Padepokan Pena - Gemar Membaca Giat Menulis

Bachtar Suryani: Berdakwah Lewat Puitisasi Alquran | Agu 15th 2008

Karya-karya puitisasi Alquran Bachtar Suryani sering dibacakan dalam perlombaan MTQ, acara pelantikan pejabat, waktu pemberangkatan naik haji, akad nikah, bastasmiah, peringatan Maulid Nabi, Isra Mir’aj, dan lain-lain.

Pria kelahiran Kandangan, April 1940 ini mengaku banyak menulis puitisasi Alquran karena diperlukan oleh LPTQ tiap tahun untuk keperluan perlombaan baik di tingkat kecamatan maupun nasional. Dan, itu berlangsung rutin.

“Apa yang mereka perlukan ternyata seperti puisi tentang Maulid Nabi dalam sastra kita sulit ditemui. Mau tidak mau saya mesti membuatnya. Hampir semua tema peringatan hari besar Islam saya buat,” ujar Bachtar Suryani.

Menurutnya Alquran itu isinya untuk didakwahkan kepada masyarakat. Namun, tidak semua orang mengerti dengan bahasa Arab. Karena itu, bagi kalangan peminat seni, ia berinisiatif mengarang puitisasi Alquran.

“Alhamdulillah, ternyata banyak disukai oleh generasi muda. Bukan hanya di Kalsel, tapi di Kalteng dan Kaltim karya saya juga sering dijadikan bahan perlombaan,” ungkap Bachtar Suryani kepada Aliansyah dari Serambi UmmaH.

Motivasi dia menulis puitisasi Alquran, karena secara nasional belum ada buku puitisasi Alquran. Karena itu, tambahnya, ia mencoba menulisnya.

Ketika masih aktif dalam kepengurusan LPTQ Kalsel (1982 – 1995), ia sempat memprogramkan bahwa setiap qari/qariah usai membaca Alquran maka disusul oleh saritilawah. Karena tidak semua orang mengerti bahasa Arab. Bahkan di antara qari/qariahnya itu sendiri mungkin ada yang tidak mengerti.

Ini sempat berjalan tiga kali, ketika MTQ di Amuntai (1983), MTQ di Barabai (1985), dan MTQ di Banjarmasin (1987).

“Sayangnya terakhir ini program tersebut terhenti. Dan, semua itu sangat tergantung kepada para pengurus LPTQ sekarang,” gugatnya bernada sesal.

Bachtar Suryani sering pula diminta menjadi juri MTQ dalam bidang puitisasi, khatil Quran, syahril Quran, dan fahmil Quran. terakhir dalam MTQ Nasional di Palangka Raya, Kalteng, lalu ia ditunjuk sebagai salah seorang offesial kafilah Kalsel.

Memilih Jalur Seni

Dia mengaku menulis sejak usia 15 tahun. Bermula dari kesenangan membaca, Bachtar Suryani akhirnya terobsesi untuk belajar mengarang. Kala itu, sekitar tahun 1960-an penerbitan di Banjarmasin masih minim. Sehingga ia mempublikasikan karya-karyanya ke media nasional seperti majalah Teras, Panji, dan Mingguan Yogya.

Dalam proses kreativitas, awalnya Bachtar Suryani juga bersentuhan dengan tema-tema percintaan remaja (sebagaimana terhimpun dalam kumpulan cerpen “Album Kenangan”). Lama-kelamaan kemudian beralih kepada puitisasi Alquran karena mengandung muatan dakwah dan terdapat nilai ibadah.

Menurut Bachtar Suryani, sampai kini lebih dari 200 puisi sudah yang dia hasilkan. Umumnya sarat dengan nuansa religius. Ini sesuai dengan latar-belakang pendidikannya, Fakultas Dakwah IAIN.

“Berdakwah itu kewajiban setiap muslim. Disesuaikan dengan kemampuan kita. Waktu menulis puitisasi Alquran, pertama dimotivasi oleh keinginan untuk berbuat apa yang bisa. Karena tablik akbar bukan porsi saya, ya lewat puisi,” tegasnya.

Khusus untuk puitisasi Alquran terdapat dalam antologi “Cahaya” (Sari Tilawah Alquran), “Perarakan Senja” (puisi-puisi zikrul maut), dan “Bias Alquran dalam Perjalanan Panjang”.

Agar karyanya itu tidak melenceng, atau tidak menuai gugatan, sebelum menggarap puitisasi berkenaan dengan tema peringatan hari besar Islam, ia terlebih dahulu mempelajari sirath Islam. Juga Bachtar Suryani sering bertanya dan minta masukan kepada qari/qariah, kalau mereka di undang pada acara-acara tertentu biasanya surah apa yang dibaca.

Misalnya untuk tasmiyah pemberian nama anak mengacu pada surah Maryam: 1-11, Maulid Rasul mengacu pada Al Ahjab: 21-27, Isra Miraj mengacu pada surah Al Isra, akad nikah mengacu pada surah An-Nisa: 1-5, dan lain-lain.

“Lagipula dalam puitisasi Alquran itu yang kita ambil garis besarnya saja. Kemudian saya rangkai dan ungkapkan dengan bahasa puisi. Jadi, bukan mengubah terjemahan ayat kata per kata,” tandas Alumni IAIN Antasari Banjarmasin (1975) ini.

Pada umumnya, sebelum menyelenggarakan puitisasi Alquran Bachtar Suryani berkonsultasi dulu dengan MUI dan tokoh-tokoh agama. Lembaga LPTQ juga menyetujui. Demikian pula kabid penerangan kanwil Depag, sehingga ia tidak perlu lagi merasa ragu untuk menyebar-luaskan karya puitisasi Alquran itu.

“Jadi saya tidak pernah kesandung. Kalau ada yang membantah kembali silakan konfirmasi dengan pihak yang menyetujui. Karena itu semacam legitimasi,” katanya.

Penyiar Radio

Setelah mengajukan pensiun tahun 1996 dari Kanwil Depag Kalsel, di usia senjanya ini Bachtar Suryani masih tekun menulis.

Sesekali ia juga menulis naskah drama islami untuk pentas dan siaran TVRI. Di samping itu ia juga tetap diminta mengisi siaran di RRI Banjarmasin dalam acara Untaian Mutiara yang mengupas seputar ilmu dan seni dan Baturai Pantun.

“Kenapa sampai sekarang saya tetap menyanggupi untuk mengasuh acara tersebut, karena Baturai Pantun itu selain berisi lelucon juga mengandung nasehat dan dakwah agama,” ujar pemegang 93 buah piagam penghargaan ini.

Di Radio Sabilal Muhtadin Banjarmasin ia juga diminta siaran dakwah dalam nuansa seni setiap hari Ahad pukul 16.30 wita. Dengan mengutip Alquran, hadis, maupun kata-kata mutiara ia ingin mengarahkan pendengar kepada pemahaman agama.

Menurutnya, kalau ulama itu berdakwah di masjid atau mushola yang mengikuti ceramah itu jumlahnya relatif terbatas. Tapi, kalau berdakwah melalui media cetak dan elektronik maka akan lebih banyak yang menyimak. Termasuk mereka yang non-muslim.

“Karena kelompok pengajian atau pesantren sebaiknya punya radio pemancar, seperti KH. Akhmad Bakeri. Bahkan Aa Gym sudah punya program televisi,” tandas Bachtar Suryani.

Selain itu, hingga kini Bachtar Suryani juga aktif sebagai tenaga pengajar (dosen tidak tetap) di IAIN Antasari dan FISIP Uniska. Sedangkan untuk sosial kemasyarakatan ia dipercaya menjabat Ketua I Balakar, persatuan pemadam kebakaran.

Prestasi di bidang seni, tahun 1992 pernah menerima hadiah seni sebagai seniman teladan dari gubernur Kalsel. Ia juga mendapat penghargaan satya lancana karya satya pada tahun 1995 sebagai pegawai negeri teladan dari presiden RI.

aliansyah jumbawuya


Posted in Sosok

Tags:

No Comments Yet »

Ada yang ingin disampaikan?RSS Komentar URI Lacak Balik