Oleh: Aliansyah Jumbawuya
Aku ziarahi rumah kardus dengan isak tertahan
Mengusung bekas sayatan peradaban kosmopolitan
Atas nama tatanan & keindahan yang tercemar
Seenaknya kalian lepas buldozer yang gusar
Hingga dalam hitungan sekelebat bayangan
Perlindungan terakhir pun tinggal kenangan
Hiba dan airmata tak berarti apa-apa
Karena pamongpraja telah terbiasa tutup mata
Dengan retorika terlatih
Mereka berlagak seakan masih menyimpan simpati
“Maaf, kami cuma menjalankan titah paduka
Bahkan terpaksa mengabaikan nurani.”
Bila negosiasi kemanusiaan sudah tak mungkin lagi
Lantaran ego tuan mendominasi peluang kompromi
Kami, kaum dhuafa cuma bisa merangkai doa
Menembus petala langit bercadar mega:
“Ya Allah, batin ini telah kuyup oleh ketidakadilan
Akankan kami tenggelam ditelan angkara mereka
Ataukah musti merancang sebuah perlawanan?
Agar kepasrahan tidak disalah-artikan
Sebagai kelemahan.
Engkau pun telah menjanjikan
Selalu berpihak kepada orang-orang teraniaya
Lalu, kapan kau timpakan karma?
Agar mereka tak senantiasa mengumbar tawa
Di antara nestapa saudara-saudaranya.”
***
Bjm, Januari 2002
Oleh: Aliansyah Jumbawuya
Lama, aku terpaku
Bagai arca
Mengkhidmati lembar-lembar kalender tua
Yang terkelupas satu-satu
Gemetar kusibak biografi diri
Betapa kerontang, kuning dan berdebu
Digantang waktu yang berpacu
Tanpa terasa butir airmata merembes di pipi
Menghitung merjan-merjan dosa
Pada hamparan catatan kelabu
Serasa masa lalu bagai benalu
Separuh usia digerumus lagak-laku sia-sia
Lama, aku termangu
Bagai batu
Bersekutu dengan kebisuan
Menghitung sisa perjalanan.
***
Amuntai, Februari 2002
Oleh: Aliansyah Jumbawuya
Bila mendung terus bergayut
Biar kusobek langit dengan kacip leluhur
Agar hujan tumpah‑ruah
Membasuh batinmu yang berlumut
Kau dengarkah keluh kami yang menggemuruh
Mewartakan derita berabad‑abad
Sementara kalian dari dulu melulu berdebat
Mempersoalkan sesuatu yang picisan
Apa artinya kemerdekaan diproklamirkan?
Kalau nasib kami tetap tergadaikan
Di tangan para tengkulak kemanusiaan
Koor panjang orang‑orang lapar
Luput dari agenda pembangunan
Apa artinya bangku pendidikan?
Kalau kepintaran yang kalian bangga‑banggakan
Cuma untuk membonsai kesempatan saudaranya
Karena P4 gagal memupuk semangat kebersamaan
Apa artinya bumi gemah ripah loh jenawi?
Kalau ribuan TKI terkatung‑katung di negeri jiran
Dan jutaan penganggur erat menggenggam kupon undian
Bermimpi keajaiban akan datang mendekap
Sebab, cuma itu asa yang tersisa buat mereka
Distribusi kemakmuran menjadi tema menggiurkan
Digembar‑gemborkan sesaat menjelang pemilu
Setelah itu, semua kabur ….
Masing‑masing asyik merancang siasat
Bagaimana cara mempertahankan kekuasaannya
Apa artinya puisi ini?
Kutulis di malam sepi
(Hanya denging cacing & cercit cecak menemani)
Kalau akhirnya tak jua mampu menyentuh nurani
Karena mereka yang kusapa
Mabuk membangun istana pribadi!
***
Banjarmasin, Agustus 2002
Oleh: Aliansyah Jumbawuya
Hujan turun cukup deras. Di luar anak‑anak gaduh bermain sepakbola. Teriakan dan tawa mereka beradu dengan bunyi gemercik air. Lapangan di depan panti asuhan Nur Rahman itu berubah jadi becek.

Di balik kaca asrama, Haji Hapip berdiri tegak. Terpekur, memandangi ulah anak‑anak asuhnya. Sejurus kemudian senyumnya mengambang, saat menyaksikan salah seorang anak berbuat curang, me-sleeding lawannya yang tengah menggiring bola.
Perlahan, ingatan Haji Hapip melayang ke sembilan tahun silam. Seorang bocah berambut cepak, tampak mendominasi permainan. Namanya Zulkifli. Hampir dalam setiap permainan ia selalu berperan menyarangkan bola ke gawang lawan. Selain punya nafas panjang, ia juga sering nekad. Tak jarang lawan‑lawan bermainnya dibuat tersungkur.
Bandelnya minta ampun. Sampai‑sampai Haji Hapip kewalahan menghadapinya. Meski berbagai hukuman dijatuhkan, bocah itu seperti tak pernah kapok. Selalu mengulangi kenakalannya.
Kalau mandi di sungai Zul bisa menghabiskan waktu berjam‑jam. Inilah kebiasaan Zul. Ia suka memanjat pohon jambu di pinggir sungai, setelah bertengger di batang tertinggi ia segera terjun bebas dibarengi salto di udara. Byuuur! Tak jarang ibu‑ibu yang sedang MCK (mandi, cuci, kakus) dibuat terkaget‑kaget seraya mengelus dada. Tapi, Zul malah senyum‑senyum sambil mengaruk‑garuk kepalanya yang tak gatal.
Begitu pula kalau ada kapal klotok yang lewat, ia cepat berenang mengejar. Lalu, bergelayutan di pinggir badan kapal. Dan kalau kebetulan kapal itu mengangkut nenas atau pisang talas, Zul tak segan‑segan meminta. Walau diusir atau ditakut‑takuti dengan penyodok bambu, ia tak peduli. Kecuali pemilik kapal itu mau memberi apa yang diinginkan Zul, barulah ia bersedia menjauh dari kapal itu.
Suatu kali jidat Zul terkena kipas mesin klotok. Zul terpekik, cepat memegangi kepalanya. Namun, darah itu terus mengalir. Sampai‑sampai air di sekeliling berubah merah.
Sepulang dari rumah sakit, Haji Hapip bukannya memperlakukan Zul dengan manis, malah merecoki Zul dengan serentet ocehan.
Braakk! Bola itu nyasar menghantam dinding asrama. Haji Hapip terkejut. Seketika lamunannya tentang Zul jadi buyar.
Haji Hapip membenarkan syal dilehernya. Lalu beranjak duduk di kursi. Di atas meja surat itu masih tergeletak. Dari Zul!
Sudah lebih setahun ini, anak itu hampir setiap bulan mengirimi uang. Katanya, untuk keperluan adik‑adik di Panti Asuhan. Hanya Zul, ya hanya Zul yang masih ingat dengan Panti yang telah membesarkannya.
“Setelah ulun pikir‑pikir, ulun tak ingin melanjutkan ke Aliyah. Cukup sampai Tsanawiyah saja,” kata Zul suatu hari.
“Kenapa? Toh dana panti masih cukup untuk membiayaimu. Sudah jadi kewajiban Panti untuk menyekolahkan seluruh anak di sini sampai Aliyah atau SMU. Jangan mau kalah dengan yang lain. Kalau kamu berhenti, lalu mau jadi apa nanti?” cegah Haji Hapip.
“Ulun merasa sudah terlalu banyak berhutang budi. Ulun ingin bekerja, Abah Haji.”
“Sarjana aja banyak yang nganggur. Lalu apa yang bisa kamu andalkan?”
“Seperti kata Abah Haji, setiap orang punya jalan dan rejeki masing‑masing. Lalu, apa salahnya ulun mencoba mengadu nasib,” ujar Zulkifli memberi alasan.
Berhari‑hari Haji Hapip mencoba membujuk, tetapi Zul tetap bersikukuh dengan keputusannya. Dan Haji Hapip tahu pasti, kalau anak itu sudah menginginkan sesuatu, maka tak seorang pun yang bisa mencegah. Karena itu, mau tak mau akhirnya ia merestui juga Zul merantau ke Bontang.
Tapi, kenapa surat ini beralamatkan jalan Pondok Gede, Jakarta? Sejauh itukah Zul mengembara? Beragam tanya tentang Zul mengusik benak Haji Hapip.
***
Belakangan, Haji Hapip sering gelisah. Tidak seperti biasanya, kali ini ia ragu untuk menggunakan uang pemberian Zul. Ia menimang‑nimang surat dan uang kiriman itu. Darimana Zul mendapatkan uang sebanyak ini? Jangan‑jangan …. Apalagi Zul waktu kecil terkenal sangat bandel! Dan, setiap ia menanyakan perihal pekerjaan Zul lewat surat, anak itu terkesan mengelak, tak mau menjelaskan.
Berbagai pemberitaan di tv dan koran‑koran telah mempengaruhi jalan pikiran Haji Hapip.
Amrozi, Imam Samudera, adalah dua pemuda yang lama menghilang dari keluarga, begitu muncul tiba‑tiba dituduh sebagai teroris pelaku pemboman di Legian, Bali. Jangan‑ jangan anak asuhnya, Zulkifli, juga seperti mereka, karena salah bergaul akhirnya jadi bringas. Atau mau saja menerima order menghancurkan tempat‑tempat tertentu, demi iming‑iming setumpuk uang.
Astaghfirullahal adzim… kenapa aku sampai suudzon pada anak asuhku sendiri, tampik Haji Hapip. Kemudian cepat‑ cepat menyingkirkan bayangan buruk itu dari benaknya.
Daripada terus diayun kebimbangan, Haji Hapip memutuskan untuk mengunjungi Zulkifli. Apalagi ia telah mengantongi alamat anak asuhnya itu dengan lengkap. Apapun yang terjadi, setidaknya pertemuan nanti akan mengobati rasa rindu di antara mereka.
***
Inikah rumah Zul? Sejenak Haji Hapip tertegun di depan pagar. Rumah beton dengan pohon palem serta bambu Cina di halamannya.
Ia segera menekan bel. Tidak lama kemudian seorang wanita muda berjilbab membuka pintu.
“Maaf, apa betul ini rumah Zulkifli?”
“Ya, betul. Saya istrinya. Bapak siapa?” sambut wanita itu ramah.
“Saya Haji Hapip, Abah asuh dia waktu di Panti…”
“O,ya. Jadi ini toh Abah Hapip yang sering Bang Zul ceritakan selama ini,” kata wanita itu.
Sayang, Zul tidak ada di rumah. Kata istrinya, lagi kerja. Kerja apa, Khadizah sendiri tidak tahu. Selain mereka baru menikah, Zul juga tidak pernah menjelaskan pekerjaan dia.
“Sebagai istri, saya percaya sepenuhnya pada Bang Zul. Apalagi dia rajin shalat, dan mudah simpati melihat orang‑orang yang kekurangan,” ungkap Khadizah.
Haji Hapip manggut‑mangut. Tapi ia tetap tak bisa menghilangkan rasa penasarannya.
“Sebetulnya Bang Zul juga ada meninggalkan alamat ia bekerja. Saya baru dibolehkan ke sana, kecuali keadaan mendesak, itupun harus menelpon dia lebih dulu.”
“Bagaimana kalau kita ke sana. Abah Haji sudah tidak sabar lagi ingin ketemu dia. Zul pasti juga pengin benar ketemu Abah. Bagaimana?” bujuk Haji Hapip.
“Baiklah. Tapi saya telpon dulu Bang Zul.”
“Nggak usah. Soalnya Abah mau bikin kejutan buat dia.”
Mereka pun berangkat naik taksi.
***
Di lokasi orang‑orang tampak sibuk dengan segala peralatan kamera. Seperti sedang ada suting. Tapi tak mungkin suaminya jadi bintang film, bantah Khadizah dalam hati.
“Mas, boleh numpang tanya? Apa betul Bang Zulkifli kerja di sini?”
“Betul. Itu dia, ” tunjuk pria itu.
Seorang pengendera motor bersiap‑siap melompati gudang yang dikelilingi kobaran api. Tanpa sadar Khadizah berteriak memanggil nama Zul.
Sesaat pria bertudung helm itu menoleh ke arah istrinya. Dan di sampingnya, bukankah itu… bukankah itu Abah Haji! Konsentrasi Zul buyar. Sementara tangannya terus turun naik memainkan gas motor, diikuti suara keras knalpot.
“Satu.. dua.. tiga… action!” teriak sutradara.
Zul panik. Spontan menginjak gigi motor, dan melepas kopling.
Khadizah mendadak pucat‑pasi saat suaminya menerobos api. Mulutnya terganga. Demikian pula dengan Haji Hapip, diam terpana. Tak menyangka pekerjaan Zul adalah menantang maut.
Bruukk! Suara motor jatuh berdebam keras. Diiringi tubuh yang terpelanting deras, dibalut api.
“Cut! Cut! Cepat tolong! Ayo, tolong…” teriak pria bertopi pet itu.
Khadizah dan Haji Hapip langsung menghambur ke arah Zul. Sekujur tubuh lelaki itu terbakar. Sesaat ia merintih. Masih sempat meraih tangan Haji Hapip dan istrinya.
Sekilas Zul mencoba tersenyum. Kemudian, diam kaku.
***
Langit disaput awan berarak.
Khadizah, diiringi Haji Hapip baru saja sampai di rumah setelah mengikuti prosesi pemakaman Zul. Seorang pria berdasi mengucapkan turut belasungkawa. Kemudian mengeluarkan surat wasiat yang berisi pembagian harta warisan, sebagian untuk istrinya, dan sisanya untuk Panti Asuhan Nur Rahman.
Haji Hapip tak kuasa lagi membendung rasa haru. Airmatanya jatuh. Apalagi kalau ingat, bahwa ia sudah sempat mencurigai Zul yang bukan‑bukan.
***
Pernah dimuat di Serambi Ummah edisi 159, 22-28 Nopember 2002
Oleh: Eza Thabry Husano
Dukuh Waringin basah dan dingin menusuk hingga ke ujung kuku bagai jarum-jarum waktu, sehabis diguyur hujan. Damar dan Wilda duduk berduaan di sebuah bangku pelataran rumah dipayungi kegelapan malam.
Damar adalah seorang penyuluh di salah satu instansi pemerintah Kabupaten, sudah sering bertandang dan menginap disini karena oleh Pak Parman dan Bu Sugi orangtuanya Wilda sudah dianggap sebagai keluarga. Juga dengan lingkungan tetangga begitu kenal dan akrab, apalagi dengan Yu Mis dan isteri Pak Murabi yang sering diminta oleh Damar memijat jika ia lagi letih. Juga dengan Mbok Miyem dimana menyewa sawah kepadanya. Demekian pula dengan tetangga lainnya seperti Sutik, Jadi, Tamsir dan Juri.
Dukuh Waringin adalah sebuah desa, dulu merupakan daerah transmigran yang datang dari Jawa Timur, seperti Jember, Lumajang, Banyuwangi dan Situbondo, yang sebagian keturunan etnis Madura. Sebenarnya tujuan mereka merantau ke Kalimantan kepingin mengubur warisan kemiskinan nenek-moyangnya di Jawa, tapi disini mereka juga terjebak oleh kemiskinan yang sama dari tempat asalnya.
Begitulah Damar, jiwanya beradaptasi dengan dukuh Waringin, bukan lantaran keayuan paras Wilda yang sepintas mirip aktris penyanyi dan sinetron Nafa Urbach tapi sehari-hari tak pernah lepas memakai jilbab dan rajin mengaji. Namun lebih banyak terpanggil rasa iba kemiskinan Wilda dan kedua orangtuanya.
“Mas Dam, sejak tadi kok diam saja,” suara Wilda tiba-tiba mencairkan kesunyian malam.
“Abis dingin, aliran darah rasanya membeku,” sahut Damar sekenanya sambil menggerakkan lengan dan badannya seperti orang kedinginan.
“Oo ya, Mas. Lebih baik kita masuk, aku buatkan kopi,” ajak Wilda. Keduanya masuk. Damar langsung duduk bergabung dengan kedua orangtua Wilda yang masih nonton TV, walau jarum jam sudah menunjukkan angka pukul 10.15 Wita. Sedangkan Wilda setelah menutup pintu langsung menuju ke dapur.
“Nak Dam, kami sekeluarga merasa banyak berterima kasih, atas kebaikan membantu biaya sekolah nak Wilda, juga yang lainnya,” Bu Sugi lebih dulu membuka pembicaraan.
“Betul itu, nak Dam. Kami tak bisa membalas kebaikan ini, sejak akhir Tsanawiyah hingga lulus Madrasah Aliyah, nak Dam yang mengurusi semua biaya sekolah,” ujar pak Darman dengan perasaan bangga bercampur haru.
“Sudahlah Pak, Bu! Semua itu tak perlu diungkit-ungkit lagi. Itu tanggung-jawabku selaku seorang anak membahagiakan keluarga. Wilda sudah kuanggap sebagai adik sendiri. Alhamdulillah, dik Wilda rajin belajar dan bisa menyelesaikan sekolahnya dengan baik,” Damar meyakinkan.
Pembicaraan tiba-tiba terhenti dengan sendirinya, setelah Wilda menghidangkan kopi dan singkong goreng lengkap beserta sambal petisnya. Mereka berempat asyik menikmati sambil bercanda dan tertawa-tawa.
Ketukan pintu dari luar cukup mengagetkan, serta-merta menghentikan keasyikan senda-gurau mereka.
“Kulonuwuun…”
“Monggooo…” sahut pak Parman dari dalam sambil cepat bangkit membukakan pintu. Tampak di luar di balik keremangan malam sudah berdiri dua orang laki-laki berseragam hansip.
“Pak Parman, maaf ya mengganggu. Saya diminta Pak Kades menjemput Pak Damar supaya datang ke rumahnya” ujar hansip yang berbadan kurus agak tinggi.
“Pak Kades mintanya malam ini juga!” hansip yang bertubuh agak gemuk gempal turut menambahkan.
“O iya, sebentar,” sahut Pak Parman, selanjutnya berbicara pelan dengar Damar yang diikuti oleh Bu Sugi dan Wilda. Bahkan mereka menasehati Damar, jika terjadi apa-apa di rumah Kades, pokoknya jangan membantah, manut saja apa yang dimaui orang-orang.
Berikutnya, dengan dikawal dua orang hansip, Damar dan Pak Parman dalam pikiran masing-masing, terus berjalan menyusuri udara dingin dan kegelapan malam menuju rumah Kades di Jembatan Dua. Disana sudah menunggu beberapa aparat desa, seperti Pak Haji, Pak Sur dari bagian keamanan, Pak Rosidi dari bagian rohaniawan Islam, Pak Sarlan dari bagian lapangan, serta Pak Kades Lindung sendiri. Mereka ini semua berasal dari Jember keturunan etnis Madura, kecuali Pak Lindung yang asal Garut pensiunan polisi. Mereka masing-masing duduk di kursi membentuk setengah lingkaran kecil, sedangkan Pak Kades duduk sendiri dengan menghadap pintu keluar. Kemudian Damar dan Pak Parman dipersilakan duduk mengambil posisi membelakangi pintu masuk ruang tamu.
“Nak Damar, kamu itu sering sekali nginap di keluarga Pak Parman, mengapa?” suara Kades memecah suasana keheningan ruang tamu.
“O itu, saya yang memintanya, Pak Kades. Abis hujan kan, kendaraan tak bisa jalan, lengket lumpur,” Pak Parman menjelaskan.
“Cukup Parman!” potong Pak Kades. “Saya ini nanya nak Damar, kok kamu yang jawab,” tukasnya agak dongkol.
“Anu, Pak Kades. Saya ini kebetulan sekalian mengantar uang biaya membeli pupuk pada Mbok Miyem. Saya kan baru nyewa sama si Mbok,” Damar mencoba menjelaskan.
“Tapi, pokok masalahnya kan kamu nginap,” sergah Pak Kades. “Itu lho, semua tetangga pada tahu. Sebagai pegawai masak kamu tak ngerti aturan. Mau nginap kan harusnya lapor, gitu,” berhenti sambil menarik nafas. “Jika terjadi apa-apa, tuh Kades juga yang ikut bertanggung-jawab”.
“Saya memang salah, Pak Kades,” aku Damar. “Saya mohon maaf, lain kali tidak lagi.”
“Kamu jangan macam-macam, jangan pula buat onar disini,” Pak Haji bagian keamanan menimpali. “Dukuh ini tak bisa diobok-obok semaunya. Apalagi anak gadisnya, jangan coba-coba ngoyo, nanti tahu sendiri berurusan dengan bagian keamanan,” ia memperingatkan.
“Dengar itu. Jangan kamu berlagak budek. Jangan coba-coba berlagak jagoan, jual tampang segala,” ujar Pak Sur juga bagian keamanan. Damar cuma diam, mencoba menahan diri. Apalagi di rumah tadi sudah di wanti-wanti supaya tidak membantah.
Pada akhirnya setelah diberondong interogasi, peringatan, ancaman oleh Pak Rosidi dari bagian rohaniawan Islam, Damar tak diizinkan pulang ke rumah Wilda, tapi harus nginap di rumah Pak Kades.
***
Keesokan paginya, setelah cuma tinggal berduaan, Pak Kades menyatakan maaf kepada Damar, karena peristiwa tadi malam bukan kemauannya. Semua itu terjadi atas desakan aparat keamanan desa yang tidak senang dengan Damar, terutama Pak Sur yang menaksir Wilda, bunga desa dukuh Waringin itu.
Selain itu, Kades juga minta maaf karena belum bisa membayar hutang pada Damar, dan berjanji akan melunasi setelah musim panen. Memang baru seminggu lalu Kades meminjam uang Rp 5 juta untuk biaya tambahan rehab bangunan balai desa. Damar sendiri memang sudah menduga, jika kejadian itu bukan kemauan Pak Kades, tapi hasutan Pak Sur kepada aparat desa lainnya.
Dengan memacu laju sepeda motornya di pagi yang mulai cerah itu, Damar meninggalkan dukuh Waringin dengan perasaan iba yang dalam dan juga terasa pahit.
***
Peristiwa yang dialaminya di dukuh Waringin beberapa waktu berselang, dirasakan Damar mencoreng muka dan sangatlah aib. Lebih lagi informasi dirinya ditangkap hansip sudah pula menyentuh telinga orang-orang di Kabupaten. Untuk menjaga naik baik instansinya, juga dirinya, maka hatinya memutuskan walaupun berat, tidak ke dukuh Waringin lagi. Kemudian diputuskannya pula minta pindah kerja ke Kanwil, dan disetujui.
Beberapa tahun kemudian, Damar mendapat informasi saat berjumpa dengan Tamsir dari dukuh Waringin di Taman Budaya Kayutangi, jika Wilda memutuskan ikut TKW ke Saudi Arabia, setelah menunggu Damar yang sebenarnya ia cintai tak kunjung datang lagi. Kini Wilda sudah tiga tahun menetap di kota Riyadh sebagai pembantu rumah tangga.
Suatu hari yang gelisah dan sunyi, Damar membolak-balik lembaran catatan sajak-sajaknya. Ia menemukan sehelai sajaknya yang bergaya naratif dari imajinatif kemiskinan dukuh Waringin, sehingga menuai kembali ingatannya yang mulai berdebu.
Adakah Lumpur Jadi Batu
: Granit Cinta
hujan sore itu bagai letupan
mengunci diam seseorang betah disitu
mencium bau kesenyapan, rai dan lumpur
raut wajah dukuh riak-riak kolam
mempertaut dua ladang sunyi
biarkan aku nanap bersandar menanti pagi
ujar orang asing itu merancang mimpi
merajah namanya dari daki malam
di antara senyum dupa bayang-bayang
lindap lampu, hidangan rujak pecel
tembau parau suara janger banyuwangian
orang-orang dusun. Tanah kemiskinan
disihir penari-penari tayuban
beragam suara bunga malam meletupkan aromanya
dalam kubur mimpi meraup tanya purba
adakah lumpur jadi batu
: granit cinta
Oleh: Aliansyah Jumbawuya
Betapa anggun dan megah bangunan itu. Bentuknya yang unik menyerupai pesawat UFO menjadi daya magnetis tersendiri bagi masyarakat Kalsel. Dana untuk pembangunannya pun tak kepalang tanggung, menelan milyaran rupiah.
Dulu, saya yang memang dari sononya punya bakat pemimpi, sempat membayangkan bahwa di Banjarmasin bakal semarak oleh kegiatan yang sarat nuansa Islami. Dengan adanya fasilitas gedung Sultan Suriansyah pagelaran seni‑budaya Islami akan lebih bergairah.
Tetapi kenyataannya, justru sering diisi untuk acara perhelatan perkawinan akbar kalangan pejabat dan penguasa. Dan, pemandangan ini sudah lama berlangsung. Persis dua tahun lalu, naluri saya sempat terusik sehingga kemudian termotivasi untuk menggugat lewat karya fiksi.
Dalam cerpen tersebut, Gedung Bundar yang telah saya beri “roh” berkesempatan menumpahkan seluruh uneg‑unegnya: “Dulu, aku sempat bungah ketika mendengar bakal difungsikan untuk kepentingan orang banyak. Aku akan dijadikan ajang para calon intelektual berdebat dalam diskusi, sarasehan, sambil belajar bagaimana berdemokrasi.
Tapi ternyata aku hanya milik segelintir orang. Aku lebih banyak digunakan untuk tempat resepsi perkawinan orang‑orang berduit dan berpangkat. Bukankah Nabi Junjungan pernah memperingatkan bahwa seburuk‑buruknya pesta adalah tempat dimana orang‑orang kaya makan minum sambil bersendau gurau, sementara orang‑orang miskin cuma bisa menatap dari luar…”
Fakta yang menelingkupi seputar penyimpangan fungsi gedung bundar, hanyalah secuil narasi dari kenaifan sikap kita dalam merumuskan arti pembangunan. Kita begitu bersemangat mempersolek kota dengan gedung‑gedung megah, dan sesudahnya sering tidak tahu mau difungsikan untuk apa bangunan tersebut sebenarnya. Akibatnya, semua itu tak lebih dari sekadar etalase penyedap mata.
Kita terlalu mudah terpaku pada wujud zahir dan melupakan hakikat. Lihatlah, kita begitu antusias membangun masjid tapi malas menjadi jamaahnya. Setiap hari lantainya dibersihkan, tapi batin kita sendiri dibiarkan berdebu. Rumah kita penuh dengan pajangan kaligrafi indah, tapi lidah kita sepi dari dzikir.
Tata kota dibangun sedemikian rupa, supaya turis Mancanegara jatuh hati. Untuk itu, agar citra nusantara tetap terpelihara, maka pedagang asongan, penarik becak, apalagi gelandangan harus disingkirkan. Demi nama baik sesaat di mata turis, pejabat kita rela menanggalkan rasa kemanusiaan justru terhadap rakyatnya sendiri. Mengapa? Karena kita terlanjur percaya bahwa identitas itu terletak pada etalase, bukan di atas kepribadian!
Oleh: Aliansyah Jumbawuya
Bulu mata istri Polan berkerjap‑kerjap diserbu barisan iklan sepanjang jalan. Ia bayangkan dirinya bak Cinderella, bergelimang kemanjaan. Dan, si bungsu terlanjur mengidentifikasi dirinya bagai Richie Rich. Padahal saat terjaga, fakta yang terpampang ialah betapa kropos dompet suaminya lantaran terus digasak tuntutan hidup sehari‑hari.
Inikah sasaran yang ingin dicapai para kapitalis, menjamuri benak generasi kini dengan beribu impian? Hasil riset membuktikan, tidak kurang dari 400.000 kali dalam setahun memori kita dijejali dengan berbagai iklan. Bukti terdekat, baru‑baru ini Banjarmasin menyandang predikat kota seribu reklame.
Belum lagi, yang tampil dalam bentuk terselubung. Simaklah tayangan televisi yang doyan pamer kemewahan. Seorang anak SMU berangkat sekolah pakai mobil BMW, kemana‑mana menenteng handphone. Rumahnya pun tingkat dua, dilapisi porselin, lengkap dengan kolam renang plus perabotan serba luks. Deskripsi semacam inilah yang menjadi mainstream dalam kancah sinetron Indonesia. Kemudian seolah menghipnotes para pemirsa: betapa aneka kemewahan itu dengan mudah dapat direngkuh.
Sementara, film Langitku Rumahku yang di luar negeri mendapat penghargaan, di negerinya sendiri justru pernah tidak diperkenankan menjadi bahan konsumsi, lantaran ceritanya yang mengekspos tentang kemiskinan dianggap bisa mencoreng citra Indonesia. Akibatnya, sutradara kita lebih memilih cara aman, yakni menjual mimpi glamor ketimbang memotret wajah cacar rakyat jelata.
Jadilah cerita‑cerita model Jin dan Jun, Jenny Oh Jenny, Tuyul dan Mbak Yul, Aladin, Bidadari, yang meluluh‑lantakan logika begitu akrab dengan keseharian kita. Seakan dengan ayunan tongkat ajaib segala impian bisa terwujud. Implikasinya, dapat melemahkan etos kerja!
Kasus lain, di tengah keterpurukan ekonomi bangsa, Yamisa datang menawarkan iming‑iming: setiap bulan per jiwa akan mendapat Rp 400 ribu. Tentu saja heboh. Sampai hari ini rakyat terus berharap. Apakah janji muluk ini akan terwujud atau cuma harapan tanpa ujung?
Padahal sudah merupakan sunatullah, bahwa untuk mendapatkan sesuatu itu perlu proses dan ikhtiar, tak ada yang namanya “keajaiban dari langit”. Berkah Tuhan biasanya berbungkus kesulitan. Siapa yang gigih mengupas kulit itu, dialah yang berhak menikmati karunia berlebih dari Allah.
Demikian, Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu sendiri berusaha merubahnya. Takdir adalah titik terakhir dari perjuangan maksimal. Bukan bertopang dagu atau membelenggu leher sambil mengumbar angan.
Rasulullah Saw bersabda, “Sesuatu yang paling mengkhawatirkan atas kamu adalah dua hal, yakni angan‑angan yang muluk dan mengikuti hawa nafsu.” Karena keduanya akan membuat orang lupa pada kehidupan akhirat dan menghalanginya dari suara kebenaran.
Dalam hadis lain disebutkan pula bahwa kesalehan generasi awal umat Islam berkat menjaga jarak dari hal‑hal keduniawian. Sedangkan kebinasaan generasi akhir umat ini akibat kebatilan dan muluknya angan‑angan.
Mimpi muluk bukan hanya membuat orang lalai terhadap realitas di depan mata, kadang dibarengi pula dengan tindakan‑tindakan konyol. Seperti yang diungkapkan pribahasa lama: karena terkecoh bunyi halilintar di langit, air di tempayan ditumpahkan. Berapa banyak orang yang tertipu lantaran tergiur janji‑janji fantastis. Misalnya, berharap kaya dengan membeli kupon putih sehingga malas bekerja.
Tak ada yang gratis dalam hidup ini, semua mesti ditebus dengan cucuran keringat. Simsabim adradabra, lalu permintaan seketika menjelma, hanya terdapat dalam negeri dongeng. Dan Islam sangat mencela mereka yang berpanjang angan. Mengimpikan sesuatu memang sah-sah saja, bahkan dalam teori psikologi terapan merupakan titik tolak bagi sebuah kemajuan. Dengan catatan, asalkan ada tindak-lanjut berupa langkah-langkah konkrit.
Karena itu, mari bangkit dari lena, susun rencana, ayun langkah dalam karsa dan karya. Sekali berarti, sudah itu terus berprestasi. Biarkan sejarah mencatat nama kita. Diperhitungkan atau tidak, tugas kita adalah mencoba mengekspresikan dan mengaktualisasikan potensi yang kita miliki. Tentu, dengan niat lillahi ta’ala.
Oleh: Aliansyah Jumbawuya
Warung lesehan dekat tribun olahraga itu selalu ramai dipadati pengunjung. Selain menu yang lezat, juga karena para pelayannya yang cantik‑cantik dan seksi.
Harris baru saja menghabiskan satu porsi ayam goreng, nasi, dan lalapan. Sambil menyerompot juice lemon, ia mengedipkan matanya kepada pelayan yang berbaju hijau. Maksudnya, apalagi kalau bukan menggoda. Setiap ada kesempatan, sifat usil Harris selalu muncul.
“Hei Bagus, ke mana saja lo?!” cecar seorang wanita berambut sebahu tiba‑tiba menyentakkan Harris. Hampir saja sedotan di mulutnya terlepas. Harris cepat meletakkan gelas di meja.
“Sudah empat bulan ini lo gue cari‑cari, tapi tak pernah ketemu. Sengaja menghindar, ya?” sergah wanita itu.
“Maksudnya?” timpal Harris dengan tampang heran.
“Jangan berlagak bego! Apa lo tidak lihat perut gue ini kian membesar? Pokoknya, gue kagak mau gugurin, seperti saran elo. Bagaimana pun janin dalam kandungan ini adalah anak kita. Buah cinta kita. Jadi, elo musti bertanggung‑jawab!”
“Tunggu, tunggu dulu. Beri kesempatan gue bicara dong,” tukas Harris gelagapan, berusaha menenangkan wanita itu.
Tapi wanita itu terlanjur emosi, ia cepat menepis tangan Harris yang menempel di bahunya. Mulutnya terus nyerocos. “Apa elo masih mau mungkir heh…”
Puluhan pasang mata tertuju pada mereka. Sebagian pengunjung di warung itu mencemooh Harris, karena yakin pemuda itu telah menghamili pacarnya, dan mau mengelak dari tanggung jawab.
Mendengar ribut‑ribut, Babah Wong, pemilik warung itu, cepat keluar dari ruang kasir. Lalu segera menghampiri pasangan yang tengah bertengkar tersebut.
“Sebaiknya, kalian selesaikan masalah ini di lual. Lihat, pengunjung di sini mulai telusik dengan ulah kalian. Babah tidak ingin teljadi libut‑libut. Ayo, tolong tinggalkan tempat ini, please…” ujar Babah Wong setengah menyeret Harris dan wanita itu keluar.
Pasangan itu pun segera berlalu. Setelah agak menjauh, mereka mendadak ketawa ngakak.
“Ha‑ha‑haa… Hebat, hebat juga akting lo, Sar. Tadi, gue sempat lihat bagaimana pengunjung di warung itu pada melongo, persis seperti monyet blo’on. Mereka begitu sinis memandang gue…” sela Harris, masih terpingkal‑pingkal.
“Lo juga hebat. Berlagak pucat‑pasi. Sangat meyakinkan sekali jadi pecundang, seolah betul‑betul telah membuntingi anak orang,” tukas Maisarah sambil melepaskan bantalan yang mengganjal perutnya.
Mereka menerobos taman kota. Maisarah segera menyandarkan tubuhnya di batang pohon beringin. Sementara Harris rebahan di atas hamparan rerumputan, membenahi nafasnya yang ngos‑ngosan.
“Elo sih enak, sudah makan di tempat Babah Wong, gratis lagi. Sementara gue, nggak dapat apa-apa,” celetuk Maisarah, memecahkan keheningan.
“Jadi, apa mau lo sekarang? Biar kita impas.”
Maisarah mikir sejenak.
Tiba‑tiba idenya muncul.
“Bagaimana kalau elo curi mangga itu buat gue?” tunjuk Maisarah ke pekarangan rumah yang ada pohon mangganya.
“Siang bolong, begini?”
“Ya, iya dong! Kalo malam‑malam, apa bedanya lo dengan maling kelas teri. Berani kagak terima tantangan gue?”
“Oke. Tapi lo bantu gue ngawasi kalo ada orang lewat.”
“Beres, friend!”
***
Itu lima tahun lalu. Ketika mereka masih sama‑sama di SMU Bina Bakti, dan aktif di sanggar teater.
Sejak ayah Harris pindah dinas militer ke Jombang, otomatis mereka tak pernah bertemu lagi. Mulanya, baik Harris maupun Maisarah masih sering bersurat‑suratan, tapi belakangan entah kenapa keduanya kian jarang bertukar kabar.
Atas desakan ayahnya, Harris nyantri di Ponpes Gontor. Enam bulan pertama, ia sering berontak. Hampir setiap pekan Harris kena hukum, kadang kepalanya digundul, karena kepergok malam‑malam keluar dari lingkungan asrama dengan cara memanjat tembok.
Suatu malam, saat Harris sedang asyik main karambol di samping gedung bioskop lama, tiba‑tiba seseorang yang tidak dikenal menyarangkan belati ke perutnya. Harris tak sempat mengelak. Ia terpekik. Darah muncrat. Sesaat Harris sempoyongan. Untuk kemudian tak sadarkan diri.
Ketika siuman, ia sudah berada di klinik pesantren. Di kelilingi beberapa santri senior. Harris diberitahu, kalau dia korban salah sasaran. Pelaku penusukan itu ‑‑ yang sudah ditahan polisi ‑‑ keliru mengenali wajah seseorang, mengira Harris adalah musuhnya.
“Alhamdulillah, kamu masih selamat. Ambil hikmahnya saja. Barangkali dengan kejadian ini Allah bermaksud menegurmu,” ujar Zakaria, santri senior yang telaten merawat lukanya.
Dan, semenjak peristiwa itu Harris berubah jadi pendiam.
***
Seminggu sudah Harris menikmati masa liburnya di Bogor, menuntaskan rasa kangen pada Opa dan Omanya. Di kota inilah dulu ia banyak menghabiskan waktunya bersama Maisarah.
Ya, Maisarah! Yang kini lebih populer dengan nama Mai Puspita. Gadis itu telah melejit jadi bintang terkenal yang banyak dipuja-puja penggemarnya. Artis sinetron, bintang iklan, sekaligus penyanyi papan atas. Bahkan untuk menemuinya saja sekarang, perlu prosedur. Rumahnya yang mentereng, dengan pagar jeruji tinggi, selalu dijaga ketat satpam.
Harris turut bersyukur, karena sohibnya tersebut berhasil mewujudkan cita-citanya untuk jadi bintang terkenal. Ia sendiri tak heran melihat keberhasilan Mai merambah dunia entertaimen, karena ia tahu Mai memang punya talenta.
Ini kali yang ke sekian Harris mencoba mengunjungi Mai. Sampai-sampai satpam penjaga rumah itu hafal betul dengan wajahnya.
“Begini Non. Di luar ada tamu yang mengaku teman Non. Jika nggak salah, sudah empat kali ia kemari. Namanya Harris Fadhillah. Katanya sih teman Non waktu SMU dan sama-sama pernah aktif di teater Payung. Bagaimana Non, apa diperbolehkan masuk?” lapor satpam lewat telepon paralel.
“Oke, langsung antar ke ruang depan, ya Mang!”
Harris tertegun di ruang tamu. Sementara menunggu, iseng ia mengambil album foto di bawah meja.
Astaghfirullahal adzim! Beginikah penampilan Mai, gumam Harris begitu melihat foto-foto Mai dengan pose menantang. Lalu segera mengembalikan ke tempat asalnya.
“Hai, friend…,” sapa Mai, yang spontan ingin memeluk Harris.
“Eeeit … Maaf, Sarah, eh Mai,” kata Harris gelagapan, berusaha menahan rengkuhan tangan Mai.
“Apa lo nggak kangen sama gue?” tanya Mai heran.
“Bukan. Bukan begitu Mai. Maaf, dalam Islam kalau bukan mahram dilarang berangkulan,” jelas Harris.
Mai tersenyum sinis. Bahkan, setengah mengejek atas sikap Harris. Mai tetap saja dengan gayanya yang manja dan terkesan bebas.
Justru Harris yang merasa salah tingkah, lebih banyak tertunduk. Ia tidak berani menatap Mai yang mengenakan baju ketat dan celana pendek.
“Jadi, ceritanya lo sudah berubah jadi alim, nih?”
Nada bicara Mai kentara sekali tak enak didengar. Namun, Harris berusaha untuk tidak terpancing emosi.
“Aku ikut bersyukur kau sudah jadi bintang terkenal. Tapi, mungkin ketenaran ini tidak selamanya berpihak padamu. Karena itu, aku berharap agar kau tak silau lupa diri. Terus terang sebagai sahabatmu, aku sedih setiap melihatmu pamer aurat. Padahal kalau kau yakin dengan potensimu, tanpa itu pun kau bisa diterima khalayak,” ujar Harris memberani diri.
“Terima kasih, Ris. Tapi, lo ke mari bukan untuk berkhutbah, kan?” sahut Mai.
Beberapa menit kemudian, Harris pamit. Dan, Maisarah hanya mengantar sampai depan pintu.
***
Bis kota mulai beringsut dari terminal. Di jok kursi belakang, Harris tampak termenung. Seakan ada gurat kesedihan di wajahnya karena gagal memberi pengertian pada Mai. Bahkan, ketika ia mencoba pada beberapa kesempatan berikut, gadis itu seperti sengaja menghindar darinya.
Ah, yang penting aku sudah mencoba untuk meluruskan. Soal, apakah dia mau menerima kebenaran atau tidak, itu di luar kekuasaanku, gumam Harris dalam hati.
Sebelum bis benar-benar melaju meninggalkan kota Bogor, sekali lagi ia khusyu berdoa. “Ya Allah, pembolak-balik hati manusia, curahkanlah cahaya hidayah kepada sahabatku, Maisarah. Bukakanlah pintu kesadaran padanya agar menapaki jalan yang Engkau ridhai. Amin, ya rabbal alamin.”
***
Tulisan ini pernah dimuat di tabloid Serambi Ummah edisi 158, 15-21 Nopember 2002.
Oleh: Aliansyah Jumbawuya
Dalam masyarakat kontemporer, teramat banyak realitas yang sulit dimengerti oleh akal sehat. Lihatlah remaja ABG kita, tak kuasa menahan histeris begitu menyaksikan sang idola unjuk kebolehan di atas pentas. Untuk sekadar bisa berjabatan, atau mendapatkan tanda tangan, apalagi bisa foto bareng dengan bintang pujaan, mereka rela berdesak‑desakan sampai pingsan. Bahkan ada yang hingga tewas. Sebuah ekpresi kecintaan yang terlampau berlebih‑lebihan…
Betapa picisan dan dangkalnya standar yang kita tetapkan atas hidup. Yang diuber‑uber dan diperjuangkan melulu bayang‑bayang semu!
Kita jarang punya kesungguhan hati untuk benar‑benar memahami hakikat hidup. Seluruh energi yang kita miliki tercurah untuk mengecap kesenangan sesaat, kekayaan yang memabukan, kekuasaan artifisial. Dalam mengokohkan identitas diri, kita lebih memilih penampilan fisik ketimbang keluhuran budi, lebih menghargai bungkus ketimbang isi. Akibatnya, orientasi hidup kita berkiblat pada citra, simbol, atau tanda‑tanda (sign) yang tidak ada nilai gunanya (use value).
Berapa banyak orang‑orang kaya, pejabat, selebritis kita yang memesan nomor plat mobilnya, dan untuk itu rela membayar mahal, demi menciptakan interpretasi baru. Tak ada nilai pragmatis memang, kecuali mungkin untuk menonjolkan keakuan.
Terhadap benda‑benda teknologi, keinginan kita untuk memilikinya sering dimotivasi oleh gengsi, bukan karena fungsi atau demi efektivitas kerja. Dan budaya konsumtif ini telah menjangkiti berbagai lapisan masyarakat. Saya barusan terkaget‑kaget karena ‘ditodong’ oleh si Bungsu yang minta dibelikan handphone, lantaran teman‑temannya di Madrasyah, katanya, selalu menenteng HP. Untunglah dompet saya lagi paceklik, jadi ada alasan untuk tidak memenuhi hajatnya yang prematur itu.
Ironisnya lagi, gaya hidup yang menonjolkan pada kepemilikan benda‑benda wah, seolah menjadi mainstream (arus utama) dalam tata pergaulan kita. Buktinya, orang yang berharta lebih dihormati ketimbang orang yang berakhlak mulia. Aksesoris sosial berupa pangkat, kedudukan, harta, menjadi acuan kesuksesan seseorang. Sementara bening atau pekat sisi batin yang bersangkutan, sering luput dari perhatian kita.
Pola hidup yang kita pedomani cenderung American Style. Budaya Barat nyaris mendominasi seluruh tata ruang pergaulan kita. Hampir setiap tayangan TV menjadi bursa pemanjaan hasrat libido. Betapa banyak sudah umat Islam yang kehilangan identitas diri lantaran mengadopsi cara‑cara hidup yang bertentangan dengan aqidah agama yang dianut. Perempuan yang pamer kemolekan tubuh sudah menjadi pemandangan lazim dalam keseharian kita.
Aparat kepolisian yang katanya adalah salah satu penjaga moral bangsa, justru mempersulit warganya yang ingin membuat SIM dengan foto berjilbab. Sementara Sales Promotion Girl yang berpakaian serba mini malah seolah memperoleh keleluasaan, sengaja memancing jakun kaum pria yang mempelototinya turun‑naik.
Mereka yang konsisten memelihara auratnya, malah dipandang nyelineh. Mereka yang punya sikap istiqomah dalam menjalankan syariat Islam justru dicap kolot dan puritan. Mereka yang tidak mau mengenal diskotik, ekstasi, gemerlap kehidupan malam, serta‑merta dianggap kuper dan ketinggalan zaman.
Mengenai hal ini Rasulullah jauh‑jauh hari telah mengingatkan: “Agama Islam dimulai dengan aneh. Rasul dan para sahabat yang pada waktu itu jumlahnya masih sedikit, pada saat mengajak orang‑orang kafir ke jalan tauhid, dianggap aneh dan asing. Akan tetapi Islam kian berkembang dan dikenal banyak orang. Namun setelah itu, Islam akan kembali menjadi asing dan aneh dalam pandangan umat manusia. Pada saat‑saat semacam ini, beruntunglah mereka yang dianggap aneh dan asing (ghuraba’) karena kecilnya jumlah mereka.”
Rasulullah lebih jauh menjelaskan siapa saja mereka yang dikategorikan sebagai ghuraba’ itu.
Pertama, mereka yang militan berusaha memperbaiki pola pikir masyarakat, dari yang tadinya bergelimang kemaksiatan, kembali ke jalan yang diridhai Allah. Walau di sekelilingnya banyak orang‑orang yang korupsi, ia tetap berlaku amanah, hanya menerima apa yang menjadi haknya. Tak peduli lantaran sikapnya itu, ia dicecar dengan umpatan sok suci atau pahlawan kesiangan.
Kedua, mereka yang mengisi apa yang dianggap kosong, melengkapi apa yang dikatakan ganjil. Yaitu mereka yang gencar mengembangkan syiar Islam, justru di saat masyarakat banyak yang loyo dan enggan memperjuangkan ajaran Islam. Manakala orang‑orang disibukan untuk mengejar target duniawi dan kejayaan pribadi, ia justru lebih memilih memberdayakan tenaga, pikiran, harta dan ilmunya demi kemajuan Islam.
Ketiga, orang‑orang yang menghidupkan sunah Rasulullah setelah sekian lama ditelantarkan oleh umat manusia. Pada saat bid’ah menyebar di mana‑mana, pada saat kultur Barat yang menyesatkan menjadi acuan pergaulan masyarakat, mereka berani tampil beda, senantiasa berpegang pada Alquran dan sunah Rasul.
Nah, bersediakah kita dicap aneh oleh orang-orang di sekitar kita, tapi justru menyimpan rahasia kemuliaan dalam pandangan Allah?
***