentang tebing curam. Kalau kebetulan hujan, tanah habang tersebut berubah becek. Belum lagi jalannya yang turun-naik, jika kurang hati-hati bisa terpleset dan jatuh. Namun, medan yang berat itu tak menyurutkan semangat Salim untuk mendapatkan batu jilatan.
Akhirnya, menjelang sore mereka tiba juga di pondok Maslan. Maslan sendiri nyaris tak mengenali Salim jika tidak dijelaskan oleh Kastalani. Soalnya, mereka lama tak bertemu.
Malamnya, di bawah penerangan lampu petromak, mereka terlibat pembicaraan santai. Saling menceritakan pengalaman masing-masing. Tak lupa Salim memaparkan usaha meubelnya yang mulai merosot.
“Karena itulah, aku datang kemari untuk meminta batu jilatan. Siapa tahu dapat menaikkan hasil penjualan. Kamu sendiri, di sini berkebun cengkeh dan merica. Menunggu panen setahun sekali. Jadi, batu jilatan itu akan lebih bermanfaat kalau diserahkan padaku,” bujuk Salim.
Semula, Maslan sempat menolak untuk memberikan. Tapi, setelah diiming-imingi dengan uang tebusan sebesar Rp 500 ribu, ia pun akhirnya tak keberatan menyerahkan batu jilatan itu ke tangan Salim.
***
Entah kebetulan, yang jelas semenjak Salim menyimpan batu jilatan toko meubelnya kembali dipadati pelanggan. Setiap hari ada saja yang membeli bupet, lemari pakaian, meja belajar, kursi makan, sofa, ranjang matahari, dan lainnya. Bahkan tak sedikit yang rela memesan duluan, karena barang yang dicari keburu habis. Dalam sebulan ini saja, Salim tiga kali bolak-balik Samarinda – Amuntai untuk memenuhi permintaan barang.
Salah satunya, yang membuat dagangan Salim laris-manis, seorang perempuan — yang kemudian dikenal dengan panggilan nenek Asih — mengajak berkongsi. Ia akan membawa anak-anak angkatnya yang tersebar di berbagai pelosok untuk berbelanja ke toko Salim, dengan kesepakatan jika transaksi gol, Salim memberinya uang persen. Ternyata lewat cara itu, usaha meubel Salim mengalami kemajuan.
Dan, Salim semakin yakin bahwa kesuksesan yang diraihnya berkat keampuhan batu jilatan. Karena itu, ia tambah memperlakukan istemewa batu jilatan — diberi harum-haruman dan kain kuning. Kalau ada barang yang laku, sambil meletakkan uang di laci meja, Salim terlihat mengambil batu jilatan tersebut lalu menciumnya. Barangkali, semacam ungkapan terima-kasih.
Jum’at malam ketika Salim ingin memandikan batu jilatan, tiba-tiba benda itu tak ada di tempatnya. Salim kasak-kusuk mencari, tapi tak juga ketemu. Ia langsung menanyai istrinya, tapi wanita itu mengaku tak tahu-menahu.
“Pasti Dodi, kalau bukan dia siapa lagi! Anak itu memang suka jahil. Apa-apa dibuat mainan. Sekarang mana dia,” tukas Salim dengan mata melotot.
Begitu anak 8 tahun itu dicecar disertai omelan, akhirnya ia mengaku kalau tadi siang mengambil batu jilatan untuk menimpok kucing. Dengan terbata-bata ia menunjuk bahwa batu tersebut nyemplung di got. Mendengar itu, karuan saja Salim emosi. Apalagi setelah got diaduk berhari-hari, benda yang dicari tak bisa lagi diketemukan.
Karena tak kuasa menahan amarah, Salim memukuli Dodi. Bocah itu sambil menangis sesunggukan, berteriak minta ampun. Buntutnya, karena sang istri membela Dodi, ia juga jadi sasaran luapan kejengkelan.
“Ini karena kamu tidak bisa mendidik, makanya dia jadi anak nakal!” pekik Salim lantang.
“Kamu saja yang picik dan gelap mata! Masak, batu diagung-agungkan. Lebih dari anak dan istri…” pekik Fatimah tak mau kalah, karena merasa suaminya sudah tak logis lagi bertindak.
Mereka bertengkar, saling adu argumentasi. Tapi, setiap sanggahan istrinya justru dibalas Salim dengan lebih ngotot.
Merasa bahwa bersitegang urat leher tidak akan menyelesaikan masalah, Fatimah berinisiatif mengalah. Ia sadar saat ini suaminya sedang kalut, diberi penjelasan apapun pasti sulit menerima. Karena itu ia segera membopong Dodi, lalu menjauh.
Baru saat mereka di ranjang, dan hati keduanya mulai dingin, Fatimah coba memberi pengertian.
“Beberapa waktu lalu, saat dagangan kita kurang laris, sebagai istri saya juga ikut mikir. Bahkan sempat konsultasi dengan seorang ulama. Lalu saya dianjurkan, kalau mau dimurahkan rejeki oleh Allah hendaknya memuliakan orangtua, sebab merekalah keramat dunia yang paling bertuah. Karena itu, empat bulan ini saya mengirimi uang ke ibunda Bang Salim, dan minta didoakan supaya usaha kita lancar. Terbukti, kini kita dapat laba cukup lumayan,” ungkap Fatimah.
Salim serius menyimak.
“Jadi, menurut saya bukan lantaran khasiat batu jilatan,” sambung Fatimah. “Kita lihat saja nanti, apa tanpa batu jilatan usaha kita tetap berkembang,” tambahnya.
Hari demi hari terus mengalir. Usaha toko meubel yang dikelola Salim tetap banyak menyedot pembeli. Kendati Salim sudah tak menyimpan batu jilatan lagi.
“Betul juga, ternyata kelapangan pintu rejeki itu erat kaitannya dengan memuliakan orangtua,” gumam Salim kepada diri sendiri.
Sejak itu Salim kian sering mengirimi uang atau bingkisan kepada orangtuanya. Juga mengajak sowan anak-istri.
“Kalau usaha kami terus-menerus lancar seperti sekarang ini, saya berencana tahun depan untuk memberangkatkan ibu berhaji. Makanya, doakan ya, Bu…” pinta Salim.
Wajah wanita tua itu langsung berbinar. Ia tampak bahagia mendengar janji putranya.
***
(Tulisan ini pernah dimuat di Serambi Ummah edisi 192 / 18-24 Juli 2003)