Oleh: Aliansyah Jumbawuya
Aku muak dengan Mas Imam. Menurutku, dia benar‑benar lelaki yang licik. Lagaknya saja yang sok alim, tetapi ternyata dia begitu pandai memanfaatkan kesempatan. Tak lama setelah ayahku wafat, keluarga Mas Imam datang kepada Emak untuk melamarku.
Mas Imam adalah putra kedua Pak Hermawan, direktur tempat ayahku dulu bekerja sebagai sopir pribadi. Selama dirawat di rumah sakit, hingga biaya pemakaman seluruhnya ditanggung oleh pemilik perusahaan agrobisnis itu.
Sungguh, aku tak bisa menyalahkan Emak. Beliau menerima lamaran Mas Imam, karena pikirnya, itulah cara untuk melunasi hutang budi yang selama ini mereka tanamkan. Walau Emak tahu pasti, bahwa aku sudah punya tambatan hati yang lain.
Dua tahun lalu, aku melepas kepergian Rudi. Sebelum dia berangkat ke Yogya, untuk melanjutkan kuliah, aku sempat berjanji akan setia menunggu, sampai Rudi kelak meraih gelar sarjana teknik. Namun harapan tersebut tinggal serpihan kenangan. Semua pupus direnggut oleh lelaki tengik bernama Imam Sangaji. Yang tersisa kini, cuma sekepal duka merajam sukma.
Pagi itu, Emak berusaha membujuk dan memberiku pengertian. “Ratna, maafkan Emak kalau mengambil keputusan secara sepihak. Tapi, mau bagaimana lagi? Sekarang, kita harus lebih realitis menyikapi kenyataan. Bapakmu yang merupakan tulang punggung ekonomi keluarga, sudah tiada. Maksud Emak, dengan pernikahan itu akan sedikit mengurangi beban utang jasa, karena selama ini keluarga Nak Imam terlalu baik terhadap kita. Walau sedikit pun mereka tidak pernah mengungkit-ungkit hal itu. Jadi, Emak tak sampai hati untuk menolak,” jelas Emak sambil menggenggam erat jemari tanganku.
Aku hanya terdiam, duduk di sisi dipan.
“Sementara, kalau kamu terus menanti Rudi, sampai kapan? Siapa tahu di sana ia sudah punya kekasih penggantimu,” lanjut Emak dengan suara lembut.
Aku ingin membantah. Tapi, akankah itu ada artinya? Emak sudah terlanjur menerima lamaran Mas Imam. Jika dibatalkan, tentu Emak yang menanggung malu. Maka, aku tak hendak membuat wanita di depanku ini terluka, karena sudah cukup banyak derita yang dipikulnya.
Hingga, pernikahan itu pun tak bisa dihindari. Namun, dalam hati aku bertekad bahwa Mas Imam hanya bisa memiliki jasadku, tapi tidak untuk jiwaku.
Klik. Tiba-tiba pintu kamar terkuak. Wajah Mas Imam nongol. Ia tersenyum ke arahku. Tapi, kusambut dengan dingin. Sudah kukatakan, bagaimanapun aku tak mau takluk dan menyerahkan diriku begitu saja. Ketika Mas Imam menghenyakkan pantatnya di ranjang penganten, secara reflek aku menggeser tubuh, menjaga jarak. Aku tak peduli jika dia bakal tersinggung. Malah bagus, karena dengan sendiri lelaki itu jadi tahu bahwa aku tidak menyukainya!
Sambil bertolak punggung, aku berpikir keras bagaimana cara agar pada malam pertama ini aku tidak digeranyangi oleh Mas Imam.
Ups! Tiba-tiba aku dapat akal.
“Tadi siang aku dapat menstruasi. Biasanya emosiku mudah meledak-ledak. Jadi, aku tidak ingin bicara. Sekarang aku mau tidur!” ucapku rada ketus tanpa sedikit pun menoleh.
“Tak apa. Saya bisa mengerti kok,” sahut Mas Imam datar. Berikutnya, kudengar bunyi langkah kaki beringsut. Tampaknya, Mas Imam baru turun dari ranjang. Sesaat kemudian, kudengar lantunan ayat-ayat suci Alquran. Rupanya, dia mengaji. Entah sampai kapan aku tak tahu, karena keburu tertidur. Bagiku, yang penting malam itu aku tidak dijamah!
***
Tapi, sampai kapan aku terus menghindar dengan cara begini? Akhirnya, seminggu kemudian kubeberkan terus terang, bahwa aku tidak pernah mencintai Mas Imam. Karena aku terlanjur menaruh hati kepada pria lain, yang sampai kini tetap kurindukan.
Aku tak peduli bagaimana reaksi Mas Imam. Sebab, aku tak mau rumah tangga kami dibangun di atas kepura-puraan. Masa bodoh, kalau dia tidak terima atas sikapku. Salah sendiri, karena dari awal dia tidak pernah menanyakan langsung kepadaku, sebelum pernikahan dilangsungkan.
“Jadi, maumu bagaimana?” ujar Mas Imam.
“Aku ingin kita tidur terpisah. Daripada aku melayani Mas, tapi batinku merasa diperkosa.”
“Baiklah, jika itu maumu. Terserah. Aku pun tidak ingin memaksakan kehendak,” katanya tanpa emosi.
Sejak itu, kami seperti jalan sendiri-sendiri. Bertegur sapa sekedarnya, persis dua orang asing yang terjebak dalam satu ruangan. Tiada kemesraan, apalagi canda-tawa. Kecuali shalat lima waktu, ia selalu mengingatkanku. Kadang ia juga mengajakku berjamaah, karena menurutnya, bagaimana pun aku adalah istrinya dan ia sebagai penghulu rumah tangga kelak bertanggung-jawab kepada Allah.
Meski aku tak pernah lalai menyediakan masakan, tapi kami jarang makan semeja. Mas Imam tak pernah cerewet perihal menu yang disajikan. Bahkan kuperhatikan, dia sering puasa Senin dan Kamis.
Kendati, Mas Imam tidak pernah berlaku kasar, hatiku tetap membeku dan tak sudi menerima dia seutuhnya sebagai suami. Bagaimana pun dialah penyebab kandasnya jalinan kasihku dengan Rudi.
***
Kriiing… Dering telepon menyentakanku. Aku segera bergegas mengangkat. Sepertinya, aku kenal betul dengan si penelpon. O, iya. Rudi! Antara senang dan tegang berbaur jadi satu. Suaraku tampak bergetar, tak kuasa mengendalikan perasaan.
“Ratna, kudengar kau sudah kawin. Karena itu, aku ingin ketemu. Mungkin ini yang terakhir kali. Mau kan kamu menjumpaiku? Kutunggu besok siang pukul 12.00 WIB di tempat biasa, di taman …”
Klik. Telepon langsung ditutup. Aku tak sempat bicara panjang lebar. Padahal, banyak hal yang ingin kujelaskan.
Keesokannya, antara rindu menggeledak dan harap cemas, aku berangkat mengendarai sepeda motor menuju tempat yang disepakati. Kebetulan Mas Imam, masih di kantor. Jalan yang kulalui tampak lengang. Sambil melarikan Supra-X, benakku dipenuhi berbagai lamunan, apa kira-kira yang bakal terjadi dalam pertemuan nanti.
Tiiitt… tiba-tiba suara klakson menyerbu gendang telingaku. Sejurus dari arah sebuah tikungan kulihat mobil Panther melaju kencang. Sang supir tampak panik, menginjak rem. Bunyi ban berdenyit beradu dengan aspal. Dan, moncong mobil itu melesat persis di depanku. Dalam kekalutan, aku masih berusaha menghindar dari tabrakan. Tapi, tak ayal belakang motorku tetap kena seruduk. Aku terlempar jauh. Saat terjatuh, aku hanya sempat melenguh panjang menahan sakit. Untuk kemudian tak ingat apa-apa.
***
Ketika membuka mata, yang pertama kulihat adalah Mas Imam yang tertidur di pinggir bangsal, wajahnya telungkup persis di atas tanganku. Sedangkan dinding di sekelilingku melulu putih, tak salah lagi aku berada di rumah sakit. Aku mencoba menggerakkan pinggulku, tapi ya ampun… sakit sekali!
Mungkin karena gerak jemari tanganku, Mas Imam jadi terbangun. Begitu melihat aku siuman, wajahnya yang koyo pun mendadak berbinar. Ia cepat memperbaiki posisi bantal yang mengganjal di punggungku.
“Bagaimana keadaanmu, Ratna?” cecarnya. “Sudah tiga hari ini kamu tak sadarkan diri. Kami sempat panik. O ya, mungkin sekarang Emakmu sedang di mushola. Sebentar lagi juga datang. Nah, apa juga kubilang, itu dia kemari!”
Melihat aku sudah siuman, Emak langsung memelukku. Ia menangis. Sementara Mas Imam hanya diam terpaku menyaksikan, diliputi suasana haru. Ketika aku mencoba menyibak selimut yang menutupi separuh badanku, tangan ibu cepat mencegah. Aku jadi tak habis mengerti. Apalagi tatapan Emak dan Mas Imam agak lain, seperti menyimpan sesuatu rahasia.
Aku mendesak. “Ada apa ini, Mak?”
Tak ada yang menyahut. Cuma kebisuan yang justru memperuncing ketegangan. Di tengah rasa penasaran, aku sekuat tenaga menyentakkan tangan Emak, kemudian segera membuka selimut.
Ya Allah, aku terpekik kaget. Kaki kananku buntung!
Aku menjerit histeris. Rasanya, tak sanggup menerima kenyataan bahwa kakiku diamputasi. Tapi, Mas Imam cepat bertindak, memegangiku.
“Sabar, dik Ratna. Ini ujian dari Allah, kamu harus iklas menerimanya. Sebab, mengeluh pun tak akan merubah apa-apa,” ujar Mas Imam berusaha menenangkanku.
Selama dalam perawatan, Mas Imam begitu telaten mendampingiku. Ia tak bosan-bosannya memberiku dukungan mental, agar aku kuat menghadapi kenyataan.
“Mas, sekarang aku adalah wanita yang cacat. Sikapku selama ini juga kurang simpatik. Jadi, kalau Mas Imam mau menceraikanku, aku tidak akan menyalahkan,” ucapku saat kami hendak meninggalkan rumah sakit.
“Dulu, ketika memutuskan untuk menikahimu, aku bertekad mencintaimu lahir dan batin. Bukan semata memandang fisikmu. Sekarang pun kau tetap istriku,” ungkap Mas Imam sambil menyusut anak rambut yang jatuh di wajahku.
Mendengar ketulusan itu, aku tak sanggup lagi menahan rasa haru. Aku langsung memeluk Mas Imam. Dalam lubuk hati, aku berjanji untuk belajar mencintainya. Walaupun mungkin sekarang sudah terlambat, karena pengabdianku padanya tidak sesempurna seandainya sepasang kakiku masih utuh.
Oleh: Aliansyah Jumbawuya
Handphone di saku Bahar bergetar. Ia segera mengangkatnya. Ternyata dari salah seorang anggota komplotannya. Bahar langsung tercekat. Berita itu benar-benar membuatnya terkejut. Wajah Bahar berubah tegang.

“Oke, secepatnya saya tangani,” tukas Bahar.
Bahar kemudian cepat mengontak nomor HP Gilas. Nut, nutt, nuttt… Busyet! Tidak ada yang ngangkat. Sekali lagi ia coba menghubungi. Tapi, tetap tak tersambung. Karuan saja Bahar semakin panik. Sesaat ia sempat mengeluarkan kata sumpah-serapah, sambil tangannya memukul meja. Anak buahnya yang lain tampak melongo, melihat bos mereka mencak-mencak.
“Hei, kalian jangan cuma diam! Bob, Jack, ayo susul Gilas dari jalur utara. Ternyata, calon pembeli itu intel yang sedang menyamar. Kalau transaksi itu sampai terjadi, kita semua bakal mampus. Makanya, cepat bergerak, tunggu apa lagi!” bentak Bahar.
Sementara itu, ia pun cepat berlari menuju garasi. Mengambil motor Tiger. Suara mesin meraung, disusul bunyi cericit ban. Belum pupus sisa asap yang dimuntahkan dari knalpot, Bahar keburu melesat di jalanan, mengambil arah Selatan. Ia melarikan sepeda motornya sangat kencang. Meliuk-liuk di antara pengendara lain. Bahkan lampu merah pun dia terjang. Sebab, terlambat sedikit saja, dan kalau Gilas terlanjur tiba di Gudang Lama, maka komplotan mereka akan dibekuk aparat kepolisian.
Dari kejauhan ia melihat punggung Gilas yang mengenakan jaket bergambar elang. Bahar menambah kecepatan motornya. Tak berapa lama kemudian, ia berhasil menyusul. Bahar cepat menekan klakson berulang kali, memberi isyarat kepada Gilas untuk segera meminggirkan kendaraan. Begitu Gilas berhenti, Bahar langsung menguber, “Ayo cepat balik! Pembeli baru itu adalah mata-mata polisi!”
Tanpa menunggu perintah berikutnya, Gilas kontan memutar haluan.
Setiba di markas, nafas mereka ngos-ngosan. Bahar langsung mencengkeram leher Gilas dan memepetnya ke dinding. Lalu, tanpa terduga tangan kanan dia menyarangkan pukulan ke perut Gilas. Disusul jotosan di bagian rahang.
“Makanya, kalau ada pembeli baru kenal harus hati-hati. Ingat, satu orang saja ceroboh, semua bisa dijeblokan ke penjara! Sudah tahu bergelut di bisnis ilegal, handphone dimatikan, bagaimana bisa menghubungi jika sewaktu-waktu rencana berubah,” bentak Bahar.
“Maaf Bos, tadi saya terburu-buru,” sahut Gilas terbata-bata sambil memegangi mulutnya yang berdarah.
“Oke, kali ini kamu masih saya ampuni. Jika terulang kembali, awas!”
***
Di kamar yang dindingnya dipenuhi poster-poster bintang Barat itu, Bahar sendiri. Sambil menyandarkan punggungnya di dipan, ia termangu. Sudah tiga tahun ini ia menjadi bandar shabu-shabu. Hampir seluruh wilayah Jabotabek, dia kuasai.
Bahar sadar bahwa bisnis haram yang dilakoninya beresiko tinggi. Jika kepergok aparat, tidak mustahil dia akan diancam hukuman mati. Paling ringan, disekap dalam jeruji besi. Karena itu, wajar jika ia bersikap keras terhadap anak buahnya yang teledor.
Tutt.. Tuttt… Bahar setengah enggan mengambil HP yang tertinggal di saku baju yang digantungnya. Begitu tahu nomor Pia yang masuk, adik satu-satunya, ia cepat menyahut.
“Hello, apa kabar sayang?”
“Kapan sih Bang Bahar pulang? Pia sama Emak sudah kangen!”
“Ala, paling-paling cuma ada maunya bilang begitu.”
“Pia serius, nih Bang. Kalau nggak percaya ya udah…,” tukas Pia pura-pura merajuk.
Mendengar suara manja adiknya, Bahar malah ketawa. “Oke, nanti kalau Abang ada waktu, pasti pulang menjenguk. Sekarang cuma bisa titip salam.”
“Haah, cuma titip salam doang?”
“Jadi, mau kamu apa?”
“Bang, Pia lagi butuh duit nih. Bisa kan ngasih Pia?” suara dari seberang itu bernada merayu.
“Nah, ketahuan kan belangnya! Buntutnya, pasti ngincar dompet Abang,” canda Bahar. “Lho, beberapa minggu lalu udah dikirimi.”
“Tentu saja udah habis. Apalagi sekarang Pia ngambil les privat. Belum lagi…” panjang lebar Pia menjelaskan keperluannya.
“Oke, nanti Abang transfer. Tapi, yang rajin sekolahnya!” pesan Bahar sebelum menutup pembicaraan.
Yah, kalau sudah berhadapan dengan sang adik Bahar tak bisa berkutik. Apapun permintaan Pia, jarang ia tolak. Apalagi, kalau ingat saat-saat hidup mereka serba susah.
Semenjak sang ayah meninggal, Bahar dan Pia mesti bekerja. Kalau sekadar mengandalkan penghasilan Mak dari berjualan pecel, mana cukup. Maka, setiap pulang dari sekolah, mereka langsung menuju terminal, jadi pengamen. Dan, tak jarang mendapat perlakuan kasar.
Tapi, walaupun sudah banting tulang, tetap saja uang sekolah keteter. Mereka sering menunggak bayar SPP. Menyadari kondisi ekonomi yang kurang memungkinkan, akhirnya Bahar memutuskan untuk berhenti sekolah. Biarlah, adiknya yang tetap melanjutkan. Dan, Bahar akan mencoba mengadu nasib ke Jakarta, sementara keluarganya tetap tinggal di Bekasi.
Setiba di ibukota ia sempat terkatung-katung. Pernah jadi tukang parkir, tapi tak sempat lama karena terjadi perebutan lahan. Hingga kemudian ia diterima bekerja sebagai penjaga bilyar. Di sinilah awalnya ia bertemu dengan Mat Naga, yang mengajaknya ikut membantu mengedarkan shabu-shabu.
“Cepat atau lambat, suatu saat nanti kamu akan menyesal. Karena pekerjaan haram itu pasti tidak akan bertahan lama. Lagi pula, apakah kamu tidak merasa berdosa meracuni para remaja yang masa depannya masih panjang. Jadi, sebelum kamu terlanjur jauh terlibat, lebih baik sekarang menarik diri,” nasihat Sugiman, temannya sesama penjaga bilyar.
Tapi, Bahar sudah tak peduli. Ia terlanjur menikmati uang yang banyak, imbalan dari menjual shabu-shabu. Bahkan karena ia cepat menjerat para pelanggan baru, tanpa sekalipun tercium aparat berwenang, lambat-laun Mat Naga semakin menaruh kepercayaan besar kepada Bahar.
“Ingat, tugas kamu mengedarkan shabu-shabu. Jangan ikut-ikutan mengkonsumsi. Sebab, bagaimana bisa bergerak licin kayak belut, kalau kamu sendiri kecanduan. Camkan itu,” wanti-wanti Mat Naga sebelum berangkat ke Batam, dan menyerah jaringan Jabotabek ke tangan Bahar.
Maka, sejak itulah Bahar mengendalikan gembong besar peredaran shabu-shabu.
***
Begitu mendapat kabar dari Emak kalau Pia sakit parah, Bahar bergegas pulang ke Bekasi. Emak sendiri, tidak menjelaskan secara detil penyakit apa yang diderita adiknya itu. Pikir Bahar, kalau ia sudah tiba di rumah nanti, akan tahu dengan sendirinya.
Saat Bahar muncul Emak langsung menyambut dengan tangisan. Mereka kemudian segera meluncur ke rumah sakit. Setiba di sana, dilihatnya Pia meronta-ronta sambil berteriak-teriak. Raut wajah adiknya itu pucat-pasi, kadang tubuhnya menggigil.
“Ada apa dengan adik saya, dok” sela Bahar.
“Dia kecanduan shabu-shabu. Sudah sampai pada tahap ketergantungan berat. Karena itu, butuh penanganan intensif. Kami dari tenaga medis cuma bisa memberikan pertolongan pertama. Nanti, sebaiknya dirujuk ke lembaga rehabilitasi, sebab perlu waktu lama untuk proses penyembuhan,” jelas pria berseragam putih-putih itu.
Mendengar penjelasan itu, Bahar tertunduk lemas. Dia sama sekali tak menyangka, kalau adik kesayangannya, ikut terjerat memakai shabu-shabu. Pantas saja beberapa bulan terakhir ini sering minta dikirimi uang. Tak tahunya, untuk membeli shabu-shabu.
Bahar lalu meng-calling Sigit, anak buahnya yang membawahi wilayah Bekasi. Tak lama kemudian, pemuda berambut cepak itu sudah berdiri di hadapannya. Bahar menyeret Sigit, dan menunjuk ke arah gadis yang menjadi korban shabu-shabu.
“Apa dia termasuk langganan kamu?”
“Iya. Memangnya, dia siapa bos?” sahut Sigit masih tak mengerti.
“Dia itu adik saya!”
Wajah sigit kontan berubah tegang. Dengan gugup dia berucap, “Sorry, saya benar-benar tidak tahu kalau dia itu adik Bos!”
“Cepat pergi dari hadapanku, atau kau mau merasakan pukulanku,” hardik Bahar.
Tadinya ia nyaris ingin menumpahkan kekesalan hatinya pada pemuda itu. Tapi, setelah Bahar pikir lebih jauh, ia tak bisa menyalahkan anak buahnya tersebut.
Sambil bersandar di salah satu tiang koridor rumah sakit, ia meruntuti dirinya. “Inikah karma yang harus aku terima?”
Sayup-sayup Bahar mendengar teriakan Pia yang mengerang-ngerang kesakitan. Mulut gadis itu terus menyeracau, minta diberikan shabu-shabu. Lengkingan itu serasa mencabik-cabik hati Bahar.
Oleh: Aliansyah Jumbawuya
Hatiku bulan sabit
Menunggu waktu sempurnakan jadi purnama
Tapi, kenapa awan-gemawan malah menelannya?
***
Malam menebar warna jelaga. Perlahan, menggiring ke suasana sepi. Di luar, tinggal satu dua kendaraan yang lewat. Itupun tampak seperti bergegas. Ruqayah menilingkan kepalanya ke dinding atas. Jarum jam telah berada di titik 01.44 Wita. Siaran tv dan radio telah usai. Celoteh teman‑temannya pun tak terdengar lagi. Barangkali mereka semua sudah tertidur. Lelap dibuai mimpi.
Namun hingga detik ini, Ruqarah tak bisa memejamkan mata. Tampak gelisah. Sudah sekian kali ia membolak‑balik tubuhnya ke kiri‑kanan. Lalu, kembali tengadah menatap langit‑langit kamar. Pikirannya menerawang, merangkai serpihan‑serpihan kenangan dalam lintasan waktu masa lalu.
“Sialan! Mengapa aku ingat dia? Kangen! Padahal hubungan kami sudah berakhir. Akhh..!” runtut Ruqayah pada diri sendiri.
Kembali, peristiwa sore itu hadir mengusik memori.
“Wan, rasanya kita tak mungkin bersatu!”
“Mengapa?” cecar Ridwan tak habis mengerti.
“Kamu kan tahu aku turunan Syarifah. Dalam keluarga kami oleh Ummi hanya diperkenankan kawin dengan lelaki berdarah Said. Dari yang sudah‑sudah, semua kakakku tak ada yang menyimpang dari ketentuan ini. Dan, rasanya aku tidak punya keberanian untuk berontak.”
“Tetapi, manusia diciptakan bersuku-suku dan berbagai perbedaan justru agar saling mengenal. Bukan malah dijadikan tembok penghalang. Alquran tidak pernah menyebutkan bahwa pria pribumi dilarang mencintai gadis keturunan Arab. Karena semua manusia itu sederajat, yang membedakan hanyalah tingkat ketakwaan,” kata Ridwan berargumen.
“Aku tahu itu! Tapi aku tak kuasa melawan ketetapan Ummi. Bagiku Ummi adalah tuhan di dunia. Aku ingin membahagiakannya!”
“Apakah itu satu‑satunya cara? Dengan mengorbankan cinta kita? Setahuku seorang ibu, letak kebahagiaannya adalah ketika melihat anak-anaknya bahagia.”
“Inilah kenyataan yang tak bisa kuhindari. Bahkan jauh sebelumnya aku tak berani pacaran. Hubungan kita selama ini pun terpaksa kurahasiakan. Jika mereka tahu, tentu aku tidak diperbolehkan kost di sini. Aku pasti bakal dipingit!”
“Itu artinya hubungan kita nggak perlu lagi dilanjutkan?” cecar Ridwan.
“Barangkali inilah jalan terbaik. Daripada nanti ber‑ larut‑larut. Biarlah sekarang kita sama‑sama terluka, lebih cepat mungkin lebih baik, agar kita bisa membenahi hati sejak dini. Percayalah, aku pun mencintaimu! Tetapi tidak setiap kasih‑sayang harus diwujudkan lewat perkawinan. Toh kita masih bisa bersahabat.”
Ridwan diam termangu. Melempar pandang ke langit senja temaram.
Setelah agak lama dibalut kebisuan, dia pun beranjak dari kursi.
“Baiklah, kalau itu keputusanmu. Aku nggak akan ngotot memaksa. Karena ini perkara hati. Tapi mengenai tawaranmu untuk tetap bersahabat kurasa aku perlu waktu, dan itu tidak mudah. Doakan saja semoga aku masih memiliki kebesaran jiwa. Permisi!”
Ruqayah mengantar kepergian lelaki yang telah banyak memberinya kegembiraan itu hingga pintu pagar. Setelah punggung lelaki itu menghilang dari pandangan, ia pun berlari ke kamar, menangis sesungukan.
Keesokannya, seperti yang Ruqayah perkirakan Ridwan memang tak muncul. Begitu pula hari‑hari berikutnya.
Tetapi seminggu kemudian, tak disangka Ridwan datang menjemputnya. Bahkan masih bisa tertawa, bercanda seperti biasa.
“Maaf, kalau beberapa hari ini aku nggak bisa mengantarmu. Soalnya coverboy‑mu ini lagi patah hati. Ada cewek yang sempat memporak‑porandakan perasaannya. Jika kamu kenal cewek itu mungkin sudah kamu gampar dia. Iya kan, Yah?! Ha‑ha‑ha…”
Syarifah Ruqayah yang merasa kena sindir karuan mencubit pinggang Ridwan.
“Hei.., apa kamu masih berhak menggelitikku! Sekarang aku tukang ojek lho! Bayarannya mahal…”
“Berapa?” sela Ruqayah.
“Limabelas ribu!”
“Wow, mahal amat! Kalau begitu biar turunkan aku di sini!” teriak Ruqayah. Dan Ridwan bukan menghentikan laju motornya, malah makin kencang melarikan.
Ingat itu Ruqayah jadi tertawa sendiri.
Tetapi, kenapa sekarang Ridwan menghilang? Tanpa penjelasan apa‑apa? Apakah dia marah padaku? Ruqayah mencoba menebak‑nebak, namun tak juga kunjung menemukan jawaban.
Mungkin lantaran kelewat lelah memikirkan, dan hari pun semakin larut, Ruqayah tertidur.
Esok paginya dia bangun agak telat. Jika pintu kamarnya tidak digedor Septi mungkin ia tak bakalan bangun.
“Yah, cepat bangun! Ada temanmu tuh!”
“Siapa?”
“Nggak tahu. Tapi rasanya aku pernah lihat!”
Ruqayah pun keluar kamar. Ketika ia melongokkan wajah ke ruang tamu betapa kagetnya ia, ternyata Ridwan! Setelah menarik diri dan mencuci muka ia segera balik menemui.
“Hei, kenapa lama nggak nongol?”
“Nanti saja kujelaskan. Sekarang kamu kan mesti masuk kerja. Ayo sana mandi!” kata Ridwan mengibaskan tangan sambil memencit hidungnya. “Bau!”
“Enak saja ngomong! Lagian hari ini aku agak siang masuk kerja. Eh, kemana saja menghilang. Marah ya?!”
“Nggak. Lagian buat apa aku marah sama orang bebal, nggak ada gunanya!” tukas Ridwan cengengesan.
“Huuhhh… dasar!” cecar Ruqayah pura‑pura merajuk sambil memukul‑mukulkan bantalan sofa ke tubuh Ridwan.
“Eitt… Sudah! Sudah!! Mau dengar penjelasanku nggak?”
“Habis situ sih yang mulai!”
“Aku kesini mau pamit. Minggu depan aku mau ikut saudaraku ke Saudi. Dia sudah lama kerja di sana. Belakangan ini aku sibuk ngurus paspor dan memindahkan barang‑barangku yang ada disini ke Kandangan. Karena itu, aku nggak sempat kemari. Dan, kalau aku nggak memberitahumu itu memang sengaja. Biar kita terbiasa. Karena sebentar lagi kita berpisah. Paling cepat dua tahun, sesuai masa berlaku kartu igamah.” jelas Ridwan.
Ruqayah tertegun. Tampaknya Ridwan memang serius.
“Karena itu jika selama ini aku ada berbuat salah, aku minta maaf” kata Ridwan. Lalu membuka tasnya memberikan buku kumpulan puisi bertajuk ‘Kidung Kasmaran di Bulan Juni‘.
“Ini buat kamu!”
“Terimakasih!” sahut Ruqayah.
Ia tidak menyangka kalau Ridwan bakal pergi jauh. Juga tak berhak mencegah. Hubungan mereka kini cuma sebatas sahabat.
“Jika aku pernah berlaku khilaf atau melukai perasaanmu, aku mohon maaf,” pamitnya.
***
Belakangan ini di ruang kerja Ruqayah seperti kehilangan gairah. Tanpa semangat. Tetapi jika menyadari bahwa mereka tak mungkin bersatu, barangkali kepergian Ridwan itu cara yang dipilihkan Tuhan. Dan ia akan mencoba melupakan Ridwan.
Tampak ogah‑ogahan Ruqayah membolak‑balik B.Post edisi dua hari lalu. Tanpa sengaja matanya tertumbuk pada sebuah berita:
Ridwan Saidi (24 th) yang mengenderai motor RZR nomor KT 5211 E mengalami tabrakan dengan sebuah truk batubara di tikungan kawasan Binuang. Korban segera dilarikan ke RS Ratu Juleiha Martapura. Sampai berita ini diturunkan korban masih tak sadarkan diri, dan dalam keadaan koma.
Ruqayah terkejut tiada alang‑kepalang. Dadanya bagai dihantam martel bertalu‑talu. Ya, tidak salah lagi, itu pasti Ridwan yang dia kenal!
Maka, tanpa menunggu waktu kepada salah seorang rekannya Ruqayah minta diantar ke RS tersebut. Setiba di tujuan ia segera ke bagian resepsionis. Membaca daftar nama pasien. Lalu, langsung menuju kamar dimaksud.
Tetapi ketika Ruqayah tiba di ruang tersebut ia tidak menemukan Ridwan. Ia cepat bertanya kepada seorang ibu yang menunggui anaknya yang terluka bakar.
“Apakah yang adik maksud korban tabrakan di Binuang itu?”
“Ya, betul!” tukas Ruqayah cepat.
“Oo. Barusan kemarin keluar! Nyawanya tak tertolong.”
“Benarkah?”
“Ya! Untuk jelasnya tanya saja ke perawat itu!” usul sang ibu.
Rukayah tercekat. Diam terpaku. Jantungnya berdetak kencang. Seluruh persendian kakinya bagai dipeloroti. Seketika pandangannya berubah nanar. Untung temannya sigap merangkul dan memapahnya, kemudian mendudukkan di sebuah bangku. Jika tidak, mungkin Ruqayah sudah tergolek di lantai tak kuasa menyangga tubuhnya yang lemas.
“Ridwan, kukira engkau pamit untuk beberapa waktu saja. Ternyata, ternyata … engkau pergi buat selama‑lamanya.” isak Syarifah Ruqayah terbata‑bata.
Oleh: Aliansyah Jumbawuya
Segera kumatikan Tornado GX DA 4724 F‑ku. Setelah itu, aku langsung masuk ke sebuah warung. Memesan mie goreng dan es sprite. Sambil mataku tajam mengamati keadaan sekeliling.
Di bilik seberang kulihat para WTS dengan celana pendek dan kaos ketat bergerombol. Mereka ketawa cekikikan, memamerkan lipstik tebalnya. Satu dua orang tampak hilir‑mudik di depan pintu sambil mengembuskan asap rokok.
Ini kali pertama aku singgah di lokalisasi Bagau, Banjarmasin Selatan. Jika bukan karena perintah Mbak Uum, koordinatur liputan, mungkin aku tidak akan pernah menapakkan kaki di tempat mesum ini. Aku ditugasi mengangkat sisi manusiawi kehidupan seorang pekerja seks komersil.
Aku pun berlagak seperti pelanggan yang sudah sering mangkir di sana.
“Mi, ada barang baru nggak?” tanyaku pada pemilik warung yang juga merangkap sebagai mucikari.
“Yah, semua masih stok lama. Tapi dijamin deh pada tetap tokcer,” tutur perempuan bertubuh gembrot itu.
Kulirik jarum jam di tanganku menunjukkan angka 15.11 wita. Aku pun berjalan‑jalan mengitari bilik‑bilik lain. Beberapa WTS bersuit‑suit menggoda, mengajak mampir. Tapi aku tak berminat.
Aku mencari WTS yang singel. Ups, itu dia! Aku segera masuk. Tanpa basa‑basi aku langsung duduk berhadapan.
“Lagi nggak ada tamu nih?” pancingku.
“Iya. Mau main?” cecarnya.
“Nggak, nanti aja,” sahutku.
Sesaat aku mencoba mengajaknya ngobrol dan berbasa-basi. Tapi, lama-kelamaan kulihat dia tampak kurang berminat untuk terus meladeniku. Ia pun berniat beranjak, hendak meninggalkanku.
Aku cepat menahan langkahnya. Dasar kurang pengalaman, aku pun keceplosan mengatakan siapa diriku dan apa maksudku sebenarnya.
“Eee… begini Mbak. Terus‑terang saya adalah wartawan. Saya ditugasi menelusuri latarbelakang kenapa seseorang sampai terjerumus melakoni dunia prostitusi. Kebetulan, Mbak saya pilih untuk mewakili sebagai contoh. Saya janji, akan menyembunyikan identitas Mbak. Dan, saya siap membayar waktu yang Mbak berikan untuk saya.”
Wanita itu diam. Tampak mikir. Kutatap tajam ke arah matanya, seraya tersenyum berharap bisa meyakinkan dia.
Tapi, sebelum wanita itu sempat memberi jawaban, tiba‑ tiba dari arah belakang muncul dua orang tacut (centeng) bertubuh tinggi gempal. “Katanya ada wartawan masuk sini! Ini ya orangnya,” tunjuk lelaki bertato ke arahku.
Aku gelagapan. Pucat pias.
WTS di depanku cepat berdiri.
“Bukan, Bang! Dia ini langganan saya. Barusan kami bertransaksi. Dan, sekarang juga mau ngamar,” tukas wanita bertubuh semampai itu sambil menyeretku ke dalam kamar. Aku pun manut. Karena kulihat salah seorang dari tacut itu tengah merogoh belati di pinggangnya.
Aku duduk di pinggir dipan. Bersitopang dagu. Diam. Membenahi rusuh batinku.
“Terimakasih. Kamu telah menyelamatkanku,” kataku kemudian.
“Itu biasa. Kalau terjadi apa‑apa di sini, kan saya juga yang kecimpratan masalah.”
Sejenak kami diliputi kekakuan dalam kamar. Perlahan, wanita itu melepaskan kancing bajunya satu per satu. Aku terkejut.
“Maaf! Bukannya aku sok alim. Sebagai lelaki kupastikan aku juga tergiur padamu. Tapi niatku semula ke sini tidak untuk berkencan. Apalagi aku merasa telah berhutang budi padamu. Aku ingin menghargaimu lebih dari tamu‑tamu yang biasa datang kemari. Kalau pada akhirnya, aku juga menidurimu lalu apa bedanya aku dengan yang lain,” elakku tegas.
Wanita itu pun membenahi pakaiannya.
“Terimalah ini!” Kusodorkan uang limapuluh ribuan.
“Untuk apa? Saya tidak pernah menerima uang tanpa memberi imbalan jasa.”
“Karena kita sudah masuk kamar, kamu tentu harus bayar sewa kamar pada Mamimu.”
“Tapi, tidak sebesar ini.”
“Terimalah. Anggap saja ini tanda persahabatan kita. O, iya. Ini kartu namaku. Kalau suatu saat kamu ada keperluan, silakan hubungi aku. Insya Allah kalau aku bisa bantu akan aku bantu,” kataku bersiap keluar.
Tanpa diduga ia mengacak‑acak rambutku dan melepaskan kancing bajuku bagian atas.
“Apa‑apaan ini?” tanyaku tak habis mengerti.
“Biar orang di luar tidak curiga, dan yakin bahwa kita barusan udah main! Namaku Siska” katanya tersenyum, lalu mengantarku hingga pekarangan.
***
Tiga minggu peristiwa itu berlalu, dilibas laju waktu. Aku pun sudah hampir lupa, karena kesibukan menguber berita. Tiba‑tiba handphoneku berdenging.
“Aliansyah ya! Ini Siska. Masih ingat?”
“O, iya. Ada apa?”
“Aku pengin ketemu. Boleh nggak?”
“Kenapa tidak. Sekarang kamu di mana? Biar aku jemput.”
Kebetulan aku baru saja selesai rapat perencanaan. Jadi agak santai.
Kami pun makan di warung lesehan lantai atas pasar Sudi Mampir. Sengaja kupilih di pojok, agar kami bisa bicara leluasa. Tanpa diminta, ia kemudian membeberkan masa lalunya.
Menurut pengakuan Siska, dia kelahiran Tasikmalaya. Ayahnya yang penjudi berat terjerat utang pada seorang rentenir. Ujung‑ujungnya ia mau dijadikan istri ketiga oleh lintah darat itu. Dan ayahnya merestui, karena dengan begitu utangnya akan lunas. Tentu saja Siska berontak. Ia kabur bersama pacarnya. Tapi, dalam pelarian, karena kehabisan uang pacarnya setelah merenggut keperawannya malah tega menjualnya kepada pria hidung belang.
Merasa dihianati, begitu ada kesempatan Siska pun meninggalkan pacarnya ke Surabaya. Karena untuk kembali ke kampung halaman ia sudah tak punya keberanian. Hingga kemudian ia diajak seorang germo ke Banjarmasin.
Aku serius menyimak ceritanya. Kulihat, matanya berkaca‑kaca. Mengenang kegetiran yang menyeretnya hingga terjerambab ke lembah nista.
Sejak itu, kami mulai sering bertemu. Hubungan kami kian hari semakin akrab.
***
Suatu hari ia mendesak minta diajak ikut meliput berita. Aku tak bisa mengelak, takut menyinggung perasaannya.
Tapi sebelum itu, kuajak Siska mampir di butik busana muslim. Kusuruh dia memilih jilbab. Lalu, mencobanya.
Begitu keluar dari kamar ganti, ia langsung minta komentarku.
“Bagus. Sangat cocok dengan bentuk wajahmu. Jangan lepas lagi, pakai aja sekalian,” seretku ke kasir.
“Apa‑apaan ini. Aku belum siap pakai jilbab, Li!”
“Katanya mau ikut aku cari berita. Ya harus mengenakan jilbab.”
Aku tahu ia terpaksa. Dan, begitu memasuki gerbang masjid Sabilal Muhtadin, langsung kutunjukkan dia pada papan pengumuman yang menyebutkan kawasan wajib berbusana muslim.
Aku menemui Pak Arifin. Menanyakan data para muallaf, yang baru masuk Islam.
“Orang yang semula tidak mengenal Islam saja tertarik untuk mendalami ajaran Islam. Anehnya, berapa banyak orang Islam yang mengabaikan agamanya. Padahal menjadi umat Islam itu adalah keuntungan yang tak terkira. Kalau di dunia kita melarat, setidaknya masih punya harapan mengecap kenikmatan di akhirat nanti,” imbuh Pak Arifin.
Kulihat wajah Siska bersemu merah. Mungkin ia merasa tersindir. Kupikir itu bagus. Sebab kalau dinasehati secara langsung bisa jadi ia bakal merasa seperti digurui.
Waktu pun terus bergulir.
Rupanya, apa yang sempat terbersit di hatiku terjadi jua. Siska menyatakan bersedia meninggalkan dunia hitamnya, kalau aku mau memperistrinya.
“Selama ini, orang cuma menghargai kemolekan tubuhku. Hanya saat‑saat bersamamu aku merasa betul betul berarti sebagai manusia. Li, maukah kamu membimbingku dengan menjadikanku istri?”
Aku terhenyak. Gagap. Dan, bingung.
Aku tak ingin jadi pahlawan kesorean. Bagiku perkawinan sesuatu hal yang sakral, bukan perkara sepele.
“Sepertinya aku belum siap memasuki gerbang perkawinan, Siska. Bukan cuma denganmu. Dengan wanita lain pun demikian. Karena saat ini, masih ada dua adik yang harus kubiayai. Sedang ayahku, sejak kecelakaan itu tak bisa lagi bekerja. Aku khawatir, kalau aku menikah perhatianku pada mereka berkurang,” kataku hati‑hati.
Siska tertunduk. Sesaat kemudian mengangkat wajahnya. Katanya ia sudah menduga bakal mendapat penjelasan serupa. Dia sama sekali tidak menyalahkanku. Ia mengungkapkan semua itu untuk memastikan persangkaannya, sebelum besok dia kembali ke Tasikmalaya.
“Aku yakin suatu saat kamu akan bertemu pria lain yang lebih baik dariku. Dan, kalau kamu memang bersungguh‑sungguh ingin berubah, yang paling utama ialah kemauanmu sendiri. Orang lain sekadar memantapkan.”
Keesokannya, kusempatkan diri mengantar Siska di pelabuhan Trisakti Bandarmasih.
***
Tanpa terasa tujuh bulan telah berlalu. Aku pun tenggelam menekuni pekerjaanku sebagai wartawan.
Suatu hari, tak disangka aku menerima sebuah surat. Di sampulnya tertulis nama pengirim: Siti Mahmudah. Kupikir ini dari salah seorang penggemar cerpen‑cerpenku. (Soalnya, kadang aku masih suka ge‑er juga lho he..he…)
Ketika kubuka ternyata itu nama asli dari Siska. Ia mengabarkan sekarang telah berhenti jadi WTS. Alhamdulillah, keluarganya masih mau menerima dia. Apalagi ayahnya sudah meninggal. Untuk menghidupi keluarga, Siska eh lupa Mahmudah, membuka warung kecil‑kecilan. Penghasilan dia tidak seberapa, katanya, yang penting halal.
Yang lebih penting lagi, jelas Mahmudah, kini ia sedikit demi sedikit mulai mempelajari dan mempraktikkan ajaran Islam yang lama dia abaikan.
Terus terang aku bahagia mendengarnya. Dan, di sini aku hanya bisa mendoakan: semoga dia memperoleh hidayah.
Oleh: Aliansyah Jumbawuya
Dulu, aku punya rencana kuliah di Fakultas Sastra UGM. Tapi ayah menentang keras. Ia ingin aku masuk Kedokteran. Katanya, prospeknya lebih menjanjikan. Semula aku bersikukuh dengan pilihanku. Namun ibu ikut‑ikut mendukung ayah, ia setengah memelas agar aku kuliah di Banjarbaru, tak usah jauh‑jauh ke Yogya. Alasan dia, biar mudah pulang kampung ke Ilung, Barabai, kalau ada apa‑apa.
Akhirnya, aku mengalah juga. Ini bukan berarti aku lemah pendirian. Tapi lebih dikarenakan kasihan pada ibu, anak‑anaknya meninggalkan dia hampir berbarengan. Kakakku dimutasi ke Magelang, dan adikku diboyong suaminya ke Palembang.
Lalu, haruskah ditambah denganku, pergi jauh walau demi alasan menuntut ilmu? Lagi pula aku masih bisa mengasah jiwa seniku secara otodidak. Barangkali inilah jalan kompromi untuk mempertautkan dua kehendak yang berbeda.
Selama kuliah ternyata aku sering bolos, lebih banyak aktif di teater. Aku juga bergabung dengan kilang sastra “Batu Karaha” di bawah asuhan Eza Thabry Husano. Karya‑karya puisiku, cerpen, artikel seni & budaya kerap menghiasi media massa lokal maupun nasional. Semua itu mengokohkan namaku sebagai seniman yang layak diperhitungkan.
Andai dulu aku ngotot tidak kuliah di Fakultas Kedokteran Unlam, mungkin aku tak akan pernah ketemu Novita, mahasiswi Kehutanan, di mana tempat indekosku dengannya berdekatan. Dan kami saling jatuh hati. Hampir ke mana‑mana selalu berdua‑duaan.
Kata orang cinta pertama itu tidak akan langgeng, jarang yang sampai ke pelaminan. Tapi aku tak peduli. Itu soal nanti, yang penting jalani dulu.
“Maaf, bukan maksudku mencampuri urusan kalian. Tapi sebagai sesama Muslim, aku merasa terpanggil untuk sekadar memberi pandangan. Kalau kau dan Novi sudah cocok, kenapa tidak kawin saja sekalian? Karena pacaran itu lebih banyak mudharat ketimbang manfaatnya,” nasehat Kak Dulman kepadaku, sepulang Novita mengantariku makanan siang.
“Tapi, kami belum siap, Kak Dulman! Honor tulisanku mana cukup untuk biaya hidup berumah‑tangga. Lagian kalau sudah bekeluarga, takutnya kuliah kami terbengkalai,” elakku coba memberi alasan.
“Yang namanya rejeki itu sudah diatur Sang Khalik. Unggas saja yang pagi berangkat dengan perut kosong, sore pulang dengan kenyang. Apalagi manusia yang dianugerahi berbagai kelebihan,” imbuh Kak Dulman yang rajin mengisi tausiyah di masjid kampus ini.
“Yaakh, pikir‑pikir dulu Kak…” sahutku sambil mengambil kertas dan memasukkan ke dalam gandaran mesin tik, pura‑pura sibuk.
Berhasil. Terbukti, tak lama kemudian Kak Dulman keluar dari kamarku.
***
Aku sendiri heran, kok bisa terpengaruh oleh Kak Dulman. Kini aku jadi rajin mengikuti pengajian.
Semula, waktu diajak Kak Dulman aku ogah‑ogahan. Tapi karena merasa tidak enak hati kalau terus‑terusan menolak ajakan dia, aku mau juga. Dengan niat sekedar mencari inspirasi. Sudah lama aku berencana untuk bikin cerpen dengan nuansa keislaman, dan mengirim ke majalah Annida. Soalnya, Pipiet Senja, Gola Gong, Boim Lebon, yang selama ini mempublikasikan karya‑karya mereka di media‑media hiburan saja mulai beralih menggarap cerita yang sarat dengan nilai‑nilai keagamaan.
Banyak hal baru yang kujumpai di pengajian. Misalkan, tentang batas hubungan ikhwan dan akhwat. Jangankan bergandengan tangan, bersalaman saja yang bukan mahram tidak boleh, karena memang demikian sunah Rasul.
Saat membandingkan diri, aku seperti dituding ribuan telunjuk. Hubunganku dengan Novi begitu intim.
Berhari‑hari aku menghindar dari Novi. Sambil memikirkan langkah berikut. Setelah mantap aku segera menemui Novi, menyampaikan niatku untuk melamar dia.
“Aku sih terserah bagaimana keputusan Papa nanti. Apa kata beliau, aku akan menurut. Kapan kamu berniat menghadap?”
“Besok malam!”
Malam itu sebenarnya aku grogi juga. Namun kucoba menyembunyikan kegugupanku.
Setelah sebentar berbasa‑basi, aku pun langsung ke pokok permasalahan.
“Begini, Om. Selama ini saya dan Novi sudah lebih setahun pacaran. Kami tidak berani berterus‑terang karena khawatir tak mendapat restu. Malam ini saya datang untuk meyakinkan, bahwa saya serius ingin memperistri putri Om.”
Sampai di sini tenggorokanku tercekat. Apalagi tatapan mata Om Wibowo seperti penuh selidik, menelisik dari ujung rambut sampai kakiku. Aku jadi salah tingkah.
“Apa pekerjaanmu?”
“Masih kuliah Om. Sambil freelance!”
“Oooo….” nadanya terkesan sekali meremehkan.
“Sekarang ini mana ada seniman yang kaya. Apa kamu bisa menghidupi putri saya, heh!! Berapa sih honor puisi dan sejenisnya itu? Apalagi, setahu saya seniman itu mengurus diri sendiri saja tidak becus. Jangan‑jangan anak saya nanti bakal telantar. Mestinya kamu becermin sebelum hendak melamar anak orang. Pokoknya saya tidak mau punya menantu seniman. Titik!”
“Tapi Om saya tidak selamanya menggantungkan hidup pada….”
“Sudah! Sudah!! Pokoknya, Om tidak setuju. Novi sudah saya jodohkan dengan putra seorang pengusaha. Jadi, jangan coba‑coba lagi dekati dia!” ketus sekali bicara Om Wibowo sambil berlalu meninggalkanku yang termangu di kursi tamu.
Rasanya harga diriku bagai dikoyak‑koyak. Aku seperti prajurit kalah perang yang menyeret tubuh penuh luka.
***
Sejak itu aku sering uring‑uringan. Mengurung diri dalam kamar. Berbulan‑bulan aku seperti orang linglung.
“Apa kamu akan terus‑terusan begini, Her! Menzalimi diri. Jodoh itu sudah diatur Tuhan. Kita sekadar menjalani sebuah lakon. Dan kehendak Allah selalu yang terbaik bagi hamba‑hamba‑Nya. Kita saja yang sering buta, tak pandai mengambil hikmah. Mestinya justru kamu bangkit, buktikan bahwa dugaan mereka itu tidak benar,” panjang‑lebar Kak Dulman mencoba menasehatiku.
Tapi aku tak begitu mempedulikan dia. Aku asyik memandangi sebuah potret, saat aku bersama Novi bergandengan mesra di tepi pantai Batakan. Perlahan tanganku meraih spidol merah yang tergeletak di atas meja. Lalu mencorat‑coret potret itu.
“Aku cuma tidak ingin melihatmu rapuh menghadapi kenyataan. Apalagi sampai menelantarkan kuliah. Ingat, orangtuamu di kampung berharap kamu jadi orang yang bisa dibanggakan. Maka, jangan kecewakan mereka,” kata Kak Dulman.
***
Telepon berdering, dari perawat rumah sakit. Sudah biasa malam‑malam begini aku mendadak dibangunkan, karena ada pasien yang butuh pertolongan segera.
Empat tahun setelah putus dengan Novi, dan berkat semangat yang dipompakan Kak Dulman, akhirnya aku berhasil jadi dokter. Bahkan lewat perantara dia, aku dapat istri salehah, yang kini telah memberiku dua orang putra.
Kak Dulman juga yang membukakan mataku untuk hidup realistis. Agar tidak melulu menyandarkan nafkah dari penghasilan sebagai seniman. Harus ditopang dengan profesi lain, sesuai disiplin ilmu yang kugeluti. Seperti Mira W dan Marga T, tetap menulis novel di sela‑sela kesibukan mereka sebagai dokter.
Setelah pamit pada istriku, aku segera meluncur ke rumah sakit. Di depan ruang UGD tampak pria dan wanita paroh baya panik. Begitu melihatku, mereka langsung menyongsongku. “Dok, cepat selamatkan anak kami, Dok…”
Tanpa kelewat memperhatikan mereka, aku langsung menerobos ke dalam ruangan.
“Ini Dok, wajah korban habis disiram suaminya dengan cuka getah,” jelas perawat.
“Sudah diberi suntikan penghilang rasa sakit?”
“Sudah, Dok!”
“Cepat bawa segera ke kamar operasi! Siapkan pula semua peralatan!”
Aku lalu keluar, menemui orangtua korban.
“Putri Bapak malam ini juga harus dioperasi. Sementara menunggu, Bapak bisa selesaikan administrasi di depan sana. Eiit, ngomong‑ngomong Bapak siapa ya? Rasanya saya pernah kenal.” Aku mencoba mengingat‑ingatnya.
“Saya Wibowo.”
“Dan, wanita itu?”
“Novita!”
Duugh! Aku tak bisa menyembunyikan rasa keterkejutanku.
“Saya Hermawan, Pak!”
“Nak Hermawan?! Kok bisa di sini,” katanya nyaris tak percaya
“Iya!”
“Maafkan sikap saya dulu yang merendahkan Nak Hermawan.”
“Tak apa‑apa. Bahkan saya berterima‑kasih sama Bapak. Mungkin jika tidak diperlakukan kasar, saya tidak jadi dokter seperti sekarang,” ucapku sambil menepuk pundak mantan calon mertuaku itu.
Setelah itu, aku pun bergegas masuk ke ruang operasi.
Entah bagaimana sikap Novi, kalau tahu bahwa dokter yang menanganinya adalah aku!
Oleh: Aliansyah Jumbawuya
Sesaat, suasana kelas berangsur tenang. Padahal tadi bisingnya bukan main.
“Anak-anak, tolong topinya dilepas. Sebentar lagi kita akan menyambung cerita kemarin,” ujar Bu Azizah di depan kelas 1 SD Tunas Harapan.

“Kira-kira siapa yang masih ingat, sampai di mana cerita Ibu kemarin?”
“Ketika Zubair bin Awwan dikurung di kamar berasap, Bu!” sahut seorang anak di barisan depan.
“Betul. Pintar, kau Ivanda! Sekarang mari dengar baik-baik kelanjutannya,” kata Bu Azizah.
Zubair disiksa oleh pamannya sendiri karena ia ketahuan masuk Islam. Mereka tidak senang melihat siapapun yang menjadi pengikut Muhammad SAW. Karena itu, Zubair dipaksa untuk kembali menyembah berhala. Tapi Zubair bukannya tunduk pada perintah itu, malah ia dengan berani mengucapkan ikrar dua kalimah syahadat di depan kaum Quraisy tersebut. Akibatnya, azab yang diterima Zubair semakin berat. Tubuhnya dicambuk bertubi-tubi, sampai berdarah. Tapi Zubair tidak sekali-kali berniat meninggalkan agama Islam yang baru dianut, karena ia sangat yakin bahwa hanya Allah yang patut disembah…
Anak-anak tampak serius mengikuti cerita Bu Azizah.
“Bu Guru, kenapa sih Zubair tak pernah ketinggalan ikut berperang? Bukankah itu akan membahayakan nyawanya?” celetuk seorang anak.
“Orang Islam yang mati berjuang di jalan Allah itu, balasannya tak lain adalah surga. Sedangkan di surga kehidupannya serba nikmat. Apapun yang kita minta, tinggal nyebut, saat itu juga dikabulkan Allah. Makanya Zubair bin Awwam tak pernah takut mati.”
“Kalau begitu saya akan banyak-banyak makan. Biar cepat besar. Supaya bisa ikut memerangi musuh-musuh Islam,” tukas Bobi yang bertubuh tambun.
“Wuuhh… Memang udah bawaannya pada suka makan, Bu Guru,” sahut anak-anak ramai.
Bu Azizah tersenyum.
“Sudah! Sudah! Perlu anak-anak ketahui, bahwa untuk berjuang di jalan Allah tidak mesti menunggu sampai dewasa. Atau ikut mengangkat senjata. Yang namanya jihad itu bermacam-macam. Seperti kalian ini, kalau rajin belajar itu sudah termasuk jihad.”
Anak-anak pun manggut-manggut. Hanyut oleh cerita Bu Azizah.
Tiba-tiba lonceng sekolah berdentang. Jam pelajaran berakhir. Suasana berubah jadi riuh. Bu Azizah segera mengingatkan, agar anak-anak berdoa bersama. Sebelum pamit satu per satu sungkem mencium tangan.
Di kelas tinggal Bu Azizah. Ia masih duduk di belakang meja. Tak terasa, hampir tiga tahun sudah ia mengajar di SD Tunas Harapan. Dan, ia amat menikmati profesi sebagai pendidik. Setiap berhadapan dengan anak-anak yang masih polos dan lucu-lucu, ia merasakan suatu kegembiraan tersendiri.
Mungkin karena ia tak punya anak. Lebih enam tahun sudah Azizah berumah tanggga, namun belum juga dikarunia seorang anak. Berbagai ikhtiar telah dicoba, tapi tak ada tanda-tanda kehamilan. Azizah percaya Allah pasti punya rencana lain atas dirinya.
Kalau tak salah, sudah dua pekan ini Azizah tidak berkunjung ke tempat Della, adik tunggalnya. Ia mulai kangen. Terutama dengan Dion, keponakannya. Karena itu, ia berencana akan langsung ke sana.
***
Dion tampak asyik bermain di lantai, tengkurap mengotak-atik mobil tank. Sampai-sampai anak itu tak tahu dengan kedatangan tantenya. Namun, begitu melihat Azizah tak jauh berdiri di hadapannya, serta-merta ia menghambur ke pelukan wanita itu. Azizah cepat merangkul keponakannya. Setelah puas baru ia melepaskan bocah berbaju ala tentara itu.
“Tante jahat ih. Lama nggak ke tempat Dion,” rajuk bocah itu kemudian.
“Maafin Tante yaa. Kebetulan Tante lagi sibuk,” bujuk Azizah.
Dion berlari, mengambil barang mainannya.
“Dion baru mau maafin Tante, kalau tante udah dihukum.”
“Kok begitu sama…”
Belum selesai Azizah menuntaskan kalimatnya, tiba-tiba Dion mengarahkan pistol-pistolan air ke arahnya. Cruut! Cruutt! Tak pelak, sebagian jilbab dan baju kurung Azizah jadi basah.
“Eh Dion, nggak boleh nakal begitu dong sama Tante!” tegur Della yang melihat ulah anaknya.
Dion segera berlari, tertawa-tawa kegirangan.
Azizah maklum. Bukan sekali ini ia dijahili Dion. Bocah itu memang sangat agresif, tak bisa diam.
Azizah beranjak menuju kamar bermain Dion. Matanya mengitari seisi ruangan. Masih seperti dulu. Hampir tak ada yang berubah. Televisi, mesin playstation, kaset-kaset CD Shinchan, komik-komik Flash Gordon, Dragon Ball, tampak berhamburan. Juga poster-poster Captain America, Robot Cup, Spiderman, Batman, Superman, dan tokoh-tokoh kartun super hero lainnya, terlihat berjejer di dinding.
Bahkan Dion punya beberapa kostum super hero tersebut yang hampir setiap hari dipakainya bergantian. Della dan suaminya, kentara sekali memanjakan anak itu.
“Della, kenapa anakmu seperti dibiarkan menganderungi tokoh-tokoh kartun yang sebetulnya tidak mendidik bagi perkembangan mental dia. Kalau setiap hari ia direcoki dengan citra bahwa pahlawan itu ialah orang yang mampu mengalahkan lawan dengan cara kekerasan, maaf, lambat-laun saya khawatir Dion akan tumbuh menjadi anak yang brutal,” tegur Azizah pada adiknya suatu hari.
“Namanya juga anak-anak, Mbak. Nanti kalau sudah besar, dia juga akan mengerti mana yang baik buat dia. Kita jangan terlalu memaksakan kehendak kita, nanti dia malah berontak,” sergah Della.
“Kenapa Dion tidak diarahkan saja untuk mengenal figur-figur tauladan sahabat Nabi seperti Abdurrahman bin Auf, Bilal bin Rabah, Zaid bin Tsabit, Khubaib bin ‘Adi yang gagah berani, atau Arkasyah yang cerdik. Dengan begitu, mudah-mudahan kelak ia bisa mewarisi akhlak mulia para sahabat tersebut,” tandas Azizah.
“Repot, Mbak. Cari komik atau buku cerita tentang sahabat Nabi aja sekarang rada susah. Belum lagi harus menemani Dion membaca cerita dimaksud. Mendingan, biar aja ia menyukai tokoh-tokoh super hero itu, dan memberinya keleluasaan untuk berfantasi. Kan, Mbak sendiri tahu kalau saya ini sibuk ngurus butik,” cecar Della.
Azizah cuma bisa mengangkat bahu. Toh ia sudah berusaha mengingatkan.
***
Della asyik mengerjakan dekorasi. Ia ingin butiknya terlihat berkelas. Dan pelanggan kian bertambah. Untuk mendandani ruangan butiknya, ia tak cuma melibatkan tenaga ahli, bahkan Della tak segan- segan turun tangan langsung.
Tiba-tiba dari arah loteng terdengar teriakan Dion.
“Maaaa, lihat Dion dong! Dion ingin jadi Superman! Terbang tinggi, biar bisa nangkap burung, layang-layang…”
Tapi Della tak begitu mengacuhkan suara itu. Ia tetap asyik dengan pekerjaannya, memindahkan pot bunga plastik.
“Maaa…. lihat Dion terbang Maaa…”
“Bu, Bu cepat lihat Bu. Itu anak ibu berdiri di puncak tangga. Ia sepertinya bersiap-siap untuk melompat,” kata seorang waria tergopoh-gopoh memberitahu Della.
Della agak ugah-ugahan menilingkan kepalanya. Tapi begitu melihat Dion, ia pun terperangah. Mulutnya terganga. Sebelum ia sempat mencegah, Dion keburu melompat.
Aaaaaaaaaaaa….
Bruuuk!
Bocah itu jatuh berdebam di lantai.
Della terpekik. Begitu pula dengan Susy, waria itu spontan menutup mulut dan mukanya. Tak berani melihat pemandangan yang mengerikan itu. Dion yang mengenakan kostum Superman terkapar di lantai, sepasang matanya mendelik dengan mulut penuh darah.
Della berteriak histeris.
Tetangga pun berdatangan. Segera memberi pertolongan. Setelah itu, Della tak ingat apa-apa lagi. Pingsan.
***
Sudah tidak hari ini Dion belum juga sadarkan diri. Keadaannya benar-benar kritis. Della tak mau jauh-jauh dari sisi ranjang, terus memandangi lekat-lekat anaknya yang tengah dirawat. Sebuah slang yang dihubungkan dengan tabung oksigen menempel di hidung bocah itu. Di sampingnya, Azizah dengan sabar menemani.
“Sabar, Dik. Allah tengah menguji kita. Banyak-banyaklah berdoa, mudah-mudahan Dia masih diberi umur panjang buat Dion. Juga tetap mempercayaimu untuk memelihara amanah-Nya,” Azizah mencoba membesarkan hati adiknya.
“Ini salah saya Mbak, karena telah mengabaikan nasehat Mbak,” tukas Della sesungukan.
Sementara di hadapannya Dion tengah berjuang keras melawan maut.
***
Dibawah sinar lampu 20 watt aku serius membaca diktat. Karena besok pagi final test lisan Ilmu Negara. Tak kupedulikan suara riuh di luar, teman‑teman yang bermain gitar.
Sebetulnya, aku paling alergi dengan yang namanya menghafal. Mahasiswa kurang dilatih berpikir kritis, seolah dikondisikan seperti disket yang bisanya sekadar mengcopy, menggugu beragam teori yang dijejalkan. Tapi mau apa lagi, dosen bersangkutan punya otoritas penuh!
Kriiingggg…. Dering telepon mengagetkanku. Aku segera beranjak, mengangkat gagang telepon.
“Assalamualaikum.”
“Wa’alaikum salam,” sahutku langsung mengenali suara Ayah di seberang. Sesaat ia sempat berbasa-basi, menanyakan keadaanku. Tapi, instingku mengatakan ada yang kurang beres. Ternyata dugaan tak meleset.
“Begini, Ridwan. Sejak kemarin siang suhu tubuh ibumu mendadak naik. Saking kepanasan, hampir seharian ia bolak‑ balik menyiram badannya di kamar mandi. Bahkan sempat pingsan. Sekarang ini ibumu sudah siuman, tapi kadang ngomongnya nyeracau. Rencana, besok pagi akan dibawa ke rumah sakit. Sebaiknya sih kamu pulang!” kata Ayah.
Aku terhenyak. Naluriku mengatakan sakit ibu pasti parah. Jika tidak, mana mungkin Ayah memerintahkan demikian.
Sesaat aku tertegun. Tak bisa lagi berkonsentrasi pada isi diktat.
Ketika bulan lalu aku pulang kampung, kondisi ibu tampak bugar, tak ada gejala‑gejala sakit.
Waktu itu, saking asyiknya menonton film India aku sempat berlambat‑lambat untuk shalat Jum’at. Satu kali ditegur ibu, aku tetap tak beranjak dari depan TV. Dua kali, juga begitu. Soalnya keburu tanggung, lantaran alur ceritanya hampir mendekati klimaks. Padahal sayup‑sayup suara adzan telah terdengar.
“Kalau kamu tidak juga berangkat ke masjid, lebih baik bakar saja buku‑buku di kardus itu. Apa guna dikuliahkan, kalau masih mengabaikan kewajiban agama,” tandas ibu emosional. Sebelumnya, tak pernah kulihat ibu semarah itu.
Aku gelagapan. Disergap rasa bersalah. Aku langsung bergegas, mengambil air wudhu. Kemudian menuju masjid.
Ingat itu, aku merasa menyesal.
Usai menerima kabar buruk tersebut, aku jadi gelisah. Malam itu juga aku memasukan beberapa lembar pakaian ke dalam ransel. Rencanaku, begitu selesai ujian langsung ke terminal pal 6 Banjarmasin.
Tapi begitu aku sampai ke kampus, katanya tes ditunda jadi besok. Aku kasak‑kusuk. Kucari dosen bersangkutan. Ketika ketemu, kuceritakan keadaanku. Lalu minta kebijaksanaan dia untuk mengujikuku hari itu juga. Tapi dia tak mau kompromi. Karuan aku jadi kesal, setengah meruntut dalam hati.
Sejenak aku terjebak dalam kebimbangan. Sepertinya, aku tak kuasa lagi menunda kepulanganku. Bayangan ibu terus berkelebat. Lalu, kubulatkan tekad: pulang! Biar saja untuk mata kuliah itu aku bakal dikasih nilai E. Toh semester depan masih bisa mengulang. Tapi, kalau aku tak sempat bertemu ibu, tentu akan menyesal seumur hidup.
***
Setiba di RSU Pembalah Batung Amuntai, aku bergegas ke ruangan ibu dirawat. Tampak kamar itu dipenuhi orang‑ orang yang tengah membezok. Ayah dan sanak keluarga lain menyambutku. Katanya, barusan ibu kehilangan kesadaran lagi.
Aku duduk di samping dipan, menunggui ibu yang terbujur sekarat. Tak kuindahkan saran Wak Haji yang menyuruhku untuk istirahat. Aku tidak akan beranjak dari sisi ibu sebelum melihatnya siuman.
Perlahan, tangan ibu bergerak lemah. Tak lama kemudian matanya ikut terbuka. Aku segera mendekatkan wajahku ke pipinya.
“Bu, ini Ridwan,” bisikku ke telinga ibu.
Ibu menatapku lekat‑lekat. Kucium jemari tangannya.
“Kapan datang?” suara ibu terbata‑bata, terhalang oleh pembengkakan di lehernya.
“Tadi siang, Bu!”
“Mana Aina?” sambil matanya mencari‑cari sosok si Bungsu.
“Barusan pulang. Tadi dia lama di sini, waktu ibu tak sadarkan diri.”
Berangsur ibu menyandarkan tubuhnya ke punggung dipan. Hampir bertepatan dengan kedatangan dokter.
“Ibu jangan banyak bergerak dulu,” nasehat dokter. Pria berseragam putih‑putih itu mengeluarkan stetoskop. Mendiagnosa kondisi ibu. Sekilas kulihat jidatnya berkerut. Dari ekpresi wajahnya aku menerka penyakit ibu cukup kronis. Tapi dokter itu tak banyak memberi keterangan. Aku penasaran. Segera kucecar hingga ke ruang kerjanya. Ternyata dugaanku tak meleset, ibu mengidap hipertensi, diabetes, dan migren.
Dalam keadaan tak berdaya, ibu tak henti‑hentinya melafazkan zikir. Kadang sambil menahan sakit, ibu mengucap Laa haula wala quwata ilabillah.
Seminggu sudah keadaan ibu tak juga menunjukkan tanda‑tanda membaik. Bahkan ketika butuh insolin, apotek rumah sakit tersebut tidak punya persediaan.
Maka, kuusulkan agar ibu segera dirujuk ke rumah sakit di Banjarmasin. Karena di sana tenaga medis dan persediaan obatnya lebih lengkap.
Saat kami berunding, sepupuku nyeletuk, “Apa putri beliau di Mekkah sudah dikabari?”
“Jangan! Nanti dia jadi kepikiran. Sekarang, tugas utamanya adalah meladeni suami. Suaminya lebih berhak atas dia,” cegah ibu. Kami semua terkejut, karena semula mengira ibu tengah tertidur.
***
Dua hari di RS Islam Banjarmasin, keadaan ibu terlihat mulai membaik. Meski kadang di waktu‑waktu tertentu sakitnya kumat. Malah ibu sempat berujar, mungkin besok ia sudah bisa pulang.
Saat Ayah menjemur pakaian, ibu mengajakku bicara. “Kalau nanti terjadi apa‑apa dengan ibu, tolong jaga Aina baik‑baik. Dia memang agak manja. Tidur saja biasanya minta dikipasi.”
Duuugh. Jantungku berdegup kencang.
“Kan ada ibu?” sahutku.
“Ibu sekadar berwasiat. Siapa tahu umur ibu pendek. Siapa lagi yang akan melindungi dia kalau bukan kamu.”
“Tapi kesehatan ibu kan udah membaik,” kataku mencoba menutupi rasa was‑was.
Ibu selintas hanya tersenyum. Lalu menyuruhku istirahat. Sambil rebahan di kasur, aku menerawang. Berusaha mecerna kata‑kata ibu barusan. Saat kulirik, tampak ibu mulai terpejam dengan nafas teratur.
Untuk mengisi waktu luang, aku membaca buku “Sedangkan Tuhan Pun Cemburu”. Lagi asyik‑asyiknya menekuri buku karangan Emha Ainun Nadjib tersebut, tiba‑tiba ibu memanggilku. Suaranya terdengar sayu.
Aku cepat mendekat. Spontan tangan kanan ibu merangkul leherku, mendekatkan ke ujung bibirnya.
“Mari iringi ibu. Ashaduanla ilahaillah wa ashaduanna Muhammadar Rasulullah… Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar…”
Aku terus mengikutinya. Hingga suara ibu tak terdengar lagi. Sementara tangannya semakin erat merangkulku, sehingga aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Beberapa saat kamar No. 46 kelas Ibnu Sina disekap keheningan. Sampai‑ sampai leherku pegal. Tapi aku tak berani memindahkan tangan ibu dari leherku.
Ketika Abah masuk kamar, spontan bertanya: “Ada apa Ridwan?”
“Nggak tahu. Ibu sehabis ngajak sama‑sama membaca syahadat…” Sebelum kalimatku rampung, Ayah telah memindahkan tangan ibu dari leherku.
Kami terkejut. Ibu terbujur kaku. Nafasnya tak terdengar. Aku cepat memencet bel, memanggil perawat. Dengan cekatan mereka memeriksa getar nadi di lengan ibu, juga kelopak matanya.
“Innalillahi wa innalillahi raziun …” Sepotong kalimat yang meluncur dari bibir perawat itu bagiku bagai petir di siang bolong. Aku terhenyak. Diam terpana.
***
Malam ini si Bungsu tidur seranjang denganku. Dia minta dikipasi. Sebentar saja aku menghentikan ayunan kipas di tanganku, matanya yang terkantup (dan kukira sudah tidur) serta merta terbangun. Ia spontan merengek minta dikipasi lagi. Berjam‑jam baru ia benar‑benar tertidur pulas.
Saat itulah kusadari, betapa besar arti seorang ibu. Karena aku yang baru sekali ini menina‑bobokan si bungsu sudah merasakan pegal-pegal. Bagaimana dengan ibu yang dulu setiap malam mengeloninya.
Di usianya yang 10 tahun, ternyata Aina cukup mengerti bahwa mulai saat ini ia takkan pernah lagi berjumpa dengan ibu. Kecuali, barangkali di dalam mimpi.
“Kak, Pian jangan dulu balik ke Banjarmasin. Kalau Pian nggak ada, ulun tidur dengan siapa?” cetusnya tadi saat minta ditemani tidur.
Sejurus kemudian, aku pun teringat wasiat terakhir ibu agar selalu menjaga si Bungsu. Lalu, sanggupkah aku memenuhi amanah tersebut?