Oleh:Yuliati Puspita Sari
Sekali lagi kuperiksa dompetku. Alhamdulillah masih ada. Sebelum berangkat ibu selalu berpesan agar aku berhati-hati di jalan, terutama saat dalam bus. Biasanya banyak copet beraksi di dalam bus, terlebih saat bus penuh dan para penumpang berdesak-desakan. Itu merupakan lahan empuk bagi para pencopet.
Seorang ibu berperawakan agak gemuk tersenyum kepadaku. Ibu itu duduk persis di sebelah kiriku. Di pangkuannya ada tas besar yang entah isinya apa.
“Adik mau kemana?” tanya ibu itu.
“Semarang, Bu.” Sahutku.
Ibu itu tersenyum. Meski sedikit gemuk, tapi ia terlihat cantik.
Lagi-lagi pesan ibu terngiang di telingaku.
“Kamu harus hati-hati, Rin, jangan lekas percaya pada orang,” pesan ibu menjelang keberangkatanku.
“Ingat, Rin, kalau tidak terlalu penting, jangan ngobrol dengan sembarang orang di dalam bus. Ibu takut kalau kamu kena hipnotis nanti.” Lanjut ibu lagi.
Aku maklum dengan kecemasan ibu yang berlebihan melepas kepergianku. Sebelumnya aku memang tidak pernah pergi sendiri. Kalau pergi ke mana-mana apalagi harus menempuh jarak jauh selalu ada keluarga atau setidaknya teman yang menyertai. Tapi kali ini aku terpaksa harus berangkat sendiri. Tak ada yang bisa menemaniku. Semuanya sibuk dengan kerjaan masing-masing.
“Iya, Bu, Ibu tidak usah khawatir” sahutku singkat.
***
Udara sangat panas. Kukipas-kipaskan koran yang ada di tanganku. Lumayan dapat menghadirkan sedikit angin untuk mengusir gerah.
“Mau ngemil, Dik?” Ibu itu menawarkan sebungkus kacang goreng kepadaku.
“Terima kasih, Bu, saya masih kenyang” Kutolak halus tawaran ibu itu. Aku ingat pesan ibu agar jangan sembarangan menerima tawaran orang untuk makan, sebab obat bius bisa dimasukkan melalui makanan.
“Astagfirullahaladzim…!” ucapku lirih. Aku tidak bermaksud berburuk sangka pada ibu itu, tapi aku hanya sekadar berhati-hati.
Bus berhenti. Ada penumpang yang naik. Seorang laki-laki berambut gondrong dan berpakaian agak lusuh. Sepertinya ia berasal dari golongan kelas bawah. Aku patut curiga dengan orang ini. Keterbatasan ekonomi mungkin saja membuatnya nekat. Hal-hal semacam itu sering aku lihat dalam tayangan kriminal di televisi. Jangan-jangan sasarannya kali ini adalah aku. Ih…aku bergidik. Jantungku berdetak makin cepat saat laki-laki itu memilih duduk tepat di sebelah kananku. Bau keringat menyeruak ke dalam penciumanku.
“Ya Allah, lindungi aku.” Kupegang tasku erat-erat. Aku harus hati-hati dengan laki-laki ini.
Sepanjang jalan perasaanku tidak tenang. Rasa hausku pun terpaksa kutahan. Aku tak berani membuka tasku untuk mengambil air kemasan di dalamnya. Aku takut kalau laki-laki di sampingku tahu segala isi tasku. Kulirik laki-laki gondrong di sebelahku. Ia diam terpaku di tempat duduknya, entah apa yang saat ini dipikirkannya.
Selang beberapa jam, bus berhenti. Laki-laki itu beranjak dari tempat duduknya. Rupanya ia sudah sampai di tempat yang ditujunya.
Aku menarik napas lega. Kuperiksanya tas kecilku. Alhamdulillah, dompetku masih ada. Kureguk air kemasan yang kubeli di terminal bus tadi. Lumayan untuk mengusir rasa haus yang kutahan sejak tadi.
Kulihat ibu di sebelahku begitu tenang terlelap. Suara bising dari pengamen di dalam bus seolah menjadi nyanyian pengantar tidurnya.
Untuk yang kesekian kalinya bus berhenti lagi. Seorang laki-laki seumuran kakakku masuk. Ia duduk di sebelahku. Pakaiannya bersih, rapi, dan wangi. Ia juga berkaca mata, sama seperti kakakku. Penampilannya sangat berbeda dengan laki-laki berambut gondorong tadi. Dari penampilannya, aku yakin bahwa ia orang baik-baik. Tak ada yang perlu kucurigai dari dia.
“Mau ke Semarang, Mbak?” tanyanya sopan.
“Iya, Mas,” sahutku ringan.
“Mas mau ke Semarang juga?” aku balik bertanya.
Laki-laki itu mengangguk.
“Saya mau menjenguk saudara saya di Semarang,” katanya.
Aku senang, kali ini aku tidak perlu ketakutan seperti tadi. Aku aman. Kedua orang yang duduk di sebelahku adalah orang baik-baik. Akhirnya aku tenggelam dalam obrolan-obrolan ringan bersama laki-laki yang baru kukenal itu.
Bus berhenti.
“Permisi, Dik, saya duluan”. Rupanya ibu yang duduk di sebelahku sudah sampai di tempat tujuannya. Kugeser tubuhku agar ibu itu bisa lewat. Laki-laki di sebelah kananku pun juga melakukan hal yang sama, memberi jalan agar ibu bertubuh gemuk itu bisa lewat.
Kembali kuperiksa tasku. Aku tersenyum lega. Alhamdulillah dompetku masih ada.
“Kenapa, Mbak?”.
“Oh…eh…tidak apa-apa, Mas” Aku tersenyum malu. Rupanya Bapak itu mengawasiku sejak tadi. Mungkin laki-laki itu heran melihatku yang segera memeriksa tas sepeninggal ibu itu tadi.
“Kita memang harus hati-hati, Mbak, banyak copet di mana-mana.” Laki-laki itu seolah dapat menebak jalan pikiranku.
“Kadang pencopet bisa berpura-pura sebagai orang baik dan mereka pun punya banyak cara untuk melancarkan aksinya.” Lanjut laki-laki itu lagi.
Aku tersenyum sambil mengangguk-angguk. Sepertinya laki-laki ini tahu banyak tentang seluk-beluk copet. “Ah, mungkin dulunya ia pernah dicopet,” ungkapku dalam hati.
***
Angin berhembus masuk melalui jendela bus. Pinggangku terasa sudah mulai penat karena terlalu lama duduk. Kalau saja bus yang kutumpangi ini tidak sering berhenti, sudah sejak tadi aku tiba di Semarang. Kulirik arloji di pergelangan tanganku. Pukul 04.00 WIB. Laki-laki di sebelahku tertidur sejak tadi. Mungkin ia kelelahan sehingga tidak sanggup menahan kantuknya.
Bus kembali berhenti untuk menaikan penumpang. Kuharap ini adalah terakhir kalinya bus berhenti sebelum tiba di terminal. Aku tak ingin paman Umar terlalu lama menungguku kedatanganku di terminal. Tiga orang penumpang naik. Sepasang suami isteri yang masih muda beserta anak mereka yang masih balita.
“Mas dan Mbak silakan duduk di sini, biar saya yang berdiri” Naluri kemanusiaanku muncul. Aku tak tega melihat mereka berdiri. Isterinya sedang hamil, sementara anaknya sedang terlelap dalam gendongan ayahnya.
“Terima kasih, dik.” Mereka tersenyum ramah kepadaku. Tak ada yang perlu kucurigai dari mereka.
Alhamdulillah, aku senang, ternyata kekhawatiran ibu tidak terbukti. Tak ada copet ataupun tukang bius di dalam bus yang kutumpangi ini.
Bus sudah memasuki kota Semarang. Tak lama lagi kami akan tiba di terminal. Lumayan lelah juga berdiri, tapi tak apalah, sedikit berkorban untuk orang yang lebih memerlukan.
Bus kembali berhenti. Ternyata laki-laki yang tadi menjadi teman ngobrolku beserta satu orang penumpang lainnya yang turun.
“Saya duluan, Mbak.” Katanya tergesa. Aku tersenyum.
“Mungkin laki-laki itu takut kalau busnya kembali jalan makanya ia buru-buru turun” pikirku. Tak sempat kutangkap senyum puas terpancar dari bibirnya.
Selang beberapa menit kemudian, perlahan bus memasuki terminal. Penumpang berdesakan turun. Kuapit tasku kuat-kuat, tak akan kubiarkan tangan jahil menjarahnya. Di Kulihat paman Umar dan Annisa sepupuku yang masih kecil tersenyum ke arahku. Mereka sengaja menjemputku di terminal.
“Selamat datang di Semarang, Rin.” Sambut paman Umar. Kucium tangan beliau.
Annisa kecil merengek minta dibelikan es krim. Kuraih tangannya dan berjalan menghampiri penjual es.
“Mas, beli es krimnya satu.” Pintaku pada penjual es.
“Berapa, Mas?” lanjutku lagi.
“Tiga ribu rupiah, Mbak.” Sahut penjual es krim itu.
Akhirnya baru kusadari ada goresan silet di tasku. Tak dapat lagi kutangkap senyum ceria Annisa saat menerima es krim dari penjualnya karena yang ada semuanya gelap. Dompetku entah sudah berpindah kemana.
***
Kertak Hanyar, Agustus 2008
Oleh: Aliansyah Jumbawuya
Sudah enam tahun Yesi Mariam beraksi dari panggung ke panggung sebagai penyanyi dangdut. Terutama kalau ada yang melangsungkan hajatan pengantin, biasanya di situlah ia tampil menghibur. Honor yang dia terima lumayan buat menutupi biaya hidup sehari‑hari.
Tapi, tiba‑tiba Yesi dihinggapi rasa tak puas. Ia ingin namanya bukan cuma dikenal di seputar kabupaten, jika bisa berkibar sampai ke luar daerah. Sejak kecil, setiap pulang nonton tivi dari tempat tetangga, Yesi sering berangan‑angan suatu saat dirinya akan menjadi bintang tersohor. Ribuan penggemar berdesak‑desakan, antri hendak meminta tanda‑tangannya. Dan, kadang khayalan itu terbawa‑bawa sampai ke mimpi.
Seisi rumah tahu betul kalau Yesi itu gemar sekali menyanyi. Hampir di setiap kesempatan dia bersenandung. Khususnya ketika di kamar mandi. Kadang saat mau berangkat sekolah pun ia masih sempat‑sempatnya bergaya di depan cermin sambil berlenggang‑lenggok.
Maka, begitu tamat SMP dan tatkala sebuah grup musik mengajaknya untuk bergabung jadi biduan, tanpa banyak pertimbangan ia langsung menerima tawaran tersebut. Sejak itulah bakat menyanyi Yesi tersalurkan.
Seperti kali ini, rombongan Yesi baru saja pulang dari pertunjukan di sebuah kampung, dimana para warganya tengah merayakan keberhasilan panen mereka. Truk yang mengangkut sound system dan peralatan musik tampak bergerunjal karena jalan yang berlobang‑lobang. Sementara di jok depan mobil Yesi sedari tadi terlihat melamun. Pikirannya melayang. Ucapan seorang pemandu bakat itu selalu tergiang‑ngiang di kepalanya.
“Untuk menjadi penyanyi tenar, kemampuan vokal bukanlah modal utama. Di Indonesia, memiliki suara merdu tak akan berarti banyak jika tidak ditopang dengan tampang atau body lumayan. Yang terpenting sekarang ini adalah keberanian untuk menampilkan sesuatu yang beda. Saya lihat, maaf, pinggul Mbak Yesi cukup besar. Kenapa kelebihan itu tidak diekploitasi. Saya siap mendongkrak popularitas Mbak Yesi, asalkan itu tadi, mau memanfaatkan goyang pinggul,” bujuk pria nyentrik yang selalu berpakaian serba hitam itu.
Waktu itu, Yesi cuma diam. Tak berani menanggapi. Soalnya, dia baru kenal dengan pria tersebut.
“Ini kartu nama saya. Kalau Mbak Yesi nanti bersedia untuk saya latih, bisa hubungi alamat sebagaimana yang tertera,” sodor pria itu dengan senyum ramah.
***
Betul juga, setelah mengikuti latihan ekstra keras yang dipandu Jay Welianto, pria yang dulu berjanji akan mengangkat popularitasnya, kini penampilan Yesi benar‑benar memukau khalayak ramai. Banyak yang histeris menyaksikan goyang “zigzag” Yesi. Mereka tidak begitu mempedulikan lagi lagu apa saja yang dilantunkannya. Karena mata penonton lebih terfocus pada gerak pinggul Yesi yang aduhai. Tidak sedikit lidah yang berdecak kagum, sambil sesekali melontarkan celoteh‑celoteh nakal.
Bahkan atas saran Jay Welianto, nama Yesi Mariam berganti jadi Yessy Manora dengan pertimbangan agar punya nilai jual.
Ketika Yessy Manora hijrah ke Jakarta untuk mengadu nasib, dalam waktu singkat kehadirannya mendapat sorotan. Setiap pagelaran Yessy selalu mengundang sambutan hangat. Goyang “zigzag” dengan pinggul meliuk‑liuk lalu secara reflek turun‑naik disertai gaya patah‑patah, tiba‑tiba menjadi maskot yang digandrungi penonton. Apalagi saat pantat Yessy menyodok ke atas, serta‑merta hadirin memberi aplus meriah. Banyak yang dibuat terpukau. Ditambah kostum yang ketat, tak pelak memancing fantasi liar para pria.
Goyang zigzag jadi fenomena yang bikin heboh. Dibicarakan berbagai kalangan. Dari tukang becak sampai anggota DPR. Dari pasar kaki lima sampai istana kepresiden.
Apalagi saat sebagian ulama mulai gerah dan mengeluarkan fatwa haram atas goyangan yang dianggap erotis itu, mereka yang semula tak kenal goyang zigzag, lantaran penasaran lalu ingin menyaksikan langsung bagaimana goyang tersebut. Dan pro‑kontra itu diliput oleh berbagai koran, tabloid, majalah, maupun televisi swasta, sehingga makin melambungkan nama Yessi Manora.
“Apa yang saya lakukan sekadar mencari nafkah. Tidak ada niat untuk tampil erotis,” tampik Yessi dengan wajah tertunduk ketika berdialog dengan peserta Organisasi Masyarakat Peduli Moral Bangsa (Oma Perasa).
“Tapi dari beberapa kejadian asusila, disebutkan pelaku berbuat pencabulan setelah menyaksikan goyang anda yang sensual itu,” tukas pemuda berpeci.
Seorang pengacara ternama pendukung Yessi, cepat menangkis tudingan itu. Suasana sempat memanas.
“Begini, Yessi Manora. Anda kan seorang muslim. Jangan demi alasan mencari nafkah, lalu anda semaunya mempertontonkan aurat. Sebab, ingat jika Allah hendak mencabut nikmat‑Nya sungguh amatlah mudah,” nasehat seorang ustadz yang cukup berpengaruh.
Tapi dari pertemuan itu, tak banyak yang berubah terhadap goyang Yessi. Ia tak peduli dengan berbagai komentar miring yang ditujukan kepadanya. Termasuk ketika ada yang memplesetkan namanya jadi Yessi Iman Ora (tanpa iman) atau primadosa.
Yessi Manora semakin sibuk dengan jadwal pagelaran yang kian padat. Bayaran yang diterima pun tambah besar. Ketenaran Yessi melampaui penyanyi‑penyanyi senior.
***
Yessi mampu membangun tiga rumah megah beserta perabotannya yang serba luks. Bintang keberuntungannya bersinar cerlang. Kecuali satu hal, bahwa ia belum juga dikarunia seorang anak.
Ketika suaminya, Saidan, mengajak konsultasi ke dokter ahli kandungan, Yessi tak keberatan. Siapa tahu mereka akan mendapatkan jalan keluar sehingga cepat memperoleh momongan.
Setelah chek‑up, dokter menyarankan agar Yessi mengurangi aktivitas. Karena goyang pinggul dengan intensitas tinggi, mungkin saja akan berpengaruh pada rahim.
“Bagaimana bisa jadi, kalau malam dikasih benih tapi siangnya sudah langsung diobok‑obok,” nasehat dokter sambil berkelakar.
Sekembali di rumah, Saidan langsung membujuk istrinya supaya menghentikan jadwal manggung sementara waktu. Dengan harapan, itu akan membantu mereka untuk mendapatkan keturunan. Apalagi akhir‑akhir ini, Saidan merasakan mereka kian jarang berhubungan intim.
“Ya, ndak bisa begitu dong! Mas kan tahu kontrak yang saya tanda‑tangani masih panjang. Lagian, mumpung masih berjaya apa salahnya kalau kesempatan ini jangan disia‑siakan. Sambil terus mengumpulkan uang tabungan. Sebab, kalau orang‑orang nanti sudah tak mau lagi memakai saya, kita sudah cukup punya simpanan. Karena saya sadar Mas, ketenaran ini tidak selamanya berpihak pada saya,” panjang‑lebar Yessi mencoba memberi pengertian pada suaminya.
“Tapi, sampai kapan?”
“Yang penting, Mas mau bersabar. Nanti masa itu akan tiba juga, dimana kita bisa berkonsentrasi penuh untuk memikirkan masalah keturunan.”
***
Tanpa terasa 16 tahun sudah berlalu. Usia Yessi tak bisa lagi dibilang muda, bahkan sebagian rambutnya telah dirayapi uban.
Siang itu, Novita, anak angkatnya yang dia adopsi dari panti asuhan, dengan wajah berbinar mengutarakan niatnya untuk menjadi artis primadona.
“Seperti ibu dulu, dielu‑elukan para penggemar,” tukas gadis yang mulai beranjak dewasa itu.
“Tidak! Ibu tidak akan mengizinkan!”
“Kenapa?” tanya Novita tak habis mengerti.
“Pokoknya ibu tidak setuju. Titik!” tukas Yessi dengan nada sengit.
Diperlakukan begitu, karuan Novita jadi marah. Ngambek. Ia segera berlari, dan mengurung diri dalam kamar. Bahkan ketika disuruh makan, ia tak mau keluar. Menumpahkan tangis di atas bantal.
“Suatu saat ia akan mengerti, kenapa aku melarang keras dia terjun di dunia hiburan,” gumam Yessi pada dirinya sendiri.
Ia tidak ingin kejadian serupa yang menimpanya, kelak terulang kembali pada Novita.
Suaminya, Saidan, lantaran merasa sering ditelantarkan Yessi pergi manggung ke berbagai daerah, juga karena keinginan dia untuk mendapatkan anak tak terpenuhi, akhirnya kawin lagi. Dan memutuskan bercerai dari Yessi. Ketika itulah Yessi baru menyadari kealpaan dirinya. Tapi semua sudah terlambat, Saidan keburu meninggalkannya. Tak lama kemudian, seiring karirnya yang mulai memudar, manajer yang dipercayainya selama ini, melarikan seluruh uang penghasilan Yessi manggung.
Kini, di hari tuanya hanya sesal yang tersisa. Tiada lagi sanjung‑puji. Kecuali, sepi yang menderap hati.
***
(Tulisan ini pernah dimuat di Serambi Ummah edisi 187 /13-19 Juni 2003)
(In Memoriam Prof Dr HM Gazali MAg)
Oleh: Aliansyah Jumbawuya
Duugh!!! Jantungku kontan berdegup kencang begitu mendengar berita kematiannya dari seorang kenalan. Katanya, Senin (18/8 ) itu HM Gazali mengalami kecelakaan, diserempet sepeda motor di Kandangan. Ia sempat dibawa ke rumahsakit, namun kemudian nyawanya tak tertolong. Jenazah pakar kaligrafi itupun langsung di bawa ke kampung kelahirannya Alabio.
Sesaat, aku seolah tak percaya. Tapi sekian menit berikutnya aku pun tersadar bahwa dalam hidup ini kita sering disodorkan dengan kenyataan‑kenyataan yang tak terduga. Apalagi maut itu tidak berbau, siapapun tak ada yang bisa mengendusnya. Meski demikian , masih saja aku diliputi rasa penasaran. Untuk menyakinkan diri kucoba mengontak nomor handphone dia. Berhasil masuk , tapi tak ada yang menyahut. Sembari menunggu, aku tetap berharap akan mendengar suara khasnya yang begitu kukenal. Berharap sekali lagi, bahwa kabar yang kuterima itu tidak benar.
Nyatanya…. HM Gazali memang telah meninggalkan kita semua untuk selama‑selamanya, menghadap Sang Khalik.
Sore itu, usai wawancara dengan salah satu narasumber, aku langsung pulang. Tak bersemangat untuk balik ke kantor. Padahal, tadinya aku sedang gandrung‑gandrungnya memposting blog padepokanpena.wordpress.com yang baru kubuat tiga hari lalu.
Sepanjang perjalanan, episode demi episode tentangnya menggayuti benakku. Tubuhnya yang kecil, wajahnya yang berjenggot, penampilan yang selalu bersahaja, sorot matanya yang teduh, serta senyumnya yang tulus, bagai lekat di pelupuk mataku. Momen‑momen ketika ngobrol, bercanda, sembari mendengar petuah‑petuahnya yang sarat hikmah, bagai ada yang me‑rewind dari chip memoriku.
Semakin kukenang sosoknya, semakin tak mampu kubendung rasa haru. Akhirnya, butir‑butir airmata tak sanggup kutahan. Sambil mengendarai sepedamotor aku terisak. Untungnya, aku mengenakan penutup helm sehingga orang‑orang di pinggir jalan tak ada yang tahu. Sentimentilkah aku? Entahlah. Yang pasti kepergian orang sebaik Gazali memang pantas ditangisi. Meskipun tidak untuk larut dalam kesedihan berkepanjangan.
***
Siapapun yang mengenal Gazali hampir bisa dipastikan akan merasa cepat akrab dengannya. Sikapnya yang terbuka, humoris, rendah hati, membuat dia disenangi banyak orang. Ia tidak pernah terkesan ingin membuat jarak, apalagi membeda‑bedakan manusia. Di hadapannya siapapun sama, tanpa memandang jabatan atau status sosial.
Bahkan dalam beberapa ceramahnya yang kuikuti, Gazali menganjurkan untuk berakhlak baik pada hewan dan tumbuhan. Dan itu bukan sekadar diucapkan, melainkan sudah menjadi amaliah kesehariannya.
Dengan kepribadian yang demikian, maka wajar manakala pria yang amat sangat rajin puasa sunat ini dicintai banyak orang. Ibu, istri, anak‑anak, dan familinya tak layak untuk cemburu, sebab Gazali bukan hanya milik keluarga ‑ ia telah sukses menempatkan dirinya menjadi kepunyaan khalayak. Ia eksis di tingkat lokal, regional, bahkan internasional. Ketua STAI Al Falah Banjarbaru ini pernah diundang duta besar AS, dan terakhir bersama Jamaah Tablik melakukan perjalanan dakwah di India, Pakistan, dan Bangladesh. Kemampuan Gazali berbahasa Arab dan Inggris memudahkannya berkomunikasi lintas negara.
Di manapun berada, ia selalu diterima. Selain pandai beradaptasi, dia juga cukup piawai menghidupkan suasana. Di forum resmi sekalipun, dosen Fakultas Dakwah IAIN Antasari ini, tak segan‑segan melempar joke‑joke lucu sehingga mengundang geer. Bayangkan, Prof Dr Adjumardi Azra MA, dosen Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang konon katanya terkenal ‘killer’ dan pelit senyum saja mampu dibuat ketawa oleh Gazali.
Bahkan, tak jarang pria kelahiran Alabio 1 Juni 1959 ini menjadikan kekurangan fisiknya sebagai bahan lelucon. Suatu kali dia berkunjung ke redaksi Serambi Ummah. Katanya, “Jelek‑jelek begini saya berhasil menundukkan mantan Menteri Agama RI, Said Agil Al Munawar.”
“Kapan?” celetukku serius.
“Waktu ketemu di Palangkaraya. Saat berjabatan tangan, terpaksa beliau tunduk pada saya, karena tubuh saya lebih pendek,” jelasnya. Karuan saja kami ketawa.
Ya, bukankah hanya orang bijak yang mampu menertawakan kekurangan dirinya? Hal itu sekaligus menegaskan, betapa tawadhunya dia.
Ia hadir bukan sekadar untuk ada, lebih dari itu demi memberi arti.
***
Satu lagi sisi menonjol dalam kepribadian Gazali, yaitu sifat ikhlasnya. Di zaman materialisme dan penuh pamrih seperti sekarang, mungkin sulit mencari orang yang sungguh‑sungguh ikhlas.
Begini. Persis dua tahun lalu menjelang Ramadhan 1427 H, saya bertandang di rumahnya. Waktu itu dia bercerita seputar rencananya ke luar negeri untuk urusan dakwah. Tiba‑tiba mursyid dari Jamaah Tablik menelpon dia, menanyakan kesiapan biaya.
“Alhamdulillah, dananya sudah tersedia. Tapi, saya mau minta pendapat dengan Mursyid. Beberapa waktu lalu mahasiswa ulun mau minjam uang buat kawin. Menurut pian apakah uang ini diserahkan sama dia, atau bagaimana?”
Jika tidak dilarang mursyid (guru) itu, karena khawatir keberangkatannya bakal tertunda, saya yakin Gazali akan menyerahkan uang jutaan rupiah tersebut untuk keperluan resepsi pernikahan mahasiswa tersebut.
Mendengar percakapan itu, dalam hati saya mendumel: “Tuh mahasiswa terlalu juga, masak mau kawin minjam uang sama dosen!”
Namun begitulah HM Gazali, karena sikapnya yang low profil, orang tak sungkan‑sungkan minta tolong.
Kalau diminta ceramah, sekalipun di tempat jauh dan terpencil, dia tidak mau merepotkan pihak pengundang, Gazali bisa datang sendiri naik motor tanpa harus dijemput. Ini saya rasakan sendiri ketika dua bulan lalu mengundangnya untuk memimpin prosesi tasmiah putri kedua saya.
Terakhir, saya ketemu dengan Gazali sekitar tiga minggu lalu di kampus IAIN Antasari. Dalam obrolan santai, dia bilang bahwa nikmat Tuhan yang diberikan padanya telah sempurna. Rukun Islam kelima atau naik haji sudah dipenuhinya. Gelar tertinggi (professor) pun sudah dicapainya. Jalan‑jalan ke negara Timur dan Barat sudah pernah dirasakannya. Begitu pula batas maksimal seorang Mukmin boleh beristri sudah terwujud.
“Semua permintaan saya ternyata dipenuhi Tuhan. Jadi, rasanya malu pada Allah kalau saya tidak banyak puasa,” ujarnya. Gazali memang setiap kali mencita‑citakan sesuatu yang dianggapnya ‘proyek’ besar, selalu dibarenginya dengan puasa sunat. Bahkan cucu KH Muhammad Sani (pendiri Ponpes Al Falah) ini kuat puasa sampai berbulan‑bulan. Mungkin lantaran itu tubuhnya tak pernah terlihat gemuk.
“Sedangkan untuk punya mobil,” lanjut Gazali, “saya tidak pernah menghajatkan itu.”
Ke mana‑mana dia memang merasa lebih enjoy dengan naik sepeda motor. Begitu pula ketika peristiwa kecelakaan yang menewaskan itu terjadi.
HM Gazali meninggal persis sehari setelah peringatan HUT Kemerdekaan RI. Kini, ia di alam sana sudah merdeka, terbebas dari segala ikatan dan kepentingan duniawi. Menghadap Sang Maha Sempurna.
Selamat jalan kawan, semoga engkau bahagia di sisi‑Nya.
***
Padaringan Sastra, 19 Agustus 2008