Padepokan Pena - Gemar Membaca Giat Menulis

Memaknai HUT Kemerdekaan

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Di kota‑kota besar, di sudut‑sudut kampung, bahkan di dalam gang‑gang sempit, orang‑orang sibuk membangun gapura, memasang umbul‑umbul, memajang bendera merah‑putih. Jutaan rakyat di seantero Nusantara diliputi suasana suka‑cita. Tak terasa 63 tahun sudah Indonesia memproklamirkan kemerde­kaannya.

Kemerdekaan bukanlah anugerah dari langit. Atau hadiah kaum penjajah, melainkan berkat kegigihan para pahlawan yang tak mengenal kata menyerah. Perjuangan mereka dilandasi niat luhur untuk kebahagiaan generasi berikut di masa depan. Mereka kesampingkan derita dan airmata, bahkan sedia berkor­ban nyawa demi tegaknya Indonesia di mata dunia.

Kepada para syuhada itu, Allah telah menjanjikan maqam mulia sebagaimana firman‑Nya dalam surah Al Baqarah ayat 154: “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang‑orang yang gugur di jalan Allah itu mati; karena sebenarnya mereka hidup, tapi kamu tiada menyadarin­ya.”

Lalu apa realisasi dari generasi sekarang, bahwa kita sungguh‑sungguh mewarisi semangat pahlawan? Betapa merah itu mengisyaratkan gelora yang tak pernah lindap untuk mewujud­kan cita‑cita bangsa. Betapa putih itu menegaskan setiap langkah kita selalu disertai niat yang suci.

Setengah abad lebih sudah kita terbebas dari cengkera­man kolonial. Namun, kita masih saja gagap untuk menerjemahkan arti kemerdekaan.

Sudahkah kita merdeka? Kalau di televisi kita saksikan ratusan pelacur jalanan kocar‑kacir diuber‑uber petugas kantib, dan sebagian terpaksa nyemplung di selokan. Padahal wanita mana yang mencita‑citakan dirinya untuk jadi pelacur. Mereka terpaksa melakoni profesi itu, dan menanggalkan rasa malu, lantaran tak melihat cara lain untuk menyambung hidup. Sarjana saja banyak yang nganggur, karena peluang kerja tak memperhitungkan potensi yang dimiliki seorang individu, melainkan tergantung seberapa berani ia menyogok instansi terkait.

Sudahkah kita merdeka? Kalau ribuan TKI terlunta‑lunta nasibnya di negeri jiran. Sebab di bumi asalnya, yang katan­ya gemoh ripah loh jenawi, mereka terlanjur pesimis berharap untuk bisa hidup layak. Karena konsep pendistribusian kese­jahteraan yang merata cuma sebatas koar di belakang podium.

Sudahkah kita merdeka? Kalau ribuan buruh diperlakukan seperti sapi perahan. Karena para pengusaha berjiwa kapita­lis tahu persis betapa sulit mencari lowongan kerja saat ini, sehingga meski upah yang ditawarkan sangat minim tetap saja orang‑orang akan antri berduyun‑duyun.

Sudahkah kita merdeka? Kalau polisi dan tentara tak lagi memberi kita rasa aman.

Sudahkah kita merdeka? Kalau perangkat hukum tak ubahn­ya seperti sarang laba‑laba yang hanya mampu menjaring habitat kecil, namun tak berdaya ketika berhadapan dengan kuku‑kuku kekuasaan.

Sudahkah kita merdeka? Kalau kita merasa asing di tengah saudaranya sendiri hanya karena perbedaan‑perbedaan sepele.

Sudahkah kita merdeka? Kalau amanat rakyat terus-menerus dikhianati. Para politisi gemar melancarkan trik-trik klasik: ‘atas nama rakyat’, padahal target yang diperjuangkan adalah demi kepentingan kelompoknya.

Sudahkah kita merdeka? Kalau untuk mendapatkan pendidikan harus menggadaikan sertifikat tanah dan sawah.

Sudahkah kita merdeka? Kalau kaum proletar terus didesak mengorbankan lahannya dengan ganti rugi yang kurang memadai (namanya juga ganti rugi, ya pasti rugi!) demi pembangunan yang cuma dinikmati oleh segelentir pejabat dan konco‑konconya.

Sudahkah kita merdeka? Kalau ulama yang berani menyata­kan bahwa yang haq itu haq dan yang batil itu batil jumlahn­ya kian merosot karena takut berhadapan dengan kekuasaan yang zalim.

Sudahkah kita merdeka? Atau jangan‑jangan sampai sekar­ang kita tetap dibelenggu oleh kekuatan terselubung yang melumpuhkan, yang amat sistematis dan tertata rapi hingga kita tak pernah menyadari bahwa sebenarnya kita masih dija­jah.

Adalah tugas kita semua untuk memperjuangkan dan memak­nai kemerdekaan. Yakni dengan mengaktualisasikan potensi diri seluas‑luasnya bagi kemaslahatan sesama. Karena sebaik‑ baik manusia adalah mereka yang paling bermanfaat bagi lingkungannya.

***


Posted in Refleksi

Bahaya di Balik Popularitas

Judul Buku : Popularitas Di Mata Orang‑Orang Bertaqwa

Penulis : Said Abdul Azhim

Penerjemah : Andi Arlin, SAg

Penerbit : Pustaka Azzam

Cetakan : I, Des 2001

Tebal : 324 hlm

Berapa banyak orang yang karena terobsesi menge­jar kemashuran, tanpa sadar telah menggadaikan harga diri dan kehormatan. Decak kagum, komentar penuh sanjung, sambu­tan hangat khalayak, seolah mengokohkan eksistensinya. Aki­batnya, orientasi hidup mereka cenderung memprioritaskan penampilan fisik ketimbang mengisi kalbu dengan nilai‑nilai agamis atau akhlak mulia.

Segala tindak‑tanduknya menjadi sorotan publik. Hal‑hal sepele yang menyangkut dirinya pun menjadi konsumsi media massa. Implikasi negatif yang tak terelakkan, bisa jadi lantaran sering diperlakukan istemewa mereka akhirnya merasa tinggi hati. Kiprahnya tidak lagi didasari oleh niat yang tulus, tapi karena ingin dipuji.

Penyakit batin semacam ini dapat menghinggapi siapa saja. Tak hanya sebatas pada kalangan selebritis, mereka yang berkecimpung dalam syiar Islam pun punya kemungkinan terkontaminasi oleh sifat ujub.

Dan, bangsa‑bangsa Barat yang tidak senang terhadap kemajuan peradaban Islam, dengan cara‑cara terselebung berusaha menyebarkan virus yang merusak aqidah. Salah satu ialah lewat iming‑iming kepopuleran yang dicapai dengan penghalalan segala cara.

Said Abdul Azim, penulis buku ini, menyatakan betapa besar andil musuh‑musuh Islam dalam menyebarkan pemikiran maupun sikap hidup yang bertujuan merusak mental kaum mus­limin. Diantara ialah dengan menanamkan pola hidup cinta berlebih (ubud) dunia.

Dikhawatirkan, karena gaya hidup yang memuja pada kemewahan dan perhiasan itu dimotori oleh para publik figur, akan cepat menjadi tren di masyarakat, terutama di kalangan remaja.

“Sesungguhnya kaum Yahudi Internasional dan orang‑orang di belakang mereka dari berbagai yayasan, organisasi, dan perkumpulan‑perkumpulan seperti Rotary Club, Lion dll, bergerak untuk menarik orang‑orang yang punya semangat tinggi di bidang politik, pemikiran, dan seni agar menjadi boneka mereka dalam rangka penyebaran pemikiran kaum Yahudi. Maka, bersinarlah nama boneka‑boneka tersebut” (hal: 63).

Untuk menumbuhkan kewaspadaan kepada umat muslimin sejak dini, ada baiknya dikemukakan beberapa bahaya yang terkait dengan popularitas.

Pertama, bahaya cinta dunia. Tak sedikit orang yang lantaran ingin mengejar ketenaran dan kemegahan dunia, kemudian menjual agamanya. Hukum Allah dikesampingkan karena memperturutkan hawa nafsu. Padahal apa yang disangkanya sebagai kesuksesan itu sangat temporal (nisbi). Tak seband­ing dengan azab yang bakal diterima di akhirat nanti karena dosa‑dosa yang dilakukan.

Demikian firman Allah dalam surah Ar‑Ruum ayat 30: “Mereka hanya mengetahui yang lahir saja dari kehidupan dunia, dan lalai tentang kehidupan akhirat”.

Kedua, bahaya riya. Mereka yang memburu kepopuleran, kalau berbuat kebaikan ingin dilihat dan dipuji orang (sum’ah). Sasarannya ialah agar mendapat kehormatan di mata manusia. Sungguh mereka dalam kategori ini terma­suk kelompok yang merugi, karena Allah menolak segala amal yang tidak didasari niat tulus lillahi ta’ala.

Ketiga, bahaya takabur. Karena merasa diri memiliki berbagai kelebihan ia lalu menjadi congkak dan pongah. Ilmu, harta, rupa, pangkat, kedudukan, juriat, membuatnya meremehkan orang lain. Padahal Allah telah mengingatkan tidak akan masuk surga seseorang yang terdapat sifat takabur dalam hatinya, walau cuma sebesar dzarrah (atom).

Sebagai contoh, iblis yang tadinya terkenal ahli ibadah tapi karena kesombongan dia menolak sujud di depan Adam — lantaran ia merasa terbuat dari api sedangkan Adam cuma dari tanah — maka diusirlah iblis dari sorga oleh Allah.

Keempat, bahaya ujub dan gemar bermegah‑megah. Orang yang suka membangga‑banggakan diri, biasanya lupa bahwa keistemewaan yang menghantarnya pada kepopuleran itu bersum­ber dari Allah. Juga sering menampikkan kebenaran yang disam­paikan orang lain, karena merasa lebih adigang, adigung, adiguna. Padahal, satu‑satunya ukuran kemuliaan manusia di sisi Allah ditentukan oleh tingkat ketakwaan.

Demikian pula halnya dengan kebiasaan untuk bermegah‑megah, sering membuat manusia lalai dari mengingat Allah. karena sebagian besar energi dialokasikan untuk mengum­pulkan harta benda serta kebanggaan semu.

Kelima, bahaya hasad (dengki). Karena dipicu perlombaan untuk mendapatkan gelar yang paling populer, kompetisi tersebut akhirnya tak lagi berlangsung dengan fair. Yang satu tidak akan senang kalau melihat saingannya lebih un­ggul, sehingga memupuk sifat dengki/hasad di antara mereka. Bahkan ada yang menggunakan trik‑trik tercela untuk menja­tuhkan saingannya.

Keenam, bahaya memperioritas sesuatu atau seseor­ang yang bukan utama. Tak jarang karena ingin membonceng popularitas, orang lebih senang bergaul dengan tokoh terken­al meski bekepribadian fasik ketimbang orang saleh yang kurang menonjol di masyarakat.

Lihatlah remaja muslim kita, mereka lebih mengandrungi penyanyi, bintang film, atlet, penari, daripada ulama‑ulama. Bagi orang‑orang yang bertakwa, popularitas justru dianggap sesuatu yang bisa melengahkan mereka dari ajaran Allah dan tuntunan Rasulullah. Karena itu, mereka lebih suka memilih untuk memelihara sikap tawadhu. aliansyah jumbawuya

***

(Bagi yang ingin bukunya diresensi, silakan kontak no HP penulis: 085249344519. Terimakasih.)


Posted in Resensi Buku

Cahaya Di Ujung Labirin 2

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Ustadz Dayat tidak ingin membiarkan Gito penasaran, bahkan tak mustahil akan berakibat jiwanya tambah labil. Karena itu, begitu jamaah lain berangsur bubar, Ustadz segera mengajak anak muda itu mengambil posisi di pojok musholla. Gito tampak sudah tak sabar ingin menden­garkan kelanjutannya.

Ustadz pun segera memulai ceritanya:

Setelah memasukkan pedangnya yang berlumur darah ke dalam sarung, si Begal itu meneruskan perjalanan. Hingga di suatu tempat ia bersua dengan seorang ulama. Tanpa banyak basa‑basi ia langsung mengutarakan niatnya, “Aku sudah membunuh seratus orang. Kini aku ingin membilas segala dosa yang melumuriku. Kira‑kira apakah pintu tobat masih terbuka untukku?”

Si ulama sempat kaget mendengar penuturan itu. Namun, kemudian dengan tenang dan bijak ia menjawab, “Gerbang ampunan Allah selalu terkuak lebar bagi hamba‑hamba‑Nya yang ingin kembali ke jalan yang benar. Asalkan niat itu didasari kesungguhan.”

“Tapi dosaku sehamparan bumi!”

“Ampunan Tuhan lebih luas lagi, melingkupi seluruh semesta,” jawab si ulama mantap.

“Bagaimana jika dosaku setinggi tujuh petala langit?” lanjut si Begal.

“Ampunan Allah lebih tinggi lagi, hingga mencapai Arasy!”

Memperoleh jawaban yang melegakan itu, wajah si Begal seketika berseri. Karena selama berkubang maksiat ia merasa­kan betapa tersiksa batinnya. Kini, di depannya ada orang yang bersedia jadi tongkat penuntun. Lalu, ia pun bersim­puh, sesunggukan mengumbar tangis.

“Sudahlah! Yang lalu biarlah berlalu. Sekarang yang terpenting ialah bagaimana kamu mengisi hari‑hari berikut dengan kebajikan sebagai bukti penebusan atas segala perbua­tanmu di masa lampau,” ucap si Ulama sambil mengangkat bahu si Begal.

“Ya! Apa yang mesti kulakukan?!”

“Jauhilah perkampungan yang dapat menyeretmu kembali ke jalan maksiat. Datangilah tempat di mana orang‑orang saleh berhimpun. Jika setiba di sana, ikutilah apa yang mereka perbuat.”

Usai mendapat petunjuk tersebut, Si Begal langsung berangkat menuju daerah yang dimaksud. Tapi di tengah perja­lanan, si Begal keburu menemui ajalnya. Malaikat penjaga neraka bergegas untuk menjemput, karena sepanjang hidupnya si Begal itu tak sekalipun pernah berbuat kebaji­kan.

Namun sebelum tubuh itu sempat dibopong, malaikat surga sigap mengajukan protes. “Tunggu dulu! Walau riwayat silamn­ya dipenuhi lembaran hitam, tapi perjalanan dia kali ini untuk memulai tekad dia untuk membersihkan diri. Karena itu, perkenankan aku mengantarnya ke telaga bening di taman firdaus,” bela malaikat surga.

Akibatnya, terjadilah adu argumen antara malaikat neraka dan malaikat surga. Masing‑masing merasa berhak atas jasad si Begal. Perdebatan itu berlangsung alot. Karena tidak tercapai titik temu, maka oleh Allah diutus seorang malaikat penengah.

“Begini saja. Bagaimana kalau kita ukur, mana jarak yang terdekat antara perkampungan maksiat yang ditinggalkan atau kampung para aulia yang dituju? Dari situ baru bisa ditentukan, apa ia nanti akan dibawa ke surga atau ke neraka jahanam!”

Sesuai kesepakatan, maka diukurlah jejak kaki yang telah ditempuh si Begal. Ternyata, jarak ke daerah para saleh lebih dekat sejengkal dari tempat maksiat yang diting­galkan. Akhirnya, roh si Begal itu oleh Allah dimasukkan ke dalam surga.

Gito mangut‑mangut menyimak cerita itu.

“Kira‑kira mana besarnya dosa kamu dengan dosa si Begal itu? Karena itu tidak ada alasan untuk berputus asa dari rahmat‑Nya. Kecuali memang kamu tidak mau bertobat,” nasehat ustadz Dayat.

***

Diakui Gito, setiap merenungkan petuah ustadz Dayat itu ia seperti menemukan seberkas cahaya di tengah lorong yang pekat. Daripada larut dalam penyesalan panjang, lebih baik mendekatkan diri pada Allah.

Seperti kali ini, ia mengisi waktu luangnya dengan mengaji. Begitu sampai pada surah Al‑Baqarah ayat 222, kesejukan menyusup relung batinnya.

Sudah dua minggu ini Gito mendapat bimbingan dari ustadz Dayat. Gito merasa memperoleh karunia yang tak ter­hingga, bahwa di LP ini ia bertemu dengan ustadz Dayat.

Tapi ada satu hal yang membuatnya tak habis mengerti, kenapa orang yang sebaik dia, yang fasih dan hafal Alquran, sampai bisa mendekam jadi tahanan? Sebenarnya pertan­yaan ini sudah sering ingin Gito lontarkan, tetapi selalu tercekat di tenggorokan. Hingga suatu hari ia tak bisa lagi menahan diri.

“Ustadz, boleh nggak Gito nanya sesuatu?” celetuk Gito sesaat setelah mereka membersihkan selokan.

“Silakan!”

“Tapi, kali ini agak pribadi Ustadz…”

“Maksudmu kenapa saya bisa dijebloskan di sini?” tebak Ustadz Dayat dengan nada yakin.

Gito mengangguk agak ragu.

“Baiklah, supaya kamu tidak menduga‑duga ada baiknya Ustadz jelaskan!”

Lalu dari bibir tua itu mengalirlah sebuah pengakuan. Ternyata dia seorang pimpinan kelompok Islam yang militan dalam memerangi segala bentuk kemunkaran. Ustadz Dayat bersama anak buahnya tak segan‑segan menyatroni diskotek, kasino, dan lokasi‑lokasi maksiat lainnya. Mereka tak kenal kompromi, menghancurkan sarang‑sarang perjudian, pelacuran, maupun peredaran miras.

“Jelas‑jelas tempat haram kok dibiarkan. Lalu, di mana para aparat kita? Mereka bukannya tidak tahu, tapi seperti bersekongkol, karena ladang maksiat itu rata‑rata dikelola oleh pengusaha berkantong tebal. Maka, salahkah jika kemudian kelompok kami mengambil tindakan? Bukan anarki atau mau menyepelekan petugas yang berwenang! Andai hukum tidak mandul, kami juga tak akan turun tangan,” ungkap Ustadz Dayat penuh semangat.

Gito seperti melihat pribadi yang lain: keras dan tegas. Padahal biasanya, lelaki itu lembut padanya. Kini, mata ustadz tajam menyorot mengisyaratkan gelora yang mem­buncah.

“Memang, negara kita bukan menganut syariat Islam. Tapi kalau kemaksiatan di depan mata, masak kita bersikap masa bodoh. Jika bala diturunkan Allah lantaran penduduknya sudah bebal dengan segala jenis kemunkaran, maka bencana itu akan menimpa semua. Karena itu, harus ada yang berani memangkas kemerosotan moral!”

Dada ustadz Dayat turun‑naik. Mulutnya terus memuntah­kan kalimat‑kalimat perlawanan.

“Tapi, oleh pihak kepolisian saya dicap mau merongrong kewibawaan mereka. Tindakan saya dianggap bisa menganggu stabilitas negara. Lalu, saya pun dikenai pasal subversif. Lihatlah, betapa konyolnya hukum di negeri ini. Para korup­tor dan penjahat berkerah putih dibiarkan berkeliaran menik­mati hasil jarahannya. Sementara, orang yang mau ikut andil menegakkan sendi‑sendi agama, malah dikebiri. Tapi, saya tidak akan pernah surut berjuang, sebab niat saya semata lillahi ta’ala.”

Sekarang barulah Gito tahu, siapa sebetulnya ustadz Dayat. Pantas saja para napi lain begitu segan padanya.

***

Rasanya Gito selalu ingin berdekatan dengan Ustadz Dayat. Sebab ustadz itu banyak memberinya pencerahan batin. Sehingga wajar kalau ia kemudian menganggap layaknya orang­tua sendiri.

Tapi hari ini ia tak bisa menahan rasa sedih dan haru. Ustadz Dayat dipindahkan ke LP Cipinang, karena ia dianggap sebagai tahanan politik yang perlu pengawasan lebih ketat.

Saat menjelang perpisahan, Gito seperti tak ingin melepaskan rangkulan lelaki tua itu.

“Kalau kita sudah dipertautkan oleh iman, meski dipisahkan oleh jarak sejauh apapun tetap saja akan terjalin ikatan emosional. Ustadz janji akan selalu mengin­gat Nak Gito,” katanya mencoba membesarkan hati Gito.

“Saya tentu akan kesepian jauh dari Ustadz!”

“Percayalah, jika suara Allah telah bersemayam di lubuk hati, meski diisolasi di gua paling sunyi kau tak akan pernah kesepian. Ingat dan laksanakanlah selalu perintah‑ Nya. Hanya dengan begitu kamu bisa menemukan kebahagiaan hakiki!”

Ustadz Dayat kemudian menyerahkan sebuah kertas yang berisi alamat dan tanda tangannya.

“Kalau masa hukumanmu berakhir, siapa tahu alamat ini nanti akan berguna. Jika perlu bantuan jangan sungkan‑ sungkan untuk datang. Bilang saja dari saya, keluarga dan santri saya pasti akan menolong!”

Gito trenyuh. Ternyata di saat‑saat seperti ini, ustadz masih sempat memikirkan masa depannya.

Ketika Ustadz mulai melangkah dengan dikawal petugas menuju gerbang LP, Gito cepat mengejarnya.

“Ustadz tunggu! Boleh nggak Gito jadi anak angkat Ustadz?” teriaknya.

Ustadz berhenti sesaat. Lalu tersenyum. Kemudian men­gangguk mantap.

“Sampai jumpa Abuya…” ucap Gito getir tak kuasa membendung arus yang merembet dari kelopak matanya. bersambung

***

(Pernah dimuat di Serambi Ummah edisi 183/16-22 Mei 2003)


Posted in Cerpen

Dampak Sosial Wanita Bekerja

Judul : Wanita Karir dalam Timbangan Islam
Penulis : Dr. Muhammad Ali Albar
Penerjemah: Amir Hamzah Fachruddin
Penerbit : Pustaka Azzam
Tebal : xvi + 190 halaman

Seiring revolusi industri yang menuntut mobilisasi kerja, sejak itulah ruang aktivitas wanita melebar. Dari yang tadinya berkutat di seputar domestik kemudian merambah wilayah publik. Pembagian kerja antara suami sebagai pencari nafkah dengan istri sebagai pengelola rumah tangga pun mulai ditinggalkan. Khususnya bagi kalangan wanita Eropa, mereka menuntut supaya diberi tempat dan kesempatan yang sama dengan kaum pria untuk berkiprah di berbagai sektor kehidupan.

Tetapi, dalam realitas di lapangan diskriminasi upah dan perlakuan dari pemilik modal terhadap tenaga buruh wanita masih saja sering terjadi. Tak hanya itu, wanita acapkali diekploitasi untuk kepentingan promosi produk yang ditawarkan. Mereka dijadikan pajangan oleh makelar bisnis demi menarik minat para pembeli

.Selain itu, dengan berbaurnya wanita dan pria, terjadi peningkatan perselingkuhan maupun hubungan seks di luar nikah. Perzinaan merajalela. Institusi keluarga pun tak lagi dipandang sakral.

Pada sebagian wanita karir, karena sudah punya penghasilan ekonomi sendiri dan tidak begitu lagi tergantung dengan suaminya, lalu merasa berhak untuk tampil wah dan berfoya-foya di luar. Sementara, untuk urusan rumah tangga dan pengawasan anak-anak diserahkan kepada baby sitter. Hubungan keluarga pun tak lagi akrab. Hal ini tentu akan berpengaruh besar terhadap keharmonisan dan keutuhan rumah tangga. Sehingga, tak heran kalau setiap tahun, khususnya di kota-kota besar, terjadi peningkatan angka perceraian. Bahkan di negara-negara Barat, ada saja sebagian wanita karir di sana yang beranggapan bahwa lembaga perkawinan hanya akan mengungkung kebebasan mereka, sehingga kumpul kebo menjadi marak. Hubungan pria dan wanita ditandai sekadar kontak fisik, tidak ada ikatan batin. Keluarnya wanita dari rumah untuk bekerja, tak pelak telah menimbulkan berbagai perubahan dan implikasi sosial.
Ironisnya, fenomena ini tidak hanya berkembang di Eropah, tapi sudah mulai berjangkit di negara-negara Islam.
Fakta seputar pelecehan terhadap wanita bekerja inilah yang banyak disoroti oleh Dr. Muhammad Albar dalam bukunya bertajuk Wanita Karir Dalam Timbangan Islam (Kodrat, Kewanitaan, Emansipasi dan Pelecehan Seksual). Terutama dalam Bab VII, diangkat beberapa kasus tentang perlakuan jorok yang pernah dialami pekerja wanita di Barat, baik dalam bentuk perkataan maupun perbuatan.

“Pelecehan seksual dalam lapangan pekerjaan sangatlah luas sekali perkembangannya, sulit dipercaya dan dimengerti. Dari studi terhadap 2000 lembaga dan industri tampak jelas, bahwa daya tarik seksual (sex appeal) menjadi salah satu persyaratan mutlak yang terselubung untuk mendapatkan pekerjaan khususnya karyawati operator telepon, penerima tamu, sekretaris, dan tukang ketik. Sampai pada penerimaan pegawai Pemerintah Federal pun sudah menjadi ketetapan baku yang tidak diumumkan” (hal: 152).

Lalu, bagaimanakah Islam memandang tentang wanita yang bekerja diluar rumah?
Fondasi dasar seorang mukmin agar tidak terseret pada aktivitas amoral, tiada lain ialah keyakinan terhadap adanya Hari Pembalasan, juga takut kepada Allah SWT yang senantiasa mengawasi setiap gerak-gerik, baik yang tersembunyi maupun yang dilakukan secara terbuka.

Hukum Islam menyebutkan supaya seorang muslimah terhindar dari perbuatan keji hendaknya ia menundukkan pandangan, tidak mengeluarkan suara mendesah mendayu (bernada rayuan), serta menghindari bercampurnya dengan laki-laki. Wanita diperbolehkan keluar rumah untuk suatu kepentingan syar’i, itupun jangan sampai mempertontonkan perhiasan, mengenakan wewangian, dan tidak berlenggang-lenggok (dibuat-buat) saat berjalan atau berbicara. Sebab, hal itu dapat memancing reaksi yang tidak senonoh oleh kaum pria. Sebagaimana diisyaratkan Rasulullah dalam sebuah hadis bahwa tidak ada bencana yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada wanita.

Realitas membuktikan, bahwa korban pelecehan seksual itu pada umumnya adalah wanita yang berpakaian mini dan rada transparan. Jarang sekali seorang muslimah yang berbusana rapi dan tertutup aurat, menjadi sasaran pria usil dan iseng.

Bagi wanita sebaik-baiknya hijab setelah menutupi wajah dan tubuh adalah rumah. Kalau Islam mengharamkan bercampur-baurnya wanita dan pria, tujuannya tiada lain untuk menghindari fitnah.

“Tinggalnya wanita di dalam rumah diistilahkan Allah dengan sebutan qoror (tetap/stabil), ini sebutan yang mengandung makna sangat tinggi, karena mengandung arti ketentraman bagi jiwa, ketenangan bagi hati, dan kelapangan bagi dada serta menghindarkannya dari akibat-akibat yang tidak terpuji” (hal: 190).

Sebab, wanita yang berada di rumah lebih terjamin terpelihara kemurnian jiwanya ketimbang mereka yang banyak melakukan aktivitas di luar yang sarat dengan berbagai godaan. Wanita boleh-boleh saja berkiprah di ruang publik, Sepanjang ia tetap mampu memelihara kehormatan dan nama baik keluarganya.

Satu hal perlu dicatat, bahwa sebenarnya menjadi ibu rumah tangga pun tak kalah pentingnya daripada menjadi wanita karir. Karena melayani suami, mendidik anak secara konsens, bukanlah perkara mudah, perlu ditopang dengan keikhlasan. aliansyah jumbawuya

***
(Ingin bukunya diresensi? Silakan kontak no HP penulis: 085249344519. Terimakasih)


Posted in Resensi Buku

Kiat Membentuk Pribadi Muslim Handal

Judul : Muslim Ideal Masa Kini

Penulis : Musthafa Muhammad Tahlan

Penerbit : Cendekia Sentra Muslim

Terbitan : Juni, 2000

Tebal : 280 hlm

Mampukah peradaban Islam menjadi mercusuar dunia? Jawaban atas pertanyaan ini sangat tergantung pada kualitas masyarakat muslim, terutama generasi mudanya. Baik dalam tataran dimensi keyakinan, pemikiran, maupun metodelogi dakwah.

Di tengah pergaulan global ini, seorang muslim harus fleksibel dan berwawasan luas. Untuk menunjukkan jati diri sebagai pembawa rahmatan lil alamin, kita mesti cepat tanggap dan pandai membaca kondisi sosial, ekonomi, politik, budaya yang tengah berkembang di lingkungan regional maupun internasional. Dengan demikian, kita punya konsep dan strategi bagaimana cara untuk mengembangkan syiar Islam. Artinya, sejak awal kita memposisikan diri sebagai subjek yang berjuang untuk ikut memberi warna tersendiri bagi peradaban dunia.

Hal yang paling fundamental ialah menanamkan niat ikhlas dalam beramal. Karena hasil akhir dari suatu perbuatan sangat terkait erat dengan niat yang mendasarinya. Jika perjuangan dilandasi niat untuk menggapai ridha Allah, niscaya kemuliaan pula yang akan diperoleh. Tetapi manakala terbersit niat lain, misalkan terkontaminasi sifat riya, maka amaliah dia tidak dihitung sebagai ibadah. Padahal sebagus-bagus ganjaran adalah pahala di sisi Allah SWT.

Jika niat seseorang semata lillahi ta’ala, niscaya tak ada sesuatu pun yang akan mampu memalingkan dari perjuangan untuk menegakkan pilar-pilar Islam di muka bumi. Kesungguhan niat inilah yang harus dibenahi, agar hasilnya juga bisa optimal.

Untuk menjadi muslim ideal, amat penting menjaga kesucian hati. Antara lain dengan menjauhkan diri dari hal-hal yang bersifat syubhat, apalagi yang nyata-nyata dilarang oleh Allah.

Umat Islam baru bisa jadi pionir kalau para pemeluknya punya cita-cita tinggi yang direalisasikan dalam bentuk tindakan. Sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW, beliau begitu gigih berjuang mereformasi masyarakat. Sampai-sampai ketika Rasulullah diminta untuk berhenti menyebarkan syiar Islam oleh kaum Quraisy, dengan lantang beliau menjawab: “Demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan dakwah ini, tak akan aku tinggalkan hingga Allah memenangkan agama ini atau aku binasa tanpa agama.”

Satu lagi, yang ditekankan Musthafa Muhammad Tahhan dalam bukunya ini, bahwa untuk mencapai tingkatan muslim handal sikap optimisme tak boleh lekang saat menghadapi berbagai rintangan. Karena Allah tak akan menguji seorang hamba, di luar batas kemampuannya (Al-Baqarah: 286).

Didasari pengharapan akan tiba masa gemilang setelah melewati beragam kesulitan hidup, seorang muslim niscaya tidak mudah putus asa. Bahkan semakin termotivasi untuk mengembangkan segala potensi yang dimilikinya bagi kemajuan umat Islam.

“Fitrah manusia yang sejalan dengan Islam dalam meraih kemenangan dan kemudahan adalah insan yang optimis. Begitu pula tingkah laku yang selalu mengikuti ajaran dan akhlak Rasul sebagai pribadi yang tangguh, yakin dengan dirinya dan orang lain, selalu mengerjakan perbuatan dengan kesabaran, keuletan dan penuh percaya diri dalam mewujudkan cita-cita, tidak goyah diterjang badai kesulitan dan tidak goncang dihalau kesulitan” (hal:65).

Di samping itu, muslim ideal juga mensyaratkan intelektual dan adab. Karena untuk bisa mengajak orang lain kepada kebaikan, seyogianya ditopang dengan ilmu dan keteladanan. Tanpa ini, umat Islam tidak akan bisa mengambil peran sentral dalam kancah tata pergaulan global yang semakin kompleks ini.

Untuk itu, seorang muslim sepatutnya membekali diri dengan pendidikan berbasis islami, sehingga terminal akhir dari usaha menuntut ilmu ialah terbentuknya pribadi yang saleh.

Di tengah kepungan budaya sekularisme, seorang muslim tetap harus mampu menampilkan identitas dirinya, bukan justru jadi obyek yang gampang diarahkan ke mana saja. Di sinilah pentingnya komitmen untuk selalu bertingkah-laku sesuai dengan norma-norma atau etika yang telah digariskan dalam ajaran Islam. Sebagaimana diisyaratkan Rasulullah, “Bukan golongan kami orang yang mengikuti selain kami”. Sebab, dalam Alquranul karim secara gamblang telah dinyatakan memuat aturan yang sempurna, jadi untuk apa lagi mengadopsi gaya hidup di luar Islam.

Sekarang, tinggal bagaimana kita mengolah diri, agar menjadi muslim kaffah, yang mampu memberi nilai manfaat bagi sesama dan lingkungan. aliansyah jumbawuya

***

(Bagi yang ingin bukunya diresensi, silakan kirimkan ke Banjarmasin Post, Jl AS Musyaffa 16 Banjamasin, atau kontak no HP penulis: 085249344519. Terimakasih.)



Posted in Resensi Buku