Padepokan Pena - Gemar Membaca Giat Menulis

Cahaya di Ujung Labirin

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Aaaakkghhh….

Lelaki itu terpekik. Sempoyongan. Sambil tangannya terus memegangi gagang belati yang menancap tepat di lambung perutnya. Dari mulutnya mengalir lenguh panjang, menahan perih luka. Matanya tajam membeliak, seolah mengisyaratkan ketidak-percayaan dia atas apa yang menimpa dirinya. Tapi sebelum ia sempat berbuat sesuatu, tubuhnya keburu ambruk di lantai, bersimbah darah.

kompas.com

kompas.com

Sementara itu, di sudut ranjang seorang wanita yang pakaian dan rambutnya acak-acakan, cuma bisa terperangah bercampur panik. Muka pucat pias, persis ikan kena pepes. Sejurus kemudian, setelah mengerti keadaan ia pun spontan tergopoh-gopoh berlari, meloncat lewat jendela.

“Tolonggg… Tolonggg!!!” teriak wanita itu membuat geger para penghuni gang.

Sedangkan Gito masih terduduk lemas di sisi pintu. Tangannya meremas-remas rambutnya. Ada bilur penyesalan menggurat di wajahnya. Gito pun tak habis pikir, kenapa ia bisa membunuh ayahnya sendiri.

Ketika warga mulai berdatangan, Gito tetap terpasak di tempatnya semula. Saat didesak dengan terus-terang Gito mengakui bahwa dialah yang menyebabkan ayahnya tewas. Orang-orang kontan jadi riuh. Suara-suara bernada cemooh mengalir deras, dialamatkan pada Gito.

Ketika digelandang ke pos polisi terdekat, Gito sama sekali tidak melakukan perlawanan. Demikian pula saat diinterogasi, sedikit pun ia tidak mengelak. Sehingga petugas pengadilan tidak kesulitan untuk menjeratnya dengan pasal pembunuhan.

***

Tak lama setelah sang sipir menjebloskannya ke sel penjara, ia langsung disambut tatapan penuh permusuhan dari para penghuni terdahulu. Lagak mereka bagai kucing baru ketemu cecurut.

“O, ini tuh yang menjagal bapaknya sendiri. Kiraan tadi tampangnya sangar, tak tahunya cuma bocah kemarin sore,” celetuk si Tato Jangkar.

Gito acuh saja dengan komentar itu.

Saat ia akan duduk mendelongsorkan kakinya yang pegal, tiba-tiba ada yang mencekal tangannya. “Eeeit, tunggu dulu! Kalau mau apa-apa disini musti permisi dulu! Agaknya kurang ajar juga nih anak. Ayo, kawan-kawan biar kita kasih sedikit pelajaran,” ajak Si Pipi Codet.

Berikutnya, Gito telah dikeliling kawanan napi itu. Tiba-tiba si Rambut Gondrong langsung mencecarnya dengan pukulan. Gito tak sempat mengelak. Ia terjengkang. Sebelum Gito sempat berdiri, dari belakang sudah ada yang memplenter lehernya, diikuti dengan pukulan beruntun dari berbagai arah. Ia tak berkutik. Cuma bisa mengaduh. Seluruh sendi tubuhnya bagai dipeloroti. Matanya berkunang-kunang. Berangsur gelap. Tapi sebelum ia benar-benar hilang kesadaran, sayup-sayup masih sempat didengarnya suara penuh wibawa itu.

“Hentikan! Ayo, bubar!”

Setelah itu, Gito tak ingat apa-apa lagi. Ia pingsan.

***

Waktu Gito membuka mata, orang pertama yang ia lihat adalah lelaki berjenggot lebat yang juga punya tanda dua titik hitam di jidatnya. Melihat Gito berusaha bangun sambil meringis menahan sakit yang masih mengelayuti sekujur badannya, lelaki itu cepat membantu.

“Terimakasih, Pak!”

“Iya. Kalau masih sakit jangan dipaksa untuk bergerak,” sarannya. “Ini minum. Biar tenaga anak segera pulih.”

Sekilas Gito melihat napi-napi lain hanya memandanginya. Sepertinya mereka segan betul berurusan dengan lelaki yang ada di depanku ini, tebak Gito.

Setelah membiarkan Gito bersandar di dinding, lelaki itu agak menjauh darinya. Lalu duduk bersila di atas sajadah. Tunduk sambil menjentik-jentikkan biji tasbih di tangannya. Mulutnya komat-kamit melafazkan sesuatu.

Baru saat adzan berkumandang ia berhenti. Dilanjutkan dengan shalat Dzuhur.

Setelah itu baru ia mendekatiku.

“Tidak ingin shalat?” cecarnya.

Gito menggeleng.

“Apa karena tubuh anak masih sakit-sakitan?”

Gito mengangguk lemah. Padahal dalam hati ia bergumam, apakah shalatku akan diterima. Setelah aku membunuh bapakku? Rasanya dosaku terlalu besar untuk mendapatkan ampunan Tuhan.

“Ya, sudah. Sekarang biar istirahat dulu,” tukas lelaki itu membuyarkan lamunan Gito.

***

Hampir sebulan sudah Gito mendekam di rumah tahanan. Ia banyak diam. Sering termenung sendiri. Dengan ustadz Hidayatullah yang banyak membantunya selama ini pun Gito masih agak tertutup. Apalagi dengan napi-napi lain.

Suatu malam ia mengingau. Mulutnya terus menceracau. Berteriak-teriak histeris, minta ampun. Ketika terbangunkan, sekujur tubuh Gito dipenuhi keringat. Napasnya tersengal-sengal seperti orang habis diuber-uber. Sinar matanya menyiratkan rasa bersalah.

Keesokan pagi, ketika mereka membersihkan rumput, Ustadz Dayat segera mendekati Gito. Mengajak bicara, “Agaknya ada sesuatu yang amat mengganjal di hati nak Gito. Dan itu akan terus mengusik ketentraman jiwa, selama tetap dibiarkan bercokol di dada. Sebaiknya tak usah disembunyikan. Kalau Nak Gito percaya dengan saya, saya siap menjadi pendengar. Mungkin dengan begitu Nak Gito nantinya bakal merasa lega.”

Sejenak Gito terdiam. Masih ragu untuk mengutarakan isi hatinya.

“Kalau Nak Gito tidak mau, ya nddak apa,” tukas Ustadz Dayat seraya menjauh.

“Tunggu dulu Ustadz,” cegah Gito. “Ustadz, apa orang yang punya dosa segunung masih berhak mendapatkan ampunan Tuhan?”

“Memangnya kenapa?” sahut Ustadz sambil duduk di sisi Gito.

Tak lama kemudian mengalir deras cerita dari mulut pemuda tinggi kurus itu.

Siang itu, dibawah terik matahari yang menyengat ubun-ubun kepala ia mengamen. Tapi penghasilannya cuma sedikit. Padahal pihak rumah sakit mendesak Gito untuk melunasi perawatan emaknya yang kena tipus.

Sedangkan bapaknya sudah hampir empat tahun ini tak mau peduli keadaan keluarga. Bisanya mabuk-mabukan, marah-marah dan main perempuan. Sejak di-phk di perusahaan plywood, lelaki itu seperti putus asa. Menganggur. Terpaksa emaknya banting tulang menjadi tukang cuci.

Waktu Gito pulang, sampai di depan pintu kamar didengarnya suara orang mendesah. Gito pun curiga. Saat diintip lewat lobang kunci, dilihatnya bapaknya tengah bergumul dengan perempuan lain. Tanpa pikir panjang ia langsung ke dapur, mengambil belati. Lalu dengan emosi mendidih ia dobrak pintu kamar itu. Belum hilang rasa kaget bapaknya, tahu-tahu Gito sudah menghujamkan belati ke perut lelaki itu, hingga meregang nyawa.

“Begitulah Ustadz, kenapa saya sampai membunuh Bapak sendiri,” ujar Gito sambil menyusut airmatanya. “Saya betul-betul menyesal, Ustadz! Tapi semua itu sudah ada gunanya. Menangis darah pun Bapak saya tidak mungkin bisa dihidupkan lagi. Saya sama sekali tak pernah membayangkan bakal jadi pembunuh. Apalagi, setelah kejadian itu, katanya Emak saya sempat shok. Tak lama kemudian, mungkin karena menangggung derita batin yang berat, ia juga meninggal. Sekarang, entah bagaimana nasib adik saya satu-satunya, Sutinah. Saya telah berlaku durhaka, Ustadz…”

Sampai disini, Gito kembali tak kuasa membendung tangis. Ustadz Dayat segera mengelus punggung Gito, mencoba meredakan kegelisahan pemuda itu.

Setelah dilihatnya Gito mulai agak tenang, barulah ia angkat bicara.

“Begini, Nak Gito. Ada sebuah kisah yang barangkali bisa kamu jadikan ikhtibar. Suatu hari seorang begal yang telah membunuh 99 jiwa ingin bertobat. Dia mengembara kemana-mana, mencari siapa saja yang bisa membimbing ia ke jalan yang benar. Ketika sampai dihadapan Rahib, dipaparkanlah segala kekejamannya di masa lalu. Mendengar itu si Rahib langsung menukas, bahwa dosanya tak mungkin terampuni. Mendapat jawaban demikian si begal langsung menebaskan pedang ke leher Rahib tersebut. Sehinggga genaplah ia membunuh seratus orang.” Ustadz Dayat berhenti sejenak, menarik napasnya.

“Setelah itu bagaimana kelanjutnya, Ustadz!” tukas Gito tak sabar.

“Wah, kebetulan adzan sudah tiba. Gimana kalau kita shalat Dzuhur berjamaah dulu. Soalnya, kalau dilanjutkan pun akan tanggung,” kata Ustadz Dayat tersenyum sambil berdiri.

Mau tak mau Gito mengikuti juga langkah Ustadz Dayat. Sama-sama menuju tempat wudhu. (bersambung ke bagian 2)


Posted in Cerpen

Nisan Berkalang Nista

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Kosim tersandar lemas di kursi rotan yang agak reot. Butir-butir keringat menggelantung di ujung pelipis. Nafasnya tampak ngos-ngosan. Ia baru saja pulang dari pasar loak. Tape recorder itu masih di tangannya. Kosim urung menjualnya. Terlalu murah harga yang berani mereka tawar, mana cukup untuk menutupi sewa kontrak rumah.

Wajah Kosim terlihat muram. Ia merasa sudah habis akal. Apalagi kalau ingat lima hari lalu, saat pemilik rumah datang kepadanya.

“Nak Kosim, apakah kontrak rumah ini masih pengin dilanjutkan? Jika tidak, biar saya cari penyewa lain,” desak Mpok Midah seraya tak lupa menegaskan, bahwa sebetulnya jatah keluarga Kosim menempati rumah tersebut sudah habis.

“Bagaimana kalau saya minta tenggat waktu beberapa hari lagi, Mpok? Sekalian mencarikan uangnya,” pinta Kosim.

“Baik. Tapi saya cuma kasih waktu seminggu. Jika tak bisa juga membayar, terpaksa kalian sekeluarga musti angkat kaki,” tandas perempuan tua itu sambil mulutnya tiada henti-henti mengunyah sirih.

Dan, ini sudah hari yang keempat. Tapi, Kosim belum juga mendapatkan sejumlah uang yang diperlukan. Hampir saja ayah dua anak itu putus asa, tiba-tiba ia ingat sesuatu.

Satu setengah tahun lalu, ia pernah meminjamkan utang kepada Akim Gauf. Lelaki berhidung betet itu semula mengajak berkongsi untuk membuka rental kaset VCD. Tapi ketika modal terlanjur diberikan, usaha yang dijanjikan tak juga berjalan. Setiap didesak, dia selalu berdalih dengan berbagai macam alasan. Sampai kemudian Kosim setuju untuk menganggap itu semua sebagai utang.

Tapi, lagi-lagi kesepakatan tersebut cuma sekadar tercantum di atas kwintasi. Terbukti, sampai kini Gauf tak juga melunasi utangnya. Beberapa kali Kosim menagih, tapi tak pernah dapat-dapat. Sampai akhirnya Kosim bosan sendiri, karena merasa ia hanya dipermainkan oleh Gauf.

Namun, kali ini keadaan Kosim benar-benar terdesak. Ia tak menemukan alternatif lain, kecuali berharap nantinya Gauf mau membayar utang dimaksud.

Siang itu juga Kosim mengayuh sepeda pancal, menuju kediaman Gauf. Setiba di rumah bercat kuning gading itu, Kosim segera menyibak pagar ulin. Ia lalu memencet bel. Kebetulan yang membukakan pintu adalah Gauf. Melihat Kosim berdiri di hadapan, lelaki itu sepintas sempat kaget. Tapi, sejurus kemudian ekspresi wajahnya kembali tenang. Bahkan dia berlagak manis menyambut kedatangan Kosim.

“Apa kabar nih? Lama tidak kelihatan,” ucap Gauf sambil mempersilakan duduk.

Tetapi Kosim tidak mau terpancing. Ia sudah hafal betul dengan pembawaan Gauf. Karena itu, ia tak mau lagi berbasa-basi, langsung ke pokok masalah.

“Aku kemari ingin menagih utang. Rasanya, aku sudah kelewat bermurah hati memberimu waktu sekian lama untuk melunasinya. Apalagi keadaanku kini sedang kejepit. Jadi, aku mau kau tak usah lagi berbelit-belit.”

“Oke, besok sore pasti saya usahakan. Kali ini janji saya tidak akan meleset. Sebab, jika sekarang jelas tidak bisa, soalnya permintaanmu mendadak sekali.”

“Benar nih? Tidak akan mungkir lagi!”

“Suer. Datang aja besok!” kata Gauf mantap.

***

Pagi itu, tidak seperti biasanya Kosim bersiul-siul. Saat berjalan, tanpa sengaja ia berpapasan dengan Mpok Midah. Wanita itu langsung menanyakan rencana perpanjangan kontrak. Karena yakin sekali bahwa hari itu Kosim akan menerima uang dari Gauf, ia menyanggupi untuk segera membayar.

Tapi, begitu sampai di tempat Gauf alangkah kecewanya ia. Lagi-lagi lelaki bertubuh kurus itu menyodorinya dengan alasan yang mengada-ngada.

“Sorry, Sim! Aku benar-benar minta maaf. Barusan nenek saya tadi datang minta ongkos berobat untuk kakek. Karena tak sampai hati, ya aku kasih. Padahal tadinya sudah kusiapkan buat membayar utang kamu. Jadi, aku sangat mohon pengertianmu,” ucap Gauf dengan tampang ditekuk seperti orang yang menyesal.

“Tadinya, aku masih bisa berharap mempercayaimu. Tapi, ripanya berdusta sudah menjadi sarapan kamu sehari-hari. Aku tahu itu cuma karanganmu belaka. Yang pasti, kamu memang tak punya itikad untuk melunasi. Maka, mulai hari ini aku tidak akan menagih lagi. Tapi ingat, sepersen pun dari utang itu aku tidak merelakan dunia-akhirat,” tukas Kosim dengan nada gusar.

Waktu Kosim keluar dari pekarangan rumah itu, Ny. Halimah pura-pura asyik menyapu daun-daun jambu yang berserakan di tanah, seolah tak mendengar ribut-ribut di ruang tamu barusan. Padahal ia tahu persis kalau putranya itu punya utang dengan Kosim.

***

Setahun kemudian.

Siang itu Gauf memasuki semak-belukar. Dengan penjolok bambu dan bakul purun, ia mengojak-ngojak sarang serangga yang bertengger di pohon dadap. Telor serangga itu nantinya akan dijadikan umpan untuk memancing ikan.

Tanpa disadari Gauf, seekor ular ganas merayap ke arahnya. Sejurus kemudian, Gauf tiba-tiba menjerit keras seraya memegangi kaki kirinya. Ia berguling-guling di atas rumput, mengerang-ngerang kesakitan. Sontak orang-orang berdatangan, berusaha memberi pertolongan. Tapi waktu Gauf digotong, dan belum sampai ke rumah, nyawanya keburu tak terselamatkan. Racun ular itu begitu cepat bereaksi. Sekujur tubuh Gauf tampak membiru.

Hari itu juga jenazahnya dimakamkan. Nyonya Halimah sangat bersedih. Ia sama sekali tak menduga, akan secepat itu Gauf dipanggil menghadap-Nya. Semalaman ia tak bisa memejamkan mata, terus terbayang wajah putra sulungnya yang telah tiada.

Paginya, desa Batung Sabuku dibuat geger. Hampir semua warga membicarakan keadaan kubur (alm) Gauf yang tidak lazim. Tanah gundukan itu beserta batu nisannya merosot (bahindik) ke dasar bumi. Anehnya lagi, tanah tersebut tiba-tiba berubah hitam-legam dengan bau sengit yang menusuk hidung.

Mulut-mulut orang-orang kampung pun tak bisa tinggal diam. Mereka riuh menggunjingkan peristiwa itu.

“Tak salah lagi, itu tandanya semasa hidup si almarhum banyak berbuat dosa. Sehingga murka Allah dinampakkan lewat kubur, yang mengisyaratkan betapa di alam sana si mayit didera siksa,” celetuk Pak Jamal saat nongkrong di warung.

“Ya, boleh jadi! Siapa tahu dulu Gauf pernah berbuat zalim atau mengambil hak orang dengan cara yang tidak halal, sehingga pemiliknya tidak merelakan,” ujar Dikin ikut menyambung.

Akhirnya, komentar-komentar bernada miring itu sampai juga ke telinga Ny. Halimah. Ia tambah bersedih. Malu. Bahkan ia kemudian enggan keluar rumah, karena setiap bertemu warga tatapan mereka seolah mengejek dirinya.

Suatu malam, Ny. Halimah bermimpi bertemu dengan Gauf. Anaknya itu datang dalam keadaan menjijikan, sekujur tubuh penuh nanah. Suara Gauf terdengar menghiba-hiba minta tolong. Tapi Nyonya Halimah malah berlari ketakutan. Sampai kemudian perempuan tua itu terbangun dari tidurnya, dengan nafas tersengal-sengal.

Bukan cuma sekali. Bahkan tiga malam berturut-turut Nyonya Halimah mengalami hal serupa.

Setelah yakin bahwa mimpi tersebut bukan sekadar bunga tidur, tapi ada pesan yang ingin disampaikan almarhum anaknya, diam-diam Nyonya Halimah kemudian menemui seorang ulama. Menceritakan seluruh isi mimpinya.

“Apakah almarhum pernah melukai hati seseorang? Atau dia punya utang yang tidak dibayar? Cobalah ibu ingat,” tandas Kiai Maksum.

“O, iya. Dulu dia pernah berhutang, dan tidak dibayar…” sergah Nyonya Maksum.

“Nah, mungkin itulah penyebabnya. Dulu di zaman Rasulullah, beliau tidak mau menshalatkan jenazah yang masih menanggung utang walau cuma dua dirham. Karena itu, seyogianya ibu cari orang tersebut, dan segera lunasi utang anak ibu itu.”

“Inggih, Kiai!” ucap Nyonya Halimah seraya mohon pamit.

Hari itu juga ia segera bermaksud menemui Kosim, untuk membereskan urusan mereka. Sayang, setiba di tujuan, menurut tetangga sekitar, sudah setahun lalu keluarga Kosim pindah. Dan, mereka tidak ada yang tahu dimana alamat Kosim sekarang.

Sudah ke mana-mana Nyonya Halimah berusaha melacak keberadaan Kosim, tapi tak pernah ketemu. Sementara itu, kian hari kuburan Gauf semakin dalam jeblok ke dasar bumi. Dan, masyarakat terus saja mempergunjingkannya.

Karena itu, kepada pembaca yang kebetulan mengetahui keberadaan Kosim diharapkan bantuannya untuk segera menghubungi Ny. Halimah. Atas segala perhatiannya, sebelum dan sesudahnya kami haturkan terimakasih. Tertanda: keluarga besar (alm) Gauf.

***


Posted in Cerpen

Ada Apa Dengan Tetangga

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Tak dihiraukan terik matahari yang sedari tadi menggigit kulitnya. Sutinah, seperti hari-hari kemarin, menyandarkan tubuhnya di pagar dekat trotoar. Matanya lekat memandangi tumpukan buah durian yang digelar para pedagang di pinggir jalan S. Parman, Banjarmasin itu. Tenggorakan wanita yang mengenakan sandal swalow tipis itu, tampak turun-naik. Dia bayangkan dirinya tengah menikmati manisnya durian, dengan mulut belepotan.

Namun, saat dua ekor kucing yang berkelahi melintas tepat di depannya, Sutinah pun tersentak. Gelagapan. Buyar sudah lamunannya tentang kelezatan buah durian.

Berikutnya, ia beranjak ke tempat yang agak teduh. Kali ini ia berjongkok di bawah pohon akasia yang bercabang kurus dan berdaun jarang. Ia tarik nafas dalam-dalam, menyedot aroma durian.

Jika bukan karena bawaan orok, mana mau Sutinah berbuat begitu. Ini sudah memasuki bulan ketiga kehamilannya. Ia ngidam pengin makan buah durian. Tapi keadaan keuangan tak memungkinkan ia untuk membeli durian. Suaminya, Dullah, cuma tukang sol sepatu yang berpenghasilan sehari tak lebih dari sepuluh ribu rupiah. Kalau dibelikan durian, lalu mana sisanya untuk makan mereka bertiga? Belum lagi buat biaya sekolah anaknya, Siti, yang duduk di kelas 3 SD. Ditambah pula, mulai bulan ini pemilik rumah bidak telah menaikkan tarif sewa. Alasannya, karena menyesuaikan dengan kenaikan tarif listrik, BBM dan bahan makanan pokok.

Sebetulnya, sekitar dua minggu lalu suaminya sudah pernah membawakan Sutinah durian. Tapi setelah mencicipi buah itu, seleranya malah menjadi-jadi. Hampir setiap hari Sutinah menginginkan durian. Dan, ia sadar bagaimana kondisi ekonomi keluarga mereka. Karena itu, ia tidak mau menuntut pada suaminya. Karena itu pula, secara diam-diam setiap usai shalat Dzuhur ia keluar dari mulut gang. Sekadar untuk bisa mengendus aroma durian. Menjelang Ashar baru Sutinah balik ke rumah. Sebab pada saat itu biasanya suaminya tak lama lagi bakal pulang dari pasar Antasari, setelah semenjak pagi duduk di emperan toko menunggu orang-orang yang minta dijahitkan sepatu atau sandal. Sutinah tidak ingin kebiasaannya ini diketahui oleh suaminya. Karena ia tidak mau membuat lelaki itu jadi bersedih, lantaran tak mampu memenuhi hasrat istrinya.

Padahal diam-diam sudah beberapa hari ini Dullah memantau kebiasaan istrinya itu dari jauh. Kamis lalu Dullah pulang lebih awal, karena niatnya mau memenuhi undangan shalat hajat saudaranya di Marabahan. Di perjalanan, tanpa sengaja pandangan Dullah tertumbuk pada sosok wanita yang amat dikenalnya. Wanita itu duduk dekat tumpukan durian.

Semula ia pikir, Sutinah cuma kebetulan berada disitu. Tapi karena kejadian itu terus berulang, Dullah pun jadi heran serta penasaran untuk menyelidiki. Dan begitu mengetahui, kalau istrinya melakukan semua itu sekadar untuk memenuhi hasrat ngidam, betapa terpukulnya perasaan Dullah. Sekaligus trenyuh. Ia yakin Sutinah tidak mau memberitahu karena tak ingin membebani suaminya.

Dullah tak kuasa menahan rasa haru. Tanpa sadar, tahu-tahu butir airmata sudah merembesi pipinya.

***

Kali ini ustadz Muzakir dapat undangan ceramah di desa Bi’ih kecamatan Karang Intan. Dengan penuh semangat ia bicara di hadapan ratusan jamaah.

“Orang kaya bukanlah yang berlimpah harta. Karena semua itu semata amanah Allah. Berapa banyak mereka yang dianugerahi kelebihan rejeki, tapi tidak bisa menikmatinya. Mereka diperbudak oleh harta, terus menumpuk-numpuk dan enggan membagikan kepada fakir miskin. Padahal makna kaya sesungguhnya ialah dia yang banyak memberi karena niat semata-mata untuk menggapai ridha Allah.”

Hadirin khusyuk mendengarkan. Satu dua orang tampak menganguk-angguk.

“Dalam Islam betapa kita dianjurkan untuk memupuk sifat-sifat kedermawanan. Seumpama bersedekah sebutir padi, niscaya akan Allah ganti dengan tujuh tangkai padi. Selain itu, kedermawanan dapat mempererat ukhuwah islamiah, silaturrahmi dan kepekaan sosial. Karena itu jangan segan-segan untuk memberi, sebatas kemampuan yang kita miliki….”

Usai ceramah, dilanjutkan acara makan-makan. Ketika ustadz Muzakir pamit untuk pulang, ia diminta bertahan sebentar. “Ini, sekadarnya Pak Ustadz buat oleh-oleh keluarga di rumah. Kebetulan kami baru panen,” ujar tuan rumah sambil mengangkat sekarung duren ke mobil ustadz.

Setiba di rumah, ustadz disambut gembira anak-anak dan istrinya. Mereka langsung menikmati pesta durian itu. Usai mandi, ustadz Muzakir ikut bergabung, menyantap durian dengan lahapnya.

“Ustadz, dengar-dengar Sutinah, tetangga kita di sebelah itu lagi ngidam duren. Bagaimana kalau dikasih satu atau dua biji?” celetuk Tarsih, si pembantu.

“Jangan! Nanti keenakan betul dia. Ini aja kita masih kurang. Sudah lama saya tidak makan durian. Makanya, perlu diirit untuk persediaan satu minggu ke depan,” tangkis ustadz Muzakir.

Tarsih cuma bisa melongo. Tak berani membantah. Ia sama sekali tak menduga ustadz bakal berkata begitu.

Semenjak itu Tukinah sering melihat penghuni rumah sebelah membuang kulit durian lewat jendela. Baunya tajam menusuk hidung.

Suatu hari diam-diam ia memungut bongkahan kulit durian tersebut. Lalu mengikatnya dengan tali rapia, sehingga seolah seperti durian utuh, padahal tanpa isi. Tukinah bersyukur, tak perlu lagi keluar rumah hanya sekadar untuk bisa mencium bau durian. Kadang kulit durian doang itu lama dia pegangi, sesekali didekatkannya ke wajahnya. Tampak Sukinah begitu menikmati.

Memasuki bulan keempat kehamilannya, Sukinah berhenti ngidam. Keinginan untuk mencicipi durian berangsur hilang.

***

Menjelang pukul 22.00 Wita terjadi kehebohan. Penyakit darah tinggi ustadz Muzakir mendadak komat. Pingsan. Seisi rumah panik. Ia segera dilarikan ke RS Islam.

Anak-anak dan istrinya terlihat gelisah, karena ustadz belum juga siuman. Apalagi dokter ahli penyakit dalam baru bisa datang besok pagi, dan untuk sementara ditangani perawat.

Cukup lama ustadz Muzakir baru sadarkan diri. Kepalanya terasa berkunang-kunang. Pening. Bahkan untuk menggerakkan anggota badannya saja teramat berat.

Ketika diperiksa, tekanan darahnya mencapai 220 cc. Dokter langsung menanyai pihak keluarga, apa saja yang dikonsumsi pasien belakangan ini.

“Kira-kira seminggu ini, Bapak hampir tiap hari makan durian, Dok!” jelas istri Ustadz.

Dokter manggut-manggut.

“Pantasan! Masih untung tidak sampai kena stroke. Usahakan dalam beberapa hari ini hindari makanan yang berkolesterol tinggi maupun yang manis-manis,” pesan dokter.

Selama terbaring di ranjang rumah sakit, ustadz Muzakir lebih banyak diam. Merenung. Tiba-tiba ia teringat bahwa dulu pernah menolak usul pembantunya untuk memberi sebagian buah durian kepada tetangganya Sutinah yang ngidam. Dan akibat sifat kemaruknya itu, kini ia harus menerima hukuman, tergeletak tak berdaya.

Padahal selama ini, di atas mimbar, di majelis-majelis taklim ia begitu getol menyuarakan akhlak hidup Islami. Tapi, ia sendiri tidak mengamalkan apa-apa yang dia sampaikan. Ia memberi ceramah bukan lillahi ta’ala, tapi lebih condong untuk mencari nafkah dan popularitas.

“Astaghfirullahal adzim. Betapa munafiknya aku… Sungguh setimpal kalau saat ini Allah menghukumku,” gumam ustadz sambil mengelus dadanya yang gemuruh.

Tiba-tiba dari arah pintu terdengar bunyi ketukan. Istri ustadz cepat beranjak, membukakan pintu. Ternyata Dullah dan Sutinah, tetangga mereka.

“Assalamualaikum.”

“Wa’alaikum salam….”

“Maaf, kalau baru sekarang kami bisa membezok. Bagaimana keadaan Pak Ustadz?” tanya Dullah sambil mendekat, kemudian menggenggam tangan Ustadz.

“Alhamdulillah, kini agak sudah mendingan dibanding kemarin,” sahut ustadz dengan nada lemah. Duhh.., betapa malunya ia. Tetangga yang selama ini dicuekinnya ternyata begitu peduli. Bahkan mereka masih sempat-sempatnya membawakan bubur. Padahal setahu ustadz, mereka jauh lebih kekurangan dibandingkan dirinya.

Seingat ustadz, dibawah kolong ranjangnya di rumah ia masih ada menyimpan sebiji durian. Dalam hati ia berjanji, kalau sembuh nanti akan memberikan durian itu kepada Sutinah. Hitung-hitung sebagai penebus rasa bersalah lantaran telah mengabaikan tetangga.

***


Posted in Cerpen

Selamat Jalan, Kakek…

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Hampir setengah jam sudah Elfrida dan kakeknya mengi­tari toko buku ‘Pustaka Riyadhah’ itu. Mereka asyik memilih buku‑buku yang berjejer di rak. Kakek tampak membolak‑balik buku Membumikan Alquran karangan Quraisy Shihab. Sementara Elfrida sedari tadi telah menenteng buku serial Keluarga Cemara‑nya Arswendo Atmowiloto. Juga dongeng Gadis Penjual Korek Api karya HC. Andersen.

“Masih mau cari yang lain?” suara kakek dari arah belakang.

“Nggak. Ini juga cukup, Kek,” sahut Elfri.

“Ya udah. Kalau begitu kita langsung ke kasir,” ajak Kakek.

Setelah membayar dan menghitung uang kembalian, mereka keluar. Menuju tempat parkir.

Tapi tidak berapa jauh Kakek dan Elfri melangkah, di seberang mereka terjadi ribut‑ribut. Seorang pemuda babak‑ belur digebuki massa yang bringas. Rupanya, dia kepergok mencopet.

Elfri merapatkan pegangannya pada lengan Kakek. Ia rada takut menyaksikan kejadian tersebut.

Untung polisi cepat datang.

Berangsur kerumunan itu membubarkan diri. Kakek dan Elfri pun melanjutkan perjalanan. Di dalam mobil menuju pulang, bayangan peristiwa tersebut tetap berkelebat di benak Elfri.

“Kek, kenapa orang itu musti mencopet?”

“Karena dia juga punya kebutuhan untuk makan, merokok, beli pakaian dan lain sebagainya. Entah lantaran malas, atau tidak memiliki keterampilan tertentu, lama nganggur, akhirn­ya dia mengutil dompet orang.”

“Memangnya nggak ada kerjaan lain?” cecar Elfri.

“Itulah bedanya dengan orang yang berilmu. Orang yang tidak berilmu kalau kepipit suka mengambil jalan pintas, nggak peduli lagi bahwa yang diperbuatnya itu merugikan orang lain atau dilarang oleh agama. Sedangkan mereka yang berilmu, setiap menghadapi kesulitan tak mudah berputus asa. Dan dengan ilmu yang dimiliki hidupnya pun dilapangkan oleh Allah. Makanya, Elfri harus rajin belajar,” nasehat Kakek.

“Kata Bu Guru ilmu itu penting buat modal menyongsong masa depan.”

“Iya. Karena itu ketika seluruh muslim ingin berjihad, turun ke medan perang, Muhammad SAW menghimbau sebagian agar tetap tinggal dan menuntut ilmu. Sebab kalau semua turun di pertempuran tewas, lalu siapa yang akan mengembangkan ilmu untuk kemajuan umat Islam? Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa salah satu keutamaan ilmu ialah kelak di akhirat akan ditimbang seberat dengan darah syuhada,” jelas Kakek, yang menjabat Dekan FISIP Unlam.

Tanpa terasa mobil mereka telah memasuki pekarangan rumah.

Dan seperti biasa, setiap hari Ahad Elfri akan berceng­kerama sampai sore bersama kakeknya.

Sambil tiarap Elfri menikmati dongengnya HC Andersen.

Ketika Elfri bangkit dan meletakkan buku, Kakek mene­gur, “Udah tuntas ngikuti kisahnya?”

“Iya, Kek. Ceritanya sedih banget. Elfri sampai‑sampai pengin nangis.”

“Itulah kehebatan HC Andersen, mampu membuat pembacanya seolah terlibat langsung dengan dongeng yang dituturkannya. Eh, ngomong‑ngomong Elfri udah pernah mendengar riwayat hidup Hans Andersen nggak?”

“Belum, Kek!”

“Begini. HC Andersen punya wajah yang buruk. Ia tersi­sih dari pergaulan. Tapi ia tidak pernah kesepian, karena selalu ditemani oleh dongeng‑dongeng yang diciptakannya. Bahkan kemudian ia dijuluki raja dongeng sedunia,” terang Kakek.

“Sayang, seandainya sastrawan muslim kita sepiawai HC. Andersen, mungkin anak‑anak tidak akan kesulitan mendapatkan dongeng‑dongeng yang sarat dengan ajaran Islami,” lanjutnya.

Elfri manggut‑manggut. Tiba‑tiba wajahnya berbinar. Dalam dadanya bergemuruh segumpal hasrat. Ia ingin menjadi pengarang terkenal! Ya, pengarang yang selalu menyisipkan pesan‑pesan moral dan ajaran Islam dibalik cerita‑ceritanya.

***

Sepulang dari SDN Pasar Lama 8 Banjarmasin, belum sempat Elfri menaruh tas, ia disodori surat oleh ibunya. Dari redaksi majalah anak Al Karomah Jakarta. Elfri bersi­jingkrak. Bersorak gembira. Ia berulang‑ulang mengecup sampul surat itu. Rupanya setelah sekian puluh kali cerita‑ cerita kiriman Elfri dicueki, kini mulai mendapat tanggapan.

Ibunya hanya tersenyum sambil geleng‑geleng kepala melihat tingkah putri bungsunya itu. Jika tidak diingatkan, mungkin Elfri bakal lupa makan siang.

Usai mengerjakan shalat Zuhur, Elfri sudah tak sabar ingin mengetahui isi surat itu. Tapi ketika ia ingin menyo­bek sampul surat tersebut, tiba‑tiba ia ingat Kakek. Elfri mengurungkan niatnya. Ia segera mengambil sepeda, dan men­gayuhnya ke tempat Kakek.

Setiba di sana, ia langsung berteriak‑teriak memanggil Kakek sambil mengibas‑ngibaskan surat ditangannya.

“Kek, Kakek… cerita saya dimuat. Ini Kek, buktinya…” cecar Elfri dengan napas ngos‑ngosan.

Prof Ahmad Raji, segera menyambut cucunya. Lalu mene­nangkan dan menyuruh duduk. Baru mereka sama‑sama membuka surat dimaksud.

Tapi alangkah kagetnya mereka. Surat itu bukan berisi perihal pemuatan cerita yang dikirim Elfri, melainkan saran agar Elfri lebih meningkatkan mutu tulisannya.

Melihat si cucu yang tadinya begitu antusias, lalu serta‑merta berubah kecewa, Ahmad Raji cepat memegang bahu Elfri.

“Masih ingat pesan Kakek dulu, bahwa orang berilmu itu tak boleh berputus asa? Memang tak mudah untuk mewujudkan cita‑cita. Tapi, cepat atau lambat, ketekunan itu akan mem­buahkan hasil. Dan kamu, bukan cucu Kakek kalau mudah men­yerah. Terus berlatih dan berlatih. Hingga suatu hari perli­hatkanlah pada Kakek, bahwa karanganmu dimuat di koran atau majalah,” ujar Ahmad Raji menyemangati Elfri.

***

Kali ini harapannya betul-betul menjadi kenyataan. Cerita Elfri yang berjudul “Bocah Pengamen Berhati Budiman” telah dimuat. Suka‑citanya tak terkira. Pulang dari sekolah, di rumahnya tampak sepi. Mungkin bapak dan ibunya masih di kantor. Karena itu Elfri langsung bergegas ke tempat Kakek, ingin menunjukkan pada Kakeknya.

Tapi disana juga sepi. Hanya Amang, pembantu rumah, yang dijumpainya.

“Apa Non Elfri tidak tahu, kalau tadi pagi penyakit kanker paru Kakek Non kambuh lagi?”

Duuugh. Dadanya seperti dihantam godam. Seketika kese­dihan merayapi ulu hati.

Dengan wajah lesu Elfri balik ke rumahnya. Kebetulan ibunya baru dari RS Ulin. Katanya, keadaan Kakek sangat memprihatinkan.

Subuh 27 Ramadhan, usai Sahur sekitar pukul 04.10 Wita ibunya menerima telpon dari nenek yang mengabarkan bahwa sakit Kakek tambah parah. Paginya Elfri segera menengok.

Sambil menenteng majalah, Elfri berdiri di samping ranjang. Tapi Kakek tak juga siuman. Dalam hati Elfri ber­harap kesadaran Kakek pulih, agar ia punya kesempatan mem­perlihatkan bahwa ceritanya telah dimuat, sebagaimana per­mintaan Kakek tempo dulu.

Tapi, Keadaan Kakek benar‑benar koma. Mukanya pun tampak pucat. Ibu, Om, Tante menangis tersedu‑sedu. Sambil terus‑menerus melafazkan dzikir dan membaca surah Yassin.

Setiap saat Elfri berdoa seraya berharap akan datang mukjizat dari Allah SWT.

Rupanya Allah menentukan lain, pukul 19.35 Jumat 14 Desember 2001, Kakek menghembuskan nafasnya yang terakhir. Inna lillahi wainailaihi razion. Yang berasal dari tanah akan kembali ke tanah. Seluruh sanak keluarga lebur dalam tangis kepiluan.

Setahun sudah peristiwa itu berlalu.

Di hari lebaran ini, usai shalat Ied, Elfri ziarah ke makam kakeknya. Khusyuk berdoa.

Beragam bayangan tentang kebaikan budi Kakeknya kembali melintas. Adalah saat‑saat indah yang tak terlupakan sepan­jang hayatnya.

Sambil bersimpuh, Elfri bicara. Seolah tak ada jarak ruang dan waktu dengan almarhum Kakeknya.

“Kek, barusan Elfri memenangkan lomba mengarang cerita dakwah kategori anak‑anak. Selain dapat tropi, Elfri juga menerima uang tunai. Alhamdulillah, semuanya Elfri sumbang­kan ke Panti Asuhan. Dengan niat pahalanya diperuntukkan buat Kakek. Karena Kakeklah orang yang paling getol memompa­kan semangat pada Elfri untuk tekun berlatih. Insya Allah Elfri akan terus mengarang, karena dengan cara itulah Elfri berdakwah…”

Putik bunga kamboja jatuh ditiup angin. Aromanya mere­sap jua di tanah pemakaman.

Perlahan, Elfri beranjak meninggalkan alkah tersebut. Bersiap mengunjungi handai‑taulan dan tetangga. Untuk kemu­dian mengucapkan minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin.


Posted in Cerpen

Cerita Cinta Shinta

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Huuh… dasar senior sableng! Masak di tengah terik begini ia disuruh berbaring di lapangan basket sambil mempe­lototi matahari, sampai‑sampai pandangan matanya jadi kabur, berkunang‑kunang. Gara‑garanya cuma sepele. Salah satu pita rambutnya tanpa disadari Shinta terlepas. Karena itu dia lalu dihukum.

Shinta cuma bisa mendumel dalam hati. Sudah empat hari ini ia mengikuti Ospek di Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia. Tingkah para senior tampak menyebalkan. Selalu saja mereka berusaha mencari‑cari kesalahan agar bisa mem­permainkan mahasiswa yoniur. Meski dengan dalih untuk meng­gembleng mental, tapi dalam kegiatan Ospek tersebut Sinta merasakan hanya sedikit nilai edukatif yang didapat, justru yang menonjol adalah sikap arogan para senior yang sok superior.

Berapa lama lagi ia musti diperlakukan seperti ini, runtut Shinta dengan wajah mulai memerah. Sementara, pria berambut gondrong itu terus mengawasi sambil berkacak ping­gang.

“Hei, bangun! Ayo, cepat bangun!” perintah seseorang, entah siapa, begitu berwibawa. Shinta segera berdiri. Tan­gannya spontan mengibas‑usap bagian celana yang berdebu. Sesaat kemudian baru Shinta mengenali sosok di hadapannya, ketua senat.

“Andri, kalo menghukum orang lihat‑lihat dong situasin­ya! Sekarang kan udah jam istirahat. Kalo dia pingsan karena tak sempat makan siang, gimana?! Kita juga nanti yang kena repot. Sudah, sana kembali bergabung dengan teman‑teman lain,” tunjuk pria berkumis tipis itu pada Shinta.

Sejak itu Shinta menaruh perhatian terhadap Adnan. Beberapa kali Shinta terselamatkan oleh kehadiran Adnan, sehingga ia luput dari sasaran panitia yang rada over act­ing. Apalagi Adnan di kalangan rekan‑rekannya cukup berpen­garuh.

Maka, wajar jika kemudian Shinta merasa terlindungi. Bukan berarti ia gampang ge‑er, tapi sepertinya pemuda itu memang menaruh perhatian khusus padanya. Tak heran, manakala perploncoan berakhir hubungan Shinta dan Adnan terlihat akrab. Hampir lima bulan proses pendekatan berlangsung, sebelum akhirnya mereka resmi pacaran.

“Eh, tahu nggak waktu Ospek dulu kenapa kamu sering dihukum?” cecar Adnan suatu malam saat mereka duduk santai di beranda kost Shinta.

“Nggak tuh.”

“Itu karena aku yang nyuruh teman‑teman. Setelah itu aku berlagak membela kamu. Maksudnya, apalagi kalau bukan untuk mendapatkan respon darimu. Soalnya dari pertama lihat kamu, aku udah naksir,” beber Adnan sambil ketawa ngakak.

“Ihh… curang!” cecar Shinta terus mencubiti paha Adnan.

“Habis, kalau nggak begitu mana bisa aku mendapatkan kamu.”

“Licik!”

“Biarin. Suka‑suka.”

“Tidak fair. Berlagak pahlawan nggak tahunya merangkap dalang,” ketus Shinta pasang tampang cemberut, berpura‑pura merajuk.

“Itu artinya kreatif. Sutradara sekalian pemeran utama,” tangkis Adnan tak mau kalah.

“Eeeit, ngapain dekat‑dekat! Aku lagi marah nih!”

“Kok, segitunyaa… Sorry deh, aku minta maaf.”

“Nggak bisa!” ucap Shinta sambil menepis tangan Adnan dan menjauh.

“Masak orang udah minta maaf nggak dikasih. Tuhan aja Maha Pengampun,” ungkap Adnan dengan wajah memelas.

Melihat itu, karuan aja Shinta tak kuasa menahan geli. Tiba‑tiba tawanya menghambur, karena cowok itu berhasil juga dia balas kibuli.

Berikutnya, mereka sudah terlihat mesra. Saling ejek dan bercanda.

“Sekarang coba tebak. Siapa yang lahir di Arab dan besar di Arab tapi nggak pernah bisa bahasa Arab?” aju Adnan.

“Unta!” tukas Shinta yakin. Soalnya ia udah pernah dengar teka‑teki itu di radio. “Sekarang giliran kamu yang harus menjawab. Benda apa, pagi di dapur, siang di bawah kolong ranjang, sore di halaman rumah, malam di dekat sumur. Hayoo??”

“Kucing.”

“Salah!”

“Habis?!”

“Yang betul adalah panciku.”

“Kok gitu?”

“Namanya juga panci punyaku. Ya, terserah aku mau naruh dimana,” tandas Shinta memberi alasan seraya tersenyum lebar penuh kemenangan.

***

Melihat keintiman Shinta dan Adnan, banyak mahasiswa‑ mahasiswi lain yang merasa iri. Soalnya, sejoli ini selalu akur dan terlihat happy.

Di antara sekian warga kampus yang kepincut ingin mengikuti jejak kesuksesan Shinta dan Adnan dalam menjalin kisah asmara, tersebutlah cowok jomblo bernama Mogan. Dia masih terhitung teman dekat Adnan.

“Tolonglah aku ini, Shinta. Sudah lama aku sendiri, tak kunjung dapat pacar. Maka, jadilah mak coblang aku. Kasih jalan aku untuk mendekati Maudi, itu teman satu kost kamu,” tawar Mogan dengan logat Batak khasnya.

“Beres. Yang penting ada uang honoriumnya,” canda Shinta.

“Soal itu kamu tak usah khawatir. Nanti kalau sudah berhasil.”

Tampaknya Mogan ngebet banget. Karena itu, Shinta ter­gerak untuk membantu menaklukan hati Maudi.

“Maudi, ada cowok titip salam buat kamu. Orangnya lumayan ganteng, lho! Pokoknya kamu nggak bakal nyesal deh kalau nerima dia,” bujuk Shinta bernada promosi.

“Alhamdulillah. Wa’alaikum salam balik!” balas gadis berjilbab itu.

“Ini serius, Maudi!”

“Aku juga serius. Mendoakan salam kesejahteraan bagin­ya!”

“Artinya, kamu bersedia jadi pacar dia?” cecar Shinta antusias.

“Bukan begitu. Siapa pun dia, bilang aku tak mau pacar­an,” tukas Maudi.

“Kenapa? Bukankah di perantauan ini justru dengan memiliki pasangan kita bisa berbagi dalam menghadapi kesuli­tan, tempat curhat atau minta perlindungan.”

“Maaf, aku pribadi berkeyakinan, pacaran itu banyak mudharatnya. Cuma buang‑buang waktu. Berapa banyak mereka yang kecewa gara‑gara putus pacaran. Lagian jodoh itu sudah diatur Allah!”

“Betul. Tidak semua pacaran itu berjalan mulus, bahkan tak sedikit yang sakit hati. Tapi, justru itu yang membuat kita jadi dewasa. Lagian sebelum memutuskan untuk menikah kita perlu mengenal watak masing‑masing,” debat Shinta, berharap Maudi bisa dibujuk.

“Dalam Alquran disebutkan bahwa laki‑laki yang baik akan memperoleh jodoh yang baik. Begitu pula sebaliknya. Dan, tak ada keraguan bagi janji Allah.”

Shinta mulai putus asa. Agaknya, usaha dia untuk merubah persepsi Maudi tentang konsep pacaran, tidak akan membuahkan hasil. Gadis itu teramat fanatik. Bahkan menurut Shinta terlalu kaku dalam menerjemahkan batasan‑batasan pergaulan.

Setelah kejadian itu, diam‑diam Shinta bertekad untuk membuktikan kepada Maudi bahwa pacaran itu perlu dan kisah cintanya dengan Adnan akan langgeng hingga ke pelaminan!

***

Tanpa terasa liburan panjang semester genap telah tiba. Karena itu Shinta ingin memanfaatkan waktu tersebut untuk pulang kampung.

Begitu mengetahui Shinta berasal dari Lamongan, Adnan pun bermaksud ikut liburan ke sana. Sebab, neneknya sendiri asli daerah tersebut. Bahkan sampai usia sembilan tahun Adnan pernah tinggal di Lamongan. Sebelum akhirnya pindah ke Yogya. Jadi, disamping sowan mengujungi nenek, sekalian ia bisa mengenal lebih dekat keluarga Shinta.

Shinta betul‑betul tak menyangka, ternyata jarak antara rumahnya dengan tempat tinggal nenek Adnan cuma dua petak. Bahkan ketika Adnan bertamu, dan menceritakan siapa orangtua dia, justru mama Shinta yang tampak bersemangat.

“Jadi kamu ini putra nyonya Bainah, tho?! Waduh, bagai­mana kabar ibumu sekarang, nak Adnan?”

“Sehat, Bu!”

“Kalau nanti balik ke Yogya tolong bilang titip salam dari Bu Ajang. Dia itu tetangga yang baik, bahkan sudah saya anggap seperti saudara sendiri. Syukur, hubungan ini berlanjut ke anak‑anak.”

Mendengar itu karuan saja Shinta senang. Jadi, ia tak perlu lagi memperkenalkan Adnan sebagai pacarnya. Shinta yakin mamanya jelas bakal merestui.

Tak lama setelah Adnan pamit, sambil membersihkan cangkir dari meja, Mamanya menegur Shinta.

“Kalian teman biasa kan? Tidak pacaran. Soalnya, dulu setelah melahirkan kamu, tak lama kemudian Mama terkena tipus. Karena takut menular, terpaksa Mama tidak menyusui kamu. Untung, ada Nyonya Bainah yang kebetulan masih menyu­sui Adnan, dan bersedia menyusui kamu. Jadi, kalian itu terbilang saudara sesusuan. Menurut Islam, saudara sesusuan tidak boleh kawin,” beber Mama Shinta enteng.

Braakk! Seketika cangkir di tangan Shinta terjatuh. Mendadak mukanya pucat. Terhenyak dengan mulut terkunci. Lama ia tertegun. Saat bersandar di kursi Shinta cuma bisa tercenung. Terpukul oleh kenyataan pahit, bahwa kisah cintanya dengan Adnan mesti berakhir, karena mereka saudara sesusuan. Tapi, sanggupkan ia melepaskan diri dari bayang‑bayang Adnan, sedangkan ia terlanjur begitu mendalam mencintai pria itu?

p­3

`z>3


Posted in Cerpen

Menyingkap Rahasia Lailatul Qadar

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Beberapa tahun terakhir ini, setiap memasuki bulan Ramadhan, warga Kalsel dihebohkan dengan pemberitaan tentang orang yang mendapat Lailatul Qadar. Bahkan kemudian masyarakat berbondong-bondong datang untuk sekadar bisa bertemu, bersalaman, minta air penawar, dan sebagainya dengan harapan mereka juga ikut kecimpratan berkah. Yang menyedihkan, tak sedikit di antara mereka ada yang sampai menjurus kepada mengkultuskan, sampai-sampai segala benda yang terkait dengan si penerima Lailatul Qadar dijadikan jimat atau penglaris dagang.

Padahal kalau benar orang tersebut memang mendapat Lailatul Qadar, tujuan kita bersilaturahmi adalah untuk memotivasi kita agar lebih meningkatkan amalan dan ibadah, sehingga nantinya siapa tahu juga diperkenankan Allah mendapat berkah kemuliaan. Bagaimana pun untuk menjadi kekasih Allah perlu proses ketekunan dan keikhlasan dalam mengabdi kepada-Nya. Tidak bisa hanya dengan meminta sesuatu dari orang yang mendapat Lailatul Qadar, lalu dengan sendirinya juga memiliki kekeramatan.

Koreksi semacam itulah yang dituangkan Abdul Muin dalam bukunya ini. Ia secara ringkas mengklasifikasi peristiwa Lailatur Qadar ke dalam tiga bagian.

Pertama, ialah saat diturunkannya Alquran. Karena dari situlah umat Islam mempunyai pegangan utama untuk mencapai kesejahteraan dunia-akhirat. Tiada lagi keberuntungan yang paling besar selain berada dalam kebenaran. Selanjutnya, di dalam kebenaran itu pulalah sesungguhnya tersirat dan tersurat makna dari Lailatul Qadar.

Kedua, sebagai malam seribu bulan yang mengandung selaksa keberkahan, keberuntungan serta keampunan. Hal ini terindikasi kalau orang itu selama Ramadhan taat berpuasa dan rajin beribadah, maka disaat menyambut 1 Syawal sebagai hari kemenangan, batinnya diliputi suasana suka cita.

Ketiga, Lailatul Qadar merupakan peristiwa langka sekaligus istemewa bagi yang menemuinya. Dari kejadian itu terkandung hikmah keberuntungan, terutama untuk kehidupan akhirat. Karena Lailatul Qadar adalah anugerah yang tak terduga, bagi yang bersangkutan tak ada terbetik sedikit pun untuk mendapatkannya.

Dia rajin beramal menurut pembawaan sejak mudanya, taat pada orangtua dan tak mau berbuat kejahatan sejak kecilnya. Tidak mengharap yang bukan-bukan, hanya sekadar patuh, takut dan bakti kepada Allah.

“Oleh sebab itu wajar-wajar saja setelah Lailatul Qadar itu turun, diri ini sangat terperanjat, merasa tak pantas mendapat anugerah sebesar itu, serta menolak secara ikhlas agar pemberian itu dipindahkan saja kepada orang lain,” ungkap Abdul Muin yang dalam bukunya ini diawali kata sambutan Prof. HM. Asywadie Syukur, Lc, sebagai ketua MUI Kalsel.

Ada beberapa hal yang menjadi semacam wanti-wanti penulis kepada mereka yang mendambakan Lailatul Qadar, yang disertai dengan pengharapan tertentu.

Kalau ingin menjadi kaya, apakah kekayaan itu bisa digunakan untuk keselamatan dunia dan akhirat. Kalau tidak, maka dirinya termasuk tamak, loba dan takabur. Kalau tujuannya agar diberi kelebihan ilmu, sanggupkah mengamalkan semua itu untuk kebahagiaan dan keselamatan dunia-akhirat? Jika tidak alangkah meruginya, bagai pohon yang tak berbuah. Kalau targetnya ialah untuk memperoleh kehebatan atau kekeramatan, sanggupkan untuk mendaya-gunakannya bagi perjuangan Islam?

Lebih lanjut, Abdul Muin mengungkapkan contoh-contoh keanehan atau hal-hal gaib/ajaib yang pernah dialami, antara lain: Rasa diseter seperti mobil. Dada rasa dibelah, kosong, lapang, enak bernafas dan berfikir, hilang segala perasaan yang kurang enak. Merokok berhenti mendadak tanpa sebab dan ikhtiar. Diganggu setan, jin, dan hantu. Bermimpi yang aneh-aneh dan ajaib. Melihat malaikat memberi teguran atau peringatan tatkala di dalam keadaan khilaf berbuat kesalahan kecil.

“Pendirian dan sikap hidup sehari-hari berubah sangat jauh, terutama masalah mendekat kepada Allah. Secara tiba-tiba timbullah di hati ini rasa takut yang luar biasa terhadap Allah, bercampur syukur yang dalam serta rangsangan yang sangat dan semangat bergejolak untuk mencari dan mendekat kepada Allah,” ungkapnya.

Buku ini tidak semata-mata mengupas seputar turunnya Lailatul Qadar, tapi juga membahas jalan yang harus ditempuh seorang muslim dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Seperti hal yang paling mendasar, yaitu mengenal diri dan mengenal Allah.

Selanjutnya, penulis juga mengupas tentang syirik khofi (bab IV), wali Allah (bab V), terbuka hijab (bab VI), dan menuntut ilmu (bab VII).

Kehadiran buku ini, setidaknya membuka wawasan kita apa sesungguhnya Lailatul Qadar itu. Juga diharapkan bisa memberikan kontribusi dalam usaha mengatasi persoalan-persoalan krisis mental dan krisis penghayatan agama yang menimpa umat Islam saat ini.


Posted in Resensi Buku

Palu

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Ketika palu diketukkan

Nasib terdakwa ditentukan

Tapi kebenaran masih perlu dipertanyakan

Karena keadilan bisa diperjual-belikan

Tapi keputusan masih boleh disangsikan

Karena kejujuran sering dilacurkan


Posted in Puisi

Tragedi

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Sebilah arit tengah tergeletak

Setelah menyadap darah dari kesumat

Ada yang tersentak

Seraya mengumpat: keparat!

Penjara penuh sesak

Orang-orang kalap kehilangan tongkat

Politisi berlagak selayak nabi

Seraya tangannya menggeranyangi perut bumi

Hei, ada ulama jual jimat

Dan lupa risalah akherat

(Di negeri siluman kepura-puraan dan kepalsuan

Adalah lakon dari sebuah permainan

Semua berlangsung di luar kesepakatan

Siapa yang tak ambil bagian

Silakan bersiap jadi korban)

Astaga, kotaku tiba-tiba menjadi belantara

Dimana-mana berkeliaran margasatwa

Lidah terjulur siap mencari mangsa

sambil menyeret tubuh melata.

***


Posted in Puisi

Banjir Darah di Tanah Sampit

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Orang‑orang tilikkan mata, liar mengitari sekeliling

Sambil mengelus senjata di pinggang

Bersiaga dari kemungkinan serangan tak terduga

Sementara, di seberang sana

Muka‑muka beku seperti bermain bola saja

Menendang‑nendang potongan kepala lawan

Yang mendelik dengan lidah terjulur

Lihatlah, diujung jalan itu

Seorang pemuda tanggung berslayer merah

Dengan wajah bringas penuh amarah

Tengah menggerakah tubuh yang tergeletak kaku

Ya Allah, inikah kebiadaban paling ngeri?

Yang pernah hamba saksikan sendiri

Serasa luluh seluruh sendi

Nyaris tak percaya tapi jelas bukan ilusi

Dan seperti akhir cerita‑cerita film laga

Petugas terlambat memberikan perlindungan

Hanya sirine ambulance isyaratkan kegawatan

Menyebar warta: banjir darah ditanah Sampit!

***


Posted in Puisi

Menggugah Peran Ulama di Berbagai Sektor Kehidupan

Oleh: Aliansyah Jumbawuya

Judul : Pesan Islam Sehari-hari (Ritus Dzikir dan Gempita Ummat)

Penulis : KH. Mustofa Bisri

Penerbit : Risalah Gusti, Surabaya

Tebal : xix + 246

Cetakan : Kedua, 1999

Di tengah kekuasaan yang manipulatif, hak-hak umat Islam dalam pergaulan sosial, budaya, ekonomi dan politik sering dikebiri. Berbagai peristiwa aktual terus berlangsung, dan KH Mustofa Bisri, Penulis buku ini, mencoba mengkritisi dari perpektif Islam. Ia seolah menegaskan bahwa persoalan apapun dalam kehidupan ini, tak luput dari kajian keagamaan. Sebagai agama yang bersifat universal, Islam punya solusi tersendiri dalam menyelesaikan problematika yang tengah kita hadapi.

Islam bukan melulu mengurusi masalah-masalah fiqih ataupun nahwu sharf, hal-hal yang bersifat teknis dalam kehidupan sehari-hari pun Islam juga operatif dan fungsionil. Karena hidup itu sendiri adalah pengejawantahan dari nilai-nilai yang disyariatkan Sang Khalik. Demikian, tidak diciptakan jin dan manusia melainkan untuk bertakwa kepada Allah SWT.

Karena itu, para penyelenggara negara, politisi, hakim, artis, atlet, pelaku bisnis, atau apapun profesi yang kita geluti, hendaknya tetap menjunjung nilai-nilai tauhid serta memelihara akhlakul karimah. Sehingga kehidupan bersama dapat berjalan harmonis.

Naifnya, setiap detik, setiap menit, rakyat selalu dihadapkan dengan berbagai kebobrokan dan diskriminasi perlakuan, justru dari orang-orang yang semula mereka harap-harapkan untuk menjadi Ratu Adil. Tragisnya lagi, di tengah keterpurukan, rakyat seperti dibiarkan ngelangsa sendiri. Jumlah ulama yang memiliki kepekaan sosial kian menipis.

Padahal sebagai pewaris Nabi-nabi (waratsatul anbiyaa), setidaknya ulama memiliki ilmu, kekuatan iman, akhlak mulia, rasa tidak tahan melihat penderitaan umat, pengayoman, keberanian dalam menegakkan kebenaran dan keadilan, serta keikhlasan dan keuletan untuk mengajak kepada kebajikan. Merujuk pada beberapa sifat ideal

tersebut di atas, Gus Mus, merasa pesimis: apakah kini masih ada ulama?

Bahkan MUI, wadah berhimpunnya para ulama, zu’ama dan cendekiawan muslim, dalam perkembangannya ternyata lebih terkesan sebagai semacam ‘lembaga kekuasaan agama’ yang ingin direstui sekaligus merestui pemerintah. Jarang sekali, MUI mengeluarkan fatwa atau pernyataan yang bersifat mengoreksi atau mengingatkan pemerintah. Terutama dalam soal-soal yang dianggap prinsipil: seperti masalah keadilan, hak-hak asasi dan sebagainya. Sebaliknya, yang sering difatwakan justru dukungan-dukungan yang terkadang tidak begitu diharapkan atau diperlukan (hal 88).

Seperti kasus pembudidayaan kodok, dana olahraga SDSB, maupun pemberian label halal produk makanan dan minuman seolah legimitasi MUI dapat dipesan oleh pihak terkait.

Dalam eseinya berjudul “Rakyat Jelata Pun Berhak Didengar”, Mustofa Bisri mengingatkan pentingnya amar ma’ruf nahi munkar — yang dimotori oleh para ulama — di berbagai lini kehidupan. Saking pentingnya, bahkan ada yang meletakkan prinsip menegakkan yang haq dan memerangi kebatilan sebagai rukun Islam yang keenam. Dan, ini baru bisa berjalan dengan baik jika sebelumnya terjalin hubungan timbal-balik antara penguasa (pemerintah) dan rakyat yang dilandasi sikap saling percaya dan mencintai.

Pada tataran politis praktis, peran ulama hendaknya tidak sebatas taraf semangat solidaritas, tapi juga bagaimana meningkatkan taraf hidup masyarakat secara konkrit dalam berbagai aspek. Karena itu, perlu adanya revolusi pemikiran dari para ulama. Juga untuk senantiasa mengembangkan wawasan bagaimana kiranya agar aspirasi rakyat didengar dan dapat mempengaruhi kebijakan yang dibuat pemerintah.

Buku yang merupakan kumpulan 56 esei ini memang terkesan plural, karena sejak awal dimaksudkan untuk menanggapi beragam perisiwa/kasus yang tengah hangat berkembang di masyarakat. Justru disinilah letak kekuatannya, penulis dapat lebih leluasa melakukan refleksi dan sentuhan human interest.

Posisi kekiaian Gus Mus, yang dekat dengan wong cilik — biarpun tak jarang dekat wong gede — menampilkan aneka soal biasa, soal sehari-hari dalam pandangan kaum pinggiran, berkembang dalam komunitas wong cilik, disikapi dengan sikap dan gagasan wong cilik pula. Ini semua tampak dalam aneka tulisan ketika ia memposisikan diri sebagai penonton partisipatif, sebagai orang ketiga yang tetap memihak dengan kehangatan kemanusiaan secukupnya (lihat Pengantar: Mohamad Sobary, hal x).

Sehingga untuk menyimak renungan-renungan Gus Mus atas realitas sehari-hari, yang mungkin sangat dekat dengan kehidupan kita sendiri, pembaca tidak perlu dibuat berkerut kening. Meski bahasanya terkesan santai, namun hikmah keagamaan yang bisa kita petik cukup beragam.


Posted in Resensi Buku
Halaman Berikutnya »